Ulama Bukan Bemper Pemerintah

Pemerintah kita sepertinya sudah putus asa dan kehabisan akal dalam mengerem konsumsi bensin premium. Setelah himbauan melalu spanduk dan iklan yang mengkampanyekan BBM bersubsidi (premium) hanya bagi kalangan tidak mampu ternyata kurang berhasil, sekarang Pemerintah menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk justifikasi kebijakan Pemerintah. Seperti dikutip dari sini, Ketua MUI Ma’ruf Amin mewacanakan fatwa haram konsumsi premium bagi orang kaya. Meskipun itu baru sebatas pendapat pribadi beliau saja dan belum menjadi fatwa MUI, tak pelak rencana fatwa tersebut dikecam banyak orang. Terkesan ulama dijadikan bemper Pemerintah.

Tentu saja banyak orang yang mencimeehkan (mencemooh) rencana fatwa tersebut serta mengecam Pemerintah yang membawa-bawa lembaga agama untuk justifikasi kebijakannya. Fakta bahwa subsidi harga premium dinikmati orang kaya itu adalah kesalahan Pemerintah dalam mengelola kebijakan, tidak perlulah ulama dibawa-bawa untuk mengerem konsumsi premium oleh orang kaya.

Meskipun dalam beberapa hal saya tidak sejalan dengan ormas HTI (Hizbut Thahir Indonesia), tetapi pendapat mereka tentang harga premium yang semakin tinggi patut didengar. Naiknya harga minyak dunia adalah akibat liberalisasi perdagangan, bukan kesalahan rakyat yang banyak mengkonsumsi premium. Kalau ingin mengurangi subsidi premium, naikkan saja harganya lima ratus perak sehingga genap menjadi lima ribu rupiah per liter, ketimbang membuat fatwa haram. Lima ratus rupiah adalah nilai yang wajar dan siapapun rakyat ini dapat mengerti dan menerimanya.

Kalaupun fatwa haram itu keluar rasanya juga aneh. Hukum Islam itu universal dan berlaku di seluruh dunia. Jika di Indonesia orang kaya muslim haram membeli premium tetapi di luar negeri tidak haram tentu fatwa itu menjadi janggal. Kemudian akan ada diskriminasi terhadap penganut agama lain, sebab fatwa itu hanya berlaku bagi orang Islam saja, sehingga orang kaya Kristen, Hindu, dan Budha akan bebas-bebas saja membeli premium dan bukannya pertamax.

Persoalan lain yang memicu perdebatan adalah definisi orang kaya. Apa definisi seseorang disebut kaya? Akan timbul perdebatan dalam mendefinisikan batasan orang kaya. Apakah orang kaya adalah orang yang mampu membeli mobil? Kalau iya, mobil yang harganya berapa? Banyak juga keluarga sederhana — tidak kaya — mampu membeli mobil bekas yang harganya murah dan terjangkau sekitar 10 jutaan, apakah mereka digolongkan sebagai orang kaya?

Meski sebenarnya alasan fiqih Pak Ma’ruf Amin mewacanakan fatwa haram itu benar, yaitu mengambil hak orang lain adalah perbuatan dosa, namun tidak sepantasnya dijadikan fatwa resmi. Rakyat akan menilai ini fatwa pesanan Pemerintah, dan akhirnya citra ulama menjadi tercoreng karena telah menjadi alat pembenar Pemerintah.

Ulama seharusnya menjaga jarak dengan Pemerintah dan berpihak pada umat. Saya menaruh hormat kepada (alm) Buya Hamka ketika memimpin MUI zaman dulu yang tetap konsisten dalam menjaga jarak dengan Pemerintah. Misalnya fatwa haram perayaan Natal bersama yang mendapat kritik Pemerintah Soeharto kala itu, fatwa haram KB dengan cara vasektomi dan tubektomi yang dianggap mengganggu program KB nasional, fatwa haram “ekspor” TKW tanpa mahram ke luar negeri (yang tidak didengar Pemerintah sehingga akhirnya terjadilah kasus pemancungan seperti Ruyati itu), dan lain-lain.

Masih banyak hal-hal yang perlu dibuatkan fatwa haram oleh para ulma, misalnya penjualan aset rakyat seperti pertambangan, migas, dan lain-lain kepada perusahaan asing. Dengan dalih UU SDA yang menghalalkan penjualan aset rakyat kepada kapaitalisme dunia, aset-aset milik rakyat itu akhirnya dikuasai asing. Saya berharap semoga fatwa haram konsumsi premium oleh orang kaya itu tidak jadi keluar, semoga ulama-ulama MUI tetap “sadar” tidak diperalat oleh Pemerintah.

Kasih Sayang Ayah

Ada tulisan yang inspiratif yang saya dapat dari sebuah milis. Saya bagi ya kepada para pembaca, terutama para ayah atau calon ayah, agar dapat dijadikan hikmah pelajaran. Kebetulan hari ini, 29 Juni, adalah peringatan “Hari Keluarga” sehingga pas dengan tema tulisan ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kasih Sayang Ayah

Ada sebuah kisah dari Spanyol tentang seorang ayah dan anak yang lama terpisah. Sang anak lari dari rumah, dan sang ayah mencarinya selama berbulan-bulan tanpa hasil. Akhirnya, sang ayah memasang iklan di sebuah surat kabar ibukota, berbunyi: ”Paco sayang, temui aku di depan kantor surat kabar ini, jam 12 siang, hari Sabtu. Semuanya sudah aku ampuni. Aku mengasihimu. Ayahmu.” Di hari Sabtu itu, ada 800 orang bernama Paco berkumpul, untuk mencari kasih dan pengampunan dari seorang ayah yang sangat mengasihinya.

