Jalan Lambat Karena Banyak Makan Karbohidrat?

Kalau saya berjalan kaki bersama istri, istri saya selalu protes karena jalan saya terlalu cepat sehingga istri selalu ketinggalan. Padahal menurut saya kecepatan jalan saya normal saja, tetapi istri — dan juga teman yang lain — menilai jalan saya sangat cepat. Saya sudah mengatur ritme langkah lho agar berjalan lambat, tetapi karena natural saya memang begitu maka sulit diubah. Saya kira jalan kaki saya biasa-biasa saja, ternyata banyak orang lain yang justru jalannya lebih cepat dari saya.

Rata-rata orang Indonesia jalannya lambat atau santai. Coba saja perhatikan gaya berjalan orang kita sehari-hari di pusat-pusat keramaian. Tidak usah jauh-jauh, di kampus saya di ITB mahasiswa kalau berjalan kaki terkesan santai, tidak begegas, bahkan berjalan perlahan-lahan sambil bercengkerama dengan teman-temannya ketawa-ketiwi. Di kampus lain keadaannya kurang lebih sama.

Kalau dibandingkan dengan negara maju, gaya berjalan orang kita ini memang termasuk nyantai. Kalau anda pernah melihat di TV bagaimana orang Jepang berjalan bergegas di pusat-pusat keramaian di Tokyo, maka gaya jalan orang Indonesia tidak apa-apanya. Ribuan orang di Tokyo berjalan seperti terburu-buru menuju tempat kerja, stasiun kereta api, dan tempat-tenpat aktivitas lainnya. Pemandangan yang sama kita temui di Singapura, Hongkong, London, New York, dan kota-kota negara maju lainnya. Saya sih belum pernah ke sana, hanya melihat gambarnya saja di televisi.

Gaya berjalan yang cepat itu boleh jadi karena terburu-buru, dikejar waktu, stres, rush, dan sebagainya, tetapi setidaknya hal itu menunjukkan bahwa bagi penduduk negara maju waktu sangat berharga. Waktu tidak boleh disia-siakan, kalau lambat maka kesempatan bisa diambil oleh orang lain. Telat sedikit maka ditinggalkan kereta api yang tepat waktu misalnya, atau tempat duduk sudah diisi orang lain. Semua berjalan on time dan serba teratur.

Bagi bangsa kita, gaya berjalan pelan sudah menjadi kultur, bersesuaian pula dengan gaya hidup yang terkesan santai. Alon-alon asal kelakon, biar lambat asal selamat, begitu peribahasa yang populer di negeri kita. Salah satu penyebab orang Indonesia berjalan lambat mungkin karena pola makan. Masyarakat kita kalau makan terlalu banyak porsi karbohidratnya, terutama nasi. Mereka makan nasi dengan lauk yang juga karbohidrat, misalnya nasi dengan lauk mi goreng, bihun, perkedel jagung, sayur kentang, dan lain-lain. Karena isi perut kebanyakan karbohidrat maka menyebabkan lembam dan malas bergerak. Coba kalau porsi karbohidratnya dikurangi dan proteinnya (lauk pauk) ditingkatkan, jalan mereka akan lebih gesit seperti orang Jepang, he..he.

Menu makan orang Jepang kalau saya perhatikan di televisi lebih banyak makan protein dan sedikit nasi. Nasi hanya sekepal, tetapi lauknya itu lho, banyak. Lauk pauknya umumnya ikan. Orang Jepang gemar makan ikan sehingga mereka terlihat langsing-langsing. Kalau badan langsing maka jalan kakinya akan gesit dan lincah.

Namun, biarpun begitu, jika disuruh memilih hidup di Singapura, Jepang, Hongkong, atau Indonesia, saya tetap memilih lebih suka hidup di Indonesia, he..he. Lebih nyaman dan tidak stres.

Tulisan ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

6 Balasan ke Jalan Lambat Karena Banyak Makan Karbohidrat?

  1. oesrahman berkata:

    Setuju Pak…

  2. Sugiarto berkata:

    Setujuuuu

  3. rotyyu berkata:

    Sepertinya saya termasuk orang yg jalannya cepat. Teman-teman saya juga banyak yg protes kalau sedang jalan dengan saya. Saya juga sedang berusaha mengurangi konsumsi karbohidrat dengan mengurangi porsi nasi.

  4. ady wicaksono berkata:

    coba dulu pak hidup di HK, SGP, JEPANG, baru deh dipilih, hehehehe… yang jelas di 3 negara itu SGP paling enak, makanan halal banyak pilihan, komunitas muslim ada walau minoritas :D, cuman kalau sama INDONESIA (diluar JAKARTA), memang lebih enak INDONESIA

  5. ikhwanalim berkata:

    bisa jadi pak. jalan lambat karena kebanyajan karbohidrat :D

    gimana ya? orang Indonesia itu, saya kira, ga bisa berpikir kalau perutnya engga kenyang. dan anehnya, kenyang itu mesti sama nasi. padahal, misal secara gizi cukup seimbang karbo en zat-zat lainnya, belum merasa makan karna belum makan nasi.

    makanya mesti ada nasi dan mesti banyak, wajar, jadi sesuai frase dalam judul posting bapak : kebanyakan karbohidrat. :D

  6. salmaners berkata:

    bisa iya bisa tidak

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s