Menjadi Yatim Piatu

Sekarang saya menjadi yatim piatu. Ibu saya tercinta sudah dipanggil oleh Allah SWT pada Hari Kamis 24 November 2011 yang lalu. Tiada sakit suatu apa, tiba-tiba sudah meninggal dunia pada pagi hari. Meskipun masih ada sisa rasa kesedihan, namun semuanya saya anggap sudah menjadi takdir Ilahi. Sebelumnya ayah saya sudah berpulang tujuh tahun yang lalu.

Kalau dipikir-pikir, tentu sedih rasanya tidak punya orangtua lagi. Sebaik-baiknya hidup adalah masih ada ayah dan ibu dalam kehidupan kita, sebab barokah dan karomah orangtua itu luar biasa menyinari hidup kita. Masih ada orang yang mengingatkan kita meskipun kita sudah dewasa, masih ada orang yang memarahi kita kalau kita salah, masih ada orang yang menjadi alasan buat kita untuk selalu pulang kampung pada Hari Raya. Makanya bagi anda yang mempunyai orangtua yang masih hidup, bersyukurlah masih ada mereka di sisi anda.

Jika dibandingkan teman-teman saya seangkatan, memang pada usia kami seperti ini sudah banyak yang ditinggalkan orangtua. Ada yang ayahnya sudah duluan berpulang, ada yang ibunya duluan, atau kedua-duanya telah berpulang, bahkan ada yang masih beruntung kedua orangtuanya masih lengkap. Semua sudah suratan menjadi suratan-Nya. Kelahiran, kematian, jodoh, dan rezeki adalah rahasia Allah SWT yang kita tidak pernah tahu.

Seorang teman SMP ketika acara reuni tahun ini bercerita bahwa dia merasa sangat puas karena telah merawat ayahnya yang sakit-sakitan selama 3 tahun hingga mendampinginya pada saat-saat sakratul mautnya. Padahal teman saya ini bekerja di Amerika, dan dia sengaja berhenti bekerja di sana dan pulang ke tanah air agar dapat merawat ayahnya di hari tua hingga ajalnya tiba. Pengorbanannya termasuk luar biasa sampai dia telat menikah karena khawatir tidak bisa total merawat ayahnya kalau dia telah beristri.

Cerita yang sama juga saya peroleh dari sepupu yang bolak balik dari kotanya ke kampung berjarak 90 km untuk merawat ibunya yang sakit selama berbulan-bulan hingga wafatnya. Puas hati rasanya, katanya, karena dia sudah menunjukkan bakti terakhir di saat-saat akhir hayat ibunya.

Saya tidak “seberuntung” teman dan sepupu tadi. Saya tidak berada di samping ibu saya ketika dia wafat. Meninggalnya juga tiba-tiba, tiada sakit suatu apa. Bahkan saya tidak sempat ikut memandikan dan menshalatkan beliau karena tidak terkejar lagi oleh jarak dan waktu. Apalagi pesawat yang membawa saya ke Padang mengalami delay yang lama di bandara Soekarno-Hatta selama berjam-jam sehingga saya tiba di Padang ketika hari sudah sore dan jenazah almarhumah sudah dibawa ke kuburan. Sudah takdir memang, tiada yang perlu disesali lagi.

Meskipun orangtua sudah tiada, dan amalan mereka sudah terputus, masih ada tiga amalan yang mendatangkan pahala yang terus mengalir bagi mereka. Seperti yang dikatakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW, bahwa bila meninggal anak Adam, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah (dari almarhum), ilmu (dari almarhum) yang masih bermanfaat, dan doa anak yang sholeh yang mendoakan ibu bapanya. Mudah-mudahan saja saya termasuk hal yang terakhir itu, yaitu sebagai anak yang sholeh yang selalu mendoakan ayah bunda setiap selesai sholat. Amiin.

Tulisan ini dipublikasikan di Renunganku. Tandai permalink.

6 Balasan ke Menjadi Yatim Piatu

  1. Iman berkata:

    Inna lillaahi wainna ilaihi raji’un. Turut berduka cita uda, semoga ibunda dimudahkan di alam kuburnya dan dimasukkan ke dalam surga yg kita idamkan semua. Amiin.

  2. nuen berkata:

    Innalillahiwainnailaihirojiun.. turut berduka cita pak, semoga Allah mengampuni dosa2, dan memberikan tempat yg mulia di sisiNya, amiin..

    membaca tulisan bapak, teringat bulan Mei lalu, saat bapak saya meninggal dunia. Sejak bapak sakit, saya bolak balik dari Jakarta ke mataram, mengambil cuti dan ijin, untuk bisa menjaga dan merawat beliau. Tapi saya belum merasa puas, karena sejak lulus SMA hingga bekerja, saya selalu berjauhan dengan orang tua.
    rasanya sakit, sedih karena tidak bisa selalu bersama-sama mereka.
    benar kata bapak, saya hanya punya doa, semoga Allah mengampuni dosa-dosa, membalas semua kebaikan yang telah diberikan bapak kepada kami, anak-anaknya..amin

  3. dhimasln berkata:

    innalillahi wainna ilaihi raji’un
    turut berduka, pak.
    Semoga almarhumah diberikan tempat kembali yang terbaik

  4. alrisblog berkata:

    Inna lillaahi wainna ilaihi rajiā€™un. Ambo ikuik berdukacita pak.
    Saya sudah ditinggalkan ibu ketika belum sempat berbakti kepadanya. Waktu Bapak saya wafat, saya hanya bisa lihat wajah beliau terakhir kali ketika lobang lahatnya sudah mau diurug, sedih sekali. Hiks…

  5. nesha berkata:

    innalillahiwainnalillahirojiun
    yang sabar ya kak mati seseorang itu cuma allah yang menentukan dan tidak bisa kita hentikan begitu saja
    yang sabar ya
    saya turut berduka cita
    ( nesha novita

  6. septizhafira berkata:

    subhanallah, kata-kata anda sederhana tapi penuh makna pal… semoga mendiang orangtua bapak dapat diterima dengan baik disisi Allah SWT … keep istiqomah dalam doa pak :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s