Penerbangan “Ramadhan Air”

Tanggal 1 Agustus 2011 ini awal dimulainya ibadah puasa Ramadhan 1432 Hijriyah. Puasa tahun ini tidak genap 30 hari, tetapi hanya 29 hari (begitulah bulan Arab, kadang-kadang 30 hari kadang-kadang 29 hari).

Bulan puasa tahun ini di Bandung adalah saat musim kemarau, jadi bisa dibayangkan agak berat dibandingkan beberapa tahun lalu, tapi seberat-beratnya keadaan cuaca tidaklah halangan untuk menjalankan ibadah puasa. Inilah perintah Tuhan untuk menguji iman manusia, seberapa kuat dia mampu menahan godaan hawa nafsu.

Bulan puasa artinya bulan sehat karena puasa itu menyehatkan badan. Benar, selama puasa saya tidak pernah sakit, meskipun di luar bulan puasa saya juga jarang sakit. Alhamdulillah. Selama siang hari berpuasa organ pencernaan kita istirahat mencerna, padahal selama 11 bulan sebelumnya perut ini tidak henti mencerna makanan apa saja sepanjang hari. Banyak penyakit bersumber dari makanan dan dari organ pencernaan. Insya Allah selama bulan Ramadhan ini kita terhindar dari sakit.

Dikutip dari sebuah milis, inilah penerbangan Ramadhan 1432 Hijriyah:

Selamat datang dalam penerbangan RAMADHAN AIR, Dengan tujuan Bandara
International IDUL FITRI, dengan nomor penerbangan 1432 H.
Tidak lama lagi kita akan menempuh penerbangan yang memakan waktu 29 HARI
dan anda akan memasuki wilayah PUASA.

Mohon Tegakkan kursi IMAN serta sandaran TAQWA, Bila terjadi guncangan
dalam perjalanan segera pasang sabuk DZIKIR, TAHAJUD & SEDEKAH JARIAH.

Pilot anda : AL-ISLAM, bersama
co-pilot 1 : AL-QURANUL KARIM
co-pilot 2 : AL-HADIST,
ditemani pramugari : RAHMAH & MAGFIRAH TO JANNAH

Kami berharap dapat menerbangkan anda kembali menuju Negara JANNATUN NAIM.

TAQABALLAHU MINNA WA MINKUM, MOHON MA’AF LAHIR dan BATIN…

Seharusnya Profesor yang Mengajar Mata Kuliah Dasar

Saya masih ingat dialog antara seorang alumni ITB ketika dia bertemu (alm) Prof. Sudjoko, Guru Besar FSRD ITB, pada suatu acara. Profesor menanyakan di mana alumni tersebut bekerja. Ketika dijawab bahwa dia menjadi dosen di sebuah Perguruan Tinggi, profesor kemudian bertanya mata kuliah apa yang diampunya di sana. Alumni tersebut menjawab dengan agak tersipu bahwa dia mengajar mata kuliah dasar, yaitu mata kuliah tingkat 1 atau 2 yang tidak banyak dosen mau mengajarnya. Oh, bagus itu, timpal Profesor, justru anda seharusnya bangga mengajar mata kuliah dasar, karena pada kuliah itulah fundasi dasar ilmu dibangun. Saya sendiri masih mengajar mata kuliah dasar di FSRD, lanjut Profesor.

Jawaban (alm) Prof. Sudjoko itu terus saya ingat-ingat. Tidak banyak Profesor di Perguruan Tinggi — termasuk d ITB — yang mau mengajar mata kuliah dasar (mata kuliah tingkat 1 dan 2). Kebanyakan mata kuliah dasar diisi oleh dosen-dosen muda atau dosen baru yang belum banyak pengalaman, sementara Profesor atau dosen senior dalam keilmuan mengajar mata kuliah pilihan (tingkat 4 atau 3). Menurut saya seharusnya tidak begitu, mata kuliah dasar sebaiknya diajar oleh Profesor atau dosen yang sudah punya jabatan akademik yang lebih tinggi (minimal Lektor Kepala). Mengapa demikian? Karena — mengutip jawaban Prof. Sudjoko tadi — pada mata kuliah dasarlah fundasi ilmu dibangun. Dan untuk membangun fundasi dasar itu seharusnya para guru besarlah yang “turun gunung” karena mereka telah memiliki kearifan dan filosofi ilmu. Jika dasar-dasar ilmu tidak diberikan oleh orang yang mumpuni, maka jangan heran jika mahasiswa tidak memiliki landasan yang kuat dalam ilmu pengetahun bidang studinya.

Secara keahlian (hard skill) mahasiswa zaman sekarang memang bagus, hebat-hebat malah, tetapi secara filosofis mereka lemah dalam dasar keilmuan. Mereka terlalu mementingkan hard skill dan agak mengabaikan penguasaan terhadap fundamental ilmu. Mahasiswa saya di Informatika ITB juga banyak yang begitu. Dari skill pemrograman mereka jago, hebat-hebat, program mereka bagus sekali, kreatifitas mereka luar biasa, mendewalah pokoknya. Namun bila diberikan pertanyaan yang menyangkut fundamental, jawaban mereka kurang memuaskan dan terkesan ngasal. Dalam sidang-sidang Tugas Akhir fenomena demikian juga muncul, kebanyakan mahasiswa kurang mampu menjawab konsep-konsep dasar yang terkait tugas akhir yang dibuatnya.

Mata kuliah dasar tidak banyak dosen senior yang mau mengajarnya. Saya memang tidak punya datanya, tetapi dari pengamatan setelah melihat nama-nama dosen yang mengajar mata kuliah tingkat 1 dan 2 di ITB, saya menduga demikian adanya. Mungkin karena mata kuliah dasar itu tidak terlalu menarik bagi para profesor atau dosen yang sudah mumpuni ilmunya, sehingga mata kuliah dasar diserahkan kepada dosen muda atau dosen baru. Mengajar mata kuliah tingat 4 atau kuliah pilihan mungkin dianggap lebih menantang bagi dosen senior (termasuk Profesor) karena mata kuliah tersebut sudah menyentuh aplikasi dunia nyata, teknologi terkini, keprofesian, dan juga terkait dengan riset dan proyek sang dosen.

Saya sendiri di Informatika ITB masih dan senang mengajar mata kuliah dasar pada tahun pertama di Informatika (tingkat II di ITB). Ibarat sebuah pohon, memberikan fundamental ilmu itu sama pentingnya dengan membangun ilmu itu sampai ke ujung rantung-rantingnya. Sebuah pohon kuat hanya jika akar-akarnya kuat. Mahasiswa kita akan memiliki keilmuan yang kuat jika diberikan dasar-dasar imu yang kuat pula.

“Korupsi Sedikit Tidak Apa-Apa, Asal Tidak Ketahuan”, Kata Jaksa Ini……

Pantesan saja negeri ini tambah bobrok jika orang yang menegakkan hukum ngomong seperti judul di atas. Gilaaaa… nih jaksa, katanya korupsi sedikit tak apa-apa asal jangan sampai ketahuan. Mudah-mudahan wartawannya yang salah kutip atau salah dengar. Tapi, kalau benar jaksa ngomong begitu, komentar saya: dia sakit jiwa.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kajati: Korupsi Sedikit tak Apa-apa

TANJUNG REDEB, tribunkaltim.co.id – Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Kalimantan Timur Faried Harianto, SH mengatakan, perbuatan korupi yang terbilang tidak besar nilainya tidak perlu dipermasalahkan.