Statistik mengatakan bahwa orang-orang yang kehilangan kasih ayahnya akan tumbuh dengan kelainan perlaku, kecenderungan bunuh diri, dan menjadi kriminal yang kejam. Sekitar 70% dari penghuni penjara dengan hukuman seumur hidup adalah orang-orang yang bertumbuh tanpa ayah.

Para ayah, Anda dirindukan dan dibutuhkan oleh anak-anak Anda. Jangan habiskan seluruh energi dan pikiran di tempat kerja, sehingga waktu tiba di rumah para ayah hanya memberikan ”sisa-sisa” energi dan duduk menonton TV. Peluk anak-anak Anda, dengarkan cerita mereka, ajarkan kebenaran & moral. Dan Anda tidak akan menyesal, karena anak-anak Anda akan hidup sesuai jalan yang Anda ajarkan & persiapkan.

Satu ayah lebih berharga daripada 100 guru di sekolah. (George Herbert)

Lontong Padang Berlauk Rendang

Di kota Bandung ini cukup banyak pedagang kaki lima yang menjual makanan khas Minang bernama lontong (ketupat) sayur. Mungkin karena di Di Bandung banyak perantau “urang awak” yang bekerja sebagai pedagang, pegawai, dan mahasiswa. Soal urusan perut mereka pasti akan mencari-cari makanan kampung halaman seperti ketupat sayur. Ketupat sayur adalah sarapan pagi seperti halnya bubur ayam atau nasi kuning di Bandung. Ketupat yang khas adalah katupek gulai paku, yaitu ketupat dengan sayur gulai pakis. Jarang-jarang di Bandung ketemu gulai paku ini.

Nah, saya sudah mencoba banyak ketupat sayur dari berbagai pedagang. Selama ini ketupat sayur yang maknyus dan mantap rasanya adalah ketupat sayur Ombak Piaman di Jalan Kuningan raya, Antapani (pertigaan dengan Jalan Cibatu), dekat rumah saya. Pedagangnya seorang ajo Piaman (julukan daerah Pariaman di Sumbar). Khas ketupat sayur ini adalah kuahnya yang kental. Sayurnya adalah gulai nangka muda yang berwarna kuning kemerahan dan gulai buncis yang berwarna hijau.

Ternyata ada lagi ketupat sayur yang enak dan mantap rasanya, yaitu ketupat di kedai Dapur Minang Lima Saudara di Jalan Bagusrangin (dekat jalan Dipati Ukur). Pedagangnya bernama Ajo Herman, asal dari Pariaman juga tepatnya dari Sungai Garinggiang, Kabupaten Pariaman, Sumbar (kebanyakan pedagang ketupat sayur memang berasal dari Pariaman, baik yang berjualan di Padang maupun yang di tanah rantau). Sudah 3 tahun Ajo Herman berjulan di Bandung, sebelumnya dia sudah mencoba berdagang yang sama di Padang lalu di Jabotabek.

Di kedai Ajo Herman ini tidak hanya menjual ketupat sayur, hampir semua makanan dan jajanan khas Minang ada di sana. Ada bubur kampiun, kacang padi (bubur kacang hijau), teh talua (teh pakai telur), sarikayo (srikaya), goreng pisang rajo + katan (ketan), lapek, lupis, dan lain-lain. Wah, benar-benar lengkap ya, benar-benar palapeh lambuang, kanyang rasonyo makan di sana.

Yang menarik adalah ketupat sayurnya pakai rendang. He..he, baru kali ini saya menemukan ketupat sayur padang pakai daging rendang, di negeri asal makanan itu sendiri ketupat sayur tidak pakai apa-apa, hanya ketupat dan gulai sayur saja. Di Bandung ketupatnya dapat ditambahi telur ayam, tetapi di kedai Ajo Herman ini ketupatnya pakai rendang seperti foto di bawah ini. Menarik, bukan? Ide yang brilian juga mengkombinasikan ketupat sayur dengan rendang.

Hmmm…. mau? Dari tampilannya saja sudah menggugah selera.

Selain pakai rendang, ada juga ketupat gulai tunjang, selain tentu saja pakai telur. Harganya sepuluh ribu kalau pakai rendang, kalau pakai telur tujuh ribu, dan kalau hanya ketupat sayur saja lima ribu. Tidak terlalu mahal saya kira, pas dengan kantong mahasiswa yang menjadi pelanggan utamanya. Gulai sayurnya adalah gulai nangka dan gulai buncis tauco. Rasa gulai sayurnya pas di lidah, terutama gulai buncis tauconya, persis seperti gulai buncis tauco khas minang umumnya. Setiap hari Senin dan Jumat kadang-kadang ada gulai paku (pakis). Sayur pakisnya bukan sayur dari kebun, tetapi pakis yang didatangkan dari hutan daerah Pangandaran. Sayur pakis yang pas dibuat gulai paku memang pakis hutan.

Pelanggan kedai Ajo Herman ini banyak juga ternyata. Yang makan di sana ternyata bukan orang Minang saja, banyak juga pelangan asal daerah lain. Mungkin karena masakan minang itu cocok di lidah siapa saja. O iya, kedai ini buka dari pagi hingga pukul 12 siang. Kalau anda berada di daerah Bandung Utara, sempatkan singgah makan di warung Lima Saudara ini.

Bangsa Budak?

Membaca dan mendengar kisah-kisah TKW yang disiksa dan (maaf) diperkosa di beberapa negara tujuan TKI membuat rasa kemanusiaan kita terusik. Tujuan para wanita itu ke sana adalah untuk mencari nafkah guna membantu keluarganya yang miskin di tanah air. Tidak tahunya nasib buruk yang mereka terima di sana, mereka diperlakukan seperti budak belian yang bisa diperjualbelikan dan diperlakukan apa saja oleh majikan dan agen penyalur TKW.

