Ustad-Ustad Muda di TV yang Bikin ‘Nek’

Melihat ustad-ustad muda yang wara-wiri tampil di TV menimbulkan keprihatinan bagi saya. Bukannya senang, tetapi malu. Malu melihat kelakuan dan gaya ustad yang membuat perut ini mau mual atau istilahnya ‘nek‘. Pengetahuan agama mereka minim, tetapi lagaknya seperti ulama yang mumpuni. Modal mereka kemampaun akting, wajah ganteng, hafal beberapa ayat, dan sedikit bakat orator. Televisi menggenjot mereka untuk menaikkan rating iklan dan itu artinya untung besar bagi pengelola TV. Untuk membuat penonton makin penasaran dan makin menyukai sang ustad, maka sisi kehidupan ustad muda pun digali termasuk kisah asmaranya. Kepopuleran sang ustad membuatnya menjadi selebriti dan kisah asmaranya memenuhi acara gosip (infotainment), lengkap dengan foto-foto perempuan yang pernah dipacarinya. Bah, semakin muak saja melihat ustad muda semacam itu, jauh dari kesan islami yang menjadi “kedok” da’inya.

Baru kali ini terjadi acara pernikahan seorang ustad muda ditayangkan langsung oleh televisi yang menjadi host sang ustad. Pernikahan artis kondang saja tidak pernah disiarkan langsung oleg televisi. Karena “mabuk” dalam popularitas, ucapan snag ustad kadang-kadang tidak terkendali. Dalam satu acara gosip dia menyatakan sambil bercanda bahwa kalau ia memberikan ceramah agama maka itu untuk mengejar pahala, tetapi kalau menikahi perempuan maka itu untuk mengejar paha. Hah! Ustad macam apakah yang berucap kalimat yang “jorok” tersebut. Ustad gadungan barangkali.

Tragisnya lagi, pamor sang ustad ini menjadi ternoda ketika mantan istrinya menceritakan aib masa lalu. Sang ustad beberapa kali melakukan hubungan intim dengan mantan istrinya itu karena tidak “tahan”. Sang ustad yang berkelit dikejar wartawan akhirnya mengaku melakukan itu setelah rujuk, sebuah alasan yang mengada-ada. Anehnya, meski aibnya terbongkar, sang ustad tetap saja makin eksis di televisi dan menjadi idola ibu-ibu majelis ta’lim. Televisi makin untung karena berita-berita tersebut membuat rating sang ustad makin laku.

Jamaaaah… ooo.. jamaaaah…

Ingat dengan slogan di atas? Ustad muda yang satu ini menggunakan lawakan dan akting seperti pemain teater untuk menarik perhatian. Penggunaan humor atau lawakan dalam ceramah agama sudah berlangsung sejak beberapa dekade. Yang mempeloporinya adalah dai sejuta ummat, Zainuddin MZ. Tetapi, humornya masih dalam batas kewajaran dan sangat mengena dengan isi ceramah yang disampaikannya. Lain Zainuddin MZ lain pula ustad asal Sulawesi tersebut. Lawakannya berlebihan dan terkesan dibuat-buat, begitu pula gerakannya seperti sedang berakting. Saya yang menonton menjadi nek, ini tuntunan atau tontonan? Ini ceramah agama atau hiburan agama?

Humor dalam ceramah agama itu ibarat bumbu, jika diberikan dalam takaran yang pas, ia menjadi bermanfaat dan membuat ceramah menjadi enak dan tidak membuat mengantuk. Tetapi jika diberikan dalam takaran yang berlebihan, ia membuat ceramah agama kehilangan tujuannya. Yang ditangkap oleh jamaah adalah kesan menghibur daripada menuntun ketaqwaan kepada Allah SWT. Orang datang ke ceramahnya akhirnya bukan untuk mengaji tetapi untuk mendengar aksi teater dan lawakan sang ustad Naudzubillah.

Saya masih respek kepada ustad-ustad muda semacam Yusuf Mansur, Arifin Ilham, atau Ilham Tanjung, dan dalam batas-batas tertentu kepada Aa Gym dan Ustad Jefry (yang terakhir ini dulu disebut ustad gaul tetapi sekarang saya lihat dia sudah banyak berubah). Ceramah agama mereka bernas dan tidak terkesan dibuat-buat, pengetahuan agamanya lumayan bagus, isi ceramahnya membuat kita banyak merenung, beda benar dengan ustad muda gadungan.

Banyaknya ustad muda gadungan yang bermunculan menjadi selebriti memancing minat banyak anak muda mengadu peruntungan menjadi ustad. Kontes da’i di televisi dibanjiri peminat, tetapi gaya mereka di televisi adalah aktivitas kepura-puraan dan hasil karbitan. Modal mereka adalah kepandaian berpidato yang dibuat-buat meniru da’i kondang dibalur dengan beberapa ayat supaya terlihat lebih religius. Kosong tak bermakna. Karena pemenang yang terpilih didasarkan pada jumlah dukungan SMS yang masuk, maka jangan kaget jika pememangnya adalah calon ustad yang wajahnya paling ganteng dan secara fisik lebih menarik (baca tulisan pembaca di Hidayatullah tentang hal ini).

Masih lebih baik ustad-ustad tawadhu di kampung-kampung, di pesantren-pesantren, yang ceramah agamanya lebih memikat hati ketimbang ustad muda gadungan di televisi itu. Mereka berceramah bukan untuk meraih popularitas, tetapi memang untuk memberikan tuntunan agama kepada ummat. Mereka mungkin tidak laku untuk tampil di televisi karena penampilan fisik mereka yang kurang memenuhi syarat atau tidak pandai melawak. Tetapi percayalah, substansi ceramah mereka banyak memberikan renungan mendalam untuk dijadikan tuntunan hidup di dunia dan di akhirat.

Lanjutan Kisah “Bapak Tua Penjual Amplop Itu”

Tulisan saya yang terdahulu yang berjudul Bapak Tua Penjual Amplop Itu ternyata mendapat respon yang luar biasa dari pembaca. Setelah saya lihat statistik di Worpress ternyata tulisan tersebut sudah dibaca puluhan ribu kali dan tanggapan komentar hingga hari ini mencapai 336 buah. Saya sendiri tidak menyangka atas respon yang luar biasa tersebut, sebab tulisan ini hanyalah sekadar catatan kecil yang biasa saya tulis dari pengalaman yang saya temui.

Banyak yang bertanya kepada saya bagaimana caranya memberikan sedekah atau sumbangan buat bapak tua itu. Saya sendiri juga belum tahu teknis pengumpulan dan pemberian sedekah tersebut, karena maksud tulisan tersebut bukanlah untuk mengumpulkan infaq/shadaqoh buat si bapak. Pertanggungjawabannya nanti juga agak susah, tetapi yang lebih saya khawatirkan (mudah-mudahan saja tidak terjadi) adalah perubahan sikap si bapak yang karena sedekah yang berturut-turut tersebut khawatir membuat dia salah menafsirkan sehingga timbul sikap “mengemis” belas kasihan dengan menjual amplop.

Mudah-mudahan tidak begitu ya, tetapi mohon maaf saya belum bisa menyalurkan sumbangan, silakan salurkan sedekah ke lembaga amil terdekat dari Masjid Salman seperti Rumah Amal Salman ITB atau PKPU. Saya tetap punya pendapat bahwa cara terbaik membantu bapak itu adalah membeli jualannya, kalaupun melebihkan uang pembelian tidak apa-apa. Untuk urusan modal usaha dan perbaikan taraf hidup si bapak, biarlah itu tugas lembaga amil zakat tadi. Kalaupun anda jauh dari Bandung dan tidak bisa membeli amplopnya, anda masih bisa membeli dagangan orang-orang dhuafa di lingkungan terdekat anda. Masih banyak orang kecil lainnya dis ekitar kita yang membutuhkan perhatian. Tetapi sekali lagi, terima kasih atas semua niat baik, mudah-mudahan Allah SWT sudah membalas niat baik itu dengan pahala.

