Nonton Film “Di Bawah Lindungan Ka’bah”

Kemarin saya menonton film bioskop terbaru berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah. Film religi ini dipasarkan setelah lebaran (dan menjelang ibadah haji 2 bulan lagi), karena memang targetnya adalah penonton muslim yang masih merasakan suasana libur Idul Fitri.

Saya tertarik menonton film ini karena ceritanya diambil dari novel karya (alm) Buya Hamka dengan judul yang sama. Buya Hamka tidak hanya seorang ulama besar tetapi juga seorang sastrawan angkatan Pujangga Baru. Sejak SD saya pengagum dan pengemar novel karya Hamka. Ada beberapa karya Hamka yang sudah pernah saya baca yaitu Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Merantau ke Deli, dan Di Bawah Lindungan Ka’bah.

Novel Di Bawah Lindungan Ka’bah bercerita tentang kasih tak sampai antara dua insan yang berbeda status sosial dengan latar belakang adat istiadat Minang serta agama yang sangat ketat membatasi hubungan antara pria dan wanita. Tokoh utamanya adalah Hamid dan Zainab. Jika anda belum pernah membaca novelnya, silakan baca dulu sinopsis novel di sini dan lanjutannya di sini.

Dulu, pada awal tahun 1980-an, sutradara Asrul Sani juga pernah memproduksi film Di Bawah Lindungan Ka’bah. Lokasi shootingnya di Sumatera Barat sesuai dengan setting cerita di dalam novel. Saya masih anak-anak (masih awal SMP) kala itu. Tetapi, setelah film selesai diproduksi, Pemerintah Orde Baru mempersulit peredaran film tersebut gara-gara kata “Ka’bah” di dalam judul film. Rezim Soeharto saat itu keberatan dengan judul film sebab khawatir masyarakat nanti bersimpati kepada Partai Persatuan Pembangungan (PPP) yang waktu itu lambang partainya juga Ka’bah. Apalagi film Ka’bah akan diluncurkan menjelang kampanye Pemilu 1982. Zaman otoriter saat itu hanya ada tiga partai yang boleh berdiri yaitu Golkar, PPP, dan PDI. Golkar adalah partai Pemerintah yang digunakan Soeharto untuk mempertahankan kekuasaannya, PDI sudah dikerdilkan sejak dulu, dan hanya PPP yang dianggap sebagai partai yang punya potensi meraih simpati besar dari umat Islam mengalahkan Golkar.

Karena alasan politis tersebut, maka akhirnya film Di Bawah Lindungan Ka’bah diganti judulnya menjadi Para Perintis Kemerdekaan. Judul yang tidak komersil bukan? Tidak nyambung dengan isi novel, sebab di dalam novel tidak ada cerita perang maupun kemerdekaan, meskipun latar belakang cerita adalah pada zaman penjajahan kolonial tahun 1922. Padahal judul film sangat menentukan untuk membuat penonton tertarik. Dan benar saja, film Para Perintis Kemerdekaan jeblok di pasar.

Sekarang, bagaimana film produksi ulang Di Bawah Lindungan Ka’bah? Saya penasaran ingin menontonnya. Saya sudah berkali-kali membaca novel ini dan tahu persis jalan ceritanya. Apakah sutradara film berhasil memfilmkan karya Buya Hamka ini? Ekspektasi saya tentu tinggi sebab saya ingin film ini juga sesukses film Ketika Cinta Bertasbih yang sesuai dengan novelnya, begitupun pemeran tokoh-tokoh di dalam novelnya juga sangat pas.

Setelah menonton film Di Bawah Lindungan Ka’bah, apa komentar saya? Secara sinematografis film ini memang indah, pencahayaannya bagus, kaya dengan warna-warna yang artistik. Penggambaran suasana Padang pada awal abad 20 juga cukup berhasil, karena setting cerita di dalam novel memang di kota Padang, kota pelabuhan terbesar di pantai barat Sumatera saat itu. Ada stasiun kereta api zaman dulu, pasar, dan busana baju kurung lebar khas perempuan Padang kala itu. Begitu juga penggambaran kota Mekah awal abad 20-an lumayan pas menggambarkan haji tempo doeloe.

Namun, dari sisi cerita saya merasa agak kecewa. Kisah masa kecil Hamid tidak ada di dalam film sebagaimana di dalam novelnya, padahal menurut saya itu bagian yang sangat menyentuh dan sangat penting untuk menggambarkan awal mula cerita. Penulis naskah film juga mengubah jalan cerita dengan adegan Zainab tenggelam di sungai kemudian ditolong oleh Hamid. Zainab hampir saja mati jika tidak diberi pernapasan buatan melalui mulut dari bibir Hamid ke bibir Zainab (mouth to mouth). Adegan ini sengaja ditampilkan untuk menciptakan konflik di tengah masyarakat sehingga Hamid diusir dari kampung karena telah melakukan perbuatan yang melanggar adat dan agama. Cerita yang begini tidak ada di dalam novel aslinya. Padahal, Hamid pergi meninggalkan Zainab bukan karena terusir melainkan karena kepedihan hati sebab Zainab akan dijodohkan dengan anak mamaknya.

Begitu pula adegan Hamid berfoto dengan KH Ahmad Dahlan dan Agus Salim ini juga tidak ada di dalam novel. Apakah Ahmad Dahlan pernah berkunjung ke Perguruan Thawalib Padangpanjang? Saya rasa Muhammadiayh belum tumbuh besar pada tahun 1920-an itu.