Yang ironis adalah kekejaman itu berlangsung di tanah tempat turunnya para Nabi, tetapi perilaku orang-orang Arab yang sering menyiksa pembantu itu jauh dari sifat-sifat Nabi yang santun, lemah lembut, dan penyayang kepada umatnya. Sisa-sisa perilaku jahiliyah belum hapus sama sekali dari bangsa Arab.

Malaysia dan Arab Saudi adalah dua negara dengan kasus terbanyak memperlakukan para TKI wanita asal Indonesia laksana budak. Para wanita itu dipekerjakan siang malam, gaji tidak dibayar, makan dibatasi, paspor ditahan, dan kekerasan fisik serta verbal yang dilakukan majikan jika pembantu melakukan kesalahan kecil. Malang benar nasib bangsaku ini di mata orang asing.

Memang tidak semua pembantu itu bernasib buruk dan tidak semua majikan di sana itu jahat. Kita juga tidak mau menggenerilisasi bahwa semua orang Arab atau Malaysia itu buruk. Banyak juga kisah-kisah sukses dari sebagian pembantu yang mendapat majikan baik, bahkan ada yang disekolahkan sehingga menjadi sarjana seperti baru-baru ini di Malaysia. Namun apalah artinya kisah-kisah sukses itu, kisah-kisah penyiksaan pembantu adalah cerita horor tersendiri yang menghapus image bahwa masih banyak majikan yang baik. Pilu rasanya jika mendengar ada wanita kita disiksa dan diperlakukan semena-mena.

Memang tidak menutup kemungkinan sebagian dari pembantu itu ada yang bermental jelek, punya budi pekerti yang buruk, malas, nyambi menjadi pelacur, dsb, namun saya yakin sebagian besar dari mereka datang dengan niat untuk mencari nafkah, bukan untuk tujuan atau niat yang lain.

Mungkin karena Indonesia sangat banyak mengirimkan TKI sektor informal (menjadi pembantu atau buruh perkebunan) ke negara-negara itu (Malaysia dan negara-negara Arab), maka bangsa kita sangat rendah di mata orang Malaysia dan orang Arab, diperlakukan sebagai bangsa budak. Harga diri bangsa kita dilecehkan, di Malaysia para buruh perkebunan dan pembantu rumah tangga dipanggil dengan sebutan ‘indon’ yang bernada merendahkan, dan di tanah Arab dianggap sebagai orang yang tidak berharga sehingga boleh diperlakukan apa saja (karena mereka merasa sudah membeli pembantu itu dengan harga tinggi dari agensi di sana, maka majikan merasa berhak bertindak apa saja kepada para wanita TKI, persis sepeti budak zaman dahulu).

Bangsa budak? Sebuah julukan yang sangat menghina. Orang Indonesia adalah bangsa yang bermartabat, punya harga diri, tidak sudi diperlakukan serendah itu. Tidak pernah ada dalam sejarah bangsa Indonesia ini menjadi budak bangsa lain seperti bangsa Afrika yang menjadi budak orang bangsa Romawi, Yunani, Arab, hingga Amerika zaman dulu. Bahkan dulu Indonesia mengirimkan banyak guru dan dosen untuk membantu pendidikan di Malaysia, Petronas juga belajar dari Pertamina, namun sekarang kita tidak lagi mengirim guru ke Malaysia karena Malaysia sudah maju tetapi mengirim pembantu!

Kesalahan perlu ditimpakan kepada Pemerintah kita yang tidak melindungi anak bangsanya di luar negeri. Sudah banyak seruan dari para tokoh dan dari rakyat sendiri untuk menghentikan ekspor pembantu ke luar negeri. Mengekspor tenaga kerja in formal hanya akan merendahkan bangsa ini di mata orang asing. Kalau ingin mengekspor TKI, eksporlah tenaga kerja yang sudah terdidik dan bekerja di sektor formal seperti perawat, supir, dan sebagainya.

Wahai Pemerintah, stop eskpor TKI informal ke luar negeri, perbanyaklah lapangan kerja di tanah air. Uang korupsi yang jumlah triliunan itu dapat digunakan untuk membuat banyak lapangan kerja buat mereka. Biar hujan emas di negeri orang dan hujan batu di negeri sendiri, masih lebih baik hidup di negeri sendiri.

“Karupuak Jariang” (Emping Jengkol), Si Penambah Selera Makan

Saya bukan penggemar jengkol, sejenis sayuran yang mendatangkan bau khas di mulut dan di toilet. Namun kalau emping jengkol, waaahhh… suka banget. Emping jengkol atau bahasa Minangnya karupuak jariang adalah sejenis kerupuk emping yang terbuat dari jengkol. Rasanya sepat-sepat seperti emping melinjo. Karupuak jariang ini lebih enak jika ditambahi samba lado (cabe merah), maka selera makan dijamin bakal hemmmm….. Saya bisa batambauh (nambah) makan jika pakai karupuak jariang ini.

Karupuak jariang sudah menjadi makanan biasa di Padang, tetapi jarang ada yang menjualnya di Bandung. Eh, sebuah rumah makan kaki lima di depan Unpad sering menyediakan menu ini, sepertinya didatangkan langsung dari Padang. Langsung saya beli saja, trus di rumah dimakan dengan nasi plus samba lado kapau, lebih heboh lagi pakai lalap ketimun atau daun singkong. Waah, wah, mantaps. Makan pakai itu saja sudah enak

Sekelumit Cerita Kehidupan di dalam Ikan Nila Bakar “Bang Themy “

Sekali seminggu dalam perjalanan pulang dari kantor, saya sering menyinggahi kedai ikan bakar Bang Themy untuk membeli ikan nila bakar sebagai lauk makan malam di rumah. Kedai ikan nila bakar Bang Themy terletak di Jalan Terusan Jakarta, Bandung, dekat perbatasan daerah Arcamanik (setelah terminal Antapani).

