Pengalaman Shalat Jumat di Masjid PDAM Bandung

Hari ini saya datang ke kampus agak siang. Seperti biasa saya selalu melewati jalan Ciung Wanara yang rindang selepas keluar dari bawah jembatan layang Cikapayang. Berhubung waktu sudah mendekati shalat Jumat, saya memutuskan berhenti di masjid PDAM yang terletak di dalam kompleks PDAM Tirta Wening Bandung di Jalan Ciung Wanara itu.

Kompleks PDAM Tirta Wening Bandung

Kompleks PDAM Tirta Wening Bandung

Masjid PDAM Bandung sudah lama dikenal oleh mahasiswa dan karyawan ITB sebagai masjid dengan kecepatan “turbo”. Disebut demikian karena shalat Jumatnya singkat dan cepat bubaran. Jarak masjid ini dari Masjid Salman ITB hanya sepelemparan batu, sekitar 100 meter saja. Tidak semua mahasiswa dan karyawan “suka” shalat Jumat di Masjid Salman. Mungkin karena ibadah shalat Jumat di Salman durasi waktunya (khutbah + shalat) cukup lama sehingga bagi orang yang tidak ingin berlama-lama, mereka memilih shalat Jumat di Masjid PDAM saja. Atau, mungkin juga karena “keformalan” masjid Salman kurang cocok bagi mahasiswa yang senang kumpul-kumpul namun merasa biasa-biasa saja dalam agama, entahlah saya kurang tahu alasannya, karena itu soal pilihan saja.

Jamaah shalat Jumat di Masjid PDAM

Jamaah shalat Jumat di Masjid PDAM

Memang harus diakui shalat Jumat di Salman tergolong cukup lama, padahal shalat Jumat itu idealnya tidak perlu terlalu lama (ada hadisnya kalau tidak salah). Kumandang adzan di Salman dimulai lebih telat dari masjid lain. Khutbah Jumat di Salman memakan waktu 20 hingga 25 menit. Jadi, jika ibadah shalat Jumat dimulai pukul 12 siang, maka selesainya pukul 12.40.

Nah, di masjid PDAM memang super kilat. Shalat Jumat yang saya ikuti tadi khutbahnya tidak sampai 10 menit, shalatnya pun tidak sampai lima menit. Pukul 12.15 ibadah shalat sudah selesai dan jamaah pun berhamburan keluar. Benar-benar kecepatan turbo, pantesan jamaah masjid ini membludak hingga meluber ke jalan raya. Ketika saya keluar dan melewati masjid Salman, di sana masih sedang berlangsung khutbah.

Jamaah shalat Jumat meluber ke luar hingga ke jalan raya.

Jamaah shalat Jumat meluber ke luar hingga ke jalan raya.

Menurut saya, apapun alasan orang memilih shalat di Masjid PDAM, keberadaan Masjid PDAM menurut saya memang diperlukan. Melihat jumlah jamaah yang melimpah sampai ke jalan raya tadi, nggak kebayang deh kalau semuanya bakal tertampung di Masjid Salman. Areal masjid Salman saat ini sudah tidak dapat menampung lebih banyak lagi jamaah shalat Jumat. Jumlah mahasiswa ITB saat ini selalu bertambah setiap tahun. Di sekitar ITB juga terdapat sejumlah perguruan tinggi lain yang tidak mempunyai masjid kampus, plus banyak perusahaan, hotel dan FO di kawasan Dago yang karyawannya tentu perlu masid terdekat untuk shalat Jumat. Jadi, masjid PDAM dan masjid Salman saya kira saling melengkapi.

Begitulah pengalaman saya pertama kali shalat di Masjid PDAM yang karena kebetulan lewat saja.

Tulisan ini dipublikasikan di Agama, Seputar ITB. Tandai permalink.

4 Balasan ke Pengalaman Shalat Jumat di Masjid PDAM Bandung

  1. Mesjid berkata:

    Semoga suatu saat saya bisa ikut ngambil foto masjid di bandung

  2. arifrahmat berkata:

    Masjid Maimmaskub, demikian nama Masjid di kompleks PDAM Kota Bandung tersebut. Nama yang unik, diambil dari Al-Qur’an surah Al-Waqi`ah ayat 42 yang artinya air yang tercurah. Letaknya yang sangat dekat dari Masjid Salman ITB menjadikannya sebagai alternatif bahkan pilihan utama bagi muslim mahasiswa, dosen, maupun karyawan ITB.

