Prestasi Mahasiswa ITB Angkatan 2011, Jalur Undangan vs Jalur Ujian Tulis

Tahun lalu ITB menerima mahasiswa SNMPTN jalur undangan. Jumlahnya lumayan besar, yaitu 60% dari seluruh mahasiswa baru (1800-an orang), 40% lagi dari SNMPTN jalur ujian tulis. Nah, setelah satu tahun kuliah di ITB, bagaimana prestasi mahasiswa undangan angkatan 2011 itu dibandingkan dengan mahasiswa jalur ujian tulis? Apakah mereka lebih baik atau sama saja dengan mahasiswa jalur ujian tulis?

Jika IP sebagai indikator prestasi mahasiswa, maka grafik berikut ini menggambarkan perbedaan prestasi mahasiswa hasil SNMPTN jalur undangan dan hasil SNMPTN jalur ujian tulis. Data grafik ini saya peroleh dari Wakil Rektor, Pak Hasan, via milis dosen.

Apa yang menarik dari grafik tersebut? Ternyata perbedaan prestasi antara mahasiswa undangan dan mahasiswa ujian tulis tidak signifikan. IPK rata-rata mereka hanya berbeda 0.04. Tidak terlalu besar bedanya, bukan? Mungkin akan lebih menarik jika punya data tentang perbedaan nilai untuk setiap mata kuliah antara mahasiswa undangan dan mahasiswa ujian tulis.

Mahasiswa jalur undangan adalah mahasiswa yang dipilih berdasarkan nilai rapor SMA, sedangkan mahasiswa jalur ujian tulis ditengarai adalah produk Bimbel (meskipun tidak bisa dibantah banyak juga mahasiswa undangan yang ikut Bimbel selama bersekolah).

FYI, di ITB tingkat 1 disebut Tingkat Pertama Bersama (TPB), sebagian besar mata kuliahnya adalah pengulangan pelajaran SMA (MA FI KI). Jadi, wajar saja jika mahasiswa undangan (mahasiswa terbaik sekolahnya) memimpin IP dibandingkan mahasiswa ujian tulis, meskipun bedanya tidak signifikan.

Saya pikir perbedaan keduanya baru bisa dilihat nanti setelah tingkat 2, 3, dan 4, yaitu ketika mahasiswa masuk ke Prodi pilihannya masing-masing. Jadi, perlu ditunggu waktu minimal satu tahun lagi untuk melihat kinerja kedua kelompok mahasiswa ini; apakah perbedaannya tetap tidak signifikan, atau mahasiswa undangan lebih baik daripada mahasiswa ujian tulis, atau mahasiswa ujian tulis melampaui prestasi mahasiswa undangan. Kita tunggu saja.

Perbedaan yang tidak signifikan antara IP mahasiswa undangan dan mahasiswa ujian tulis di tingkat 1 itu dapat dibaca sebagai tidak adanya perbedaan kualitas antara keduanya. Mahasiswa undangan tidak selalu lebih unggul daripada mahasiswa ujian tulis, dan mahasiswa ujian tulis tidak selalu kurang unggul dibandingkan mahasiswa undangan. Dengan kata lain, dijaring dengan cara apapun, mahasiswa baru ITB sama bagusnya. Mereka umumnya juara kelas sehingga nilai rapornya tinggi (mahasiswa jalur undangan) atau memang berotak cerdas sehingga nilai ujian tulisnya sangat tinggi sehingga bisa lolos masuk ITB (mahasiswa jalur ujian tulis). Seorang rekan dosen malah mengusulkan, kalau begitu ITB bisa saja menseleksi calon mahasiswanya sendiri (otonom) tanpa perlu ikut aturan Pemerintah (SNMPTN). Wah!

Jalur undangan memang sempat menimbulkan pro dan kontra. Ada tudingan bahwa nilai rapor bisa saja direkayasa oleh guru atau sekolah agar siswanya bisa diterima jalur undangan. Jika itu benar terjadi, maka mahasiswa karbitan hasil rekayasa nilai rapor itu pasti akan gagal ketika kuliah di ITB, tetapi kenyataannya malah sebaliknya (kesimpulan sementara). Mereka yang undangan itu memang sudah unggul dari sononya, dan terbukti IP mereka di tingkat 1 ITB tetap lebih tinggi (meskipun tidak signifikan) dibandingkan dengan mahasiswa ujian tulis. Entah ya kalau di kampus PTN yang lain.