Seorang mahasiswa ITB aktivis Masjid Salman ITB, Romi Hardiyansyah, mencoba menemui bapak penjual amplop dan mewawancarainya di kantor Rumah Amal Salman ITB. Laporan wawancaranya itu dia muat di akun fesbuknya. Saya minta izin memuat hasil wawancara itu di dalam blog ini, sebagai informasi yang lebih lengkap tentang bapak penjual amplop. Banyak yang masih penasaran seperti apa bapak itu dan bagaimana hidupnya. Yang jelas bapak tua itu masih setia berjualan di depan gerbang kampus ITB atau di depan gerbang Masjid Salman, tidak hanya hari Jumat tetapi sekali-sekali pada hari yang lain.

Di bawah ini tulisan Romi Hardiyansyah yang dimuat di dalam http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150390709462123

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bapak Penjual Amplop

Setelah membaca catatan dari salah seorang dosen ITB melalui website pribadinya, saya mencoba menggali lebih dalam tentang bapak penjual amplop ini. Yang saya tahu bahwa bapak ini hanya berjualan setiap hari jumat saja di pintu masuk Komplek Masjid Salman-ITB. Namun, ketika hari selasa saya mendapatkan laporan dari salah seorang rekan bahwa bapak penjual amplop ini menjajakan dagangannya di salah satu gerbang keluar ITB. Saya tidak menemuinya karena jadwal kuliah yang padat. Barulah ketika rabu, 23 Nopember 2011, sepulang kuliah sekitar pukul 12.00, saya menemuinya di tempat biasa ia menjajakan amplop-amplopnya, yaitu di depan pintu masuk Komplek Masjid Salman-ITB. Saya berniat untuk menemuinya setelah saya melaksanakan shalat zhuhur.

Sekitar pukul 13.00, saya dan Kang Dadan (karyawan Rumah Amal Salman-ITB) bergegas menuju pintu masuk Komplek Masjid Salman-ITB. Kang Dadan ada keperluan untuk menyampaikan amanah infaq salah seorang jamaah di Jakarta kepada beliau sementara saya memang berkeperluan untuk bercakap-cakap dan membeli amplopnya. Kami meminta beliau merapikan dagangannya dan mau berbincang-bincang dengan kami di salah satu ruangan di kantor Rumah Amal Salman-ITB. Alhamdulillah beliau mau dan segera mengemas amplop-amplopnya. Selama mengemas amplop-amplopnya, kami menerima banyak komentar dari para pedagang-pedangang lain di sekitar.

Menurut para pedagang, tidak sedikit orang yang membeli satu atau dua amplop tapi dibayar seharga Rp 5.000, Rp 20.000, bahkan Rp 50.000. Si Bapak justru sering berkata kepada para pembeli bahwa uang yang diberikannya kelebihan. Namun, para pembeli mengatakan agar diambil saja lebihnya.

Setelah bercakap-cakap dengan para pedagang sekitar, si Bapak ini pun siap untuk kami ajak ke kantor. Ia membawa tas besarnya pada bahu sebelah kiri dan menjinjing plastik berisi amplop dengan tangan kanannya. Tibalah kami di salah satu ruangan di kantor Rumah Amal Salman-ITB dan mulailah percakapan kami. Sebenarnya selama perjalanan ke rumah amal pun kami bercakap-cakap di jalan.

Namanya Suhud, lahir di Tasikmalaya 76 tahun yang lalu. Ayahnya asli Tasikmalaya sedangkan Ibunya asli Kuningan. Bapak yang sudah hidup tiga perempat abad ini suka merantau kesana kemari semasa mudanya hingga sekarang tinggal menetap bersama anak terakhir dan cucunya di Manggahan, Dayeuh Kolot. Pak Suhud memiliki tiga orang anak yang semuanya laki-laki semua. Anak pertama dan keduanya tidak tinggal bersama Pak Suhud. Semua anaknya memiliki keterbatasan dalam ekonomi sehingga jika beliau menggantungkan diri kepada anaknya, tentu akan susah. Dari sinilah beliau memutuskan untuk berdagang di usianya yang sudah renta.

Pak Suhud sehari-harinya berjualan amplop. Ya, amplop. Ia hanya berjualan amplop, tidak dengan yang lain. Pak Suhud menjajakan amplop-amplopnya di Pasar Simpang Dago dari pagi sampai siang kemudian dilanjutkan menjajakan amplop-amplopnya di pintu masuk Komplek Masjid Salman-ITB. Selain itu, Pak Suhud juga menjajakan amplopnya di Sukajadi, Kebun Binatang, dan tempat-tempat lainnya. Beliau baru sekitar sebulan yang lalu menjajakan dagangannya di Salman.

Amplop-amplop tersebut ia ambil dari tetangganya. Kemudian Pak Suhud akan menerima upah sesuai dengan banyaknya amplop yang bisa ia jual. Setoran tersebut tidak dibatasi waktu, boleh kapan saja. Jika pembeli sedang sepi, boleh jadi hari itu tidak setor dulu sampai dengan banyak amplop yang terjual.

Pak Suhud memulai usaha ini dari 2001. Namun karena usianya yang sudah renta, 10 tahun tersebut tidak semuanya digunakan untuk berjualan amplop, terkadang jika sedang capai, ia tidak berangkat mencari nafkah. Sebelum berjualan amplop, Pak Suhud berjualan sayur mayur. Istri Pak Suhud meninggal dunia 6 tahun yang lalu sehingga penghasilan yang beliau dapatkan murni beliau gunakan untuk keperluan hidup beliau sehari-hari. Ketiga anaknya mengetahui bahwa ayahnya ini berjualan amplop untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Pak Suhud berangkat dari rumahnya di Dayeuh Kolot sekitar pukul 03.30 dan pulang menuju rumahnya sekitar pukul 14.00. Beliau menggunakan angkutan perkotaan atau bis kota sebagai sarana transportasinya. Beliau mengatakan lama perjalanan bisa sampai dua atau tiga jam. Sungguh, perjuangan yang sangat hebat bagi laki-laki paruh baya ini.

Penghasilan Pak Suhud sehari-hari jelas tidak menentu. Terkadang tidak ada satu pun amplop yang terjual sehingga untuk kembali pulang ia biasanya meminjam uang pada pedagang-pedagang sekitar dan berjanji akan menggantinya jika nanti amplopnya ada yang membeli. Tetangga yang menjadi tempat setornya tidak mempermasalahkan akan keterlambatan setoran, jelas beliau. Beliau menambahkan ongkos pergi-pulangnya tiap hari sebesar Rp 12.000, padahal penghasilannya tiap hari belum tentu sebesar itu. Pada siang hari, Pak Suhud biasa makan di tempat makan yang beliau katakan murah harganya. Pemilik rumah makan sering mengatakan bahwa jika beliau ingin makan, silakan datang saja tanpa perlu membayar.

Beliau mengambil 100 amplop dari tetangganya seharga Rp 7.500 dan ia menjualnya seharga Rp 10.000. Artinya, untuk 100 amplop yang terjual, ia hanya mendapatkan untung Rp 2.500 saja. Jika dipikir-pikir, siapa yang mau membeli amplop sebanyak itu? Kalau pun ada yang membelinya, keuntungan yang beliau peroleh jelas tidak bisa digunakan untuk makan nasi sekalipun. Allahu a’lam. Ketika ditanya kenapa memilih berjualan amplop, ia hanya menjawab sngkat saja, karena amplop ringan, masih bisa beliau bawa dibandingkan jika beliau berdagang yang lainnya.

Karena usianya yang sudah tua, tentu fisiknya pun tidak lagi seperti anak muda. Pak Suhud mengatakan bahwa matanya kini telah kurang awas (rabun), pendengarannya kurang berfungsi dengan baik, dan dadanya sering pengap. Saya memerhatikan, beliau berbicara dengan suara yang lirih sekal dan tangan yang benar-benar gemetar baik di kala berbicara, di kala merapikan amplop-amplopnya, di kala membawa tas, dan lainnya.

