Kangen Naik Kapal Laut PT Pelni Lagi

Saat-saat musim mudik lebaran seperti ini saya sering terkenang pada masa-masa pulang kampung ke Padang dengan kapal laut milik PT PELNI. Sayang sekali sekarang ini sudah lama tidak ada kapal Pelni yang menyinggahi pelabuhan Teluk Bayur Padang. Dulu, sebelum ada pesawat berbiaya rendah (low-cost), adalah masa-masa kejayaan kapal laut. Naik kapal laut milik PT PELNI biayanya terasa murah. Penumpang tidak perlu memikirkan makan, sebab harga tiket sudah termasuk makan dan akamodasi selama di kapal. Coba kalau naik bus, kita harus mengeluarkan lagi biaya untuk makan selama perjalanan melalui jalan Lintas Sumatera yang panjang itu.

Kapal-kapal modern milik PT PELNI diberi nama dengan nama-nama gunung di Indonesia. Tercatat kapal-kapal bernama KM Kerinci, KM Umsini, KM Kambuna, KM Kelimutu, KM Leuser, KM Lambelu, KM Rinjani, KM Dobon Solo, KM Pangrango, KM Lawit, KM Bukit Siguntang, KM Bukit Raya, KM Sinabung, dan sebagainya. Nama-nama kapal itu tidak pernah diambil dari nama gunung api yang masih aktif. Kalaupun nama gunung api, itu adalah gunung api yang sudah lama tidur (meskipun akhirnya ada juga yang meletus tiba-tiba seperti Gunung Sinabung tahun lalu).

Pulang kampung dengan kapal laut terasa sangat menyenangkan. Selama di perjalanan kita melihat laut, pulau-pulau kecil, kapal nelayan, ikan terbang, dan kalau beruntung dapat melihat ikan lumba-lumba. Angin laut yang segar menjadi teman selama perjalanan. Karena rute kapal ke Padang dari Tanjung Priok selalu melewati selat Sunda, maka kita dapat menyaksikan dari dekat Pulau Krakatau yang legendaris itu. Jika malam hari kita dapat melihat lontaran lava pijar dari puncak gunung.

Saya masih ingat kapal-kapal yang pernah menyinggahi pelabuhan Teluk Bayur adalah KM Kerinci, KM Kambuna, KM Lawit, dan KM Lambelu. Kapal-kapal itu datang seminggu sekali. Rute yang ia tempuh adalah Tanjung Priok, Teluk Bayur, Sibolga, Gunung Sitoli, lalu kembali lagi ke Teluk Bayur, Tanjung priok, dan meneruskan perjalanan ke wilayah Indonesia Timur. Jadi, dengan kapal laut kita bisa menuju kota mana saja, karena kapal PT Pelni itu melayari dari barat ke timur.

Ini adalah foto saya ketika masih muda, pada tahun 1996, berpose di depan KM Lambelu di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, sesaat sebelum berangkat kembali ke Jakarta setelah libur lebaran di Padang. Saya diantar oleh ibu, (alm) ayah, dan saudara.

Kapal-kapal PT Pelni itu mirip seperti hotel terapung. Semua fasilitas ada di sana, mulai dari restoran, kamar yang seperti kamar hotel, bioskop, arena diskotik, toko, TV, shower air panas dan air dingin, dan lain-lain. Tidak ketinggalan musholanya yang luas dan bersih serta kran wudhu yang banyak. Hanya sayangnya, fasilitas bagus itu hanya dapat kita nikmati selagi kapal masih baru, jika sudah bertahun-tahun berlayar maka banyak tangan jahil yang mempreteli dan merusak fasilitas kapal. WC mampetlah, shower air panas tidak jalan, kotor, banyak corat-coret, dan sebagainya.

