Akhirnya Punya Kartu Kredit Juga

Sejak dulu saya tidak berniat memiliki kartu kredit. Saya paling tidak suka berutang. Bertransaksi dengan kartu kredit artinya berutang sebab pembayaran uang ditalangkan dulu oleh bank, baru nanti kita bayar ke bank sebesar tagihan transaksi yang kita lakukan dalam waktu sebulan.

Ternyata repot juga tidak memiliki kartu kredit. Banyak transaksi daring (online) yang mengharuskan pembayaran dengan kartu kredit. Misalnya mau membeli tiket pesawat secara daring, pembayarannya memakai kartu kredit. Mau beli buku di situs e-commerce semacam Amazon.com, harus pakai kartu kredit juga. Mau membayar biaya pemuatan makalah di jurnal internasional, pakai kartu kredit juga.

Karena tidak punya kartu kredit, maka saya biasanya “minjam” kartu kredit teman. Bukan kartu fisiknya yang saya pinjam, tetapi ketika masuk sesi pembayaran di internet maka teman saya yang mengentrikan nomor kartunya. Nanti setelah transaksi pembayaran berhasil, saya mengganti uang teman tadi dengan transfer uang ke rekeningnya. Pengalaman ini sudah beberapa kali terjadi ketika saya memesan tiket pesawat Air Asia atau Garuda.

Pengalaman repot kedua terjadi ketika makalah saya diterima di jurnal internasional di Amerika. Waktu itu saya masih S3. Karena makalah saya diterima, maka saya harus membayar biaya pemuatan makalah sebesar 300 dolar. Sebenarnya pembayarannya bisa lewat teller di bank, tetapi karena ingin cepat maka saya pakai kartu kredit saja. Celakanya saya tidak punya kartu kredit. Maka, Dosen Pembimbing saya mengatasinya dengan pembayaran melalui kartu kredit miliknya. Sukses! Terima kasih ya Prof Bambang Riyanto…..

Tidak ingin merepotkan orang lain lagi, maka saya mulai berpikir untuk memiliki kartu kredit sendiri. Setelah dipikir-pikir ternyata memiliki kartu kredit cukup penting pada zaman sekarang. Alasannya seperti yang saya kemukakan di atas. Apalagi saya sering bepergian naik pesawat, maka membeli tiket secara daring menjadi kebutuhan. Banyak kemudahan dan manfaat jika memiliki kartu kredit, antara lain bisa makan gratis di lounge bandara, hi..hi..hi.

Oleh karena itu, ketika ada tawaran kartu kredit dengan biaya bulanan tahunan gratis seumur hidup dari sebuah bank Pemerintah (kerjasama dengan Koperasi Karyawan ITB), maka saya mulai memikirkan untuk memiliki kartu kredit sendiri. Promosi “biaya bulanan tahunan gratis seumur hidup” bagi dosen ITB cukup menarik juga. Artinya, kalaupun saya tidak melakukan transaksi dengan kartu kredit dalam suatu bulan, toh saya tidak perlu membayar biaya bulanan tahunan. Memang ini strategi marketing bank tersebut, segala cara mereka upayakan untuk menggaet insan kampus. He..he.., kali ini mereka cukup berhasil menjaring banyak dosen ITB untuk memiliki kartu kredit dengan iming-iming bebas biaya bulanan tahunan, seumur hidup lagi. Siapa yang tidak tertarik?

Btw, saya ini orang yang banyak pertimbangan dalam memutuskan sesuatu, termasuk soal kartu kredit ini. Masalah berikutnya yang menjadi pertimbangan saya adalah memastikan kehalalan kartu kredit ini sesuai syariat agama. Saya sudah bertekad menghilangkan sedapat mungkin berhubungan dengan transaksi ribawi. Kalau bisa dihindari, kenapa tidak. Semua akun rekening saya sudah dipindahkan ke bank syariah. Hanya dengan BNI saya masih punya akun tabungan karena gaji dosen ITB ditransfer melalui rekening BNI.

