Catatanku

Entries categorized as ‘Agama’

Ustad Yusuf Mansur dan Matematika Sedekah

14 September 2009 · & Komentar

yusuf-mansurPada bulan Ramadhan tahun ini, di layar TV hampir setiap hari muncul wajah ustad muda yang namanya sedang melejit. Dialah ustad Yusuf Mansur, ustad muda dari Betawi. Usianya memang masih sangat muda, setelah mencari data lewat Mbah Google saya baru tahu kalau dia lahir pada tanggal 19 Desember 1976, jadi usianya baru 33 pada tahun ini. Wajahnya yang baby face, bersih, dan terkesan imut-imut.

Setelah pamor Aa Gym redup, ada beberapa ustad muda yang tengah naik daun. Mereka diantaranya adalah Ustad Jefry, Ustad Arifin Ilham, dan Ustad Yusuf Mansur (Ustad = guru). Kalau ustad Jefry dikenal sebagai “ustad gaul” karena dia populer di kalangan anak-anak muda. Kalau Ustad Arifin Ilham populer dengan majelis dzikirnya yang menghadirkan ribuan ummat dengan dress code putih-putih. Oh ya, saya ada sedikit kritikan buat Arifin Ilham, menurut saya dzikir itu tidak perlu dilakukan secara massal dan terbuka seperti itu, apalagi disiarkan secara langsung oleh televisi yang menampilkan Ustad Arifin Ilham menangis tersedu-sedu diikuti oleh para jamaahnya. Kurang sreg gitu, menurut saya eksploitasi seperti itu dapat mengurangi kekhusukan dzikir sebagai ibadah personal antara makhluk dengan Khaliknya.

Namun terhadap ustad Yusuf Mansur saya memberi respon positif. Saya mengikuti ceramah, diskusi, maupun obrolan dari ustad ini di televisi. Kata-katanya sederhana namun bernas dan mengena di hati. Ustad Yusuf Mansur mengusung tema “shadaqoh” atau sedekah dalam setiap dakwahnya. Dia mengajak ummat Islam untuk rajin bersedekah. Sebagian besar ummat Islam memahami sedekah adalah sebuah pemberian secara ikhlas untuk membantu orang dhuafa, misalnya memberi sedekah kepada pengemis, anak yatim, orang miskin, dan kaum papa lainnya. Setelah memberi sedekah umumnya kita melupakan pemberian tadi dan menganggap sedekah sebagai hal yang biasa saja.

Tapi, di “tangan” ustad Yusuf Mansur, makna sedekah (giving) lebih dari sekedar memberi. Dia menulis di dalam bukunya, The Power of Giving, tentang manfaat bersedekah. Sedekah tidak hanya untuk mensucikan harta, tetapi juga dapat menghapus dosa, memperoleh ampunan Allah, mendapatkan ridha dan kasih sayang dari Allah, memperoleh bantuan dari Allah, dan memakbulkan doa-doa. Dia menjelaskan konsep yang bernama “matematika sedekah”. Konsep matematika sedekah tidak sama dengan matematika yang kita kenal. Dasarnya ada pada Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 160 dimana Allah menjanjikan balasan 10 kali lipat bagi mereka yang mau berbuat baik (bersedekah adalah salah satu perbuatan baik):

Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). QS. Al-An’am (6) : 160

Begini konsep matematika sedekah itu:
Menurut pelajaran matematika yang kita kenal di sekolah dasar,
10 – 1 = 9,
tetapi, di dalam matematika sedekah,
10 – 1 = 19,
sebab setiap kali kita bersedekah dengan memberikan satu unit rizki (harta) kita, Allah akan menggantinya (membalasanya) 10 kali lipat.

Jika matematika sedekah itu dilanjutkan, maka kita memperoleh hasil perhitungan sebagai berikut:
10 – 2 = 28
10 – 3 = 37
10 – 4 = 46
10 – 5 = 55
10 – 6 = 64
10 – 7 = 73
10 – 8 = 82
10 – 9 = 91
10 – 10 = 100

Jadi, setelah 10 unit harta kita habis disedekahkan, maka kita memperoleh balasan dari Allah SWT 10 kali lipat dari semula, yaitu 100 unit. Matematika sedekah ini juga menjelaskan bahwa seseorang tidak akan jatuh miskin karena sering bersedekah, sebaliknya rizkinya makin bertambah. Subhanallah. Karena itu tidaklah perlu seseorang mempunyai sifat pelit atau kikir kepada orang lain.