Namun, dia mengimbau agar pejabat pintar-pintar bermain dan jangan sampai ketahuan. Demikian diungkapkan Kajati saat melakukan pengarahan tentang “Upaya Pencegahan Korupsi” di hadapan pejabat di lingkungan Pemkab Berau, Selasa (19/7/2011).

“Pejabat harus pintar-pintar, jangan sampai ketahuan. Karena kalau ketahuan siapapun dihukum. Bukan membolehkan, tapi pintar-pintar. Penegak hukum harus bijak, korupsi dikit-dikit tidak apa-apa. Mark up-mark up dikit tidak masalah,” papar Faried bersama Bupati Berau Makmur HAPK di hadapan para pejabat Pemkab Kukar.

Faried juga mengatakan akan melakukan penanganan kasus yang niai korupsinya besar. Acara tersebut juga disaksikan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Berau dan jajarannya. Faried juga tida merinci berapa target kasus korupsi dalam tahun ini di Kaltimantan Timur.

“Di tipikor, jaksanya saja ongkosnya ratusan juta, sidangnya di Samarinda. Misalnya Jaksa bolak-balik ke Berau, memeriksa saksi-saksi dan lain-lain, padahal korupsinya Rp 20 juta, jadi negara rugi bukan untung. Makanya cari yang besar jangan yang kecil. Kalau yang kecil banyak mudharatnya daripada manfaatnya, itulah azas manfaat,” katanya.

Penulis : Feri Mei Efendi
Editor : Adhinata Kusuma
Sumber : Tribun Kaltim

Asyiknya Bersepeda di dalam Kampus (“Bike@campus”)

Beberapa hari ini saya menikmati bersepeda di dalam kampus. Sepeda-sepeda tersebut tersedia secara gratis di dekat Aula Barat ITB. Siapapun yang ingin memakainya silakan saja — kalau lagi kosong — asalkan dipakai hanya di dalam kampus saja.

Sepeda-sepeda tersebut adalah sumbangan dari alumni ITB angkatan 1988 dalam rangka mendukung program Bike@Campus. Thank to ITB88.

ITB adalah kampus yang rindang dan nyaman. Banyak pepohonan yang membuat kampus ini asri dan hijau. Sayang ya kalau kampus dikotori dengan polusi udara kendaraan bermotor. Karena itu, gerakan bersepeda di dalam kampus (bike@campus) digalakkan beberapa tahun yang lalu. Sudah banyak mahasiswa yang memakai sepeda ke kampus. Bahkan ITB pun menyediakan infrastruktur seperti tempat parkir sepeda.

Para alumni pun menyumbangkan puluhan sepeda untuk warga civitas academica (baca tulisan saya yang terdaulu). Salah satunya adalah sumbangan dari alumni ITB 88 itu.

Sepeda sumbangan ITB 88 ini bagus-bagus dan enak mengayuhnya. Dulu juga pernah ada sumbangan dari alumni angkatan xx, tetapi mungkin karena kualitasnya kurang baik sehingga sekarang sepeda-sepeda tersebut sudah digudangkan karena banyak yang rusak.

Selama konferensi ICEEI 2011 kemarin, saya beberapa kali menggunakan sepeda gratis ini untuk bolak-balik dari LabTek V ke Aula Barat dan Aula Timur. Asyik euy bersepeda sambil keliling kampus menikmati udara segar dan pohon-pohon yang rindang.

Semoga saja sepeda-sepeda tersebut tetap awet dan tidak dicuri. Agak riskan juga menjaga keamanan sepeda ini, kalau saja ada pencuri yang melemparkan sepeda itu ke arah jalan Tamansari, hilang deh itu sepeda. Kawasan kampus ITB dekat Jalan Tamansari seperti foto saya di atas memang terkesan sepi. Mari kita jaga sepeda-sepeda itu ya.

Bandung Lautan Durian

Berton-ton truk berisi durian dari Sumatera masuk kota Bandung hari-hari ini. Hampir di mana-mana di pinggir jalan kita temukan pedagang durian dengan mobil bak terbuka dikerubungi pembeli. Mereka biasanya berjualan mulai dari sore hingga malam hari, yaitu saat-saat pas makan durian.

Seperti pedagang durian yang saya temui di pinggir jalan Supratman ini. Kata pedagangnya durian yang dibawanya berasal dari Bengkulu. Harganya bervariasi, mulai dari 5000, 10000 hingga 20.000 rupiah per biji bergantung pada ukurannya. Selain durian Sumatera, banyak juga durian lokal dari Parung, Garut, dan Tasikmalaya ikut bersaing. Namun menurut saya nih tetap durian asal Sumatera yang maknyus.

Karena setiap hari melintasi pedagang durian ini kala pulang dari ITB, saya pun tertarik membeli buah durian yang harganya Rp20.000. Pedagang mencoba memilihkan durian yang bagus. Diambilnya sebuah durian, dibuka sedikit dan saya dipersialakn mencicipi buahnya. Jika deal, durian bisa dibawa pulang atau dimakan di pingir jalan itu, tetapi jika rasa buahnya hambar atau tidak enak, pedagang memilihkan yang lain lagi. Begitu seterusnya sampai pembeli menemukan durian yang enak.

Jika dipikir-pikir, dengan cara pembelian durian yang iteratif seperti itu apakah pedagang tidak rugi? Sebab, dari seluruh durian yang dibawanya, mungkin hanya 2/3 saja yang bagus, sisanya yang sebagai tester tidak terjual. Ah…. mungkin pedagang durian ini sudah berhitung-hitung untung dan ruginya, makanya buah durian tidak dijual dengan harga murah untuk mengimbangi kerugian dari buah tester yang tidak laku.

Kata teman saya, kalau memilih durian dari mobil bak terbuka itu harus hati-hati. Mungkin saja buah durian di dalam mobilnya sudah dicampur dengan durian lokal. Bagian atas durian Sumatera, bagian bawahnya durian asal Parung. Namanya juga pedagang, tidak semuanya jujur, sebagian ada juga yang nakal.

Wajah SMP Negeri 8 Padang Setelah 29 Tahun Waktu Berlalu

Tanggal 9 Juli 2011 yang lalu saya sengaja pulang ke Padang untuk menghadiri acara reuni pertama alumni SMP 8 Padang lulusan tahun 1982. Acaranya diadakan pada hari Sabtu, cukup banyak juga teman-teman dan guru-guru yang pernah mengajar kami datang. Sebagian guru itu sudah ada yang dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, hanya sebagian yang masih hidup inilah yang bisa datang menemui kami anak didiknya. Thank to Mark Zuckenberg si penemu fesbuk, berkat jejaring sosial yang dia buatlah maka kami bisa bertemu dan berkumpul kembali setelah 29 tahun berpisah ketika tamat SMP pada tahun 1982. Kalau kita kuliah di perguruan tinggi maka angkatan kita diberi nama dengan tahun masuk kuliah, tetapi ketika di SD, SMP, dan SMA angkatan kita diberi nama tahun kita lulus karena kita lulus bersama-sama. Angkatan kami adalah angkatan 1982 yaitu lulusan tahun 1982.

Foto bersama alumni Angkatan 1982 di depan sekolah:

Tidak penting benar menceritakan acara reuni tersebut. Biasalah acaranya, kangen-kangenan dan nostalgia masa sekolah. Bagi saya sendiri inilah pertama kali saya menjejakkan kaki di sekolah ini kembali setelah 29 tahun saya tidak pernah ke sana lagi. Setamat SMP saya diterima di SMA 1 Padang, sedangkan sebagian besar teman-teman saya sekolah di SMA 4 Lubuk Begalung. Apalagi setelah saya kuliah di Bandung, terputuslah “hubungan” dengan SMP 8 ini dan teman-teman sekolah. Tanggal 9 Juli 2011 kemarin menyimpan keharuan bagi saya ketika menjejakkan kaki di sekolah ini kembali.