Kamar-kamar penumpang dibagi menjadi beberapa kelas, mulai dari kelas I, II, III, IV, dan kelas ekonomi. Kelas I isinya dua tempat tidur, kelas II empat, kelas III enam, dan kelas IV 8 tempat tidur. Kelas I adalah kelas yang paling mahal, harga tiketnya setara dengan tiket pesawat. Di dalam kamar kelas I dan II terdapat faslitas TV dan kamar mandi di dalam. Kelas “keroyokan” dan paling murah adalah kelas ekonomi, di sini penumpang tidur di atas barak-barak yang terbuka. Kelas ekonomi ini enak kalau kita pergi beramai-ramai karena kita bebas bercengkerama, bikin rujakan, atau ngobrol ngalor ngidul. Satu hal yang berkesan di kelas ekonomi adalah rasa kebersamaan di antara penumpang yang tidak saling kenal namun merasa senasib di kelas yang paling rendah


(Suasana kelas ekonomi. Sumber foto dari sini).


(Suasana kamar kelas III. Foto diambil dari sini).

Di atas kapal kita dapat makan 3 kali dalam sehari: pagi, siang, dan malam. Tempat makan adalah di restoran tergantung kelasnya, kecuali untuk penumpang kelas ekonomi. Untuk penumpang kelas ekonomi, penumpang harus antri di depan pantry untuk mengambil jatah dalam piring ceper berbentuk nampan, mirip piring ransum para napi di penjara. Petugas pantry memasukkan nasi, sayur, dan lauk pada slot-slot lubang di dalam piring nampan. Nampan itu dibawa ke barak masing-masing dan makanannya dimakan di sana.

Untuk penumpang kelas I hingga IV, makan di restoran masing-masing. Makanan sudah dihidangkan di atas meja sesuai jatah penumpang. Pelayan akan mengatur kita duduk. Menu makanannya bervariasi. Kalau pagi biasanya nasi, telur dan sayur, siang dengan ayam atau daging, dan malam dengan daging. Untuk penumpang kelas I makan pagi bisa berupa nasi goreng, roti, sandwich, susu, kopi, dan teh. Terus terang rasa makanan di atas kapal kurang enak, karena masakan dibuat secara massal untuk ribuan penumpang. Bumbunya kurang pas, garamnya kurang, dan rasa sayurnya nyaris hambar. Karena sering naik kapal, maka saya dan banyak penumpang yang lain biasanya membawa lauk tambahan dari rumah seperti rendang, sambal, dendeng, dan sebagainya. Kalau tidak begitu saya susah makan, he..he.

Makan di atas kapal harus berbagi dengan rasa mual. Karena goncangan kapal akibat gelombang laut, maka kita makan sambil ikut berguncang. Banyak penumpang yang muntah karena mabuk laut sehingga kehilangan selera makan.

Di atas kapal saya dan kawan-kawan suka berkeliling mulai dari dek paling bawah hingga anjungan kapal. Melihat sunset dari atas kapal adalah pengalaman yang berkesan. Banyak juga pasangan yang memadu kasih dan mojok berdua. Memang penumpang di atas kapal beraneka ragam tingkah polahnya.

Saat yang mencekam adalah pada malam hari selepas Isya. Pada jam-jam segitu penumpang sudah banyak yang terlelap tidur. Malam hari angin sangat kencang dan gelombang laut cukup besar. Ketika saya berjalan-jalan di loromg luar suasana terasa sepi. Kalau ada orang yang nekat bunuh diri melompat ke laut mungkin tidak ada yang tahu. Berada di atas lautan luas terasa betapa sangat kecil diri kita ini di hadapan kekuasaan Tuhan, betapa kita sangat bergantung kepada Tuhan bilamana membayangkan terjadi apa-apa pada kapal ini terkena dihantam badai dan gelombang laut yang besar. Hii… jangan seperti nasib kapal Titanic lah. Kalau sudah ada perasaan khawatir begitu saya hanya pasrah saja, kalaupun kapal tenggelam dilamun gelombang hanya kepada Tuhan saja berserah diri.

Pada masa arus mudik dan arus balik lebaran, penumpang kapal laut dari Jakarta ke Padang dan sebaliknya bisa ribuan orang memadati kapal. Sebagian besar penumpang yang tidak dapat tiket kelas terpaksa memilih kelas ekonomi. Tapi, kelas ekonomi juga terbatas barak-baraknya, sehingga ratusan penumpang terpaksa tidur menghampar di mana saja, di lorong, di tangga, di ruangan kosong antar dek, dan sebagainya. Benar-benar penuh sesak dan tidur seperti ikan serdencis. Tapi itu pulalah kenikmatan naik kapal laut yaitu rasa kebersamaan sesama penumpang.

