Mengapa Untuk Niat yang Suci Harus Berbohong?

Ketika mengurus pendaftaran haji di Kementerian Agama, Bandung, salah seorang yang antri adalah seorang bapak beserta istri dan ibunya. Kami sempat mengobrol sambil menunggu panggilan. Ternyata Bapak tersebut bukan orang Bandung, tetapi tinggal di Surabaya. Ia mendaftar haji di Bandung karena waktu tunggu haji di Bandung tidak selama di Surabaya. Di Bandung kalau mendaftar awal tahun ini baru mendapat porsi haji lima atau 6 tahun lagi, yaitu tahun 2017 atau 2018. Tetapi, di Surabaya waktu tunggunya mencapai 11 tahun.

Berhubung syarat untuk mendaftar haji adalah sesuai dengan daerah domisili, maka Bapak itu membuat KTP Bandung agar bisa mendaftar di Bandung. Melalui suadaranya di Bandung dia bisa memperoleh KTP “tembak” dan Kartu Keluarga Bandung buat dirinya dan ibunya. Memang itu bukan KTP palsu, benar-benar asli, hanya saja diperoleh dengan cara yang tidak terpuji yaitu memalsukan data tempat tinggal. Tinggal di Surabaya tetapi mengaku tinggal di Bandung sehingga dapat memperoleh KTP Bandung. Saya tidak tahu berapa uang yang dikeluarkan oleh Bapak itu untuk mendapatkan KTP Bandung. Tidak terbayangkan pula jika RT, RW, Lurah, hingga Camat mau membohongi diri dengan mengeluarkan KTP Bandung bagi penduduk yang tinggal di Surabaya.

Alasan Bapak itu membuat KTP Bandung bisa saya “pahami” namun secara syariah agama saya tidak setuju dengan tindakannya itu. Dia terpaksa membuat KTP Bandung karena ibunya yang sudah uzur ingin naik haji. Kalau mendaftar di Surabaya kuota haji sudah habis dan calon haji harus menunggu selama 11 tahun lagi. Itu waktu tunggu yang terlalu lama, mungkin saja niat ibunya tidak kesampaian karena sudah duluan dipanggil oleh Allah SWT. Dengan mendaftar di Bandung waktu tunggu hanya 6 tahun, bahkan dia mengusahakan mendapat kemudahan agar didahulukan berangkat (tidak perlu 5 atau 6 tahun, mungkin 3 tahun menunggu) mengingat yang naik haji adalah lansia. Jadi, si Bapak pergi haji untuk menemani ibunya.

Seperti yang pernah saya tulis pada tulisan terdahulu, banyak orang yang memiliki niat suci untuk naik haji namun menempuh cara yang “nakal” agar bisa berangkat lebih cepat. Kebanyakan caranya adalah memalsukan data tempat tinggal sehingga mempunyai KTP di daerah yang kuota hajinya lebih banyak atau yang masa tunggunya tidak lama seperti cerita saya di atas. Seperti kita ketahui kuota haji untuk Indonesia terbatas, hanya 210 ribu orang per tahun, sementara calon jamaah haji dalam daftar tunggu bertambah terus hingga data terakhir yang saya baca mencapai 1,8 juta orang. Jatah 210 ribu orang itu dibagi per tiap kabupatan/kota secara proporsional sesuai dengan jumlah penduduk muslim di daerah tersebut. Akibat kuota yang terbatas tersbeut berlaku aturan first come first serve. Banyak calon jamaah yang menunggu bertahun-tahun agar dapat berangkat haji. Yang paling lama mungkin di Surabaya itu hingga 11 tahun.

Jamaah yang tidak sabar menunggu terlalu lama akhirnya menempuh cara yang tidak etis tersebut. Ini adalah cara yang merusak niat haji itu sendiri, niat yang suci untuk beribadah namun dikotori dengan cara yang tidak terpuji. Mungkin dari sinilah timbul praktek suap dan kolusi mulai dari RT, RW, Lurah, Camat, hingga oknum di Kementerian agama yang melakukan jual beli kuota. Mendaftar di kota lain artinya sama dengan mengambil hak orang di kota tersebut.

Namun saya tidak berani mengatakan apakah tindakan jamaah seperti itu tergolong dosa atau tidak. Cukup Allah saja yang menilai. Yang jelas cara mengakali alamat tersebut tidak benar. Saya bisa “memahami” kerinduan kaum muslim untuk menunaikan ibadah haji sangat tinggi namun terkendala dengan kuota haji sangat terbatas. Mereka sudah rindu dengan panggilan Allah ke Baitullah hingga akhirnya mereka menempuh berbagai cara untuk segera dapat berangkat haji. Insya Allah saya tidak mau melakukan tindakan yang tidak terpuji tersebut, saya akan sabar menunggu hingga tahun 2018 (bertambah satu tahun lagi dari perkiraan saya terdahulu). Mudah-mudahan Allah SWT meridhoi niat saya ini, Amiin.

Tulisan ini dipublikasikan di Agama, Pengalamanku. Tandai permalink.