Sekarang sekolah ini sudah berubah. Dulu ketika saya sekolah, SMP ini adalah SMP pinggiran yang tidak banyak dilirik, “terpencil” (maklum Padang dulu masih belum luas), dan tidak masuk “hitungan”. Sekarang? Hmmm… SMP 8 Padang sudah menjadi sekolah RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) dan menjadi SMP bergengsi, SMP pilihan dan nomor 1 di Sumatera Barat. Murid-muridnya brilian, seleksi masuknya ketat. Seperti jamak SMP favorit di mana saja, otomatis ia menjadi sekolah “mahal”, sehingga tentulah yang masuk ke sana adalah orang-orang “the have”. Dulu boleh dihitung anak yang diantar sekolah dengan mobil hanya satu atau dua orang, sekarang barisan mobil berderet di depan sekolah menjemput anak pulang sekolah.

Saya melemparkan kembali ingatan pada tahun 1979, ketika saya tamat sekolah dasar di SD Muhammadiyah Sawahan (1979 adalah tahun yang sudah lama ya). Biasanya rayon SD saya (sekarang SD tersebut sudah tidak ada) untuk mendaftar di SMP adalah di SMP 5 Padang. Begitulah setiap tahunnya, alumni SD kami melanjutkan di SMP 5. Tetapi ketika saya lulus, rayon itu berubah menjadi SMP 8. Terus terang saya tidak tahu di mana letak SMP 8 itu. Bagi saya tahunya ya hanya SMP 1, SMP 2, dan SMP 5, karena itulah sekolah yang sering saya lewati kalau jalan-jalan di kota dan menjadi dambaan setelah lulus SD kelak.

Ada sedikit perasaan berat hati ketika saya harus mendaftar di SMP 8. Dari informasi yang saya dengar, SMP 8 itu adalah filial dari SMP 1 alias “kelas jauh”, wah bertambah sedihlah saya. Saya meminta kepada ibu saya agar saya bisa mendaftar di SMP 1, bukan di SMP 8. Ibu saya mencoba mendatangi kantor Kelurahan untuk mengurus surat pindah rayon, eh..ternyata Lurah malah mengatakan tidak usah pindah rayon sambil mengatakan SMP 8 itu bagus, baru, dan sederet kata-kata yang membesarkan hati.

Akhirnya saya mendaftarlah ke sana. Saya sendirian pergi mendaftar, tidak diantar orangtua (beda dengan anak sekarang, mendaftar sekolah saja orangtua yang mengurus. Anak-anak zaman sekarang memang kurang bisa mandiri). Olala… benar saja, sekolah ini masih baru, letaknya di tengah-tengah persawahan, dan agak jauh dari jalan raya. Ia memenuhi kriteria sekolah yang ideal, yaitu berada di lingkungan hijau dan jauh dari polusi jalan raya, halamannya luas lagi. Ketika saya datang mendaftar ke sana, saya pun langsung “jatuh hati” dengan sekolah ini. Benar kata Pak Lurah itu. Singkat cerita saya mantap sekolah di sini, menjadi siswa angkatan ketiga, yang berarti sudah ada dua angkatan sebelumnya yang bersekolah. Saya mempunyai teman-teman yang banyak dan guru-guru yang baik. Alhamdulillah berkat anugerah dari Ilahi saya punya prestasi cemerlang di sekolah ini, yang akhirnya mengantarkan saya jadi seperti sekarang.

Sekarang kalau dipikir-pikir kembali saya tidak pernah menyesali bersekolah di sini, malah saya sangat bersyukur pernah di sana. Barangkali inilah takdir hidup yang sudah digariskan Tuhan buat saya yang harus saya jalani. Kalaulah saya tidak bersekolah di SMP 8 ini, mungkin saya tidak pernah sekolah di SMA 1 Padang. Kalaulah saya tidak sekolah di SMA 1, mungkin saya tidak pernah kuliah di ITB, dan akhirnya menjadi dosen di ITB ini hingga sekarang. Itulah misteri perjalanan hidup yang kita tidak pernah tahu. Satu-satunya yang saya sesali adalah saya sama sekali tidak memiliki foto-foto kenangan semasa SMP. Mungkin kamera pada zaman itu belum banyak yang punya, atau wajah saya bukan tipe “camera-face”, he..he..

Selesai acara reuni, saya berkeliling sekolah sendirian, mengenang di mana saya dulu pernah hadir. Inilah beberapa foto yang membangkitkan nostalgia. Tentu saja wajah fisik sekolah ini sudah banyak berubah, namun masih ada beberapa bagian yang masih asli.

1. Tampak depan gedung sekolah SMP 8 Padang kini

2. Dari jauh tampak ruang kelas paling depan sebelah kiri (depan mobil yang parkir), itulah ruang kelas saya ketika di kelas 1

3. Ini ruang kelas 1 yang saya tempati dulu, sekarang furniturnya sudah bagus, maklum sekolah RSBI

4. Lorong kenangan di depan kelas III, masih seperti dulu, belum banyak berubah

5. Ruang guru, masih sama seperti dulu

6. Ruang di belakang kantor guru, dulu ini tempat parkir sepeda kami, sekarang jadi tempat menaruh piala-piala. Saya dulu ke sekolah naik sepeda mini, dari rumah di Sawahan ke SMP 8 di Marapalam yang jaraknya sekitar 5 km.

7. Banyak bangunan-bangunan baru di sekolah ini yang dulu belum ada.

Dulu di tengah sekolah ada lapangan voli, sekarang sudah sudah tidak ada lagi, berganti dengan bangunan tempat latihan kreativitas.

8. Bangunan kembar di sebelah kanan

9. Siswa-siswa berprestasi pembangkit motivasi

10. Jalan di samping sekolah. Sawah-sawah di sekeliling sekolah sudah tidak ada lagi, sudah berganti dengan rumah-rumah mewah.

Foto-Foto Pameran dan Kompetisi Poster TA/Thesis yang ke-2

Kemarin di Informatika ITB baru saja dibuka pameran dan kompetisi poster Tugas Akhir dan Thesis mahasiswa S1 dan S2 di lorong lantai 2 Labtek V. Ini adalah penyelenggaraan yang kedua kalinya dan diharapkan dapat ditradisikan menjelang wisuda-wisuda selanjutnya. Penyelenggaraan yang pertama dapat dibaca pada tulisan saya yang terdahulu.

Pameran poster ini sebagai bentuk apresiasi terhadap karya TA/Thesis mahasiswa sekaligus sebagai sarana bagi mahasiswa untuk mengkomunikasikan karya tugas akhirnya kepada publik. Poster-poster itu akan dipajang hingga wisuda Oktober yang akan datang sebelum digantikan dengan poster yang baru. Jadi, kalau anda sempat mampir ke Labtek V, silakan menyusuri lorong Lantai 2 dan melihat-lihat poster di dinding.

Di bawah ini beberapa foto pameran poster yang berhasil saya jepret.

1. Spanduk pameran ini sengaja dipasang untuk menutupi dinding yang terbakar (sampai sekarang tidak diketahui siapa pelakunya)

2. Salah lima poster TA yang ditampilkan

3. Seorang mahasiswa, Abraham Ranardo (IF2007) menjelaskan posternya kepada pengunjung.

4. Juri (Pak Imam) melakukan pertanyaan singkat kepada mahasiswa. Poster ini dilombakan dan materi poster dinilai berdasarkan tanya jawab.