Sekarang mana ada lagi kapal laut PT Pelni ke Padang. Sudah tidak ada karena sepi peminat, kalah bersaing dengan pesawat yang tiketnya terjangkau dan waktu tempuhnya hanya 1,5 jam. Bandingkan jika naik kapal laut yang mebutuhkan waktu dua hari satu malam. Kalau ada kapal Pelni berlayar ke Padang saya ingin mencobanya lagi. Jika dulu saya pergi sendiri, sekarang bisa mengajak anak dan istri. Anak-anak tentu merasa senang naik kapal laut, sebab pengalaman naik kapal sangat jarang. Makanya saya merasa kangen naik kapal Pelni lagi kalau pulang kampung. Masihkah ada kapal ke Padang suatu hari kelak?

Tulisan ini dipublikasikan di Pengalamanku. Tandai permalink.

47 Balasan ke Kangen Naik Kapal Laut PT Pelni Lagi

  1. Rifki berkata:

    pertamax dulu pak

  2. isil berkata:

    salam kenal pak
    saya juga mahasiswa yang kuliah di Bandung asal Padang
    saya baru merasakan pulang dengan bis dan pesawat pak
    kalau dengan bis ada naik kapak feri nya, tapi mungkin lebih sebentar dibandingkan pulang dengan kapal PT.PELNI

  3. reiSHA berkata:

    beberapa hari lalu di milis UKM ada yang menawarkan tiket pulang dengan kapal TNI pak :D

  4. fae berkata:

    urang awak juo apak ko ma….
    dak nyangko wk do pak…
    cz jarang2 urang minang yg buek buku ttg informatika…
    hhehee…
    salam kenal dari awak pak, mahasiswa informartika universitas sriwijaya…
    btw, buat aja simulasinya di komputer pak,minimal bisa bernostalgia…
    ^_^

  5. Kang Jodhi berkata:

    “KM Kerinci, KM Umsini, KM Kambuna, KM Kelimutu, KM Leuser, KM Lambelu, KM Rinjani, KM Dobon Solo, KM Pangrango, KM Lawit, KM Bukit Siguntang, KM Bukit Raya, KM Sinabung, dan sebagainya. Nama-nama kapal itu tidak pernah diambil dari nama gunung api yang masih aktif.”

    Pengamatan yang luar biasa pak Rin. Biarpun tinggal di sekitar pelabihan dan tahu nama-nama kapal itu semuanya nama gunung, saya tidak pernah sadar bahwa semuanya itu guning yang tidak aktif :p

  6. Arif Rahhmat berkata:

    Tahun 1996-2001, tiket pesawat Garuda 1 juta lebih, kapal laut 200rb-an. Saat itu, pelajar Makassar menengah ke bawah yang bersekolah/kuliah di Bdg seringnya mudik bareng, naik kereta ke Surabaya, transit 6 jam lalu lanjut dgn kapal Pelni ke Makassar. Sebagai pelanggan kelas ekonomi yg bebas menghampar tikar di mana saja, tempat favorit kami adalah di dek 5 depan tangga dan resepsionis, karena ada AC dan karpetnya, terhindar dari kencangnya angin laut di malam hari. Asiknya karena ramainya itu. Dukanya saat naik dan turun kapal. Banjir keringat karena bawa barang naik/turun tangga sambil desak-desakan. Portir sih banyak, tapi namanya pelajar pasti pengen hemat, mending angkut barang sendiri trus nanti duitnya dipakai makan :) Kelas boleh ekonomi, tapi kamar mandi numpang di kelas 3 yang agak bagus. Kalau makanan, mesti bawa pop mie, abon, teri, kering tempe buat bekal. Karena tanpa kamar, tidurnya gantian agar barang aman, maklum banyak copet juga di atas kapal. Seumur-umur blm pernah naik kelas (1,2,3,4), dan waktu itu blm ramai ponsel.
    Kalau sekarang sudah canggih, di atas kapal Pelni sudah ada BTS, bisa menelepon sepanjang perjalanan.
    Bayi yg

  7. Arif Rahhmat berkata:

    Bayi yg lahir di kapal Pelni akan dapat tiket gratis seumur hidup naik kapal tsb. Trus yg jadi khatib Jum’at di kapal Pelni, uang tiketnya bakal dikembalikan.

