Syarat Kelulusan S1, S2, dan S3: Wajib Membuat Makalah di Jurnal Ilmiah

Hari ini saya menerima surat edaran dari Dikti yang menambahkan syarat kelulusan jenjang program studi (S1, S2, dan S3). Anda bisa membaca surat edaran tersebut pada pranala berikut:

http://dikti.go.id/attachments/article/2670/Surat%20Publikasi%20Karya%20Ilmiah.pdf

Di dalam surat edaran tersebut dinyatakan bahwa publikasi untuk program S1/S2/S3 merupakan salah satu syarat kelulusan, yang berlaku terhitung mulai kelulusan setelah Agustus 2012:
1 ) Untuk program S1 harus ada makalah yang terbit di jurnal ilmiah
2 ) Untuk program S2 harus ada makalah yang terbit di jurnal ilmiah terakreditasi Dikti
3 ) Untuk program S3 harus ada makalah yang terbit di jurnal Internasional.

Hmmm… dalam sekejap saja surat edaran Dikti ini menjadi bahan diskusi di milis dan jejaring sosial. Tujuannya bagus, yaitu untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah di jurnal ilmiah maupun prosing konferensi. Harus diakui bahwa jumlah publikasi ilmiah dari negara kita jauh tertinggal dari negara lain, bahkan dengan negara tetangga pun kita kalah seperti Malaysia dan Singapura.

Sebenarnya kewajiban membuat makalah (paper) ilmiah itu sudah lama berlaku bagi mahasiswa S3 dan (sebagian) mahasiswa S2. Mahasiswa S3 wajib mempublikasikan hasil penelitiannya dalam prosiding konferensi dan jurnal (dulu tidak harus internasional, tetapi sekarang harus internasional), sedangkan untuk program S2 sebagian mewajibkannya, sebagian lagi tidak. Nah, untuk program S1 kewajiban menulis publikasi ilmiah di jurnal tentu hal yang relatif baru (meskipun di beberapa perguruan tinggi hal ini sudah dilaksanakan).

Saya pribadi mendukung kewajiban membuat makalah ilmiah tersebut. Makalah bisa diekstrak dari hasil Tugas Akhir/Skripsi/Tesis/Diseratsi atau makalah lainnya. Jauh sebelum surat edaran DIkti ini keluar, saya sudah melakukannya untuk seluruh mata kuliah yang saya ampu dan bagi mahasiswa tugas akhir yang saya bimbing. Pada setiap kuliah yang saya ampu mahasiswa wajib membuat makalah sebagai bagian dari komponen penilaian. Anda dapat melihat salah satu daftar makalah kuliah semester yang lalu di sini.

Untuk Tugas Akhir (TA) juga sama, mahasiswa bimbingan saya wajib membuat makalah dari TA-nya. Daftar makalah TA dapat dilihat di sini. Untuk setiap makalah ada standard format internasional yang harus diikuti mahasiswa. Tetapi, yang paling penting dari semua itu adalah integritas, yaitu makalah tidak boleh mengandung unsur plagiarisme. Beberapa makalah mahasiswa itu ada yang saya ikutkan dalam konferensi nasional dan internasional (lihat daftarnya di sini), beberapa diantaranya sudah terindeks di Scopus dan IEE Xplore.

Kembali pada topik di atas. Jadi, jika kewajiban membuat makalah itu menjadi syarat kelulusan, tidak masalah bagi mahasiswa kami. Mereka sudah melakukannnya dengan membuat makalah TA. Yang menjadi masalah selanjutnya adalah di jurnal ilmiah mana makalah tersebut akan diterbitkan. Harap maklum jurnal ilmiah di Indonesia jumlahnya sangat sedikit, itupun terbitnya hilang timbul, kadang-kadang terbit kadang-kadang tiarap. Semangat di awal, lalu mati. Kehidupan jurnal ilmiah itu dapat diibaratkan bagai kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tidak mau. Persoalannya bukan karena dana, tetapi makalah yang akan dimuat sangat kurang. Produktifitas menulis akademisi dan peneliti di Indonesia masih rendah. Budaya menulis kalah dengan pekerjaan lain yang menjanjikan materi seperti mroyek, dan pengabdian masyarakat yang berkedok proyek.

