“Tingginya” Syarat Kenaikan Jabatan di ITB

Kemarin saya ngobrol-ngobrol dengan seorang teman yang menjadi dosen perguruan tinggi di daerah. Dia menceritakan kalau di tempatnya itu kenaikan jabatan akademik relatif mudah dan cepat. Dia mencontohkan dosen-dosen muda yang belum lama selesai S2 sudah bisa menyandang jabatan Lektor Kepala. Dia juga bercerita kalau dirinya sudah didorong-dorong oleh Jurusannya untuk mengurus jabatan ke Guru Besar (profesor). Tapi dia masih merasa enggan, mungkin 3 atau 4 tahun lagilah. Alasan sebenarnya karena dia merasa “belum pantas” menyandang gelar “Prof”, agak malu bila dibandingkan dengan senior-seniornya di ITB (tempat dulu dia kuliah) yang sudah tua tetapi belum juga menjadi profesor. Masa di depan namanya sudah ada singkatan “Prof” tetapi guru-gurunya di ITB malah masih Lektor? Di Jurusan Informatika tempat dia mengajar dosen yang menyandang gelar Prof sudah banyak, sedangkan di IF ITB saja profesor baru dua biji, hiks..hiks. (Sebenarnya dia tidak perlu merasa sungkan atau malu gitu, mungkin dosen-dosen senior di IF-ITB tidak memberi contoh yang baik sehingga proses kenaikan jabatan ke Guru Besarnya lambat, jadi teruskan sajalah proses di sana).

FYI, untuk dosen perguruan tinggi, selain pangkat (III-a, III-b, sampai IV-e), dosen juga mempunyai jabatan akademik. Jabatan akademik itu ada 4 tingkat: Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala, dan Guru Besar (Profesor). Jabatan terendah adalah asisten ahli dan tertinggi (impian) adalah Guru Besar. Jika baru jadi dosen (dengan kualifikasi pendidikan S2), maka jabatannya adalah asisten ahli dengan golongan pangkat III-a. Jika kualifikasi pendidikan ketika pertama menjadi dosen adalah S3, maka jabatannya bisa langsung loncat ke Lektor dengan golongan pangkat III-c.

Untuk setiap kenaikan ke jabatan/pangkat yang lebih tinggi, seorang dosen harus mencapai jumlah angka kum (credit point) tertentu. Misalnya untuk naik dari Asisten Ahli ke Lektor jumlah kum harus > 200. Angka kum itu diperoleh dari 3 aspek tridharma (pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat). Angka kum dari pendidikan adalah mengajar, membimbing TA/Tesis, membuat bahan kuliah, buku, dll, memperoleh ijazah S2/S3, dll. Angka kum dari penelitian adalah dari sejumlah makalah (paper) yang dimuat di proceeding konferensi dan jurnal ilmiah (nasional/internasional). Sedangkan angka kum dari pengabdian masyarakat misalnya dari proyek kerjasama dengan lembaga Pemerintah, Pemerintah Daerah, BUMN, dan masyarakat.

Di ITB masih banyak dosen yang mempunyai jabatan Lektor meskipun mereka sudah menjadi dosen puluhan tahun. Mereka sudah S2 atau S3 tetapi masih tetap Lektor (bahkan ada yang masih Asisten Ahli sekian lama). Sebenarnya kenaikan jabatan di ITB tidaklah sulit, tetapi banyak yang “malas” mengurusnya padahal sebenarnya semua persyaratan kenaikan jabatan sudah memenuhi. Sebagian (bukan seluruhnya) dosen-dosen di ITB tidak terlalu mengejar kenaikan pangkat/jabatan karena secara finansial mereka sudah mapan (penghasilan dari proyek-proyek, riset, kerma, perusahaan pribadi, dll) sehingga mereka tidak terlalu bergantung pada kenaikan gaji sebagai konsekuensi kenaikan jabatan. Karena sudah merasa mapan (atau nyaman), maka mengurus kenaikan jabatan itu bukan prioritas. Sebenarnya fenomena ini tidak baik, sebab kenaikan jabatan adalah implikasi dari perkembangan karir akademik. Kalau mentok hanya pada jabatan Lektor atau Lektor Kepala, maka konsekuensinya kemana-mana, misalnya pertambahan guru besar pun menjadi seret, beberapa jabatan struktural mengharuskan syarat Lektor Kepala, menjadi Promotor Utama (pembimbing utama) mahasiswa S3 harus sudah bergelar Doktor dan berjabatan Lektor Kepala, dan sebagainya.

