Bila Mahasiswa Cium Tangan Dosennya

Ada pengalaman menggelikan yang saya alami dalam dua tahun terakhir ini. Kebetulan setiap tahun saya selalu menjadi dosen wali mahasiswa TPB (mahasiswa tingkat 1 di ITB). Saya memegang sekita 20 orang mahasiswa perwalian. Sebagai dosen wali, tentu saja saya menjadi tumpuan tempat bertanya para mahasiswa tingkat I. Maklum mereka masih baru di ITB, masih peralihan dari SMA. Mereka bertanya apa saja, mulai dari cara pemilihan Program Studi, cara belajar, cara mengatur waktu, minta tanda tangan buat beasiswa, dan sebagainya. Kalau tidak bertanya lewat email atas SMS, mereka kadang-kadang suka datang langsung ke kantor untuk bertemu. Nah disinilah pengalaman menariknya. Ketika mereka datang, mereka selalu mencium tangan saya sambil sedikit membungkukkan badan, begitu juga kalau pamitan cium tangan lagi.

Tentu saja saya merasa geli sendiri, karena tidak biasanya mahasiswa mencium tangan dosennya ketika bertemu. Dari dulu hingga dua tahun lalu belum pernah saya dicium tangan oleh mahasiswa. Sebenarnya saya kurang suka diperlakukan begitu, saya ini orangnya egaliter. Ada perasaan risih atau jengah gitu, tetapi mau gimana lagi, tidak enak juga menolaknya. Saya pikir mungkin mereka meneruskan tradisi di sekolah. Kalau saya amati, budaya cium tangan itu merata di sekolah-sekolah mulai dari SD sampai SMA. Siswa selalu mencium tangan guru setiap kali bertemu atau setiap kali habis berbaris akan masuk kelas. Begitu juga kalau pulang, siswa kembali mencium tangan guru. Itu pula yang saya lihat di sekolah anak saya, sebagian guru berbaris di depan gerbang sekolah menyambut muridnya. Murid yang baru datang menghampiri para guru lalu mencium tangan mereka sebelum masuk ke dalam kelas,

Maksud cium tangan itu tentu sebagai wujud penghormatan dan kecintaan murid kepada orang yang digugu dan ditiru (yaitu guru). Bagi kalangan santri di pesantren, mencium tangan kyai tidak hanya sebagai bentuk penghormatan, tetapi juga sebagai cara ngalap berkah. Mereka (para santri) berharap mendapat berkah dari ilmu sang Kyai. Di kalangan kaum nahdliyin kita sering melihat pemandangan seperti ini, para jamaah berebut mencium tangan kyai yang mereka hormati sebagai bentuk kecintaan, penghormatan, dan juga untuk ngalap berkah. Tidak hanya jamaah, tetapi para pejabat atau menteri kalau bertemu tokoh Kyai selalu begitu, mencium tangan sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang dituakan dan mumpuni ilmu agamanya.

Dalam Islam sendiri tidak terdapat ajaran cium tangan. Tidak pernah diceritakan dalam Hadis para sahabat mencium tangan Nabi. Cium tangan juga bukan tradisi orang Arab. Orang Arab malah punya budaya saling sun pipi ketika bertemu, tetapi sun pipi hanya untuk sesama sejenis saja. Saya berkesimpulan budaya cium tangan itu adalah khas budaya Jawa (termasuk di tataran Sunda) yang paternalistik. Dalam masyarakat paternalistik kedudukan orang tua sangat penting, mereka dihormati dan ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi. Orang (yang lebih) tua tidak boleh dibantah, mereka adalah pengayom orang yang lebih muda. Berbicara kepada orang (yang lebih) tua harus sopan memakai bahasa halus (Jawa kromo). Menentang orang (yang lebih) tua adalah kualat. Orang yang lebih tua itu bisa berupa sultan (raja), bupati, kyai, guru, termasuk orang tua kandung. Pada masa lalu, budaya paternalistik sangat kental di Jawa karena adanya hirarkhi strata masyarakat dari kraton hingga rakyat jelata. Sisa-sisa dari budaya paternalistik itu kita temu hingga sekarang, antara lain tradisi cium tangan itu.

Dalam masyarakat egaliter tidak kita temui tradisi cium tangan itu. Saya yang berasal dari daerah Minangkabau yang masyarakatanya dikenal egaliter (karena tidak pernah hidup dalam tradisi kraton seperti di Jawa) tidak menemukan budaya cium tangan itu di kampung-kampung. Orang muda kalau bertemu orang tua tidak mencium tangan, tetapi cukup salam saja. Hanya sekarang-sekarang saja saya menemukan siswa sekolah di Sumatera Barat mencium tangan gurunya. Begitu juga pasangan muda mulai membiasakan anak-anaknya untuk mencium tangan orangtua kalau mau pamit, datang, atau bertemu dengan teman si orangtua. Istilah cium tangan dari anak ke orangtua disebut salim. Barangkali fenomena ini sebagai pengaruh dari tayangan di media televisi dimana, baik dari sinetron maupun berita-berita yang menampilkan anak mencium tangan orang tua, murid mencium tangan guru, atau santri dan jamaah mencium tangan ustad/kyai.

Meskipun cium tangan itu warisan budaya paternalistik, tetapi sebenarnya itu budaya yang baik asakan tidak terlalu berlebihan, misalnya sebagai bentuk penghambaan atau menyembah. Murid memang perlu menghormati gurunya, anak wajib menghormati orangtuanya, salah satu cara yang ditradisikan adalah dengan mencium tangan sebagai bentuk bakti dan cinta. Saya juga mentradisikan budaya salim ini di rumah, dimana anak selalu cium tangan orangtuanya kalau mau sekolah, pergi, dan pulang ke rumah.

