Batal Memilih ITB Karena 55 Juta?

Kemarin saya ditelepon seorang ibu. Anaknya yang lulus dari SMA * B*g*r dan termasuk juara kelas tidak jadi mendaftar ke ITB pada SNMPTN jalur undangan yang pengumuman hasilnya sudah dilaksanakan Selasa minggu lalu. Anaknya akhirnya memilih UI. Sang anak batal memilih ITB setelah melihat besaran biaya uang pangkal 55 juta + SPP 5 juta/semester. Si anak paham kondisi orangtuanya sehingga ia tahu diri dengan tidak memilih ITB, padahal dia sangat ingin masuk ITB. Meskipun saya katakan bahwa ada keringanan 25%, 50%, dan 75%, tetapi setelah dihitung tetap saja berat. Dia juga tidak termasuk yang miskin-miskin amat sehingga tidak layak menerima beasiswa 100%. Misalkan ia dapat potongan 75%, berarti ia harus menyiapkan (25% x 55 juta) + 5 juta = 18 juta (belum termasuk biaya kos dan uang lain-lain).

Barangkali ini pula salah satu faktor kenapa dalam SNMPTN jalur undangan ITB tidak termasuk dalam daftar 10 besar PTN dengan pendaftar terbanyak. Selain karena pilihan fakultas di ITB lebih sedikit dibandingkan UI, UGM, dll, mungkin salah satu sebab sedikitnya pendaftar karena siswa-siswa SMA “takut” melihat angka 55 jeti itu, sehingga mengalihkan pilihannya ke PTN lain. Memang, angka 55 juta itu cukup berat bagi bangsa ini yang pendapatan per kapitanya kecil.

FYI, berikut peringkat 10 perguruan tinggi negeri di Indonesia dengan jumlah pendaftar terbanyak lewat SNMPTN jalur undangan (di mana ITB tidak termasuk dalam 10 besar):
1. Universitas Gadjah Mada, 34.922 pendaftar
2. Universitas Indonesia, 32.363 pendaftar
3. Universitas Padjadjaran, 27.292 pendaftar
4. Universitas Diponegoro, 23.010 pendaftar
5. Universitas Brawijaya, 21.560 pendaftar
6. Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, 19.258 pendaftar
7. Universitas Negeri Yogyakarta, 19.254 pendaftar
8. Institut Pertanian Bogot, 17.203 pendaftar
9. Universitas Negeri Surabaya, 16.655 pendaftar
10. Univesitas Negeri Semarang,16.258 pendaftar
(Sumber: Koran Tempo)

Peminat masuk ITB pada jalur undangan “hanya” 12.000-an. Apakah pada SNMPTN jalur ujian tulis juga akan terjadi penurunan pendaftar? Jumlah pendaftar memang tidak berkaitan dengan kualitas suatu perguruan tinggi, tetapi jumlah pendaftar yang sedikit menyebabkan tingkat persaingan masuk perguruan tinggi tersebut menjadi rendah. Padahal salah satu indaktor rangking perguruan tinggi dunia juga diukur dari tingkat persaingan pada seleksi penerimaan mahasiswa barunya.

Sayang juga ya, bila akhirnya siswa-siswa unggulan itu tidak mendaftar ke ITB hanya karena angka uang yang besar itu. Jangan-jangan nanti yang masuk ITB bukan lagi yang “terbaik”, tetapi yang “terkaya”. Uf… Masyarakat sudah terlanjur punya persepsi bahwa masuk ITB itu mahal. Perlu upaya besar untuk mengubah persepsi tersebut.

Memang setelah masuk ITB terdapat banyak beasiswa, tetapi berapa banyak publik yang tahu informasi beasiswa tersebut? Indonesia ini terlalu luas untuk penyebaran informasi beasiswa. Sayang sekali ya.

Tulisan ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

31 Balasan ke Batal Memilih ITB Karena 55 Juta?

  1. anggriawan berkata:

    saya sedih membaca berita ini, pak.. jika 7 tahun yg lalu, ITB menerapkan biaya pendidikan seperti sekarang ini, nasib saya persis sekali dg anak yg Pak Rin ceritakan di atas, tidak bisa masuk ITB :( .. 18 juta itu termasuk jumlah yg tidak sedikit bagi banyak orang..

