<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Catatanku &#187; rinaldimunir</title>
	<atom:link href="http://rinaldimunir.wordpress.com/author/rinaldimunir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rinaldimunir.wordpress.com</link>
	<description>Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 07 Jan 2010 07:59:13 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='rinaldimunir.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/02f88ff696dff6961cd8a2f32e0547d0?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Catatanku &#187; rinaldimunir</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rinaldimunir.wordpress.com/osd.xml" title="Catatanku" />
		<item>
		<title>Bandung Kota Agamis?</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2010/01/07/bandung-kota-agamis/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2010/01/07/bandung-kota-agamis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 07:31:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seputar Bandung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=2047</guid>
		<description><![CDATA[Minggu lalu ada berita yang cukup heboh di Bandung. Sebuah kafe di Pascal Hypersquare, namanya kafe Bell Air, diciduk polisi karena menampilkan tarian striptis alias tarian (maaf) telanjang (baca beritanya di sini). Tidak tanggung-tanggung, beberapa hari kemudian Pak Walikota Dada Rosada langsung mendatangi kafe itu. Di sana Pak Dada sempat marah-marah kepada pengelola kafe yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=2047&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Minggu lalu ada berita yang cukup heboh di Bandung. Sebuah kafe di Pascal Hypersquare, namanya kafe Bell Air, diciduk polisi karena menampilkan tarian striptis alias tarian (maaf) telanjang (baca beritanya <a href="http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&amp;id=119061">di sini</a>). Tidak tanggung-tanggung, beberapa hari kemudian Pak Walikota Dada Rosada langsung mendatangi kafe itu. Di sana Pak Dada sempat marah-marah kepada pengelola kafe yang nakal itu. Dia mengancam akan menutup kafe tersebut karena sudah mencemarkan wacana kota Bandung sebagai kota agamis.</p>
<p>Sejak dulu memang selalu berkembang wacana untuk menjadikan Bandung kota agamis. Kota agamis secara sederhana dapat diartikan sebagai kota yang bebas maksiat. Usaha ke arah itu sudah ada, misalnya ditutupnya lokalisai Sar*t*m, lalu eks lokasi pelacuran itu dijadikan Pesantren Attaubah. Namun, kesan yang ada di benak publik selama ini adalah aksi yang sering dilakukan untuk menjadikan Bandung sebagai kota agamis itu baru sebatas masalah prostitusi saja, padahal sebenarnya banyak aspek kemaksiatan lain yang belum tersentuh. </p>
<p>Bandung adalah kota hiburan dan kota pelesir warga Jakarta. Di sini banyak tempat hiburan malam mulai dari pub, klab malam, panti pijat, diskotik, kafe, dan sebagainya. Keberadaan tempat hiburan malam itu  tidak bisa dilarang karena memang ada sekelompok orang yang kesenangannya adalah dugem dan menghabiskan waktu malamnya untuk senang-senang. Ini negara demokrasi dimana setiap orang bebas untuk melakukan apa saja yang dia mau. Namun, kebebasan yang diberikan itu ternyata disalahgunakan oleh sebagian pemilik hiburan. Di tengah persaingan hiburan malam yang sengit, mereka mencari upaya untuk menarik pengunjung sebanyak-banyaknya, antara lain dengan menu tarian erotis semacam itu. Kesan bahwa tempat hiburan malam adalah tempat transaksi seks bebas, narkoba, dan mabuk-mabukan susah dihilangkan dari benak masyarakat. Jadi, bagaimana mau menjadikan Bandung sebagai kota agamis jika praktek kemaksiatan masih bebas berlangsung di tempat-tempat hiburan malam itu. </p>
<p>Sebagai kota yang dekat dengan Jakarta, maka perkembangan gaya hidup kota metropolitan mau tidak mau cepat pula merembet ke kota Bandung. Hal yang dulu tabu sekarang sudah menjadi pemandangan biasa. Masyarakat sudah tidak mempedulikan lagi orang-orang yang berpakaian seronok yang serba terbuka atau bersikap cuek dengan pasangan anak muda sedang berangkulan erat dan berpelukan di tempat-tempat umum. Laki-laki dan perempuan tampak bergaul begitu bebas. Tidak ada yang berani menegur atau mempersoalkan karena hampir semua orang berpikir itu adalah urusan privasi yang bersangkutan. </p>
<p>Itulah Bandung, kota gemerlap yang ingin menunjukkan dirinya sebagai kota agamis. Perlu waktu panjang dan usaha yang keras dari pengelola kota untuk menjadikan Bandung kota yang &#8220;bersih&#8221; dari kemaksiatan. Sulit memang, tapi tetap tidak boleh putus asa.    </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/2047/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/2047/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/2047/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/2047/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/2047/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/2047/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/2047/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/2047/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/2047/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/2047/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=2047&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2010/01/07/bandung-kota-agamis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Anak-anak Sudah Pandai Bicara Soal Cinta</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2010/01/04/ketika-anak-anak-sudah-bicara-cinta/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2010/01/04/ketika-anak-anak-sudah-bicara-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 08:50:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gado-gado]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=2038</guid>
		<description><![CDATA[Masa libur tahun baru kemarin saya tidak pergi ke mana-mana, hanya di rumah saja. Sesekali saya hidupkan pesawat TV &#8212; yang biasanya jarang saya tonton. Secara tidak sengaja remote control saya tiba pada sebuah acara yang heboh, yaitu acara Idola Cilik yang merupakan ajang penjaringan bakat menyanyi bagi anak-anak. Namun, hati saya langsung masygul menyaksikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=2038&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Masa libur tahun baru kemarin saya tidak pergi ke mana-mana, hanya di rumah saja. Sesekali saya hidupkan pesawat TV &#8212; yang biasanya jarang saya tonton. Secara tidak sengaja <em>remote control</em> saya tiba pada sebuah acara yang heboh, yaitu acara <em>Idola Cilik </em>yang merupakan ajang penjaringan bakat menyanyi bagi anak-anak. Namun, hati saya langsung masygul menyaksikan anak-anak itu menyanyi. Jangan harap anak-anak itu menyanyikan lagu seperti <em>Ambilkan Bulan Bu</em>, <em>Naik Kereta Api</em>, <em>Menaman Jagung</em>, dan lain sebagainya. Itu sudah kuno! Lagu yang mereka nyanyikan adalah lagu orang-orang dewasa yang berbicara tentang cinta, kepedihan cinta, kesetiaan cinta, atau yang temanya tidak jauh dari cinta-cinta itu. Mereka lebih akrab dengan lagu yang dinyanyikan oleh Afgan atau dari <em>boy&#8217;s band</em> seperti <em>PeterPan</em>, <em>Nidji</em>, <em>Kuburan</em>, <em>dMasiv</em>, dan lain-lain. Alaamaakk.. anak usia SD yang paling banter umurnya 10 hingga 12 tahun itu sudah pandai menyanyikan lagu-lagu cinta. Anak-anak itu menyanyi dengan pedenya dan penuh penghayatan dan tanpa merasa risih mereka melantunkan bait-bait lagu tentang kekasih. Penonton di studio juga anak-anak dan orangtua peserta yang mendampingi.</p>
