Anak Penjual Kayu Bakar dari SMA 1 Pariaman Itu Diterima di ITB

Selalu saja ada kabar suka diantara derai air mata. Seperti kisah Yudi April Nando ini, anak penjual kayu bakar dari SMA 1 Pariaman, Sumatera Barat yang meraih nilai UN tertinggi di Sumbar dan diterima di STEI-ITB melalui SNMPTN jalur undangan. Kisah-kisah seperti ini akan selalu memberi inspirasi bahwa jika ada kemauan pasti ada jalan.
Dikutip dari koran lokal, Singgalang, Padang:

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Anak Penjual Kayu Bakar itu Diterima di ITB

JARUM jam menunjukkan pukul 15.00 WIB, Minggu (22/11), saat Singgalang bertandang ke rumah sederhana milik keluarga Yudi April Nando, 19, anak hebat SMA 1 Pariaman peraih nilai tertinggi UN IPA SMA 2011. Rumahnya di Korong Buluah Kasok, Nagari Sungai Sariak, Padang Pariaman.
Rumah itu amat sederhana, sesederhana anak hebat yang tinggal di dalamnya. Dinding rumah diplester seadanya. Waktu gempa, rumah ini mengalami kerusakan parah. Halaman ditumbuhi gulma panjang sejengkal. Di salah satu sudut tampak seonggok biji cokelat (kakao) sedang dijemur.

Singgalang mengetok pintu rumah sederhana itu. Ingin bertemu si anak hebat yang tinggal di sini. Setelah beberapa kali diketok, muncul sosok pemuda tinggi jangkung. Lalu ia bertanya.
“Cari sia da?
“Mancari Yudi April Nando…,”
“Ambo Yudi, ado apo da?” Jawab si jangkung itu.
Setelah memperkenalkan diri, pintu rumah pun dibukakan dan dipersilahkan masuk. Melongo saya menyaksikan rumah Yudi. Kontras benar kondisinya kalau dibandingkan dengan prestasi di bangku pendidikan. Yudi mengantongi nilai UN IPA tertinggi di Sumbar 56,20. Bahkan, dua mata pelajaran, matematika dan kimia nilainya 10 pula.

Dalam rumah tak ada kursi empuk. Ada sebuah almari usang, sebuah bofet dan sebuah meja reot untuk meletakkan makanan yang ditempatkan di sudut ruangan. Adik perempuan Yudi, Rini bergegas membentangkan tikar pandan dan mempersilahkan duduk. Setelah itu Rini berlalu membangunkan bapaknya yang lagi tidur.

Kisah pahit
Yudi yang dari tadi terlihat bingung membuka pembicaraan. Dia bertanya.
“Apo yang bisa wak bantu da?” Tanya dia.
“Ndak do, ambo nio bacurito sae nyo, seputar prestasi Yudi raih di sekolah,”.
Yudi termangu, matanya menerawang jauh menyiratkan bahagia dan galau. Dia pun melepaskan pandangan kepada ayahnya, Ali Ninih, 60.
“Apo lo ka dimalu an, memang co iko iduik wak. Carito an se lah,” kata Ali Ninih menyuruh anaknya.
Yudi pun bercerita panjang tentang keluarga dan kelangsungan pendidikannya hingga akhirnya bisa meraih nilai tertinggi UN IPA di Sumbar. Sesekali matanya terlihat berbinar menahan air mata.
“Antah lah da, semangat jo keyakinan se nan mambuek wak bisa rajin dan tekun sikola nyo,” tutur Yudi.
Panjang dan pahit lika-liku hidup yang dijalani anak hebat ini untuk bisa sekolah. Tak sedikit tetangga yang mencibir, mencimeehnya.
“Sikola yang dituruik an, iduik keluarga, untuak makan se payah,” cibir tetangga suatu waktu.
Tapi cimeeh itu dijadikan semangat oleh Yudi untuk berbuat lebih. Yudi ingin membuktikan, kalau cimeeh itu tak selamanya benar.
Ayah Yudi, Ali Ninih menceritakan, sebenarnya hatinya iba melihat Yudi. Iba tak bisa berbuat banyak mendukung biaya sekolah. Kadang-kadang untuk ongkos pergi sekolah Yudi, Ali Ninih tak jarang meminjam uang kepada tetangga. Utang kemudian ditutupi dengan kayu bakar yang ia cari di hutan. Begitulah setiap hari, gali lubang, tutup lubang.