Dalam keadaan yang seperti itu, Pak Suhud tetap tegar untuk menjaga kehormatannya dengan tidak meminta-minta. Begitu pula yang dikomentarkan para pedagang di sekitar pintu masuk Komplek Masjid Salman-ITB. Mereka menambahkan, banyak yang badannya masih bujangan, perkasa, gagah, dan kuat, namun meminta-minta. Kami menutup pembicaraan siang itu dengan menyampaikan amanah infaq dari Rumah Amal Salman-ITB.

Sebenarnya, ketika awal sampai akhir perbincangan saya berusaha menahan air mata agar tidak keluar karena mendengar suara Pak Suhud yang begitu lirih dan tangannya yang gemetaran. Terima kasih Pak Suhud. Darimu, saya belajar sebuah perjuangan..

Semoga kelapangan dan keberkahan rezeqi menyertaimu Pak. Dan Allah, tidak akan menyiakan hamba-hamba-Nya..

Bandung, 23 Nopember 2011

Romi Hardiyansyah
0852 842 39760/aemrum@gmail.com

(Update tanggal 20 Januari 2012: tulisan ketiga tentang Bapak penjual amplop ini dapat dibaca pada posting-an berikut: http://rinaldimunir.wordpress.com/2012/01/20/bapak-penjual-amplop-itu-rajin-shalat/

Menjadi Yatim Piatu

Sekarang saya menjadi yatim piatu. Ibu saya tercinta sudah dipanggil oleh Allah SWT pada Hari Kamis 24 November 2011 yang lalu. Tiada sakit suatu apa, tiba-tiba sudah meninggal dunia pada pagi hari. Meskipun masih ada sisa rasa kesedihan, namun semuanya saya anggap sudah menjadi takdir Ilahi. Sebelumnya ayah saya sudah berpulang tujuh tahun yang lalu.

Kalau dipikir-pikir, tentu sedih rasanya tidak punya orangtua lagi. Sebaik-baiknya hidup adalah masih ada ayah dan ibu dalam kehidupan kita, sebab barokah dan karomah orangtua itu luar biasa menyinari hidup kita. Masih ada orang yang mengingatkan kita meskipun kita sudah dewasa, masih ada orang yang memarahi kita kalau kita salah, masih ada orang yang menjadi alasan buat kita untuk selalu pulang kampung pada Hari Raya. Makanya bagi anda yang mempunyai orangtua yang masih hidup, bersyukurlah masih ada mereka di sisi anda.

Jika dibandingkan teman-teman saya seangkatan, memang pada usia kami seperti ini sudah banyak yang ditinggalkan orangtua. Ada yang ayahnya sudah duluan berpulang, ada yang ibunya duluan, atau kedua-duanya telah berpulang, bahkan ada yang masih beruntung kedua orangtuanya masih lengkap. Semua sudah suratan menjadi suratan-Nya. Kelahiran, kematian, jodoh, dan rezeki adalah rahasia Allah SWT yang kita tidak pernah tahu.

Seorang teman SMP ketika acara reuni tahun ini bercerita bahwa dia merasa sangat puas karena telah merawat ayahnya yang sakit-sakitan selama 3 tahun hingga mendampinginya pada saat-saat sakratul mautnya. Padahal teman saya ini bekerja di Amerika, dan dia sengaja berhenti bekerja di sana dan pulang ke tanah air agar dapat merawat ayahnya di hari tua hingga ajalnya tiba. Pengorbanannya termasuk luar biasa sampai dia telat menikah karena khawatir tidak bisa total merawat ayahnya kalau dia telah beristri.

Cerita yang sama juga saya peroleh dari sepupu yang bolak balik dari kotanya ke kampung berjarak 90 km untuk merawat ibunya yang sakit selama berbulan-bulan hingga wafatnya. Puas hati rasanya, katanya, karena dia sudah menunjukkan bakti terakhir di saat-saat akhir hayat ibunya.

Saya tidak “seberuntung” teman dan sepupu tadi. Saya tidak berada di samping ibu saya ketika dia wafat. Meninggalnya juga tiba-tiba, tiada sakit suatu apa. Bahkan saya tidak sempat ikut memandikan dan menshalatkan beliau karena tidak terkejar lagi oleh jarak dan waktu. Apalagi pesawat yang membawa saya ke Padang mengalami delay yang lama di bandara Soekarno-Hatta selama berjam-jam sehingga saya tiba di Padang ketika hari sudah sore dan jenazah almarhumah sudah dibawa ke kuburan. Sudah takdir memang, tiada yang perlu disesali lagi.

Meskipun orangtua sudah tiada, dan amalan mereka sudah terputus, masih ada tiga amalan yang mendatangkan pahala yang terus mengalir bagi mereka. Seperti yang dikatakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW, bahwa bila meninggal anak Adam, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah (dari almarhum), ilmu (dari almarhum) yang masih bermanfaat, dan doa anak yang sholeh yang mendoakan ibu bapanya. Mudah-mudahan saja saya termasuk hal yang terakhir itu, yaitu sebagai anak yang sholeh yang selalu mendoakan ayah bunda setiap selesai sholat. Amiin.

Malaysia dan Indonesia, dari Sepakbola Hingga Bara Terpendam

Deg-degan menonton pertandingan final sepakbola SEA Games antara Indonesia dan Malaysia tadi malam melalui layar kaca. Memang akhirnya Indonesia kalah lewat drama adu penalti, tetapi saya rasa itu kekalahan terhormat. Tim Garuda Muda sudah berjuang maksimal, tetapi pertandingan olahraga dimanapun tetap memerlukan juara. Tahniah buat kemenangan Malaysia dan selamat buat Indonesia yang menjadi juara umum SEA Games karena perolehan medali emas terbanyak.

Meskipun hanya pertandingan sepakbola, tetapi ada banyak cerita dibalik bola. Pertandingan semalam tidak hanya adu taktik dan strategi, tetapi juga adu gengsi. Pertandingan melibatkan emosi ratusan juta orang Indonesia dan puluhan juta orang Malaysia. Di tanah air, seluruh denyut kehidupan terasa berhenti sebentar karena semua mata terpusat di televisi. Hal yang sama juga terjadi di Malaysia, menurut seorang teman yang sedang kuliah di Malaysia, suasana di Malaysia tidak kalah hebohnya seperti di Indonesia. Ternyata nasionalisme tidak perlu lewat seremoni upacara, ucapan pejabat negara, atau lagu patriotisme, lewat sepakbola yang sederhana saja sudah mengharu biru rasa nasionalisme itu.

Ada cerita dibalik dukungan yang luar biasa dari rakyat kedua negara, lebih-lebih dari Indonesia. Ini tidak hanya sekedar pertandingan bola, tetapi ajang menjaga kehormatan negara masing-masing. Hubungan yang panas dingin antara kedua negara ikut merasuk ke dalam sepakbola. Bagi banyak orang Indonesia, Malaysia dianggap negara yang telah merendahkan bangsa Indonesia. Mulai dari kisah penyiksaan TKI, klaim seni budaya Indonesia, Ambalat, masalah perbatasan, penangkapan dan penyiksaan nelayan, hingga sebutan yang melecehkan: “indon”. Kelakuan orang Malaysia telah membuat geram banyak orang Indonesia. Media pun turut serta ambil bagian memanas-manasi suasana. Politisipun tidak kalah sigap, mereka memanfaatkan kondisi nasionalisme yang bangkit untuk pencitraan diri dan partai mereka.

Orang Malaysia yang selama ini tenang-tenang saja akhirnya mulai terusik. Mereka mulai lebih peka melihat perkembangan yang terjadi di Indonesia menyangkut negara mereka. Mereka mulai mencari tahu melalui informasi di dunia maya apa yang sebenarnya terjadi. Media Malaysia yang selama ini jarang memberitakan suasana hangat di Indonesia terkait unjuk rasa anti Malaysia, akhirnya mulai berani memberitakan, menebar opini, dan mengulas apa yang terjadi di sini. Padahal media Malaysia selama ini dikontrol oleh Pemerintahnya, tetapi akhir-akhir ini suasana keterbukaan sudah melanda Malaysia pula, terbukti demo besar-besarn yang terjadi beberapa bulan lalu menuntut reformasi.