Maka, jika mahasiswa mencium tangan dosennya saya kira agak berlebihan dan tidak perlu. Kehidupan di kampus adalah kehidupan yang egaliter. Tidak ada gap antara dosen dan mahasiswa, mahasiswa bisa duduk sama tinggi dan sama rendah dengan dosennya. Tidak ada gap antara profesor dengan dosen yang belum profesor, tidak ada jarak antara rektor dengan dosen, karena rektor itu kan dosen juga. Begitu juga tidak ada jarak antara Dekan dengan dosen di fakultas, dan sebagainya. Dosen dan mahasiswa adalah sejajar sebab mereka makhluk akademis. Jadi, anda tidak akan menemukan di ITB dosen muda mencium tangan rektor, dosen biasa mencium tangan profesor atau mahasiswa tingkat empat mencium tangan dosen pembimbing TA. Bersalaman saja sudah cukup, atau sekedar menganggukkan kepala kalau bertemu di jalan sembari tersenyum atau menyapa dengan ucapan Pak, Bu, dan sebagainya.

Yang membuat saya tersenyum simpul adalah pengalaman ketika bertemu kembali dengan mahasiswa yang dulu di bawah perwalian saya ketika TPB. Sekarang mereka sudah tingkat dua, atau tingkat tiga, atau tingkat akhir. Jika mereka menemui saya atau bertemu di jalan, mereka tidak pernah cium tangan lagi. Ha..ha..ha. Mungkin malu, atau mungkin sudah merasakan egaliterian kehidupan di kampus. Namun saya kira memang seharusnya begitu, tidak perlu berlebihan menghormati kami.

Oleh-Oleh dan Bayangan Wajah Berseri

Setiap kali pulang dari kantor dan sampai di depan rumah, anak saya langsung berlari menyongsong menyambut saya seraya bertanya: “Ayah bawa makanan?”. Ah, rasa lelah langsung hilang begitu saja setiap kali disambut anak dengan senyuman dan teriakan riang. Betul kata ibu saya dulu, suatu saat ketika anak saya sudah bisa berlari, dia akan langsung keluar menyambut ayahnya pulang begitu suara motor saya memasuki halaman rumah. Anak kecil dimana-mana pasti gembira ketika ayahnya pulang kerja pada sore hari. Memang anak itu adalah permata hati yang tidak ternilai harganya. Alhamdulillah Allah SWT memberi saya amanah tiga orang anak.

Kembali ke cerita di atas. Setiap pulang ke rumah anak saya selalu bertanya apakah saya membawa makanan. Yang dia maksud dengan makanan adalah camilan ringan kesukaan anak-anak. Oleh karena itu, sebelum sampai ke rumah, saya biasanya mampir dulu ke minimarket untuk membeli buah tangan yang ditunggu anak saya. Setiap hari selalu begitu. Bila saya pulang dengan tangan hampa, mereka menunjukkan wajah kecewa.

Membeli oleh-oleh guna dibawa pulang sudah menjadi kebiasaan saya sejak dulu. Kemanapun saya pergi, pasti selalu terpikir membawa buah tangan untuk orang di rumah. Setiap kali saya pergi ke luar kota, maka saya selalu mencari oleh-oleh apa yang akan dibawa pulang. Kalau tidak makanan, ya pakaian atau mainan buat anak. Terkadang ketika sudah chek-in di Bandara saya suka keliling dulu melihat-lihat toko di dalam Bandara, barangkali ada kaos buat anak atau seuatu yang unik buat dibawa pulang. Begitu juga kalau ke luar negeri, saya suka jalan ke pasar membeli sesuatu buat orang di rumah. Memilih-milih barang, tawar menawar jika bisa ditawar, lalu menghitung-hitung harganya dalam rupiah. Wajah-wajah orang di rumah selalu terbayang, mereka pasti menunggu saya. Biasanya buat tetangga saya juga tidak lupa membagikan oleh-oleh makanan. Bila orang lain merasa repot atau ribet kalau membawa barang-barang buat oleh-oleh, maka saya sebaliknya, selalu merasa senang meskipun barang bawaan menjadi bertambah. Tidak perlu merasa repot, toh yang membawa barang-barang itu pesawat atau mobil.

Saya juga punya kebiasaan setelah shalat Jumat di Masjid Salman, biasanya saya tidak langsung ke kantor, tetapi singgah dulu melihat-lihat barang dagangan pedagang kaki lima di pasar kaget yang tercipta di Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Saya suka lihat-lihat barang mainan anak-anak yang dijual pedagang di situ, siapa tahu ada yang bisa dibeli buat anak. Kadang-kadang juga ada buku cerita atau buku bergambar yang harganya sepuluh ribu tiga. Those are for my sons at home, from daddy.

Bila saya ingat-ingat, kebiasaan membawa oleh-oleh itu sudah saya lakukan sejak masih kuliah di Bandung. Meskipun masih mahasiswa dan mengandalkan kiriman uang dari orangtua, selalu saja saya sempatkan membeli oleh-oleh untuk dibawa ke Padang. Biasanya yang saya beli adalah makanan yang jarang ada di Padang (kala itu). Begitu sampai di rumah, saya sudah tidak sabar membongkar barang bawaan dan membagikan oleh-oleh dari Bandung. Tidak perlu istirahat dulu menghilangkan capek, langsung saja dibagi dan dimakan orang serumah.

