PilGub Jabar 2013, Semua Calon Kurang Bagus

Rakyat Jawa Barat akan memilih Jabar 1 pada tanggal 4 Februari nanti. Siapa yang akan anda pilih? Menurut saya, semua calon gubernur dan wakil gubernur yang maju tidak ada yang bagus. Debat cagub-cawagub di TV isinya normatif semua, tidak ada yang memberikan langkah kongkrit yang menyentuh permasalahan rakyat Jawa Barat. Apa permasalahan warga Jawa Barat? Sebagai propinsi dengan jumlah penduduk nomor dua terbanyak setelah Jawa Timur, persoalan utama rakyat Jabar adalah kemiskinan dan pengangguran. Selama lima tahun masa jabatan gubernur yang lama memimpin, tidak banyak perubahan yang dirasakan masyarakat. Rakyat Jabar tetap saja banyak yang miskin, pengangguran di mana-mana. Belum lagi ditambah dengan pencemaran alam karena limbah pabrik, banjir yang tidak pernah berhenti pada musim hujan, anak-anak putus sekolah, dan sebagainya.

pilgubjabar

Marilah kita simak para calon gubernur dan calon wakil gubernur itu satu per satu, sesuai dengan nomor urutnya.

1. Dikdik Mulyana Arief Mansur – Cecep Nana Suryana Toyib.
Ini pasangan calon yang kurang dikenal, mereka maju melalui jalur independen. Siapa mereka sebelumnya? Sebagian Anda mungkin kenal mereka, tetapi jujur saja saya tidak tahu (menurut informasi terakhir yang saya baca, Pak Dikdik dulu adalah Kapolda Sumatera Selatan, tapi Sumsel itu kan jauh dari Jabar). Ketidaktahuan kita kepada pasangan ini berpengaruh terhadap pilihan, karena dalam memilih pemimpin orang cenderung melihat figur: dikenal apa tidak? Kalau tidak dikenal ya tidak masuk hitungan pemilih. Boleh dibilang Didkdik-Cecep adalah pasangan calon penggembira saja. Memang dari hasil-hasil survey pasangan Dikdik dan Cecep selalu berada pada elektabiltas paling bawah dari lima pasang calon. Dari segi calon independen sebenarnya mereka membawa harapan sebab mereka tidak terikat kepentingan dengan parpol. Namun, citra calon jalur independen langsung rontok gara-gara kasus Aceng (Bupati Garut yang juga berasal dari jalur independen). Orang-orang gampang saja menggeneralisasi, jangan-jangan nanti gubernur dari jalur independen seperti Aceng pula. Tentu tidaklah ya. Namun jangan kaget, Dikdik adalah calon gubernur paling kaya, harta kekayaannya saja 30 milyar bo!

2. Irianto MS Syafiuddin (Yance) – Tatang Farhanul Hakim
Ini adalah pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur dari Golkar. Pak Yance pernah dua kali menjadi Bupati Indramayu dan sejak dulu punya ambisi menjadi Gubernur Jabar (dia selalu memasang iklan setengah halaman secara rutin di kotran lokal dan koran nasional untuk menjual “kebaikan” dirinya). Sebelum proses penjaringan calon gubernur, baliho Pak Yance berukuran raksasa menghiasi tempat-tempat strategis di kota Bandung. Dari segi popularitas, Pak Yance satu tingkat di atas Pak Dikdik. Kans Pak Yance dan temannya untuk menang menurut saya sangat tipis. Mungkin dia dapat meraih suara yang cukup besar di daerah basisnya yaitu kawasan Indramayu-Cirebon, tetapi di tempat lain dia tidak terlalu dikenal.