<p>Entah apa yang di dalam benak produser acara itu ya. Sama sekali mereka tidak memikirkan aspek pendidikan pada program acara yang mereka buat. Aspek komersil tampaknya lebih dikedepankan ketimbang unsur pendidikan. Yang penting bagaimana acara itu laku, penontonnya banyak, pesertanya membludak, dan iklan yang masuk antri berbaris. </p>
<p>Itu baru satu contoh saja. Suatu kali ketika saya meminjam CD film di sebuah rental untuk diputar di rumah dan nonton bareng keluarga, saya perhatikan di rental itu ada beberapa anak SD sedang memilih film-film Indonesia yang notabene film orang dewasa namun berkedok film komedi atau horor. Film-film sampah itu sebenarnya film yang tidak jauh-jauh dari seks namun supaya tidak dianggap film porno maka dibungkus dengan cerita komedi. Saya tidak bisa membayangkan anak-anak itu memutar CD film itu di rumah, apakah dengan pengawasan orangtua atau menonton secara sembunyi-sembunyi.</p>
<p>Lain waktu ketika saya sedang berada di dalam warnet dekat rumah, saya melihat anak-anak masih berpakaian SD asik mengakses internet. Anak-anak seusia itu tampaknya sudah keranjingan internet. Dengan sewa internet yang murah, hanya Rp 2.500 per jam, mereka bebas  menyewa internet di warnet-warnet yang sekarang menjamur. Okelah kalau menggunakan internet untuk mencari bahan tugas sekolah atau sekadar main <em>game online</em>, tapi kalau mereka sembunyi-sembunyi mengakses situs pornografi bagaimana? Pengelola warnet sih tidak mau tahu apa yang diakses oleh anak-anak itu, yang mereka pikirkan bagaimana pengunjung warnetnya ramai dan dapat keuntungan besar. Soal moral atau budi pekerti itu bukan urusan mereka.</p>
<p>Maka, saya tidak heran jika anak-anak sekarang cepat sekali &#8220;matang&#8221;. Kecil-kecil tapi sudah paham bicara soal cinta, apalagi soal (maaf) seks. Pengaruh dari lingkungan luar sangat besar membuat anak-anak itu cepat dewasa sebelum waktunya. Jangan heran kalau usia pubertas anak-anak sekarang sudah makin maju saja. Masih SD tapi sudah haid, atau masih SD tapi sudah &#8220;mimpi basah&#8221;. Cerita tentang anak SD memperkosa temannya sudah sering kita dengar. Cerita tentang anak SD tapi sudah pintar soal <em>love </em>juga sudah tidak aneh lagi. Itulah dunia anak-anak sekarang, wajah <em>sih </em>polos imut-imut tapi pengetahuan mereka tentang masalah orang dewasa bikin kita tersenyum pahit.       </p>
<p>Maka, kunci untuk fenomena di atas ada [pada pendidikan di dalam keluarga. Pendidikan di dalam keluarga sangat penting untuk mencegah anak-anak itu cepat matang sebelum waktunya atau mencegah mereka melakukan tindakan yang belum pantas untuk seumur dia. Kendalikan pesawat TV dan media &#8212; termasuk internet &#8212; di rumah, karena dari TV lah pangkal semua persoalan ini. Orangtua jangan sibuk terus sehingga mereka lepas pengawasan terhadap pergaulan anak-anaknya. Selain itu, penanaman didikan agama sejak dini merupakan wahana untuk membentengi anak-anak dari serbuan budaya global yang bersifat merusak.  </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/2038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/2038/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/2038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/2038/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/2038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/2038/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/2038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/2038/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/2038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/2038/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=2038&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2010/01/04/ketika-anak-anak-sudah-bicara-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pencuri Helm di dalam Kampus</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/30/pencuri-helm-di-dalam-kampus/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/30/pencuri-helm-di-dalam-kampus/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 05:11:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seputar ITB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=2033</guid>
		<description><![CDATA[Kalau anda datang ke kampus ITB, jangan heran kalau melihat ada mahasiswa yang membawa-bawa helm masuk ke dalam ruangan kelas, atau masuk ke dalam lab. Mereka membawa helm bukan karena khawatir helmnya &#8220;dibom&#8221; oleh burung-burung koak yang berada di atas pohon-pohon yang menaungi lapangan parkir, tetapi karena khawatir helm tersebut dicuri di tempat parkir motor. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=2033&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kalau anda datang ke kampus ITB, jangan heran kalau melihat ada mahasiswa yang membawa-bawa helm masuk ke dalam ruangan kelas, atau masuk ke dalam lab. Mereka membawa helm bukan karena khawatir helmnya &#8220;dibom&#8221; oleh burung-burung koak yang berada di atas pohon-pohon yang menaungi lapangan parkir, tetapi karena khawatir helm tersebut dicuri di tempat parkir motor. Sudah sangat sering kejadian helm hilang di tempat parkir motor di dalam kampus. Helm ditaruh di atas sadel atau di atas kaca spion, ketika mau pulang eh.. helm sudah tidak ada lagi. Meskipun helm dikaitkan di bawah sadel, pencuri tetap lebih pintar, mereka memotong talinya!</p>
<p>Saya sendiri sudah 3 kali kehilangan helm, benar-benar mengesalkan. Harga helm itu 100 ribu ke atas. Pencuri tahu benar mana helm yang bagus, buktinya helm butut atau yang sudah jelek ogah disentuhnya. Akhirnya saya kapok pakai helm bagus, beli helm yang murah saja. Saya tidak habis pikir, dijual kemana ya helm itu? Apakah ada tempat penjualan helm bekas?   </p>
<p>ITB adalah kampus yang terbuka, siapa saja bebas masuk ke dalam kampus. Satpam di pintu gerbang tidak bisa membedakan apakah orang yang masuk itu mahasiswa atau pencuri. Pencuri bisa berlagak seperti mahasiswa. Dengan menyamar seperti mahasiswa, yaitu memakai tas ransel dan berjaket, maka mereka tidak bisa dibedakan dengan mahasiswa yang &#8220;asli&#8221;. Mereka berbaur dengan mahaisiswa lainnya, sembari matanya melarak-lirik barang apa yang bisa diambil. Tas ransel di punggung adalah modal utama untuk menyembunyikan barang curian.</p>