Saya sendiri dulu produk PMDK (istilah mahasiswa undangan zaman dulu) di ITB pada tahun 1985, tetapi saya pribadi tidak pernah merasa diri saya lebih unggul daripada teman-teman yang diterima melalui Sipenmaru (ujian tulis saat itu). Teman-teman saya hasil Sipenmaru banyak yang lebih bagus daripada saya, begitu juga teman-teman PMDK banyak yang lain lebih hebat daripada saya. Setelah kuliah di ITB, prestasi akademik antara mahasiswa PMDK dan mahasiswa hasil Sipenmaru tidak terlalu jauh bedanya, relatif sama seperti kondisi di grafik di atas. Kesimpulannya, kampus saya memang sudah on the track dalam menyeleksi mahasiswanya, baik dari jalur ujian tulis maupun jalur undangan. Keduanya sama bagusnya. Mahasiswa yang terpilih masuk ITB dengan cara apapun memang mahasiswa yang cerdas.

Tulisan ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

29 Balasan ke Prestasi Mahasiswa ITB Angkatan 2011, Jalur Undangan vs Jalur Ujian Tulis

  1. ikhwanalim berkata:

    klo dari sisi institusi, ada faktor brand alias merek pak, yang mempengaruhi pilihan siswa lulusan SMA untuk melanjutkan perguruan tinggi. mungkin ini bisa jadi, yang menyebabkan kualitas mahasiswa versi ujian tulis maupun versi undangan tidak jauh berbeda. daya tarik yang tinggi dari merek, menyebabkan pendaftar memiliki kualitas yang nyaris setara.

    faktor merek yang tiga huruf (I-Te-Be) ini memang tidak bisa dikesampingkan, dan setahu saya memang belum pernah diteliti secara ilmiah. mengingat ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi pilihan lulusan SMA dalam memilih perguruan tinggi. Misalnya, ada tidaknya beasiswa, fasilitas kampus, dan lain sebagainya.

    anyway, simpulan sementara “mahasiswa jalur undangan tidak gagal di tahun pertama di ITB” ini baik untuk disebarluaskan, saya kira :)

  2. Reisha berkata:

    TPB bukan Tahap Persiapan Bersama pak? :P

    • Julian berkata:

      iya nih pak, ada yg koreksi hehe…

      • rinaldimunir berkata:

        Reisha & Julian, nama TPB sejak dulu sering berubah-ubah, saya sendiri sering bingung mana yang benar.
        TPB = Tahun Pertama Bersama (ini waktu saya kuliah dulu)
        TPB = Tingkat Persiapan Bersama
        TPB = Tahap Pertama Bersama
        TPB = Tingkat Pertama Bersama

    • Husain berkata:

      Kebetulan tadi ada acara di ComLabs, saya foto tulisan depan, Huruf P-nya sudah hilang dan T-nya hampir jatuh.

  3. Iwan BK berkata:

    Kalo saya dulu yg lumayan bagus cuman IP semester 1 :D

  4. garien berkata:

    Pak DR. Rinaldi Munir Yth, setelah adanya uang pangkal “dipatok” 55 jt (Non-SBM) dan 80 jt (SBM) apakah jumlah peminat (pelamar) ke ITB menurut (berkurang) drastis jika dibandingkan sblm ada “kewajiban” uang pangkal bagi calon mhs via SNMPTN Undangan atau Ujian Tulis ? Kalo bisa tolong itu “keharusan” mengisi jumlah “sumbangan” DIHAPUS saja dari sistem seleksi masuk ke ITB ! Hal ini spy citra ITB kembali baik dan diminati oleh calom mhs yg cerdas-cerdas tanpa memandang dia (orang tuanya) mampu atw tdk secara ekonomi. Tks

    • rinaldimunir berkata:

      Saya tidak punya datanya pak, tapi saya meyakini memang ada yang berpikir ulang ketika memilih ITB, Kesannya ITB itu mahal. Namun, banyak informasi yang sering tidak diketahui banyak orang tentang biaya masuk ITB. Biaya 55 juta itu hanya bagi yang mampu saja. ITB menyediakan keringanan mulai dari 25% hingga 100% bagi mahasiswa baru, yang mana permohonan keringanan itu dapat diajukan saat mendaftar seleksi SNMPTN. Bahkan ITB membebaskan100% biaya bagi 20% jumlah mahasiswa baru (20% dari 4000 orang = 800 orang), mereka mendapat beasiswa Bidik Misi dari Kemendiknas dan dari BIUS (Beasiswa ITB Untuk Semua). Silakan baca tulisan saya ini: http://rinaldimunir.wordpress.com/2011/02/21/masuk-itb-dengan-biaya-murah-bisa-saja-jangan-takut/.