3. Dede Yusuf – Lex Laksamana.
Mereka adalah Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang diusung oleh gabungan Partai Demokrat dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Amanat Nasional (PAN). Siapa yang tidak kenal Dede Yusuf? Artis iklan “Bodrex” yang menjadi idola ibu-ibu. Dede Yusuf adalah calon petahana. Dia sudah pecah kongsi dengan gubernur Ahmad Heryawan. Tanda-tanda perpecahan sudah tercium sejak dua tahun lalu, mereka terlihat seperti dalam “perang dingin”, namun tidak sampai putus di tengah jalan. Pak Aher dan Dede tetap jaim seolah-olah di antara mereka tidak ada apa-apa, namun sesungguhnya ada apa-apa, dan tanda-tanda ketidakakuran sudah terlihat sejak lama. Rupanya Aher yang terlalu dominan dalam membuat kebijakan dan tidak melibatkan Dede Yusuf telah membuat hubungan mereka tidak harmonis. Sekarang Dede maju menjadi Cagub dan ingin menunjukkan eksistensinya bahwa dia pun mampu menjadi pilihan rakyat Jabar.

Apa ya yang sudah dilakukan Dede Yusuf selama lima tahun menjadi Wagub? Rasanya tidak banyak kiprahnya yang saya dengar, sebab sebagai orang nomor dua itu di mana-mana statusnya hanyalah menjadi “ban serep” gubernur. Ia tidak punya kuasa yang cukup besar untuk membuat kebijakan, sebab ia akan selalu dibayang-bayangi atasannya, yaitu sang gubernur. Namun, dari segi elektabilitas Dede bersaing sangat ketat dengan Aher, dan hasil-hasil survey selalu menempatkan Dede dan Aher saling kejar mengejar. Sesungguhnya dalam Pilgub nanti yang terjadi adalah rivalitas antara Dede dan Aher. Namun, karena Dede maju dari Partai Demokrat, kisruh Partai Demokrat yang dilanda persoalan korupsi dan diramalkan akan karam cukup berpengaruh pada persepsi orang Jabar terhadap Dede Yusuf. Sejauh mana rakyat Jabar menghubungkan Partai Demokrat dengan Dede Yusuf, itu sangat menentukan keterpilihan dia nanti.

4. Ahmad Heryawan – Deddy Mizwar
Ini adalah pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Sama seperti Dede Yusuf yang dipengaruhi oleh isu Partai Demokrat, Aher juga dibayangi masalah tidak sedap yang menimpa partainya, yaitu kasus suap daging sapi yang membuat ditangkapnya LHI, Presiden PKS. Sejauh mana kasus itu berpengaruh dalam pilihan rakyat Jabar bergantung pada sejauh mana orang mempersepsikan dirinya dengan PKS. Memang hasil survey terbaru menempatkan elektabilitas dia sedikit di atas Dede Yusuf, tetapi hasil-hasil sementara bisa saja berubah: naik atau turun, bergantung pada isu daging sapi yang akan menjadi bola liar dan sejauh mana PKS bisa meredamnya.

Ahmad Heryawan pada tahun 2008 bisa menang karena faktor dominan Dede Yusuf. Dia tidak dikenal oleh mayoritas orang Jabar, namun berkat popularitas Dede Yusuflah Pak Aher bisa terpilih menjadi Gubernur. Jadi, seharusnya Pak Aher ini berterima kasih kepada Dede Yusuf (yang ini tidak pernah diakuinya sebagai faktor kemenangan), namun di tengah jalan dia meninggalkan Dede Yusuf dan meniadakan perannya. Setelah pecah kongsi dengan Dede Yusuf, Aher pun mencari artis lain untuk mengimbangi popularitas Dede Yusuf. Pilihan pun jatuh pada Deddy Mizwar, si jenderal Naga Bonar. Berkat popularitas Deddy Mizwar, elektablitas Aher tertolong kembali, naik cukup signifikan. Diperkirakan Aher akan terpilih kembali bila tidak ada isu luar biasa yang menimpa Dede Yusuf selain isu Partai Demokrat.

Sama seperti Dede Yusuf, saya juga tidak melihat apa prestasi Aher selama menjabat menjadi gubernur. Yang mengatakan Aher banyak prestasi kebanyakan dari kader-kader PKS sendiri, lengkap dengan cerita-cerita betapa randah hati dan merakyatnya sang ustad (seperti tidak ingin kalah merakyat dengan Jokowi). Prestasi yang diklaim puluhan buah itu tidak bisa dianggap sebagai kesuksesan sang gubernur, sebab bisa saja sebagian prestasi itu adalah kerja keras staf atau bawahannya tetapi diangap sebagai prestasi gubernur. Oh ya, karena media tidak banyak mempublikasikan keberhasilan Pak Aher, maka para pendukungnya mensiasati dengan membuat puluhan baligo dengan wajah Aher tersenyum mendapat penghargaan, saya sampai muak melihatnya. Baligo-baligo yang menyanjung-nyanjung personal itu terasa ironi dengan ideologi partainya yang anti dengan pengkultusan individu.