Nah, dengan adanya edaran Dikti ini yang terjadi nanti mungkin malah sebaliknya. Lantaran diwajibkan, maka produktifitas makalah ilmiah akan ‘meledak’ luar biasa, jurnal ilmiah akan kebanjiran submission makalah. Nah, bagaimana memuat makalah yang luar biasa banyak itu dalam jurnal ilmiah yang sangat sedikit itu? Anda tidak perlu terlalu khawatir, tunggu saja nanti akan banyak lahir kreativitas dari setiap perguruan tinggi untuk menyiasati jurnal ilmiah itu.

Salah satu usulan yang realistis adalah setiap fakultas atau jurusan/program studi membuat makalah ilmiah sendiri (khusus untuk program S1) yang dikukuhkan oleh Perguruan Tinggi tersebut. Jurnal ilmiah itu tidak harus dicetak untuk menghemat biaya, tetapi dibuat dalam versi daring di internet. Setiap musim wisuda jurnal ilmiah itu terbit secara periodik di internet dan siapapun dapat mengaksesnya untuk membaca dan mengunduhnya. Keuntungan dengan penerbitan daring ini adalah dapat meminimalisir kasus plagiarisme. Orang yang akan melakukan plagiarisme TA akan berpikir seribu kali untuk melakukannyan karena makalah TA mereka akan dipublikasikan di jurnal di internet sehingga kasus-kasus plagiarisme dapat dengan mudah dideteksi.

Bagaimana dengan proses review? Sebagaimana diketahui setiap makalah di jurnal ilmiah dan prosiding harus melalui proses peer review. Makalah-makalah yang akan dimuat harus di-review kelayakannya oleh akademisi. Proses review makalah untuk suatau jurnal dapat memakan waktu lama. Durasi waktunya bisa berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan lebih dari satu tahun. Penyebabnya karena hasil review tersebut harus ditindaklanjuti oleh penulis dengan memperbaiki dan mengirimkannya kembali untuk di-review. Terbayang kan lama waktunya. Jelas waktu yang lama ini dapat memperlambat waktu kelulusan seorang mahasiswa, yang tertunda gara-gara makalahnya belum terbit di jurnal.

Untuk mengatasi lama waktu proses review itu, makalah TA yang akan dimuat di dalam jurnal ilmiah jurusan/program studi/fakultas cukup di-review oleh Dosen Pembimbing dan Dosen Penguji TA. Setelah proses sidang TA berakhir dan review makalah selesai, maka semua makalah tersebut dapat dipublikasikan di jurnal ilmiah yang bersangkutan. Aturan ini mungkin tidak berlaku bagi jurnal ilmiah yang sudah mapan yang memerlukan proses review independen.

Saya menduga, jika Surat Edaran Dikti ini dipatuhi, maka akan lahir ratusan jurnal ilmiah yang terbit secara teratur. Bukan tidak mungkin dari sekian jurnal ilmiah itu akan lahir jurnal ilmiah berkualitas yang go international dan tidak terlalu bergantung pada pasokan makalah Tugas Akhir mahasiswanya. Sumber makalahnya bisa berasal dari mana-mana bahkan dari luar negeri. Jika begini jadinya, maka produktifitas menulsi orang Indonesia di jurnal ilmiah akan tumbuh secara signifikan. Dunia pendidikan dan penelitian akan hidup dan meriah.

Memang ada suara-suara kritik dan keberatan terhadap surat edaran Dikti ini. Salah satunya menyoroti alasan surat edaran itu yang terkesan emosional. Di dalam surat itu dikatakan publikasi ilmiah dari negara kita masih rendah dibandingkan Malaysia. Jika itu alasannya, jelas surat tersebut akan ditertawakan oleh orang Malaysia jika mereka membacanya. Memang rasanya tidak pantas sebuah dokumen negara menjadikan negara lain sebagai pembanding, hal yang memalukan jika Malaysia sebagai alasan pembandingnya dimuat dalam surat resmi Dikti seperti itu.

