Nomor HP Sebaiknya Dirahasiakan?

Suatu siang ada mahasiswa yang mencari seorang dosen, tetapi dia tidak berjumpa dengan dosen tersebut, hanya saya yang ada di dalam ruangan. Mahasiswa lantas bertanya kepada saya, apakah Bapak tahu nomor HP dosen tersebut? Dia ingin menghubungi dosen yang bersangkutan karena situasi yang mendesak. Olala, apakah akan saya berikan nomor HP kolega saya ini?

“Maaf Mas, saya tidak bisa memberikan nomor HP Bapak/Ibu itu, karena tidak ada izin dari yang bersangkutan”, jawab saya.

Bagaimana kalau dosen yang bersangkutan tidak senang dihape sama mahasiswanya, lalu menanyakan kepada mahasiswa tersebut dapat dari mana nomor HP-nya? Hayooo…. Kalau saya pribadi tidak masalah ditelpon oleh mahasiswa, tetapi rekan kolega saya belum tentu sama dengan saya.

Ditelpon oleh mahasiswa sebenarnya tidak terlalu “parah”, bagaimana jika yang menelpon itu orang yang bermaksud jahat? Pernahkah anda mendengar cerita ada seseorang yang mengaku ditelpon di seberang sana yang mengatakan bahwa putranya atau anggota keluarganya mendapat kecelakaan, lalu minta transfer uang untuk biaya operasi sekarang juga. Di tengah kepanikan, putra atau anggota keluarga yang dikatakan mendapat kecelakaan itu ponselnya tidak bisa dihubungi (karena sudah disuruh matikan oleh penipu). Di tengah kepanikan, tanpa pikir panjang dengan akal sehat, ditransferlah uang sekian juta untuk biaya operasi. Selanjutnya… bla..bla..bla, pahamlah kita kalau ternyata itu modus penipuan.

Yang tidak mengenakkan adalah ketika saya sedang rapat atau sedang mengajar, tiba-tiba ada panggilan di ponsel. Setelah ditanya dari mana, ternyata dari customer service Bank Man*iri, Bank Ni*ga, dsb, menawarkan kartu kredit. Buset deh, darimana mereka tahu nomor HP saya, padahal saya tidak tercatat sebagai nasabah di sana. Apakah data nomor HP di bank tempat saya menabung “diperjualbelikan” kepada bank lain? Saya tidak mengerti.

Karena itu, di kantor kami petugas Tata Usaha dilarang memberikan nomor ponsel dosen kepada orang yang tidak dikenal, termasuk kepada mahasiswa sekalipun, kecuali sudah izin dari yang bersangkutan. Suatu hari, di kantor TU sebuah Fakultas, datanglah telpon dari orang tidak dikenal. Dia menanyakan nomor telpon dosen bernama A. Kebetulan dosen bernama A itu sedang berada di ruang TU, lalu petugas TU menyuruh orang di seberang sana langsung bicara saja sama A. Gelagapanlah orang itu ketika berbicara langsung dengan orang yang dicari. Buru-buru telepon langsung ditutup olehnya. Mencurigakan….

Nomor HP sama seperti data pribadi, yang dilindungi privasinya dari orang-orang yang tidak berhak tahu. Berhati-hatilah memberikan nomor HP-mu atau nomor HP orang lain tanpa izin dari yang bersangkutan. Zaman sekarang banyak penipuan dan kejahatan melalui ponsel.

Tulisan ini dipublikasikan di Gado-gado. Tandai permalink.

9 Balasan ke Nomor HP Sebaiknya Dirahasiakan?

  1. petra berkata:

    pengen cerita kejadian lucu,,

    saya punya nomer hape seorang dosen, dan terakhir kali kontak2an 1.5 tahun lalu.. kemaren ada perlu sedikit mendesak langsung sms beliau.. dan gak dibales..
    ternyata phonebook beliau pernah terhapus dan nomer saya tidak tersimpan.. jadi dianggap orang tidak dikenal deh.. haha..

  2. ismailsunni berkata:

    betul, betul…
    pernah ada teman yang pas diwawancara sebuah majalah, terus diminta nomer hapenya, udah berlangsung beberapa lama, dan sejak dimuat di majalah tersebut, munculah teror-teror ndak jelas, (kebetulan teman saya perempuan)

    @mas petra : saya juga pernah senasib… jadi, kalau me-sms orang yang kira2 tidak menyimpan nomer hp saya, pasti saya cantumkan nama… vice versa lah…

  3. nashkius berkata:

    Pak Rinaldi, apa kabar?
    Menurut saya sih tidak masalah Pak, kan dengan menyebar nomor hp membuka kesempatan untuk orang lain bisa silaturahmi dengan kita, atau kita dengan orang lain.
    :D

    • ikhwanalim berkata:

      @nashkius
      menurut saya boleh disebar boleh juga tidak. tergantung. klo kita cuma punya satu nomer saja mungkin sebaiknya tidak. karena itu adalah nomer pribadi sekaligus nomer official kita. klo punya nomer minimal dua, bolehlah dikategorikan menjadi nomor official dan nomor pribadi.

      @pak rinaldi
      trims atas sharingnya pak!

  4. nhoe berkata:

    iya pak.. tapi bagi kami mahasiswa, terutama ketika sedang perlu untuk bimbingan, butuh info tentang keberadaan dosen bersangkutan. mungkin bijaknya untuk menghindari kontak via hp, sang dosen rajin update status sosial media untuk memberitahukan ketersediaannya kapan dan dimana.. walo terkesan narsis, tapi itu sangat penting bagi mahasiswa yang membutuhkannya.. :)

  5. T Satria berkata:

    Solusinya mudah kok: Kalau memang Mas Rinaldi mau membantu mahasiswa ybs, sebaiknya Mas Rinaldi menghubungi sang Dosen (via telpon/SMS). Mas Rinaldi meminta izin kepadanya untuk memberikan nomor HP ke mahasiswa yang membutuhkan tsb (kalau bisa dengan memberitahukan alasan-alasannya). Jika sang Dosen mengizinkan, baru diberikan nomor HP-nya. Jika tidak, “Well.. God help you!”.
    Setidaknya kita coba membantu. Bukan sekedar berkutat di masalah “melanggar privacy atau tidak?”.
    Manusia adalah “The most intelligent problem solver”. Kalau cuma menimbang-nimbang berdasarkan norma kesopanan, saya kira komputer pun bisa. Jadi, berusahalah mencari solusi yang memuaskan semua pihak.
    Btw, cara di atas tidak melanggar privasi ‘kan?

    Wallahu ‘alam

  6. T Satria berkata:

    Sebenarnya saya pun tidak suka memberikan nomor HP orang tanpa izin ke pihak lain. Kecuali, orang/pihak yang secara logis memang senang nomor kontaknya disebar, seperti perusahaan travel, karena dia dapat promosi gratis. Saya pun kurang suka jika tiba-tiba dihubungi oleh orang yang tidak ada di phonebook saya. Kalau mau menghubungi, lewat SMS dulu lah. Beritahukan identitas dan darimana mendapat nomor HP saya.
    Tapi, adakalanya kita memang terdesak. Saya juga pernah mengalaminya. Untuk itu, jika saya butuh nomor HP seseorang, saya meminta bantuan ke orang yang kira2 tahu. Syaratnya dia harus minta izin dulu ke orang yang saya minta nomornya. Jika tidak diizinkan, saya dengan tegas tidak mau mencatat nomornya. Mungkin karena saya memang tidak disukai atau beliau tidak ingin diganggu pada waktu privat. Apa pun alasannya, beliau berhak untuk menolak.
    Wallahu ‘alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s