Rencana Tuhan Siapa yang Tahu?

Seringkali kita mendengar ungkapan: Tuhan mungkin sudah punya rencana lain, kita hanya bisa tawakal saja. Atau ungkapan lain yang senada: manusia hanya bisa berusaha, tetapi pada akhirnya Tuhan jua yang menentukan. Ungkapan-ungkapan tersebut memang benar adanya dan saya alami sendiri. Sambil mengingat-ingat sisa kesedihan karena ditinggal pergi oleh orangtua, saya mulai merangkai lagi peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dan baru sekarang saya ketahui hikmahnya.

Tahun ini istri saya naik haji sendiri, tanpa saya. Kondisi keluarga kami memang tidak memungkinkan pergi haji berdua, jadi “terpaksalah” pergi satu-satu dulu. Semula, sayalah yang diminta oleh istri untuk duluan berangkat haji. Namun saya bersikeras agar istri saya yang lebih dulu mendaftar haji pada tahun 2009 sehingga dia mendapat porsi haji untuk tahun 2011 (antri dua tahun).

Ternyata inilah hikmahnya saya tidak berangkat haji tahun ini. Ibu saya, satu-satunya orangtua saya yang tersisa, dipanggil ke hadlirat Allah SWT pada bulan tanggal 25 November 2011, yaitu saat istri saya masih berada di Mekkah. Seandainya saya yang pergi haji tahun ini, mungkin saya tidak akan pernah bisa bertemu jenazah ibu saya untuk terakhir kali. Alhamdulillah saya ditakdirkan masih bisa melihat wajah ibu saya untuk terakhir kali sesaat sebelum dimasukkan ke liang lahat (karena pesawat yang saya tumpangi mengalami delay dari Jakarta). Ternyata Allah SWT sudah punya rencana mengapa bukan saya yang duluan berangkat haji, tetapi istri saya. Inilah rupanya hikmah yang saya peroleh dan baru dipahami oleh saya dan istri belakangan.

Ini bukan kejadian pertama tentang Rencana Tuhan. Pada tahun 2007 saya memperoleh undangan memberikan kuliah umum di sebuah PTS di Yogyakarta. Saya sudah berniat berangkat ke Yogya dengan pesawat Garuda paling pagi (yaitu pukul 06.00), sehingga sampai di kota Yogya pukul 07.00. Kuliah umum sendiri dilaksanakan pada pukul 09.00 tanggal 7 Maret 2007. Namun, dua minggu sebelum keberangkatan, saya diberitahu bahwa kuliah umum diundur satu minggu lagi. Oleh karena itu, saya batal berangkat dengan Garuda pada tanggal 7 Maret 2007. Ternyata pembatalan ini mungkin sudah diatur oleh Allah SWT. Rupanya pesawat Garuda yang seharusnya saya tumpangi itu mengalami kecelakaan ketika landing di Bandara Adisucipto, Yogyakarta, yang menyebabkan puluhan orang tewas. Salah satu penumpanng yang selamat adalah Ketua PP Muhammadiyah, yaitu Din Syamsudin, sedangkan yang tewas antara lain mantan Rektor UGM, Prof Kusnadi.

Saya berpikir andaikan saya jadi memberikan kuliah umum pada tanggal 7 Maret 2007, mungkin saya termasuk dalam korban kecelakaan pesawat. Tetapi, Allah SWT masih sayang kepada saya sehingga saya dielakkan dari musibah tersebut dengan pembatalan kuliah umum pada tanggal 7 Maret 2007. Inilah rupanya hikmah saya tidak jadi berangkat dengan Garuda tanggal 7 Maret 2007.

Anda pun mungkin mempunyai pengalaman mirip dengan saya dimana anda punya rencana A, tapi Allah punya rencana B. Seorang mahasiswa saya gagal wisuda bulan Oktober lalu karena dia tersangkut satu mata kuliah yang tidak lulus gara-gara soft copy makalahnya lupa dikumpulkan. Ternyata tidak lulus mata kuliah itu sudah diatur oleh Tuhan. Andaikan dia jadi diwisuda bulan Oktober yang lalu, orangtuanya tentu tidak akan bisa mengahdiri karena mereka sedang pergi haji pada bulan Oktober tersebut. Mungkin itulah rencana Allah untuk dia, agar wisudanya diundur pada tahun depan sehingga dapat dihadiri oleh orangtuanya. Itulah hikmahnya, mungkin, tetapi siapa yang tahu pada waktu itu? Hanya Allah SWT yang tahu. sebab Dia Maha Mengetahui.