Selain karena faktor “malas” mengurus, ada faktor lain yang menyebabkan kenaikan jabatan di ITB ini mandek. Faktor lain itu adalah syarat tambahan yang ditetapkan oleh Senat Akademik ITB yang mana lebih tinggi dari ketentuan Direktorat Perguruan Tinggi (Dikti). Untuk naik jabatan dari Lektor ke Lektor Kepala misalnya, ITB menetapkan syarat yaitu dosen harus sudah berkualifikasi S3 (Doktor) dan mempunyai makalah yang telah dimuat di jurnal ilmiah internasional terakreditasi. Berdasarkan aturan dari Dikti, syarat harus sudah S3 dan memiliki makalah di jurnal internasional tersebut sebenarnya tidak ada, namun sejak otonomi kampus (dulu BHMN) ITB berhak membuat aturan tambahan sendiri. Bahkan, meskipun sekarang BHMN sudah ditiadakan, aturan tersebut tetap berlaku.

Akibatnya syarat tambahan itu, banyak teman-teman yang sudah lama berjabatan Lektor — seperti saya ini he..he..he — dan sudah lama menjadi dosen di kampus tidak dapat naik ke Lektor Kepala karena belum S3. Atau, kalau pun sudah S3 tetapi belum punya makalah di jurnal internasional (menembus jurnal internasional bukan perkara mudah, saingannya sangat banyak, seleksinya sangat ketat, apalagi pada jurnal internasional terakreditasi atau punya reputasi semacam jurnal IEEE). Oleh karena itulah ITB “mewajibkan” dosen-dosennya harus berkualifikasi S3 dan mendorong dosen yang masih S2 untuk mengambil S3 secepatnya. Alhamdulillah sekarang saya sudah selesai S3 dan mulai ngeh untuk mengurus kenaikan jabatan ke Lektor Kepala, setelah bertahun-tahun masih berjabatan Lektor dan golongan III-c saja.

Maka, tidaklah heran jika dengan aturan Dikti yang standard saja dosen-dosen di PT daerah sangat cepat dan mudah kenaikan pangkatnya. Apalagi untuk menjadi profesor, di sana juga tidak terlalu sulit, sebab dosen tidak perlu harus mempunyai makalah di jurnal internasional berakreditasi. Makalah di jurnal nasional saja sudah cukup untuk menjadi profesor. Bahkan, tidak perlu jurnal nasional, makalah di jurnal keluaran Perguruan Tingginya sendiri pun sudah cukup. Sementara untuk menjadi profesor di ITB sangat ketat aturannya dan sangat selektif prosesnya. Teman senior saya sudah beberapa kali berkas kenaikan jabatannya ke profesor dikembalikan lagi karena dianggap belum memenuhi syarat. Jadi, kalau anda membaca jumlah profesor di ITB — apalagi di Informatika ITB — sedikit, ya itu karena prosesnya memang sangat ketat, berat, dan selektif.

Karena ITB bercita-cita menjadi world class university, maka tuntutannya memang tinggi seperti yang tercermin ada syarat tambahan tersebut. Saya tidak penah mendangar ada protes dari teman-teman di sini mengenai syarat tambahan tersebut. Yah, diterima saja dengan ikhlas. Saya juga tidak tahu apakah “tingginya” syarat kenaikan jabatan di ITB itu positif atau negatif. Saya hanya mengambil sisi positif saja, bahwa untuk kenaikan jabatan itu dosen harus meningkatkan kinerja dirinya supaya merasa pantas mendapat jabatan akademik yang lebih tinggi. Untuk mendapat jabatan akademik yang lebih tinggi, dosen harus berusaha lebih giat, kerja keras, dan sungguh-sungguh. Dosen tidak cukup hanya mengajar atau membimbing skripsi saja, tetapi ia harus rajin riset sehingga dapat menulis makalah, terutama untuk dimuat di jurnal ilmiah internasional. Mutu perguruan tinggi berskala dunia diukur dari berapa banyak citation index (jumlah makalah dari perguruan tinggi itu yang di-cite oleh makalah lain), berapa banyak makalah dari dosen PT itu sudah diindex oleh Scorpus, dsb. Semakin banyak dosen PT menulis untuk konferensi dan jurnal internasional, maka semakin tinggi reputasi PT tersebut di dunia internasional. Saya pikir itulah yang diharapkan ITB kepada dosen-dosennya, yaitu membuat ITB tidak hanya berjaya di tingkat nasional, tetapi juga disegani di tingkat dunia. Oleh karena itulah dosen-dosennya harus banyak menulis makalah di jurnal internasional sehingga kenaikan jabatan akademik yang lebih tinggi memang sudah selayaknya.

