“Love Rohingya”, Marilah Bantu Orang Rohingya

Saat-saat kita umat Islam sedang menyiapkan makanan untuk buka puasa, bagaimana keadaan saudara kita kaum Rohingya di Myanmar (Burma) sana ya? Apakah mereka mendapat makanan untuk berbuka puasa? Apakah mereka tetap kuat berpuasa ditengah kesedihan karena dizhalimi dan diusir dari kampung halamannya?

Apakah orang Rohingya itu bukan manusia? Apakah mereka tidak berhak hidup di bumi ini? Kenapa mereka diperlakukan dengan begitu kejam oleh Pemerintah dan rakyat Myanmar? Di mana HAM yang selalu diagung-agungkan itu?

Foto-foto yang memilukan hati di bawah ini dapat bercerita untuk melukiskan penderitaan mereka. Mari bantu mereka dengan doa dan sedekah melalui lembaga amal yang membuka rekening donasi buat mereka.

Semua foto bersumber dari laman-laman web yang mudah dicari dengan kata kunci “rohingya” dari Google.

Tulisan ini dipublikasikan di Dunia oh Dunia. Tandai permalink.

25 Balasan ke “Love Rohingya”, Marilah Bantu Orang Rohingya

  1. Surat LBH Buddhis Indonesia No. 014 – 27 Juli 2012 : LBH BUDDHIS INDONESIA MENGUTUK KERAS TINDAKAN PEMERINTAH MYANMAR DAN UMAT BUDDHA MYANMAR TERHADAP MUSLIM ROHINGYA KARENA TIDAK SESUAI AKIDAH AGAMA BUDDHA YANG PENUH WELAS ASIH DAN CINTA KASIH – http://www.lbhbuddhis.com

  2. MrChie berkata:

    oya mas, untuk beberapa gambar di atas ternyata ada yang hoax (bohong). misal kan foto Rohingya5, itu bukan dokumentasi dari kejadian ini melainkan dokumentasi tentang orang2 yang terlibat dalam kerusuhan di thailand selata.

    banyak gambar2 sejenis yang sangat meyakinkan untuk menggambarkan ttg peristiwa ini padahal itu bukan dokumentasinya. coba berkunjung ke sini mas :

    http://grevada.com/islam/kumpulan-foto-hoax-pembantaian-muslim-di-burma-myanmar/

  3. petra berkata:

    kenapa harus para pejuang HAM lagi yang disindir….
    saya juga prihatin dengan Rohingya, sama prihatinnya juga dengan penyegelan gereja dan kuil di Indonesia, sama juga dengan genocide di jaman NAZI… itu sama-sama masalah HAM…

    gak perlu menyindir, “Di mana HAM yang selalu diagung-agungkan itu?”
    para pejuang HAM jg gak pilih kasih kok.

    • alam berkata:

      Kalo ga salah Pak Rin menulis dimana HAM yang selalu diagung2 kan itu dan tidak menyebutkan pejuang HAM. Jd harusnya yang disindir orang2 yang suka mengatasnamakan HAM tapi bungkam untuk kasus ini. Kalo pejuang HAM sejati harusnya ga merasa tersindir ya

      • petra berkata:

        Nah masalahnya di tulisan Pak Rin khan dulu-dulu sering menyindir tentang hal-hal yang bertentangan dengan Islam ataupun umat Muslim di Indonesia kemudian mencibir mereka yang membela hal tersebut atas nama HAM. Misalnya, mengenai masalah tempat ibadah non-muslim, beliau langsung defense bahwa “friksi tidak bisa dihindari”.

