Membimbing mahasiswa Tugas Akhir (TA) itu pekerjaan rutin setiap tahun bagi saya. RaTA-raTA saya membimbing 10 orang dalam satu TAhun pengerjaan TA. Ada mahasiswa yang rajin mengerjakan TA, ada pula yang sanTAi, dan ada pula yang agak malas. KaTA “TA” bagi sebagian mahasiswa adalah kaTA yang menyenangkan, sebagian lagi menganggapnya sebagai kaTA yang sensitif. Disebut menyenangkan bila ia berjodoh dengan topik TA tersebut yang membuatnya bersemangat dan termotivasi agar bisa cepat lulus. TApi bagi sebagian lagi menganggapnya sensitif untuk dibicarakan, karena kemajuan TA-nya mandek, tidak maju-maju, dan malu untuk menemui dosen pembimbing.
Bagi yang begitu semangat dan cepat mengerjakan TA-nya, saya harus menyesuaikan diri dengan kecepaTAnnya itu. Menyenangkan bila bisa membuat mereka lebih bersemangat lagi. TeTApi bagi yang mandek dan tidak pernah muncul-muncul untuk bimbingan, saya bisa mengerti. Pahamlah sebabnya.
Penyebabnya tidak melulu masalah teknis, tetapi menTAl. Kalau masalah teknis, saya percaya solusinya pasti bisa ditemukan. TApi kalau masalahnya pada menTAl, alamat akan panjang permasalahan dan waktunya. Waktu studi maksimal selama 6 tahun di ITB mungkin akan terpakai habis. Kalau perlu, pada saat-saat kritis (ketika batas waktu studi hampir habis) orangtua akan “turun gunung” untuk ikut urun rembug ke Dosen Wali dan Dosen Pembimbing, kira-kira bagaimana penyelesaian TA anaknya itu. Saya sudah kenyang dengan pengalaman berurusan dengan orangtua mahasiswa tentang per-TA-an ini. Pada intinya mereka sendiri juga kebingungan bagaimana membantu anaknya itu. Harapan mereka ada pada kami, dosen Pembimbing. Kalau mau diceriTAkan dalam buku, mungkin tidak akan habis-habisnya untuk dikisahkan ya.
Mahasiswa yang memiliki masalah menTAl ini umumnya mahasiswa angkaTAn “tua”, yaitu yang telah mengambil TA lebih dari satu TAhun. Menurut saya nih, masalah menTAl lebih berat daripada masalah teknis. Motivasi untuk mengerjakan TA tidak ada. Hari-harinya habis untuk berkurung diri di dalam kamar kos dengan menyalurkan tingkat stresnya dengan main game. Kalau tidak, ya menghabiskan waktu dengan aktivitas lain seperti organisasi. Jangan tanya soal TA kepada mereka, itu adalah hal yang sensitif, he..he..
Masalah menTAl ini akan semakin berat bila ia merasa “sendirian”, karena teman-teman seangkaTAnnya sebagian besar sudah lulus. Dia merasa seperti ditinggalkan, dan kondisi ini sangat bepengaruh terhadap kemajuan TA-nya. TA-nya teTAp mentok tidak maju-maju. Sebagai dosen pembimbing, saya merangkap sebagai “psikolog” dadakan sekaligus buat mereka. Rasanya saya perlu membaca banyak buku-buku psikologi nih….
Permasalahan mahasiswa TA yang lain adalah uang. KenikmaTAn memperoleh uang sendiri dari hasil kerja “mroyek” telah mengacaukan skala prioriTAs. Bagi mahasiswa Informatika, pada tingkat 3 mereka sudah bisa mengerjakan proyek perangkat lunak skala kecil. Dengan bayaran yang cukup menggiurkan dan pekerjaan yang menanTAng, habislah waktu dan tenaga mereka untuk proyek. Tidak ada lagi waktu yang tersisa untuk mengerjakan TA. Saya akui, pekerjaan membuat program itu melenakan, sebab waktu bisa habis berjam-jam di depan komputer karena diburu tenggat penyelesaian. Jika tidak sering diingatkan untuk berhenti atau mengurangi, mereka mungkin bisa lewat batas waktu studi.
Mahasiswa TA model begini mudah penyelesaiannya, karena persoalannya bukan masalah menTAl, teTApi tidak bisa membuat prioriTAs. Mereka umumnya mahasiswa yang cerdas, secara skill bagus, hanya larut dalam proyek saja yang telah melenakan mereka. Asal mereka diminTA komitmennya untuk menyelesaikan TA, mereka pasti mau.