Tulisan ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

13 Balasan ke “Tingginya” Syarat Kenaikan Jabatan di ITB

  1. adit berkata:

    tapi menurut saya, ada bagusnya pak, memacu dosen2 kita supaya rajin menulis biar dimuat di jurnal internasional itu,hehe.

  2. anto berkata:

    Ini menjawab pertanyaan saya kenapa dosen di prodi saya yang publikasinya sudah banyak tapi belum profesor juga pak. Mungkin mereka males mengurusnya.

  3. Yanti berkata:

    Kalau di guru malah lebih mudah ngumpulkan kredit point, sehingga setiap 2 tahun, atau 3 tahun sudah bisa naik golongan. Berikutnya mandek di golongan IV.a, karena ke IV.b mesti menyerahkan karya tulis kalo ga salah 4 buah, dengan standar LIPI. Saya sendiri sudah 6 tahun jalan di tempat dengan golongan IV.a, dan itu terjadi pada hampir seluruh SMA di tanah air ini. Sebab utamanya hampir sama: malas menulis

  4. Alris berkata:

    World class university tentulah membutuhkan tenaga pengajar yang berkelas dunia juga. Kalo jumlah profesornya bejibun tapi kualitasnya payah pasti akan jadi pertanyaan kritis. Gak apa-apa sedikit jumlah profesornya, toh, orang sudah tau kualitas ITB.

  5. rosa berkata:

    Saya juga termasuk yang males ngurusi kum Pak heheehehhehehee berarti gak salah ya Pak, kan dosennya juga banyak yang begitu :D

  6. yunita berkata:

    ralat dikit pak
    kalau sudah S2, golongannya III-b
    golongan III-a untuk S1

  7. Nabila As'ad berkata:

    wah ternyata seperti itu ya Pak. saya baru tahu. insya Allah saya ingin menjadi dosen pak di almamater :)

    sukses untuk Pak Rin ;)

  8. super berkata:

    terjawab sudah

  9. cucu ganesha berkata:

    sebenarnya malas jangan dibuat alasan, toh dengan jumlah guru besar yg meningkat akan berpengaruh pada “perlombaan” dengan sesama universitas di dalam negeri (sebelum meningkatkan dalam “lomba internasional”).
    di sinilah semestinya peran orang2 yg kebetulan menjabat di struktural seperti rektorat, fakultas/sekolah, maupun di prodi.
    tugas mereka secara aktif mengingatkan bahkan kalau bisa “mengurusi” hal2 yg bersifat administratif rekan2 mereka yg akan naik pangkat atau menjadi guru besar.
    untuk suatu peningkatan yang signifikan dibutuhkan volunteer2 & merekalah (para pejabat struktural tadi dibantu staf administrasi) yg berperanan.

    saya teringat dialog antara dua orang alumni salah satu universitas tetangga yg kurang lebih isinya demikian:
    D: “wah fakultasmu kok belum mendapatkan akreditasi dikti?”
    E: “buat apa akreditasi? tanpa akreditasi saja pendaftar setiap tahun sudah banyak & siapa juga yang berani mempertanyakan mutu fakultas ini”… waaww

    mudah2an dialog di atas tidak terjadi di kampus ganesha, “prodimu kok belum ada profesornya?”, “he he… lektor di kami kan sama dengan profesor di tempat lain…” lalu tanpa sadar beberapa tahun kemudian kita sudah jauh tertinggal di belakang… sekali lagi mudah2an tidak ada yg seperti itu…

  10. wahid berkata:

    Setuju, semakin tinggi patokan yang ditetapkan berarti semakin berkualitas lebih dari yang lain.

  11. Rudi Azis berkata:

    kapan ya PT yang lain juga memberlakukan hal yg sama dgn ITB……sy kira itu suatu hajat yg baik ut kualitas Indonesia……support buat ITB.

  12. Ping-balik: Lektor Kepala | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s