    Tiap melewati zona perbedaan waktu, jam di atas kapal akan dimajukan/diundur 3 kali, setiap kali maju/mundur dikoreksi sebanyak 20 menit, tidak langsung 1 jam.

    Air mandi di kapal adalah hasil penyulingan air laut. Mushalla ada di dek 7, kalau shalat berjamaah, terlihat miring berjamaah tiap ada gelombang tinggi.

    Butuh waktu 1-2 jam untuk proses berlabuh sejak daratan pertama kali terlihat, masih sempat tidur dulu :)

    • sukatraveljuga berkata:

      wah pak,skrg gada aturan tiket gratis bt bayi yg lahir dkapal,malah dipungut biaya,,bahkan klo nginep di klinik,ada farex lho sehari sekian ribu,hehee..yg jdi khattib malah cuek2 ajee..xxxx..yaaaahh,jaman n peraturan dah berubah kale yaa…
      Salam :D

  8. Jupri Abd berkata:

    Awak pernah naiak kapa dari Jakarta ka Padang tahun 2008 Pak. Waktu tu menjelang lebaran dan namo kapanyo KM Lawit. Tapi ampun deh Pak, barangkek Sabtu jam satu siang, sampai di Taluak Bayua Senin magrib. Itu sempat terjadi kerusakan kemudi saat hari Minggu dari Subuah sampai tangah hari. Labiah capek naiak oto, tapi kalau mancari pengalaman naiak kapa sih ndak baa cubo.

  9. ,marti berkata:

    bagaimana kalau pake kapal induk kan lebih nyaman tapi mungkin waktu berbulan bulan

  10. Kartika Putri berkata:

    bener2 informasi yang sangat bagus… trimaksih pak..

  11. Willy Permana berkata:

    Satu hal yang berkesan di kelas ekonomi adalah rasa kebersamaan di antara penumpang yang tidak saling kenal namun merasa senasib di kelas yang paling rendah

    Benar sekali pak. Saya sendiri pernah mengalami, mudik sendirian, pagi naik kapal sorenya tumben sudah mabuk berat. Yang sedipan dengan saya berbaik hati membelikan antimo, membawakan jatah makan dari kantin, bahkan membawakan tas saya yang segede badak waktu kapal merapat di pelabuhan

    Beda dengan penumpang pesawat. Sama-sama kelas ekonomi, tapi saling sikut & serobot :D

  12. m.fadel haikal berkata:

    kamu dimana

  13. m.fadel haikal berkata:

    apakah kamu sudah naik kapal km.kerinci!

    • dulu saya adalah abk di km kerinci padang, setelah melihat blok ini dan membacanya. saya terasa harun rindu akan kapal kerinci disana saya mempunyai kenangan dengan seorang wanita dan hingga saat ini wanita itu menjadi istri saya dan saya di anugerahi seorang anak. pengabdian saya di sana sungguh membuat hidup saya lebih berarti.

  14. Zaldi berkata:

    Kangeen aq pngen naik kapal km sinabung ke sulut di pelabuhan bitung

  15. Suzanni berkata:

    Katiko gampo di Padang, itu baru partamo naiak kapa kapadang. Pulang baduo jo anak perempuan, naiak kapa KM. Sinabung semua penumpang dapat tiket gratis dari PT.Pelni. Dapat jatah makan kelas Ekonomi tapi gak apa2, jalan2 dikapal banyak juga relawan yang ikut yang nantinya akan menolong korban gempa di Padang dllnya.
    Pulang dengan perasaan sadiah, membayangkan kota Padang jo Pariaman hancur dioyak gampo. Semoga dibalik musibah ada hikmah yang membawa kebaikan bagi umat, terutama dalam hal ber-ibadah, berbagi/bersedekah.