Melihat kondisi orangtuanya seperti itu, Yudi sebenarnya tak tega. Tapi, di sisi lain, dia ingin juga mengejar cita-citanya menjadi dosen atau ahli ilmu teknologi (IT). Demi cita-cita itu pula, Yudi turun tangan membantu orangtuanya mencari kayu api ke hutan, atau mengambil upah mengerjakan sawah orang. Kayu bakar yang dicari dijual ke sebuah rumah makan di dekat tempat tinggalnya Rp4.000 per ikat. Sekali ke hutan, dia dan ayahnya bisa mengumpulkan empat hingga lima ikat kayu bakar. Uang penjualan kayu bakar dipakai Yudi untuk ongkos dan belanja ke sekolah. Sisanya untuk bayar hutang dan makan.

“Kalau lah pai we e ka rimbo jo apak mancari kayu, ibo hati apak dek e. Tapi, semangat we e yo sabana kuat untuk sikola. Pai ka rimbo, we e mambaok buku juo. Panek mengumpua an kayu, inyo mambaco. Kayu takumpua, inyo nan mambaok kayu jo garobak pulang. Hampia tiok hari sarupo itu,” kata Ali Ninih.

Diterima di ITB
Buah pahit, kalau yakin bisa jadi obat. Begitu pula dengan Yudi. Pahitnya kehidupan yang dijalani ternyata berbuah manis. Sejak SD hingga SMA, Yudi selalu meraih rengking 1 di kelas. Kini, dia diundang pula untuk kuliah di ITB. Karena prestasinya itu pula, pelbagai beasiswa bisa dia dapat untuk kelangsungan pendidikan. Bahkan, karena terenyuh melihat kondisi keluarga dan prestasi akademiknya yang luar biasa, seorang pejabat di lingkungan Pemkab Padang Pariaman berkenaan jadi donatur. Selama di SMA, Yudi diberi bantuan uang tunai tiap bulan oleh pejabat tersebut.

Setelah lulus UN, Yudi tercatat salah satu dari puluhan siswa SMA 1 Pariaman yang berkesempatan menerima tawaran dari pemerintah untuk kuliah di sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) ternama di Indonesia. SNMPTN jalur undangan beda dengan PMDK. SNMPTN jalur undangan, siswa penerima dibebaskan memilih PTN favorit. Yudi memilih ITB, kampus yang selama ini jadi cita-citanya untuk kuliah. Di ITB dia mengambil Sekolah Teknik Elektronika dan Informatika (STEI). Di ITB fakultas atau sekolah, rupanya sama. Selama ini dia bercita-cita ingin sekali menjadi dosen atau ahli TI. Kini, langkah menuju cita-cita itu sudah di depan mata Yudi.

Untuk kuliah di ITB, semua sudah ditanggung negara. Untuk keberangkatan ke Bandung mendaftar, telah ada pula donatur yang mengupayakan keberangkatan. Rencananya, Yudi dan istri pejabat yang jadi donaturnya sejak SMA itu akan berangkat ke Bandung, Jumat (27/5). Batas akhir mendaftar di ITB, Selasa (31/5).

Kini yang jadi kerisauan bagi Yudi, setelah kuliah nanti, ia membutuhkan biaya beli buku dan biaya lainnya. Jumlahnya pasti banyak dan tak akan bisa diharapkan kepada keluarga. Yudi berharap, ke depan ada orang baik untuk membantunya. Dia sendiri akan berusaha mengumpulkan uang dengan bekerja, apapun itu nantinya. Yudi si penjual kayu bakar nan hebat itu membuktikan pada dunia, kalau kemiskinan tak bisa menghalangi keinginan untuk mengejar cita-cita. Dinding tinggi dan sekat tebal itu dia runtuhkan dengan semangat, keyakinan dan ketekunan belajar. Bagi dia, uang bukan segala-segalanya dalam mengejar cita-cita. Orang miskin juga bisa sukses. (*)

Tulisan ini dipublikasikan di Cerita Ranah Minang, Seputar ITB. Tandai permalink.