Rasa ikan bakar di kedai ini berbeda dengan ikan bakar yang lain, perbedaannya terletak pada bumbu yang digunakan. Ikan nila dibakar di kedai Bang Themy memakai bumbu khas Minang (orang sering menyebutnya sebagai bumbu Padang). Kalau saya amati, bumbunya adalah paduan santan kental dan aneka bumbu dapur seperti bawang, jahe, kunyit, laos, dan lain-lain. Bumbu-bumbu inilah membuat rasa ikan bakarnya enak dan gurih.

Untuk mendapatkan rasa ikan bakar yang mantap dan enak, maka ikan nila di kedai ini dibakar tiga kali. Pada pembakaran pertama, ikan nila yang sudah dibelah hanya diolesi (menggunakan kuas) dengan minyak goreng yang sudah diberi bumbu khusus, kemudian dibakar di atas bara api sampai dagingnya setengah matang dan air di dalam tubuh ikan menguap. Pada pembakaran kedua, ikan diolesi bumbu santan tadi tetapi agak tipis, lalu dibakar lagi sampai matang. Setelah pembakaran kedua, ikan-ikan tadi beserta alat pemanggangnya dipajang dengan cara menggantung seperti pada foto di atas sambil menununggu pembeli yang datang. Siapapun yang lewat di depan kedai dan melihat ikan bakar yang tergantung tadi pasti terbit air liurnya karena bentuk ikan bakar hasil pembakaran kedua ini sangat menggoda selera.

Pembeli memilih ikan nila bakar yang disukainya, selanjutnya ikan nila hasil pembakaran yang kedua tadi dibakar untuk ketiga kalinya. Sebelum dibakar, ikan dioles lagi dengan bumbu yang lebih tebal. Pembakaran yang ketiga bertujuan untuk menambah sensasi aroma bakar dan menciptakan rasa ikan bakar dengan bumbu gurih yang lezat.

Satu ekor ikan nila bakar harganya bervariasi dari Rp14.000 hingga Rp22.000, bergantung besar kecilnya ikan. Selain ikan nila di kedai itu juga ada ayam bakar dan ikan gurami bakar, tetapi yang khas ya ikan nila itu. Ikan nila bakar bisa dimakan di sana dengan nasi hangat atau dibawa pulang. Sebagai pelengkap makan, ikan dimakan dengan sambal cabe hijau dan lalap sayur waluh, kacang panjang, irisan tomat, dan ketimun. Yuk, kita makan ikan bakarnya.

Bang Themy, lelaki Minang pemilik kedai ikan bakar itu, beristrikan wanita asal Sumedang. Sehari-hari istrinya yang membantu di kedai. Kebetulan anak Bang Themy ini satu sekolah dengan anak saya di SD Muhamadiyah. Saya menilai Bang Themy sebagai seorang lelaki yang gigih. Dia mencari sendiri ikan nila itu ke sentra budidayanya di daerah Subang. Subang terletak di balik gunung Tangkubanperahu dan dikenal sebagai penghasil ikan nila terbaik di Jawa Barat. Setiap minggu dengan sepeda motornya Bang Themy pergi ke daerah Subang yang berjarak satu jam lebih perjalanan. Ikan-ikan nila yang ada di tambak dipilihnya sendiri dan ditangkap sendiri. Jadi, bukan petani tambak yang mengambilkan ikan, tetapi dia sendiri yang terjun ke dalam tambak untuk memilih ikan nila yang gemuk-gemuk, menangkapnya, lalu membayar ke pemilik tambak seharga ikan nila yang dia ambil.

Ketika saya tanya, kenapa tidak menunggu ikan nila diantarkan saja ke Bandung oleh pemasok, daripada capek datang jauh-jauh ke Subang? Bang Themy tidak mau, sebab belum tentu ikan nila yang diantarkan itu berkualitas bagus atau kecil-kecil, harus dia sendiri yang memilihnya. Saya pikir itu prinsip pemasaran yang bagus, kalau ingin pelanggan puas ya harus memberikan produk terbaik, bukan ecek-ecek atau asal-asalan. Kan banyak orang yang berdagang makanan hanya untuk mencari untung semata tetapi tidak memikirkan kualitas masakan atau makanannya. Jangan harap pelanggan akan setia atau datang lagi-datang lagi.

Kalau ikan nila lagi kosong di sentra produksi di Subang, Bang Themy memilih tidak berjualan. Dia tidak mau membeli ikan nila di pasar. Begitu juga kalau dia lagi sakit berarti tidak ada ikan, sebab tidak ada yang menjemput ikan ke Subang, otomatis kedainya juga tutup sementara. Makanya saya nilai dia seorang penjual makanan yang konsisten menjaga kualitas dagangannya. Garis-garis tua di wajahnya menandakan kerasnya kehidupan yang telah dijalaninya. Semoga ikan bakarnya tetap laris karena nafkah keluarganya berasal dari situ, dan saya masih dapat terus menikmati ikan nila bakarnya yang enak itu.

Menikmati Teh Srilanka

Teman saya yang menjadi diplomat di Kedubes RI di Colombo, Srilanka, beberapa waktu yang lalu pulang ke tanah air. Dia membawakan saya oleh-oleh berupa teh. Wah, tahu sendiri kan, Srilanka adalah penghasil teh terbaik di dunia. Teh di Srilanka ditanam pada daerah ketinggian yang berbeda-beda, untuk setiap elevasi ketinggian rasa tehnya juga tidak sama.

Nah, teh yang dibawakannya ada bermacam-macam, salah satunya teh seduh bermerek Dilmah. Saya seduh teh ini untuk minuman satu gelas.

Rasanya, wah…. agak beda dengan teh kita. Rasa teh Srilanka sangat kuat, agak sedikit pahit sepat gitu, tapi enak lho. Saya bagi-bagi teh ini kepada teman-teman di kantor, komentar mereka juga sama, enak.

