Menghitung-hitung Untung Pasca Lebaran

Ramadhan dan Lebaran Idul Fitri 1433 H sudah berlalu. Para pemudik sudah mulai berdatangan kembali ke kota dan daerahnya masing-masing. Tentu banyak cerita dan kesan yang ditinggalkan dari aktivitas puasa selama satu bulan dan diakhiri dengan hingar bingar mudik lebaran.

Hari-hari pasca lebaran ini para pelaku usaha mungkin sedang mengibas-ngibas uangnya. Mereka tentu sedang menghitung-hitung keuntungan besar yang diraih dari momen tahunan ini. Ramadhan adalah bulan barokah ternyata bukan omong kosong belaka. Bulan Ramadhan dalam arti sempit memberi berkah luar biasa bagi pelaku usaha, karena di bulan inilah mereka memperoleh pendapatan dan keuntungan yang berlipat-lipat. Mau tahu usaha apa saja yang meraih rezeki besar selama Ramadhan dan lebaran ini?

1. Bisnis ritel
Supermarket dan minimarket yang menjual barang kebutuhan selama bulan Ramadhan dan Lebaran dipadati konsumen setiap hari. Pada bulan Ramadhan konsumsi masyarakat umumnya melebihi hari-hari biasa. Sebagian orang beranggapan bahwa karena Ramadhan adalah bulan istimewa maka hidangan pun perlu istimewa pula. Mereka berbelanja banyak kebutuhan untuk bulan puasa, utamanya makanan dan minuman, dan bahan pangan lain sepeti telur, daging, ayam, nugget, dan sebagainya. Menjelang lebaran produk yang “diserbu” adalah biskuit, kue kering, dan sirop. Saya saja sampai tidak kebagian sirop di toko swalayan yang saya langgan. Habis bis. Banyak orang yang membeli sirop dan biskuit ternyata tidak hanya untuk dikonsumsi sendiri, melainkan dijadikan parcel buat pembantu, supir, pegawai, dan karyawan mereka sendiri.

2. Toko fashion
Selama Ramadhan kebutuhan fashion khusus meningkat tajam, yaitu sarung, sajadah, kopiah, dan mukena. Menjelang Idul Fitri kebutuhan fashion beralih ke baju-baju baru dan busana muslim buat shalat Ied. Coba deh jalan-jalan ke Pasar Baru atau mal-mal, penuh sesak dengan orang-oranmg yang berburu pakaian, kayak takut nggak kebagian saja. Kata seorang pengelola mal di koran lokal, masa Ramadhan dan Lebaran adalah ibarat “nyawa” tambahan bagi para tenant-tenant di malnya, sebab pada hari-hari biasa toko-toko di mal sepi pengunjung, barulah selama menjelang lebaran mereka mendapat nafas tambahan karena omset naik berlipat ganda. Jadi, kerugian selama 11 bulan dapat terbayar dari keuntungan selama satu bulan.

3. Usaha telekomunikasi
Menjelang bulan puasa traffic telekomuniksi selular meningkat padat karena banyak orang-orang berkirim pesan mengucapkan selamat memasuki bulan Ramadhan. Selama bulan puasa traffic itu menurun kembali, tetapi melonjak lagi sesudah sidang Itsbat di Kementerian Agama. Sesaat setelah Menag mengumumkan penetapan 1 Syawal, lalu lintas telekomunikasi melonjak drastis. Orang-orang berkirim pesan (SMS, MMS, BBM) selamat Hari Raya Idul Fitri. Pada hari pertama dan hari kedua lebaran orang-orang royal membelanjakan pulsanya berkirim pesan singkat ucapan Idul Fitri kepada orang-orang di dalam phonebook-nya. Mengirim SMS telah menggantikan kebiasan penggunaan kartu lebaran di masa lalu. Setiap orang bisa berkirim pesan hari raya kepada minimal 10 orang saja. Satu pesan SMS isinya bisa panjang sehingga memakan lebih dari 2 pesan. Hitung saja jika setiap orang membelanjakan uang Rp10.000 saja untuk berkirim ucapan selamat lebaran, dikali dengan jumlah pengguna ponsel, maka bisa anda hitung berapa laba yang diraih oleh provider seluar. Telkoms*l saja misalnya, jumlah pelanggannya 135 juta, kalau 50% saja dari jumlah pelanggan itu membelanjakan pulsa untuk berkirim pesan selamat Hari Raya, hitung saja pendapatan yang diraih oleh operator selular terbesar itu. Makanya tidak heran menjelang bulan puasa para operator telekomunikasi sibuk meningkatkan kapasitas bandwidth di jalur-jalur mudik untuk memanjakan pelanggan. Mereka juta royal beriklan di televisi untuk menarik pelanggan baru. Bahkan, mereke juga mendirikan posko-posko sepanjang jalur mudik dengan menyediakan fasilitas yang tdiak ada hubungannya denagn telekomunikasi, yaitu menyediakan layanan pijat, makanan, dan minuman. Pelanggan harus “diikat” kata mereka, dana untuk mengikat itu banyak caranya.

4. Stasiun televisi
Apa yang tidak pernah tidur selama bulan puasa? Jawabnya adalah televisi. Selama bulan puasa stasiun televisi mendapat pemasukan yang berlimpah dari iklan. Jam tayang utama (prime time) bergeser yang semula malam hari menjadi sore menjelang maghrib dan waktu dini hari. Sore hari menjelang waktu berbuka adalah saatnya banyak orang-orang duduk di rumah menunggu bedug, maka perhatian banyak orang tertuju di televisi. Sambil menunggu adzan magrib para anggota keluarga duduk di depan televisi. Saat-saat itulah banyak tayangan yang dipenuhi iklan-iklan. Harga slot iklan pada jam menjelang maghrib tersebut sangat mahal, 30 detik harganya puluhan juta rupiah. Beralih ke waktu dini hari, televisi membangunkan pemirsa dan menemani mereka untuk makan sahur. Pada jam pagi buta seperti itu acara-acara TV yang kebanyakan tayangan kurang mendidik (“sampah”) dipenuhi oleh iklan. Ada yang bilang biro iklan sudah memesan slot iklan bulan puasa sejak jauh-jauh hari, bahkan satu tahun sebelum puasa itu dimulai. Wah, sebegitu ketat persaingan mendapat slot iklan menjelang adzan maghrib dan waktu sahur. Yang keterlaluan adalah adzan maghrib saja disisipi iklan.