5. Suasana lorong lantai 2. Mahasiswa siap menjelaskan posternya kepada penunjung.

6. Selain poster, mahasiswa menyiapkan juga demo program TA, seperti yang dilakukan Alafdho Kasrah (STI’2007) ini.

Kesaksian: TKW Asal Indonesia di Arab Saudi Banyak yang Berperilaku Buruk

Selama ini kita mendengar kisah-kisah penderitaan TKW Indonesia yang bekerja di Arab Saudi hanya dari satu pihak saja, yaitu dari para korban dan dari media. Pada akhirnya kisah-kisah tragis tersebut melahirkan kebencian kepada etnis Arab dan menyerempet juga kepada agama Islam. Hal ini tercermin pada komentar-komentar pembaca di media daring yang bernada hujatan dan kebencian kepada bangsa Arab (dan juga dikait-kaitkan dengan Islam).

Agar lebih obyektif dan berimbang, di bawah ini ada kesaksian berbeda dari WNI yang menetap di Arab Saudi — dan bersuamikan orang Arab — yang menceritakan perilaku TKW di Arab Saudi yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Ternyata sebagian TKW itu memang sudah bermasalah dari tanah air, dan sebagian lagi memiliki niat yang tidak baik menjadi TKW ke Arab. Maka kalau sebagian majikan Arab Saudi ada yang melakukan kekerasan kepada para TKW tersebut, kita jadi tahu apa penyebabnya.

Kesaksian ini dikutip seluruhnya dari blog di Kompasiana yang berjudul Sisi Lain Cerita TKW di Saudi Arabia (bagian 1 dan 2) :

http://luar-negeri.kompasiana.com/2010/07/01/sisi-lain-cerita-tkw-di-saudi-arabia-bagian-1
http://luar-negeri.kompasiana.com/2010/07/02/sisi-lain-cerita-tkw-di-saudi-arabia-bagian-2

Selamat membaca.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sisi Lain Cerita TKW di Saudi Arabia (bagian 1 dan 2)

Seringkali saya membaca postingan rekan-rekan di Kompasiana, tentang kisah-kisah pilu dan menyedihkan para TKW yang bekerja di Saudi Arabia. Kisah-kisah itu diangkat berdasarkan cerita para TKW ataupun hanya sebatas pengamatan selintas tentang keadaan para TKW saat mereka bertemu di mall-mall, restaurant ataupun di Rumah Sakit.Sebetulnya kalau kita mau jujur terhadap diri kita sendiri, para TKW/PRT itupun sudah diperlakukan tidak layak dan tidak manusiawi sejak sebelum keberangkatan mereka ke Saudi. Pernahkah teman-teman melihat pemandangan di bandara Soeta (Soekarno-Hatta), bagaimana para petugas, baik petugas dari PJTKI-nya atau petugas bandara memperlakukan para ‘pahlawan devisa’ itu yang akan diberangkatkan ke Saudi Arabia khususnya..??

Mereka digiring-giring seperti ternak. Seringkali mereka dibentak-bentak bahkan dicaci maki. Saya sering melihat pemandangan seperti itu, karena setiap 6 bulan sekali atau 1 tahun sekali saya pulang pergi Riyadh- jakarta, Jakarta-Riyadh. Pemandangan seperti itu, bukan pemandangan yang langka. Para TKW-TKW itu setelah digiring-giring seperti bebek, mereka biasanya duduk bergerombol di lantai. Ada pemandangan yang berbeda tentang kelakuan dan tingkah para TKW itu, dari mereka yang akan berangkat ke Saudi dengan tingkahnya mereka yang akan pulang ke Indonesia.

Para TKW yang bergerombol di bandara Soeta, kebanyakan mereka diam dan tidak banyak omong. Tapi coba perhatikan para TKW di bandara KKIA Riyadh yg mau pulang ke Jakarta. Berisiknya minta ampun! Kalau ngomong saja sampai teriak-teriak, bahkan pernah saya lihat ada yang joget-joget segala, sampai-sampai ditegur oleh satpam bandara KKIA.Back to topic. Di bandara Soeta, dokumen-dokumen keberangkatan para TKW saya perhatikan semuanya sudah diurus oleh petugas dari PJTKI masing-masing.

Setelah masuk ruang tunggu pesawat dan terbang ke Saudi, barulah para TKW itu bertanggung jawab atas dirinya masing-masing. Ketika mereka sudah ada dalam pesawat Saudia/GIA. Mulailah para pramugari yang di uji kesabarannya oleh para TKW. Saya memperhatikan, betapa seringnya para pramugari yang cantik-cantik itu membersihkan lavatory/wc. Sambil tidak henti-henti memberikan pengarahan kepada para TKW yang menggunakan lavatory. Coba lihat lantai lavatory yang menjadi penuh air, karena para TKW tidak tahu caranya cebok, tidak tahu caranya membuang tissue-tissue. Semuanya berceceran di lantai. Bahkan cara mengunci wc pun mereka tidak tahu..

Kalau kebetulan saya ingin menggunakan wc, tak jarang saya pun ikut-ikutan memberi tahu mereka. Bahkan setiap saya pulang atau pergi Riyadh – Jakarta, saya pasti dan selalu menjadi sekretaris dadakan para TKW untuk mengisi kartu-kartu kedatangan mereka.
Tahukah teman …? kalau banyak para TKW yang buta huruf…?
Bahkan banyak dari mereka itu yang tidak bisa berbahasa Indonesia …??!
Mereka hanya bisa bahasa dari daerahnya sendiri.
Jangankan bisa bahasa Arab untuk berkomunikasi dengan majikan, bahasa Indonesia pun mereka banyak yang tidak tahu…? Apalagi bahasa Inggris…? Itu sih bisa dihitung dengan jari kelingking.
Mungkin dari 1 juta TKW yang ke Saudi, cuma 1 yang bisa sedikit ngerti english … Itu kenyataan teman-teman..
Menyedihkan bukan..??
Terus apa yang mereka lakukan selama mereka ada di penampungan..????
Ternyata adanya balai latihan kerja itu sepertinya hanya formalitas saja. Kadang-kadang tidak ikut latihan kerja pun mereka sudah bisa punya sertifikatnya. Halahhhh …. tahu sendiri lah, di negara tercinta kita ini apapun bisa dibeli asal ada uang!
Level korupsinya sudah dari level paling rendah sampai level paling tinggi.
Berdasarkan sumber yang bisa dipercaya (para TKW-TKW khususnya yang ke Saudi) selama mereka berada di penampungan itu untuk mengurus dokumen-dokumen sambil menunggu datangnya visa, para TKW-TKW itu tidak belajar apa-apa.
Mereka hanya tidur-tiduran, makan, minum, ngobrol-ngobrol sampai malam, merokok (tentu saja tidak ketahuan para pengawas penampungan). Apalagi konon katanya, para TKW yang mau berangkat ke Saudi itu, diberi uang saku sekitar 1,5 jt-2 jt dari PJTKI. Banyak dari mereka itu yang menghabiskan uangnya untuk jajan, makan-makan dan merokok.

Setelah mereka sampai di bandara King Khalid Riyadh. Karena tidak ada petugas dari PJTKI yang mengarahkan mereka, jadilah gerombolan para ‘pahlawan devisa’ itu seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Bagaimana tidak dibentak-bentak oleh petugas orang Saudi, kalau mereka disuruh berbaris di sebelah kanan, para TKW masih tetap bergerombol di sebelah kiri. Disuruh mengantri satu-satu, malah mereka saling berebut. Disuruh memperlihatkan paspor dan kartu kedatangan, mereka malah melongo bego. Ya iyalahhhh …. petugas mana yang tahann….?! Apalagi orang Saudi kebanyakan tidak sabaran, dan suaranya yang kenceng-kenceng. Habislah para TKW itu dibentak-bentak.