<p>Selain helm, barang yang sering dicuri di dalam kampus adalah komputer laptop. Laptop sekarang ukurannya makin mini dan ini kesempatan emas bagi pencuri untuk menyikatnya. Pemilik laptop mana tahu orang disekelilingnya pencuri atau bukan, sebab gayanya sama seperti mahasiswa lainnya. Lengah saja sedikit, laptop bisa raib. Rekan senior saya pernah mengalami kehilangan barang, ketika dia keluar ruangan sebentar karena mau ke toilet, ketika kembali ternyata tas laptop dan isinya sudah disikat maling. Malingnya pintar membaca situasi. LabTek V tempat Prodi kami berada termasuk gedung yang ramai dengan hilir mudik mahasiswa dan orang lain entah siapa (tamu, karyawan, termasuk pencuri yang menyamar). Jadi, kalau ada orang yang masuk ke dalam lab, kami tidak tahu itu mahasiswa kami atau bukan, apalagi sekarang mahasiswa IF makin <em>crowded</em>, ditambah lagi mahasiswa Prodi STI, jadi tambah susah untuk mengenali orang-orang yang lalu lalang di sini. </p>
<p>Pencuri bisa juga kena batunya. Suatu kali di Lab Mesin seorang dosen memergoki orang berpenampilan mahasiswa memasukkan LCD proyektor (Infocus) ke dalam tas ranselnya. Ketika ditanya barang siapa itu, dia gelagapan dan ini menambah kecurigaan. Setelah diinterogasi, benar ternyata dia pencuri dan LCD proyektor itu adalah barang milik Lab. Tanpa ampun &#8212; seperti di banyak tempat di Indonesia &#8212; &#8220;pengadilan jalanan&#8221; pun berlaku juga di ITB. Pencuri itu dihakimi massa sampai babak belur dan berdarah. Tragisnya lagi, dalam keadaan berdarah-darah dia difoto dan fotonya disebar lewat milis (saya tidak berhasil mendapatkan fotonya).     </p>
<p>Bagaimana dengan sepeda motor, apakah sering hilang di ITB? Oo, kalau barang yang satu ini tampaknya setiap minggu ada saja motor yang raib. Meskipun motor sudah dikunci ganda tetap saja bisa hilang. Hmm&#8230; apakah pencuri menggunakan mobil boks untuk mengangkut motor yang terkunci itu? Jangan terlalu berharap pada Satpam di pintu gerbang kampus, mereka tidak selalu memeriksa STNK kendaraan yang mau keluar. Kalau saja prosedur pemeriksaan STNK itu selalu dilakukan secara konsisten, saya yakin pencuri yang melarikan motor atau mobil orang pasti ketahuan karena tidak memiliki STNK.</p>
<p>Siapakah pencuri itu, apakah &#8220;orang dalam&#8221; atau orang luar? Segala kemungkinan bisa saja terjadi, pelakunya bisa siapa saja. Yang penting selalu waspada dengan properti kita masing-masing. Harap diingat ITB kampus yang kurang aman. Musang bisa saja berbulu domba atau berbulu ayam. Kehilangan barang sangat menjengkellan, apalagi kalau barang itu sangat penting seperti komputer laptop yang berisi data penting dan hasil-hasil pekerjaan.  </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/2033/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/2033/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/2033/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/2033/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/2033/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/2033/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/2033/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/2033/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/2033/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/2033/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=2033&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/30/pencuri-helm-di-dalam-kampus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cara Memeriksa Ujian yang Baik</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/29/cara-memeriksa-ujian-yang-baik/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/29/cara-memeriksa-ujian-yang-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 05:44:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalamanku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=2030</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini masih berkaitan dengan tulisan sebelum ini. Memeriksa ujian itu susah-susah gampang. Yang paling menyenangkan adalah memeriksa ujian pilihan berganda, sebab sangat cepat memeriksanya, namun perlu waktu yang lama untuk membuat soalnya. Tapi, mana ada sih di ITB soal ujian dalam bentuk pilihan ganda? Sama sekali tidak mengasah kemampuan analisis mahasiswa. Kebanyakan soal ujian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=2030&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tulisan ini masih berkaitan dengan tulisan sebelum ini. Memeriksa ujian itu susah-susah gampang. Yang paling menyenangkan adalah memeriksa ujian pilihan berganda, sebab sangat cepat memeriksanya, namun perlu waktu yang lama untuk membuat soalnya. Tapi, mana ada <em>sih </em>di ITB soal ujian dalam bentuk pilihan ganda? Sama sekali tidak mengasah kemampuan analisis mahasiswa. Kebanyakan soal ujian dibuat dalam bentuk esai dan jawaban untuk soal itu bersifat terbuka. Jawaban akhir mungkin salah, tapi kalau prosesnya (jalannya) benar maka tetap ada nilai, tidak nol sama sekali. Namun, memeriksa ujian tipe ini cukup melelahkan, karena dosen harus memeriksa dengan runtut jalan pikiran mahasiswa. Membuat soalnya juga cukup sulit sebab harus mengkombinasikan soal yang mudah dan soal yang sukar serta perkiraan waktu mengerjakannya.</p>
<p>Nah, pertanyaannya, apakah berkas ujian diperiksa per mahasiswa atau per soal? Jika per mahasiswa maka seluruh jawaban soal mulai dari nomor 1 sampai nomor terakhir diperiksa tuntas sebelum memeriksa lembar jawaban mahasiswa berikutnya. Kalau per soal, maka jawaban soal nomor yang sama diperiksa untuk setiap berkas ujian mahasiswa. Dengan cara yang terakhir ini, maka periksa jawaban nomor 1 pada berkas ujian mahasiswa kesatu, lalu ulangi (<em>looping</em>) memeriksa soal nomor 1 pada berkas ujian mahasiswa kedua, ketiga, keempat, begitu seterusnya. Setelah soal nomor 1 untuk seluruh berkas jawaban diperiksa, maka mulai memeriksa jawaban nomor 2 dari berkas ujian kesatu, kedua, dan seterusnya.    </p>
<p>Cara memerika mana yang baik? Dosen senior yang banyak saya teladani dalam hal cara pengajaran maupun kesederhanaannya, yaitu Pak Harsono yang merupakan <em>founder </em>IF ITB &#8212; sekarang sudah pensiun &#8212; mengatakan cara yang baik adalah cara yang kedua itu, yaitu memeriksa per soal untuk seluruh berkas jawaban. Cara ini menjamin konsistensi dalam penilaian sehingga nilai jawaban dapat diberikan seragam dan fair. </p>
<p>Jika cara kesatu digunakan, yaitu memeriksa tuntas setiap berkas jawaban, maka ada kemungkinan nilai yang diberikan untuk jawaban yang mirip-mirip pada dua orang mahasiswa atau lebih bisa berbeda. Katakanlah ketika memeriksa jawaban nomor 1 untuk berkas seorang mahasiswa ternyata ada kesalahan lalu diberi nilai 8, terus karena keasikan menilai dan ketika menginjak pada berkas ke berapa ternyata ada jawaban mahasiswa lain yang jalannya agak mirip tetapi juga salah lalu diberi nilai 5 (dosen lupa tadi pada mahasiswa sebelumnya diberi nilai berapa ya?). Meskipun perbedaan nilai itu kecil, tetapi pengaruhnya sangat berarti khususnya pada kasus nilai-nilai di &#8220;perbatasan&#8221;. Hal-hal kecil membentuk kesempurnaan, tetapi kesempurnaan bukanlah hal yang kecil, kata filusuf Michaelangelo.  Biasanya mahasiswa melakukan komplain perbedaan nilai ini ketika berkas ujian dibagikan (yang namanya mahasiswa kan suka membanding-bandingkan nilainya dengan nilai temannya). </p>
