Di kota Yogyakarta, mas-mas pengemudi beca berperan sekaligus sebagai guide atau pemandu wisata. Di Malioboro dan sekitarnya tukang-tukang beca menyapa pendatang (wisatawan) dengan tawaran naik becanya keliling kota. “Becanya mas, sepuluh ribu saja keliling Kraton, Dagadu, toko batik, dan bakpia Pathuk”. Dengan tarif beca yang murah begitu, kita diajak keliling kota naik beca menyinggahi kawasan yang selalu dikunjungi turis. Ya, memang empat tempat itulah yang menjadi tujuan utama selain Malioboro, bukan?
Setiap sudut di kota Yogya adalah daerah seni. Jalan-jalan sempit di kawasan pemukiman yang banyak hotel-hotel kecil mengingatkan saya pada kawasan Kuta di Bali. Antara Kuta dan Yogyakarta itu setali tiga uang, masyarakatnya sadar pariwisata.
Ini beberapa jepretan foto beberapa sudut kota Yogyakarta, sayang untuk disimpan di dalam hard-disk komputer.















Cukup menarik. ke tempat pemandian kraton juga bagus pak.
emmm…jd kangen pengen ke Jogja neeh !!!
iya ni.. aku juga pernah sekali naik becak diajak keliling jogja, dengan tarif yang murah banget.. sampai aku kaget kok bisa semurah itu.. setelah aku teluuri, ternyata tukang becaknya bekerjasama dengan pemilik toko dll.. jadi jika mendatangkan satu pelanggan maka tukang becak tsb mdp fee …hehehemm.. kreatif, top dah kalo kayak gini..
yup…Johja memang ngangeni !!!
bener banget Da.. setiap sudut Jogja adalah seni… semenjak saya tinggal di Sby… jogja menjadi tujuan wajib saya sekeluarga pas liburan… pasti ndak tahan kalau ndak nginep di Jogja… suamiku kan pernah menjadi bagian dari kota ini… jadi ‘pulang ke kotamu’ menjadi agenda yang saya rindui… hehehe… ngangeni bangets
ada fotonya lagi nggak?