    • rinaldimunir berkata:

      Tidak hanya kamu yang sedih, wan, kami yang di ITB pun sedih melihat institusi kami “salah strategi” sehingga terlanjur ada image masuk ITB itu mahal. Siswa SMA sudah keder duluan melihat besaran angka itu.

  2. Tsulusun Ar Royan berkata:

    Assalamualaikum pak..
    pertama saya sedih juga mendengar hal ini, akan tetapi aturan pemerintah yang mengurangi subsidi pendidikan membuat ITB juga harus cari alternatif pendanaan.
    jadi ga sepenuhnya ITB salah pak..
    mungkin si anak SMA tadi lebih baik daftar lewat SNMPTN atau beasiswa ITB untuksemua atau bidik Misi.

    kalo boleh saya mau share cerita bapak ke milis yang saya ikuti.
    biar makin di denger pak.semoga ada alumni yang mau berbaik hati menalangi dana sumbangan buat calon mahasiswa tersebut.

    • rinaldimunir berkata:

      Mangga, pak Royan. Itu hanya satu contoh kasus pak, ada ratusan siswa SMA yang mungkin punya masalah serupa. Siswa tadi mencoba lagi peruntungan lewat SNMPTN jalur ujian tulis. Ibunya mencoba mencari apa saja cara untuk memenuhi uang pangkal tsb. Untuk ikut BIUS atau Bidik Misi nggak tepat, dia nggak miskin2 amat, sederhanalah, sebagian besar bangsa kita pada kelompok ini, kan?

  3. mei berkata:

    masalah saya serupa , saya tahun depan akan mengalami hal tersebut, saya sekarang 2 SMA saya 8 bersaudara, orang tua saya hanya seorang guru , saya ingin sekali kuliah di itb nanti tp saya sangat ingin menangis jika teringat uang pangkal itb mahal sekali, sekolah pun saat ini saya mendapat beasiswa dari sekolah, apakah bisa saya mendapat bidikmisi? saya ragu. semangat indonesia, memang menyulitkan!

    • rosa berkata:

      Jangan patah semangat, hidup harus diperjuangkan untuk memutus rantai kemiskinan, dan yang saya tahu ITB tidak pernah men-DO mahasiswanya karena uang (masih begitu kan Pak Rin?). Saya dulu juga berjuang cari beasiswa ngalor ngidul, ketika Tuhan menakdirkan Anda masuk ITB maka pasti ada jalan untuk lulus dari ITB asal mau berusaha :)

  4. ikhwanalim berkata:

    saya baru berdiskusi dengan teman dari teknik mesin ITB pak. beliau sekarang memilih menjadi wirausahawan. artinya, beliau mendayagunakan semua kreativitasnya untuk menambah nilai jual.
    dan sudut pandang kreativitas ini yang beliau tekankan. katanya, ITB sebagai kampus kurang kreatif dalam pencarian dana pengelolaan kampus. bila dibandingkan dengan UGM. makanya, UGM secara umum masih bisa lebih murah dibandingkan ITB. (mungkin tidak bisa apple to apple karena ITB didominasi fakultas teknik, dan UGM memiliki beragam jenis fakultas).
    tapi tetap saja pencarian sumber dana yang lain, tentu saja akan dapat menekan biaya yang harus dibayar oleh peserta didik. mungkin ini pelajaran bagi kita semua, sebisa mungkin kreatif mencari dana untuk pendidikan, supaya peserta didik tidak perlu membayar semua kebutuhan pendidikannya di kampus.

  5. Rengganis berkata:

    Dear pak rinaldi, sy TI’02 sekaligus alumni SMA tersebut. Mohon infonya pak, utk informasi detail murid yg bersangkutan, saya ingin membantu. Barangkali ada solusi.

    Thanks

    • rinaldimunir berkata:

      Kita tunggulah, Bu hasil SNMPTN jalur ujian tulis. Dia mencoba ikut SNMPTN ujian tulis dengan memilih ITB (keukeuh sekali dia mau ke ITB). Sebenarnya dia keluarga golongan menengah biasa seperti kebanyakan orang Indonesia, yang merasa uang 55 juta sangat berat ditanggung. Jadi, sebenarnya keluarga ybs bukanlah yang miskin-miskin amat.