<p>Saya sendiri masih campur aduk menggunakan cara memeriksa ujian, kadang-kadang pakai cara pertama, kadang-kadang pakai cara kedua, tergantung yang lebih merasa nyaman yang mana. Maka, kalau kalian dulu pernah melakukan komplain perbedaan nilai yang kecil itu padahal jalannya sama dengan punya temannya, berarti saya memeriksa ujian  pakai cara pertama yang lupa-lupa ingat itu (kayak judul lagu saja).  </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/2030/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/2030/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/2030/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/2030/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/2030/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/2030/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/2030/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/2030/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/2030/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/2030/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=2030&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/29/cara-memeriksa-ujian-yang-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tidak Bisa Memeriksa Berkas Ujian di Rumah</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/28/tidak-bisa-memeriksa-berkas-ujian-di-rumah/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/28/tidak-bisa-memeriksa-berkas-ujian-di-rumah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 05:14:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalamanku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=2022</guid>
		<description><![CDATA[Setiap akhir semester, pekerjaan yang menyita waktu dan pikiran adalah memeriksa berkas ujian mahasiswa dan menghitung nilai akhir. Semester ini saya mengajar 2 mata kuliah dengan rata-rata setiap kuliah diikuti lebih dari 100 orang, total mahasiswa untuk kedua kuliah itu kira-kira 225 orang. Jadi, pada UAS ini saya mendapat pekerjaan memeriksa 225 lembar jawaban ujian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=2022&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Setiap akhir semester, pekerjaan yang menyita waktu dan pikiran adalah memeriksa berkas ujian mahasiswa dan menghitung nilai akhir. Semester ini saya mengajar 2 mata kuliah dengan rata-rata setiap kuliah diikuti lebih dari 100 orang, total mahasiswa untuk kedua kuliah itu kira-kira 225 orang. Jadi, pada UAS ini saya mendapat pekerjaan memeriksa 225 lembar jawaban ujian mahasiswa. <em>Kebayang </em><em>nggak sih</em> betapa repotnya memeriksa berkas ujian sebanyak itu, apalagi ujiannya dalam bentuk esai alias menjawab secara terbuka (bukan pilihan ganda). Setiap ujian rata-rata jumlah soalnya 6 hingga 8 buah. Wuih&#8230;.</p>
<p>Ini rutinitas setiap tengah semester dan akhir semester. Memeriksa berkas jawaban sebanyak itu harus dilakoni dengan senang hati karena mahasiswa menunggu-nunggu nilainya sementara ITB menuntut setoran nilai &#8220;segera&#8221;. Memeriksa berkas jawaban itu sebenarnya menjemukan, sebab kita harus mengulang-ulang pekerjaan yang sama secara terus menerus. Untuk setiap berkas jawaban kita harus memeriksa jawaban setiap soal, memberi komentar kalau ada kesalahan, lalu memberi nilai. Hal yang sama diulang lagi pada berkas jawaban berikutnya. Begitu seterusnya hingga semua berkas telah selesai diperiksa.</p>
<p>Melelahkan? Ya, jelas. Karena itu memeriksa berkas ujian sangat sulit saya selesaikan dalam waktu satu hari. Baru beberapa berkas yang saya periksa, eh sudah terasa jenuh, ya sudah saya <em>refreshing </em>dulu, baca-baca berita dulu di Internet, ngobrol dulu dengan rekan kolega, atau keluar mencari &#8220;angin segar&#8221;. Balik lagi ke meja kerja, kerjakan lagi beberapa berkas. Kadang-kadang ketika memeriksa lembar jawaban itu ada interupsi, misalnya ada mahasiswa yang datang untuk konsultasi macam-macam, menerima kunjungan, tamu, dan lain-lain. Kira-kira butuh beberapa hari baru selesai <em>tuh </em>memeriksa semua lembar jawaban mahasiswa itu. </p>
<p>Kalau sudah begitu, maka di dalam pikiran ini terlintas rencana memeriksa berkas ujian di rumah. Di rumah &#8216;kan bisa lebih tenang. Saya bawa pulang <em>tuh </em>tumpukan berkas ujian yang tingginya mungkin 20 cm. Selesai? Ternyata tidak. Di rumah berkas ujian itu tidak bisa diapa-apakan. Anak-anak juga menuntut perhatian pulang ketika ayahnya pulang dari kantor. Okelah, malam saja dikerjakan setelah anak-anak tidur. Bisa? Tidak juga, saya udah <em>ngantuk </em>berat. Berhari-hari berkas ujian itu tergelatak di rumah tanpa diapa-apakan. Akhirnya berkas ujian itu saya bawa lagi ke kampus. Dikerjakan di kantor saja, tidak apalah perlu beberapa hari. Benar juga kata teman saya, kalau sudah tiba di rumah maka waktu di rumah itu adalah hak untuk anak dan istri, sementara hak kita sendiri adalah waktu di kantor. Jangan ambil hak anak itu, meskipun hanya beberapa jam saja.</p>
<p>Makanya, saya heran ada orang yang sepulang dari kantor bukannya istirahat bersama keluarga, tetapi malah meneruskan pekerjaan kantornya yang terbengkalai. Memang dia bisa menyelesaikan pekerjaan kantornya di rumah, tetapi kasihan <em>deh </em>keluarganya, hak mereka telah terampas oleh keegoisan (salah satu) orangtuanya.  </p>
<p>Kembali ke masalah memeriksa lembar ujian tadi. Ada yang bilang kepada saya, kenapa <em>nggak </em>diserahkan ke asisten saja untuk memeriksa berkas ujian itu? <em>No</em>, kata saya. UTS dan UAS adalah <em>previledge </em>dosen. Asisten di Prodi kami adalah mahasiswa tingkat atas atau mahasiswa pasca sarjana. Mereka kan juga punya kesibukan kuliah dan kesibukan pribadi, kasihan mereka jika diserahi beban berlebih. Mereka cukup membantu dalam asistensi tugas kuliah dan kuis saja, tetapi untuk UTS dan UAS itu adalah urusan kami, dosen penanggung jawab mata kuliah. Lagipula, ada perbedaan cara menilai oleh asisten maupun oleh dosen. Asisten belum berpengalaman dalam memberikan nilai, tidak seperti dosen yang punya pengalaman panjang dalam memberikan ujian, maka waktu yang panjang itu telah memberikan nilai-nilai kearifan dalam memeriksa jawaban dan memberi nilai. Sebenarnya ada beberapa alasan lagi kenapa ujian tidak diserahkan kepada asisten. Namun, alasan yang paling atas dari semua itu adalah soal tanggung jawab moral.  </p>