7 Balasan ke Mengapa Untuk Niat yang Suci Harus Berbohong?

  1. ady wicaksono berkata:

    Sebenarnya menurut saya, tindakan tidak terpuji itu adalah tindakan membuat sistem yang menyusahkan orang berhaji (ya sistem haji di Indonesia dan Saudi sendiri). Haji skrg ini sudah menjadi bisnis besar. Dengan keterbatasan area dan akomodasi di Mekkah, maka Saudi membuat aturan yg bernama “quota haji”, quota haji ini ditentukan oleh besaran populasi negara, misal di Indonesia ya karena punya populasi muslim terbesar di dunia dia diberikan lah quota haji. Quota haji ini tujuannya sebenarnya bagus, mengontrol jumlah orang masuk ke Saudi saat musim haji untuk berhaji. Quota haji ini kemudian menjadi permainan di negara kita, seharusnya quota haji ini diatur sedemikian sehingga:

    * Tetap bersifat first in first out
    * Namun, jamaah haji dengan keterbatasan umur (uzur), orang tua mendapatkan bobot antrian yang lebih daripada orang yang masih muda

    Namun tidak di Indonesia, jutaan orang setor duit ke Depag untuk urusan HAJI, yang diberangkatnya cuman berapa ratus ribu orang, quota haji bukan first in first out tapi dilakukan pembobotan berdasarkan “duit”, betul2 end2end bisnis…..

    Di Saudi sendiri, karena demand tinggi jadilah hotel2 harganya naik gila2an, dan karena hotel biasanya juga sudah full, rumah2 di mekkah tak jarang disewakan pula untuk pendatang haji.

    Yang jadi korban ya banyak dari sistem ini
    * Orang2 dengan penghasilan pas2an di desa2 sudah bertahun2 ngumpulin duit, sampai tua sampai saudi ya berat medannya, fisik perlu fit untuk berhaji… jadi tidak heran banyak yang sakit bahkan meninggal di saat haji….apalagi musim hajinya jatuh pas musim panas (kalau pas musim dingin sih mending)

    Jadi menurut saya, bapak ini tidak 100% salah, dia mencoba mengakali sistem haji yang ada…
    nah apakah ada sistem haji yang lebih bagus?

    Ini bakal jadi diskusi yang panjang….

    • Betul sekali sya juga tidak setuju dengan cara2 seperti itu,keberangkatan sya dan suami dri kab Bandung InsyaAllah thn 2017,dan sya hanya bisa meminta kepada Allah SWT supaya minta di percepat,dan itu sangat halal sekali..

  2. Nabih berkata:

    Assalamu’alaikum wr.wb

    Perkenalkan, nama saya Nabih Ibrahim Bawazir, saat ini saya mahasiswa Program Studi Matematika Universitas Negeri Yogyakarta. Saya memiliki sebuah gagasan untuk mengatasi masalah tersebut yang saya beri nama MABRUR OK (Model Antrian Bijak pRioritas Usia Rentan Orientasi Keefektifan). Karya itu pernah saya publikaskan dalam sebuah seminar nasional di UNY pada Mei 2011, dan sebuah Seminar Internasional (Annual Indonesian Scholar Conference in Taiwan dengan ISSN: 2086-5953), saat ini mendapat hibah PKM-KC dari DIKTI.
    Secara umum karya saya menyarankan beberapa hal kepada Kementrian Agama:
    1. Sistem kuota paralel secara Nasional, mengingat di Sulawesi Selatan waktu tunggu mencapai 14 Tahun
    2. Sistem antrian menggunakan sistem multi prioritas, tidak hanya usia, melainkan orang yang sudah haji juga tidak diprioritaskan, menggunakan sistem skor antrian yang sedang saya kembangkan. Dengan menggunakan beberapa persamaan matematika yang “terlalu sederhana”
    3. Pemotongan alur pendaftaran yang cukup berbelit, ini menyulitkan orang yang tidak terbiasa dengan birokrasi yang berbilit, apalagi yang ke kantor Kemeng Kabupaten butuh waktu sampai 24 jam bahkan lebih.
    4. mengembangkan sebuah program komputer untuk mengatasi ini, sementara saya menggunakan Microsoft Access

    Saya mengetahui bahwa ide ini mungkin biasa, tetapi buat saya ini adalah suatu karya besar. Besar harapan saya untuk:
    1. Mengetahui Jurnal Internasional untuk kasus-kasus sejenis
    2. Mengetahui nama dan kontak ahli yang memiliki kemampuan khusus dalam riset operasi, khususnya Teori Antrian, baik di STEI, FTI, maupun FMIPA (matematika). Karena saya sangat tertarik untuk mengembangkan ini sebagai Thesis di ITB
    3. Mendapatkan testimoni dan saran dari bapak atas program ini (jika bersedia), dengan saya mengirimkan paper terakhir.

  3. M berkata:

    moga2 Tuhan bisa ambil keputusan cepat, ngk cuma membiarkan ini jadi bisnis atas penderitaan orang lain :)

  4. hamba allah berkata:

    menurut saya,bapak yg buat KTP itu gak salah, dana talangan seperti MLM, yg belum mampu berhutang ke dibawahnya sehingga gini deh yg udah mampu secara materi harus tunggu bertahun2 lagi bisa berangkat. yang sudah mampu secara materi ya didahulukan(dan tidak lebih dari 1kali haji).

  5. Zainur berkata:

    Menurut sy pemerintah yg kurang ajar..Mestinya mrk bikin peraturan ttg dilarangnya melaksanakan haji 2 kali dst. Karena hal ini jd penghambat pendaftar haji bg baru krn sifatnya wajib, sementara melaksanakan haji yg ke 2 & seterusnya adalah sunnah. Knp yg kaya gk mentashorrufkan hartanya buat fakir n miskin di lingkungan masing2.. Malah sy lebih cendrung menghukumi haram bg org2 yg berangkat haji lbh dr 1 x, krn dg bgtu dia sdh mengambil hak org lain (pendaftar baru)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s