Maka, apa yang terjadi selama pertandinga SEA Games dimana penonton Indonesia menyoraki dan gaduh saat lagu kebangsaan Malaysia diperdengarkan, adalah ekspresi kegeraman orang Indonesia kepada rakyat Malaysia. Tentu saja perbuatan ini berlebihan dan tidak pantas, karena lagu kebangsaan adalah lagu yang menyangkut kerhormatan setiap negara. Kita pun akan marah jika lagu Indonesia Raya dilecehkan ketika diperdengarkan di luar negeri.

Bara yang terpendam di antara kedua negara sewaktu-waktu bisa terbakar kembali karena letupan-letupan yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi. Jika ini yang terjadi tentu tidak baik bagi hubungan Indonesia-Malaysia, yang rugi adalah rakyat kedua negara. Perang hanya menyengsarakan, menang jadi arang kalah jadi abu.

Rakyat Malaysia perlu mendengar apa yang menjadi kemarahan orang Indonesia. Dalam pandangan orang Indonesia, Malaysia saat ini ibarat orang yang sombong karena telah menjadi negara yang makmur tetapi merendahkan martabat Indonesia sebagai bangsa babu (karena banyak orang Indonesia yang menjadi TKI di sana). Malaysia diibaratkan seperti lupa kacang dengan kulitnya. Dulu Indonesia membantu rakyat Malaysia dengan mengirimkan guru-guru ke Malaysia untuk membantu pendidikan Malaysia. Petronas pun berguru kepada Pertamina dalam hal eksplorasi minyak bumi. Tetapi setelah menjadi negara makmur sehingga memancing ribuan orang Indonesia mengadu nasib di Malaysia, maka sikap orang Malaysia kepada Indonesia mulai berubah. Polisi diraja Malaysia semena-mena menyiksa dan mengeluarkan kata-kata yang merendahkan kepada TKI dan nelayan yang tertangkap memasuki perairan mereka. Klaim budaya Indonesia oleh Malaysia ikut memperuncing hubungan kedua negara. Ditambah dengan sengketa perebutan pulau (Sipadan dan Ligitan) dan terakhir Ambalat, cukuplah sudah bensin untuk menyiram bara yang terpendam tadi menjadi api menyala-nyala.

Sebaliknya orang Indonesia perlu melakukan cara-cara yang elegan dan beradab dalam melakukan unjuk rasa kepada Malaysia. Melemparkan kotoran manusia ke Kedubes Malaysia adalah aksi yang tidak menunjukkan sikap orang Indonesia yang beradab. Hati boleh panas dengan ulah Malaysia, tetapi logika dan nalar tetap jalan dalam melakukan unjuk rasa. Begitu pula mengolok-olok lagu kebangsaan mereka juga bukan sikap yang terpuji.

Sikap yang terbaik bagi rakyat kedua negara adalah menahan diri agar tidak terprovokasi. Tidak semua orang Indonesia memiliki cara pandang kebencian kepada Malaysia, dan tidak semua orang Malaysia berperilaku buruk dalam memperlakukan orang Indonesia. Masih banyak yang baik di antara yang buruk. Orang Malaysia punya pertalian sejarah panjang dengan Indonesia karena banyak leluhur orang Malasyai berasal dari suku-suku bangsa di nusantara. Orang Indonesia pun punya pertalian darah dan budaya dengan rakyat Malaysia.

Di tingkat akar rumput boleh bergolak, tetapi dalam bidang pendidikan hubungan kedua negara tetap erat. Rakyat Malaysia banyak kuliah di Indonesia, begitu pula sebaliknya. Perguruan Tinggi Malaysia banyak yang menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi Indonesia, misalnya dengan ITB. Konferensi ICEEI setiap dua tahun dilakukan secara bergantian antara ITB dan UKM Malaysia. Turis-turis Malaysia membanjiri kota Bandung untuk wisata kuliner dan wisata fashion. Sebaliknya orang Indonesiapun banyak yang berobat ke Malaysia. Jadi, kedua negara tetaplah saling membutuhkan. Hati boleh panas, tetapi kepala tetap dingin.

Sepenggal Potret Kehidupan di dalam KRD Cicalengka – Padalarang

Naik kereta api adalah kesenangan anak-anak. Hari Minggu kemarin anak saya minta jalan-jalan naik kereta api. Di kawasan Bandung Raya ada kereta api komuter yang bolak-balik dari Padalarang ke Cicalengka. Jarak Padalarang ke Cicalengka cukup jauh, barangkali sekitar 30 km lebih. Kereta api sangat berjasa bagi para pelaju yang rumahnya di pinggiran Bandung tetapi bekerja di kota Bandung. Tarifnya sangat murah, hanya Rp1000 per orang. Hampir tidak bisa dipercaya harga karcis kereta api semurah itu baik untuk jarak jauh maupun jarak dekat. Kalau mau yang sedikit lebih nyaman bisa naik kereta api patas yang harga karcisya Rp4000 atau KA Baraya Geulis yang Rp8000. Namun harga karcis kereta api itu masih tetap jauh lebih murah dibandingkan naik angkot yang mungkin menghabiskan ongkos Rp15.000 lebih plus kemacetan yang menjadi-jadi pada hampir semua jalan di dalam kota dan pinggiran kota Bandung.

Harga karcis yang sangat murah itu sebanding dengan pelayanan kereta yang seadanya dan terkesan seperti kurang diperhatikan oleh PT KAI. Gerbong kereta sangat kotor, jorok, bau, dan penuh sampah. Para pedagang kaki lima, pengamen dan pengemis bebas masuk ke dalam kereta. Tetapi, justru disitulah seninya naik kereta api ekonomi, kereta api kelas rakyat. Kalau anda ingin melihat potret kehidupan bangsa ini, maka sesekali naikilah kereta api ekonomi. Sepanjang perjalanan banyak cerita kehidupan yang mengalir begitu cepat, bagaikan mosaik-mosaik yang direkatkan ke dalam sebuah bingkai.

Saya mengajak anak-anak naik kereta api ekonomi ini. Biarlah nanti mereka melihat seperti apa potret kehidupan di sana. Kami naik KRD ekonomi dari stasiun Kiaracondong, stasiun ini paling dekat dengan rumah saya. Stasiun Kiaracondong adalah stasiun kelas 2 yang dikhususkan untuk kereta api ekonomi.

Jam sepuluh pagi KRD ekonomi datang dari arah Cicalengka. Gerbong kereta sangat padat dengan penumpang. Penumpang berjejalan di dalam gerbong, sebagian besar hanya bisa berdiri. Banyak penunpang yang naik dan banyak pula penumpang yang turun. Saya pun bersama anak-anak hanya bisa berdiri.

Meskipun padat, tetapi di dalam kereta selalu ada tempat bagi pedagang asongan, pengamen, dan pengemis untuk mencari rezeki. Naik kereta ekonomi berarti harus berlapang dada dengan mereka. Di sela-sela penumpang yang berdesakan mereka menarik-narik dagangannya yang diletakkan di atas gerobak beroda. Para pedagang itu sangat kreatif dengan menggunakan roda, sehingga barang dagangan tidak perlu dipikul.

Kegigihan para pedagang asongan dalam menjajakan dagangannya patut diacungi jempol. Pernah ketika saya naik KRD sebelum ini, seorang pedagang salak mula-mula menawarkan 20 biji salak Manonjaya (Tasikmalaya) seharga sepuluh ribu. Tidak ada penumpang yang tertarik membelinya. Tetapi dia tidak putus asa. Ketika dia kembali lag, dia menawarkan salaknya lagi, kali ini 30 biji dengan harga tetap sepuluh ribu. Penumpang tetap tidak bergeming. Setelah bolak balik ke gerbong lain, dia datang lagi, kali ini dia menawarkan empat puluh biji salak seharga sepuluh ribu. Aha, akhirnya ada penumpang pun tertarik membelinya. Ha..ha..ha, kalau saja penumpang itu mau bersabar sedikit menunggu pedagang salak itu kembali lagi, mungkin jumlahnya bisa bertambah lima puluh biji salak dengan harga yang sama. Saya pun tersenyum geli membayangkan ulah pedagang salak ini.