Jangankan oleh petugas orang Saudi yang tidak bisa berbahasa Indonesia, wong oleh petugas orang Indonesia yang sebangsa saja, para TKW itu sering dibentak-bentak koq.
Setelah mereka selesai diproses di imigrasi dan selesai mengambil bagasi. Mereka semua dikumpulkan dan di data. Sementara paspor para TKW itu akan dipegang oleh petugas imigrasi. Setelah itu mereka akan dibawa ke ruangan tunggu khusus TKW,
sambil menunggu dijemput oleh majikan masing-masing.Para TKW-TKW itu tidak akan dikeluarkan dari ruangan tersebut, kecuali dijemput oleh majikannya yang nama majikannya tertera di paspor mereka. Bahkan kalau nama penjemput mereka itu tidak sesuai dengan nama yang ada dalam paspor TKW, penjemput tersebut harus memperlihatkan surat kuasa penjemputan dari calon majikan asli TKW itu. Itulah alasannya mengapa para TKW di bandara King Khalid dikumpulkan sebelum mereka dimasukkan ke ruang tunggu.

Calon majikan berada di luar sambil memelototi screen tv monitor. Di sana akan disebutkan nama TKW lengkap nama majikan dan nomor urut TKW. Kalau nama-nama sudah cocok, para majikan akan lapor ke meja petugas sambil memperlihatkan kartu ID asli. Setelah itu mereka akan memanggil TKW yang bersangkutan dan memberikan paspornya.
Setelah TKW dan majikannya menandatangani surat-suratan, barulah TKW itu bisa keluar mengikuti majikannya. Itu prosedur yang masih saya ingat. Kenapa saya tahu tentang prosedur tersebut..? Karena saya pernah satu kali mengambil pembantu dari PJTKI Jakarta. Biaya yang dikeluarkan majikan untuk mengambil TKW, kurang lebih 28 jt. Bahkan ada yang membayar lebih dari itu..

Untuk teman-teman yang berada di Indonesia khususnya, ini sekedar informasi saja. Tidak semua TKW yang datang dan bekerja di Saudi Arabia itu semuanya mempunyai majikan WN Saudi.
Di Arab Saudi ini semua warga negara tersedia di sini. Jadi para TKW itu ada yang punya majikan yang memang WN asli Saudi, tapi tidak sedikit majikan-majikan mereka itu warga negara lain yang mukim dan tinggal di Saudi Arabia. Soalnya masyarakat kita yang ada di Indonesia kan tahunya, kalau TKW bekerja di Saudi Arabia sudah pasti saja majikannya warga negara Saudi. Padahal tidak begitu… lho…!! Ada yang majikannya WN Turky, Mesir, Siria, Lebanon, Palestina, Jordan, USA, Pakistan, India dan lain-lain sebagainya… (capek kalau harus nyebutin satu satu mah … hehehe..).

Sudah hampir 10 tahun saya menetap di Saudi Arabia, mengikuti suami yang WN Saudi. Karena menetap di sini, tentu saja saya sering sekali menjumpai para TKW di luar rumah, baik di rumah-rumah para kerabat suami saya, ataupun di rumah-rumah teman saya yang orang Saudi, berjumpa di pesta-pestanya orang Saudi, bertemu di mall-mall, di rumah sakit (mengantar majikan-ajikannya yang sakit), di restaurant, juga di tempat bermain anak-anak. Seringkali saya menjadi penerjemah dadakan karena para TKW tidak mengerti sama sekali perintah-perintah majikannya.

Kalau anda sudah lama tinggal di Saudi dan anda sering belanja di toko-toko Indonesia, seringkali kita akan melihat ada TKW-TKW yang memang sedang berbelanja atau TKW-TKW kaburan (melarikan diri dari majikan) yang menunggu dijemput seseorang.
Tahukah anda …?? Kalau para TKW ilegal di sini jumlahnya hampir sama banyaknya atau mungkin lebih banyak jumlahnya daripada TKW yang legal. Para TKW kaburan kebanyakannya bukan karena disiksa majikan atau karena tidak digaji majikan. Tapi banyak dari mereka yang kabur itu karena keinginannya sendiri. Ada yang alasannya karena mereka ingin mendapatkan gaji yang lebih besar dari gaji yang didapat dari majikan asli. Bahkan banyak yang jadi TKW kaburan karena mereka ingin bebas hidup bersama pacar-pacarnya (para sopir-sopir Indonesia, atau pekerja asing lainnya seperti Pakistan, Bangladesh, India). Dan
bukan rahasia lagi kalau di sini ada sindikat/mafia yang akan menampung para TKW kaburan.

Seringkali saya membaca di surat kabar lokal, kalau polisi telah merazia beberapa apartemen/rumah-rumah kontrakan yang penghuninya hampir 99% TKW ilegal asal Indonesia. Dan ternyata mereka melakukan praktek pelacuran! Tarifnya cuma 50 sr (120 rb) sekali pakai. Germo wanitanya kebanyakan orang Indonesia asli, pasangan germo yang laki-laki seringkali orang Pakistan atau Bangladesh. Menurut pengakuan mereka, kostumernya kebanyakan sopir-sopir taxi orang Pakistan atau
pekerja kasar orang Bangladesh dan India. Bahkan terkadang ada juga sopir-sopir orang kita sendiri.

Konon katanya di Jeddah, banyak TKW ilegal asal Indonesia yang diam-diam membuka praktek pelacuran. Para PSK asal negara kita itu bukan hanya TKW kaburan saja, bahkan banyak yang datang menggunakan visa umrah. Begitu sampai di Jeddah mereka tidak pulang lagi ke Indonesia, tapi mereka memilih menjadi TKW ilegal. Itu bukan menjadi rahasia umum lagi di sini… Sepertinya setiap orang yang sudah lama mukim di sini pasti sudah pada tahu soal itu.

Pemerintah Saudi Arabia sebetulnya terlalu baik terhadap para TKW ilegal tersebut. Kenapa ….?? Karena menurut pengakuan para TKW-TKW ilegal itu, kalau mereka sudah ingin menghentikan petualangannya sebagai TKW ilegal dan ingin secepatnya pulang ke Indonesia, maka mereka akan menyerahkan dirinya sendiri ke kantor polisi (jadi bukan polisi yang menangkap mereka, tapi seringkali TKW-TKW ilegal itu yang datang ke kantor polisi menyerahkan diri minta ditangkap). Karena dengan cara itulah para TKW akan dideportasi ke Indonesia dengan gratis (biaya tiket ditanggung oleh pemerintah Saudi Arabia).
Oleh polisi, para TKW itu akan dijebloskan dulu ke penampungan-penampungan khusus bagi TKW yang bermasalah atau bahkan banyak juga para TKW ilegal itu ditampung di penjara-penjara wanita, sebelum menunggu proses dipulangkan.

Kalau mereka di interogasi, mereka akan memberi alasan kabur dari majikan karena dipukuli dan lain-lain sebagainya.., dan mereka memberi alasan tidak tahu alamat lengkap majikannya. Bagaimana polisi mau mencari majikan para TKW tersebut kalau
si TKW memberi alasan tidak tahu alamat majikannya ….?? Akhirnya TKW-TKW itu ditempatkan di penampungan-penampungan dan sudah pasti akan dipulangkan ke Indonesia.