Saya pikir, itulah cara membuat orang-orang di rumah tersenyum bahagia menerima oleh-oleh dari saya. Sama seperti anak saya di rumah, sebelum sampai ke rumah saya sudah membayangkan wajah anak di rumah tentu gembira menerima buah tangan yang saya bawa. Apalagi bila buah tangan itu adalah barang yang ia idam-idamkan selama ini.

Sore nanti saya akan singgah lagi di minimarket membeli makanan kesukaan anak-anak. Setiap membuka pintu, anak saya, terutama yang bungsu pasti akan bertanya: Ayah bawa makanan?

Pameran Poster Tugas Akhir dan Thesis Mahasiswa

Di Program Studi Teknik Informatika ITB sekarang ada iven baru. Menjelang wisuda bulan April nanti, dipamerkan poster Tugas Akhir dan Thesis mahasiswa S1 dan S2 Informatika ITB. Mahasiswa yang akan diwisuda diwajibkan membuat satu lembar poster yang mendeskripsikan tugas akhir/thesisnya. Poster lux seukuran karton tersebut dipamerkan pada papan-papan di dinding lorong lantai 2.

Setiap orang yang lewat lorong ini pasti tergoda melihat dan membaca poster, minimal ingin tahu poster apa itu, siapa yang membuat, dan apa isinya.

Hmmm… tidak mudah lho membuat poster ini. Bagaimana meringkas isi laporan TA/Thesis yang tebal itu hanya dalam satu lembar karton? Bagaimana memvisualisasikan substansi tugas akhir tersebut dalam beberapa gambar, karena sebuah gambar dapat berbicara lebih dari seribu kata. Satu lembar poster harus dapat menceritakan deskripsi singkat TA/thesis dari A sampai Z, sehingga orang yang membacanya dapat memahami apa yang dikerjakan maahsiswa tersebut.

Satu lembar poster mencakup logo ITB, judul TA/thesis, nama dan NIM mahasiswa serta dosen pembimbing, deskripsi singkat TA (latar belakang, tujuan, metodologi, dll), hasil penelitian (berupa screenshot aplikasi, evaluasi, publikasi, dll). dan kesimpulan TA/thesis. Mahasiswa cukup menyerahkan desain posternya, proses pencetakan dan biayanya ditanggung oleh program Studi.

Menariknya, poster ini dilombakan sehingga bagi mahasiswa yang terpilih membuat poster terbaik akan mendapat hadiah. Poster terbaik dinilai berdasarkan kelengkapan isi dan estetika poster.

Update: Inilah tiga pemenang poster yang dipilih oleh juri (file dikirim oleh Bu Ulfa. Terima kasih).
1. Aswin Juari (mahasiswa S2)

2. Marselina Tando (mahasiswa S1)

3. Anwari Ilman (mahasiswa S1)

Melalui pameran poster ini kita ingin mengapresiasi karya mahasiswa. Selama ini laporan TA dan thesis menumpuk di perpustakaan, paling-paling hanya dibaca mahasiswa adik kelas yang akan mencari referensi TA. Sebelum menjadi tumpukan, dipamerkan dululah karya mereka kepada khalayak, minimal memotivasi mahasiswa lain untuk membuat karya tugas akhir/thesis yang bagus.

Beres SPT Tahunan

Alhamdulillah, rutinitas setiap tahun, yaitu mengisi SPT Tahunan akhirnya berhasil saya selesaikan dan sudah diposkan. Bisa selesai sebelum batas waktu 31 Maret. Bagi sebagian orang, mengisi SPT ini menjadi momok, oleh karena itu mereka terpaksa menyewa konsultan pajak untuk menghitung pajak dan mengisi SPT. Mungkin bulan Maret ini adalah bulan panen para konsultan pajak, sebab jasa mereka laris manis digunakan oleh perusahaan dan orang pribadi. Saya sih tidak butuh konsultan tersebut, lha bisa menghitung dan mengisi sendiri kok.

Saya sudah 3 tahun mengisi SPT ini, sebab punya kartu NPWP juga baru 3 tahun yang lalu. Mengisi SPT ini mudah-mudah sulit juga, apalagi bagi kami dosen ITB. Di ITB dosen mempunyai dua jenis penghasilan. Yang pertama adalah gaji PNS yang bersumber dari dana APBN, dan kedua adalah honor-honor yang bersumber dari ITB sendiri. Honor dari ITB itu macam-macam, misalnya insentif keprofesian, honor menjabat sebagai Dekan/Kaprodi/KaLab dsb, honor kelebihan beban mengajar, honor sidang, honor satgas, dan macam-macam (banyak deh). Honorarium tambahan dari ITB itu jelas sangat membantu, terutama bagi dosen yang tidak punya penghasilan tambahan semisal proyek, royalti, dsb. Kalau hanya mengandalkan gaji PNS, mungkin mereka sangat kewalahan berpacu dengan kebutuhan hidup yang terus melambung.

Setiap gaji maupun honor sudah terkena pajak PPh Pasal 21. ITB sudah memotong pajak dari setiap pendapatan tersebut. Jadi, uang yang kita terima sudah bersih dipotong pajak dan pengurangan lain-lain seperti biaya pensiun dan biaya jabatan. Pajak-pajak tersebut sudah disetorkan ke kas negara, jadi kita sebagai dosen tidak perlu repot lagi membayar pajak.