Kereta terus melaju, tetapi jalannya tidak bisa cepat. Pada setiap stasiun antara kereta berhenti menaikkan dan menurunkan penumpang. Pengamen dan pedaganga asongan tak henti-hentinya lalu lalang. Tiba-tiba datanglah seorang anak muda yang berjalan dengan cara merangkak. Badan dan pakainnya kotor sekali. Dia membawa sebuah sapu. Sapu itu terus disorong-sorongkannya ke lantai gerbong untuk mendorong sampah yang berserakan. Sekali-sekali dia berhenti lalu melakukan gerakan dengan tangan seperti orang minta minum dan makan. Tahulah saya maksudnya, ternyata dia mengemis meminta uang buat minum atau makan. Kasihan sekali. Beberapa penumpang memberikan uang ala kadarnya.

Stasiun Bandung, Ciroyom, Andir, Cimindi, Cimahi, Gadobangkong telah dilewati. Melewati stasiun Ciroyom kita akan menemui bau yang menusuk hidung. Bau busuk dari pasar ikan di Ciroyom memenuhi gerbong kereta yang terbuka. Akhirnya kereta sampai di stasiun Padalarang. Ini adalah stasiun terakhir tempat perhentian. Saya dan anak-anak segera turun. Tidak bisa berlama-lama kami di staisun ini, sebab kereta akan berangkat lagi ke Cicalengka. Saya segera membeli karcis yang harganya tetap seribu rupiah.

Baru turun lima menit ternyata kereta sudah dipenuhi penumpang. Ini suatu tanda bahwa antusiasme masyarakat urban untuk naik kereta api sangat tinggi, karena kereta api rakyat semacam ini tarifnya sangat murah dan bebas dari kemacetan.

Seperti dalam perjalanan pergi, dalam perjalanan pulang ini penumpang disuguhi kembali potret yang sama, yaitu lalu lalang pedagang asongan, pengamen dan pengemis. Kali ini penumpang tidak sepadat dari Kiaracondong sehingga para pengamen lebih leluasa dalam mencari makan.

Pada pedagang buah pun ikut meramaikan kereta dengan buah mangganya.

Hujan deras ikut menemani selama perjalanan. Kereta terus melaku menyinggahi stasiun-stasiun kecil. Penumpang naik dan turun. Hidup itu seperti perjalanan kereta api, ada yang datang dan ada yang pergi. Kita berangkat dari suatu tempat dan akhirnya harus berhenti untuk turun. Selama dalam perjalanan kita menemukan banyak manusia dengan aneka ragam tingkah polah dan nasibnya. Perguliran nasib hanya Allah yang tahu.

Bapak Tua Penjual Amplop Itu

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua.

Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

Catatan penulis (diperbarui tanggal 30 November 2011): kelanjutan kisah bapak penjual amplop dapat dibaca dalam Lanjutan Kisah Bapak Tua Penjual Amplop.

Anak SD Belum Perlu Hape

Hingga saat ini saya belum membelikan hape (ponsel) buat anak saya yang duduk di kelas 5 dan 6 SD. Hampir semua teman di kelasnya sudah punya hape. Tidak hanya hape biasa, tetapi hapenya berkamera (multimedia), atau hape layar sentuh, malah banyak yang sudah punya Blackberry (BB) — umumnya yang punya BB ini murid perempuan. Gaya bener ya orangtua zaman sekarang, anak-anaknya saja sudah punya BB dan touch screen HP.

Meskipun anak saya sudah merengek-rengek minta dibelikan hape, tetapi saya masih bergeming. Belum waktunya dia punya hape sendiri, belum butuh-butuh amat, apalagi hape yang berkamera. Kebijakan sekolah juga sejalan yaitu melarang siswa membawa hape ke sekolah. Hape masih boleh diteloransi dibawa pada hari Sabtu karena pada hari Sabtu tidak ada kegiatan belajar tetapi hanya ada ekskul. Saya mendukung kebijakan sekolah tersebut. Di sekolah anak saya yang satu lagi, pihak sekolah mengingatkan orangtua agar hape yang dibawa ke sekolah hendaknya hape yang tidak ada kameranya.

Tentu di zaman teknologi informasi seperti ini pandangan saya yang belum membelikan hape buat anak dianggap kuno atau ketinggalan zaman. Tetapi saya punya alasan sendiri kenapa begitu. Jawabannya adalah “pornografi anak”. Gadget semacam hape berkamera adalah sarana efektif untuk menyebarkan konten porno pada anak-anak. Melalui teknologi bluetooth pada hape, transfer konten porno (seperti gambar dan video) antar gadget semakin mudah. Anak-anak sudah menjadi sasaran penyebaran pornografi secara masif. Ingat kasus Ariel tahun lalu, kan? Anak SD saja sudah melihat video Ariel tersebut melalui hape mereka.

Otak dan pola pikir anak belum siap menerima informasi negatif seperti konten porno tersebut. Mereka belum bisa menyaring informasi yang baik dan yang buruk. Jika dipaksakan, maka kerja otak mereka bisa rusak karena telah disusupi pikiran-pikiran negatif. Anak bisa lebih cepat dewasa sebelum waktunya. Ini bahaya buat masa depan mereka. Bukankah perilaku seks pra-nikah dan seks bebas di kalangan remaja disebabkan oleh kebiasaan melihat konten porno sejak dini. Pornografi menimbulkan rasa penasaran, ketagihan, dan akhirnya coba-coba sehingga menjadi kebutuhan seperti orang dewasa yang sudah menikah.

Penyebaran konten pornografi tidak hanya melalui hape, tetapi juga melalui internet. Anak-anak zaman kini gemar bermain game online di warnet tanpa pengawasan. Siapa yang tahu apa saja yang mereka akses di internet itu selain game? Siapa yang bisa menjamin anak-anak itu hanya bermain game di sana? Anak saya pernah bercerita bahwa temannya di warnet pernah melihat gambar porno. Hiii…. mengerikan! Jadi, jangan kaget kalau pelaku perkosaan tidak hanya remaja atau orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Mereka mengaku melakukan itu karena terpengaruh sebab hampir setiap hari melihat gambar dan video porno di warnet atau nonton VCD/DVD di rumah pakai laptop.

Meskipun anak sudah kita berikan filter berupa bekal pendidikan agama, tetapi tidak ada jaminan benteng agama itu cukup kuat membendung arus deras pornografi yang sangat masif. Jika terus menerus mereka dirayu teman untuk melihatnya, lama-lama pertahanan mereka jebol juga. Kita sebagai orangtua juga tidak bisa 24 jam mengawasi pergaulan anak, dengan siapa saja mereka bergaul di luar, apa saja yang mereka lakukan di luar rumah dan sekolah.

Sampai saat ini anak saya bisa paham kenapa belum punya hape. Dia “minoritas” di sekolahnya karena hanya beberapa orang saja yang tidak memiliki hape. Meskipun pihak sekolah melarang membawa hape, tetapi secara sembunyi-sembunyi anak-anak itu membawa juga ke sekolah.

Pihak sekolah bukannya tidak paham kepentingan orangtua yang membekali anaknya dengan hape. Bagi orangtua, anak dibekali hape mungkin agar orangtua bisa terus berkomunikasi dengan anaknya. Karena pihak sekolah melarang siswa membawa hape, maka bagi siswa yang ingin menelpon ke rumah atau kepada orangtuanya, sekolah menyediakan fasilitas telepon yang bisa dipakai seperlunya, begitu sebaliknya. Sementara ini kalau anak saya memerlukan sesuatu, dia menelpon ke rumah melalui telepon sekolah saja.

Menurut pendapat saya yang konservatif ini, anak SD belum terlalu membutuhkan gadget seperti hape, apalagi yang canggih dan mahal semacam BB dan iphone. Mereka belum bisa bertanggungjawab menggunakannya. Bagi anak SD memiliki hape kebanyakan untuk gaya-gayaan saja, dan gaya-gayaan ini menurut hemat saya bukan pendidikan yang baik sebab anak menjadi suka pamer.

