Si Dul dan Anak-Anak yang Membawa Motor

Kasus si Dul, putra musisi Ahmad Dhani, yang menabrak mobil di jalan tol hingga menewaskan 6 orang, belum termasuk yang luka berat, menyadarkan kita bahwa anak dibawah umur memang harus dilarang membawa kendaraan bermotor. Belum punya SIM, belum berumur 17 tahun, tetapi sudah membawa kendaraan bermotor seperti mobil dan sepeda motor ke jalan raya. Anak-anak di bawah umur emosinya belum stabil, sehingga jika membawa kendaraan bermotor mereka belum bisa membawanya dengan tenang. Kalau tidak menabrak orang lain, ya ditabrak oleh kendaraan lain.

Anak saya yang nomor dua, sekarang kelas 1 SMP, ketika kelas 6 SD merengek-rengek minta diajarkan membawa motor. Motor matik satu-satunya yang selalu saya bawa ke kantor ingin pula dijajalnya. Pengaruh teman-teman sebaya sangat kuat mendorongnya untuk bisa membawa motor. Sehari-hari di kompleks kami anak-anak yang masih SD sekalipun sudah berkeliling-keliling membawa motor. Motor matik memang mudah dikendarai, asal sudah bisa memakai sepeda maka memakai motor matik pun tidak sulit, cukup mengkombinasikan gas dan rem saja.

Akhirnya saya pun mengajarkan anak saya membawa motor. Dua jam belajar dengan dipandu oleh saya dari belakang sadel (dia di depan, saya di belakang, tandem), dia sudah bisa membawa motor matik itu. Mula-mula keliling satu putaran dekat rumah, makin hari ke hari dia sudah berani mebawanya ke jalan yang lain. Sekali-sekali dia mencuri-curi larangan dengan membawa motor ke jalan raya. Kadang-kadang membawa motor bersama-sama temannya, kadang dia membonceng adik dan kakaknya.

Dalam hati saya sebenarnya belum berani melepas anak membawa motor. Ada perasaan was-was gitu. Maklumlah anak-anak, jiwa mereka belum stabil. Jalan yang sepi dapat menggoda mereka memainkan gas, ngebut di jalan. Yang saya takutkan hanya tiga hal: kalau tidak menabrak, ditabrak, atau jatuh.

Akhirnya kehawatiran saya suatu hari terbukti. Dia memacu gas cukup tinggi, dan ketika ada batu di depan dia ingin menghindar. Motor tidak bisa dikendalikan dalam keadaan gas yang cukup tinggi itu. Terpelesetlah dia, dan jatuh ke aspal. Motor matik menimpa dirinya, lutut dan tangannya robek kena aspal hingga terlihat dagingnya. Tidak cukup diobati di rumah, maka saya harus membawanya ke dokter karena lukanya cukup dalam.

Sejak itu dia kapok tidak mau membawa motor lagi. Trauma. Biasanya kalau motor saya lagi nganggur di rumah, langsung dia sambar dan bawa keliling-keliling kompleks. Sekarang tidak mau lagi, bahkan sekedar menghidupkannya sekalipun. Kata dia, nantilah bawa motor kalau sudah besar, kalau sudah kuliah. Ini pelajaran bagi dirinya bahwa dia masih terlalu kecil untuk membawa motor. Kalau belum mengalami kecelakaan sendiri mungkin dia belum sadar betapa besar bahaya yang mengintai anak di bawah umur yang membawa kendaraan bermotor sendiri.

Itu baru motor, bagaimana pula kalau mobil, tentu kompleksitasnya lebih besar daripada motor. Sekarang banyak orang tua yang membelikan anaknya kendaraan bermotor seperti mobil atau motor meskipun anaknya belum cukup umur. SIM pun diperoleh dengan cara yang tidak jujur, yaitu dengan jalan pintas melalui biro jasa (tanpa ikut tes di kantor polis).

Sayang anak sih boleh, tetapi jika terlalu berlebihan dengan membiarkan dia membawa kendaraan bermotor meskipun belum cukup umur, maka bahaya di depan mata siap mengintai. Kita tidak perlu menuggu kasus Dul-Dul yang lain terjadi, cukup sudah si Dul menjadi pelajaran buat kita semua.

Tulisan ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Si Dul dan Anak-Anak yang Membawa Motor

  1. ikhwanalim berkata:

    Saya sendiri pernah trauma dengan sepeda motor, pak. Pas kelas 6 SD. Karena trauma, sepanjang SMP saya tidak mau belajar lagi. Karena SMA di asrama, praktis tidak bisa konsisten berkendara. Trauma hilang ketika kuliah lalu memaksakan diri untuk belajar. Hehe :D

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s