Cerdas dan Hidup yang Cerdas

Pada acara sidang senat terbuka penerimaan mahasiswa baru ITB 2012 dua minggu yang lalu, Pak Mendikbud Muhammad Nuh memberikan kuliah umumnya. Saya yang ikut hadir pada acara itu terkesan dengan materi yang dia sampaikan, salah satunya membahas tentang kecerdasan. Menurut beliau, orang yang cerdas belum tentu hidupnya juga cerdas. Dia mencontohkan seorang sarjana pasti cerdas karena dia telah berhasil melalui pendidikan tinggi. Tidak semua orang bisa menikmati kuliah di perguruan tinggi. Tetapi, ketika sarjana itu membuang bekas bungkus makanan dari balik kaca mobilnya, maka hidupnya tidak cerdas. Semua hadirin di Gedung Sabuga bertepuk tangan mendengar paparannya yang mengena itu.

Seorang yang berpendidikan (tinggi) membuang sampah seenaknya, lalu di mana kecerdasan yang dia peroleh selama kuliah? Otaknya memang cerdas, tetapi jiwanya (hidupnya) tidak. Kita sering menyaksikan pemandangan seperti itu di jalan raya, orang-orang yang berpenampilan necis membuang puntung rokok, botol minuman, bungkus permen, dan sebagainya dari dalam mobil. Di dalam angkot saya perhatikan orang-orang membuang sampah makanan ke luar jendela. Ih, pengen saya marahi orang itu, tetapi sungkan rasanya.

Itu baru satu contoh. Saya pernah melihat seorang yang hebat prestasinya dan encer otaknya meludah sembarangan dari balik jendel di lantai empat. Ih, jorok benar orang itu, tidak tahukah dia saya jijik melihatnya. Coba kalau dia meludah ketika orang sedang makan, lari deh nafsu makan dibuatnya. Lalu, apanya yang cerdas kalau begitu?

Di milis ITB beberapa dosen sering mengirim foto mobil yang parkir di dalam kampus tetapi mengambil dua slot area parkir. Orang itu (dosen?) memarkir mobilnya tidak pas benar dalam satu slot tetapi di tengah pembatas antara dua slot. Akibatnya orang lain yang mau parkir tidak kebagian tempat, padahal di ITB tempat parkir sangat terbatas karena lahan ITB yang tidak terlalu luas. Ada juga mobil yang diparkir dekat rambu larangan parkir.

Mahasiswa termasuk orang yang cerdas, tetapi kalau dia menyontek dalam ujian, copy paste dalam mengerjakan PR dan tugas, melakukan plagiasi, dan kecurangan akademik lainnya, maka hidupnya sudah tidak cerdas lagi. Koruptor di dalam negeri banyak yang sarjana, tetapi dia melakukan korupsi pertanda otaknya tidak berfungsi. Korupsi dimulai dari perilaku kecurangan akademik yang menghalalkan segala cara untuk lulus.

Memang pendidikan otak kiri harus seimbang dangan otak kanan. Otak kiri untuk kecerdasan akademik, dan otak kanan untuk kehidupan yang cerdas. Selama ini pendidikan kita lebih memfokuskan pada otak kiri, otak kanan agak abai. Akhirnya yang dihasilkan adalah manusia-manusia yang sering melanggar norma kehidupan. Otak kanan harus diisi dengan nilai-nilai agama, moralitas, akhlaq, budi pekerti, dan lain-lain. IQ harus seimbang dengan EQ dan SQ.

Terima kasih Pak Nuh atas kuliah umumnya yang berkesan.

Tulisan ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

5 Balasan ke Cerdas dan Hidup yang Cerdas

  1. muhjuharisman berkata:

    Bagus pak. Mencerahkan.

  2. garien berkata:

    Bahasa lain : menurut Guru Besar ITB Prof. Dr-Ing. BJ HABIBIE (mantan Presiden), supaya bangsa Indonesia unggul di dunia maka bangsa tsb (khususnya generasi mudanya) harus unggul dlm IPTEK dan IMTAQ …….. Kuliah Umum Mendikbud (dlm hal di atas) dan opini pak Rinaldi jg sngt bagus. Tapi menurut pak Rin bgm, jika Mendikbud yg sdh professor doktor membuat ‘kebijakan’ yg akan menghapus SNMPTN ujian tulis tahun depan dan justru ‘memaksakan’ nilai UN SMA sbg salah satu syarat masuk PTN jalur Undangan SNMPTN ? Apk sang Mendikbud cerdas dlm “memaksakan” kebijakan ini ? (karena nilai UN SMP SMA yg tinggi dg cara yg jujur msh diragukan !). Trm ksh pak Rin.

    • rinaldimunir berkata:

      @garien: Pak, saya menolak SNMPTN ujian tulis dihapuskan. Ujian tulis adalah mekanisme yang fair untuk menilai kemampuan seseorang. Jalur undangan silakan dipertahankan, tetapi khusus untuk ITB porsinya jangan 60%, kalau bisa fifty-fifty dengan ujian tulis, atau 40% undangan dan 60% ujian tulis.

      Di Korea dan Jepang sekalipun masuk perguruan tinggi negeri selalu pakai tes.

      Menjadikan nilai UN sebagai satu-satunya alat seleksi masuk perguruan tinggi hanya utopia selama UN masih diwarnai dengan kecurangan.

      Itulah gunanya saya tulis di blog tulisan terdahulu tentang penghapusan SNMPTN ujian tulis agar wacana ini dapat dibatalkan karena keberatan massal dari banyak pihak.

  3. akubeda berkata:

    Kepekaan dan kepedulian sosial dalam jangka panjang patut dibenahi lagi. Saya pun sedang berusaha ke arah Indonesia merdeka

    Mengagumkan posting-nya. Mencerahkan.

  4. apadanya berkata:

    harian Pikiran Rakyat, Bandung, selasa 20 november 2012, rubrik penddkan,hlmn 21 kolom 7, “Efektifitas Kurikulum Baru Terganjal Kompetensi Guru”. ada cuplikan menarik. …sebaik apapun kurikulum disusun , kalau gurunya tidak pandai menerjemahkan di kelas ya sama saja.” katanya. Menurut Satria, rendahnya kompetensi guru tidak terlepas daridosa pemerintah di masa lalu. Perekrutan para pengajar dilakukan sembarangan tanpa memperhatikan kualitas pelamar. Akibatnya tidak sedikit guru dengan kompetensi pas-pasan, bahkan rendah, mereka ini menjadi beban pemerintah sekarang.”

    Kalau boleh saya menambahkan, guru sekarang juga banyak yang keranjingan gratifikasi dari murid/orang tua murid, pilih kasih pada murid yang menghujani dengan hadiah/sogokan, dikasih nilai ulangan bagus dan dikasih bocoran, rangking kelas bisa dijual beli…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s