Kami Hanya Mengajarkan Mahasiswa Demo Tugas di Lab

Aksi-aksi penolakan kenaikan harga BBM beberapa hari ini merebak di berbagai daerah di tanah air. Sebagian besar aksi itu dipelopori oleh mahasiswa. Hanya saja sangat disayangkan aksi demo jalanan tersebut justru cenderung anarkis. Para mahasiswa menutup jalan, membakar ban, membakar motor dan mobil, merusak pagar Gedung DPR, dan aksi-aksi lain yang cenderung anarkis (baca berita ini). Aksi anarkisme bukan hanya milik ormas seperti yang sering dikesankan kepada ormas tertentu, tetapi kaum intelektual seperti mahasiswa pun melakukan hal yang serupa.

Kemarin saya melewati jalan Dago, tepat di bawah jembatan layang Pasupati serombongan mahasiswa berdemo di tengah jalan. Aksi mereka membuat polisi terpaksa harus menutup jalan dan mengalihkan lalu lintas ke jalan lain.

Saya setuju mahasiswa melakukan demo. Tetapi pertanyaannya, kenapa mahasiswa melakukan demo dengan cara-cara yang tidak mencerminkan intelektualitas mereka? Membakar ban, merusak pagar, menutup jalan, adalah tindakan yang merugikan dan menyengsarakan banyak orang. Mahasiswa adalah kaum yang cerdas, maka kalau melakukan demo pun seharusnya juga dengan cara yang cerdas. Cerdas di sini artinya menghargai hak orang lain pula, misalnya pengguna jalan, pemilik motor/mobil yang dibakar, dan sebagainya. Silakan melakukan demo tetapi jangan sampai merusak atau mengganggu orang lain. Di dalam kuliah mahasiswa sudah diajarkan bagaimana pentingnya menghargai hak orang lain, misalnya HAKI, menyebutkan sumber referensi di dalam tugas makalah, laporan skripsi, dan sebagainya.


(Keterangan foto: Sejumlah aktivis mahasiswa membentang spanduk di belakang ban yang dibakar untuk memblokade jalan di depan Kampus YAI, Salemba, Jakarta, Kamis (29/3) malam. ANTARA/Ismar Patrizki. Sumber foto dari Tempo.co.id)


(Keterangan foto: Sejumlah warga melihat mobil terbakar di jalan Diponegoro, Jakarta, Kamis malam (29/3). Aksi menolak kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) berakhir bentrok. ANTARA/M Agung Rajasa. Sumber foto: Tempo.co.id)

Apakah mahasiswa kita sudah demikian beringasnya seperti pada foto di atas? Begitukah cara seorang calon intelektual menyalurkan aspirasinya menolak kenaikan BBM? Boleh jadi aksi demo mahasiswa tersebut ditunggangi provokator. Mereka, para provokator, memakai jaket mahasiswa yang entah dibuat di mana supaya tidak bisa dibedakan dengan mahasiswa yang “asli”. Tujuan mereka adalah memanfaatkan aksi demo untuk memanaskan situasi supaya tercipta chaos, huru-hara, kerusuhan, dan aksi-aksi anarkisme yang pada akhrinya merusak idealisme mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa yang “asli” merasa terpancing dan akhirnya ikut melakukan aksi anarkis yang diinginkan provokator.

Secara bergurau saya mengatakan kepada mahasiswa saya, kami para dosen di Informatika ITB tidak pernah mengajarkan mahasiswa demo di jalanan sebab itu bukan aksi yang elegan. Yang kami ajarkan adalah demo tugas-tugas program di lab di depan asisten atau dosen mata kuliah. Setumpuk tugas besar (tubes) yang dikerjakan mahasiswa kami perlu dinilai oleh asisten/dosen dengan cara demo langsung dengan komputer.

Demo di jalan bukan berarti sesuatu yang “haram”, namun lakukanlah dengan cara yang elegan, menghargai hak orang lain, dan damai.

Tulisan ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

4 Balasan ke Kami Hanya Mengajarkan Mahasiswa Demo Tugas di Lab

  1. ikhwanalim berkata:

    mahasiswa yang nyata-nyata kaum intelektual, nyata-nyata menggunakan otak-reptil-nya dalam menanggapi isu kenaikan BBM.

    mungkin mereka vandalis karena mereka belum bayar pajak, pak. mereka lupa, bahwa perbaikan yang dilakukan akibat tindakan vandalis itu duitnya dari pajak.

    bagaimana kalau mahasiswa dipaksa membayar pajak saja?

  2. Rinaldi Munir berkata:

    Mahasiswa belum berstatus wajib pajak karena belum punya penghasilan tetap. Yang perlu ditekankan di sini adalah edukasi melalui pendidikan. Ini adalah tugas pendidik untuk memberi teladan. Kaum intelektual adalah kelompok orang yang tidak berambisi dengan kekeuasaan, tetapi kelompok orang yang memberikan kebenaran universal. Sikap kritis kepada penguasa tidak ditunjukkan dengan perilaku vandalisme, tetapi dengan tulisan.

  3. Marico Chandra berkata:

    Mahasiswa cuma bisa merusak, gak ngerti apa arti dari “Demo” itu sendiri. Bagi para maheasiswa Demo adalah tawuran (kesenangan sendiri dan bukan untuk rakyat)
    Demo mahasiswa tidak merubah apa2, memang BBM tidak naik, tetapi akan tetap naik, hanya saja di undur waktunya. Malahan harga sembako dan bensin eceran yang naik.

    Apa gunanya Demo mahasiswa ?
    di sekolahin tinggi2, tapi tetap saja bodoh.

  4. Cahya berkata:

    Saya jadi sedih ngeliat uang2 pajak digunakan untuk memperbaiki barang2 yang rusak akibat demo. untuk memperbaiki pagar DPR saja perlu 200 jt. Saya setuju dengan demo tugas besar. waktu kuliah saja saya tidak sempat berpikiran untuk ikut2 demo2 karena sudah banyak demo tugas besar menunggu. -_-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s