Seorang teman menilai bahwa surat edaran tersebut dari sisi hukum lemah karena tidak memiliki dasar hukum, oleh karena itu surat edaran itu dianggap tidak bersifat mengikat. Tidak ada konsekuensi berupa sanksi jika perguruan tinggi tidak melaksanakan surat edaran tersebut.

Terlepas dari kelemahan surat edaran Dikti tersebut, yang jelas tujuannya bagus dan patut didukung. Lebih banyak manfaatnya daripada kerugian yang timbul. Yang perlu diwaspadai adalah munculnya jasa outsourcing yang menerima pesanan membuat paper karena kewajiban seperti ini. Kalau kita sudah mendidik mahasiswa dengan benar, mereka tidak akan mau melakukan perbuatan yang memalukan seperti plagiarisme atau mendatangi tempat jasa membuat makalah.

Tulisan ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

17 Balasan ke Syarat Kelulusan S1, S2, dan S3: Wajib Membuat Makalah di Jurnal Ilmiah

  1. phesolo berkata:

    Menarik sekali surat edaran dikti ini…harusnya memang dibudayakan menulis baik secara ilmiah maupun lainnya bagi mahasiswa…:)
    Salam kenal

  2. Musriadi Aswad berkata:

    Salah satu indikator lulusan penguruan tinggi ini harus di sosialisasikan di seluruh PTS dan PTN

  3. tkesgar berkata:

    Mungkin sebaiknya tidak dibuat sebagai “kewajiban” untuk terbit di jurnal ilmiah. Mungkin lebih kepada “kewajiban” untuk mengirimkan ke jurnal ilmiah, dan lalu diberi apresiasi atau penghargaan untuk mahasiswa yang tugas akhirnya dimuat dalam jurnal ilmiah.

  4. dieend berkata:

    Paling ntar ITB bakal ada mata kuliah “Jurnal Ilmiah” yang menjadi mata kuliah wajib dan juga ada jurnal ilmiah yang dibuat oleh fakultas, atau bahkan prodi, seperti yang udah ditulis pak Rinaldi :)

  5. isepali berkata:

    thanks atas infonya saya sangat mendukung atas keputusan mendiknas yang membuat para mahasiswa lebih produktif dan kompetitif

  6. ive berkata:

    salam kenal bapak, saya ive dari informatika S1, IT Telkom
    saya juga belum membaca tanggapan resmi dari kampus saya mengenai hal tersebut, tapi di prodi saya bila sudah meneyelesaikan TA, maka juga wajib membuat versi jurnalnya dan banyak yg mengusulkan jurnal itu yg digunakan sebagai persyaratan tersebut

  7. sutikno berkata:

    Point-point solusi:
    1. S1 bisa publikasi di jurnal online, cukup modal 250 ribu rp untuk mendapatkan ISSN, bisa digunakan untuk publish sepuasnya. Semua PT sudah punya jaringan IT. Bisa dikembangkan Scope jurnal per Kelompok Bidang Keahlian (KBK), sehingga spesialisasi keilmuan berkembang. Pengkaderan mahasiswa S1 menurut KBK secara berkesinambungan.
    2. Terbit yang biasanya cuma 2X setahun, pointnya menjadi lebih tinggi kalau bisa frekuensi terbit dan jumlah halaman dinaikkan. (Bisa terbit mingguan atau bulanan dalam jumlah halaman yang proporsional).
    3. Dosen pembimbing sejak dulu sudah bekerja membimbing skripsi, tinggal membuat artikel bagi prodi yang belum mewajibkan pembuatan artikel ilmiah. Untuk ini, kita bisa meniru UKSW, IPB dan mungkin yang lain juga ada. Jurusan Fisika Unnes tentu sudah mengimplementasikan.
    4. Kelangkaan akan jurnal terakreditasi untuk bidang ilmu tertentu, mestinya dibarengi dengan penerapan paradigma bahwa akreditasi jurnal itu fardhu ain hukumnya. Sehingga setiap periode akreditasi, setiap PT bisa mengirimkan kontingen akreditasi jurnal. Dengan demikian pembinaan mutu jurnal akan berkelanjutan.
    5. Bagi syarat kelulusan S3 harus publikasi internasional, ini cukup baik.