Saya suka minum teh tawar (tanpa gula). Biasanya saya minum teh sambil makan nasi. Nasi panas-panas, dimakan dengan lauk dan sambal, temannya adalah segelas teh panas, mantaap! Saya ingin membiasakan lagi tradisi minum teh ini, karena minum teh itu menyehatkan. Teh mengandung antioksidan yang bermanfaat untuk membuang racun dalam tubuh kita dan membuat stamina tubuh tetap sehat.

Jujur Itu Mahal (Kisah Ny. Siami dan SDN Gadel 2 Surabaya)

Akhirnya Ny Siami benar-benar mengosongkan rumahnya, pergi mengungsi ke Solo setelah tidak tahan diusir warga sekitarnya. Begitulah nasib orang jujur yang oleh warga sekitar tindakan Ny Siami itu dianggap berlebihan. Pertanda masyarakat kita memang sedang sakit.

Tahu ‘kan pengantar tulisan yang saya ungkapkan di atas? Jadi ceritanya begini, ada peristiwa contekan massal yang melibatkan siswa-siswa SD Negeri Gadel 2 Surabaya. Seorang anak pintar, putra Ny Siami, dipaksa wali kelasnya memberikan contekan secara massal kepada teman-temannya pada saat Ujian Nasional SD baru-baru ini. Bahkan sebelum UN ada simulasi pencontekan massal segala. Tidak setuju dengan tindakan guru sekolah tersebut, Ny Siami melaporkan kasus ini ke Dinas Pendidikan Surabaya. Akibat perbuatan guru wali kelas tersebut, Dinas Pendidikan kemudian memberi hukuman mutasi dan penurunan pangkat kepada oknum guru dan kepala sekolah (yang dianggap ikut bertanggung jawab). Eh, warga sekitar sekolah yang tidak lain orangtua murid-murid SDN Gadel 2 tidak terima dengan hukuman tersebut, mereka marah kepada Ny Siami dan keluarganya. Warga berunjuk rasa dan mengecam Ny Siami yang dianggap sok pahlawan, dan puncaknya warga mengusir keluarga Ny Siami keluar dari kampung (baca deh lebih lengkapnya pada berita ini, tapi kalau tidak bisa mengaksesnya saya kutipkan pada akhir tulisan).

Seperti yang saya tulis pada paragraf pertama, keluarga Ny Siami akhirnya benar-benar pergi dari rumahnya, entah sementara atau selamanya (ini beritanya). Siapa pula orang yang bisa tahan dengan tekanan warga yang terus menerus mengancam pengusiran. Ny Siami hanyalah seorang wanita biasa yang akhirnya bobol juga kekuatannya untuk bertahan.


(Rumah keluarga Ny Siami di Jl Gadel Sari Barat, Tandes, sepi setelah ditinggal penghuninya, Jumat (10/6). Foto: surya/faiq nuraini. Sumber: http://www.surya.co.id/2011/06/11/diusir-ny-siami-akhirnya-kosongkan-rumah)

Bagi warga sekitar, perilaku contek itu adalah hal yang lumrah dan tidak perlu dipermasalahkan. Seperti dikutip dari situs berita tadi, rata-rata mereka tetap menyalahkan keluarga Siami. Menurut warga, menyontek adalah hal biasa untuk anak kecil. Warga juga menyatakan bahwa menyontek sudah terjadi di mana-mana dan wajar dilakukan siswa agar bisa lulus.

Sekali lagi saya ulang menuliskannya ya, menurut warga (yang mungkin potret dari masyarakat kita sesungguhnya) mencontek adalah hal yang biasa untuk anak kecil. Jika anggapan seperti itu sudah begitu tertanam sehingga anak didik tidak merasa bersalah melakukan perbuatan mencontek, jangan heran kalau perilaku mencontek itu akan berlanjut terus hingga tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Padahal mencontek adalah awal dari perbuatan korupsi dan manipulasi lainnya. Perilaku korupsi bermula dari anggapan bahwa mengambil sedikit tidak apa-apa, lama kelamaan menjadi banyak dan akhirnya menjadi penyakit yang sudah mendarah daging pada bangsa ini. “Teladan” dari perilaku elit politik dan pejabat yang sering melakukan korupsi semakin menambah keyakinan masyarakat bahwa perilaku mencontek dalam ujian itu hal yang lumrah saja.

Sedih sekali melihat potret suram dunia pendidikan di tanah air kita. Ini preseden buruk bagi whistleblower. Orang jujur dianggap salah, sedangkan berbuat curang dianggap biasa. Sungguh mahal harga kejujuran Ny Siami, ia sampai terusir dari rumahnya sendiri. Mau jujur malah buntung. Tapi percayalah, Tuhan tidak pernah tidur.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Diusir Warga karena Lapor Contek Massal
Ny Siami, Si Jujur yang Malah Ajur

SURABAYA | SURYA – Ny Siami tak pernah membayangkan niat tulus mengajarkan kejujuran kepada anaknya malah menuai petaka. Warga Jl Gadel Sari Barat, Kecamatan Tandes, Surabaya itu diusir ratusan warga setelah ia melaporkan guru SDN Gadel 2 yang memaksa anaknya, Al, memberikan contekan kepada teman-temannya saat Unas pada 10-12 Mei 2011 lalu. Bertindak jujur malah ajur!

Teriakan “Usir, usir…tak punya hati nurani” terus menggema di Balai RW 02 Kelurahan Gadel, Kecamatan Tandes, Surabaya, Kamis (9/6) siang. Ratusan orang menuntut Ny Siami meninggalkan kampung. Sementara wanita berkerudung biru di depan kerumunan warga itu hanya bisa menangis pilu. Suara permintaan maaf Siami yang diucapkan dengan bantuan pengeras suara nyaris tak terdengar di tengah gemuruh suara massa yang melontarkan hujatan dan caci maki.