5. Bisnis transportasi
Menjelang lebaran sudah menjadi tradisi orang Indonesia adalah mudik. Pada masa sebelum dan sesudah lebaran tiket moda transportasi susah dicari karena sudah habis jauh-jauh hari. Pesawat, bus, kereta api, dan kepal laut mendapat untung besar karena membludaknya pengguna angkutan. Mereka bahkan harus menambah frekuensi perjalanan karena banyaknya permintaan. Menurut hukum ekonomi, jika permintaan meningkat maka harga pun naik. Begitulah, harga tiket pesawat bisa baik dua kali lipat dari harga biasa. Bus pun begitu, mereka menaikkan harga tiket diluar tuslah, sedangkan kereta api memainkan tarif batas atas. Misalnya tarif kereta dari Jakarta ke Surabaya yang biasanya Rp300 ribu kelas eksekutif, pada masa mudik lebaran harganya adalah harga batas atas yaitu Rp600.000, sama dengan harga tiket pesawat dari Jakarta ke Surabaya. Selain angkutan konvensional di atas, travel pun marema, karena mobil-mobil mereka disewa pemudik untuk pulang kapung atau berwisata.

6. Pedagang makanan berbuka puasa
Tidak dapat disangkal lagi yang menjadi bintang selama bulan puasa adalah para pedagang dadakan yang menjual makanan berbuka puasa. Mereka mendapat berkah rezeki yang luar biasa. Mereka adalah pedagang musiman yang menjual hidangan seperti kolak, es buah, gorengan, rujak, dan lain-lain. Itu belum termasuk pedagang buah khas Ramadhan seperti kurma, blewah dan timun suri. Bahkan pedagang yang biasanya berjualan makanan di siang hari seperti pedagang es, kue, bakso, dan lain-lain beralih menjadi pedagang makanan buka puasa. Jumlah mereka menjamur dan tidak hanya di pasar-pasar, tetapi di sepanjang jalan hingga ke perumahan. Keuntungan itu lumayan untuk menutupi pemasukan berjualan makanan pada siang hari yang kurang laku, lumayan juga buat lebaran dan mudik, kata mereka.

7. Restoran dan hotel
Selama siang hari selama bulan puasa bisnis restoran lesu karean tidak banyak orang yang makan, tetapi menjelang waktu berbuka puasa terjadi fenomena sebaliknya, meja-meja di restoran sudah penuh dengan orang yang menunggu bedug. Pengunjung rumah makan dan restoran berjubel sehingga ada yang tidak kebagian tempat. Fenomena ini tidak hanya pada rumah makan waralaba asing atau fast food, tetapi juga pada rumah makan tradisional. Jika anda telat datang, anda tidak kebagian tempat.

Hotel-hotel yang sepi dari hunian selama bulan puasa mendapat tambahan pengunjung restoran mereka menjelang waktu berbuka. Hotel-hotel itu berlomba menawarkan paket berbuka puasa dengan hidangan menggoda. Lesunya hunian hotel selama bulan puasa terobati pada masa lebaran, karena tingkat okupansi hotel meningkat tajam. Banyak wisatawan yang memesan kamar hotel jauh-jauh hari agar bisa menginap selama libur lebaran. Mencari kamar hotel yang kosng di Bandung pasca lebaran ini susah sekali. Saudara saya hanya mendapat hotel kecil yang kurang bagus.

~~~~~~~

Hmmm… usaha apa lagi apalagi ya yang panen rezeki selama bulan Ramadhan dan lebaran. Jika mau dirinci tentu masih banyak lagi, termasuk pedagang kaki lima dan pedagang di pasar tradisionil yang menjual barang kebutuhan sehari-hari, bisnis parcel, jasa pegadaian, toko perhiasan, jual beli mobil bekas, dan sebagainya. Tentu ada pengecualian, tidak semua mendapat untung, ada juga yang merugi, antara lain bisnis hiburan malam.

Yang pasti banyak orang yang menyediakan anggaran tambahan selama satu bulan itu. Perilaku konsumtif yang ekstra itu berlawanan dengan hakikat puasa yang mengajarkan untuk menahan hawa nafsu, tetapi kebanyakan masyarakat beranggapan toh bulan puasa hanya sekali setahun, tidak apa-apalah royal sedikit. Ada lagi yang berpendapat bulan puasa adalah bulan istimewa, maka konsumsi juga harus istimewa. Tidak salah juga sih, tetapi yang penting jangan terlalu berlebihan sebab yang berlebihan itu tidak baik karena dapat mendatangkan penyakit, baik penyakit badani maupun penyakit jiwa.

Tulisan ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

2 Balasan ke Menghitung-hitung Untung Pasca Lebaran

  1. Arief Budiman berkata:

    tambahan usaha yang panen : pedagang kembang kuburan, Pak.. :D, terus juga bengkel dan sparepart kendaraan bermotor…

  2. Iwan berkata:

    Tambah 1 lagi : Pedagang Petasan.
    Ditiap sudut jalan, disamping masjid pasti ada yang jualan petasan, walaupun sebenarnya dilarang

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s