      • Akbar Gumbira berkata:

        kalo anak itu gak lulus ujian SMPTN jalur ujian tulis bukannya malah gak jadi lulus ITB ya Pak soalnya SNMPTN yang jalur undangan udah hangus? Dulu, ada adik kelas saya yang udah lulus USM kartu ujiannya hilang, dan jadi gak lulus gara-gara ini. Padahal cuma kartu ujian aja yang ilang.

  6. emwei berkata:

    pak Rinaldi,
    kebetulan saya tmsk orang tua yg thn ini anak saya daftar juga ke itb. Sebagai orang tua saya juga prihatin sekali dg adanya ketentuan awal bppm itb sebesar 55jt, krn dgn jumlah sebesar itu saya sdh hitung dan hasilnya kuliah di itb lebih mahal dibandingkan di PTS, bahkan yg mahal sekalipun :( (dg asumsi 4 th masa kuliah ). Tapi alhamdulillah ITB menawarkan solusi berupa subsidi. Saya sangat berharap ITB membuktikan janjinya bhw angka subsidi yg diajukan sama sekali tidak mempengaruhi penilaian kelulusan pd ujian SNMPTN nanti.

    salam

  7. Affan berkata:

    Saya memang melihat ITB di kepengurusan saat ini betul-betul “tidak ada suaranya”. Nggak punya action yang jelas utk memperbaiki citra yang muncul di masyarakat bahwa biaya pendidikan itu dikatakan mahal. Mestinya kan bikin tim khusus utk mencounter isu ini, sosialisasi kemana-mana, kalau perlu masuk TV dan sebagainya, kampanyekan bahwa tidak ada orang yang tidak bisa masuk ITB hanya karena nggak mampu bayar. Saya lihat isu seperti ini ditanggapi cuma seperti angin lalu, paling tinggi cuma terdengar jawabannya di milis orang2 ITB sendiri.

    Terus terang saya ITB itu bisa punya output yang bagus itu kan karena input mahasiswa nya yang bagus, bukan karena sistem pengelolaan pendidikannya (walaupun untuk dosennya masih bagus). Lha kalau sekarang nggak ada input mahasiswa yang bagus, karena sudah dibajak oleh tempat lain, ya memang tinggal tunggu waktu aja ITB ini 10 tahun lagi nggak akan kedengaran gaungnya.

  8. rosa berkata:

    Saya paham karakter orang ITB, yaitu bagus sekali di skill teknis, tapi begitu skill sosial memang tidak terlalu bagus, cenderung “malas ngomong”, apalagi dengan orang-orang yang tidak sepaham.

  9. Asop berkata:

    Hiks, sayang sekali… orang2 unggulan itu malah pergi dari ITB… :(

  10. wendakalubis berkata:

    Seandainya saya lulusan sma tahun ini kayaknya tidak memiliki harapan untuk masuk ITB mengingat Bapak hanya seorang sopir dan Ibu hanya sebagai penjahit
    (PN03, Mahasiswa yang lulus mengandalkan biaya subsidi silang dan beasiswa tahun 2003-2008)

  11. kandito berkata:

    hehehe, tiba-tiba baca blog ini.
    anaknya yang diceritakan seperti saya
    anaknya lebih memilih UI dari karena angka 55jt di SNMPTN Undangan.
    cuma saya dari SMA * B*K*S*

  12. Langit Biru berkata:

    Assalamu’alaikum wr. wb.

    Ini seperti kisah saya di tahun 2010. Benar2 miris sekali. Waktu itu saya baru mau mengikuti tesnya saja sudah pontang-panting(sampai2 mengurus surat dari RT sampai dinas sosial). Harga tes USM benar2 membuat saya hampir patah semangat. Apalagi dengan minimnya info seputar jalur2 beasiswa/tes masuk ITB di sekolah saya, belum ditambah akses internet yang sangat terbatas bagi saya krn faktor finansial dan tidak kepunyaan peralatan seperti PC atau laptop. Dalam tahun itu saya coba2 terus bagaimana agar bisa masuk ITB..dari yang memohon ikut USM di daerah ke orang tua dan pada akhirnya tidak diizinkan kemudian mencoba ikut USM terpusat sampai SNMPTN pun saya daftar ITB terus..tapi takdir berkata lain.
    Akhirnya saya hanya bisa kuliah di perguruan tinggi yang bisa menjangkau sesuai finansial orang tua saya dan tidak terkenal.
    Ya akhirnya saya tahu..memang tidak pantas bagi saya yang latar belakangnya seperti ini. Sekolah pun saya membayar biayanya dari beasiswa yang saya peroleh. Contohnya sewaktu semasa SMA, saya hanya mengeluarkan dana sekolah Rp 1000 saja per bulan dan itu sudah termasuk bisa membayar uang SPP, uang komite sekolah, uang praktek. Sisa dari jumlah kesemuanya dibayar dari beasiswa. Jika diingat dan dipikir kembali bagaimana saya bisa masuk ITB ya ketika itu? Karena melihat jalan hidup saya ketika semasa sekolah saja seperti itu..hmm