    Masjid PDAM Kota Bandung ini terkenal dengan khutbah Jum’at yang sangat pendek dibandingkan dengan khutbah di Masjid Salman ITB. Adzan Jum’atnya juga kadang lebih dahulu, karena tidak banyak berita prakhutbah yang harus disampaikan. Kesimpulannya, shalat Jum’at di Masjid PDAM akan lebih cepat selesai, biasanya 15 hingga 25 menit lebih cepat daripada di Masjid Salman ITB.

    Usut punya usut, ternyata ada sebuah rahasia yang menjadikannya demikian. Di atas mimbar, ada sebuah papan berukir bertuliskan “Khutbah plus minus 20 menit”. Ketika khatib naik mimbar, papan tersebut pasti terlihat. Sepanjang apapun naskah khutbah yang telah disiapkan khatib, biasanya akan dimampatkan agar memenuhi anjuran pada papan tersebut.

    Sumber:

    http://arifrahmat.wordpress.com/2007/11/29/cepatnya-shalat-jumat-di-masjid-pdam-bandung-dekat-itb/

  3. daveed berkata:

    mungkin semoga link ini bisa menjawab masalah sholat jumat yang waktunya DIPENDEKKAN…

    http://www.rumahfiqih.com/ust/e2.php?id=1204768237

    Tidur di Saat Kutbah Jum’at, Sahkah Sholat Jum’atnya?
    Pertanyaan

    Assalaamu’alaikum Wr Wb

    Begini ustadz. Biasanya kalo saat kutbah jum’at, banyak para jama’ah (termasuk saya) yang ketiduran. dan begitu selesai kutbah langsung bangun dan segera sholat jum’at.

    Bagaimana dengan sholat jum’at saya? Apa perlu wudhu lagi? Mohon penjelasan.

    Terima kasih

    Wassalaam

    abdullah

    Jawaban

    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Memang secara hukum, bila seseorang telah ikut shalat Jumat bersama imam, maka hukum shalat Jumatnya telah sah, bahkan meski dia hanya ikut imam di rakaat terakhir pada saat imam sedang ruku’. Itu adalah batasan akhirnya.

    Dan bila ikutnya seorang makmum kepada imam di shalat Jumat itu telah lewat dari ruku’nya imam, maka dia tidak mendapatkan shalat Jumat. Baginya wajib melakukan shalat Dzhuhur sebanyak empat rakaat.

    Jadi kesimpulannya memang seorang yang tidak sempat ikut mendengarkan khutbah jumat, tetap terhitung telah mendapatkan shalat Jumat.

    Hanya saja secara kualitas ibadah, tertidur saat mengengarkan khutbah Jumat patut disesalkan. Karena kesempurnaan ibadah shalat Jumat tentu saja dengan cara ikut dalam khutbah.

    Namun melihat kasus tertidur saat mendengar khutbah jumat itu, kita tidak bisa main vonis begitu saja, sebab belum tentu kesalahan terletak pada diri orang yang tidur. Siapa tahu khatibnya juga bikin ngantuk jamaah. Entah karena suaranya pelan, penyampaiannya kurang menggugah, atau karena durasinya kelamaan, hingga orang bosan mendengarkan. Akhirnya, tidur pulas jadi pilihan ‘secara fitrah’.

    Durasi Khutbah

    Seharusnya khutbah Jumat itu tidak perlu terlalu lama, cukup 15 menit saja, paling lama 20 menit. Semakin pendek khutbah, semakin baik. Kalau masih ingin memberikan ceramah agama yang panjang, atau pakai tanya jawab, maka silahkan lakukan setelah selesai shalat.

    Sebenarnya tidak salah bila ada pengurus masjidpunya kebijakan untuk membatasi durasi khutbah jumat hanya 10 menit, lalu langsung dilakukan shalat jumat.

    Selesai itu diumumkan kepada jamaah yang memang tidak terlalu terburu-buru, agarmendengarkan ceramah agama atau mau’izhah hasanah, atau juga tanya jawab, yang dilaksanakan setelah shalat Jumat usai. Tentu saja hukumnya bukan wajib, tetapi sunnah.