<p>Memang ada segelintir dosen yang super sibuk &#8212; entah karena banyak proyek atau banyak jabatan di luar &#8212; sehingga tidak punya waktu untuk membuat soal ujian apalagi memeriksa lembar jawaban. Dia mendelegasikan tugasnya itu kepada asistennya. Asisten yang membuat soal dan asisten pula yang memeriksa dan memberikan nilai. Malah sang asisten seringkali terlihat menggantikan dosen mengajar karena kesibukan tadi. Sang dosen sibuk itu tinggal menerima hasil bersih saja (termasuk menerima honor mengajar, he..he). Menurut saya ini sikap yang sangat tidak benar, dosen semacam itu sebaiknya dibebastugaskan saja sementara waktu untuk mengampu kuliah sampai dia punya waktu dan dedikasi untuk melaksanakan kewajiban kuliah yang diampunya itu.     </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/2022/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/2022/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/2022/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/2022/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/2022/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/2022/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/2022/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/2022/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/2022/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/2022/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=2022&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/28/tidak-bisa-memeriksa-berkas-ujian-di-rumah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hari Bapak</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/23/hari-bapak/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/23/hari-bapak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 09:38:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalamanku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=2016</guid>
		<description><![CDATA[Kalau tanggal 22 Desember kemarin Hari Ibu, maka apakah ada Hari Bapak atau Hari Ayah? Setiap hari sepertinya Hari Bapak atau Hari Ayah, karena bagi keluarga-keluarga di Dunia Timur peran bapak dalam keluarga begitu dihormati. Dialah tulang punggung keluarga, yang setiap hari membanting badan untuk mencari nafkah untuk menghidupi anak dan istrinya. Karena perannya yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=2016&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kalau tanggal 22 Desember kemarin Hari Ibu, maka apakah ada Hari Bapak atau Hari Ayah? Setiap hari sepertinya Hari Bapak atau Hari Ayah, karena bagi keluarga-keluarga di Dunia Timur peran bapak dalam keluarga begitu dihormati. Dialah tulang punggung keluarga, yang setiap hari membanting badan untuk mencari nafkah untuk menghidupi anak dan istrinya. Karena perannya yang vital itu, wajarlah jika si bapak mendapat pelayanan istimewa di rumah, baik dari istri mapun dari anaknya. Pulang dari kerja sudah disiapkan air hangat untuk mandi, kalau makan didahulukan, kalau pergi atau pulang diciumi tangannya. Tradisi seperti itu masih ada hingga sekarang. Itulah bakti istri kepada suaminya, bakti anak kepada orangtua. </p>
<p>Meskipun di zaman modern ini istri juga bekerja, namun hukumnya tidak wajib. Istri bekerja mungkin  untuk meringankan beban suami atau bekerja untuk mengisi waktu karena tidak biasa diam di rumah. Meskipun istri juga bekerja, namun kepala keluarga tetaplah si bapak. Bagi penggiat kesetaraan gender, mereka mungkin tidak suka dengan perlakuan pengistimewaan laki-laki semacam itu. Entahlah.      </p>
<p>Meskipun tugas utama bapak adalah &#8220;berjuang&#8221; di luar rumah, namun jangan dikira pengasuhan anak hanya tugas domestik ibu semata. Banyak bapak di zaman modern sekarang mempunyai kepedulian yang tinggi untuk ikut turun tangan pengasuhan anak. Di jalan-jalan atau di tempat umum kita sering melihat bapak yang menyuapi anaknya makan atau menggendong anak dengan kain gendongan di dada. Tidak perlu merasa malu atau sungkan, sebab itu anak mereka sendiri. Tidak pula merasa takut menjadi &#8220;feminin&#8221; karena mengerjakan pekerjaaan yang dulu dianggap sebagai pekerjaan perempuan. Kasih bapak kepada anaknya tidak kalah besar dengan kasih ibu. </p>
<p>Masa-masa ketika anak masih bayi hingga berumur 3 tahun adalah masa yang indah. Menimang-nimang, mengajak bermain, menidurkan sambil berdendang, menyuapi makan, memandikan, dan masih banyak lagi. Itulah kenangan masa kecil anak yang tidak pernah hilang dalam memori ayah dan bunda.</p>
<p>Tadi, ketika mencari video di <em>YouTube</em>, saya menemukan cuplikan film lama dari Malaysia. Ada adegan aktor P. Ramlee yang menidurkan anak dengan lagu yang berjudul <em>Anakku Sazali</em>. Sungguh menyentuh sekali adegan itu. Klik <a href="http://www.youtube.com/watch?v=2iAcTSmwJv8&amp;feature=related">videonya di YouTube ini</a>. Entah kenapa hari-hari ini saya begitu suka dengan lagu-lagu pengantar tidur <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Berikut syair lengkapnya:</p>
<p><em>Anakku Sazali dengarlah<br />
lagu yang ayahnda karangi<br />
sifatkan laguku hai anak<br />
sebagai sahabatmu nanti</p>
<p>Anakku Sazali juwita<br />
laguku jadikan pelita<br />
penerang di gelap gulita<br />
pemandu ke puncak bahagia</p>
<p>Andaikan kami t&#8217;lah kembali<br />
menyambut panggilan ilahi<br />
laguku biarlah ganti<br />
di jiwamu hidup abadi<br />
penerang imanmu sejati<br />
pemandumu wahai Sazali.  </em></p>
<p>Selamat Hari Bapak, selamat mengasuh anak bagi bapak-bapak dan calon bapak. </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/2016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/2016/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/2016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/2016/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/2016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/2016/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/2016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/2016/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/2016/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/2016/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=2016&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/23/hari-bapak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Terkenang Lagu &#8220;Timang-Timang&#8221; Said Effendi</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/22/terkenang-lagu-timang-timang-said-effendi/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/22/terkenang-lagu-timang-timang-said-effendi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 03:47:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalamanku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=2005</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, 22 Desember 2009, adalah Hari Ibu. Setiap tanggal 22 Desember, kita selalu mengenang setiap perempuan yang telah melahirkan anak-anak, itulah ibu kita dan istri kita. Apa jadinya dunia ini tanpa anak-anak, karena anak-anaklah yang menghiasi dunia dengan derai gelak tawa mereka.   