      Tahun ini dari 1800 mahasiswa jalur undangan yang diterima, hanya 30% yang bersedia membayar penuh 55 juta, 70% lagi mengajukan beasiswa 25% hingga 100%.

      Bahkan, setelah kuliah di ITB terdapat ribuan beasiswa yang dapat diperoleh mahasiswa. Di ITB smua mahasiswa mulai dari yang miskin hingga yang kaya bisa kuliah.

      Memang kalau belum mendengar informasi yang lengkap tentang biaya masuk ITB maka banyak orang yang takut. Namun kalau dibaca lebih lanjut,

      • garien berkata:

        Sdh sy baca pak. Maksud sy, sbknya ITB itu tdk “mengharuskan” si Calon Mhsnya yg brminat ke ITB untuk mengirim Formulir Pernyataan Kesediaan Pembayaran BPPM shg si calon mhs “khawatir” (jika tdk mengisi penuh 55 jt atw 80 jt) takut tdk diterima, walau pun sdh ditulis bhw besar kecil BPPM tdk brpengaruh dlm sistem seleksi ITB. Trm ksh.

      • Zee berkata:

        Kalo misalnya nggak ada ketentuan ngisi bppm, ITBnya yg ribet ngedata berapa yg harus dibayar, kan itu supaya jelas juga..
        Lagian taun kemarin ada yg berani bayar dalam jumlah yg sangat besar, tp gak diterima, yg gratis (bidikmisi) malah ada yg keterima…
        ITB univ yg mentingin kualitas, kalo cuma mentingin uang, gak mungkin skrg ITB jd salah satu univ terbaik di Indonesia ^^

      • garien berkata:

        seleksi masuk yg sngt baik TIDAK MENGHARUSKAN si calon mhs MENGISI “sumbangan” seperti BPPM dsb. Ini penting, spy semua calon mhs (yg relatif cerdas) dari semua lapisan masyarakat (yg kaya, setengah kaya, miskin, sngt miskin dll) tidak takut untuk memilih ITB gara2 ada keharusan mengisi BPPM.
        ===): BIAYA KULIAH di PTN dg sistem subsidi silang sngt keliru, krn setiap mhs hrs mempunyai hak dan pelayanan yg sama selama dia kuliah di PTN, knp biayanya berbeda ? Sbg contoh, jika kita ke GRAMEDIA mau beli buku, apkh HARGA Buku akan lebih mahal jika yg beli orang kaya yg berdasi, bermobil ….dst ? Tentunya kan HARGA Buku akan tetap SAMA untuk SEMUA PEMBELI tanpa melihat si pembeli itu kaya, stengah kaya, kurang kaya …dst ? Demikian jg halnya dg BIAYA KULIAH di PTN shrsnya ya SAMA untuk setiap Mhs di PTN tsb (analogi dg HARGA Buku). Mhs yg kurang mampu secara ekonomi ya dg Beasiswa :(=====

    • chandra berkata:

      sepakat nih ama om garien
      kalo misalnya ada 2 org peserta, si A dan si B mempunya nilai ujian seleksi yang sama, tapi nilai pengisian BPPMnya berbeda, si A 100 juta si B 10 juta, yg manakah yg masuk ?

  5. bagus berkata:

    Jangan takabur, karena merasa hebat adalah sombong,dan sombong itu tidak pantas bagi orang yg meyakini adanya Tuhan, jangan merasa bahwa kuliah di itb akan memberikan kehidupan yg baik di dunia, krn itu adalah urusan Tuhan,manusia hanya menjalani Tuhan yg menentukan…..

    • garien berkata:

      mas bagus….(dari “catatan” pak Dr. Ir. Rinaldi Munir di atas), sy tdk membaca/menemukan kalimat yg takabur, merasa hebat …sombong .. dll .. . Kenyataannya memang mhs ITB itu cerdas-cerdas… mhs ITB yg muslim jg sngt kuat dlm akidah … silahkan mas bagus ke Mesjid SALMAN ITB … mereka benar2 CERDAS OTAK dan ROHANInya, bukan IQ (intelektual) sj yg relatif tinggi, tp EQ (emosi) dan SQ (spiritual) jg relatif tinggi2 ….. IESQ mrk benar2 relatif tinggi … mereka tidak sombong … justru mereka rendah hati …..mereka sangat tau mana yg hak dan mana yg bhatil ….. Penilaian mas bagus bhw tulisan di atas (dosen atau mhs ITB sombong2) itu sangat keliru mas … Menurut pengalaman sy, orang yg sering menilai dosen atau mhs ITB sombong biasanya dia itu bukan mhs ITB, bukan alumni ITB, tp mungkin dia itu yg gagal masuk ke ITB shg dlm hati dan pikirannya selalu iri dengki kpd ITB …. Maaf jika keliru. Trm ksh.