  16. codex berkata:

    terima kasih atas tulisannya, jadi terkenang lagi perjalanan 4 hari 3 malam, makassar – lhokseumawe naik KM Kambuna.

  17. Alfin berkata:

    Lebaran nnti pngn naik KM Bukit raya dari Tg-priok ke Belinyu ,,,

    Naik Km Bukit Raya .. 1 hari 1 malam … !!!!

  18. MD berkata:

    Sumpah bener2 kgn naek kapal…

  19. anak priok berkata:

    Mohon izin share ya! tks

  20. Chicharito berkata:

    jd kangen naik Kapal Laut. Tj. Priok – Bitung.
    KM. Kambuna, KM Umsini, KM Lambelu. kapal2 yg pernah saya naiki.

  21. Ping-balik: Ceritaku di Kapal Lawit « UDien Yang Bijak

  22. alif shafari berkata:

    Ya ampun KM Lambelu saya pernah tumpangi juga kapal ini waktu pulang ke Padang tahun 1998.Kapalnya waktu itu masih lumayan bagus lah pak,karena katanya kapalnya masih baru (waktu itu).Bener apa kata bapak,waktu di malam hari bener2 serem keluar kapal jalan2 di dek kapal.angin dan ombaknya kenceng banget waktu itu saya masih ingat berangkat hari kamis jam 12.00 wib dari tj priok sampai di padang hari jumat jam 3 sore.Bener2 asik sebenarnya naik kapal.sayang dah kalah pamor sama pesawat terbang T_T

    • rang_rantau berkata:

      Kalau baitu bueklah sapakek jo sesamo rang rantau tuk pulang basamo hari rayo bulan agustus 2013 nan ka tibo naiek kapa

  23. Yusuf G. Antu berkata:

    Heheheheheheh…, sip… jadi kangen naik kapal lagi…, pertama naik kapal yaitu KM UMSINI route Gorontalo-Makassar di tahun 1991 atau 1992 gitu…, lupa…, sekitar 20 tahun lalu… terus terakhir naik KM SINABUNG route Gorontalo-Jakarta tahun 2002, 10 tahun lalu.

    Yang paling saya ingat adalah panduan nahkoda kepada ABK (Anak Buah Kapal) via pengeras suaranya, yaitu “ABK dek, ABK dek siap depan belakang, siapkan kapal sandar kanan/kiri…!”

    Ckckckckckckckckckck…., jadi kangen naik kapal lagi… :-)

    Rencananya mo “hunny-moon” entah di KM apa bareng my_peace, istri, menempuh route Jakarta-Balikpapan-Gorontalo, atau sebaliknya, karena orang Gorontalo stay di Jakarta n dapet istri orang Kaltim… namun belum kesampean karena sibuk sama urusan… :-(

    #me_baru.nikah.2bln.lalu.

    heheheheh….

  24. nate berkata:

    dulu saya ngeh klo semua kapal dari nama gunung, tapi ternyata lebih spesifik lagu, gunung yg sudah tidak aktif. hoho.
    kangen juga nih naik kapal laut. bareng2 emang lebih seru..
    terakhir naik kapal ketika ikut jabore nasional (2001). isinya anak pramuka semua. haha..
    tidurnya di dek karena tidak dapat tempat. makannya pop mie..
    kapan2 pulang kampung naik kapal laut ah.. hehe..

  25. wawa berkata:

    Setujuuuuu dengan semua tulisan di atas. Saya juga kangeeen banget naik kapal laut. Jogja-makassar. Naik bis dari jogja,sampe dini hari di surabaya. Biasanya sore baru naik kapal ke makassar.
    Thanks sudah mengangkat tulisan ini.
    Salam…

  26. Immanuel Sueken berkata:

    suasana kekeluargaan di kapal kelas ekonomi memang sangat kental, saya pernah mengalaminya tahun 2010 ketika perjalanan Balikpapan Makassar dengan jumlah penumpang hampir 5 ribu orang. sampai untuk nyari tempat nyender pun susahnya minta ampun, terpaksa deh tidur sambil lipat lutut…sungguh kenangan yang indah

  27. alfandy berkata:

    aku akan mudik dengan perahu kertas…..

