Kenapa Atap Aula Barat/Timur ITB Bergaya Gonjong Rumah Gadang? (d/h Abdoel Moeis Penggagas ITB)

Pernahkah anda berpikir kenapa atap Aula Barat dan Aula Timur ITB menyerupai bentuk gonjong rumah adat Minangkabau yang disebut Rumah Gadang? Kenapa bentuk atap itu tidak bergaya rumah adat urang Sunda? Saya menemukan jawabannya di dalam sebuah tulisan yang saya baca tadi(Abdoel Moeis ~Penggagas ITB).

Kartupos dengan foto afdruk Kodak ini memperlihatkan ITB bagian aula barat dari arah timur laut (Sumber foto: http://djawatempodoeloe.multiply.com/photos/photo/190/77)

Ternyata pendirian TH (Technische Hoogeschool) –yang sekarang bernama ITB– bukanlah inisiatif penjajah kolonial Belanda. TH adalah gagasan seorang tokoh sejarah bangsa bernama Abdoel Moeis. Abdoel Moeis (lahir pada tanggal 3 Juli 1883) datang ke Belanda bersama delegasi Indie Werbaar pada bulan Januari 1917. Mereka berangkat dengan kapal laut dan tiba di negeri Belanda pada bulan Meret 1917. Di sana Abdoel Moeis bernegosiasi dengan Pemerintah Belanda untuk mendirikan Sekolah Tinggi Teknik di Hindia-Belanda (sekarang Indonesia). Negosiasi itu membuahkan hasil sehingga dibentuklah komisi untuk pendidikan teknik di Hindia. Komisi tersebut disetujui oleh Ratu Belanda dan didukung secara finansial oleh 14 pengusaha Belanda. Seperti kita ketahui bersama Sekolah Teknik Tinggi itu didirikan di kota Bandung pada tahun 1920 di lokasi Jalan Ganesha yang sekarang bernama ITB.


Siapa Abdoel Moeis? Bagi siswa sekolah pasti mengenal nama ini. Dia seorang sastrawan terkenal yang salah satu masterpiece-nya adalah novel Salah Asoehan. Bagi orang Bandung, nama Abdoel Moeis dikenal dengan nama terminal Kebon Kelapa yang bernama terminal Abdoel Moeis. Anda orang Bandung tentu tidak asing denga angkot jurusan Abdul Muis – Dago, Abdul Muis – Cicaheum, Abdul Muis – Ledeng, dan sebagainya. Itu karena Abdoel Moeis dulu pernah tinggal di sekitar Kebon Kelapa.

Dikutip ari artikel di atas, “Abdoel Moeis dilahirkan pada 3 Juli 1883 di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya pada sekolah Belanda tingkat persiapan Sekolah Stovia di Bukittinggi, Abdoel Moeis kemudian menuju Bandung dan tinggal lama di kota ini.”

Lalu bagaimana kisahnya sehingga atap Aula Barat dan Aula Timur itu berbentuk gonjong rumah adat Minangkabau? Dikutip dari artikel di atas: “Menurut keterangan puterinya, Dr. Diana Moeis, ayahnya pernah bercerita bahwa lokasi THS yang sekarang disebut sebagai Intitut Teknologi Bandung itu usulan ayahnya. Pembangunan gedung THS, juga mendapat masukan dari Abdoel Moeis, yang menginginkan agar ada unsur pribumi diterapkan dlm bangunan tsb. Jadilah, atap gedung yang disebut Aula Barat itu sekarang, berbentuk seperti atap rumah gadang di Sumatra Barat. Ya, betapapun, Abdul Muis adalah orang Minang…..jadi, tak mungkin mengusulkan atap julang ngapak bergaya Sunda”.

~~~~~~~~~~~~~

Di bawah ini saya kutipkan sebagian artikel pada tulisan di atas (Abdoel Moeis ~Penggagas ITB):

Abdoel Moeis ~Penggagas ITB~

Pada tahun 1913 di Hindia Belanda muncul suatu gagasan tentang pembentukan “Indie Weerbaar” (Pertahanan Hindia) yaitu milisi paruh waktu yang terdiri atas orang-orang bumi putera, karena milisi merupakan kekuatan pertahanan yang lebih murah daripada memperbesar pasukan professional. Namun demikian ide tentang pembentukkan “Indie Weerbaar” ditolak oleh pemerintah Belanda.