Okelah, memang film tidak harus sama dengan novel, wajar saja, tetapi saya kira tidak perlu pula ceritanya dibuat-buat melenceng dari novel. Mungkin karena film ini produksi si raja Sinetron yang keturunan India itu (keluarga Raam Punjabi), maka ceritanya didramatisir yang tidak perlu. Coba kalau sutradaranya Khairul Umam yang idealis itu, pasti film Di Bawah Lindungan Ka’bah akan lebih bagus dan sesuai novel.

Film Di Bawah Lindungan Ka’bah saya nilai tidak lebih dari kisah cinta menyah-menyeh ala sinetron. Kalau cerita di dalam novel sangat menyentuh kalbu sehingga pembacanya bisa menitikkan air mata, maka cerita di film sama sekali tidak menyentuh perasaaan. Tokoh pemeran film saya nilai juga kurang pas dan tampak kurang menghayati tokoh utama di dalam novel. Dan yang sangat mengganggu adalah sisipan iklan terselubung dari sponsor film yaitu kacang garing Garu*a, wafer Choc*latos, dan obat nyamuk Bayg*n. Masa sih sudah ada Baygon dan kacang Garuda pada tahun 1922? Ada-ada saja.

Kalau mau lihat trailer film Di Bawah Lindungan Ka’bah, klik video di YouTube berikut ini:

Tulisan ini dipublikasikan di Gado-gado. Tandai permalink.

10 Balasan ke Nonton Film “Di Bawah Lindungan Ka’bah”

  1. fathiiiii berkata:

    Dari beberapa komentar kawan, pendapatnya persis seperti Pak Rin; Sinematografi indah tapi hilang warna “Hamka”-nya. Sangat disayangkan ya..

    • rinaldimunir berkata:

      Benar Fathii, “ruh” Hamka dalam film tsb hilang. Beberapa kali adegan Hamid dan Zainab berdua-duaan dan berkasih-kasihan dalam jarak yang dekat, seperti di pantai, di pasar, dan di depan rumah Zainab. Padahal Hamka sangat menjaga mahram dalam cerita novelnya.

      Dalam adat Minang yang ketat pada zaman dulu, hubungan pria dan wanita sangat dibatasi, tetapi di dalam film ini dibuat agak bebas sesuai dengan konteks pergaulan zaman sekarang. Saya tidak tahu bagaimana reaksi perasaan keluarga Hamka (c.q Rusdi Hamka) jika menonton film ini, apakah mereka menyesal menyetujui film ini digarap sutradara India tsb. Entahlah.

  2. Gatot Widayanto berkata:

    Saya tidak membaca novelnya dan kecewa dengan plot cerita yang lemah sekali. Terima kasih atas ulasannya ….

  3. feby sisda berkata:

    walau gimanapun, film ini telah berusaha untuk mengubah cara pandang perfilman Indonesia yang cuma roman picisan, sekarang kita lihat, udah banyk dakwah yg bisa dibawa ke bioskop.. jgn cuma bisa komentar lemahny aj dung, kita jg harus dukung untuk memperbaikai moral indonesia…. ^__________^

  4. Amy berkata:

    ya mba’ dakwah si dakwah, liat dulu mba’ siapa produsernya !!!
    Paling cuma nyari untung belaka dan ada sedikit moral yg kurang bermanfaat, tapi apa pantas disebut telah berusaha mengubah cara pandang perfilman di Indonesia, toh ada adegan roman picisan yang sama sekali kurang baik untuk dijadikan pelajaran, terlebih adegan mesra yang kurang pas dengan ajaran agama.

    Saran saya : kenapa ngga kirim saran dan komentar ke produsernya saja, toh klw cuma komentar di website seperti ini ngga’ akan di lihat dan oleh produsernya.

    catatan : liat dlu Film-nya dan hikmah yang bisa diambil banyak atau tidak, jikalau bagus untuk moral dukunglah Film tersebut dengan caramu sendiri.

  5. hiks..hiks..hiks…
    gw gk bisa nontomn lgnsung di bioskop

  6. jerietea berkata:

    saya memang belum membaca buku novel aslnya..karena mungkin ga ke zamanan kalie ya..hehehe..ga deng.Beberapa kali k pameran dan toko buku sy cari tuh novel tapi memang karna limited edition.Jadi ga dapet-dapet.. sempet juga nonton tu film d bioskop.Kalo memamg jalan ceritanya sedikiit banyak berbeda cukup di sayangkan.Namun kita juga harus tetap berpikir lebih dewasa untuk meninggalkan yang buruk dan mengambil yang baik dari jalan cerita… ;-)

  7. jerietea berkata:

    saya memang belum membaca buku novel aslinya..karena mungkin ga ke zamanan kalie ya..hehehe..ga deng.Beberapa kali k pameran dan toko buku sy cari tuh novel tapi memang karna limited edition.Jadi ga dapet-dapet.. sempet juga nonton tu film d bioskop.Kalo memang jalan ceritanya sedikiit banyak berbeda cukup di sayangkan.Namun kita juga harus tetap berpikir lebih dewasa untuk meninggalkan yang buruk dan mengambil yang baik dari jalan ceritanya… ;-)

  8. filmnya banyak adegan ikhtilat (berdua2an). kecewa….

  9. Ping balik: Poster Film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” yang Bikin Miris Itu | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s