  8. rotyyu berkata:

    Kalau menurut saya, budaya kita yg harus dirubah. Selain itu fasilitas pembantu juga harus dibenahi, misalnya saja utk menulis makalah pastinya kita butuh rujukan ke paper-paper lain, saya biasanya harus nitip ke kampus tetangga yg berlangganan jurnal ilmiah. Nah kalau begini bagaimana mungkin menghasilkan makalah yg bermutu?

  9. Rustan berkata:

    rustan
    Persyaratan kelulusan yang dimuat dalam surat Dikti sangat positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ke depan, namun masih membutuhkan waktu untuk diterapkan secara imperatif. Jika setiap strata atau jenjang dipersyaratkan karyanya dimuat dalam jurnal, akan menimbulkan spekulasi baru yang mencari uang tanpa memikirkan halal/haram atau justru menghilangkan objektifitas yang diinginkan atau lahirnya manusia yang selalu menawarkan jasa pembuat karya ilmiah. Pada dasarnya isi surat Dikti masih perlu dikaji dan diwacanakan dengan semua stakeholder agar dapat berjalan lancar.

  10. Gede H. Cahyana berkata:

    Pendeknya, menulis apa saja, termasuk tulisan ilmiah, bagus-bagus saja. Kalau dikaitkab dengan kelulusan mahasiswa, ini yang perlu dipertimbangkan dengan matang dan sudah dibahas dengan berbagai kalangan di dunia PT. Jadi bukan merupakan keputusan satu atau segelintir orang di DIkti. Jika guyub begitu, maka hasilnya akan berterima. (Gede H. Cahyana)

  11. Ass, secara pribadi saya setuju dengan surat edaran dari kemendiknas karena dengan demikian para mahasiswa akan”dipaksa” untuk belajar menuangkan dan berbagi ide, gagagasan, temuan dan pengetahuan yang ada pada masing-masingnya lewat tulisan. Permasalahannya bagaimana membiasakan buadaya menulis bagi para mahasiswa. Saya tertarik dan memberikan apresiasi kepada pak Rinaldy yang sudah membiasakan para mahasiswanya untuk menulis. mudahan diikuti oleh para pendidik yang lain, dengan catatan harus bijaksana dalam penilaiannya dan jangan jadi penghambat bagi para mahasiswa untuk menyelesaikan studi., karena tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan menulis. Mungkin bapak dapat memberikan trik belajar menulis yang praktis dan mudah. wasalam.

  12. fakhrurrozi berkata:

    Kini saatnya Indonesia wajib menunjukkan kedewasaannya. Indonesia hrs mampu menunjukkan kepada internasional, bahwa kita mempunyai formasi sistematika pendidikan tersendiri. yang mana, kita tak perlu lagi meniru-niru negara lain. Ciptakan sendiri, sesuai dengan kebutuhan bangsa dan negara kita, sudah terlalu banyak meniru…mulai dr hal terkecil sampai hal terbesar. Saya selaku bangsa di negara Indonesia ini, sudah sangat bosan…! Soslusinya.., CIPTAKAN SENDIRI FORMASI SISTEMATIKA PENDIDIKAN DI NEGARA INDONESIA!!!

  13. malu-donk berkata:

    Preeet

  14. Ping balik: Nilai UN Disepakati Sebagai Syarat Masuk PTN? | Catatanku

  15. Ardi Nak Kampa berkata:

    sebelum edaran itu di sahkan seharusnya ada sosialisasi kepada mahasiswa bagaimana langkah2 menulis jurnal, bagaimana melakukan penelitian.
    jadi mahasiswa bisa menerima dan membuat jurnal.
    terima kasih

  16. Ping balik: STEI-ITB Merealisasikan Jurnal Makalah TA | Catatanku

  17. yose berkata:

    para pakar pendidikan indonesia atau pihak dikti, udah memikirkan pedoman penulisan ilimiah baik s1, s2 dan s3, untuk tidak bergantung dengan negara lain, lebih baik mandiri sendiri. ukuran terbaik dari kita sendiri orang indonesia yg menilai seperti apa penulisan yang terbaik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s