Begitulah hidup ini, semua yang akan kita lalui dalam kehidupan di dunia fana ini sudah ditulis oleh Allah SWT di dalam Lauhul Mahfudz. Seperti dikutip dari sini, segala perkara yang ghaib dan tesrembunyi, baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi sudah diketahui oleh Allah SWT, segala sesuatunya sudah ditulis di dalam Kitab Allah yang disebut Lauhul Mahfudz tadi. Kita sebagai mahkluk-Nya hanya tinggal menjalani skenario kehidupan yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An'aam:59]

Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” [An Naml:75]

Marilah kita beriman kepada takdir Allah SWT, baik takdir yang baik maupun takdir yang buruk. Semua sudah diatur oleh-Nya, kita hanya tinggal menjalani saja.

Ada Dinosaurus T-Rex di Museum Geologi Bandung

Setiap hari saya melewati Museum Geologi Bandung yang terletak di Jalan Diponegoro. Dari rumah saya di Antapani menuju kampus ITB di Jalan Ganesha saya selalu melewati Jalan Diponegoro. Museum Geologi hampir tidak pernah sepi pengunjung. Setiap hari ada saja bis-bis dari kota-kota di Pulau Jawa yang membawa anak sekolah berkunjung ke Museum Geologi. Mereka datang sebagai rombongan study tour yang dikoordinir guru-gurunya.

Museum Geologi mungkin termasuk salah satu museum di Indonesia yang ramai pengunjungnya, tidak seperti kebanyakan museum lain yang yang sepi setiap hari. Museum Geologi buka dari Senin sampai Sabtu, bahkan hari Minggu pun buka jika ada permintaan kunjungan study tour dari luar kota. Untuk masuk ke museum ini tidak dipungut bayaran, tapi ada buku tamu yang perlu diisi di front office.

Sebagai urang Bandung tetapi tidak pernah mengunjungi Museum Geologi, akhirnya saya tergerak untuk melihat isi perut museum ini. Bersama anak bungsu saya yang masih TK, saya mengajaknya mengunjungi Museum Geologi sepulang sekolah.

Museum Geologi Bandung itu bangunan peninggalan Belanda. Kokoh dan elegan. Gedungnya membujur dari barat ke timur, cukup panjang juga bangunannya.

Museum Geologi tampak depan

Museum Geologi dari ujung kiri

Koleksi apa yang menjadi daya tarik utama Museum Geologi? Jawabannya adalah replika fosil kerangka dinosaurus T-Rex. Bagi anak-anak, hewan dinosaurus memang menimbulkan rasa kagum. Sejak kemunculan film Jurrassic Park satu dekade lalu, pamor hewan ini melejit. Demam dino dimanfaatkan penerbit buku dengan menerbitkan banyak buku yang menceritakan hewan purba yang sudah punah itu. Wow… ternyata T-Rex itu sangat besar ya, persis seperti di dalam film Jurrasic Park. Bandingkan dengan besar anak saya yang berdiri di depannya. Benar-benar menyeramkan rupa hewan ini, apalagi jika masih hidup pada zaman sekarang.

Kerangka T-Rex (Tyranosaurus)

Menurut pengamatan saya kerangka dinosaurus di Museum Geologi ini bukan asli, tetapi tiruan saja, karena fosil dinosuarus tidak pernah ditemukan di Indonesia. Agak aneh juga obyek ini ditempatkan di Museum Geologi sebab museum ini hanya menceritakan sejarah geologi di Indonesia. Namun tak apalah sebagai daya tarik bagi pengunjung khususnya anak-anak.

T-Rex tampak dari arah belakang

Selain rangka T-Rex, di museum ini ada fosil gajah purba dan kerbau purba. Nah, kalau ini baru fosil asli sebab terlihat rangka hewan tidak lengkap (seperti umumnya fosil yang ditemukan oleh peneliti) dan bahannya bukan plastik seperti rangka T-Rex di atas.

Fosil gajah purba

Fosil kerbau purba

Memasuki ruang berikutnya, kita bisa melihat fosil tengkorak manusia purba di Pulau Jawa. Ada banyak fosil tengkorak yang dipajang di dalam etalase.

Fosil tengkorak manusia purba

Fosil tengkorak manusia purba yang ditemukan di Sangiran (Jawa Tengah)

Fosil tengkorak manusia purba yang ditemukan di lembah Bengawan Solo

Rahang gigi manusia purba. Besar ya?

Fosil primata besar di Pulau Jawa

Di ruang lainnya kita melihat fosil hewan yang hidup di lautan, seperti kerang-kerangan dan lain-lain.

Fosil kerang

Berjalan lagi ke arah barat kita melhat sejarah gunung api dan pembentukan pulau di Indonesia. Di ruangan ini dipamerkan foto-foto dan lansekap gunung api.