31 Balasan ke Anak Penjual Kayu Bakar dari SMA 1 Pariaman Itu Diterima di ITB

  1. jetzer berkata:

    Keren sekali Pak. Lagi-lagi kisah perjuangan hidup manusia kecil meraih prestasi luar biasa. Saya juga gak mau kalah.
    “Antah lah da, semangat jo keyakinan se nan mambuek wak bisa rajin dan tekun sikola nyo,” tutur Yudi.
    Semangat, yakin, rajin, dan tekun.

  2. Terharu bacanya :)
    Termotivasi,jadi Kedorong untuk bisa lebih baik dari kakak itu..

    Kakak itu yang ekonominya (sangat) terbatas saja bisa diterima di STEI ITB,masa saya yang ekonominya menengah tidak bisa lebih baik dari kakak itu ? :)

    Terbukti kata ajaib,”Man Jadda wa Jadda !”,siapa yang bersungguh sungguh akan berhasil :)

  3. fani berkata:

    kenapa nggak ikutan program BIUS? beasiswa ITB untuk Semua? kebetulan di BIUS semua ditanggung, termasuk buku.
    dulu saya volunteer di BIUS, makanya tahu

    tapi sudah terlanjur ikut pmdk yah?
    insyaallah kalo udah di ITB mah, asal bergaul sama kakak angkatan, suka dapet turunan kalo buku, modul, fotokopian dll sih

  4. edwardo berkata:

    iyo titiak lo aie mato ambo mambaco kisah anak hebat dr sungai sariak ko….
    tetap semangat…… Allah insya Allah ada beserta kamu Amin ya robb….

  5. MarlisKoto berkata:

    Selamat buat Yudi April Nando dengan hasil UN (Ujian Negara kalau ga’ keliru…hehee..) yang bernilai tinggi, semoga apa yang di cita2kan InsyaAllah akan berhasil dengan baik dan mendapatkan pekerjaan yang layak nanti nya,dan bisa berbakti kepada kedua orang tua kita,agama dan negara.
    semoga bisa pulo ma ubah pameo ughang wak snek : kalau ado nan batanyo….isuak eeh …: ” lai tau jo si Yudi April Nando ? ” jawok e cando iko nek e…” ooohh si Yudi ! tau bana wak mah…sanak wak di sungai sariak mah…umah e ba lancik2an bana jo wak mah, ba’a ndak ka tau wak….!!!heheee…semoga sukses !

  6. indra berkata:

    salluuuutttt….terus lah berjuang…kemiskinan justru jadi cambuk untuk maju….tetap semangat..

  7. saya pernah ketemu anak ini di bank BRI Sungai Sariak…

  8. vivi berkata:

    memang segala bentuk perbuatan yang diawali dengan niat yang tulus dan doa pasti akan berbuah manis.. banyak anak bangsa juga yang mempunyai kisah seperti ini. banyk juga anak bangsa yang pintar, namun perhatian pemerintah tidak ada. mari cerdaskan bangsa ini bersama.

  9. Terharu berkata:

    “Menjadikan kehidupan “mudah” bagi anak biasanya membuat kehidupan “keras” bagi mereka saat dewasa. Berbahagialah para anak2, adik2 atau para remaja yang diberikan kelebihan secara materi oleh orang tua mereka, manfaatkanlah kesempatan selagi ada dan bagi mereka yang kekurangan secara materi tetaplah berusaha, jangan menyerah karena Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui …

  10. Terharu berkata:

    “Menjadikan kehidupan “mudah” bagi anak biasanya membuat kehidupan “keras” bagi mereka saat dewasa. “Napoleon Hill R.”