    Tapi ya sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Saya sudah semester 3 ini dan masuk FTI untuk jurusan teknik kimia. Semoga saja dapat merubah jalan hidup saya menjadi lebih baik lagi…amin

    Semoga kedepannya ITB bisa lebih baik lagi strategi dan aturan kebijakannya dalam merekrut mahasiswa baru. :)

  13. Martin berkata:

    Kondisi saya sekarang ini benar2 sama persis dengan apa yang telah ditulis oleh orang diatas
    papaku dah umur 61 tahun, hanya sebagai penjual kwetiau ma mama yang tiap pagi jam4 bangun
    sedih saya liat kondisi orang tuaku, kedua kakak saya tidak kuliah dengan memutuskan untuk kerja dan saat ini saya berada di kelas 3 SMA yg masih punya cita2 jadi apoteker
    saya masih rada ga berani bicarakan soal uang pangkal itb yg 60juta pada tahun 2012 ini…

  14. Ramadhan berkata:

    saya sebagai mahasiswa institusi ini juga ikut sedih, adik kelas saya yang bisa masuk itb hanya yang “kaya” aja, Terlihat dari tingkah lakunya, kosan deket tapi banyak yang bawa mobil. Bikin macet dan penuh penuhin. Tapi mau gimana lagi udah dari pemerintahnya ngurangin subsidi. Tapi insyaAllah jaminan kerjanya bagus. Amiiin

  15. Suryandri Dwi Kusuma berkata:

    Apa tidak bisa, itb berdiskusi dg pemerintah untuk meringankan biaya masuk?
    toh itb salah satu pencetak kaum pemaju bangsa
    Atau mungkin pemerintah kita tidak
    mengapresiasi lagi kaum cendikiawanny layakny negara maju??
    Sedih awak dengan negeri ini, zalim

  16. Ping-balik: Serba-Serbi Kewajiban Jurnal Ilmiah « Free As Flying Dove

  17. Armadianto berkata:

    Selamat Malam,
    Anak saya, tahun ini Alhamdulilah ikut terpilih masuk Jalur Undangan ke ITB, karena memang Impian-nya sejak masih SMP ingin masuk ke FMIPA Astronomi.
    Yang jadi pertanyaan, apakah biaya BPPM sebesar 55 juta, untuk bisa mengajukan subsidi bagaimana kans-nya….?.
    Apakah nantinya bisa “kalah” dengan yang bisa membayar minimal 55 juta ataupun yang mampu untuk membayar lebih tinggi..
    Apakah biaya BPPM bisa dicicil ataukah harus dibayarkan tunai apabila anak saya diterima..??
    Untuk Biaya program Pengembangan Karakter harus membayar biaya berapa lagi…??
    Mohon pencerahan Mas-mas sekalian.

    Terima kasih.
    *Orang tua Murid yang sedang pusing.