Karena ada dua jenis penghasilan, maka ada dua halaman lampiran penghasilan yang kita terima, masing-masing formulir 1721 – A1 dan formulir 1721 – A2. Penghasilan selama 1 tahun sudah tercatat di dalam masing-masing lampiran beserta total pajak yang sudah dipotong. Sebelum dipotong pajak, totak penghasilan kotor dikurangi dengan penghasilan yang tidak terkena pajak (yang untuk saya dengan 3 anak sebesar Rp 19.800.000). Sisanya itulah yang terkena PPh Pasal 21. Kedua jenis penghasilan netto dari kedua formulir ini dijumlahkan, lalu dikurangi lagi dengan besar penghasilan tidak terkena pajak (wah, tiga kali dikurangi nih), hasilnya dimasukkan ke dalam formulir 1770 S.

Alhamdulillah setiap tahun saya selalu rajin membayar zakat mal ke lembaga amil zakat. Membayar zakat berbeda dengan membayar pajak. Membayar zakat bertujuan untuk membersihkan harta kita dari yang tidak haq, mungkin saja dalam memproleh harta itu ada hak orang lain yang ikut terambi, sedangkan membayar pajak adalah kewajiban sebagai warganegara untuk membantu pembangunan negara (cieee…). Alhamdulillahnya lagi, ternyata bukti setoran zakat itu dapat digunakan sebagai pengurang pajak. Jadi, jumlah penghasilan netto dari kedua lampiran tadi saya kurangi lebih dahulu dengan zakat sebelum akhirnya dikurangi dengan 19.800.000.

Hasil pengurangan final di atas kemudian dikenai pajak progresif. Untuk 50 juta pertama dikenai pajak 5%, kemudian 50 juta berikutnya sampai 250 juta dikenai pajak 15%, dan di atas 250 juta dikenai pajak 25%. Itulah total pajak yang harus kita bayar (ribet juga ya perhitungannya). Total pajak ini dikurangi dengan pajak PPh Pasal 21 yang sudah dipotong oleh ITB, maka selisihnya adalah kekurangan yang harus kita bayar sendiri.

Bagi sebagian kolaga saya di ITB, mereka cukup shock juga ketika mengetahui kekurangan pajak yang harus dibayar sendiri bisa sampai di atas 10 juta. Mereka terkena pajak yang lebih besar karena mungkin mendapat banyak grant riset, uang jabatan, uang hibah, dan sebagainya, maka wajar saja pajak penghasilan mereka lebih besar daripada saya (dan konsekuensinya pajaknya juga lebih besar). Mereka shock karena mengeluarkan uang 10 juta lebih itu tentu terasa berat sekali saat ini, padahal uang yang sudah dinikmati selama ini sudah habis untuk kebutuhan keluarga. Karena itu, ada kolega saya yang terpaksa berhutang untuk membayar kekurangan pajak tersebut. Yang moderat adalah membayar kekurangan pajak antara 3 hingga 5 juta rupiah. Tahun lalu saya membayar kekurangan pajak sampai dua setengah juta rupiah, tahun ini di bawah dua juta karena penghasilan yang saya terima tahun ini dari ITB juga berkurang.

Membayar pajak adalah bukti sebagai warganegara yang baik. Yang tidak rela adalah jika pajak itu dikorupsi oleh “tikus-tikus” di Direktorat Pajak. Kasus Gayus Tambunan sudah cukup membuat orang tersadar jika selama ini korupsi di kantor pajak sudah sangat parah. Karena itu cukup beralasan juga jika banyak orang yang enggan membayar pajak atau mengisi SPT Tahunan, khawatir pajak mereka dimakan oleh orang semacam Gayus. Memang Gayus Tambuan sudah dipenjara, tetapi kawan-kawannya mungkin masih ada “berkeliaran” di kantor pajak. Membuat citra kantor pajak bersih memang perlu waktu lama.

Menipu Dosen PT via SMS, Modus Sudah Basi, tetapi Masih Tetap Ada

Seorang kolega di ITB menerima SMS dari seseorang dengan nomor HP: +6287840058307. Bunyinya seperti ini:

Saya Prof.Dr.Carmadi Machbub (Wakil Rektor ITB) Kemarin saya terima Undangan Seminar dari DIKTI tgl 26-27 Maret 2011 di Grand Hotel Shangrila surabaya Untuk Bpk.Eko Purwono, Undangannya bisa diambil hari kamis jam 10 Pagi diruangan saya, kebetulan sekarang saya masih di Bogor ada acara keluarga, (Biaya Transfortasi & Akomodasi ditanggung Oleh DIKTI 10jt Untuk Masing-masing Peserta) Untuk Penerimaan dana Transfortasi & Akomodasi Untuk Peserta Hubungi Bapak Koordinator Kopertis Wilayah IV Jabar Prof.Dr.Ir.H.Abdul Hakim Halim,MSc di No Hp Beliau 08155066138, dihubungi Sekarang Sudah ditunggu..!

Modus penipuan yang sudah basi, namun anehnya masih saja ada orang mencari duit dengan model seperti ini. Yang jadi sasaran adalah dosen Perguruan Tinggi. Pura-pura ada undangan seminar dari DIKTI di Bali atau di Jakarta, dengan iming-iming bantuan dana seminar sebesar 10 juta (bagi dosen PNS atau dosen yang penghasilannya pas-pasan, angka segitu lumayan menggoda). Lalu calon korban diminta menghubungi seseorang (biasanya Kepala Kopertis) untuk transfer dana. Ceritanya mudah ditebak, calon korban diarahkan ke ATM untuk menerima transfer dana. Lalu..lalu…dan seterusnya, bukannya untung, malah buntung.