      • hamba allah berkata:

        setuju…..sirik tanda tak mampu hehehe

      • tukang nasi goreng berkata:

        Tergantung tempatnya pak.. Para lulusan ITB yang kuliah postgrad bareng saya di sebuah perguruan tinggi di Eropa tidak ada yang sombong tuh pak…. apa yang mau disombongin, disini semua orang pinter2 .. Kalau balik kandang lagi, ya ga berani jamin deh pak apakah masih bisa rendah hati atau gak, apalagi udah dgn embel2 lulusan ITB DAN EROPA hehehe.

        Ada cerita, dulu ada seorang senior saya yang lulusan S1-S2 teknik di Belanda dan bekerja di project di Indonesia disebuah institusi yang bukan rahasia umum semuanya lulusan ITB…

        Dia sangat rendah hati, tidak pernah bilang lulusan mana, orang taunya dia, “bukan lulusan ITB”. wah dia pertama kali diremehkan habis2kan di lingkungan institusi tersebut karena dia adalah “bukan lulusan ITB” bahkan seorang rekan kerjanya menguji dia untuk mengerjakan soal teknik tingkat sarjana sebelum mengerjakan suatu project.

        Setelah melihat kemampuannya, orang2 kantornya penasaran dan belakangan ketauan bahwa dia lulusan dari “moyangnya ITB” baru deh mereka respek. Just a story….

    • aris rinaldi berkata:

      saya rasa komentar mas bagus kurang relevan

  6. garien berkata:

    Pak Rinaldi, knp di ITB nama Fakultas/Sekolah tidak disamakan sj menjadi Fakultas semua ? Shg tidak ada lagi Sekolah (seperti STEI, SITH, SAPPK, SBM dst) tapi menjadi FAKULTAS (FTEI, FITH, FAPPK, FBM dll). Trm ksh.

    • Rinaldi Munir berkata:

      Dulu kata “Sekolah” dipakai jika Fakultas/Sekolah tsb hanya memiliki maksimal 2 Prodi, dan “Fakultas” jika memiliki > 2 Prodi. Namun, di STEI jumlah Prodi yang dulu 2 sekarang bertambah menjadi 5, dan pimpinan STEI tidak mengubahnya menjadi “FTEI” karena nama STEI sudah terlanjur dikenal.

  7. theo berkata:

    lebih banyak mahasiswa yang undangannya ya.

    GPS Tracker

  8. Ping balik: Kenapa Jalur Undangan di ITB Lebih Banyak Porsinya daripada Jalur Ujian Tulis? | Catatanku

  9. oonggaboong berkata:

    permisi,, mau ikut tanya2 pa :)
    maaf kalau kurang nyambung dengan post ini,,, kenapa untuk snmptn (dulu disebut undangan) siswa SMK dilarang mendaftar di ITB alias harus via jalur tertulis/SBMPTN saja? Apa murni karena kurikulum yang berbeda dengan SMA pada umumnya? Terima kasih sebelumnya

    • rinaldimunir berkata:

      Saya kira begitu, kurikulum SMK berbeda dengan SMA. Tidak semua SMK mempunyai pelajaran IPA (Ma-Fi-Ki-Bi), kalaupun ada porsinya sedikit. Dalam seleksi jalur undangan di ITB yang dinilai adalah histori nilai pelajaran-pelajaran tersebut dari kelas 10. Karena tidak ada, maka sulit untuk mengukur kualifikasi siswa ybs.

      Namun siswa SMK masih diperbolehkan memilih ITB dari jalur SBMPTN, dengan asumsi mereka mempersiapkan diri sebelum ujian dengan mempelajari secara intensif keempat pelajarn tersebut.