Anak saya yang paling bungsu, Fajar, 3 tahun, setiap hendak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=2005&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Hari ini, 22 Desember 2009, adalah Hari Ibu. Setiap tanggal 22 Desember, kita selalu mengenang setiap perempuan yang telah melahirkan anak-anak, itulah ibu kita dan istri kita. Apa jadinya dunia ini tanpa anak-anak, karena anak-anaklah yang menghiasi dunia dengan derai gelak tawa mereka.   </p>
<p>Anak saya yang paling bungsu, Fajar, 3 tahun, setiap hendak mau tidur selalu minta dinyanyikan lagu <em>Timang-Timang</em>. Sejak anak-anak masih bayi, saya memang selalu mendendangkan lagu itu sebagai <a href="http://rinaldimunir.wordpress.com/2007/07/20/lagu-pengantar-tidur/">pengantar tidur</a>. Entah kenapa, setiap mendengarkan lagu Timang-Timang itu, atau setiap kali menyanyikannya mata saya selalu basah. Tak kuasa menahan air mata. Lagu Melayu lama karya Said Effendi itu lirik dan iramanya betul-betul sangat menyentuh. Mata saya jadi basah karena dua hal. Pertama, terkenang dengan pengasuhan ayah-bunda ketika saya masih kecil. Kata ibu saya, ayah saya suka berdendang ketika menidurkan anaknya. Kedua, sekarang setelah mempunyai anak sendiri, gantian saya yang menidurkan anak dengan menyanikan lagu itu hingga sang anak tertidur lelap.</p>
<p>Kemaren saya cari-cari lagu ini di Internet, ketemu videonya di <em>YouTube</em>. Jika pembaca belum pernah mendengar lagu ini, klik video di bawah ini atau langsung <a href="http://www.youtube.com/watch?v=6VLMQCb9mxI&amp;feature=player_embedded#">klik pranala di YouTube </a>ini. Lagu Timang-Timang ini dinyanyikan oleh Koes Hendratmo. Lagu Timang-timang memang lebih pas dinyanyikan oleh suara pria dengan jenis suara agak berat diiringi dengan gesekan biola. Sebenarnya Koes Hendratmo belum begitu bagus menyanyikannya, tapi yaa.. lumayanlah <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p><span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/22/terkenang-lagu-timang-timang-said-effendi/"><img src="http://img.youtube.com/vi/6VLMQCb9mxI/2.jpg" alt="" /></a></span></p>
<p>Berikut lirik lagu Timang-Timang itu:</p>
<p><em>Timang-timang anakku sayang<br />
Buah hati ayahnda seorang<br />
Jangan nangis dan jangan merajuk sayang<br />
Tenanglah tenang dalam buaian</p>
<p>Betapakah hati tak kan riang<br />
Bila kau bergurau dan tertawa<br />
S’mogalah jauh dari marabahaya<br />
Riang gembira sepanjang masa</p>
<p>Ref:<br />
Setiap waktu ku berdoa<br />
K’pada Tuhan yang Maha Kuasa<br />
Jika kau sudah dewasa<br />
Hidupmu bahagia selamanya</p>
<p>Timang-timang anakku sayang<br />
Kasih hati permata ibunda<br />
Tidurlah tidur pejamkan mata sayang<br />
Esok hari bermain kembali</em></p>
<p>Seorang mahasiswa saya yang sekarang sudah menjadi ayah berbagi pengalaman. Pernah pada suatu acara renungan pelatihan yang diikutinya, diputar lagu Timang-Timang ini. Biasanya dia susah menangis, tapi ketika diputar lagu ini, baru beberapa detik saja langsung nangis, dan tidak berhenti sampai lagu selesai. Cengeng ya, katanya. Ah tidak, kata saya, memang lagunya sangat menyentuh kalbu, jadi wajar saja jika begitu terharu.</p>
<p>Bagi para ayah bunda yang mempunyai anak yang masih kecil-kecil atau bagi calon ayah dan ibu, selamat menikmati lagu yang menyentuh ini. Selamat Hari Ibu.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/2005/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/2005/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/2005/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/2005/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/2005/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/2005/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/2005/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/2005/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/2005/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/2005/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=2005&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/22/terkenang-lagu-timang-timang-said-effendi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img.youtube.com/vi/6VLMQCb9mxI/2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tidak Pernah Puas Menipu via Ponsel</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/15/tidak-kapok-kapok-menipu-via-ponsel/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/15/tidak-kapok-kapok-menipu-via-ponsel/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 05:26:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gado-gado]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=2003</guid>
		<description><![CDATA[Rekan saya, dosen &#8220;tetangga sebelah&#8221;, bercerita lewat email, dia baru saja mendapat telpon dari orang yang mengaku dari Kopertis IV. Kata orang itu, rekan saya diminta menelpon Ketua Kopertis IV. Dia memberi nomor HP Ketua Kopertis. Setelah nomor tersebut dihubungi, Ketua Kopertis mengatakan vahwa rekan saya itu mendapat undangan khusus dari Dirjen DIKTI untuk menghadiri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=2003&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Rekan saya, dosen &#8220;tetangga sebelah&#8221;, bercerita lewat email, dia baru saja mendapat telpon dari orang yang mengaku dari Kopertis IV. Kata orang itu, rekan saya diminta menelpon Ketua Kopertis IV. Dia memberi nomor HP Ketua Kopertis. Setelah nomor tersebut dihubungi, Ketua Kopertis mengatakan vahwa rekan saya itu mendapat undangan khusus dari Dirjen DIKTI untuk menghadiri seminar di Bali. Ketua Kopertis bermaksud mentransfer uang 10 juta sebagai biaya akomodasi, dan Ketua Kopertis meminta nomor ATM (nomor rekening) rekan saya itu. Katanya uang akan segera ditransfer via ATM.</p>
<p>Dari sini rekan saya itu mulai curiga, kok &#8220;Ketua Kopertis&#8221; mengurusi transfer uang via ATM? Kalau memang betul Ketua Kopertis, kan urusan itu biasannya diserahkan kepada stafnya saja? Dari suara saja sudah mencurigakan (kebetulan rekan saya itu kenal dengan Ketua Kopertis IV). Akhirnya rekan saya tadi  langsung bilang begini: bapak penipu ya? dan telpon ditutup oleh si penipu. Tipu-tipunya ketahuan. </p>
<p>Mudah ditebak, setelah nomor rekening diperoleh, maka korban diminta pergi ke ATM untuk memastikan bahwa uang sudah masuk ke dalam rekeningnya. Nah, di dalam ATM korban akan dipandu via ponsel untuk memijit nomor-nomor tertentu. Seperti dihipnotis korban menurut saja perintah si penipu. Akhirnya, bukan saldonya yang bertambah, tetapi uangnya malah dikuras habis masuk ke rekening si penipu.</p>
<p>Sebenarnya rekan saya tadi ingin mengikuti sejauh mana proses penipuan itu berlangsung, tetapi karena dia ada janji dengan seseorang maka dia menghentikan proses itu dengan mengatakan bapak ketua Kopertis itu penipu.</p>
<p>Model tipu-tipu semacam ini sudah banyak. Jika calon korbannya dosen atau guru, maka motif biasanya adalah undangan menghadiri seminar di Bali. Penipu mengaku dari Dirjen DIKTI atau Ketua Kopertis. Ada yang meminta uang muka untuk biaya seminar dengan dalih nanti uangnya akan diganti dan ditambah dengan <em>lumpsum </em>di tempat seminar, ada pula yang menjanjikan akan mentransfer uang akomodasi via ATM seperti cerita di atas.  </p>
<p>Tipu-tipu via ponsel ini sudah banyak memakan korban. Korbannya bukan orang awam saja, tetapi orang berpendidikan tinggi pun tidak terhitung menjadi korban. Dua bulan lalu rekan saya satu lab juga habis dikuras uangnya oleh penipu. Rekan saya itu ditelpon oleh seseorang bahwa dia memenangkan hadiah dari operator kartu prabayar. Untuk itu dia diminta pergi ke ATM sebab uang akan ditransfer via ATM. Seperti cerita di atas, dia dipandu via ponsel di ATM. Bukannya untung yang didapat, tetapi buntung. Uangnya habis, bis, bis, &#8230; masuk ke rekening penipu.</p>
<p>Saya mengamati bahwa pelaku penipuan ini biasanya suatu sindikat yang terdiri dari banyak orang. Ada orang yang bertugas menghubungi calon korban dengan mengaku dari perusahaan ini, perusahaan itu, pejabat ini, pejabat itu. Lalu, orang kedua (biasanya wanita) yang bertugas memandu calon korban via ponsel di bilik ATM. Terakhir orang ketiga yang bertugas melayani komplain dari calon korban yang merasa sudah ditipu.</p>
<p>Menariknya, biasanya korban yang tidak sadar telah mentransfer uang ke rekening penipu merasa dirinya seolah-olah dihipnotis oleh suara orang di seberang telepon. Korban menurut saja apa yang diperintahkan si penipu. Tekan nomor ini, tekan nomor itu, lalu enter  untuk melihat bahwa uang sudah masuk, padahal sebenarnya yang terjadi si korban sedang memijit nomor-nomor untuk mentransfer uang. Hmmm&#8230; mungkinkah hipnotis bisa melalui perangkat elektronik? Melalui suara di seberang sana? Sulit dipercaya namun nyata.</p>
<p>Kalau saya perhatikan, korban yang merasa dihipnotis oleh penipu itu biasanya sedang tidak stabil pikirannya dalam satu dua hari sebelum ditipu. Seperti rekan saya yang berhasil dibobol rekeningnya itu, sehari sebelumnya dia baru saja melunasi pembayaran biaya pendidikan anaknya yang mencapai ratusan juta (biaya pendidikan dokter spesialis). Dia melakukan pembayaran melalui bank. Saya rasa setiap orang yang baru saja melakukan pembayaran dalam jumlah yang besar pasti akan kepikiran terus mengenai uang tadi, begitu besar jumlahnya, yang beberapa jam lalu masih menjadi miliknya, sekarang harus dilepas demi kebutuhan lain yang mendesak. Nah, orang yang linglung seperti ini biasanya sasaran empuk  sindikat penipu.</p>