Keluarga Siami dituding telah mencemarkan nama baik sekolah dan kampung. Setidaknya empat kali, warga menggelar aksi unjuk rasa, menghujat tindakan Siami. Puncaknya terjadi pada Kamis siang kemarin. Lebih dari 100 warga Kampung Gadel Sari dan wali murid SDN Gadel 2 meminta keluarga penjahit itu enyah dari kampungnya.

Padahal, agenda pertemuan tersebut sebenarnya mediasi antara warga dan wali murid dengan Siami. Namun, rembukan yang difasilitasi Muspika (Musyarah Pimpinan Kecamatan Tandes) itu malah berbuah pengusiran. Mediasi itu sendiri digelar untuk menuruti tuntutan warga agar keluarga Siami minta maaf di hadapan warga dan wali murid.

Siami dituding sok pahlawan setelah melaporkan wali kelas anaknya, yang diduga merancang kerjasama contek-mencontek dengan menggunakan anaknya sebagai sumber contekan.

Sebelumnya, Siami mengatakan, dirinya baru mengetahui kasus itu pada 16 Mei lalu atau empat hari setelah Unas selesai. Itu pun karena diberi tahu wali murid lainnya, yang mendapat informasi dari anak-anak mereka bahwa Al, anaknya, diplot memberikan contekan. Al sendiri sebelumnya tidak pernah menceritakan ‘taktik kotor’ itu. Namun, akhirnya sambil menangis, Al, mengaku. Ia bercerita sejak tiga bulan sebelum Unas sudah dipaksa gurunya agar mau memberi contekan kepada seluruh siswa kelas 6. Setelah Al akhirnya mau, oknum guru itu diduga menggelar simulasi tentang bagaimana caranya memberikan contekan.

Siami kemudian menemui kepala sekolah. Dalam pertemuan itu, kepala sekolah hanya menyampaikan permohonan maaf. Ini tidak memuaskan Siami. Dia penasaran, apakah skenario contek-mencontek itu memang didesain pihak sekolah, atau hanya dilakukan secara pribadi oleh guru kelas VI.

Setelah itu, dia mengadu pada Komite Sekolah, namun tidak mendapat respons memuaskan, sehingga akhirnya dia melaporkan masalah ini ke Dinas Pendidikan serta berbicara kepada media, sehingga kasus itu menjadi perhatian publik.

Dan perkembangan selanjutnya, warga dan wali murid malah menyalahkan Siami dan puncaknya adalah aksi pengusiran terhadap Siami pada Kamis kemarin. Situasi panas sebenarnya sudah terasa sehari menjelang pertemuan. Hari Rabu (8/6), warga sudah lebih dulu menggeruduk rumah Siami di Jl Gadel Sari Barat.

Demo itu mendesak Ny Siami meminta maaf secara terbuka. Namun, Siami berjanji menyampaikannya, Kamis.

Pertemuan juga dihadiri Ketua Tim Independen, Prof Daniel M Rosyid, Ketua Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dindik Tandes, Dakah Wahyudi, Komite Sekolah, dan sejumlah anggota DPRD Kota Surabaya. Satu jam menjelang mediasi, sudah banyak massa terkonsentrasi di beberapa gang.

Pukul 09.00 WIB, tampak Ny Siami ditemani kakak dan suaminya, Widodo dan Saki Edi Purnomo mendatangi Balai RW. Mereka berjalan kaki karena jarak rumah dengan balai pertemuan ini sekitar 100 meter. Massa yang sudah menyemut di sekitar balai RW langsung menghujat keluarga Siami.

Mereka langsung mengepung keluarga ini. Beberapa polisi yang sebelumnya memang bersiaga langsung bertindak. Mereka melindungi keluarga ini untuk menuju ruang Balai RW. Warga kian menyemut dan terus memadati balai pertemuan. Ratusan warga terus merangsek. Salah satu ibu nekat menerobos. Namun, karena yang diizinkan masuk adalah perwakilan warga, perempuan ini harus digelandang keluar oleh petugas.

Mediasi diawali dengan mendengarkan pernyataan Kepala UPT Tandes, Dakah Wahyudi. Ia menyatakan bahwa seluruh kelas VI SDN Gadel 2 tidak akan kena sanksi mengulang Unas. Ucapan Dakah sedikit membuat warga tenang. Namun, situasi kembali memanas. Apalagi Ny Siami tidak segera diberi kesempatan menyampaikan permintaan maaf secara langsung.

Kemudian warga diminta kembali mendengarkan paparan yang disampaikan Prof Daniel Rosyid. Ketua tim independen pencari fakta bentukan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ini berusaha menyejukkan warga dengan menyebut dirinya asli Solo. Dikatakan bahwa Solo, Surabaya adalah juga Indonesia, sehingga setiap warga tidak berhak mengusir warga Indonesia.

Kemudian dia berusaha berdialog santai dengan warga. Ada salah satu warga menyeletuk. “Kalau kita dikatakan menyontek massal. Lantas, kenapa saat menyontek pengawas membiarkannya,” ucap salah satu ibu yang mendapat tepukan meriah warga lain.

Warga juga menyatakan bahwa menyontek sudah terjadi di mana-mana dan wajar dilakukan siswa agar bisa lulus. Mendengar hal ini, Daniel kemudian memperingatkan bahwa perbuatan menyontek adalah budaya buruk. Di masyarakat manapun, perbuatan curang dan tidak jujur ini tidak bisa ditoleransi.

”Menyontek adalah awal dari korupsi. Jika perbuatan curang ini sudah dianggap biasa, maka ini akan membuka perilaku yang lebih menghancurkan masyarakat. Tentu tidak ada yang mau demikian,” sindir Daniel.

Kemudian mediasi dilanjutkan dengan menghadirkan Kepala SDN Gadel 2, Sukatman. Akibat kasus contekan massal di sekolahnya, Sukatman dan dua guru kelas VI dicopot. Sukatman menyampaikan permintaan maaf kepada wali murid.