Setelah gugling di Internet, saya menemukan hukum memiliki kartu kredit. Setelah baca di sini dan di sini, hukum kartu kredit bisa haram dan bisa mubah (boleh-boleh saja). Haram hukumnya jika pelunasan hutang lewat jatuh tempo sehingga pemilik kartu dikenai denda dan bunga. Nah bunga inilah pangkal sebab mengapa menjadi haram. Sebaliknya, hukum kartu kredit menjadi mubah jika pemilik kartu kredit dapat memastikan sanggup melunasi pembayaran sebelum jatuh tempo sehingga tidak ada beban bunga yang perlu dibayarkan. Mudah-mudahan saya bisa menjaga komitmen ini ya…, kalau tidak bisa maka saya tutup saja itu kartu.

Setelah menimbang-nimbang segala hal tentang kartu kredit, akhirnya saya memutuskan mengajukan aplikasi kartu kredit dari Bank M*ndi*i. Mereka (bank) hanya meminta fotocopy KTP, kartu dosen ITB, dan keterangan gaji PNS (yang nggak besar-besar amat). Saya pilih kartu tipe gold, yang sedang-sedang saja. Dua bulan diproses akhirnya kartu selesai dan dikirim ke alamat kantor. I promise, sedapat mungkin saya tidak akan sering-sering menggunakan kartu ini. Selagi bisa membayar tunai, ya tunai saja, tidak perlu pakai kartu kredit segala. Kalau terpaksa saja pakai kartu kredit, toh kalau tidak dipakai tidak dikenai biaya bulanan tahunan, kan gratis.

Tulisan ini dipublikasikan di Pengalamanku. Tandai permalink.

8 Balasan ke Akhirnya Punya Kartu Kredit Juga

  1. ady w berkata:

    selamat pak Rin, saya sih butuh kartu kredit sejak lama, hehehehe, kartu kredit memang penting saat ini, yang penting jangan terlena dengan kemudahannya dan terjebak dengan konsumerisme kartu kredit itu….

  2. aespe berkata:

    baru denger ada kartu kredit biaya bulanan, bukannya tahunan pak, mungkin kartu kreditnya bebas biaya bulanan, tapi ada biaya tahunan? hehehe

  3. Wikiapbn berkata:

    Semoga “teror” telemarketing tidak terlalu mengganggu. Biasanya pemegang KK diganggu oleh telemarketer. http://ahmadabdulhaq.multiply.com/tag/telemarketing .

  4. cahyawan berkata:

    Inget dulu waktu baru lulus dan mulai bekerja di swasta, kartu kredit adalah salah satu target awal yang ingin dimiliki :)
    Sudah 14 tahun saya punya kartu kredit, tapi untungnya bisa dihitung dengan jari saya tidak melunasi tagihan dengan komplit.
    Kartu kredit banyak memberi kemudahan, selain seperti yang disebut diatas, bisa juga membantu mengatasi malu kalau pas sudah belanja baru inget tidak bawa uang :)
    Entah kenapa teman2 dosen yang pns sedikit sekali yang punya kartu kredit, beda dengan teman2 di swasta biasanya punya lebih dari satu.

  5. jetzer berkata:

    Wah Bapak berbeda sekali dengan orang tua saya yang sedikit-sedikit pakai kartu kredit hahaha..
    Selamat makalah Bapak masuk jurnal internasional. Biayanya 300 dolar? Mahal sekali pak >,<

  6. yuli berkata:

    yah, yang gratis iuran tahunan utk dosen itb doang.
    Punya info lain tidak pak, bank apa yg free abudemen tahunan.
    Kan banyak yg diiming imingi bebas iuran tahunan, eh tetep aja dikirimi tagihan tahunan.
    Hal ini membuat saya urung buat credit card. Pakainya kartu debet biasa.
    Terimakasih kalau ada yang mau kasih tahu bank mana yg free iuran credit cardnya.
    Hatur nuhun.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s