Monyet Saja “Shalat”, Bagaimana dengan Tuannya?

Hampir di setiap perempatan jalan yang ada lampu merah kita temui para pengamen, pengemis, dan padagang asongan. Mereka berebut mencari nafkah uang recehan selama 2 menit, yaitu saat-sat lampu merah menyala sebentar dan para pengendara berhenti menunggu lampu menyala hijau. Salah satu jenis pengamen yang kita temui di perempatan lampu merah adalah kesenian doger monyet. Seekor monyet membantu tuannya mendapat uang recehan dengan beraksi di depan pengendara yang berhenti.

Seperti yang sering saya temui di bawah jalan layang Pasupati Bandung, doger monyet ini lumayan menghibur para pengendara. Si monyet melakukan apa saja yang diperintahkan tuannya. Seorang lelaki bertugas menabuh alat musik seperti foto di bawah ini:

Seorang lelaki lainnya memandu monyet beraksi.Mulailah si monyet mempertunjukkan kebolehannya. Ia begitu mahir mengendari sepeda motor mainan:

Dan pemandangan yang menyentuh adalah ketika si monyet “shalat” di atas sajadah mini. Ia melakukan gerakan sujud di atas sajadah itu laksana orang Islam yang sedang shalat. Wuah…. benar-benar aksi monyet ini membuat saya terharu. Pandai juga ya tuannya melatih si monyet shalat.

Pengendara yang hiba memberi uang ala kadarnya kepada lelaki yang memandu monyet tadi. Berapa lama si monyet itu dilatih mengendarai motor mainan dan “shalat” ya? Latihan yang keras barangkali, mungkin selama latihan tersebut monyet ini mendapat hukuman fisik jika ia bandel, nggak mood, atau malas.

Lampu menyala kuning, pengendara pun mulai bersiap memacu kendaraannya, tidak sabaran untuk duluan keluar dari perhentian lampu merah. Tak lama kemudian lampu menyala hijau. Tiiit… tiit… tiit.. suara klakson bersahutan meminta pengendara yang di depan agar cepat beranjak. Si monyet dan tuannya menyingkir kembali ke pinggir jalan dan bersiap menunggu lampu menyala merah kembali.

Saya pun memacu motor ke arah Jl. Pasteur. Sambil melamun di atas motor saya membayangkan kejadian tadi. Monyet saja “shalat”, apakah tuannya juga shalat? Mudah-mudahan saja masih, saya ber-khusnu dhzon saja Biarpun kehidupan itu keras dan tuan si monyet berusaha dari pagi sampai sore mencari nafkah dengan mengandalkan monyetnya itu, mudah-mudahan tuan si monyet masih mengingat Allah SWT dengan shalat. Apakah anda juga masih tetap shalat?

Tulisan ini dipublikasikan di Romantika kehidupan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Monyet Saja “Shalat”, Bagaimana dengan Tuannya?

  1. Ping-balik: Monyet Saja “Shalat”, Bagaimana dengan Tuannya? | My Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s