        Nah sekarang ada masalah Rohingya yang asal mulanya sudah lama banget dan ini bukan persoalan agama melainkan etnis (karena menurut rekan yg aktif di sini bahwa etnis lain yg mayoritas pemeluk Islam tidak diapa-apain oleh junta militer). Tiba-tiba ada konflik mereka timbul lagi, dan yang langsung dibaca orang adalah kata “Islam”. Ketika Pak Rin mengangkat masalah ini, kesan yang terlihat adalah penderitaan para etnis Rohingya langsung dijadikan counter argument untuk menyerang orang-orang yang membela masalah “friksi” antaragama di Indonesia, “Hey, ini juga ada loh masalah pembantaian umat Islam di negara lain jauh di sana, tapi kok kalian sama sekali gak mau bantu?”. Sangat terlihat dari postingan Pak Rin pertama tentang Rohingya yang langsung membandingkan agama etnis Rohingya yakni Islam dengan Aung San Su Kyi (yang beliau klaim adalah Kristen).

        Di sini terlihat sekali standar ganda, begitu ada masalah tempat ibadah non-muslim di Indonesia langsung dibilang “friksi” dan begitu ada masalah etnik Rohingya ini langsung diangkat dan digaris-bawahi bagian agamanya.

        Saya tidak bilang etnis Rohingya tidak perlu dikasihani. Perlu. Kalau memang lembaga amal yang disebutkan Pak Rin benar-benar menyalurkan ke etnis Rohingya dan ada buktinya saya juga mau ikut menyumbang kok. Cuman ya, masak gak kasian sih, mereka di sana ditindas tapi penderitaan mereka hanya dijadikan counter argument untuk perdebatan tentang toleransi beragama di Indonesia.

      • Rinaldi Munir berkata:

        “mencibir”, “menyindir”, “menyerang”

        Sarkasme sekali gaya bahasa anda! Seharusnya komentar anda ini ditaruh pada tulisan saya yang terdahulu, karena pada tulisan saya yang sekarang saya tidak menyebut soal friksi dan agama. Ini adalah masalah kemanusiaan, Bung! Orang Rohingya juga tidak butuh bantuan anda yang didasari syak wasangka kepada lembaga amal serta tudingan anda tentang penggunaan isu Rohingya untuk counter argument perdebatan toleransi beragama di tanah air.

        Saya sudah membaca kembali tulisan saya terdahulu tentang Rohingnya, sama sekali saya tidak menyinggung tentang masalah friksi antar agama di Indonesia, apalagi menjadikannya counter argument untuk menyerang orang-orang yang membela masalah “friksi” antaragama di Indonesia. Entah darimana anda melakukan tudingan tidak berdasar dan tendensius seperti itu.

  4. rinaldimunir berkata:

    Dari masalah Rohingya tiba-tiba bergeser menjadi penyegelan gereja, NAZI, dsb, sama sekali tidak nyambung dengan thread tulisan saya ini, tapi melihat latar belakang yang memberi komentar tsb saya maklum saja. Baiklah, saya terpaksa menanggapi juga.Tidak pantas menyandingkan masalah Rohingya dengan penyegelan rumah ibadah, kasusnya berbeda. Masalah Rohingya adalah masalah pelanggaran HAM dengan korban ribuan orang, sedangkan penyegelan rumah ibadah ilegal terkait aturan, UU, dsb. Penyegelan gereja seharusnya tidak terjadi apabila semua peraturan ditaati oleh semua umat beragama (misal tidak menjadikan rumah tinggal menjadi tempat ibadah, mengelabui tanda tangan penduduk sekitar untuk surat izin pendirian, dsb). Pada kenyataanya mesjid, gereja, pura, wihara, kelenteng, yang memang sudah sesuai dengan aturan (izin, peruntukan, dll) berdiri dengan aman tanpa diganggu. Bahwa mendirikan gereja sulit di Jawa itu memang fakta, hal yang sama juga berlaku sulit mendirikan masjid di Nias, NTT, Papua, dll. Ini masalah yang harus dipecahkan bersama.

    http://hidayatullah.com/read/23449/04/07/2012/muslim-terpencil-nias-butuh-masjid%2C-siapa-mau-bantu%3F.html

    Harap tidak memancing masalah lain di sini yang tidak terkait topik tulisan, kalau tidak berkenan dengan masalah lain tersebut harap memberi komentar pada tulisan yang dimaksud saja.