Wahhhh … teman-teman jangan berfikiran bahwa penampungan/penjara wanita di Saudi menakutkan…. Menurut sumber yang bisa dipercaya kebenarannya, penampungan/penjara wanita di Saudi Arabia itu tempatnya sangat bagus. Makanan berlimpah ruah, malah konon katanya mereka mendapat jatah uang bulanan untuk membeli perlengkapan mandi sekitar 60 sr (kurang lebih 140 rb) per bulannya. Sementara mereka cuma tidur, duduk-duduk, nyanyi-nyanyi dan menikmati hari-harinya sambil menunggu waktu mereka di deportasi ke Indonesia.

Kenapa saya tahu banyak tentang keadaan penampungan/penjara wanita itu? Karena saya pernah punya TKW yang menurut pengakuannya, ternyata dia sudah 7 kali bekerja di Saudi Arabia, dan dia pernah 3 kali menjadi TKW kaburan, dan 4 kali menjadi TKW sukses. Untungnya dia termasuk TKW kaburan yang baik, yang tidak pernah menjadi PSK, dan saya percaya itu. Selama bekerja pada saya selama 3 tahun, si mbak sebut saja namanya Sumi, dia sering menceritakan kisah-kisah petualangannya selama menjadi TKW kaburan, termasuk selama dia berada di penjara wanita.

Dia juga menceritakan kisah teman-temannya sesama TKW ilegal yang sama-sama di penampungan. Jadi kalau ada TKW yang pulang ke Indonesia dalam keadaan hamil, terus mengaku diperkosa oleh majikan laki-laki/anak majikan laki-laki. Kita tidak harus begitu saja mempercayai omongan TKW-TKW itu. Karena kenyataannya di sini, banyak sekali para TKW yang dihamili oleh pacar-pacarnya. Bukan diperkosa, tapi suka sama suka.

TKW yang hamil karena diperkosa memang ada, tapi mereka yang hamil karena suka sama suka atau akibat karena melacurkan diri juga banyak. Itu sudah bukan rahasia lagi di sini.. Sebagai seorang WNI, terus terang saya malu juga dengan kelakuan sebagian mereka yang tidak bertanggung jawab itu.Belum lagi di Saudi ini, para TKW dari Indonesia itu terkenal sekali dengan sihirnya. Sementara di negara Saudi hukuman untuk yang melakukan sihir sangat berat sekali. Jadi kalaupun ada TKW yang tidak pernah menyantet majikannya, tetep aja kadang-kadang jadi kena getahnya. Cerita ini bukan omong kosong belaka. Saya punya banyak rekan kerja orang Saudi. Hampir semua pembantu mereka pasti orang Indonesia.

Pernah ada keluarga pamannya teman sekantor saya yang menjebloskan pembantunya yang orang Indonesia ke penjara, karena ketahuan TKW itu memasukkan air kencing ke dalam minuman majikan laki-lakinya. Bodohnya TKW tersebut, dia memasukkan air kencingnya ke dalam air putih, bukan ke dalam air teh/kopi. Terang saja majikannya itu curiga, kenapa air minumnya berwarna kekuning-kuningan. Karena disangka majikannya air itu mengandung racun, akhirnya air itu dibawa ke laboratorium. Hasilnya ketahuan, kalau air putih itu mengandung air kencing. Setelah di interogasi, TKW itu mengaku kalau dia memang sengaja memasukkan air kencing kedalam minuman majikannya, supaya majikannya tunduk atau menyayangi TKW itu. Bahkan katanya lagi dia pernah memasukkan darah menstruasi dia ke dalam masakan-masakan untuk disantap majikannya. Menurut keterangannya, dia tidak sendirian melakukan hal-hal menjijikan tersebut, tapi hampir sebagian TKW yg datang ke Saudi melakukan hal seperti itu, karena mendengar cerita dari senior-seniornya yang eks Saudi selama di penampungan di Jakarta. Terus mempraktekannya.

Akhirnya ketahuan dan dijebloskan ke penjara.
Teman saya yang orang Saudi itu, sampai khusus datang kepada saya dan bertanya, kenapa banyak TKW yang melakukan perbuatan seperti itu..??
Bukankah dalam Islam itu merupakan dosa besar..??
Dan TKW-TKW itu beragama Islam..??
Saya sendiri bingung harus menjawab apa..??
Kenapa para TKW itu berbuat hal-hal menjijikan seperti itu, saya sendiri tidak tahu..??
Karena saya kan bukan TKW…. hahahahahahaha…

Karena cerita itu berkembang dari mulut ke mulut, akhirnya saya dengar, banyak rekan-rekan orang Saudi yang punya pembantu orang Indonesia memulangkan pembantunya. Alasannya, mereka takut makanan mereka dicampur oleh air kencing atau dicampur darah menstruasi. Dan sekarang ini banyak orang Saudi yang mengambil pembantu dari Vietnam.

Pernah saya mendapat pertanyaan konyol dari seorang Saudi, “Di Indonesia ada listrik gak…?? Ada telpon gak..?? Ada Mac Donald gak…??” Saya jawab saja: ”Tidak ada….!!! Kami orang Indonesia masih hidup di gua-gua…!!” hahahahahahaha..
Ternyata orang itu punya alasan sendiri, kenapa mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Karena dia punya pembantu dari Indonesia yang tidak tahu caranya menggunakan setrika, mesin cuci atau alat-alat lainnya yang menggunakan listrik.. Mereka membandingkan dengan keadaan di sini. Semiskin-miskinnya orang Saudi, semua alat-alat rumah tangganya kan sudah modern dan menggunakan listrik. Dassarrrr… katro…!! Hahahahaha…

Sekitar 3 tahun yang lalu, ketika saya berkunjung ke rumah mertua di luar kota Riyadh. Saya diperkenalkan dengan pembantunya tetangga dari mertua saya. Sebut saja namanya Yuyun. Baru kenal saya satu hari, Yuyun sudah menceritakan kalau dia punya pacar orang Yaman yang berjanji akan menikahinya kalau Yuyun pulang cuti nanti (kebetulan, Yuyun janda dengan anak dua). Yuyun menceritakan betapa baik si Yaman pacarnya itu. Suka memberinya Indomie, pulsa, dan uang jajan.

Oia, Yuyun juga menceritakan kalau si Yaman itu suka masuk diam-diam ke kamar Yuyun, kalau majikan-majikannya sudah tidur (majikan Yuyun cuma berdua, sepasang suami isteri yang sudah tua).
Wahhhh…. ternyata si Yuyun ini nekat juga. Ngapain aja hayohh…??
Kalau sudah berduaan di dalam kamar..?? Tidak mungkin kan cuma maen pasir… hehehehehe.
Saya sudah wanti-wanti sama si Yuyun, supaya tidak melakukan hal-hal bodoh seperti itu. Di Saudi ini kan yang namanya pacaran tidak diperbolehkan. Kalau ketahuan bisa dihukum karena ada aturannya. Ternyata Yuyun mungkin sudah tak tahan juga. Setiap hari memasukkan si Yaman, lama-lama masuk angin… Ketika kandungannya menginjak 4 bulan, si Yamani kabur entah kemana.

Tinggallah Yuyun dengan perut buncitnya.
Untung majikan Yuyun baik hati. Yuyun cepat-cepat dipulangkan ke Indonesia.
Karena kalau sampai melahirkan di sini tanpa ada surat nikah resmi, Yuyun bersama bayinya bisa dijebloskan ke penjara. Selamatlah Yuyun dari hukuman cambuk karena kebaikan hati majikannya. Itu kalau pas kebetulan majikannya baik hati, pembantunya hamil cepat-cepat dipulangkan untuk menyelamatkan pembantunya.
Coba kalau majikannya yang tidak mau mengerti. Mengetahui perut pembantunya yang tiba-tiba melendung tanpa ketahuan tukang pompanya, boro-boro dipulangkan, malah kalau gak diserahkan ke kantor polisi, bisa-bisa malah langsung dibuang di
kolong jembatan layang.