Ketika perang dunia I pecah pada tahun 1914 gagasan “Indie Weerbaar” muncul kembali. Boedi Oetomo yang mempunyai cabang-cabangnya di kalangan orang-orang Jawa yang berdinas pada tentara kolonial, bangkit dari tidurnya dan mulai mengkampayekan pembentukkan milisi semacam itu.

Ketika kampanye tentang perlunya suatu milisi pertahanan berlangsung, Sarekat Islam (SI) memunculkan tuntutan yang lain yaitu harus adanya perwakilan bumi putera dalam pemerintahan Hindia Belanda. Pada tahun 1915 Boedi Oetomo mendukung pandangan SI, sehingga dengan demikian kampanye “Indie Weerbaar” dengan cepat berubah menjadi isu perwakilan rakyat atau Volskraad

Sebagai kelanjutan kampanye Indie Weerbaar, muncul keputusan agar dikirim delegasi ke Negeri Belanda untuk menyampaikan mosi kepada Ratu Wilhelmina, Menteri Jajahan, dan Parlemen Belanda. Utusan terdiri atas enam anggota yaitu Pangeran Ario Koesoemodiningrat (mewakili Prinsen Bond), Bupati Magelang Raden Tumenggung Danoe Soegondo mewakili Regenten Bond, Mas Ngabehi Dwidjosewojo mewakili Boedi Oetomo, Abdoel Moeis mewakili Sarekat Islam, F Laoh mewakili Perserikatan Minahasa, dan W.V Rhemrev. Selain itu, ada seorang pendamping yaitu Dirk van Hinloopen Labberton, seorang tokoh pendukung Politik Etis

Rombongan berangkat ke Negeri Belanda pada bulan Januari 1917 dan tiba di sana pada awal Maret 1917 Sebelum tiba di Negeri Belanda, ketika perjalanan tertunda di Jenewa, Abdoel Moeis bersama Dirk van Hinloopen Labberton sudah menyampaikan gagasan-gagasan mereka dalam berbagai ceramah tentang perlunya percepatan kemandirian Hindia Belanda, meski tetap di bawah pimpinan Negeri Belanda. Untuk itu kemampuan bertahan di bidang militer, intelektual, dan ekonomi sangatlah penting .

Ketika datang di Belanda, mereka diterima dengan sedikit aneh: Untuk memimpin rombongan di Belanda, ditunjuk seorang mentor ; polisi juga ditugaskan untuk mengamat-amati mereka. Para anggota delegasi tidak memiliki kebebasan untuk bergerak sendiri-sendiri. Aturan ketat itu tidak berlangsung lama, beberapa anggota delegasi bergerak sendiri tanpa meminta idzin. (Kaoem Moeda, 28 Juli 1917). Meskipun demikian, secara formal mereka disambut secara simpatik oleh Ratu Wilhelmina, Menteri Jajahan, dan Staten Generaal (Parlemen Belanda)(Poeze, 1986: 113).

Dalam surat kabar Handelsblad yang terbit di Amsterdam, diberitakan tentang acara pertemuan Delegasi Indie Weerbaar yang diselenggarakan oleh perhimpoenan Koninklijke Nederlandsche Vereeniging ,,Onze Vloot” pada tanggal 1 April 1917 di Gedung Concereige Bouw. Dalam berita yang disarikan dalam surat kabar Oetoesan Hindia itu, disebutkan bahwa hadir dalam pertemuan itu beberapa bekas Menteri Kolonial, bekas Gubernur Jenderal Hindia Belanda J.C. van Heutszt, A.W.F. Idenburg, beberapa anggota parlemen, akademisi,dan para pengusaha.

Menjelang kepulangan ke Hindia Belanda, diadakan pesta besar yang diselenggarakan Jenderal Van Heutsz dan dihadiri oleh para tokoh terkemuka dari kalangan pemerintahan dan dunia usaha. Kemudian diselenggarakan pula satu pertemuan, di mana kalangan usahawan menjanjikan dukungan untuk didirikannya sebuah sekolah politeknik di Hindia (Poeze, 1986: 114).

Dirk van Hinloopen Labberton juga berpendapat bahwa jika ada perang, bumiputera pertama tama mesti melindungi kepentingannya sendiri. Labberton juga menjelaskan bahwa tidak lama lagi oleh usaha pihak partikulir di Hindia, kira kira di Bandoeng, akan didirikan Technische Hooge School (Kaoem Moeda, 16 Juli 1917).