    Masalah Rohingya memang asalnya masalah etnis, tetapi tidak dapat dipungkiri bergeser ke masalah agama juga. Dari pengakuan pengungsi Rohingya yang selamat mengatakan bagaimana banyak mesjid dibakar oleh etnis Rakhine di Arakan, bagaimana militer menyiksa orang Rohingya yang kedapatan shalat di rumah, dan para biksu yang ikut menyebarkan kebencian kepada Rohingya.

    http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/07/27/m7t6td-para-biksu-sebarkan-kebencian-kepada-muslim-rohingya

    Kalau memang Aung San Suu Kyi pejuang HAM, dia tidak boleh diam tentang masalah ini, namun nyatanya dia tetap enggan berkomentar tentang nasib Rohingya. Setuju dengan Alam, pejuang HAM sejati tidak akan tersindir dan tidak akan membeda-bedakan masalah pelanggaran HAM apapun agama/etnik/golongannya.

    Itu saja komentar saya, selebihnya saya tidak akan menanggapi tudingan lain dari ybs.

  5. sayapbarat berkata:

    Pejuang HAM tidak diam. Amnesty International juga sudah memberi reaksinya (lihat http://www.amnesty.org/en/news/myanmar-rohingya-abuses-show-human-rights-progress-backtracking-2012-07-19; lihat juga http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-18921960), demikian juga New Human Rights Watch Report (lihat http://rohingyathai.blogspot.com/2012/07/new-human-rights-watch-report.html?m=1).

    Masalah Rohingya sudah ada dari dulu, memang itu tidak dapat dihindari, terlepas etnis Rohingya memang dianggap sering membuat keributan atau tidak (Kasus ini berawal dari pemerkosaan dan pembunuhan atas seorang perempuan Buddhis oleh tiga pemuda Muslim Rohingya telah menimbulkan letupan kekerasan oleh umat Buddhis di sana terhadap kaum Muslim Rohingya), letupan yang muncul dari ketegangan antar-etnis di sana yang sudah berlangsung lama. Tapi jelas itu tidak boleh menjadi aksi pembunuhan dalam jumlah banyak (Bukan hanya kaum muslim Rohingya saja yang menjadi korban, tapi juga pihak lawan sudah menjadi korban)

    konflik yang menelan sejumlah korban Muslim di Burma ini pada dasarnya bukan konflik keagamaan, tapi konflik yang timbul karena politik rasisme diskriminatif yang dijalankan oleh pemerintah Burma, yang tidak mengakui Muslim Rohingya sebagai warganegara Burma ( http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/etnis-rohingya-tetap-tidak-diakui-di-myanmar). Muslim di daerah Burma lainnya tidak terkena diskriminasi seperti Rohingya.

    Saat ini pejuang HAM sedang mengurus masalah tersebut, termasuk mencari tempat pengungsian dan kedepannya adalah mencarikan suaka. Jelas kami tidak diam, terlepas ini masalah agama, politik represi, ataupun etnis.

  6. sayapbarat berkata:

    Mungkin yang dimaksudkan oleh Bung Petra di sini adalah, Kebanyakan masyarakat di Indonesia mengecam keras kasus Rohingya karena mereka beragama Islam, tapi menutup mata atas aksi kekerasan lainnya yang ada di negara sendiri (seperti pembantaian ahmadiyah, diskriminasi kaum syiah, dan penutupan gereja sudah ada izinnya). Saya sendiri tidak menutup mata bahwa ada solidaritas sesama muslim untuk kasus Rohingya. Namun, ada beberapa orang juga yang menyayangkan solidaritas ini hanya berlaku untuk korban yang seagama, bukan korban lainnya yang sama-sama manusia. Tapi bagus juga ada solidaritas sesama agama, daripada tidak peduli sama sekali.

    Saya juga mengecam aksi kekerasan dalam bentuk apapun. Tidak peduli mereka seagama/sebangsa/seetnis dengan saya atau tidak. Toh, kita membantu karena sama2 manusia bukan?