Apakah balasan dari Allah SWT yang 10 kali lipat itu? Apakah berupa rezki yang jumlahnya 10 kali lipat dari harta yang kita sedekahkan? Wallahu alam, bisa begitu atau dalam bentuk yang lain, hanya Allah yang tahu. Balasan dari Allah SWT bisa berupa bantuan yang tidak terduga datangnya, bisa juga berupa dikabulkannya doa dan keinginan yang selama ini selalu dipinta. Ustad Yusuf Mansur menghadirkan kisah orang-orang yang mendapat anugerah tidak terduga karena kebiasaan bersedekah. Ada tukang bubur ayam keliling yang mendapat hadiah naik haji, ada wanita yang sudah “pertu” (perawan tua) mendapat jodoh, ada orang yang terlilit hutang yang ditolong orang lain sehingga hutangnya lunas, dan sebagainya. Ini membuktikan bahwa memang Allah SWT membalas pemberian ummat-Nya dengan balasan yang tidak pernah ia bayangkan.

Satu hal yang pasti, Allah SWT sangat menyayangi ummat-Nya. Bersedekah atau memberi dapat mengijabah doa dan memudahkan banyak urusan. Memberi itu memang menakjubkan, giving is amazing.

(Sebagian materi tulisan dikutip dari sini)

Kategori: Agama

Hari Pertama Kuliah di Bulan Ramadhan

25 Agustus 2009 · & Komentar

Kemarin, Senin 24 Agustus 2009, adalah hari pertama kuliah di bulan Ramadhan. Tanggal 1 Ramadhan sebenarnya jatuh pada hari Sabtu, tetapi berhubung Sabtu adalah hari libur di ITB, maka suasana kuliah pertama pada bulan Ramadhan justru baru dirasakan pada hari Senin kemarin.

Bulan Ramadhan atau bulan puasa sudah berkali-kali datang ke ITB. Karena kalender Islam mengikuti penanggalan Qamariyah (perhitungan berdasarkan penampakan bulan), maka bulan Ramadhan selalu bergeser setiap tahun masehi. Tahun ini awal Ramadhan bersamaan dengan pekan permulaan kuliah di ITB. Sepuluh tahun lalu bulan Ramadhan bersamaan dengan musim hujan di bulan Desember. Sepuluh tahun lagi Ramadhan akan mendekati perayaan tahun baru.

ITB adalah kampus yang plural, berbagai agama mahasiswa, dosen, dan karyawan ada di dalamnya. Sebagai kampus yang majemuk, tidak ada perubahan khusus dalam perkuliahan, utamanya soal waktu. Kuliah tetap dimulai pukul 7.00 pagi dan berakhir pukul 18.00 sore. Yang berbeda adalah ditutupnya semua kantin di dalam kampus, namun beberapa pedagang makanan di Jalan Gelapnyawang tetap ada yang berjualan. Tentu saja untuk melayani mahasiswa yang tidak berpuasa, khususnya yang non-muslim.

Sangat sukar membedakan mana mahasiswa yang berpuasa dan mana yang tidak, meskipun dia seorang muslim sekalipun. Puasa adalah ibadah yang unik dan bersifat privat. Kalau kita shalat, maka orang lain bisa melihatnya. Kalau kita bersedekah, orang lain bisa saja tahu. Apalagi kalau ibadah haji, orang sekampung bisa tahu karena ada acara syukuran baik di masjid maupun di rumah, dan diantar ramai-ramai ke asarama haji. Tapi ibadah puasa? Hanya dirinya dan Tuhan saja yang tahu. Seorang muslim sendiri belum tentu ikut berpuasa, mungkin karena lagi sakit, sedang datang bulan (bagi wanita), atau memang tidak mau menjalankan ibadah agama saja alias tidak taat. Kelompok yang terakhir ini cukup banyak juga jumlahnya. Aneka orang tentu dengan aneka cara dia meyakini dan menjalankan agamanya. Biar Allah SWT yang akan menilai, kita manusia tidak punya hak untuk menilai keagamaan seseorang. Setiap orang bertanggung jawab dengan amal perbuatannya masing-masing.