Jadi, untuk sekarang ini anak saya tidak terlalu membutuhkan hape. Dia bisa menelpon kami pakai telepon rumah saja atau pakai telepon sekolah. Barulah kalau ada acara jalan-jalan sekolah saya bekalkan hape untuk mengetahui posisinya lagi di mana (karena pulang jalan-jalan bisa malam hari). Kalaupun harus membelikan hape saat ini, mungkin yang saya belikan yang tidak punya fitur kamera/multimedia.

Saya akan bekalkan dulu pengetahuan baik dan buruk yang perlu dia ketahui sebelum dibelikan hape nanti. Ini penting agar dia tahu mana yang boleh dan tidak boleh. Setelah dia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk (yang dilarang agama), maka saya sudah siap membelikan dia hape yang berkamera sekalipun.

Bagi orangtua yang sudah membekali anaknya dengan gadget hape, BB, iphone, dan sebagainya, sering-seringlah memeriksa isi hape anak anda. Mungkin di dalamnya ada konten pornografi yang dia peroleh dari teman-temannya. Benteng terakhir pendidikan anak adalah di dalam keluarga. Jangan terlalu berharap kepada Pemerintah agar melindungi anak kita dari konten negatif. Di satu sisi ada pihak yang tidak senang jika larangan pornografi diregulasikan dalam bentuk UU karena dianggap melanggar HAM, tetapi di sisi lain kita tidak bisa membantah bahwa serangan pornografi saat ini demikian masif melanda generasi muda dari segala penjuru. Hanya di dalam keluargalah benteng pertahanan itu terletak.

Bila Istri Naik Haji

Tahun ini istri saya menunaikan Rukun Islam yang kelima, yaitu melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci. Dia berangkat ke Tanah Suci pada kloter terakhir dari embarkasi Pondok Gede tanggal 31 Oktober. Prosesi ibadah haji sebenarnya sudah selesai dengan puncaknya wukuf di Arafah pada Hari Sabtu tanggal 5 November 2011 kemarin. Sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah S.A.W, haji itu adalah wukuf d Arafah, jika seseorang tidak sempat wukuf di Arafah maka tidak sah ibadah hajinya. Setelah wukuf maka prosesi ibadah berikutnya adalah melempar jumrah di Mina pada hari-hari Tasyrik (yang juga sudah berlalu) dan terakhir thawaf wada’ (thawaf perpisahan), yang juga sudah selesai. Hari-hari ini sudah mulai jamaah haji Indonesia satu persatu kembali ke tanah air.

Namun karena berangkat dengan kloter terakhir, tentu pulang ke tanah air juga dengan kloter terakhir, sesuai dengan prinsip FIFO (First In First Out). Dengan program ONH biasa total waktu di Mekah dan Madinah adalah 40 hari. Program haji menjadi lama karena jamaah harus menunggu giliran pulang dengan pesawat yang jumlahnya terbatas. Tahun ini ada 210 ribu lebih jamah haji dari Indonesia.

Sudah dua minggu istri saya berada di Tanah Suci, jadi kira-kira ada sekitar 1 bulan kurang lagi baru ia kembali ke tanah air. Lumayan kangen juga ditinggal istri selama itu, he..he..he, saya menjadi “single parent” selama 40 hari. Ternyata menjadi “single parent” itu tidak enak, saya bisa merasakan betapa sulitnya seorang single parent yang sebenarnya dalam mengasuh anak, apalagi jika jumlah anaknya banyak. Timpang rasanya mengasuh anak sendirian, yang ideal itu mengasuh anak bersama-sama. Kehadiran ayah dan ibu bagi seorang anak sangat penting untuk perkembangan kejiwaan si anak. Anak yang hanya mendapat kasih sayang dari single parent biasanya tumbuh menjadi anak yang kurang stabil secara emosi dan kejiwaan. Sudah banyak contoh kasusnya, tidak perlu saya ceritakan lagi.

Banyak orang bertanya kenapa kami tidak pergi haji berdua. Keadaan keluarga saya tidak memungkinkan kami pergi berdua, karena anak-anak di rumah tidak ada yang bisa menjaga. Kakek neneknya sudah terlalu sepuh sehingga tidak mungkin bisa menjaga cucu-cucunya. Oleh karena itu, saya memutuskan istri yang berangkat lebih dahulu, biar saya yang menjaga anak di rumah. Berkat rizki dari Allah SWT, saya bisa menabung dan memberangkatkan ibunya anak-anak ke tanah suci. Peran seorang ibu tiga kali peran seorang bapak, oleh karena itu saya mengutamakan istri saya terlebih dahulu, barulah nanti saya yang berangkat ke sana. Jika ada rizki lagi dan anak-anak sudah bisa mandiri, barulah kami pergi berdua.

Perlu waktu tiga tahun baru istri saya mendapat porsi haji. Dengan daftar tunggu yang panjang, seorang muslim di Indonesia perlu bertahun-tahun menunggu kepastian berangkat haji. Dengan jumlah kuota haji yang terbatas sedangkan peminat haji yang mencapai jutaan orang, maka tentulah diberlakukan sistem antrian. Untuk Jawa Barat sendiri porsi haji sudah penuh hingga 3 tahun ke depan. Di Jawa Timur saya baca porsi haji sudah penuh hingga lima tahun ke depan. Di daerah-daerah lain dengan kuota yang lebih sedikit dan jumlah peminat yang tinggi tentu porsi haji sudah penuh lebih dari lima tahun ke depan.

Begitu tingginya animo naik haji dan kuatnya panggilan Tanah Suci, tidak jarang berbaga cara ditempuh banyak orang Islam Indonesia untuk dapat pergi haji, mulai dari cara yang legal, ilegal hingga cara-cara yang menurut saya saya termasuk “kebohongan”. Cara yang legal yaitu sesuai aturan Pemerintah, yaitu mendaftar sesuai dengan prosedur yang dtentukan. Cara yang ilegal adalah di luar ketentuan itu, yang sering disebut “haji non kuota”. Mereka berangkat dengan biro perjalanan “nakal”, ada yang memakai visa umrah (berangkat umrah sebelum masa haji, dan selesai umrah tidak mau pulang, tetapi menetap dulu di sana sampai bulan haji tiba padahal masa visa sudah habis). Atau, ada pula yang berangkat dengan menggunakan visa haji yang dikeluarkan oleh Kedubes Arab Saudi diluar jamaah kuota (aneh, kok bisa), perjalanan mereka diatur oleh biro perjalanan umrah/haji, berangkat dengan pesawat komersil dengan rute yang sambung bersambung (Jakarta – Kuala Lumpur – New Delhi, Abu Dhabi – Jeddah).

Di Tanah Suci jamaah haji “non kuota” ini sering ditelantarkan oleh biro perjalanannya, sebab penanggung jawab biro perjalannnya tiba-tiba “menghilang” di Tanah Suci dan akhirnya jamaah itu terlunta-lunta nasibnya. Padahal jamaah itu tidak membayar murah lho, mereka mengeluarkan uang dua kali hingga tiga kali lipat dari ongkos BPIH biasa agar bisa berangkat haji tanpa perlu menunggu bertahun-tahun. Keawaman calon jamaah haji itulah yang dimanfaatkan oleh biro umrah/haji untuk menjaring jamaah haji dengan iming-iming kepastian berangkat. Masih “beruntung” yang bisa berangkat, sebagian lagi banyak yang terkatung-katung nasibnya gagal berangkat haji karena visa haji tidak turun-turun dari Kedubes Arab Saudi. Mereka “terdampar” di kota-kota embarkasi, mau pulang kampung merasa malu sebab mereka sudah pamitan dan sukuran mengundang para tetangga.