  18. cucu ganesha berkata:

    Dari kacamata saya sebagai “orang Indonesia”, biarlah ini kita anggap sebagai “pemerataan bahan mentah”, karena selama ini 10% anak2 terbaik lulusan sma memilih ITB (lihat passing grade mulai tahun SKALU di era 1977-an sampai PP 1 di era 1980-an, dan Sipenmaru, UMPTN, passing grade ITB selalu jauh di atas PTN lain). Dengan adanya biaya masuk yg tinggi ke ITB tersebut, lulusan2 sma daerah yg berprestasi baik akan berpikir dengan “cermat” sebelum memilih ITB, dan kemungkinan memilih universitas di daerahnya masing2, sehingga universitas2 tsb mendapatkan intake (mahasiswa baru) yang baik, yg mudah2an akan meningkatkan mutu universitas2 daerah tsb. Sekaligus menguji “teori” yg selama ini beranggapan bahwa ITB bagus karena bahan masukannya bagus. Sekarang bagaimana jika teori itu dibalik, apakah dengan bahan masukan yg baik, universitas2 tsb akan ikut meningkat mutunya? Sekali lagi sebagai “orang Indonesia” tentunya kita semua akan ikut bangga dan senang…

    Dari kacamata saya sebagai “alumni ITB”, biarlah ini juga untuk menguji “teori” di atas, apakah benar nantinya mutu ITB turun? Namun yang pasti dengan biaya sebesar itu, segmentasi pasar bakal calon mahasiswa ITB tidak akan selebar masa sebelumnya, walaupun ada berbagai bea siswa. Jika di era 1950-1990-an di ITB sangat terasa nuansa heterogenitasnya baik ditinjau dari latar belakang ekonomi (miskin – anak tukang delman, sedang – anak pns/abri, kaya – anak pejabat, kaya banget – anak pengusaha besar), berbagai suku (padang, batak, jawa, makasar, sunda), berbagai asal sma (medan, padang, solo, jogja, surabaya, jakarta, bandung), maka setelah era sekarang ini hanya yg pandai namun kaya (+ yg miskin yg dpt beasiswa), dengan sumber asal sma cuma diseputaran bandung & jakarta (sebagai akibat lulusan sma daerah yg lebih memilih kuliah di daerahnya masing2 mengingat biaya yg tinggi tsb – lihat data di http://www.itb.ac.id tentang pidato rektor – linknya lupa…).

    Padahal “heterogenitas” itulah ciri kampus ganesha tersebut sejak jaman baheula, yang membuatnya lebih terbuka dalam cara berpikir dan membuatnya progresif dalam keselarasan. Namun itu cuma “teori yang belum matang”, biarlah bapak2 penerus yg ada di ITB yg mengkaji & mengujinya lebih rinci, dan semoga teori itu salah adanya.

    In harmoniae progressio…

    • rinaldimunir berkata:

      Terima kasih cucu ganesha, saat ini ada berbagai skema beasiswa yang diberikan kepada calon mahasiswa tdiak mampu agar mereka bisa kuliah di ITB. Mulai dari program Bidik Misi dari Diknas, Beasiswa ITB Untuk Semua (BIUS), hingga potongan “harga” 25% hingga 100% bagi mahasiswa. Ada sekitar 20% mahasiswa baru 2011 yang dibebaskan 100% dari kewajiban membayar SPP dan uang pangkal yang 55 juta itu; 20% dari 3000 mahasiswa baru berarti 600 orang, dan sebagian besar berasal dari berbagai daerah di tanah air.

  19. nahki berkata:

    assalamualaikum k, mau bertanya! sya seorang siswa yang mendaftar jalur undangan thn 2012 ini, sya tidak tau klo saat itu ada beasiswa bidik misi, karena keterbatasan informasi dan juga kepala sekolah kurang aktif memberikan info info seputar SNMPTN. sya sudah mendaftar jalur undangan thn 2012 dan setelah sya tau dari teman lama sya bahwa bidik misi dan formulir pernyataan kesediaan membayar BPPM itb untuk jalur undangan sudah di tutup.

    pertanyaan saya, apakah jika saya diterima lewat jalur undangan harus membayar BPPM 55jt itu? ga adakah keringanan biaya??? atau di cicil dengan bayaran yang murah????

  20. Matt Murdock berkata:

    tadinya saya ppunya mimpi bisa skekolah di STEI mengambil Magister .. tapi apa daya TOEFL saya tidak cukup terpaksa masuk Swasta…

  21. rifky berkata:

    Ceritanya sama seperti saya itu.
    Saya tidak berani ambil itb karena mahal, dan saya bukan penerima bidik misi, akhirnya saya putuskan pilihan jalur undangannya universitas di kota saya saja yang sangat-sangat murah, walaupun tidak sebagus itb.
    Dan pas tau teman keterima di itb dan peringkatnya dibawah saya, saya sedikit kecewa :( .
    dan sampai sekarang saya masih bertanya2 kenapa itb itu harus mahal sekali.