Keinginan untuk mendirikan Sekolah Teknik Tinggi di Hindia Belanda, sebenarnya sudah menjadi pemikiran elite Bumiputera dan sementara pengusaha dan industriawan Belanda di Hindia sebelum 1917. Misalnya dalam Doenia Bergerak No. 18 (1914) sudah muncul tulisan berjudul “Pendapatan hal Techniche Hooge School di Hindia” . Soewardi Soerjaningrat yang ketika itu (1917) masih di Nederland gencar sekali mendukung pendirian Sekolah Tinggi Teknik itu. Akhirnya dengan kedatangan delegasi Indie Weerbaar, khususnya Abdoel Moeis berupaya melakukan negosiasi hingga berhasil dengan disetujuinya pembentukan komisi untuk pendidikan teknik di Hindia oleh Ratu Belanda dan 14 pengusaha Belanda yang memberikan dukungan penuh secara finansial Pada tahun 1920, sekolah yang diimpikan itu berdiri di Kota Bandung dengan nama Technische Hogeschool (THS).(Koloniale Studien 1917-1918, hal. 158).

Tulisan ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

11 Balasan ke Kenapa Atap Aula Barat/Timur ITB Bergaya Gonjong Rumah Gadang? (d/h Abdoel Moeis Penggagas ITB)

  1. agah.garnadi berkata:

    Perihal bentuk Aula Barat sebagai terinspirasi oleh bangunan Minangkabau daripada bangunan julang ngapak, sebenarnya lebih tepat lagi kalau pertanyaan itu ditelusuri dari arsip terkait karya arsiteknya.
    Seingat saya, bangunan kompleks ITB, perancangnya adalah arsitek Henri Maclaine Pont.

    http://en.wikipedia.org/wiki/Henri_Maclaine_Pont

    Ketika saya mengikuti pelatihan Pra-Jabatan di ITB, tahun 1996, salah satu pemberi materi adalah Kepala Bagian Sarana/prasarana, yang juga dosen Arsitek (lupa namanya, mungkin beliau sudah pensiun). Yang secara tegas mengatakan bahwa bangunan ITB itu adalah terinspirasi oleh bangunan sunda yang bernama Julang ngapak (yang artinya burung enggang yang membentangkan sayap). Saya lebih percaya ini, karena kemungkinan pengetahuan perihal ini diwariskan secara lisan dari Pont ke murid2nya di TH-Bandoeng.

    Untuk mendudukan persoalan lebih tepat, barangkali harus tanya arsitek yang mempelajari juga sejarah arsitektur, atau menelusuri pemikiran/karya sang arsitek bangunan kompleks ITB, yaitu Maclaine Pont.
    Kalau melihat perjalanan hidup yang tercatat dari Maclaine Pont, yang juga memiliki hobi arkeologi, beliau lama tinggal dan berkarya di jawa. Perlu diperiksa, apakah beliau pernah tinggal atau sempat menjejakan kaki di ranah Minang.

    Artikel di atas, terkait gaya bangunan sebagai rumah gadang, lebih bersifat hipotetis.

  2. agah.garnadi berkata:

    Berikut buku mengenai Henri Maclaine Pont:

    http://en.nai.nl/collection/view_the_collection/item/_rp_kolom2-1_elementId/1_742162

    Berikut ini perihal Maclaine Pont, yang ada di halaman itb sendiri.

    http://www.itb.ac.id/news/1660.xhtml

    Berikut, adalah beberapa catatan mengenai Maclaine Pont dan karyanya, termasuk kompleks-ITB, …

    http://anisavitri.wordpress.com/2009/05/19/maclaine-pont-perintis-arsitektur-indonesia/

    Yang merujuk sebuah thesis S2 arsitektur di ITB

    http://otomasi.lib.itb.ac.id/index.php?menu=library&act=detail&libraryID=48045

    • rinaldimunir berkata:

      Terima kasih Pak Garnadi atas informasinya, memang bentuk atap Aula Barat ITB yang terinspirasi dari Rumah Gadang itu baru sebatas dugaan Penulis saja, seperti yang saya kutip dari artikel “Abdoel Moeis ~Penggagas ITB” itu. Karena dua orang tersebut sudah tiada (Pont dan A. Moeis), kita tidak bisa bertanya lagi. Wallahu alam bissawab.

