Pengamen Langganan

Rumah kami selalu rutin kedatangan pengamen, pengemis, dan pedagang asongan setiap pagi. Entah kenapa hanya ke rumah kami saja, ke rumah tetangga yang lain jarang. Hal itu mungkin karena pintu rumah sering terbuka, pagar rumah kami juga dalam keadaan terbuka lebar, selain itu pagarnya tidak tinggi. Saya memang tidak suka punya pagar yang tinggi. Rumah dengan pagar tinggi — apalagi selalu dalam keadaan tertutup — kesannya kurang ramah dan tidak mau gaul dengan tetangga sekitar.

Setiap pengamen maupun pengemis yang datang selalu saya terima dan anak saya selalu saya suruh untuk memberinya uang receh. Mungkin karena selalu saya beri uang maka mereka akan datang lagi dan datang lagi pada hari berikutnya. Saya tidak pernah merasa berat hati memberika mereka uang, Saya anggap saja uang itu sedekah. Saya percaya bahwa sedekah dapat menghindarkan kita dari musibah, misalnya kecelakaan atau pencurian. Alhamdulillah rumah kami dengan kondisi yang sering terbuka itu jarang ada pencurian atau kehilangan barang, sementara rumah tetangga sering kecurian. Insya Allah, saya kira hal itu adalah berkat sedekah yang selalu kami biasakan.

Diantara pengamen yang sering datang, ada yang sudah menjadi “langganan”. Saya sebut begitu karena hampir setiap tiga hari sekali dia datang pada waktu pagi hari. Kata pembantu di rumah saya, pengamen itu berasal dari daerah Kiaracondong.

Pengamen langganan saya sedang bernyanyi

Suara pengemen ini sih biasa-biasa saja, lagu yang dinyanyikannya lebih sering menceritakan pahitnya kehidupan. Rata-rata lagu pengamen memang seperti itu, lagu-lagu sedih. Jadi, para pengamen sebenarnya tidak menghibur dengan lagu-lagu riang, tetapi menceritakan nasibnya lewat nyanyian. Uang sereceh dua receh sangat berarti bagi mereka. Ucapan terima kasih dari pengamen (dan doa jazakallah dari pengemis) itu adalah doa bagi kami. Doa orang kecil dan dhuafa itu inysa Allah makbul.

Mudah-mudahan pengamen (dan juga pengemis) itu tetap rajin datang menyambangi rumah saya, dan itu berarti saya punya ladang amal untuk beribadah dengan sedekah.

Tulisan ini dipublikasikan di Romantika kehidupan. Tandai permalink.

4 Balasan ke Pengamen Langganan

  1. ikhwanalim berkata:

    biar orang jadi sedih lalu memberikan sumbangan, makanya mereka menyanyikan lagu-lagu sedih, pak.. :)

  2. syarief76 berkata:

    dulu sering kesal apabila ada peminta-minta yang masih muda dan kuat. Namun dipikir-pikir sekarang daripada kesal dalam hati, lebih baik mengedepankan kewajiban untuk menyumbangkan sedikit penghasilan yang diterima. Urusan lain biar antara Tuhan di si pengemis sendiri. Kalo dia mau baik dimata manusia dan Tuhan, dia bisa merubah diri sendiri dan nggak mengemis-ngemis lagi dan mencari pekerjaan yang halal dan layak.

  3. Ping balik: Larangan Memberi Uang kepada Pengemis dan Kesempatan Bersedekah | Catatanku

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s