    Dankewajiban shalat Jumat sudah terpenuhi terlebih dulu, sedangkan yang butuh ilmu agama secara lebih mendalam, boleh tetap diam di tempat untuk mendengarkan kuliah agama.Yang punya keperluan dan pekerjaan, boleh langsung meninggalkan arena.

    Malah dengan cara itu, kita akan tahu, siapa saja yang butuh ilmu dan siapa saja yang datang memang karena untuk menggugurkan kewajiban. Dan dengan semakin pendeknya durasi khutba jumat, akan semakin kecil kemungkinan orang tertidur.

    Kesalahan Jamaah

    Tapi tidak selamanya kesalahan terletak pada diri khatib. Di Mesir misalnya, meski khutbah jumat relatif lebih panjang, tapi semua orang sudah mafhum, di samping mereka memang butuh ceramah agama dari para ulama besar.

    Kesempatan bertemu dan mendengarkan khutbah Jumat dari para ulama besar dan ilmunya luas, memang pada saat shalat Jumat. Penyampaian khutbah itu menjadi pencerahan yang amat ditunggu-tunggu para jamaah.

    Di samping itu, hari Jumat di Mesir adalah hari libur. Sehingga kalau shalat Jumat agak panjang, tidak ada yang gelisah mau balik ke kantor.

    Suasananya memang sangat kontras dibandingkan dengan di negeri kita, yang umumnya orang pada ngobrol, kadang sibuk ngirim sms, atau juga malah berteleponan. Selain itu tidak jarang khatibnya pun kurang mampu menguasai masalah dan massa. Sebagian sudah gelisah kalau khatib agak memanjangkan khutbah.

    Selain itu harus diakui juga adanya orang yang memang benar-benar ‘pelor’ alias nempel langsung molor. Tidak boleh ketemu dinding atau tiang, pokoknyaambil ancang-ancang dan langsung ngorok. Tak peduli khatib sedang teriak-teriak di atas mimbar.

    Hukum Tidur Yang Membatalkan Wudhu’

    Memang benar bahwa tidur itu akan membatalkan wudhu’. Dan bila wudhu’ sudah batal, maka tidak sah bila langsung melaksanakan shalat, kecuali bila sebelumnya berwudhu’ lagi.

    Dalil bahwa tidur itu membatalkan shalat adalah hadits berikut ini:

    Siapa yang tidur maka hendaklah dia berwudhu’ (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)

    Namun para ulama mengatakan bahwa tidak semua bentuk tidur akan membatalkan wudhu’. Ada beberapa kriteria yang berbeda, di mana tidak selamanya tidur itu membuat batal wudhu’.

    Tidur yang membatalkan wudhu adalah tidur yang membuat hilangnya kesadaran seseorang. Termasuk juga tidur dengan berbaring atau bersandar pada dinding.

    Sedangkan tidur sambil duduk yang tidak bersandar kecuali pada tubuhnya sendiri, tidak termasuk yang membatalkan wudhu’ sebagaimana hadits berikut:

    Dari Anas ra berkata bahwa para shahabat Rasulullah SAW tidur kemudian shalat tanpa berwudhu’ (HR Muslim) – Abu Daud menambahkan: Hingga kepala mereka terkulai dan itu terjadi di masa Rasulullah SAW.

    Jadi upayakan sebisa mungkin untuk tidak tidur waku mendengarkan khatib shalat Jumat. Sebab tujuan dari mendengarkan khutbah adalah mendengarkan nasihat, wasiat dan penjelasan masalah agama.

    Tapi para ulama sepakat bila seseorang tertidur saat khutbah dibacakan, tetap sah shalat jumatnya. Dan kalau tidurnya termasuk kriteria yang tidak membatalkan, maka tidak perlu wudhu’ lagi.

    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Ahmad Sarwat, Lc

  4. alifayogananda berkata:

    Aha, kalau gitu yang di Ciwaruga dekat TK/SD Taman Firdaus Percikan Iman pantas disebut JET :-D
    Khutbah pake bahasa Arab, khutbah pertama + kedua = 2 menit 38 detik (asli saya pake stopwatch :-) ), shalatnya yang rada lama, 5 menit lebih (hampir 7 malah).. Sesudah itu doa bersama lumayan lama.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s