Begitulah suka-dukanya membimbing mahasiswa TA. Pada akhirnya semua kejadian di atas saya jalani saja laksana air mengalir, anggap saja sebagai sebuah bentuk ibadah. Moral dari ceriTA ini adalah bahwa kuliah itu tidak hanya masalah kemampuan otak, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh faktor menTAl. Jika menTAl bagus, maka kuliah insya Allah akan sukses. Sangat penting bagi seorang mahasiswa menyelaraskan anTAra otak dan jiwa.
(Keterangan: semua “ta” sengaja diubah menjadi “TA”, lebay kali….)
Ada yang kelewat pak, aktivitas -> aktiviTAs
Ups… iya, kelewaTAn. Tks ya….
Ada lagi ternyata Pak,
6 tahun -> 6 TAhun
batas -> baTAs
tanya -> TAnya
atas -> aTAs
otak -> oTAk
kurang kerjaan banget deh saya >.<
boleh berbagi pak, menurut bapak dan berdasarkan pengalaman bapak, seperti apakah TA yang nilainya A, B atau C?
henry, if98
A ===> proses bimbingan bagus, program sesuai dengan yang diharapkan, laporan TA sistematis dan terstruktur baik, ketika sidang lancar menjawab pertanyaan penguji
B ==> agak di bawah yang A itulah
C ==> jarang bimbingan, laporan amburadul, pencapaian program tiak sesuai target, ketika sidang kurang mampu memnjawab pertanyaan penguji
Kalo di Chrome, CTRL + F >> “TA”
Maka seolah-olah 2 huruf “TA” menghantui blog ini…
Kok saya jadi teringat masa2 kuliah dulu ya?
Memang kuliah itu sebaiknya cepat diselesaikan.
Makasih pak Rin
wah, gimana kalo mau menghilangkan masalah mental tuh pak? biasanya bapak mengatakan apa pada anak didik bapak?
1. Harus TAkut di-D.O gara-gara TA. Pasti tidak mau D.O, kan? Kalau tidak mau, ya kerjakan TA anda.
2. Hanya anda yang bisa mengubah nasib anda sendiri, bukan orang lain.
wah, sebenarnya TA belum seberapa dibandingkan TESIS perihal mental, prioritas, dan non teknis =))
Terima kasih atas pengalaman Pak Rinaldi Munir sebagai dosen pembimbing TA..semoga pengalamannya dapat menjadi catatan dan motivasi bagi mahasiswa yg ingin menyelesaikan TA nya. Saya bangga punya teman seperti Pak Rin ini..Semoga iilmu yg didapat bermanfaat bg kemajuan pendidikan di negara kita ini. Amiinn…
Setuju saja pak Rinaldi, maklum saya juga amburadul kuliah dan TA-nya
Meskipun amburadul, sekarang kamu sudah sukses.
Pak Rinaldi, di IF/STEI memungkinkan tidak mahasiswa mengerjakan TA di luar IF/STEI, misalnya di perusahaan atau institusi lain di dalam dan luar negeri?
Hendro IF98
Mungkin saja, kenapa tidak? Asalkan topiknya masih berkaitan dengan IF dan mengikuti semua proses TA (bimbingan, seminar, dll), maka bisa saja di perusahaan di luar STEI. Mau menawarkan di Jerman, Hendro?
Inginnya seperti itu Pak. Cuman saya tidak tahu prosedur di ITB gimana. Kebetulan di sini banyak mahasiswa bimbingan KP/TA/Thesis, yg datang langsung dari negara-negara lain seperti Polandia, Mesir, Bulgaria, Singapore, Vietnam, Spanyol, dll.
Wuah pak rinnn, saya berterimakasih sekali kpada Pak Rin yang telah begitu sabar membimbing penelitian Tugas akhir saya sampai akhirnya saya dinyatakan lulus. Mungkin saya adlah salah satu mahasiswa bimbingan Pak Rin yg ckup brmasalah, saya mhn maaf atas ksalahan yg prnah saya lakukan T_T.
Pak Rin bnar2 dosen yang begitu menginspirasi, saya sangat salut T_T.
Smoga ttap smangat mmbimbing anak2 tugas akhirnya Pa Rin :’D
Saya tidak mengacu kepada nama-nama, ini hanya secara umum saja dari pengamatan terhadap mahasiswa angkatan “tua” yang mengambil TA. Jadi, bukan kamu tuh….
wahh menarik,,membaca tulisan2 pak..
lanjutttt lanjutttt..