Namun wali murid menyambut dengan teriakan bahwa Sukatman tidak salah. Yang dianggap salah adalah keluarga Siami karena membesar-besarkan masalah. Warga pun kembali berteriak “usir… usir”. Namun warga mulai tenang karena Sukatman tempak menghampiri Ny Siami dan suaminya. Mantan Kasek ini langsung meraih tangan ibunda Al dan saling meminta maaf. Namun, setelah itu warga kembali riuh rendah.

Setelah Siami diberi kesempatan berbicara, keributan langsung pecah. Suara massa di luar balai RW terus membahana, menghujat keluarga Siami. Padahal saat itu, Siami sedang menyiapkan mental dengan berdiri di hadapan warga.

Meski sudah berusaha tegar, namun ibu dua anak ini mulai lemah. Dia tampak berdiri merunduk sementara kedua matanya sudah mengeluarkan air mata. “Saya minta maaf kepada semua warga…” ucap Siami yang tak sanggup lagi meneruskan kalimatnya.

Namun, sang suami terus membimbing, membuat perempuan ini kembali melanjutkan pernyataan maaf. Namun, suasana kian ricuh karena massa terus berteriak “usir”. Baik petugas polisi dan tokoh masyarakat berusaha menenangkan situasi. Baru kemudian kembali terdengar suara Siami.

Dengan tangan gemetar dan ketegaran yang dipaksakan, Siami kembali berucap, “Saya tidak menyangka permasalahan akan seperti ini. Saya hanya ingin kejujuran ada pada anak saya. Saya sebelumnya sudah berusaha menyelesaikan persoalan dengan baik-baik.”

Pernyataan tulus Siami tidak juga membuat massa tenang, sampai akhirnya polisi memutuskan untuk mengevakuasi Siami dan keluarganya. Siami diarahkan ke mobil polisi dengan pengamanan pagar betis. Namun massa tetap berusaha merangsek, ingin meraih tubuh Siami. Sejumlah warga bahkan sempat menarik-narik kerudung Siami hingga hampir terlepas. Siami akhirnya berhasil diamankan ke Mapolsek Tandes.

Baik Ny Siami dan suaminya enggan memberi komentar usai kericuhan. Namun, kakak kandung Siami, Saki, mengakui bahwa adiknya saat ini dalam tekanan yang luar biasa. “Dia tak tahan lagi dengan tekanan warga. Sampai tidak mau makan hari-hari ini. Nanti kami akan merasa tenang jika di Gresik,” kata Saki. Benjeng, Gresik adalah daerah asal Siami. Saat ini Al, anak Siami yang dipaksa memberi contekan, juga diungsikan ke Benjeng setelah rumahnya beberapa kali didemo warga.

Sementara itu, Ny Leni, perwakilan warga menyatakan bahwa pihaknya masih akan terus menuntut agar tiga guru yang dicopot tetap mengajar di SDN Gadel 2 dan menuntut Siami bertanggung jawab.

Budaya sakit

Prof Daniel M Rosyid yang juga Penasihat Dewan Pendidikan Jatim, menyesalkan tindakan warga Gadel yang berencana mengusir keluarga Siami, ibunda Al. “Tuntutan warga untuk mengusir keluarga Al tidak masuk akal. Itu tidak bisa dituruti,” katanya.

Daniel menilai tuntutan warga tersebut sudah tidak rasional. Perbuatan benar yang dilakukan ibu Al, Siami, dinilai warga justru malah salah. Tindakan menyontek rupanya sudah mengakar dan menjadi kebiasaan bahkan budaya di masyarakat. “Warga ternyata sakit,” katanya.

Lagi pula Kepala Sekolah Sukatman dan dua guru kelas VI, Fatkhur Rohman dan Prayitno, sudah legowo dan menerima keputusan sanksi yang diberikan. “Saya kira ini kalau dibiarkan masyarakat akan sakit terus. Orang jujur malah ajur, ini harus kita cegah,” papar Daniel.

Sebelumnya, hasil tim independen pimpinan Daniel Rosyid menyampaikan temuannya bahwa Al, anak Siami, memang diintimidasi guru sehingga mau memberikan contekan. Namun, tim tidak menemukan cukup bukti sehingga Unas di SDN Gadel 2 perlu diulang. Alasannya tim independen tidak menemukan hasil jawaban Unas yang sistemik sama, dan nilai Unas pun hasilnya tidak sama. Al ternyata membuat contekan yang diplesetkan. Al tidak seluruhnya memberikan jawaban yang benar. Dan kawannya pun tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban Al. Sehingga hasil ujian tidak sama.

Selain itu tim juga mempertimbangkan Unas ulang akan memberatkan siswa dan wali murid. Sanksi yang direkomendasikan yakni sanksi administratif dari Pemkot Surabaya kepada guru yang melakukan intimidasi kepada Al.

Berdasarkan temuan tim independen ditambah pemeriksaan Inspektorat Pemkot Surabaya itulah, Wali Kota Tri Rismaharini akhirnya mencopot Kepala Sekolah SDN Gadel 2 Sukatman dan dua guru kelas VI Fatkhur Rohman dan Prayitno.

Bila Akun E-mail Dibajak

Rekan saya di Prodi Geofisika, Pak X (saya samarkan namanya), dibajak akun emailnya oleh seseorang. Seseorang yang mengaku Pak X mengirim email ke temannya. Pak X palsu itu menyatakan sedang berada di Spanyol dan dia sedang mengalami masalah, dompetnya hilang, sedangkan dia sedang membutuhkan uang untuk membayar hotel. Pak X palsu meminta bantuan kepada temannya itu untuk dikirimi uang segera. Berikut isi pos-el (e-mail) Pak X tersebut (alamat email disamarkan):

From: “Mr X”
Date: Mon, 6 Jun 2011 13:54:28 -0700 (PDT)
To: pqr@yahoo.com
ReplyTo: abc@yahoo.com
Subject: Hello

Hope you get this on time, sorry I didn’t inform you about my trip in Spain for a Program, I’m presently in Barcelona and am having some difficulties here because i misplaced my wallet on my way to the hotel where my money and other valuable things were kept. presently i have limited access to internet, I will like you to assist me with a loan of 2,800 Euros to sort-out my hotel bills and to get myself back home.