Bagi calon korban yang masih sadar, seharusnya bisa ngeh melihat kejanggalan sbb:
1. Lihatlah gaya bahasa SMS itu, acak adut, tidak menunjukkan kualitas orang bergelar profesor. Mana titik mana koma tidak jelas, mana yang pakai huruf besar dan mana huruf kecil kacau semua. Tata bahasanya benar-benar buruk. Ini penipu sepertinya keluaran SD atau tidak lulus SMA. Parahnya lagi, kata “transfortasi” ditulis dengan huruf “f”, bukan “p”. Ketahuan juga ini orang dari suku mana (piss ya :-) ).

2. Mana ada Wakil Rektor sempat-sempatnya punya waktu mengirim SMS pemberitahuan seminar kepada para dosen, hanya untuk urusan ecek-ecek seperti itu? Kan dia bisa menyuruh stafnya atau pegawainya untuk memberitahu atau menelpon kepada para koleganya di kampus.

3. Mana ada Ketua Kopertis sampai berurusan mentransfer uang seminar kepada dosen PT? Kurang kerjaan kali dia sampai urusan tetek bengek itu dilakukan olehnya via ATM. Lalu, apa kerja para staf atau pegawainya kalau begitu?

Hmmm…. apakah penipu pulang dengan tangan hampa? Jika dia mengirim SMS kepada 1000 orang dosen saja (apalagi sekarang banyak paket hemat dari operator seluler memberi gratis 1000 SMS kepada pelanggan), kira-kira 1% saja ada yang nyangkut, maka dia sudah dapat 10 orang yang tergiur masuk perangkap. Sepuluh orang dikali 10 juta rupiah, dia sudah dapat 100 juta tanpa kerja keras. Paling buruk 0.1 % deh, maka ada 1 orang yang masuk perangkapnya, dan itu sudah 10 juta. Lumayan.

Harap diingat, penipu makin canggih dan makin kreatif memainkan jurus tipu-tipu, jadi waspadalah…

Foto-Foto Sebelum dan Sesudah Tsunami di Jepang dan di Aceh

Minggu lalu Jepang dilanda tsunami mahadahsyat. Aceh juga pernah dilanda tsunami yang sedahsyat Jepang pada akhir tahun 2004. Bedanya, orang Jepang sudah siap dengan tsunami karena sudah berpengalaman, sedangkan orang Aceh (dan juga orang Indonesia) tidak siap menghadapi tsunami. Akibatnya bisa beda, korban tsunami di Jepang mungkin hanya ribuan orang (sampai tulisan ini ditulis), sementara di Aceh 200 ribu orang lebih mati dan hilang dihantam gelombang tsunami. Orang Indonesia mulai akrab dengan kata tusnami justru setelah kejadian tsunami di Aceh.

Meskipin jumlah korban berbeda jauh, namun kerusakan fisik yang ditimbulkan tsunami sama parahnya. Foto-foto dari udara di bawah ini menggambarkan sebelum dan sesudah tsunami di beberapa kota di Jepang serta foto sebelum dan sesudah tsunami di Aceh.

A. Foto sebelum dan sesudah tsunami di Jepang (Sumber: Vivanews)

1. a) Kota Miyagi sebelum tsunami

b) Kota Miyagi setelah tsunami

2. a) Kota Ishinomaki sebelum tsunami

b) Kota Ishinomaki setelah tsunami

3. a) Kota Natori sebelum tsunami

b) Kota Natori setelah tsunami

A. Foto sebelum dan sesudah tsunami di Aceh (Sumber foto: Bakosurtanal)

1. a) Kota Banda Aceh 1 sebelum tsunami (23 Juni 2004)

b) Kota Banda Aceh 1 sesudah tsunami (28 Desember 2004)

2. a) Kota Banda Aceh 2 sebelum tsunami (23 Juni 2004)

b) Kota Banda Aceh 2 sesudah tsunami (28 Desember 2004)

3. a) Kompleks Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh sebelum tsunami (23 Juni 2004)

b) Kompleks Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh sesudah tsunami (28 Desember 2004)

Makan Mie Goreng di Gampoeng Aceh

Kemarin anak saya yang sulung pesan minta dibelikan mie goreng Aceh. Baiklah, dia memang sangat suka makan mie goreng Aceh ini. Pulang dari ITB jam 17.00 saya segera meluncur menuju kedai Gampoeng Aceh yang terletak di jalan Dago di samping Hotel Holiday Inn Bandung. Gampoeng artinya kampung, jadi Gampoeng Aceh maksudnya kampung Aceh. Di Bandung cukup banyak kedai mie goreng khas Aceh, salah satunya Gampoeng Aceh itu. Saya mencatat kehadiran pedagang mie goreng Aceh mulai menjamur di kota Bandung pasca tragedi tsunami yang memilukan di akhir tahun 2004. Sejak itu nama Aceh menjadi terkenal di seluruh dunia, dan sejak itu pula ekspansi perantau dari Aceh ke kota Bandung cukup besar jumlahnya.

Kedai Gampoeng Aceh dirancang seperti kafe. Banyak anak muda suka mangkal di sana, apalagi pada malam minggu. Maklumlah lokasinya di Jalan Dago yang terkenal sebagai tempat nongkrong anak muda setiap malam, khususnya pada akhir pekan.

Macam-macam makanan khas Aceh yang dijual di sana. Ada martabak Aceh (yang sebenarnya mirip dengan telur dadar), roti cane, gulai kari, dan sebagainya. Nah, saya mau makan roti cane (canai) dulu ah sebelum pulang. Roti cane adalah roti khas India/Timur Tengah. Roti ini dimasak di atas wajan datar, ketika hampir matang roti tersebut digebuk hingga pipih. Hancur deh, tapi disitu pula nikmatnya. Rasanya agak asin. Roti cane bisa dimakan dengan gulai kari, atau kuah sop. Tetapi sekarang variasi pendamping makan roti cane sudah lebih bervariasi, bisa pakai keju, coklat, dan sebagainya, mengikuti selera anak muda zaman kini. Karena saya ingin makan roti cane saja tanpa embel apapun, maka pelayan menyediakan gula pasir jika ingin rotinya terasa agak manis.