  7. bingung lihat orang2 yg merasa diri nya benar….,knp tdk memikirkan orang2 di sekeliling nya.setiap org punya pendapat yg berbeda.please deh….jgn menbuat suatu opini yg salah dan memprovokasi hingga terbentuk suatu kebencian thd etnis dan agama tertentu.bkn nya setiap agama mengajar kan kebaikan? knp gara2 gosip semua langsung emosi.saling membenci agama lain.kami jg ingin hidup damai dan tentram,berbaur dgn berbagai ragam umat .coba deh sbg umat beragama yg baik ,kita ciptakan rasa damai dan saling menolong. kami cuma berharap setiap org bisa melihat suatu masalah dgn baik dan benar. jgn melihat dan mendengar berita yg katanya….katanya…katanya….,cari bukti yg benar.jgn cerita yg sepotong2 ternyata salah.hanya krn foto dan berita hoax langsung cerita kesana kemari hingga org yg mendengar dan melihat menjadi kurang bijak menyikapi nya. jgn krn masalah pribadi di kembang kan menjadi masalah kelompok .dr suatu kelompok jadi SARA.inti nya ;jadilah manusia yg bijak,santun dan saling menghargai.peace….!!!!

  8. gak usah dendam, jangan salahkan siapa – siapa

    YANG TERPENTING selamatkan sahabat muslim kita
    Ya Allah aku tak bisa berbuat langsung kesana
    Yuk kita doakan Keajaiban datang

    agar seluruh MUSLIM terutama di Myanmar selamat dunia akhirat
    Aamiin

    ROBBANA AATINA FIDDUNYA HASANAH WAFILAKHIRATI HASANAH WAQINA ADZA BANNAR
    AAmiin

  9. kang jojot berkata:

    apa pun masalahnya..kalo sudah tindakan biadab seperti yg dilakukan oleh pemerintah myanmar..terhadap muslim,,ini adalah tanggung jawab kita semua sesama muslim..allah tidak melarang kalo memerangi org2 kafir di muka bumi ini…apa lagi seperti myanmar ini..saya berharap..seluruh umat muslim di dunia agar bersatu untuk menghancurkan myanmar..dan para budha biadap itu..semoga allah menurunkan azab yg sangat dahsyat kepada umat budha biadab tersebut..amiin

  10. isma berkata:

    sebentar lagi akan terjadi di indonesia,tinggal tunggu sensus yg islam masih mayoritas atau sudah minoritas disisini baru bermain yg non islam sekarang dia bilang semua agama itu sama. hai kaum muslim pertegas jati dirimu kau adalah kaum tebaik dimana-mana kau mayoritas kaum selain kamu aman2 saja tapi sebaliknya kau akan tertindas lihat rohingya dll

  11. udotem berkata:

    Kadang photo yg dimuat utk kasus rohingya adalah rekayasa.

    Rohingya adalah kasus imigran gelap yang merampok teritori myanmar.

    Apa jadinya jika ada imigran gelap yg merampok wilayah Indonesis? Apakah akan didiamkan saja hanya karena ia islam?

  12. doffy syam berkata:

    Masih cukup banyak di antara kita yang tak mengetahui secara jelas mengenai siapa sebenarnya etnis Rohingya itu. Bagaimana asal-usul keberadaan etnis yang -oleh PPB disebut- paling ditelantarkan di dunia? Mengapa mereka yang mayoritas beragama Islam itu tinggal di wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Buddha? Tulisan singkat ini mencoba menyoroti Rohingya dari sudut pandang kesejarahan.