5. Rieke Diah Pitaloka – Teten Masduki
Ini adalah pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang diusung oleh Partai demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Gerindra. Sayangnya Rieke meniru mentah-mentah gaya kampanye Jokowi, terutama simbol baju kotak-kotak. Orang melihat pasangan ini tidak punya rasa percaya diri dengan melakukan copy paste gaya Jokowi-Ahok. Rieke sepertinya ingin meniru keberhasilan Jokowi dalam Pilgub DKI, tetapi dia lupa masa euforia Jokowi sudah hampir selesai. Publik belum melihat “keberhasilan” Jokowi dalam menangani persoalan besar di Jakarta yaitu banjir dan kemacetan. Banjir besar di Jakarta bulan Desember yang lalu membuka mata publik bahwa Jokowi toh masih biasa-biasa saja, dia bukan superman seperti yang dibayangkan orang. Hanya gaya blusukan Jokowi yang membuat dia masih disambut meriah dan menjadi media darling karena blusukan itu membuat dia sangat merakyat.

Lagipula harus diingat bahwa medan Jakarta tidak sama dengan medan Jabar yang sangat luas dan lebih homogen. Jakarta multikultur, rakyatnya lebih terbuka dan well-informed, sedangkan Jabar terasa sangat nyunda dan tidak bisa dipisahkan dari agama (Islam).

Nah, Rieke alias Oneng telah mengambil strategi yang salah dengan mem-foto-copy Jokowi. Baju kotak-kotak ternyata tidak laku di daerah, buktinya dalam Pilgub Sulawesi Selatan pasangan kotak-kotak kalah telak oleh petahana. Hasil-hasil survey menempatkan elektabilitas Rieke nomor 3 setelah Aher dan Dede. Status Rieke sebagai aktivis buruh tidak cukup kuat mendongkrak elektabilitasnya. Selama menjadi aktivis dan anggota DPR prestasi apa yang telah diperbuatnya? Kebanyakan yang dipersepsi publik adalah Rieke hanya bisa cuap-cuap saja tetapi action tidak ada. Dan jangan lupa, rekam jejak Rieke sebagai pengusung paham pluralisme dan liberalisme (ingat penolakannya terhadap UU Pornografi) menjadi catatan tersendiri bagi kalangan muslim kritis. Rieke juga lupa bahwa rakyat Jawa Barat terkenal agamis dan sering menghargai simbol-simbol agama, maka dengan penampilannya tanpa memakai kerudung cukup menjauhkannya dari ibu-ibu majelis taklim, kalangan santri, dan kelompok-kelompok agamis lainnya.

Jadi, siapa yang anda pilih pada tanggal 24 Februari nanti. Pilihlah yang paling bagus dari semua calon yang tidak bagus itu.

Tulisan ini dipublikasikan di Seputar Informatika. Tandai permalink.

13 Balasan ke PilGub Jabar 2013, Semua Calon Kurang Bagus

  1. noor berkata:

    tulisan yang informatif pak, insya Allah berguna bagi warga jawa barat. sayang sekali saya bukan salah satu nya. salam.

  2. zakkafauzan berkata:

    sebelum berkomentar apakah gubernur berhasil atau tidak, saya ingin tanya dulu, batasan kerja gubernur Jawa Barat itu sejauh apa? Jangan bandingkan dengan gubernur DKI yang bisa mengurus tata kota juga Pak, karena walikota Jaksel, Jaktim, dkk itu PNS, bukan melalui mekanisme pemilihan dan ruang kerjanya kecil sekali. Jadi apakah sebenarnya masalah2 yang Bapak lihat itu (di Jawa Barat) karena masalah di gubernur atau justru “area”-nya walikota?