Di Padang juga ada roti cane semacam ini, biasanya dijual pada pedagang martabak mesir/martabak Kubang. Sekarang pedagang martabak Kubang ada di mana-mana. Di Jakarta martabak Kubang yang terkena di Jalan Saharjo sehingga sering disebut Kubang Saharjo. Kalau di Bandung martabak kubang ada di Jalan Terusan Jakarta (baca tulisan saya terdahulu tentang martabak Kubang di Bandung).

Makan roti cane tentu tidak lengkap tanpa minum. Nah, saya minta dihidangkan minuman khas Aceh yang bernama es timun. Es timun terbuat dari serutan buah ketimun (Sunda: bonteng), diberi air, gula, dan es batu, ahhhh… segar rasanya.

Dulu semasa kecil di Padang saya sering minum es timun. Biasanya es timun dibuat orang pada bulan puasa sebagai minuman pembuka puasa. Jadi terkenang masa kecil nih…

Nah, mana pesanan anak saya? Oh, ini dia sudah datang, mie goreng Aceh. Mie goreng Aceh adalah mie goreng yang dicampur dengan sayur tauge dan dimasak dengan bumbu khas Aceh. Saya pernah baca bahwa di Aceh sendiri makanan mie goreng ini sudah menjadi makanan sehari-hari. Rasa mie goreng Aceh sangat khas, mienya bulat dan berukuran cukup besar. Mantaplah pokoknya. Selain mie goreng juga ada nasi goreng khas Aceh, cuman saya lebih suka mie goreng daripada nasi goreng. Nasi gorengnya agak kering, masih kalah dengan rasa nasi goreng khas Minang/Padang di Pasar Simpang dago. .

Yuk, ah, saya mau pulang dulu. Anak saya di rumah tentu sudah menanti-nanti mie goreng Aceh kesukaannya. Jika ingin lebih lengkap, pulang ke rumah melewati Jalan Aceh yang rindang dan sejuk. Nama Aceh memang sudah melekat di hati orang Bandung sejak zaman dulu, sampai-sampai diberi nama jalan di wilayah kota yang banyak bangunan militernya.

Di sebuah Pesta, Makan Minum Sambil Berdiri

Ada perasaan risih ketika saya hadir di sebuah pesta perkawinan. Para tamu makan dan minum sambil berdiri, bahkan sambil berjalan dan mengobrol dengan tamu lainnya. Risih karena sebenarnya makan dan minum sambil berdiri itu tidak patut, seperti hewan makan sambil berdiri saja. Meskipun makan dan minum sambil berdiri itu tidak berdosa (hukumnya mubah atau boleh), namun para ulama sepakat menyatakan bahwa yang utama adalah makan dan minum sambil duduk (baca penjelasannya di sini).

Saya sudah menghadiri banyak acara walimahan perkawinan. Umumnya pesta pernikahan tersebut dilakukan di gedung, bukan di rumah. Hampir sebagian besar yang empunya pesta tidak menyediakan kursi yang cukup buat tamu. Jumlah kursi hanya puluhan, sedangkan tamu yang datang ratusan pada waktu yang hampir bersamaan. Alhasil, para tamu “terpaksa” makan dan minum sambil berdiri.

“Terpaksa”? Tidak semuanya, bahkan pada pesta perkawinan yang menyediakan kursi dalam jumlah banyak sekalipun, sebagian tamu enggan duduk. Mereka lebih memilih berada dekat stand makanan dan makan minum sambil mengobrol dengan tamu lain yang mungkin sudah lama tidak berjumpa. Memang, resepsi pernikahan sering dijadikan ajang reuni atau kumpul-kumpul para sahabat yang lama tidak bertemu. Maka, reuni sambil duduk mungkin dianggap kurang pas. Berdiri sajalh sambil makan, mungkin begitu dalam pikiran banyak orang.

Saya pernah menghadiri acara pesta perkawinan sebuah keluarga yang saya kenal islami. Untuk menjaga sunnah Rasul, keluarga ini menyediakan kursi dalam jumlah yang cukup banyak. Tamu pria dan wanita dipisahkan tempatnya sehingga tidak berbaur (ada hijab). Sekali-sekali pembawa acara menghimbau para tamu agar makan sambil duduk di kursi. Mempankah himbauan itu? Tidak juga, tetap saja banyak yang makan dan minum sambil berdiri dan saling ngobrol dengan tamu lainnya. Oalaaahh, sudah menjadi kebiasaan rupanya sehingga sulit untuk diubah.

Lucunya, pada acara buka puasa bersama di Aula Barat ITB tahun lalu, para dosen ITB pun berbuka puasa sambil berdiri. Jadi, kalau sudah menjadi budaya, susah juga mau diubah, tak peduli itu acara pesta atau acara berbuka puasa.

Anehnya, ketika menghadiri resepsi perkawinan yang diadakan di rumah (bukan di gedung), para tamu tidak ada yang makan sambil berdiri, semuanya duduk dengan tertib di kursi yang disediakan (jumlah kursi cukup banyak). Kursi-kursi itu disusun di halaman rumah atau di jalan depan rumah dengan tenda biru menaunginya. Rupanya nuansa di rumah dan di gedung memberikan efek yang berbeda. Kenapa? Sebab kalau di rumah sendiri kita biasanya makan sambil duduk, bukan?