Ruang pamer sejarah gunung api

Hanya segitu koleksi Museum Geologi. Jadi dapat disimpulkan di sayap kiri bangunan museum berisi sejarah pembentukan daratan dan pulau, seangkan di sayap kanan berisi koleksi manusia purba dan hewan purba. Di lantai dua tidak ada koleksi yang bisa dilihat (ketika saya datang masih direnovasi). Sebaiknya ada ruang audio visual yang menampilkan film sejarah geologi agar lebih menarik bagi pengunjung. Oh iya hampir lupa, di halaman museum kita dapat melihat koleksi batu-batu besar dan alat-alat pengeboran minyak. Harus diakui koleksi museum tidak terlalu banyak, tapi lumayanlah untuk menambah pengetahuan sejarah geologi Indonesia, khususnya bagi siswa sekolah.

Warna-Warni Musim Buah

Memasuki musim hujan negeri kita disemarakkan dengan buah-buahan lokal yang membanjiri pasar. Sepanjang jalan saya melihat penjaja buah yang menjual buah-buahan dengan mobil bak terbuka.

Sepanjang tahun Indonesia didatangi musim buah-buahan secara bergantian. Usai musim durian, disusul musim mangga. Musim mangga berakhir, kita disapa musim rambutan. Setelah rambutan nanti selesai, lalu musim duku segera menyusul. Begitulah siklus musim buah di negara tropis seperti di Indonesia. Alangkah indahnya negeri ini.

Maka, nikmat Tuhanmu mana lagi yang kamu dustakan?

Buah-buahan yang dijual sepanjang jalan itu menghadirkan warna-warni yang menawan. Ketika musim durian, warna kuning kecoklatan mewarnai jalan. Ketika musim mangga, warna hijau, merah, dan kuning memberikan paduaan warna yang eksotis. Ketika musim rambutan, warna merah menyalanya menggoda selera.

Maka, nikmat Tuhanmu mana lagi yang kamu dustakan?

Inilah beberapa foto buah-buahan yang dijual dengan mobil pick-up di jalanan kota Bandung. Foto durian di Jalan Supratman, foto mangga gedong gincu di Jalan Kiaracondong, dan foto rambutan di Jalan Cicadas.

Buah durian dari Sumatera

Mangga gedong gincu asal Indramayu

Buah rambutan asal Subang

Maka, nikmat Tuhanmu mana lagi yang kamu dustakan?

Salah Saat Kuliah Bisa Dimaafkan, Tapi Kalau Sudah Bekerja?

“Enaknya” menjadi mahasiswa adalah masih ada toleransi. Jika anda melakukan kesalahan, kesalahan itu masih bisa dimaafkan. Malumlah anda sedang dalam proses belajar, jadi kesalahan yang anda perbuat masih bisa ditoleransi. Paling-paling hanya ada pengurangan nilai atau hukuman lain yang proporsional. Misalnya di Informatika, tugas kuliah anda yang berupa program ternyata salah. Mungkin anda salah membaca spesifikasinya sehingga hasilnya keliru, atau mungkin algoritma anda salah sehingga hasil eksekusi programnya juga salah, atau program anda mengandung eror yang tidak terdeteksi ketika pembuatan. Alih-alih anda dikeluarkan dari status kemahasiswaan hanya karena kesalahan tersebut, palingg-paling anda hanya mendapat nilai yang jelek.

Tetapi, anda tidak akan “dimaafkan” jika kesalahan itu terjadi setelah anda lulus dan bekerja. Bayangkan program yang anda buat untuk klien ternyata mengandung cacat. Klien anda akan protes karena mereka sudah membayar mahal untuk program tersebut. Anda sebagai pemrogram atau analis akan disalahkan perusahaan, sebab kesalahan tersebut membuat citra perusahaan di mata klien tercoreng. Ujung-ujungnya perusahaan anda tidak dipakai lagi oleh mereka. Hukuman untuk anda mungkin sangat berat: dipecat!

Bayangkan jika seorang insinyur Sipil salah dalam mendesain rangka jembatan, misalnya salah dalam memperhitungkan beban kendaraan yang lewat. Efeknya fatal, bukan? Jembatan itu mungkin suatu saat runtuh dan memakan banyak korban jiwa.

Begitu juga dalam hidup ini. Berbuat kesalahan dalam lingkup keluarga masih bisa dimaafkan, tapi kalau sudah berada di dalam masyarakat anda dituntut tidak melakukan kesalahan. Kesalahan di dalam masayarakat akan berhadapan dengan hukum. Kampus itu lingkungan kecil seperti keluarga, masyarakat adalah kehidupan yang sesungguhnya. Sebagaimana kampus sebagai tempat untuk belajar, keluarga adalah tempat untuk mempelajari berbagai bekal untuk menghadapi kehidupan. Nilai-nilai ditanamkan di dalam keluarga, dan implementas nilai itu adalah di dalam kehidupan di luar rumah.