Nah, yang pergi dengan “kebohongan” juga cukup banyak. Jamaah model begini membuat KTP baru di daerah lain yang porsi hajinya dikira-kira masih tersedia, sebab di tempat tinggalnya porsi haji sudah habis bis bis. Dengan “memalsukan data”, mereka membuat KTP kedua seolah-olah warga di daerah tersebut, misalnya tinggal di kota Bandung tetapi membuat KTP kedua di Kabupaten Kuningan agar bisa tercatat sebagai calon jamaah haji Kabupaten Kuningan (sesuai aturan, jamaah haji hanya bisa mendaftar sesuai dengan alamat tempat tinggalnya sesuai KTP). Nah, menurut saya perbuatan ini sudah tidak jujur dan sudah menciderai niat suci naik haji. Mau haji kok melakukan kebohongan. Lagipula dengan perbuatan tersebut berarti calon jamaah haji ini sudah merampas jatah haji orang lain di daerah yang bersangkutan. Kalau memang sudah waktu gilirannya tiba, inysa Allah kesabaran menunggu berangkat itu pasti datang juga. Istri saya pernah ditawari cara seperti ini, yaitu membuat KTP Kabupaten Bandung agar bisa berangkat haji pada tahun 2010 (karena kuota haji Kabupaten Bandung saat ia mendaftar dengar-dengar masih tersedia), Tetapi, saya melarangnya melakukan cara yang tidak terpuji ini.

Labbaikallaahumma labbaik, labbaikallah syarika laka labbaik, innal hamda wa ni’mata, laka wal mulk, laa syarikala, mudah-mudahan aku pun datang menemui panggilanmu Ya Allah, beribadah haji ke tanah suci Mekah.

Mengapa Mahasiswa “Veteran” Tidak Lebih Baik Nilainya daripada Mahasiswa Yunior?

Barusan saya sudah menyelesaikan pekerjaan memeriksa berkas ujian UTS. Satu keprihatinan yang selalu saya temui setiap tahun adalah mahasiswa yang mengulang mata kuliah. Pada setiap semester selalu saja ada mahasiswa yang mengulang mata kuliah. Sebut saja mereka mahasiswa “veteran”, yaitu mereka yang sudah pernah mengambil kuliah tersebut pada tahun sebelumnya. Mereka mengulang mungkin karena tidak lulus atau ingin memperbaiki nilai (misalnya tahun lalu dapat C, sekarang diambil lagi karena berharap dapat B atau sukur-sukur A). Mereka yang mengambil mata kuliah ini pertama kali, meskipun angkatan yang lebih tua, tidak saya sebut sebagai mahasiswa veteran.

Nah, masalahnya hasil ujian mahasiswa veteran ini tidak lebih baik dari nilai ujian mahasiswa reguler, yaitu yunior mereka. Kebanyakan hasilnya jelek-jelek, memang ada satu dua yang lumayan bagus, tetapi kebanyakan buruk. Bahkan, bagi mahasiswa yang mengulang karena ingin memperbaiki nilai, nilai mereka bisa lebih buruk lagi dari tahun sebelumnya.

Nilai tugas-tugas kuliah juga setali tiga uang, sama jeleknya. Di Prodi saya setiap mata kuliah ada tugas besar (Tubes) dan tugas kecil (Tucil). Tubes-tubes itu umumnya dikerjakan berkelompok. Nah, masalahnya mahasiswa veteran ini tidak sekelompok dengan mahasiswa yunior, sangat jarang mahasiswa yunior mau sekelompok tugas dengan mereka. Akhirnya mereka sekelompok dengan sesama veteran sendiri. Hasilnya ya begitulah, kadang tugasnya tidak selesai, kadang seadanya saja. Tidak jarang mereka tidak mengerjakan tugas sama sekali karena sulitnya membangun komunikasi dan kebersamaan tim (team work).

Saya juga mencatat mahaisiswa veteran sering bolos kuliah. Isian daftar hadir mereka relatif sedikit. Nah, sebagai kombinasi dari nilai ujian dan nilai tugas yang “lepas makan” itu, akhirnya nilai akhir mereka rata-rata jelek juga. Kalau tidak D ya E, satu dua ada juga yang dapat C dan B (tetapi persentasenya kecil). Di ITB nilai D tidak lulus. Maka, tahun depan mereka dipstikan mereka mengulang lagi.

Saya jadi bertanya-tanya apa penyebabnya dan ingin mencoba memperbaiki. Seharusnya sebagai mahasiswa veteran mereka sudah punya pengalaman menghadapi “medan” yang sama yang sudah dilalui pada tahun lalu. Kalau sudah punya pengalaman seharusnya lebih baik dong daripada yunior mereka yang baru pertama kali mengambil kuliah tersebut. Namun kenyataannya malah sebaliknya.

Kalau mereka disebut bodoh saya tidak yakin. Kalau bodoh kok bisa masuk ITB? Masuk ITB kan seleksisnya sangat ketat dan susah. Melalui diskusi dengan para alumni di fesbuk, termasuk yang pernah menjadi mahasiswa veteran, saya mendapatkan jawabannya. Ternyata masalahnya bukan pada skill atau knowledge, tapi masalah mental. Mental mereka sudah jatuh duluan karena merasa rendah diri dengan yuniornya, disamping ada perasaan menjadi minoritas di dalam yuniornya, sifat malas, dan sebagainya.

Padahal, perasaan rendah diri itu tidak perlu dipelihara. Kalau dipelihara malah menjadi kekhawatiran yang akhirnya merembet kemana-mana, ya ujian, ya tugas kuliah. Gagal semua deh. Seharusnya yang dibangun adalah semangbat untuk bangkit dari kegagalan, semangat untuk fight, semangat untuk maju. Orang gagal pasti tidak mau gagal kedua kalinya, bukan?

Saya juga percaya tidak semua mahasiswa veteran punya kinerja yang buruk seperti di atas, ada juga anomalinya. Satu dua orang ada yang mendapat nilai lebih bagus dari hasil tahun sebelumnya, malah ada yang lebih bagus dari yuniornya. Nah mahasiswa veteran yang begini yang pantas dijadikan model. Jika saya tanya kepada mereka yang “anomali” ini apa rahasianya, ternyata jawabannya adalah mereka mengulang kuliah dengan mental fight, mental berjuang dan bekerja keras untuk mendapat hasil yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

Overall, ini tidak berarti jika anda mahasiswa veteran yang IPK nya hancur maka masa depannya juga sama buruknya dengan kisah akademis selama kuliah. Malah, sebagian mereka banyak yang sukses setelah lulus, mungkin karena mereka termotivasi untuk menjadi lebih baik dari yang mereka alami sebelumnya.

Moral darai cerita saya ini, untuk sukses tidak hanya butuh modal skill dan knowledge, tetapi juga perlu kesiapan mental, yaitu menumbuhkan mental juara agar selalu fight dan maju. Tidak ada yang dapat mengubah nasib kecuali diri kita sendiri.

UI dan ITB “Kejar-kejaran” di Scopus.com

Ada berita yang cukup menggembirakan bulan ini bagi ITB. Setelah beberapa bulan perolehan UI berada di atas ITB, hari ini ITB kembali terdepan dalam daftar perolehan Scopus. ITB ada total 1961 makalah yang terindeks, sedangkan UI total 1885 makalah terindeks di Scopus. Untuk melihat informasi ini silakan masuk ke www.scopus.com, lalu klik Affiliation search dan ketik “indonesia”. Ada 20 perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia yang tertinggi di Scopus pada periode Oktober – Desember 2011, yaitu:

1. Institut Teknologi Bandung (1961 dokumen)
2. University of Indonesia (1888 dokumen)
3. Gadjah Mada University (1155 dokumen)
4. Bogor Agricultural University (757 dokumen)
5. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (715 dokumen)
6. Center for International Forestry Research, West Java (548 dokumen)
7. Insitut Teknologi Sepuluh Nopember (460 dokumen)
8. U.S. Naval Medical Research Unit No. 2 (419 dokumen)
9. Universitas Airlangga (379 dokumen)
10. Universitas Diponegoro (359 dokumen)
11. Universitas Padjadjaran (342 dokumen)
12. Universitas Hasanuddin (317 dokumen)
13. Ministry of Health, Indonesia (300 dokumen)
14. University of Indonesia – Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital (260 dokumen)
15. Universitas Andalas (240 dokumen)
16. Brawijaya University (237 dokumen)
17. Universitas Udayana (237 dokumen)
18. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi BPPT (222 dokumen)
19. Universitas Syiah Kuala (197 dokumen)
20. Badan Tenaga Nuklir Nasional Indonesia (195 dokumen)

Dari daftar 20 tertinggi itu, hanya 4 perguruan tinggi di luar Jawa yang masuk, yaitu Universitas Hasanuddin Makssar, Universitas Andalas Padang, Universitas Udayana Denpasar, dan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Menariknya, BPPT sebagai lembaga penelitian terkemuka terseok pada posisi 18.