  22. laras berkata:

    Seharusnya bapak, ibu, nanda sekalian baca dengan cermat ketentuan terkait penerimaan maba ITB, termasuk keharusan mengisi besaran sumbangan BPPM yang bersedia diberikan ketika mendaftar untuk test. Di situ tertulis pilihan kesediaan menyumbang dari 0 sampai 100%. Besaran sumbangan ini tidak mempengaruhi diterima tidaknya calon mhs ybs. Kalau misalnya kemampuan ortu memang dibawah nilai sumbangan 20 %, 11 jt (terendah), meskipun dikatakan tidak miskin-miskin amat, menurut saya tidak perlu ragu dan malu untuk menulis sumbangan 0 %. Anak saya baru diterima di ITB tahun 2012 ini. Saya menulis sumbangan sesuai dengan kemampuan saya (dibawah 60 %). Orang tua kakak kelas anak saya dua tahun lalu menulis sumbangan 0 %. Anak-anak tersebut diterima dan kami menyumbang sesuai dengan kesediaan kami. Jadi saran saya kalau memang anak ingin sekali kuliah di ITB, silahkan mendaftar, jangan takut. Kalau benar-benar tidak ada biaya maka gunakan Bidik Misi, kalau tidak miskin-miskin amat tapi masih berat menyumbang 11 jt, ya ditulis saja sumbangan 0 % (atau subsisi 100%).

  23. harish berkata:

    saya mahasiswa ITB tahun 2010 jurusan mikrobiologi…. Saya juga awalnya kaget, karena biaya masuk ITB sangat mahal, padahal orang tua saya tidak mampu membiayai biaya pendidikan yang sebegitu tingginya. Namun saya tetap berusaha, bagaimanapun caranya bisa berkuliah di sini, saya berusaha dan berdoa. Ya awalnya saya sempat mendaftar bidik misi, namun tidak ada pemberitahuan dari ITB yang menyatakan saya diterima. Alhasil,karena orang tua saya tidak mampu membiayai (orang tua saya bekerja dengan berjualan susu kedelai), saya hanya ikut jalur yang terakhir yaitu SNMPTN, dimana jalur ini benar-benar jalur terakhir ke ITB dan saya hanya punya pilihan mengulang tahun depan atau kuliah ke ITB. Namun pada akhirnya tuhan memang adil, berkat doa, usaha keras, dan berbuat baik pada orang tua, saya diterima di ITB. Begitu diterima, saya diharuskan membayar biaya akademik, namun saya keluhkan tentang biaya akademik dengan datang ke gedung Annex (urusan keuangan dan administrasi) yang menurut saya , orang tua saya tetap berat dalam membayarnya, serta saya keluhkan tentang tidak adanya pemberitahuan tentang pengumuman bidik misi yang saya ajukan. Pada hari itu juga saya menerima pemberitahuannya, bahwa saya dinyatakan sebagai penerima bidik misi sehingga saya tidak perlu membayar biaya akademik, hal ini terjadi karena cukup banyak calon penerima bidik misi ITB yang begitu ikut SNMPTN, tidak lolos ujiannya, sehingga ITB bisa mengalokasikan dana yang awalnya untuk calon penerima bidik misi ke mahasiswa yang diterima di ITB namun kesulitan dalam membayar biaya akademik.

    hikmahnya jangan menyerah…. tetap berjuang…. ya tuhan juga akan melihat siapa yang ikhtiarnya sungguh-sungguh dan setengah-setengah

    walau di muka terlihat biaya 55 juta…. cari cara lain yang bisa ditempuh, cari info dari para mahasiswa ITB, alumni, termasuk lembaga-lembaga pendidikan sebanyak-banyaknya agar bisa menemukan celah biar bisa diterima di ITB

    karena ITB kampus Perjuangan… di dalamnya juga harus berjuang lebih keras

  24. Ridho berkata:

    Assalamu’alaikum,
    saya sbntr lagi lulus SMA, ada keinginan untuk masuk ITB, tpi seperti kisah di atas, saya kurang mampu, tpi tidak bisa disebut tidak mampu. adakah beasiswa yg tidak mengutamakan ketidakmampuan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s