Jika keluarga baik, maka masyarakatnya juga baik. Jika masyarakat baik, maka negara akan baik. Begitulah konsekuensi pendidikan di dalam keluarga. Maka, inti dari negara itu adalah keluarga. Sebuah negara akan baik jika pendidikan di dalam keluarga berhasil membentuk anak-anak yang baik. Sebaliknya negara akan centang perenang jika anak-anak yang dihasilkan dari pendidikan keluarga tumbuh menjadi anak yang berperilaku buruk.

Ibarat keluarga, kampus juga adalah tempat penanaman nilai-nilai yang baik itu. Kampus adalah tempat uji coba (try out) kehidupan yang sesungguhnya. Di kampus anda sudah dianggap orang dewasa, dan setiap orang dewasa harus bersedia bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.

Sopan kepada Orang lain, Kasar kepada Anak

Dari milis alumni IA-ITB saya mendapat kiriman e-mail yang berisi pesan moral yang bermakna. Saya bagi di sini kepada anda supaya dapat diambil hikmahnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. “Oh, maafkan saya” adalah reaksi saya.
Ia berkata, “Maafkan saya juga, saya tidak melihat Anda.”
Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.

Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda. Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh.

“Minggir,” kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya. Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan berbicara padaku,

Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang.

Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu. Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu. Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes.

Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, “Bangun, nak, bangun”, kataku. “Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?”.

Ia tersenyum, “Aku menemukannya jatuh dari pohon”.
“Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu.
Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru”.

Aku berkata, “Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu;
Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi”.

Si kecilku berkata, “Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu”.

Aku pun membalas, “Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru”.

Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka. Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan?

Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas? Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA? Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.
FAMILY = (F)ather (A)nd (M)other, (I), (L)ove, (Y)ou.

(Sumber: milis IA-ITB)

Permasalahan Mahasiswa TA

Membimbing mahasiswa Tugas Akhir (TA) itu pekerjaan rutin setiap tahun bagi saya. RaTA-raTA saya membimbing 10 orang dalam satu TAhun pengerjaan TA. Ada mahasiswa yang rajin mengerjakan TA, ada pula yang sanTAi, dan ada pula yang agak malas. KaTA “TA” bagi sebagian mahasiswa adalah kaTA yang menyenangkan, sebagian lagi menganggapnya sebagai kaTA yang sensitif. Disebut menyenangkan bila ia berjodoh dengan topik TA tersebut yang membuatnya bersemangat dan termotivasi agar bisa cepat lulus. TApi bagi sebagian lagi menganggapnya sensitif untuk dibicarakan, karena kemajuan TA-nya mandek, tidak maju-maju, dan malu untuk menemui dosen pembimbing.

Bagi yang begitu semangat dan cepat mengerjakan TA-nya, saya harus menyesuaikan diri dengan kecepaTAnnya itu. Menyenangkan bila bisa membuat mereka lebih bersemangat lagi. TeTApi bagi yang mandek dan tidak pernah muncul-muncul untuk bimbingan, saya bisa mengerti. Pahamlah sebabnya.

Penyebabnya tidak melulu masalah teknis, tetapi menTAl. Kalau masalah teknis, saya percaya solusinya pasti bisa ditemukan. TApi kalau masalahnya pada menTAl, alamat akan panjang permasalahan dan waktunya. Waktu studi maksimal selama 6 tahun di ITB mungkin akan terpakai habis. Kalau perlu, pada saat-saat kritis (ketika batas waktu studi hampir habis) orangtua akan “turun gunung” untuk ikut urun rembug ke Dosen Wali dan Dosen Pembimbing, kira-kira bagaimana penyelesaian TA anaknya itu. Saya sudah kenyang dengan pengalaman berurusan dengan orangtua mahasiswa tentang per-TA-an ini. Pada intinya mereka sendiri juga kebingungan bagaimana membantu anaknya itu. Harapan mereka ada pada kami, dosen Pembimbing. Kalau mau diceriTAkan dalam buku, mungkin tidak akan habis-habisnya untuk dikisahkan ya.

Mahasiswa yang memiliki masalah menTAl ini umumnya mahasiswa angkaTAn “tua”, yaitu yang telah mengambil TA lebih dari satu TAhun. Menurut saya nih, masalah menTAl lebih berat daripada masalah teknis. Motivasi untuk mengerjakan TA tidak ada. Hari-harinya habis untuk berkurung diri di dalam kamar kos dengan menyalurkan tingkat stresnya dengan main game. Kalau tidak, ya menghabiskan waktu dengan aktivitas lain seperti organisasi. Jangan tanya soal TA kepada mereka, itu adalah hal yang sensitif, he..he..

Masalah menTAl ini akan semakin berat bila ia merasa “sendirian”, karena teman-teman seangkaTAnnya sebagian besar sudah lulus. Dia merasa seperti ditinggalkan, dan kondisi ini sangat bepengaruh terhadap kemajuan TA-nya. TA-nya teTAp mentok tidak maju-maju. Sebagai dosen pembimbing, saya merangkap sebagai “psikolog” dadakan sekaligus buat mereka. Rasanya saya perlu membaca banyak buku-buku psikologi nih….