FYI, sebagaimana dikutip dari Wikipedia, “Scopus adalah database yang berisi bibliografi abstrak dan kutipan (citation) untuk artikel jurnal ilmiah. Scopus mencakup hampir 18.000 judul dari lebih dari 5.000 penerbit internasional, termasuk di dalamnya 16.500 peer-review jurnal dalam bidang sains, teknik, kedokteran, dan sosial (termasuk seni dan humaniora). Peer review adalah proses regulasi oleh sebuah profesi atau proses evaluasi yang melibatkan individu-individu yang berkualitas dalam bidang yang relevan. Metode peer review bekerja untuk mempertahankan standar, meningkatkan kinerja dan memberikan kredibilitas. Dalam dunia akademis peer review sering digunakan untuk menentukan kesesuaian sebuah makalah akademis untuk publikasi.”

Apa artinya semua ini? Jika makalah anda sudah diindeks di dalam Scopus berarti makalah anda otomatis sudah terakreditasi karena memenuhi standar publikasi ilmiah internasional. Sebenarnya Scopus bukanlah satu-satunya mesin pengindeks yang berisi citation index makalah akademis, masih ada beberapa mesin melakukan pengindeksan seperti IEEE XPlore (khusus makalah di bidang teknik elektro dan informatika), CiteSeer, Google Schoolar, Index Copernicus, DOAJ, EBSCO, ProQuest, ISI knowledge, dan lain-lain. Dari semua mesin pengindeks itu, Scopus adalah mesin yang paling kredibel dan terkemuka.

Terindeksnya makalah-makalah para akademisi di dalam database index tersebut merupakan sebuah prestasi tersendiri. Karena makalah anda sudah terindeks di dalam database maka makalah anda mudah ditemukan oleh mesin pencari seperti Google. Cukup sulit bagi suatu makalah terindeks di dalam mesin pengindeks seperti Scopus itu. Agar makalah anda dapat terindeks di dalam database mesin pengindeks, maka jurnal ilmiah dan prosiding konferensi yang memuat makalah tersebut harus dikareditasi oleh lembaga yang menyediakan database index seperti Scopus, IEEE Xplore, dan lain-lain. Lembaga penyedia database index melakukan seleksi yang sangat ketat dalam memutuskan terindeksnya jurnal dana prosiding tersebut di dalam database mereka. Kriteria peer-review adalah tolak ukur dalam menilai kredibilitas suatu jurnal dan prosidng.

Dalam bidang teknik elektro, informatika, dan teknologi informasi, dua jurnal dari ITB yaitu International Journal on Electrical Engineering and Informatics (IJEEI) dan ITB Journal of Information and Communication Technology sudah terindeks di Scopus. Baru-baru ini konferensi ICEEI yang rutin dilakukan oleh STEI-ITB setiap 2 tahun sekali juga sudah terindeks di dalam Scopus. Ini artinya jika makalah anda berhasil diterima di dalam jurnal dan prosiding tersebut, maka otomatis makalah anda teridneks di Scopus.

Di bawah ini kutipan e-mail dari Scopus kepada Dekan STEI-ITB perihal diterimanya jurnal fakultas kami, IJEEI, untuk diindeks di dalam Scopus:

From: “Scopus Title Evaluation Team”
To: ijeei@stei.itb.ac.id
Sent: Wednesday, October 5, 2011 1:34:44 PM
Subject: The review of your title for Scopus is complete

Title: International Journal on Electrical Engineering and Informatics
ISSN / E-ISSN: 2085-6830 / 2087-5886
Publisher: School of Electrical Engineering and Informatics Institut Teknologi Bandung

Dear Dr. Ir. Suwarno,

The title mentioned above has been evaluated for inclusion in Scopus by the Content Selection & Advisory Board (CSAB). The review of this title is now complete and the CSAB has advised that the title will be accepted for inclusion in Scopus. For your information, the reviewer comments are copied below:

The journal marginally fulfills the criteria for inclusion in Scopus. The international character of the journal must be strengthened.

If necessary, our Source Collection Management department will contact the publisher in order to set up the content feed for Scopus. The title will be loaded in Scopus as soon as we have access to the title and the content has been processed for indexing. At this moment, there is no further action required from your end.

Yours sincerely,
The Scopus Team

Nah, bagi anda yang senang dengan informasi pemeringkatan perguruan tinggi, FYI lembaga pemeringkat tersebut menggunakan jumlah publikasi terindeks sebagai salah satau kriteria pemeringkatan perguruan tinggi dunia. Seberapa banyak publikasi ilmiah internasional dari perguruan tinggi itu yang diindeks di Scopus, Google Schoolar, dan lain-lain. Makanya tidak heran perguruan tinggi di kawasan regional seperti UKM Malaysia, NTU Singapura, AIT bangkok, dan lain-lain selalu menggenjot akademisinya memasukkan sebanyak mungkin makalah mereka ke dalam jurnal dan prosiding internasional yang telah terindeks. Ujung-ujungnya, peringkat perguruan tinggi itu di dalam World Top University bertengger pada 200 besar, mengalahkan perguruan tinggi Indonesai yang lebih dulu lahir seperti UI, ITB, dan UGM.

Di Indonesia tidak banyak perguruan tinggi yang masuk dalam 1000 world top university. Tiga perguruan tinggi yang selalu masuk peringkat 500 besar adalah UI, UGM, dan ITB. Memang selalu ada pro dan kontra soal pemeringkatan itu, tetapi faktanya pemeringkatan itu selalu ada setiap tahun, dan dampak positifnya pemeringkatan itu membuat perguruan tinggi di Indonesia tersadar dan termotivasi untuk terus memperbaiki kualitas agar sejajar dengan perguruan tinggi terbaik dunia.

Kembali ke judul tulisan ini, UI seringkali bertengger dalam urutan pertama di Scopus mengalahkan ITB. Wajar saja, dengan jumlah dosen mereka yang ribuan (bandingkan di ITB hanya ada 1000-an dosen) dan dana penelitian yang banyak UI berhasil memasukkan jumlah makalah yang paling banyak terindeks di Scopus. Namun untuk periode ini (Oktober hingga Desember), ITB mengambil alih peringkat tertinggi di Scopus. Kontribusi makalah cukup banyak berasal dari kegiatan ICEE 2011 yang berlangsung Juli kemarin (ada sekaitar 200 lebih makalah dengan afilasi ITB pada konferensi ICEE 2011 itu).

Kebijakan ITB saat ini yang mendorong para dosennya mengirim sebanyak mungkin publikasi pada jurnal/prosiding terakreditasi ikut menaikkan perolehan di Scopus. Hal ini merupakan suatu cara untuk memperbaiki peringkat ITB sehingga ITB dapat menjadi perguruan tinggi world class university, sejajar dengan perguruan tinggi kelas dunia lainnya. Dan menariknya, ada insentif yang cukup besar diberikan ITB kepada dosen yang makalahnya terindeks di Scopus, ISI Knowledge, dan mesin pengindeks lainnya.

Sejatinya tentu bukan uang sebagai faktor utama melakuan penelitian dan menulis publikasi ilmiah, tetapi lebih didorong oleh faktor tanggung jawab moral sebagai akademisi yang tidak hanya melakukan pengajaran, tetapi juga penelitian untuk kemajuan ilmu pengetahuan di dunia dan di Indonesia khususnya.