I have spoken to the embassy here but they are not responding to the matter effectively, I will appreciate whatever you can afford to assist me with, I’ll Refund the money back to you as soon as I return, let me know if you can be of any help. I don’t have a phone where I can be reached. Please let me know immediately.

Best regards

==================================
Mr X
Professor of Seismology

Global Geophysics Research Group
Faculty of Mining and Petroleum Engineering
Institute of Technology Bandung
Jalan Ganeca 10, Bandung 40132, Indonesia
Phone: +62-22-2600474; Fax: +62-22-2134129
===========================================

Akun email sama persis dengan akun Mr X, begitu juga signature-nya tepat sama. Kalau orang yang menerima email tsb masih “waras”, tentu dia akan menghubungi no HP Mr X untuk memastikan apakah betul Mr X sedang berada di Spanyol. Kalau tidak bisa dihubungi, minimal ditanyakan kepada nomor telpon kantor atau rumahnya apakah Mr X sedang berada di LN. Lagian, kenapa pakai Bahasa Inggris kalau kirim email ke teman sebangsa sendiri, ya kan?

Penipuan yang sudah basi. Dalam dunia sekuriti pembajakan akun semacam ini dinamakan phishing, yaitu peniruan persis sama dengan entitas aslinya. Pada contoh di atas, penipu bisa membuat seolah-olah email dikirim dari akun email seseorang padahal yang mengirim orang lain.

Semoga kita bisa lebih berhati-hati menjaga data rahasia.

“Eror” Saat Sidang Tugas Akhir

Banyak sekali pengalaman-pengalaman unik ketika sidang Tugas Akhir mahasiswa saya berlangsung. Mahasiswa pasti menyiapkan presentasi TA sebaik-baiknya. Mereka tentu ingin memperoleh hasil terbaik dengan menampilkan yang terbaik. Meyakinkan para penguji adalah hal yang penting. Tidak ada mahasiswa yang ingin memperoleh hasil jelek dalam sidang yang mendebarkan mereka itu, bukan?

Tapi manusia boleh berencana, namun rencana tidak selalu sesuai dengan harapan. Salah satu sesi dalam presentasi di Informatika adalah demo aplikasi yang mereka buat. Nah disinilah masalahnya yang sering terjadi. Sehari sebelum sidang aplikasi berjalan lancar. Demo dihadapan Dosen Pembimbing tidak ada masalah. Semua baik-baik saja. Namun pada saat sidang berlangsung, muncullah petaka itu. Macam-macam saja masalahnya. Ketika di-run, ada bagian program yang tidak “jalan” atau tidak berfungsi. Atau, hasil eksekusi program ternyata sungguh “aneh”. Sudah diutak-atik di sana-sini tetap saja eror. Duh, kenapa jadi begini? Kemarin tidak begitu, kok sekarang eror, kok sekarang ngadat. Oh…

Mahasiswa yang disidang itu mulai keringatan. Peluhnya bercucuran membasahi muka dan kemeja putihnya. Panik mode on. Tampak kecemasan pada raut mukanya, takut sidangnya dianggap gagal atau hasil sidangnya jelek. Beberapa kali dia mengucapkan permohonan maaf kepada kami karena kesalahan teknis yang terjadi.

Biasanya kalau sudah begini saya hanya bisa membesarkan hatinya saja. Tak apa, teruskan membahas yang lain saja. Demo hanyalah bagian dari sidang, yang sangat menentukan adalah kemampuan menjawab pertanyaan penguji. Toh semua hasil pengujian sudah ditulis di dalam laporan, bukan?

Meskipun begitu, tidak jarang seusai sidang mahasiswa mengalami penyesalan yang mendalam. Ada rasa malu dan rasa bersalah. Pada suatu kasus unik yang pernah terjadi, di luar ruangan — ketika menunggu hasil sidang dibacakan — sang mahasiswa menangis karena peralatan pembaca bar code nya tiba-tiba tidak bisa membaca input. Laki-laki lagi (eh, tidak ada larangan laki-laki untuk menangis, bukan?). Dia merasa sangat kecewa.

Ah, siapa pula yang ingin gagal ketika demo aplikasi. Tidak ada. Hal-hal semacam ini, yaitu eror ketika presentasi di depan juri atau di depan penonton adalah hal yang lumrah terjadi. Demo syndrom namanya. Siapapun pernah mengalami demo syndrom seperti itu. Tidak hanya pada saat sidang TA, tapi juga pada demo dan presentasi lainnya. Yang penting adalah tetap tenang, kendalikan diri, dan ucapkan permohonan maaf.

Sekadar saran, untuk menghindari terjadinya trouble pada sesi demo aplikasi atau presentasi, datanglah minimal setengah jam lebih cepat sebelum presentasi dimulai, kalau bisa satu jam agar kalau ada apa-apa bisa punya waktu yang banyak untuk memperbaiki. Jalankan semua bahan demo dan peralatan, pastikan semuanya berfungsi dengan baik. Jangan menjalankan aplikasi pas saat demo, tetapi aplikasi sudah dijalankan sebelum presentasi dimulai dan ketika demo tinggal mengaktifkan window-nya saja. Saat-saat injury time, yaitu sebelum penguji memasuki ruangan, pastikan lagi semuanya berjalan dengan baik. Kalau pada sesi demo ternyata ada eror, yah mau bagaimana lagi, nasib lagi apes saja.