Permasalahan mahasiswa TA yang lain adalah uang. KenikmaTAn memperoleh uang sendiri dari hasil kerja “mroyek” telah mengacaukan skala prioriTAs. Bagi mahasiswa Informatika, pada tingkat 3 mereka sudah bisa mengerjakan proyek perangkat lunak skala kecil. Dengan bayaran yang cukup menggiurkan dan pekerjaan yang menanTAng, habislah waktu dan tenaga mereka untuk proyek. Tidak ada lagi waktu yang tersisa untuk mengerjakan TA. Saya akui, pekerjaan membuat program itu melenakan, sebab waktu bisa habis berjam-jam di depan komputer karena diburu tenggat penyelesaian. Jika tidak sering diingatkan untuk berhenti atau mengurangi, mereka mungkin bisa lewat batas waktu studi.

Mahasiswa TA model begini mudah penyelesaiannya, karena persoalannya bukan masalah menTAl, teTApi tidak bisa membuat prioriTAs. Mereka umumnya mahasiswa yang cerdas, secara skill bagus, hanya larut dalam proyek saja yang telah melenakan mereka. Asal mereka diminTA komitmennya untuk menyelesaikan TA, mereka pasti mau.

Begitulah suka-dukanya membimbing mahasiswa TA. Pada akhirnya semua kejadian di atas saya jalani saja laksana air mengalir, anggap saja sebagai sebuah bentuk ibadah. Moral dari ceriTA ini adalah bahwa kuliah itu tidak hanya masalah kemampuan otak, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh faktor menTAl. Jika menTAl bagus, maka kuliah insya Allah akan sukses. Sangat penting bagi seorang mahasiswa menyelaraskan anTAra otak dan jiwa.

(Keterangan: semua “ta” sengaja diubah menjadi “TA”, lebay kali….)

Humor Akhir Pekan: Salah Persepsi

Hari Jumat sore, awal wik-en setiap minggu, sudah menjelang. Saya ingin mengisi tulisan hari ini dengan yang ringan-ringan saja. Kebetulan dulu saya mendapat kiriman surel dari milis yang berisi humor yang menggelitik. Selamat membaca dan berakhir pekan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

SALAH PERSEPSI 1

Seorang Indonesia yg bahasa Inggrisnya kacau-balau suatu hari menubruk seorang bule waktu itu jalan-jalan di Mall.

Indo : ” I’m sorry.”
Bule : ” I’m sorry, too.”

Si Indo bingung. Doi ngerasa harus ngejawab itu bule.

Indo : ” i’m sorry, three.”
Bule : ” What are you sorry for .”
Indo : ” I’m sorry, five.”

**********

SALAH PERSEPSI 2
Ada gadis cantik mau foto copy ijazah di tempat foto copy. Setelah selesai dan saking buru-burunya ijazah aslinya ketinggalan di tempat foto copy. Apa yang terjadi? Dia kembali segera ke toko foto copy dan langsung nanya, “Mas…mas… aslinya mana?”
Terus dijawab sama mas-mas tukang foto copy, “Solo mbak…”
Gadis: ????????????

**********

SALAH PERSEPSI 3

Si Anto adalah anak SD kelas tiga. Dia punya satu teman sekolah namanya Clara….si Clara cantik dan manis. Singkat cerita, si Anto jatuh hati pada si Clara…ternyata Clara juga punya hati pada si Anto.

Suatu hari, karena nggak tahan lagi, si Anto berkata kepada si Clara, “Clara, aku suka kepadamu. Sayang kita masih kecil…..bila nanti kita udah dewasa, kita menikah ya…?!”

Dengan wajah yang memerah merona, si Clara menjawab, “Anto, bukannya aku menolak….aku sih mau aja…Tapi
dalam keluarga kami, kami hanya menikah sesama kerabat saja. Paman menikah dengan bibi, kakek menikah
dengan nenek, dan bahkan papa menikah dengan mama……padahal kan kamu bukan kerabat aku Anto.”

Mendengar jawaban si Clara, si Anto patah hati….

************

SALAH PERSEPI 4

Si Oneng yang suka oon pergi ke warung Mpok Lela. “Mpok, mpok, aye mau beli vitamin”, kata Oneng.
Mpok Lela: “Vitamin ape mpok? Vitamin A, B, C, D, atau E”
Oneng: “Vitamin ape aje deh, mpok, aye kan buta hurup”
Mpok Lela: ?????????????????