  3. ikhwanalim berkata:

    “Baligo-baligo yang menyanjung-nyanjung personal itu terasa ironi dengan ideologi partainya yang anti dengan pengkultusan individu.”.. hmmm… iya juga ya pak :D

    • Heri Purnomo berkata:

      politik dan agama akhirnya gak pernah2 benar-2 bisa disatukan ya, seperti yang sering didakwahkan. Dalam politik tidak ada kultus individu, yang penting suara. Dalam tausiah dan wacana, itu soal lain. Kita gak boleh mengatakan itu inkonsistensi..hehehe

      Saya masih teringat bagaimana Ahok yang non muslim diperlakukan berbeda dengan walikota Solo yang non muslim juga. Lagi-lagi ini sebuah inkonsistensi. Tapi ya itu tadi, dibutakan oleh kepentingan berkuasa.

  4. aespe berkata:

    “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya ia mengatakan yang baik atau diam” – HR Muslim

    Duh, kasian banget negeri ini, seorang dosen seperti bapak, dari kampus terkenal, kok bisanya cuma menunjukkan ke-tidak bagus-an saja, apa ga bisa sebagai seorang ahli informasi, memberikan “pencerahan”, dengan menginformasikan kebaikan2 dari para calon itu? apa pun kebaikannya, biar rakyat biasa, sedikit dapat modal untuk memilih berdasar sisi positif calon2 itu.

    Kalau di padang mahsyar di tanya, maksud dan manfaat tulisan ini, jawab bapak apa?

    Bapak bukan orang biasa lho, yang boleh bisa nyinyir dan ngedumel, kelas bapak beda lah, blog ini rumah bapak, bapak boleh menulis sesukanya, mohon maaf kalau tersinggung dengan komentar saya, sekedar nyinyir karena muak dengan bobrok nya negeri dari orang orang yang di harap bisa ngasi pencerahan tapi tidak.

    Be positive… setiap huruf akan dimintai tanggung jawab

    • rinaldimunir berkata:

      Tidak apa-apa, sah-sah saja menilai sebuah tulisan, sebab ini adalah opini pribadi, boleh setuju atau tidak suka. Saya membuat tulisan ini dari sudut pandang (angle) berbeda, tidak sama dengan tulisan-tulisan lain yang membahas plus minus calon dan sebagainya. Tulisan ini bukanlah panduan memilih Cagub-Wagub. Insya Allah saya mempertanggungjawabkan apa yang saya tulis.

      • agustinus pambudi berkata:

        Luar biasa, tulisan yang cukup jujur dan netral. ijin share ya Pak.

      • nadia323082 berkata:

        heeem setuju, bukan panduan untuk memilih cagub dan cawagub,, boleh suka boleh tidak, selama opini tidak menyeleweng jauh kearah yang salah ya pak:)
        opini kan hak masing2, yang penting tdak memfitnah,, lanjutkan

    • Yusdianr berkata:

      hahaha, masih ada aja orang yang komennya kayak gini, kayaknya anda salah satu simpatisan ya? udah taklid kalo ada yang memberi sudut pandang negatif orang yang diagungkan Anda, langsung nyerang seperti ini?

      pak Rinaldi yang saya hormati, saya izin share :)

    • Heri Purnomo berkata:

      Untuk sebuah pilihan yang menyangkut kepentingan umum, kejujuran itu diperlukan lho Pak. Saya rasa Pak Rinaldi cukup obyektif menilai, dan itu sangat membantu orang awam dalam memilih. Setuju untuk selalu Be Positive, termasuk be positive dengan tulisan ini. sudahkan kita lakukan?

  5. Zainum bin Hamad berkata:

    Saya sudah membaca, tidak memahami kerana sistem ini tidak diamalkan di negara saya ..sekadar informasi dari negara serumpun.

  6. Ping-balik: Perkiraan Hasil Pemilihan Gubernur (PilGub) Jawa Barat 2013 | Catatanku

  7. ijah berkata:

    semoga setelah diatas tidk melupakan janji-janjinya saat kampanye, karena janji bukan hanya terucap saja, namun butuh pertanggungjawaban yang sangat besar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s