Kwitansi Fiktif

Sebuah kegiatan yang berbasis anggaran memiliki sisa dana yang tidak terpakai. Seseorang menyarankan kepada saya agar membuat kwitansi fiktif pembelian barang cetak agar dana yang tersisa bisa dicairkan. Dia akan membantu mencarikan kwitansi fiktif tersebut. Disebut kwitansi fiktif karena barang yang dibeli sebenarnya tidak ada, tetapi bonnya dapat diminta ke pihak pedagang, tentu saja ada komisi buat pedagang tersebut atas jasanya membuat kwitansi palsu dengan logo dan cap tokonya.

Saya menolak dengan keras usulan tersebut. Perbuatan ini sama saja dengan berbohong. Barangnya tidak ada tetapi kwitansinya ada. Manipulasi itu kan? Lagipula saya tidak membutuhkan barang tersebut (tidak ada dalam anggaran belanja), jadi tidak perlu seolah-olah diadakan.

Bagi orang yang mengurusi bagian keuangan memang sering dipusingkan dengan masalah ini. Anggaran harus habis sebab tidak bisa dikembalikan. Padahal laporan keuangan harus menyebutkan semua pembelian barang dan jasa. Kalau ada dana yang masih tersisa maka harus dipikirkan cara untuk menghabiskannya. Di Bandung beberapa toko jasa foto copy atau toko ATK (alat tulis dan kangtor) sudah menjadi langganan bendahara untuk dibuatkan kwitansi fiktif. Mereka bersedia membuatkan kwitansi pembelian barang senilai berapa saja. Pemilik toko tidak rugi karena tidak ada barang yang keluar, sebaliknya untung karena mendapat komisi.

Di beberapa instansi Pemerintah berbagai cara dilakukan untuk menghabiskan anggaran. Ada yang berkedok kunjungan kerja atau studi banding, padahal sebenarnya inti acaranya jalan-jalan. Yang penting dana harus habis dan pertanggungjawabannya nanti bisa dibuat di dalam laporan.

Dalam pandangan saya, kalau memang ada dana anggaran yang bersisa, harus dikembalikan lagi ke pemberi wewenang (negara). Memang saat ini tidak ada mekanisme mengembalikan dana anggaran, tetapi saya pikir aturan soal ini harus dibuat. Kelebihan dana anggaran berarti ada efisiensi selama kegiatan sehingga dana yang tidak terpakai dapat digunakan untuk kemaslahatan lain. Kalau tetap tidak bisa dikembalikan apapun alasannya, ya sudah disedekahkan saja ke proyek amal shaleh (anak yatim, fakir miskin, dan lain-lain). Prinsipnya selama bukan hak kita ya jangan dimakan dan jangan mengada-adakan. Dosa lho itu.

Tulisan ini dipublikasikan di Pengalamanku. Tandai permalink.

7 Balasan ke Kwitansi Fiktif

  1. Mirdayanti Amir berkata:

    Rinaldi ingat gak toko alat tulis Andesko di seberang Balai Kota padang? Toko buku itu sudah ada sejak tahun 70-an.

    Saya ingat, sekitar 2 tahun lalu,pemiliknya membentak seorang bapak-bapak yang meminta kwitansi fiktif atau kwitansi mark up..gitulah.

    Saya ingat kalimat pemilik toko, “saya akan menulis di kwitansi apa yang bapak beli, dengan harga sebenarnya, kalau bapak mau menipu, itu dosa bapak sendiri dan jangan ajak orang lain berbuat dosa bersama bapak !

    Si bapak itu hanya diam, tak bisa berkata apa-apa dibentak ditengah orang ramai begitu.

  2. Abigail G.A. berkata:

    wailul lil muthafifiin..

  3. Hudaya Rosad berkata:

    salahnya sekarang ini….salah satu penilaian kinerja instansi pemerintah adalah seberapa besar penyerapan anggarannya bukan efisiensinya…….dikatakan tidak berhasil jika penyerapan rendah…..

  4. ismailsunni berkata:

    uang haram itungannya ya pak?

  5. Indra berkata:

    Oh… Ternyata ad jg yg gitu. benar2 dpt pembelajaran pak… Trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s