Siswa SMP Sudah Seharusnya Bercelana Panjang

Tahun depan dan tahun depannya lagi anak saya akan memasuki jenjang SMP. Di Bandung jarang ada SMP swasta yang bagus, SMP yang bagus umumnya SMP negeri. Ada beberapa SMP yang menjadi favorit siswa SD di Bandung, yaitu SMP Negeri 2, SMP Negeri 5, dan SMP Negeri 14. Dua SMP pertama sudah berlabel RSBI, sedangkan SMP 14 belum RSBI (CMIIW).

SD anak saya selama ini adalah sekolah Islam, yang menerapkan kewajiban memakai seragam muslim/muslimah. Siswa laki-laki memakai celana panjang, sedangkan siswa perempuan memakai rok panjang dan kerudung. Saya ingin anak saya nanti masuk SMP yang bagus-bagus itu. Nah, masalahnya karena merupakan SMP Negeri, maka aturan seragamnya tentu tidak sama dengan sekolah Islam. Siswa laki-laki SMP negeri memakai celana pendek, sedangkan siswa perempuan memakai rok selutut seperti foto di bawah ini. Model seragam tersebut tidak berubah sejak saya sekolah di SMP pada awal tahun 1980-an.

Seragam SMP Negeri

Berhubung sejak SD anak saya memakai seragam celana panjang, maka dia agak risih juga kalau pas SMP nanti pakai celana pendek. Saya memahami hal ini, namun aturan Diknas tentang seragam saya pikir belum berubah. Menurut saya seragam SMP untuk anak laki-laki seharusnya mengikuti perkembangan zaman. Anak-anak sekarang lebih cepat “matang” dibandingkan generasi kita zaman dahulu. Mereka sudah cepat akil baliq (puber) pada umur di bawah 14 tahun. Anak-laki-laki zaman sekarang sudah banyak mengalami “mimpi basah” pada kelas 1 SMP (sekarang kelas 7), bahkan ada yang sudah “mimpi” sejak kelas 6 SD. Anak perempuan lebih cepat lagi matangnya, mereka sudah banyak mendapat haid sejak kelas 6 SD atau lebih awal lagi.

Karena siswa SMP laki-laki sekarang sudah cepat pubertasnya dibandingkan laki-laki zaman dahulu, maka tidak pantas lagi mereka disebut anak-anak, mereka sudah mulai remaja bro! Batas aurat mereka pun sebaiknya sudah harus disesuaikan yaitu sehingga lutut. Namun, memakai celana sebatas lutut terlihat kurang pas secara estetika — tanggung gitu – maka siswa SMP laki-laki sudah seharusnya memakai seragam celana panjang seperti kakaknya di SMA. Apalagi anak-anak sekarang rata-rata jangkung-jangkung karena gizi yang membaik, maka kurang elok ke sekolah masih memakai celana pendek, sementara sehari-hari di lingkungan rumah mereka memakai celana panjang.

Anehnya, seragam untuk siswa SMP yang perempuan (termasuk siswi SMA juga) di sebagian sekolah (baik negeri maupun swasta) sudah disesuaikan dengan perkembangan zaman. Di Bandung dan Jakarta saya sering melihat seragam siswa perempuan di beberapa SMP memakai rok panjang hingga sampai mata kaki. Saya kurang tahu sekolah mana yang mempelopori rok panjang ini, kalau tidak salah SMA LabSchool Jakarta (yang tidak dapat dipisahkan dengan seorang pendidik terkenal bernama Dr. Arief Rahman). Hmmm…terlihat para siswi tampil lebih feminin dan lebih modis memakai rok panjang daripada memnakai rok pendek yang rawan pelecehan.

Seragam SMPN 2 Kademangan, Blitar (Jawa Timur)

Memang, aturan seragam sekolah saat ini sudah dibebaskan kepada sekolah untuk menentukannya, sesuai dengan otonomi sekolah dan wilayah. Jadi, ada sekolah yang masih menerapkan seragam rok pendek hingga selutut dan ada pula yang menerapkan seragam rok panjang.

Seragam siswa SMP di Tanjung Selor dengan rok panjang

Memakai rok panjang — meskipun siswa tersebut tidak berkerudung — lebih aman dan nyaman bagi siswi yang bersangkutan. Sebagian pihak mencurigai seragam rok panjang model tersebut sebagai penerapan syariat Islam. menurut saya itu kecurigaan yang tidak berdasar, sebab memakai rok panjang atau pakaian panjang seperti gaun adalah ciri khas perempuan di manapun. Coba lihat pakaian foto-foto perempuan Eropa atau Amerika sebelum abad 19, umumnya perempuan memakai pakaian sopan dengan rok panjang. Revolusi seks pada abad 20-lah yang mengubah model berpakaian para wanita Barat sehingga mereka tampil memakai pakaian seksi dan mengumbar aurat.