    Berbahagialah para anak2, adik2 atau para remaja yang diberikan kelebihan secara materi oleh orang tua mereka, manfaatkanlah kesempatan selagi ada dan bagi mereka yang kekurangan secara materi tetaplah berusaha, jangan menyerah karena Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui …

  11. agung sutrisno berkata:

    wah….blognya rancak bana Pak!!! saya sangat menikmati blognya…sarana yang bagus untuk share nilai -nilai positif.

  12. © dsperdana berkata:

    waaaah…… :matabelo:
    tulisan yang sangat bagus pak…

    klo ada kesempatan, boleh berkunjung juga ke blog sederhana saya….

    http://dsperdana.wordpress.com

  13. Gina Dwi Rahmayanti berkata:

    ini sahabat saya, temen sekelas dan temen makan waktu istirahat di kelas.. suka berbagi bekal, walaupun terkadang kita cuma punya telor ceplok doank..

  14. Gina Dwi Rahmayanti berkata:

    yudi sahabat saya, temen sekelas dan temen makan waktu istirahat di kelas.. suka berbagi bekal, walaupun terkadang kita cuma punya telor ceplok doank..

  15. Ardoni Eka Putra berkata:

    cerita yang inspiratif…..
    ^.^

  16. ade berkata:

    Insya Allah bisa membantu biaya untuk beli buku Yudi selama kuliah di ITB.semoga Allah menjadikannya terbaik di akademi dan ahlaknya. Aamiin..

  17. Rezki Cabiak berkata:

    Terharu bana ki wak mambaco nyoo ..
    Tapacaak aia mato ko ? :(

    Tetap semangat bg !
    RaiihLaa citacitamu . :)

  18. Ricky Slow berkata:

    menyayat hati,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

  19. AGARIADNE DWINGGO SAMALA berkata:

    KAWAN SEKELAS… LAI LAMAK KULIAH DIBANDUNG DI, SEMANGAT.. MEMORY KAWAN WAK KO GADANG MAH… SADO BUKU DIPUSTAKA TU LAH ADO DIUTAK NYO MAH…

  20. kenapa tidak lewat jalur bidik misi?

  21. amiruddin berkata:

    Tulisan nan sangaik rancak pak…..
    Mambaco tulisan/ kisah bantuak iko, indak disangko-sangko ayia mato lah mailie je kalua, iduang lah barayia karena terharu, selamat buat Yudi April Nando, Raiih Lah citacitamu, doa kami mengiringimu
    dari alumni SMA 1 tahun 1980

  22. okzalendri berkata:

    selamat berjuang ke ya yud semoga akan mencerahkan hari esok baik dunia n akhirat serta berbakti kepada kedua orang tua serta keluarga,,,,(mambangkik batang tarandam),,,,,,,jagan lupa berterimaksih kepada allah swt,,karena apapun yang kita inginkan atas izin allah,,,,,,,
    *(tebarkanlah senyum pada semua orang)

    by okzalendri alumni sma 1 pariaman 2002.

  23. De berkata:

    subhanallah…
    sgt trinspirasi dri smangat si yudi ini… :D

  24. reza aprilda berkata:

    luar biasa. ndk selamo nyo do urang bansaik ndk bisa sekolah, dima ado usaho disitu ado jalan,:)

  25. suherman berkata:

    selamat yudi ambo sebagai alumni sma1 pariman merasa bangga……

  26. erizal berkata:

    slmt yudi,kbtlan ambo tingga di bdg ,magaleh nasi kaki limo di dago rm pondok sago,klo yudi ado waktu,singgah k tampek uda,sapo tau klo kslitan bisa uda bantu

  27. yos berkata:

    selamat yudi,semoga tercapai yang diimpikan hingga menjadi guru besar.

  28. Ping balik: Kisah Herayati, Anak si Tukang Becak yang Lulus Seleksi ITB 2014 | Catatanku

  29. to yet berkata:

    semoga sukses selalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s