Berkunjung ke Kota Singaraja, Bali (Utara)

Hari Jumat dan Sabtu pekan yang lalu saya mengunjungi kota Singaraja, Bali, dalam rangka mempresentasikan makalah saya di konferensi nasional Senapati 2012 yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Informatika, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja.

Saya baru pertama kali mengunjungi kota Singaraja. Kalau ke Bali sih saya sudah empat kali, tetapi sebatas jalan-jalan ke daerah wisata Kuta dan sekitarnya. Orang tidak banyak mengenal kota Singaraja, karena daerah ini memang bukan tujuan utama wisata seperti Kuta dan Gianyar. Jarak dari Bandara Ngurah Rai ke Singaraja sungguh jauh dan memakan waktu perjalanan 2,5 hingga 3 jam. Kuta dan Bandara Ngurah Rai terletak di ujung Bali selatan, sedangkan Singaraja terletak di ujung Bali utara. Jadi mungkin karena faktor jarak yang jauh dari ujung selatan ke ujung utara membuat orang (dan wisatawan) enggan mengunjungi kota Singaraja.

Peta Pulau bali, Denpasar dan Bandara Ngurai Rai di selatan, Singaraja di Utara (Sumber foto: http://desnantara-tamasya.blogspot.com/2011/02/peta-pulau-bali.html)

Meskipun jarak Singaraja itu cukup jauh dari Bandara, namun sepanjang jalan dari Ngurah Rai menuju Singaraja kita disuguhi pemandangan alam yang rupawan. Kita melewati lembah, gunung, dan danau. Kita melalui kawasan Bedugul yang berkabut dengan danau Bratan dan danau Buyan yang memukau.

Danau Bratan yang selalu berkabut

Foto narsis di pinggir Danau Bratan

Di Danau Bratan ini ada pura yang terkenal yaitu Pura Ulun Danu. Pura ini terletak di atas air di pinggir danau, tampak begitu elegan. Foto Pura Ulun Danu ini pernah dijadikan gambar di uang kertas rupiah (uang pecahan Rp1000). Banyak wisatawan yang menyempatkan diri berfoto di pura itu atau memotret gambarnya karena perpaduan yang menawan antara bangunan, air, dan pemandangan sekitarnya. Sayang sekali karena diburu waktu saya tidak sempat berfoto di pura itu, tapi saya berfoto dari jauh saja seperti foto narsis di pinggir Danau Bratan samping kiri :-). Ini foto jepretan fotografer amatir yang banyak beroperasi di pinggir danau. Saya ditawari berfoto dengan aneka gaya (diatur sama dia :-)), dipotret beberapa kali, lalu saya diminta memilih salah satu foto yang terbaik, kemudian dicetak di pinggir danau juga, langsung jadi dalam satu menit. He..he..he, dia membawa printer merek Can*n untuk mencetak foto, kreatif juga.

Ini foto Pura Ulan Danu yang saya ambil dari situs ini. Pura Ulan Danu dinamakan juga Candi Kuning.

Yuk kita lanjutkan perjalanan ke kota Singaraja. Hal yang menarik saya amati sepanjang perjalanan adalah spektrum budaya dan nuansa Bali. Memasuki Kuta, Denpasar, Kabupaten Badung, dan Tabanan, warna Bali masih kental. Sepanjang jalan kita melihat pura-pura di halaman rumah, dan penjor-penjor (seperti janur melengkung) dari sisa perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan berderet di pinggir jalan. Sungguh pemandangan yang menawan hati.

Tetapi, ketika memasuki Kabupaten Buleleng nunasa Bali itu berangsur hilang. Rumah-rumah yang beratap seng, tidak ada penjor, dan jarang ada pura di setiap rumah. Kata teman saya di Singaraja, tradisi Bali orang Buleleng atau Singaraja tidak sekental orang dari Tabanan atau Gianyar. Hal ini mungkin benar, karena daerah Buleleng (yang ibukotanya Singaraja) adalah daerah Bali yang mempunyai interaksi lebih banyak dengan budaya luar, berbeda dengan daerah Bali selatan yang dahulu terisolir dari pengaruh budaya asing. Buleleng terletak di pesisir utara Bali yang menjadi persinggahan pedagang Arab, pelaut Bugis dan Makassar, Madura, dan budaya lain.

Satu hal juga yang menarik, jika di Kuta penuh dengan bule dan turis asing lainnya sehingga terkesan kota ini beruansa internasional, maka selepas Kuta dan Denpasar kita jarang menemui para bule. Makin jauh dari Denpasar hingga perjalanan saya ke Singarja jarang berjumpa turis asing. Seperti yang saya sebutkan tadi, jarak Singaraja yang jauh dari Denpasar membuat para turis enggan berkunjung ke kota ini.

Singaraja adalah kota kecil, penduduknya tidak seramai Denpasar. Suhu udara di kota ini panas karena Singaraja terletak di pinggir pantai. Sekarang Singaraja menjadi ibukota Kabupaten Buleleng padahal dulu Singaraja pernah menjadi ibukota Propinsi Bali dan Nusa Tenggara.

Patung Singaraja di depan Kantor Bupati Buleleng

Kantor DPRD Buleleng berarsitektur Bali

Patung dewa bermuka banyak di sudut kota Singaraja

Pura terbesar di kota Singaraja (tidak begitu jelas karena tertutup pepohonan).

Gapura menuju pura

Salah satu sudut kota Singaraja, persis seperti kota-kota di Jawa umumnya, tidak terasa aroma Bali di sini.