      • oonggaboong berkata:

        hmm, memang udah konsekuensi anak2 lulusan SMK juga yah pa,, tapi sengga-nya saya harap para pihak PTN tetap menganggap setara SMK dengan SLTA yang lainnya agar tercipta keadilan juga, saya yakin banyak sekali potensi yang bisa digali dari anak2 SMK yang ada, terlebih dalam hal aplikasinya ke kehidupan nyata yang bisa dikembangkan dalam kehidupan penelitian juga di lembaga2 pendidikan tinggi yang ada

        Eh, malah curcol, hehe… terima kasih atas responnya pa :)

  10. Mau ikut berkomentar
    Mungkin untuk angkatan 2011 yang baru pertama kali Undangan se-nasional diadakan nilai-nilai rapot sekolahnya masih bisa dibilang asli, tetapi menanggapi adanya Undangan se-nasional ini banyak sekolah-sekolah yang merekayasa nilai rapot di sekolahnya sehingga mungkin tidak bisa mendeteksi siswa unggul dalam satu sekolah hanya dengan mengandalkan nilai rapot. Untuk melihat komentar saya di atas benar atau tidak dapat dilihat dari perbandingan hasil prestasi Mahasiswa ITB Angkatan 2012 atau mungkin untuk lebih akuratnya angkatan 2013.
    Saya juga termasuk angkatan 2011 ITB yang masuk ITB lewat jalur undangan.
    Saya baru melihat grafik ini hari ini dan saya agak terkejut, saya pikir mahasiswa dari jalur tulis lebih unggul dari pada mahasiswa dari jalur undangan, ternyata saya salah, mereka bisa dikatakan imbang.
    Tidak sabar rasanya untuk melihat bagaimana hasil dari angkatan 2012 dan tahun depan 2013.
    #excited

  11. kasuso berkata:

    saya alumni itb lulusan tahun jebot. Saya juga salah satu yang tidak setuju sistem seleksi masuk PTN khususnya ITB melalui jalur undangan, dengan hanya menyeleksi nilai Raport dan UN.
    1.nilai raport SMA tidak dapat dipertanggungjawabkan
    2.tingkat kesulitan UN sangatlah rendah. Saya pernah melihat pembahasan ttg masalah ini di salah satu televisi, dengan narasumber pak Jusuf Kalla.
    kalau dilihat dari hasil UN, dibandingkan dangan sistem ujian SMA jaman dulu (EBTANAS jaman saya dulu), jelas sangat terlihat perbedaannya. jaman saya dulu rata2 siswa dengan kompetensi “baik”, mempunya nilai ebtanas 7-9. Dibandingkan sekarang siswa berkompetensi biasa-biasa, dengan mudah mendapatkan nilai UN rata-rata di atas 8.
    3. Menurut saya, harus dibedakan ujian untuk menentukan kelulusan SMA, dengan ujian saringan masuk PTN. Jelas2 tujuannya berbeda.
    Kalau dengan alasan mendiknas untuk efisiensi anggaran, tentunya dapat dikaji kembali tingkat kerugian nasional akibat lulusan ITB yang jauh menurun kualitasnya (sehingga tidak daapt menyumbangkan value yang diharapkan kpd society) diperbandingkan dengan value dari ITB dengan sistem pendidikannya yang sangat baik (ukuran indonesia), yang tentunya juga sudah menghabiskan investasi yang tidak sedikit dan waktu yang cukup lama untuk dapat mencapai kualitas pendidikan sekarang ini.
    harga ini dibandingkan dengan cost membuat ujian PTN…saya rasa kecil sekali.
    4. dulu waktu jaman saya kuliah dulu…pernah ada sebuah institusi internasional melakukan benchmarking universitas2 di asia (atau di dunia?..sori lupa). itb berada di peringkat yang cukup baik, dan mengalahkan beberapa uni internasional lain.
    setelah dibaca2, ternyata itb unggul di point penilaian saringan masuk (waktu jaman saya UMPTN), dan perbandingan mahasiswa-dosen. dan mendpat point yang rendah dari jumlah penelitian, sumbangsih ke jurnal, etc.
    menurut saya UMPTN pada jaman saya dulu sudah sangat baik dalam menyaring mahasiswa dengan kualitas “baik”. kenapa sistem yang baik ini selalu di revisi terus???

  12. candra berkata:

    kalo melihat data di atas saya simpulkan penyumbang terbesar rata undangan dari ipk> 3.5. saya pikir ini kemungkinan berasal dari siswa olimpiade dan sangat berprestasi di sekolah sedangkan sisanya biasa – biasa saja bila dibandingkan dengan dari ujian tulis.

  13. Ping balik: Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA Negeri 3 Bandung Tahun Pelajaran 2013/2014 | Ayi Purbasari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s