Memang timpang kalau hanya siswa SMP yang perempuan saja yang memakai seragam rok panjang, sedangkan siswa laki-lakinya masih memakai celana pendek seperti foto di bawah ini:

Oleh karena itu, sudah seharusnya siswa SMP yang laki-laki juga memakai seragam celana panjang sehingga padu padan dengan seragam siswa perempuan.

(Catatan: semua foto bersumber dari Internet, diambil dari sini, sini, dan sini).

Mencoba Ujian Tanpa Diawasi

Hari Jumat minggu lalu saya memberikan Ujian Akhir Semester (UAS) untuk mata kuliah yang saya ampu. Ini adalah mata kuliah tingkat ketiga. Mahasiswa tingkat tiga saya anggap sudah lebih dewasa dan sudah memahami iklim kehidupan di Informatika yang menghargai kejujuran. Nah, kali ini saya mencoba memberikan ujian tanpa diawasi. Ini merupakan kelanjutan dari tulisan yang saya terdahulu (Kalau Perlu, Ujian Tidak Usah Diawasi). Saya ingin mengetes kejujuran mahasiswa dengan tidak menyontek atau berbuat curang lainnya dalam ujian. Bisakah?

Seharusnya bisa kalau kita memegang komitmen mereka sejak awal bahwa mahasiswa Informatika ITB tidak akan mau berbuat curang dalam ujian. Malu dong sebagai mahasiswa ITB melakukan perbuatan menyontek, apa kata dunia? Mahasiswa Informatika (IF) ITB punya harga diri, mereka tidak akan mau menodai kepercayaan (trust) dosen yang diberikan kepada mereka. Kepercayaan itu sangat mahal, lebih mahal dari harta benda sebanyak apa pun. Sebelum ujian saya sudah menekankan bahwa anda (mahasiswa) menghadapi dua ujian sekaligus, ujian mata kuliah dan ujian keimanan.

Ujian keimanan? Ya, tentu saja. Iman mereka diuji, sejauh mana ujian yang tidak diawasi itu menggoda mahasiswa untuk berbuat curang. Peluang untuk menyontek, melihat catatan, berbisik-bisik meminta jawaban kepada teman, atau bekerjasama dalam ujian terbuka lebar. Tiada mata pengawas yang melihat, tetapi “mata” Tuhan dan malaikat-Nya tidak bisa dibohongi.

Kami (dosen pengampu) memasuki ruang ujian bersama asisten mata kuliah. Ujian diadakan di tiga ruang kelas yang berbeda, karena jumlah peserta kuliah 100 orang lebih. Lembar soal dan lembar jawaban dibagikan kepada mahasiswa. Setelah memberikan petunjuk umum, kami pun meninggalkan ruang ujian dengan modal kepercyaaan tadi. Saya yakin mahasiswa akan memegang teguh kepercayaan yang kami berikan. Tidak perlu ada CCTV, tidak perlu ada mata kamera yang mengawasi mereka. Mata kepercayaanlah yang mengawasi diri mereka sendiri.

Tentu saja ujian tersebut tidak kami lepas begitu saja. Setengah jam kemudian kami memasuki ruang ujian untuk memastikan semua baik-baik saja, sekaligus untuk memberi kesempatan bertanya apakah ada yang tidak jelas pada soal ujian. Setelah itu kami kembali ke ruangan kerja masing-masing.

Saya sempat mengintip dari jauh, dan benar saya melihat mereka mengerjakan soal dengan tenang. Tidak ada tanda-tanda mereka melakukan kecurangan. Memang lembar jawaban belum saya periksa untuk lebih memastikan lagi tiada jawaban yang persis sama. Namun mata batin saya mengatakan mereka tidak menyalahgunakan kepercayaan yang kami berikan. Jika terbukti ada kecurangan, saya siap kembali ke cara konvensional lagi, yaitu mengawasi ujian.

Semoga saya tidak salah duga.

Kebenaran Surat Ar-Rahman 19-20: Dua Laut yang Tidak Pernah Bercampur

Beberapa hari yang lalu saya baru saja usai menuntaskan mengaji Surat Ar-Rahman. Setiap selesai shalat Maghrib saya punya kebiasaan mengaji Al-Quran. Surat Ar-Rahman adalah surat yang “ajaib” menurut saya, karena di dalamnya Tuhan berulangkali menjelaskan “Maka, nikmat Tuhanmu mana lagi yang kamu dustakan?”. Saya ingin mengulas posting tentang surat ini pada lain waktu, insya Allah.

Tadi pagi saya menerima kiriman foto dari rekan dosen ITB melalui milis. Ini foto yang mengagumkan, sebab foto ini membuktikan kebenaran Surat Ar-Rahman ayat 19 dan 20 yang berbunyi:

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” (Q.S. Ar-Rahman:19-20)

Inilah foto tersebut, yang memperlihatkan aliran dua lautan yang tidak pernah bercampur, seolah-olah ada sekat atau dinding yang memisahkannya.