Sebagai seorang muslim saya tentu tidak melupakan kewajiban shalat. Tidak sulit menemukan masjid Singaraja, meskipun umat Islam di sini minoritas. Saya sholat di Masjid Agung Jami Singaraja yang terletak di kampung Arab. Ini masjid tua, gapura masjidnya campuran budaya lokal, Cina, dan Arab. Di kawasan ini sangat mudah menjumpai rumah makan halal.

Masjdi Agung Jami Singaraja

Di Singaraja ada pantai yang terkenal yaitu pantai Lovina. Tujuan wisatawan (lokal maupun asing) ke Singraja adalah ke pantai ini. Menurut saya pantai Lovina biasa-biasa saja, tidak ada ombak, dan tidak sebagus pantai di selatan Bali (Kuta). Rupanya yang dicari orang di sini adalah atraksi lumba-lumba di pantai Lovina. Di laut sekitar 100 meter dari pantai ada kawanan lumba-lumba yang berenang, kalau beruntung anda bisa melihat lumba-lumba melakukan aksi yang atraktif, bahkan bisa berenang bersama mereka. Di pantai Lovina banyak penduduk asli menawarkan jasa sewa perahu boat untuk melihat atraksi lumba-lumba dari dekat, tarifnya Rp100 ribu per orang.

Senja di Pantai Lovina

Oh ya, saya belum menceritakan tentang kampus yang saya kunjungi. Undiksha atau Universitas Pendidikan Ganesha adalah universitas negeri di Singaraja. Dulu bernama STKIP Singaraja, kemudian berkembang menjadi universitas. Dari namanya yang berkata “pendidikan” cukup jelas kalau Undiksha adalah perguruan tinggi untuk mencetak tenaga guru. Singaraja dikenal sebagai kota Pendidikan karena banyak terdapat sekolah dan sebuah perguruan tinggi pendidikan di sana.

Rektorat Undiksha

Kampus Undiksha cukup luas, hampir menyamai luas kampus ITB Ganesha. Mahasiswanya kebanyakan orang Bali, tetapi sejak tergabung dalam SNMPTN mahasiswanya mulai bervariasi dari berbagai daerah seperti Lombok, Jawa, dan sebagainya. Di Undiksha ini ada tiga orang alumni Informatika ITB yang dulu bekas mahasiswa saya di IF-ITB dan sekarang menjadi dosen di sana. Mereka mengabdi di tanah kelahiran mereka menjadi pendidik di sana.

Salah satu gedung fakultas di Undiksha

Tas souvenir konferensi nasional SENAPATI yang khas Bali

Demikianlah jalan-jalan saya dua hari di Singaraja. Singkat tapi cukup berkesan. Akhirnya sampai juga saya menjejakkan kaki di kota kecil ini.

Tulisan ini dipublikasikan di Cerita perjalanan. Tandai permalink.

13 Balasan ke Berkunjung ke Kota Singaraja, Bali (Utara)

  1. Alris berkata:

    Saya ke Bali juga sudah tiga kali, semua abidin hehe… Di Bedugul udaranya kayak di Alahan Panjang. Bali memang selalu menarik untuk didatangi, lagi, lagi….

  2. sunaryaMade berkata:

    wah… ceritanya lengkap dan menarik pak, semoga kalau ada kesempatan nanti main2 lagi ke kota singaraja pak…

  3. catering di denpasar bali berkata:

    Keren nih tulisannya, keep posting ya…
    Sudah Coba Empat Tempat Makan Unik Di Bali
    Klik http://goo.gl/ZGcfU

  4. guzta55@ymail.com berkata:

    good journey

  5. kevodi berkata:

    saya denger2 kampus undiksha ada hotel dg harga terjangkau yg disewakan buat umum. soalnya saya tiap bulan ke sana ada pekerjaan dan membutuhkan penginapan murah 1-2 malam. mungkin mas bisa memberikan info alamat dan nomer telpon undiksha ( saya udah coba googling tapi gak nemu) by email mungkin

    • Putu Nova Rihayana berkata:

      Saya rekomendasikan anda utk menginap di hotel wijaya dgn alamat nya di jln sudirman atau di hotel sentral alamatnya di jalan Ahmad Yani,disana rate per malem nya terjangkau

  6. wipradnyana berkata:

    Ini kota tempat tinggal saya :)

  7. hafizalyusra berkata:

    Terima kasih mas, tulisannya bermanfaat buat saya yang baru mau ke singaraja

  8. Terima kasih info nya mas. Kebetulan kami sedang research tentang pembangunan airport baru di daerah kab. Buleleng. Thanks again.

  9. Yudha Dodeth berkata:

    Sebenernya masih banyak lagi keindahan yang ada di kota Singaraja yang merupakan tempat kelahiran saya..
    Salah satunya mungkin keindahan alam air terjun yang ada di Singaraja.. Hampir Semua daerah di kecamatan Buleleng mempunyai panorama air terjun yang cukup mengesankan untuk untuk dinikmati keindahannya baik dari ketinggian maupun debit air yang cukup tinggi…

    • Dian Yuliasih berkata:

      wah air terjunnya dimana aja? kebetulan besok saya mau ke Bali dan tanggal 2 nya mau ke Singaraja, kalau lokasi mudah dijangkau sepertinya mau mampir ke tempat Air Terjun yang bagus, sebelumnya tks atas infonya

  10. dian berkata:

    wah kotaku,,,,,

  11. dewa berkata:

    suka baca tulisannya…meski sy org bali..cm jarang berkunjung ke singaraja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s