  28. Arief Budiman berkata:

    closing tulisan ini, masih adakah kapal ke padang, mengingatkan saya akan sebuah judul sinetron, “masih ada kapal ke padang”.. Salam Pak.. :D

  29. AM_Ihere berkata:

    wah jadi pengen coba =)

  30. mol isralmahadia berkata:

    Alhamdulilah gan,, kini ala ado lai kapal yang ke padang KM lawit..ok gan!

  31. Purwantoro berkata:

    Yah betul3…. Naik kapal pelni bagiku merupakan nostalgia yg banyak suka daripada dukanya. Surabaya-Kupang atau Denpasar (Benoa) – Kupang hampir tiap tahun kujalani saat itu, 1994-2000 an. Setelah itu baru pakai kapal cepat. Banyak hikmah selama perjalanan, meski cuma 1-2 hari, banyak kenalan juga. Terimakasih sudah mengingatkan akan masa2 yang menyenangkan. Pengin sekali utk bernostalgia naik km pelni lagi bersama keluarga.

  32. Ping-balik: Kangen Naik Kapal Laut PT Pelni Lagi – Bagian 1/2 | Kebijakan Pelayanan Publik - Kebijakan Pemerintah Indonesia by ProtesPublik.Com

  33. Ping-balik: Kangen naik Kapal Laut PELNI | Kebijakan Pelayanan Publik - Kebijakan Pemerintah Indonesia by ProtesPublik.Com

  34. Saya juga kangen banget, malah pengen merasakan lagi. Sejak lahir di Kambuna, saya juga belum pernah menaikinya lagi. Pernahnya Kerinci. Sayang, sudah berubah rute Kapal Kambunanya, tidak ada rute Jakarta-Sumatra lagi. :(

  35. zulfraizza berkata:

    Saya jg kangen so much bt naik kapal pelni lagi. terakhir naik kapal tgl 3 januari 2002 waktu balik dari kampung (Terrnate) menuju Makassar buat ngelanjutin kuliah.
    Skrg, setelah 13 thn di Makassar, pengen mudik lebaran tahun ini pake kapal lautx PELNI (kangen euy…suasana kelas ekonomi yg berdesak2an) hehehe :-D
    klo naik pesawat langsung nyampe (gk seru!) :-p

  36. Dwi Riyadi berkata:

    Pokoknya Asyiik naik kapal,dulu th 1984 pernah naik Tampomas II .Selama perjalanan sangat mengasyikan & menyenangkan .Segala fasilitas ada disana ,sangat cocok buat pengantin baru berbulan madu.Selamat mencoba.

  37. prawidi ws berkata:

    salam… semasa kecil saya sering bepergian pake kapal pelni, bisa dibilang setahun sekali kami mudik ke makassar, tahun 1992-1997. maklum keluarga besar kami asli makassar dan bermukim di sukabumi. sebagai seorang anak kecil waktu itu, masa mudik adalah masa yang sangat dinanti-nanti, karena pastinya akan naik kapal pelni lagi dan juga akan bertemu dengan kakek, kakek kami adalah salah satu ABK di KM Rinjani, yang sekarang kapalnya dihibahkan ke TNI AL,, biasanya kalau kebetulan KM Rinjani yang kami naiki, pastinya kami akan berada di dek kelas 2 kamar milik kakek kami… kalau bukan KM Rinjani, biasanya kami tidur di dek kelas ekonomi,,, betul2 masa yang sangat menyenangkan…
    sampai saat ini pun, jika ada kegiatan2 kemahasiswaan biasanya kami serombongan perginya naik pesawat, tapi pulangx naik kapal pelni… TOP BUAT PELNI.
    bagi yang belum pernah naik kapal pelni, monggo dicoba, pastinya seru, menyenangkan dan akan jadi pengalaman yang tak terlupakan…
    ada rencana saya, nanti kalo bulan madu mending di atas kapal pelni aja,, beli tiketnya yang kelas 1.. klo di kelas ekonomi nanti berabe,, hahahahahha

  38. berlian abadi berkata:

    ada kok bang pake kapal KM LAWIT tapi sebulan 1 kali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s