Pusiiiing dengan Bahasa Alay nan Lebay

Kalau membaca tulisan remaja zaman sekarang benar-benar pusing. Pusiiiing. Pasalnya mereka menggunakan bahasa aneh, bahasa alay namanya. Bahasa alay ini semacam bahasa gaul yang menggunakan kombinasi huruf (huruf besar dan huruf kecil) dan angka yang bunyinya dimirip-miripkan dengan kata aslinya (Bahasa Indo atau Inggris). Saya menemukan kalimat alay dari para remaja ini pada komentar di fesbuk, komentar di blog, email, dan kiriman sms. Ternyata perkembangan teknologi informasi seperti ponsel dan situs jejaring sosial telah memicu banyak anak dan remaja sekarang menulis dengan bahasa yang lebay itu.

Ini contoh kalmiat mereka dalam bahasa alay:

A : N4nt1 50re ud 4d4 4cr4 g4?

B : Gk, ‘loM 4d4, knp?

A : M0 Nnt0n sm W 94k?

B : Bwleh, y03ks.. :-) )

atau yang ini:

A : Qu mO d474ng k humz Qmu lEh g? Nx Qu tilp. Ppi Low @D

B : Bos d Humz qu g jd. Or qT MamZ d lwar za, gmn? Ntr Qu pckup d /4an Iank byza, oce. Saiang qmu.

Kamu mengerti? Nah, bagaimana kalau ini serta artinya (diambil dari sini):

QmO dLaM iDopQhO (kamu dalam hidupku..)
q tWo……………… (aku tau……)
qMo mANk cLiD wAd cYanK m qHo…………. (kamu memang sulit buat sayang sama aku…)
tPhE qMo pLu tHwO„„„ (tapi kamu perlu tau….)
aLwaYs 4’U…………… (always for you, cuman buat kamu)
cO’nA cMa qMo YaNk Co WaD qHo cYuM………… (soalnya cuma kamu yang cowo buat aku senyum)
k’tHwA„„„„„„„„„„ ketawa…)
n cNeNk…………….. (dan senang)
tHanKz b’4„„„„„„ (thanks before, terimakasih sebelumnya)
yOz aLaWAiCe d bEzT……………. (you always the best, kamu selalu yang terbaik
-ALAWAICE? WTF?) iN meYe heArD„„„„„„, (in my heart, dalam hatiku
-btw MEYE? APA ITU HAHA)

tHo_tHo………….. (dadah -ini dadah doang ribet banget nulisnya)
LupHz yOu„„„„„„, (love you, sayang kamu)
I’m ReGrEeEeeEEeeEet nOw……………. (aku menyesal sekarang)
naFaZ„„„„„„„„„, (napas)
bNcHi qOh nGmBAnK………………. (benci aku ngambang)
nPhA jDe gnE??????????????? (mengapa jadi begini?)
i dOn’t LiKe tHaT………….. (I don’t like that, aku tidak suka itu)
qOh g Mo iDoP dLAM kmNfqAn………. (aku ga mau hidup dalam kemunafikan -WUESSS angin berhembus)
tHiZ iZ buLLsHiT!!!!!!!!!!! (this is bullshit!, ini semua omong kosong!!! -penuh amarah membara)
sHiT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! !!!!!!!!!!!!!!!! (shit!!!!!! TA* )
HAifTf……………… (huff)
TaKe mE 2 yOuR hEaRtZzz?????????????????? (take me to your heart, bawa aku ke dalam hatimu)
cXnK qMoh tO cKiDnAAAAaaaAaAaaaa……. (sayang kamu tuh sakitnya…)
m_tHa apOn YoH……………… (minta ampun ya…)
qoH tLuZ”aN uCHA bWaD tTeP qEqEUh cXnK qMo………. (aku terus terusan berusaha buat tetep kekeuh sayang kamu…)

bUD„„„„„„„„„, (but, tetapi…) hUhuHuHfTFTf………….. .. (huft huft -ehem

ckIdDDdddDDDd„„„„„„, „„„„„„„„„„„„„ „„ (SAKIIIIIIT!

Banyak orang yang mengkhawatirkan fenomena bahasa alay ini. Mereka beranggapan bahasa alay ini dapat merusak Bahasa Indonesia. Menurut saya kekhawatiran itu berlebihan, sebab bahasa alay ini sifatnya temporer saja (sementara). Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bersamaan dengan perjalanan waktu bahasa tersebut akan hilang dengan sendirinya. Fenomena ini mirip dengan bahasa gaul beberapa puluh tahun lalu yang bernama bahasa prokem, sekarang bahasa prokem sudah terdengar lagi penggunaannya.

Untung saja mahasiswa saya tidak menjawab soal ujian dengan bahasa alay ini. Para remaja juga tidak akan menjawab soal ujian gurunya dengan bahasa alay. Ini berarti mereka tahu konteks penggunaannya, kapan untuk serius dan kapan untuk main-main. Kalau mereka pakai bahasa alay dalam menjawab soal ujian, tentu tambah pusinglah saya atau para guru membacanya. Sampai sejauh ini belum terjadi.