<p>Masalahnya, darimana penipu mengetahui nomor  ponsel calon korban? Darimana dia tahu calon korban lagi tidak stabil kejiwaannya? Apakah sindikat penipu itu mengamati orang-orang (nasabah) di bank?  Jangan-jangan oknum karyawan bank atau oknum operator selular ada yang menjadi anggota sindikat penipuan? Jangan-jangan&#8230;. (ah, terlalu banyak sekali rasa curiga, tapi mau bagaimana lagi ya, korban selalu berjatuhan, dan pelaku sulit ditangkap).</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/2003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/2003/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/2003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/2003/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/2003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/2003/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/2003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/2003/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/2003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/2003/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=2003&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/15/tidak-kapok-kapok-menipu-via-ponsel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Foto-foto Bandung Tempo Doeloe</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/10/foto-foto-bandung-tempo-doeloe/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/10/foto-foto-bandung-tempo-doeloe/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 07:10:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seputar Bandung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=1988</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Oktober dan November yang lalu di Bandung diadakan festival komunitas kreatif yang bernama Helarfest (baca kegiatan ini di sini). Nah, panitia Helarfest memajang foto-foto Bandung tempo doeloe seukuran papan billboard. Foto-foto itu dipajang pada tiang penyangga jalan layang Pasupati di sepanjang jalan Cikapayang. Pengendara yang melewati jalan di bawah jembatan layang ini tentu dapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1988&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bulan Oktober dan November yang lalu di Bandung diadakan festival komunitas kreatif yang bernama Helarfest (baca kegiatan ini <a href="http://www.kompas.com/read/xml/2009/10/16/20473223/helarfest.2009.pesta.kreatif.warga.bandung..">di sini</a>). Nah, panitia Helarfest memajang foto-foto Bandung <em>tempo doeloe</em> seukuran papan <em>billboard</em>. Foto-foto itu dipajang pada tiang penyangga jalan layang Pasupati di sepanjang jalan Cikapayang. Pengendara yang melewati jalan di bawah jembatan layang ini tentu dapat menikmati forto-foto besar yang menampilkan kota Bandung pada awal abad 20. Hingga sekarang foto-foto besar itu masih dipajang.</p>
<p>Kemarin saya menyempatkan diri turun dari kendaraan dan memfoto foto-foto yang menarik itu sepanjang jalan Cikapayang. Sebagai penggemar foto, saya sangat suka mengabadikan hal-hal menarik yang saya lihat sepanjang perjalanan. Berikut hasil jepretan saya (dengan kamera ponsel). Klik foto untuk melihat lebih besar.</p>
<p>1. Foto perempatan jalan A.Yani dan Jalan Riau (Martadinata) pada tahun 1920.</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00944.jpg"><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00944.jpg?w=500&#038;h=375" alt="" title="DSC00944" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1989" /></a></p>
<p>2. Jalan Riau pada tahun 1917. </p>
<p><a href="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00954.jpg"><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00954.jpg?w=500&#038;h=375" alt="" title="DSC00954" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1990" /></a></p>
<p>3. Alun-alun Bandung pada tahun 1938.</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00949.jpg"><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00949.jpg?w=500&#038;h=375" alt="" title="DSC00949" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1999" /></a></p>
<p>4. Jalan Asia Afrika pada tahun 1920</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00946.jpg"><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00946.jpg?w=500&#038;h=375" alt="" title="DSC00946" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1992" /></a></p>
<p>5. Jalan Braga pada tahun 1911</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00945.jpg"><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00945.jpg?w=500&#038;h=375" alt="" title="DSC00945" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1993" /></a></p>
<p>6. Kampus ITB pada tahun 1920</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00948.jpg"><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00948.jpg?w=500&#038;h=375" alt="" title="DSC00948" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1994" /></a></p>
<p>7. Kologdom (markas militer) pada tahun 1923</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00951.jpg"><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00951.jpg?w=500&#038;h=375" alt="" title="DSC00951" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1995" /></a></p>
<p>8. Jalan antara Kopo dan Ciwidey pada tahun 1880</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00953.jpg"><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00953.jpg?w=500&#038;h=375" alt="" title="DSC00953" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1996" /></a></p>
<p>9. Masjid Agung dan alun-alun Bandung pada tahun 1890</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00955.jpg"><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00955.jpg?w=500&#038;h=375" alt="" title="DSC00955" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1997" /></a></p>
<p>10. Seputar GOR Saparua pada tahun 1930</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00952.jpg"><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00952.jpg?w=500&#038;h=375" alt="" title="DSC00952" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1998" /></a></p>
<p>11. Taman Balaikota pada tahun 1920</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00947.jpg"><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00947.jpg?w=500&#038;h=375" alt="" title="DSC00947" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-2000" /></a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/1988/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/1988/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/1988/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/1988/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/1988/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/1988/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/1988/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/1988/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/1988/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/1988/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1988&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/10/foto-foto-bandung-tempo-doeloe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00944.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00944</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00954.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00954</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00949.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00949</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00946.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00946</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00945.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00945</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00948.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00948</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00951.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00951</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00953.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00953</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00955.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00955</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00952.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00952</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/12/dsc00947.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00947</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Koin untuk Prita</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/09/koin-untuk-prita/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/09/koin-untuk-prita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 03:56:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiaku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=1982</guid>
		<description><![CDATA[Jika ada orang yang begitu sedih sekaligus bahagia pada hari-hari ini, salah satu orang itu adalah Prita. Prita &#8212; seorang ibu yang sedang berpolemik dengan Rumah Sakit Omni Internasional Jakarta gara-gara dia mem-posting email tentang pelayanan buruk rumah sakit itu &#8212; diancam denda Rp 204 juta dalam putusan perdata kasus pencemaran nama baik. 
