Masyarakat Amnesia

Dalam sebuah koran lokal yang saya baca tadi pagi, Bupati Garut Aceng Fikri yang telah dimakzulkan oleh DPRD Kabupaten Garut karena kasus nikah sirinya dan cerai setelah empat hari, disambut meriah oleh ribuan warga Garut di perbatasan kota. Bupati Aceng baru saja menerima surat pemecatan dari Presiden SBY yang diserahkan langsung oleh Gubernur Jabar di Gedung Sate kemarin. Pak Bupati dijemput oleh ribuan konvoi sepeda motor lalu diarak ke rumahnya. Di rumahnya Pak Bupati dipeluk dan dicium tangannya oleh ibu-ibu.

Saya yang membaca berita tersebut menjadi terkesima. Pak Bupati yang beberapa bulan lalu menjadi pecundang tiba-tiba disambut bak pahlawan. Begitu mudahkah warga Garut melupakan kasus pelanggaran etika, pelecehan harkat perempuan, dan mempermainkan ajaran agama itu? Mungkin tidak semua warga Garut bersikap demikian, tetapi penyambutan yang meriah bak pahlawan merupakan fenomena yang menarik.

Saya masih ingat tahun lalu ketika Ariel bebas dari penjara setalah menjalani tahanan karena kasus asusila yang dilakukannya. Ariel disambut gegap gempita dan histeria oleh penggemarnya di luar penjara yang rata-rata remaja dan anak muda. Bagaikan seorang pahlawan, ratusan fans Ariel mengelu-elukannya, seakan-akan mereka sudah lupa saja dengan perbuatan Ariel yang tercela itu. Para sosiolog dan pemerhati anak mengatakan perilaku fans Ariel yang berlebihan itu itu sebagai pertanda masayarakat yang sakit.

Masyarakat kita memang mudah lupa atau melupakan suatu peristiwa. Amnesia. Mereka tidak lagi mempedulikan perilaku masa lalu seseorang. Rekam jejak tidak lagi penting, yang penting adalah kondisi saat ini. Selama orang tersebut menguntungkan atau memuaskan dirinya, maka masa lalu tidak lagi dipandang, kalau perlu orang tersebut dibela habis-habisan. Pada kasus yang berbeda, Jenderal Prabowo (juga Wiranto) yang tangannya berlumuran pelanggaran HAM pada masa lalu sekarang tampil menjadi sosok calon presiden yang melejit.

Memang kita tidak harus mengucilkan sesorang akibat perbuatan masa lalunya, namun rekam jejak itu menjadi penting ketika kita menjadikan orang tersebut sebagai panutan, apalagi sebagai calon pemimpin. Jangan sampai karena fenomena lahiriah sesorang (seperti kekayaan, ketampanan, popularitas) membuat kita terkesima dan melupakan begitu saja perilaku masa lalunya. Masa lalu seseorang dan rekam jejaknya menjadi catatan pertimbangan ketika menempatkan seeorang sebagai panutan atau pemimpin.

Tulisan ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

3 Balasan ke Masyarakat Amnesia

  1. Albadr Nasution berkata:

    Pikiran (kebanyakan) manusia Indonesia terlalu sederhana sih pak.

    Si A populer ? saluti : cueki.

    Tidak ada kondisional lain.
    Yang penting dia sering masuk media, sayang rasanya kalo nggak menghampiri dan iseng noel. Kalau beruntung, bisa dicium (atau bahkan dikasih duit) kan lumayan, bisa pamer ke teman2.

  2. Komarudin Tasdik berkata:

    Kita harus terus mengingatkan mereka, karena ternyata orang-orang yang menjadi penggerak kampus, baik dosen maupun mahasiswa, masih sedikit sekali menaruh perhatiannya pada mereka (masyarakat yang belum sempat mendapatkan pendidikan yang baik). Terlalu asik dengan dunia kampusnya

  3. Ismail Sunni berkata:

    Kalau Ariel, saya masih bisa menerima logikanya : pasca lepas dari tahanan, dia bisa bekarya lagi di dunia musik, mungkin para penggemarnya sudah lama ingin mendengar karya dari Ariel.

    Nah, kalau si Aceng ini, saya bingung, alasan apa yang membuat dia harus disambut ya? Apa gara-gara akhirnya tidak jadi bupati lagi? Lalu, ya kenapa musti repot2 ketemu Aceng dan menyambut segala?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s