  3. ikhwanalim berkata:

    yang saya suka dari tulisan2 pak rin adalah, beliau suka menulis tentang ITB. mengingatkan saya, bahwa saya harus bersyukur karena pernah berkuliah disana :)

  4. Catra berkata:

    Menarik pak. Pembahasannya tentang sejarah ITB. hehe, sebagai silent reader, akhirnya gatel pengen komen juga.

    kebetulan saya bergabung dengan Komunitas Aleut, komunitas apresiasi sejarah yang ada di Bandung (didirikan oleh teman2 sejarah unpad). Nah, topik ini juga salah satu yang menjadi pembahasan kita pak.

    Memang betul, atap dari aula timur ini terinspirasi dari gaya rumah tradisional Minangkabau, dulu tahun 2009an juga pernah dimuat di situs itb.ac.id tentang bangunan ini (sekarang hilang, mungkin waktu ITB mereformasi besar2an web nya waktu itu)

    Oya, pak. Dari hasil kajian kami, komunitas aleut berdasarkan literatur2 yang dipunya juga tentang sejarah Bandung. Bahwa, yg sangat berpengaruh pada gaya bangunan itu ialah arsitek nya sendiri. McLaine Pont. Seorang arsitek terkenal pada saat itu (saingan wolf schumaker). Mclaine Pont ini sangat senang membangun bercirikhas nusantara dikala pada saat itu lagi menjamur nya bangunan ala eropa di Indonesia.

    Satu lagi pak, tambahannya, Memang peran abdul muis pada saat itu adalah anggota Volkskrad, sangat penting. tapi inisiatornya bukan beliau, tapi Ijzerman.
    Pada tanggal 30 Mei 1917 didirikanlah Komite sekolah tinggi teknik di Hindia Belanda yang diketuai Dr. C.J.K. van Aalst, yang kemudian diganti oleh J.W. Ijzerman. Tugasnya antara lain mengumpulkan dana untuk pendirian sekolah tinggi teknik di Hindia Belanda.

    Dalam pertemuan di Batavia pada bulan Mei 1919 ditetapkan bahwa Perguruan Teknik itu akan bernama “Technische Hogeschool”. Ijzerman sempat dihadapkan pada pilihan Solo, Yogyakarta, Jakarta atau Bandung sebagai lokasi sekolah. Walikota Bandung B. Coops lantas menyatakan bersedia memberikan sebidang lokasi di Bandung Utara seluas 30 Hektar, terletak di antara Cikapundung dan Dago untuk ditempati sekolah tersebut. Ijzerman menyetujui usul itu, didukung oleh Gubernur jenderal Mr. J. P. Graaf Limburg Stirum.

    Untuk mengenang jasa-jasanya dalam pendirian sekolah tinggi di Bandung, Prof. Odé merancang suatu taman di selatan TH (ITB) yang dinamai Ijzerman-park, dan sekarang bernama taman Ganesha. Sebuah patung dada Ijzerman sempat bertengger di utara taman itu sebelum kemudian dicopot di jaman jepang, dan saat ini tersimpan di gedung rektorat ITB.

    Banyak cerita menarik sejarah ITB yang telah kita bahas pak. Cek di

    http://www.aleut.wordpress.com

    • rinaldimunir berkata:

      Tks Catra, saya sudah membacanya. Berikut ini saya kutip isi email dari Ben Sapiie (cucu Abdoel Moeis) di milis dosen ITB ketika menanggapi tulisan tentang Abdoel Moeis di atas. Ben Sapiie adalah dosen Teknik Geofisika ITB:

      “Bagi saya dan keluarga sebagai cucu beliau tentu saja hal ini sangat membanggakan karena kami juga mendapatkan cerita dari ibu kami mengenai hal ini. Selain itu sudah menyelusuri hal tersebut yang ada di internet. Walaupun tidak pernah ada dalam statue ITB sendiri.