Uang 204 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1982&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Jika ada orang yang begitu sedih sekaligus bahagia pada hari-hari ini, salah satu orang itu adalah Prita. Prita &#8212; seorang ibu yang sedang berpolemik dengan Rumah Sakit Omni Internasional Jakarta gara-gara dia mem-<em>posting </em>email tentang pelayanan buruk rumah sakit itu &#8212; diancam denda Rp 204 juta dalam putusan perdata kasus pencemaran nama baik. </p>
<p>Uang 204 juta bagi seorang karyawan biasa seperti Prita tentu sangat besar jumlahnya, belum tentu dia punya uang sebanyak itu, dan tentu saja dia tidak sanggup untuk membayarnya. Namun, masyarakat pun terusik dengan kasus ini, yang dianggap sebagai sebuah bentuk rasa ketidakadilan. Maka, entah siapa yang memulainya, tiba-tiba ada saja yang mempunyai ide untuk mengumpulkan koin uang receh untuk Prita. Gerakan yang dinamakan &#8220;koin untuk Prita&#8221; itu mengalir seperti air bah. Masyarakat &#8212; mulai dari anak-anak, remaja, orangtua, hingga pemulung &#8212; rela menyisihkan uangnya untuk mencukupi denda 204 juta itu (baca <a href="http://www.kompas.com/read/xml/2009/12/07/14191018/uang.itu.disisihkan.oleh.para.pemulung...">berita ini</a> dan <a href="http://www.kompas.com/read/xml/2009/12/07/15474065/celengan.koin.buat.prita.banyak.yang.unik">yang ini</a>). Gerakan mengumpulkan koin itu akan ditutup tanggal 14 Desember nanti, namun dipercaya jumlah yang terkumpul akan jauh lebih besar dari 204 juta, sebab para pengusaha, anggota dewan, dan anggota DPD, dan masih banyak lagi, ikut turun tangan memberi bantuan dalam jumlah puluhan juta. Pengusaha Fahmi Idris saja menyumbang 70 juta.</p>
<p>Nah, sekarang kasus ini sedang dibawa ke Mahkamah Agung karena Prita melakukan kasasi. Jika sangsi denda ini disetujui oleh MA, maka Prita tidak perlu resah sebab uang 204 juta bakal tersedia, bahkan lebih. Jika sangsi denda dibatalkan MA, maka uang yang terkumpul itu tetap akan diberikan kepada Prita.</p>
<p>Sebagian besar warga masyarakat yang menyumbang koin serta yang memberikan dukungan moral kepada Prita tidak kenal siapa itu Prita. Mereka hanya tahu dari media saja. Apa yang menyebabkan mereka mau memberikan uangnya untuk membantu Prita? Rasa ketidakadilanlah yang menyebabkan dukungan itu mengalir seperti air bah. Masyarakat melihat seorang ibu rumah tangga tidak berdaya melawan sebuah rumah sakit mewah yang membawa kasus ini ke pengadilan. Prita memang tidak sepenuhnya benar, dia juga ada kesalahan karena dia tidak menyadari bahwa sebuah email jika masuk ke milis, tidak ada jaminan email itu akan beredar di milis itu saja. Anggota milis bisa saja mem-<em>forward </em>email itu ke milis lain karena isi email tersebut dianggap sebagai sebuah fakta menarik yang perlu diketahui orang lain. Seperti kita sendiri, yang kadang-kadang menerima email dari sebuah milis, lalu karena email ini dianggap menarik, tanpa pikir panjang email tersbeut kita teruskan ke milis lain. Karena itu, memang penting dibuat aturan etika dalam sebuah milis bahwa setiap email di dalam milis bersifat tertutup dan tidak dibenarkan untuk diteruskan ke orang yang bukan anggota milis.  </p>
<p>Inilah fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini, yaitu derasnya dukungan moral (dan materil) dari masyarakat kepada orang-orang yang mengalami ketidakadilan masalah hukum. Masyarakat tidak kenal  siapa orang-orang yang &#8220;tertuduh&#8221; itu, namun masyarakat berpihak dan mendukung mereka. Masih ingat kasus Bibit-Chandra kan? Jutaan <em>fesbuker </em> melakukan gerakan moral dengan memberikan dukungan kepada kedua orang ini (dan KPK) melalui media fesbuk. Ini belum termasuk ratusan ribu orang yang melakukan aksi demo untuk mendukung mereka. Padahal, sebagian besar pendukung tidak kenal siapa itu Chandra, siapa itu Bibit. Orang mendukung Chandra dan Bibit karena kedua orang ini dianggap &#8220;korban&#8221; kesewang-wenangan kepolisian, dan masyarakat sudah terlanjur mempunyai stigma negatif kepada polisi disebabkan pengalaman buruk yang mereka alami setiap berurusan dengan polisi.</p>
<p>Dalam waktu yang bersamaan muncul pula kasus nenek Minah yang dituduh mencuri tiga buah kakao. Kasus ini dibawa ke pengadilan oleh perusahaan penanam kakao, dan nenek Minah dijatuhi hukuman kurungan (namun hukuman kurungan tidak perlu dijalani karena nenek Minah sudah tua dan dianggap tidak akan melarikan diri). Warga masyarakat yang simpati dengan kasus nenek Minah kembali merasa terusik dengan ketidakadilan ini. Mereka mendukung nenek Minah dan mengumpulkan uang receh untuk membantu nenek itu. Kecaman mengalir kepada perusahaan penanam kakao, sebab mengapa kasus yang sepele itu perlu dibawa ke pengadilan? Tidakkah diselesaikan secara kekeluargaan saja? Dimana rasa keadilan kepada orang-orang kecil itu? Masyarakat menilai polisi begitu cepat bereaksi jika kasus-kasus hukum menimpa orang kecil, namun terkesan lamban jika kasus hukum itu melibatkan orang penting dan cukong-cukong.</p>
<p>Itulah orang Indonesia, mudah berempati, namun mudah pula melupakan kembali peristiwa yang telah terjadi. Ada banyak peristiwa drama yang akan terus terjadi di negeri ini, dan seharusnya setiap peristiwa dijadikan pelajaran untuk tidak terulang dan terulang lagi. Bangsa ini perlu belajar dari kisah-kisah yang terjadi di masa lalu  </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/1982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/1982/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/1982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/1982/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/1982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/1982/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/1982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/1982/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/1982/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/1982/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1982&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/12/09/koin-untuk-prita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>