Bila Sarjana Informatika ITB Jualan Mie Kocok

Alumni Informatika (IF) ITB jualan mie kocok Bandung? Apa sudah tidak ada lagi pekerjaan di bidang informatika (IT) yang bisa dikerjakan alumni, he..he? Apakah proyek pembuatan perangkat lunak sudah sepi order sehingga alumni IF ITB banting stir jualan mie kocok? Bukan saudara-suadra, tentu saja bukan karena itu alasannya. Bidang informatika masih tetap termasuk “madece” alias masa depan cerah. Proyek di bidang teknologi informasi tidak habis-habisnya, selalu saja banyak permintaan untuk mengerjakan proyek di bidang ini. Lalu, kenapa ada lulusan Informatika jualan mie kocok Bandung? (Emangnya nggak boleh?, ha..ha)

Kemarin sore saya menyinggahi warung mie kocok Bandung yang dikelola oleh lulusan Informatika, mantan mahasiswa saya dulu. Namanya Doni Hernawan, dulu Informatika ITB angkatan 1996. Doni ini men-tag saya di fesbuk pada gambar lokasi warung mie kocoknya yang bernama Larizo. Ia mengabarkan bahwa dirinya sekarang berjualan mie kocok di jalan Rontgen, pertigaan Jalan Dr. Radjiman. Setengah berrpromosi dia menceritakan mie kocoknya ini beda dengan mie kocok yang yang lain, kuahnya lebih kental sebab berisi kaldu dan sumsum tulang sapi sehingga terasa gurih. Daging kikilnya juga asli, katanya (Emang ada kikil yang palsu?, tanya saya. Ada, kata Doni, yaitu kikil yang terbuat dari kulit sapi yang biasanya digunakan untuk membuat sepatu. Sampah kalau gitu.).

Wah..wah..wah, siapa yang tidak ngiler mendengar promosi mie kocoknya ini, apalagi saya ini seorang pencinta dan pengamat kuliner. Lebih menarik lagi dia mantan mahasiswa saya dulu di Informatika ITB, kok jualan mie kocok? Ada yang “salah” kah dengan pendidikannya di Informatika? He..he..he… . Saya pun meluncur ke lokasi yang dia sebutkan. Penasaran. Tidak susah mencari warungnya itu yang terletak di depan Dinas Pendidikan Kota Bandung.

FYI, mie kocok adalah jajanan khas Bandung sehingga sering dinamakan mie kocok Bandung. Bentuknya mirip mie bakso, tetapi ada beberapa perbedaan. Mie kocok Bandung ini kuahnya adalah kaldu dan sum-sum dari kaki sapi dan kikil yang direbus dengan bumbu-bumbu (makanya sering dinamakan “mie kocok kaki sapi”). Urang Sunda sangat doyan makan kikil (hati-hati kolesterol lho, he..he). Oh ya, mienya juga khusus yaitu mie gepeng. Nah, untuk menghidangkan satu mangkok mie kocok Bandung, mie dicampur dengan sayur tauge, bawang daun, bawang goreng, selederi, tongcai, lalu ditambah dengan kikil sapi yang dipotong dadu. Selanjutnya campuran tadi disiram dengan kuah kaldu, tambahi perasan jeruk, sambal cabe rawit, dan kecap. Mantaaapp! Mie kocok ini dimakan selagi panas ditemani es jeruk atau teh hangat. Karena Bandung berhawa sejuk/dingin maka mie kocok ini populer sebagai pengisi kehangatan selain makan mie bakso, batagor, dan minum bajigur tentunya. Tidak heran pada resepsi pernikahan di Bandung selalu ada stand mie kocok yang diserbu tamu undangan. Di Bandung mie kocok yang terkenal itu terletak di Jalan Macan (dekat Jalan Banteng) dan di jalan Kebon Jukut.

Kembali ke mie kocok Larizo milik si Doni ini. Segera saja saya dihidangkan semangkok mie kocok. Karena saya tidak suka kikil, maka saya minta mie kocok pakai bakso saja, nggak pakai kikil. Wah, sudah tidak sabar saya ingin mencicipi mie kocok Doni ini. Hmm… baru dimakan satu dua sendok, memang terasa gurih. Gurihnya bukan karena bumbu penyedap, tetapi berasal dari kuah kaldunya yang kental litu. Enak, euy, mantap. Ternyata resep mie kocok ini hasil eksperimen ibunya Doni yang memang hobi memasak. Cerita si Doni, warung mie kocok ini dia yang memodali, sementara yang memasak adalah ibunya, jadi boleh dibilang ini usaha keluarganya.

Ini mie kocok Larizo, potongan yang putih-putih itu adalah kikil sapi:

Hei Don, apakah kamu memang kerjanya cuma jualan mie kocok?, tanya saya. Ternyata tidak juga, jualan mie kocok hanya usaha sampingan. Doni ini masih tetap “on the track” di bidang Informatika, dia punya perusahaan konsultan IT bareng teman-temannya, proyeknya di bidang GIS. Sekali-sekali saja dia datang ke warungnya untuk memantau perkembangan usaha jualan mie kocok. Sudah ada yang mau jadi waralaba, katanya senang. Saya pun ikut senang. Oh iya, saya jadi ingat, mantan mahasiswa saya bernama Latif angkatan 1999 juga saya dengar jualan mie bakso di Bandung, tetapi saya belum pernah coba baksonya itu. Rasa-rasanya jualan bakso ini lebih menyenangkan daripada coding deh…

Ini Doni di depan warung mie kocoknya. Mana yang sapi dan mana Doni nih? He..he…

Slurp, slurp…olala, mie kocok Bandung sudah habis saya makan. Karena enak, saya pesan dua bungkus lagi untuk anak dan sitri di rumah. Harganya juga tidak terlalu mahal, antara Rp10.000 sampai Rp13.000 per porsi. Saya rekomendasikan nih mie kocok Larizo ini kalau anda sempat melewati jalan-jalan yang bernama para dokter itu, boleh dicoba rasanya memang beda dengan mie kocok yang pernah saya coba.