Dan waktu pulang ke Indonesia dengan membawa orok, untuk menutup malu biasanya para TKW itu akan mengarang cerita kalau oroknya itu hasil diperkosa atau hasil dipaksa.. Padahal setelah beberapa lama kemudian, TKW itu akan kembali daftar ke
PJTKI untuk kembali bekerja sebagai TKW di Saudi Arabia. Itulah sebabnya, walaupun Saudi Arabia banyak dicaci maki di Indonesia oleh orang-orang yang tidak tahu kejadian sebenarnya, tapi tetap saja PJTKI selalu kebanjiran calon-calon TKW untuk minta diberangkatkan ke Saudi Arabia. Kalau teman-teman tidak percaya, coba temen-temen cek dan ricek ke PJTKI-PJTKI di Jakarta.

Teman-teman akan mengetahui.. ada berapa ribu TKW-TKW yang sedang menunggu mendapatkan visa untuk bekerja di Saudi Arabia. Dan saya yakin sekali kalau di Saudi Arabia, banyak sekali para TKW yang semodel dengan si Yuyun..
Pemerintah Saudi bukan tidak berusaha menekan serbuan datangnya para TKW ilegal.
Khususnya yang datang dari Indonesia. Mulai dari 2 tahun yang lalu. Semua warga asing yang tinggal di Saudi Arabia, harus disidik jari lagi, diphoto lagi di imigrasi untuk disimpan di database mereka. Konon katanya untuk mencegah masuknya kembali TKW ilegal yang pernah dideportasi ke luar dari Saudi Arabia.

Jadi para tenaga kerja asing yang pernah bermasalah di Saudi Arabia, tidak akan bisa mudah masuk begitu saja, walaupun mereka sudah mengganti paspor bahkan mengganti namanya.

Saya masih ingat pesan si mbak Sumi, bekas pembantu saya dulu, ”Ibu, kalau nanti saya sudah pulang, dan ibu mau mengambil TKW dari Jakarta lagi. Ibu harus hati-hati. Jangan mengambil TKW yang asalnya dari T, P, B, L, S, C, M… karena banyak TKW-TKW dari sana yang jahat-jahat. Saya kasihan sama ibu kalau ibu mendapatkan TKW yang jahat. Karena ibu orangnya baik … (hehehehe saya disebut baik, padahal saya bawel sekali.. hahahaha ). Saya kasihan sama si putri kalau diasuh oleh TKW yang tidak baik. Kalau saja saya tidak akan menikah lagi, saya mau selamanya bekerja di rumah ibu. Ibu harus tahu, tidak semua TKW itu datang ke sini karena mereka mau menjadi TKW.

Banyak lokalisasi pelacuran di Jawa Tengah dan di Jawa Timur yang di gerebek polisi, terus para bekas PSK-PSK itu larinya ke PT, melamar untuk menjadi TKW. Dan kebanyakan mereka milihnya menjadi TKW di Saudi Arabia. Ya … ibu bisa bayangkan, mereka tidak akan menjadi TKW yang baik karena menjadi pembantu itu susah, paling-paling begitu sampai di sini juga para bekas PSK itu akan kembali menjual diri. Jadi ibu harus hati-hati ya bu….!!” Itu pesan si mbak Sumi tercinta (hallo… mbak Sumi sayang…?? Sehatkah mbak…??).
Akhir bulan Mei kemarin, ketika saya sedang di ruang tunggu seorang dokter mengantar kakak saya yang sakit. Kebetulan bertemu dengan seorang TKW yang juga sedang mengantar majikannya berobat.
Saya perhatikan majikannya, seorang perempuan Saudi yang sudah tua. Si majikan itu minta diambilkan air minum dari tas yang dibawa TKW itu. Saya mendengar jelas TKW itu ngomel-ngomel terus dalam bahasa Indonesia. ”Dasar babi, tadi ditawarin tidak mau, sekarang minta …!!” Saya yang mendengar omelan TKW itu, jadi gatal juga. ”Emang di mana ada babi mbak..??!!” Si TKW itu tampak terkejut melihat saya. ”Eh… ibu orang Indonesia..?!” tanyanya.. sambil lalu. Saya sedikit menasehati TKW tersebut untuk sekedar menjaga bahasanya.

Ngomel sih ngomel, tapi masa babi sampai dibawa-bawa…. hahahaha. Kalau majikannya ngerti itu kata babi. Saya yakin tuh TKW sudah ditendang 10 kilometer oleh majikannya… hahahahaha…

Sekelumit kisah2 di atas itu murni berdasarkan pengalaman saya pribadi. Dengan tidak bermaksud mengambil kesimpulan bahwa para TKW/PRT dari Indonesia itu semuanya jahat-jahat. Orang-orang jahat itu ada di mana-mana. Tidak di Saudi Arabia, tidak di Indonesia, tidak di Amerika, tidak di Eropa, tidak di Afrika.
Di semua tempat di belahan dunia ini, orang-orang jahat itu ada.
Dan orang-orang yang baik pun ada. Tidak semua majikan-majikan orang-orang Saudi (khususnya) itu jahat. Yang baiknya juga banyak sekali (makanya banyak sekali para TKW yang betah bertahun-tahun kerja di Saudi Arabia). Majikan yang jahat pun banyak, itu bisa kita lihat dari banyaknya TKW-TKW yang pulang ke Indonesia dengan keadaan babak belur. Bahkan seringkali pulang hanya tinggal nama saja.

Para TKW itu juga tidak semuanya orang-orang baik dan jujur. Banyak sekali mereka yang jahat yang penuh tipu muslihat. Makanya sering diberitakan di koran-koran lokal di sini, kejahatan-kejahatan yang pelakunya TKW/tenaga kerja Indonesia. Baik dan buruknya pengalaman seseorang, tidak menjadi tolok ukur baik dan buruknya satu bangsa/ras tertentu.
Marilah kita sama-sama dewasa dalam menyikapi permasalahan masalah para TKW ini (khususnya para TKW di Saudi Arabia), yang kadang-kadang tampaknya seringkali di dramatisir oleh pihak-pihak tertentu (khususnya orang-orang yang tidak suka dengan Islam/tidak suka bangsa Arab).
Kalau kita mau jujur, negara kita punya andil besar dalam semua permasalahan TKW-TKW yang bermasalah ini. Negara Indonesia yang konon katanya dulu, gemah ripah loh jinawi, ternyata sampai sekarang tidak bisa menyejahterakan rakyatnya.
UUD 45 pasal 34 ayat 1, ”Fakir miskin dan anak anak terlantar dipelihara oleh negara,“ hanyalah kata-kata keramat yang tertera di atas kertas belaka. Pada kenyataannya para penguasa-penguasa di negara kita sampai saat ini belum ada yang berpihak kepada rakyat miskin. Selama angka kemiskinan dan angka pengangguran semakin meningkat, selama itu pula keberadaan para TKW yang tidak
berpendidikan pun tidak akan punah, malah akan semakin banyak dan meningkat. Dan selama itu pula, kita pun akan selalu mendapat suguhan berita, tentang nasib-nasib para TKW yang memilukan. Dan itu merupakan pekerjaan rumah untuk para pejabat penguasa negara Indonesia. Cq terutama bapak menteri tenaga kerja yang sejak tahun jebot sampai tahun 2010 mau segera berakhirpun, belum ada tanda-tanda kapan Pekerjaan Rumah yang satu ini akan segera bisa diselesaikan dengan baik.
Cag dulu ahhhhhhh…..!!