      Wass,

      Ben Sapiie (Cucu Abdoel Moeis)”

  5. esa berkata:

    menurut pengamatan sekilas saya, stuktur dan bentuk rumah gadang sangat berbeda dengan bangunan aula barat itb. secara prinsip, suhunan (atap) rumah gadang sangat panjang dan lancip, bentuknya pun melengkung serta satu alur atau segaris. sedangkan aula barat, bentuknya datar dan hanya sedikit lancip di ujungnya seperti jambul dan paruh burung, serta alurnya ada dua (seperti ada bahu atau sayap). mungkin perlu ada penelitian yang lebih dalam soal transformasi arsitekturnya (gabungan tradisional daerah mana dengan gaya eropa)….. soalnya ketika saya berjalan-jalan di daerah kampus itb, tidak pernah terlintas sedikit pun bahwa itu mirip rumah gadang atau ada suasana rumah gadang seperti yang saya rekam di memori saya tentang rumah tradisional Minang itu. seorang arsitek yang merancang perpaduan budaya seperti itu pastilah memunculkan suasana dan nuansa yang sedikit mendekati gabungan keduanya……

  6. Pak Rinaldi ysh, salam kenal …
    Sedikit sy memberikan klarifikasi dan masukan, jika saya membaca dari tulisan Abdul Muis Penggagas ITB, jelas tidak menemukan kaitan sama sekali antara Abdul Muis dgn bentuk Aula Barat/Aula Timur ITB. Kalau kita mengkaitkannya, sepertinya terlalu jauh. Ada 3 yang perlu diperhatikan:

    1. Untuk peran Abdul Muis dalam penggagas dan pendirian ITB, adalah perlu terus diteliti sehingga sejarah bisa lebih diungkap kejelasan dan kebenarannya, menggantikan apa yg telah dipahami atau ditulis orang pada saat ini. Dan tentu dari sisi akademis ini penting untuk sebuah pemahaman baru, obyektifitas dan meluruskannya.

    2. Kalaulah mungkin/kalaulah benar suatu saat ditemukan dokumen/naskah dsb peran Abdul Muis sebagai penggagas ITB dan berkontribusi besar terhadap pendiriannya (menggeser peran Ijzerman, dari versi lama) tidaklah juga dapat dikaitkan begitu saja antara Abdul Muis dengan arsitektur Aula Barat/Aula Timur ITB tanpa bukti atau dokumen nyata. Lebih dari itu, arsitek bernama Maclaine Pont itu termasuk orang yang sangat gigih pendirian, punya sikap, cara berfikir, dan jalannya sendiri bahkan hingga berpolemik keras dengan Wolff Schoemaker (guru besar arsitektur di ITB pada waktu itu) tentang bagaimana membangun arsitektur yang menurutnya harus lahir dan tumbuh dari buminya sendiri (lokal).

    3. Desain arsitektur yang baik justru tidak pernah akan memperlihatkan dengan jelas dari mana gagasan itu hadir, dengan representasinya yang apa adanya justru akan menghasilkan kenaifan. Representasi arsitektur yang baik dan seni berkualitas justru harus membuka penafsiran dan interpretasi yang lebih luas. Di sini Pont sangat berhasil dalam meramu dan mengekspresikan lokalitas tanpa merujukkan dari mana persisnya gagasan itu khususnya dari arsitektur tradisional/vernakular wilayah Indonesia bagian tertentu. Ia dengan kecakapannya berhasil meramu itu dan yang lahir adalah tonggak baru sebuah pencarian gagasan arsitektur yg membumi (tanpa kenaifan) namun sekaligus juga mewakili semangat zamannya dan sangat modern/kiwari hingga saat ini.

    Dengan demikian, mungkin terlalu cepat dan berani untuk mengkaitkan Abdul Muis dengan Atap Aula Barat. Bahkan arsiteknya sekalipun jika masih hidup/jika ditanya, belum tentu juga akan menjelaskan darimananya. Karena itu memang sesuatu yg tidak perlu diperjelas dan justru akan menurunkan kualitasnya. Para kritikus boleh menafsirkannya dari sudut pandagnnya sendiri dan (!) memang arsitektur yg baik harus berhasil membuka penafsiran yang lebih beragam.

    sekian dari saya,
    salam
    Bambang S Budi
    Dosen Arsitektur ITB

    • cleo berkata:

      sewot aja pak dosen satu ini pake bikin analisa panjang lebar, org udah klarifikasi kalo itu baru sebatas dugaan penulis aja :D

  7. Aliya berkata:

    good good

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s