Subhanallah, Maha Besar Allah Yang Maha Agung. Ternyata air laut yang tidak bercampur itu benar-benar ada. Saya sudah sering membaca ayat tersebut, tapi masih belum tahu di mana gerangan air laut yang tidak pernah bercampur itu. Ayat lain yang menceritakan fenomena yang sama terdapat pada Surat Al-Furqan ayat 53 yang berbunyi:

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S. Al-Furqaan:53)

Dua lautan yang tidak bercampur itu terletak di Selat Gibraltar, selat yang memisahkan benua Afrika dan Eropa, tepatnya antara negera Maroko dan Spanyol (Sumber foto dari sini dan sini).

Selat Gibraltar (Jabal Tariq)

Selat Gibraltar dari satelit

Dari hasil googling saya di internet, saya menemukan penjelasan ilmiah tentang laut tersebut. Berikut hasil kutipan saya saya dari berbagai sumber di internet:

Arus Selat Gibraltar memang sangat besar di bagian bawahnya. Hal ini dikarenakan perbedaan suhu, kadar garam, dan kerapatan air (density)nya. Air laut di Laut Tengah (Mediterania) memiliki kerapatan dan kadar garam yang lebih tinggi dari air laut yang ada di Samudera Atlantik. Menurut sifatnya, air akan bergerak dari kerapatan tinggi ke daerah dengan kerapatan air yang lebih rendah. Sehingga arus di selat Gibraltar bergerak ke barat, menuju Samudera Atlantik. Lalu apakah air ini akan bercampur dengan air di Samudera Atlantik?

TIDAK!. Lho?? Ternyata ketika air laut dari Laut Tengah menuju Samudera Atlantik, mereka tidak mencampur. Seakan ada sekat yang memisahkan kedua jenis air ini. Bahkan batas antara kedua air dari dua buah laut ini sangat jelas. Air laut dari Samudera Atlantik berwarna biru lebih cerah. Sedangkan air laut dari Laut Tengah berwarna lebih gelap. Inilah keajaiban alam. Tidak hanya itu yang aneh dari perilaku dari kedua air laut ini. Ternyarta, air laut dari laut Tengah yang tidak mau bercampur dengan air laut dari Samudera Atlantik ini menyusup dibawah air laut yang berasal dari Samudera Atlantik. Air dari Laut Tengah ini menyusup di bawah air dari Samudera Atlantik di bawah kedalaman 1000 meter dari permukaan Samudera Atlantik.

Sumber: http://archive.kaskus.us/thread/3726437

Penjelasan lain secara ilmiah dikutip dari blog ini.

Bagaimana bisa terjadi?

Ceriteranya begini. Air laut dari Lautan Atlantik memasuki Laut Mediterania atau laut Tengah melalui Selat Gibraltar. Keduanya mempunyai karakteristik yang berbeda. Suhu air berbeda. Kadar garam nya berbeda. Kerapatan air (density) airpun berbeda. Waktu kedua air itu bertemu di Selat Gibraltar, karakter air dari masing-masing laut tidak berubah. Dari atas ferry yang kami naiki, masih bisa terlihat dengan jelas mana air yang berasal dari Lautan Atlantik, dan mana air yang berasal dari laut tengah atau laut Mediterania. Kalau dipikir secara logika, pasti bercampur, nyatanya tidak bercampur. Kedua air laut itu membutuhkan waktu lama untuk bercampur, agar karakteristik air melebur. Penguapan air yang di Laut Mediterania sangat besar, sedang air dari sungai yang bermuara di Laut Mediterania berkurang sekali. Itulah sebabnya air Lautan Atlantik mengalir deras ke Laut Mediterania.

Arus air alut di Selat Gibraltar

Sifat lautan ketika bertemu, menurut modern science, tidak bisa bercampur satu sama lain. Hal ini telah dijelaskan oleh para ahli kelautan. Dikarenakan adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah kedua air dari lautan tidak becampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka.

Air laut Mediteranian, yang berwarna biru tua, menyusup sampai kedalaman 1000 m dari permukaan laut, di lautan Atlantik, dan terus masuk sejauh ratusan km di lautan Atlantik dan tetap tidak berubah karakteristiknya. Subhannallah.

Sumber: http://gsumariyono.wordpress.com/2009/05/22/selat-gibraltar-1-pertemuan-dua-jenis-air-laut-yang-berbeda/

Saya terkagum-kagum dengan fenomena alam ciptaan Allah SWT. Al-Quran sudah menyebutkan fenomena ini 15 abad yang lalu, dan ilmu pengetahuan modern mengungkapkannya pada abad 20.

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan? Maha benar Allah Yang Maha Agung.