Ditulis oleh: Nining

“Mana Ada Jujur Itu Sekarang, Bang. Jujur Itu Hanya Ada Pada Zaman Nabi:

Ketika lagi menunggu boarding di ruang tunggu bandara, saya secara tidak sengaja “menguping” pembicaraan seorang ibu lewat ponsel dengan seseorang di seberang sana. Ya gimana nggak nguping, si ibu tadi duduk di belakang saya, praktis mau tidak mau saya mendengar apa yang dia omongkan. Dia berbicara dalam bahasa daerah yang saya tahu artinya.

Saya jadi serius mendengar pembicarannya karena dia berbicara tentang uang suap untuk memasukkan seorang anak dari kerabatnnya yang akan mendaftar di sebuah perguruan tinggi swasta. Apalagi dalam pembicaraanya itu menyebut-nyebut ITB segala, makin tegaklah telinga saya mendengarnya. Si anak yang bernama Adi tidak lulus SNMPTN, jadi pilihannya sekarang adalah ke PTS. Sekolah swasta itu dikelola oleh sebuah yayasan.

“Ikut sajalah si Adi tu mendaftar di sana, Bang. Universitas itu bagus juga tuh mutunya. Nanti kalau nilai tes masuknya jelek dan tidak lulus, kasih saja uang dua juta, taruh uangnya di bawah map. Yayasan itu kan lapar uang Bang, pasti dia butuh uanglah”

“Sekarang ini kalau jujur-jujur sudah tidak ada, Bang. Jujur itu ‘kan hanya ada pada zaman Nabi. Apa-apa sekarang ini pakai uang.”

“Nilai rapor saja bisa diminta tinggi supaya bisa lulus PMDK (Jalur undangan. Red). Si Nelly teman saya itu minta kepada guru kelas anaknya agar nilai pelajaran anaknya dikasih 9 di rapor. Nilai 8 saja sekarang tidak bisa PMDK masuk ITB (duh, kok nama institusi saya jadi disebut-sebut nih? Red). Kalau masuk U***d mungkin bisa”

“Makanya kalau urusan sekolah ini serahkan saja pada ibu-ibu, bapak-bapak mana ngerti urusan begini. Bapak-bapak bisanya cuma marah-marah dan main tempeleng saja kepada anak”

Masih banyak lagi cerocos ibu ini yang begitu semangat meminta saudaranya untuk pakai uang pelicin — atau apalah namanya– untuk memasukkan anak kuliah di sebuah sekolah. Baginya tidak masalah berbuat tidak jujur untuk memuluskan tujuan. Dengan asumsi bahwa zaman sekarang ini sogok menyogok itu adalah hal yang lumrah saja, kalau tidak begitu kita bisa kalah sama orang lain. Begitu banyak alasan untuk membenarkan (justifikasi) sikapnya dalam memandang persoalan kehidupan dengan cara meremehkan kejujuran.

Apakah sikap si ibu dalam menganggap enteng persoalan suap menyuap ini mewakili masyarakat kita? Saya tidak berani menggeneralisasi. Namun saya yakin cukup banyak orang yang mempunyai pandangan serupa dimana untuk memudahkan urusan pakai cara-cara suap. Pakai uang suap adalah hal yang dianggap biasa pada zaman sekarang, kalau tidak begitu mana bisa berhasil. Mau masuk sekolah favorit pakai suap, mau jadi PNS pakai uang pelicin, mau lulus ujian pakai uang sogok, mau cepat selesai urusan pakai uang rokok, dan sebagainya.

Kalau ada peluang untuk melakukan suap dan uangnya ada, maka jalan pintas dengan cara-cara tidak terpuji itu mungkin dengan enteng akan dilakukan. Untuk membenarkan perbuatannya maka dipakailah asumsi-asumsi bahwa zaman sekarang mana bisa hidup jujur, jujur hanya ada pada zaman Nabi. Duh!

Ikutan Beli Keripik “Ma Icih”, “Keripik Setan” Gaul dari Bandung

Di Bandung sekarang ada camilan yang lagi heboh. Namanya keripik “Ma Icih”. Keripik ini sangat pedas sehingga dinamakan juga “pikset” alias keripik setan. Selintas keripik pedas Ma Icih ini tidak ada bedanya dengan keripik singkong pedas lain yang banyak dijual di warung atau toko camilan. Keripik ini menjadi heboh karena ia dipromosikan melalui laman jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook, sehingga ia dinamakan juga keripik gaul. Pengusaha keripik ini seorang anak muda yang usianya baru 24 tahun, bernama Reza Nurhilman, jadi wajarlah ia menyasar selera anak muda.

Menariknya, keripik ini tidak djual di warung atau di toko-toko, tetapi penjualnya berpindah secara nomaden. Dengan menggunakan mobil pribadi, penjual keripik Ma Icih — yang disebut distributor — menjajakan dagangannya di tempat-tempat strategis seperti di depan mal, depan toko factory-outlet, depan kampus, dan sebagainya. Sebelum berjualan mereka akan mengumumkan keberadaanya melalui pesan di fesbuk atau twitter. Jadi, pemburu keripik Ma Icih perlu mencari tahu melalui jejaring sosial di mana dan kapan distributor keripik membuka gerainya (kalau di twitter infonya ada di @infomaicih), sedangkan situs web resminya bisa diklik di sini.

Seperti keripik pada foto di atas, saya beli ketika melewati jalan Supratman, di depan sebuah FO. Ketika saya melewati jalan ini, ada distributor keripik Ma icih sedang berjualan.

Pedagangnya adalah seorang perempuan cantik. Kalau melihat dandanan dan mobil yang dia gunakan, maka saya tidak yakin penjual keripik ini menjual keripik untuk mencari keuntungan jangka panjang. Tidak butuh-butuh uang amat sih dari berjualan keripik ini, kata saya. Lha wong udah kaya gitu. Tapi mungkin dia berjualan keripik Ma Icih ini karena ikut-ikutan trend gaul saja.

Dalam sekejap keripiknya habis diborong pembeli, yang sebagian besar adalah wisatawan dari Jakarta. Mereka membeli keripik ini mungkin karena penasaran saja. Apalagi tingkat kepedasan keripik Ma Icih ada beberapa level, mulai dari level terendah (2) hingga level tertinggi (10). Yang paling pedas sehingga membuat mulut huah..huah.. seperti kebakaran tentu saja yang level 10. Saya pikir ini strategi pemasaran yang cerdik dengan membuat level yang bertingkat-tingkat. Pembeli yang sudah mencoba keripik Ma Icih level 2 tentu penasaran untuk mencoba level 3, 4, 5, dan seterusnya. Alhasil mereka akan “memburu” keripik Ma Icih level lainnya untuk memenuhi rasa penasarannya. Itulah salah satu trik yang membuat keripik ini begitu beken dan heboh.

Keripik yang saya beli di atas harganya Rp12.000/bungkus. Lumayan mahal, mungkin karena sedang naik daun. Selain keripik model di atas ada lagi jenis camilan Ma Icih lainnya seperti gurilem dan lain-lain. Namun saya yakin ini keripik kontemporer, nggak bakal panjang umurnya. Nanti juga akan menjadi hal biasa dan akhirnya tidak populer lagi, sama seperti nasib jajanan lain di Bandung yang populer dalam waktu temporer saja, misalnya singkong keju, gehu pedas hot jeletot, dan sebagainya. Namun jika pengusaha keripik MaIcih pandai berimprovisasi dan berkreasi, nasib keripiknya bisa bertahan agak lama.