    Ingar-bingar berita tentang Muslim Rohingya timbul menyusul konflik sektarian yang terjadi antara etnis Rohingya yang sebagian besara dalah Muslim dan etnis Rakhine yang mayoritas merupakan penganut Buddha. Penyebab konflik itu sendiri tak begitu jelas. Namun, beberapa sumber menyebutkan bahwa kerusuhan itu merupakan buntut peristiwa perampokan dan pemerkosaan terhadap perempuan Rakhine bernama Ma Thida Htwe pada 28 Mei 2012. Kepolisian Myanmar sebenarnya telah menahan dan memenjarakan 3 orang tersangka pelaku yang kebetulan dua di antaranya adalah etnis Rohingya. Namun, tindakan itu ternyata tak cukup mencegah terjadinya kerusuhan di negara bagian Rakhine yang terletak di bagian barat Myanmar itu. Pada tanggal 4 Juni, terjadi penyerangan terhadap bus yang diduga ditumpangi pelaku pemerkosaan dan kerabatnya. Tercatat 10 orang Muslim Rohingya tewas. Sejak itu, kerusuhan rasial di Rakhine pun meluas.

    Artikel Terkait

    Video: Yuk, Simak Rick Riordan Membacakan Mark of Athena

    The Casual Vacancy: Antara Kejahatan Melawan Kelucuan

    Sebenarnya konflik antara etnis Rohingya dan Rakhine kerap terjadi sejak puluhan tahun silam. Apa sebenarnya akar masalahnya? Salah satu akar konflik menahun itu adalah status etnis minoritas Rohingya yang masih dianggap imigran ilegal di Myanmar. Pemerintah Myanmar tak mengakui dan tak memberi status kewarganegaraan kepada mereka. Sebagai akibat tiadanya kewarganegaraan, etnis Rohingya tak bisa mengakses pendidikan, layanan kesehatan, dan bahkan pekerjaan yang layak. Mereka betul-betul terabaikan dan terpinggirkan.

    Hilary Mantel Memenangkan Booker Prize untuk Kedua Kalinya

    J. K. Rowling: The Casual Vacancy Adalah Buku Favoritku

    Pemerintah Myanmar tak mengakui kewarganegaraan etnis Rohingya karena menganggap kelompok Muslim ini bukan merupakan kelompok etnis yang sudah ada di Myanmar sebelum kemerdekaan Myanmar pada 1948. Hal itu ditegaskan kembali oleh Presiden Myanmar, Thein Sein, dalam Al Jazeera, 29 Juli 2012 bahwa Myanmar tak mungkin memberikan kewarganegaraan kepada kelompok Rohingya yang dianggap imigran gelap dan pelintas batas dari Bangladesh itu.

    Musim Gugur, Musim Berseminya Penulis Dunia

    Akar konflik yang lain adalah adanya kecemburuan terhadap etnis Rohingya. Populasi etnis Muslim Rohingya dalam beberapa dasawarsa ini terus meningkat. Tentu saja, hal ini menyebabkan kecurigaan dan kecemburuan pada etnis mayoritas Rakhine. Bagi mereka, keberadaan etnis Rohingya pun sangat mungkin dianggap kerikil dalam sepatu, yakni sesuatu yang terus mengganggu. Keberadaan etnis Rohingya dianggap mengurangi hak atas lahan dan ekonomi, khususnya di wilayah Arakan, Rakhine yang menjadi pusat kehidupan etnis Muslim ini.

    Sejatinya Rohingya tidak tepat disebut “etnis” karena kata itu merupakan label politis yang digunakan untuk memperjuangkan keberadaan kelompok tersebut di Myanmar. Beberapa sejarawan Myanmar mengatakan bahwa nama Rohingya baru muncul pada tahun 1950-an, setelah kemerdekaan Myanmar. Lalu, siapa sebenarnya mereka?

    Dalam catatan PBB, Rohingya hanya disebut sebagai penduduk Muslim yang tinggal di Arakan, Rakhine, Myanmar. Dari sudut kebahasaan, bahasa yang diklaim sebagai bahasa Rohingya sebenarnya termasuk ke dalam rumpun bahasa Indo-Eropa, khususnya kerabatb ahasa Indo-Arya. Lebih detail lagi, bahasa Rohingya dikategorikan sebagai bahasa-bahasa Chittagonia yang dituturkan oleh masyarakat di bagian tenggara Bangladesh. Sementara itu, kebanyakan bahasa di Myanmar tergolong rumpun Tai Kadal, Austroasiatik, atau Sino-Tibetan. Jadi, jelas bahwa kelompok etnis Rohingya merupakan keturunan etnis Bengali, khususnya sub-etnis Chittagonia yang tinggal di Bangladesh tenggara.

    Kemunculan pemukiman Muslim di Arakan sebagai cikal bakal kelompok Rohingya terlacak sejak zaman Kerajaan Mrauk U, khususnya pada zaman Raja Narameikhla (1430-1434). Setelah dibuang ke Bengal, Narameikhla lalu menguasai kembali Mrauk U berkat bantuan Sultan Bengal. Seiring dengan berkuasanya Narameikhla, masuk pula penduduk Muslim dari Bengal kewilayah Arakan, Rakhine. Dalam perkembangannya, jumlah pemukim Muslim dari Bengal terus bertambah, terutama ketika Inggris menguasai Rakhine. Karena kurangnya populasi di Rakhine, Inggris memasukkan banyak orang Bengali ke Rakhine untuk bekerja sebagai petani. Oleh karena itu, sampai saat ini pula, kebanyakan orang Rohingya bekerja di sector agraris.

    Ketika Inggris melakukan sensus penduduk pada 1911, pemukim Muslim di Arakan sudah berjumlah 58 ribu orang. Jumlah itu terus bertambah pada tahun 1920-an ketika Inggris menutup perbatasan India, sehingga orang Bengali memilih masuk ke Rakhine. Sejak tahun-tahun ini pulalah mulai timbul konflik dengan penduduk local yang mayoritas merupakan penganut Buddha. Bertambahnya jumlah penduduk migrant membuat penduduk lokal khawatir.

    Istilah Rohingya, Kapan Muncul?

    Lalu, benarkah istilah Rohingya baru muncul pada tahun 1950-an? Sejarawan Jacques P. Leider mengatakan bahwa pada abad ke-18 ada catatan seorang Inggris yang bernama Francis Buchanan-Hamilton yang sudah menyebutkan adanya masyarakat Muslim di Arakan. Mereka menyebut diri mereka “Rooinga”. Ada yang mengatakan bahwa istilah ini berasal dari kata “rahma” (rahmat) dalam bahasa Arab atau “rogha” (perdamaian) dalam bahasa Pashtun. Selain itu, ada pula yang mengaitkannya dengan wilayah Ruhadi Afghanistan yang dianggap sebagai tempat asal Rohingya.

    Dengan demikian, lepas dari apakah Rohingya merupakan sebuah etnis atau tidak, dan apakah termasuk ke dalam etnisitas Myanmar atau tidak? Sudah jelas bahwa Rohingya merupakan komunitas migrant dari Bangladesh yang sudah ratusan tahun tinggal di  Arakan, Rakhine, Myanmar. Sebagai komunitas yang sudah lama menetap di sebuah wilayah yang kebetulan kini menjadi bagian dari negara Myanmar, tentu saja sudah selayaknya mereka mendapatkan hak-hak dasar mereka, terutama status kewarganegaraan. Meskipun demikian, sikap pemerintah Myanmar sudah jelas seperti yang disampaikan Thein Sein bahwa Myanmar tak mungkin memberikan kewarganegaraan kepada Rohingya. Namun, Myanmar menawarkan solusi berupa pengiriman ribuan orang Rohingya ke negara lain atau tetap tinggal di Arakan, tetapi berada di bawah pengawasan PBB. Jadi, kelihatannya etnis Rohingya masih belum bisa bernapas lega sampai beberapa tahun mendatang.

  13. doffy syam berkata:

    Dilihat dari akar permasalahan yg ada, tetapi intinya saya tidak suka jika orang asing datang ke rumah saya dan membuat onar secara halus/kasar di rumah saya baik orang asing tersebut berasal dari etnis atau agama apapun.

  14. Mr.Nunusaku berkata:

    Pertayaan mengapa negara Arab Saudi tidak mau menolong mereka…kan mereka islam pengikut nabi Muhammad bangsa Arab…? kasihan keturunan ismail ini.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s