Ada “untungnya” berpuasa pada saat kita tetap kuliah atau bekerja. Yang paling terasa adalah tidak repot lagi memikirkan makan siang di mana, mau makan apa. Waktu istirahat makan siang yang biasanya digunakan untuk mencari makan, sekarang dapat digunakan untuk aktivitas lain, apakah itu melanjutkan pekerjaan, berleha-leha sejenak, atau mengaji (tadarus).

Bagi mahasiswa, bulan Ramadhan tentu dapat menghemat pengeluaran. Makan yang biasanya tiga kali sehari sekarang menjadi dua kali saja. Tapi bagi orang yang sudah berkeluarga seperti saya, bulan Ramadhan berarti menambah pengeluaran ekstra… he..he. Karena ini bulan istimewa, maka soal makan pun mau tidak mau juga ada perubahan menu. Makanan yang tidak pernah muncul pada hari-hari biasa, pada bulan Ramadhan ini tiba-tiba hadir di depan mata. Mau tidak mau tergoda juga untuk merasakan dan akhirnya membelinya, bukan? Jangan heran pada bulan Ramadhan ini orang-orang royal berbelanja. Menjelang sore, supermarket dan pasar swalayan penuh sesak dengan orang yang berbelanja aneka kebutuhan buka puasa. Padahal inti berpuasa adalah menahan hawa nafsu, termasuk di dalamnya nafsu belanja. Cuma ya itu, banyak orang — mungkin saya termasuk juga di dalamnya — tidak paham makna puasa, dan akhirnya yang terlihat di permukaan adalah bulan puasa identik dengan makan berlebih dan pengeluaran berlebih. Ya Allah, semoga Engkau mengampuni kekeliruan ummat-Mu ini.

Kategori: Agama · Seputar ITB

Apakah Jacko akan Dimakamkan Secara Islam?

30 Juni 2009 · & Komentar

Kematian Michael Jackson masih menyisakan banyak misteri dan pertanyaan banyak orang. Hingga saat ini jenazah Jacko belum dimakamkan, masih disimpan di dalam lemari pendingin.

Satu berita yang sering diungkap oleh media di Indonesia sejak hari kematiannya adalah kabar bahwa Jacko sudah berpindah ke agama Islam sejak tahun 2008 yang lalu (beritanya baca di koran ini dan di koran itu). Itu berarti, jika tidak ada perubahan yang berarti dari tahun 2008 hingga hari kematiannya, maka Jacko adalah seorang muslim, terlepas dari apakah dia menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim (shalat, puasa dan sebagainya) atau tidak.

Banyak orang, termasuk saya, menunggu-nunggu apakah Jacko akan dimakamkan secara Islam. Jika ya, berarti jenazahnya akan dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan terakhir dikuburkan sesuai tatacara penyelenggaraan jenazah dalam ajaran Islam. Namun hingga saat ini belum terdengar kabar bagaimana keluarga Jacko akan memperlakuakn mayat Jacko.

Kalau menurut ajaran Islam, mayat tidak boleh telalu lama menunggu untuk dimakamkan. Dia harus disegerakan pemakamannya. Ketika seseorang meninggal dunia, maka sang mayat harus cepat diselenggarakan mulai dari dimandikan hingga dikuburkan. Jeda waktu dari kematian hingga penguburan tidak boleh lebih dari sehari semalam. Jika dia meninggal pukul 12 siang, maka mayat harus dikuburkan selambat-lambatnya sebelum pukul 12 siang pada hari berikutnya.

Namun untuk Jacko, kita tidak tahu kepastian tentang hal ini. Entah, bagaimana keluarganya memperlakukan mayat Jacko, apakah dimakamkan sesuai agama keluarganya atau sesuai agama Jacko. Saya juga belum mendengar kabar inisiatif kelompok muslim di Amerika terhadap jenazah Jacko.

Saya jadi teringat ketika Prof. Mustopo (pemilik Universitas Mustopo di Jakarta dan SD Mustopo di Bandung) meninggal dunia di Bandung pada tahun 80-an. Prof. Mustopo sendiri tidak jelas agamanya apa, entah Kejawen atau agama apa, anak-anaknya sendiri beragama macam-macam, ada yang Islam, Kristen, dan sebagainya. Ketika Prof. Mustopo meninggal, anak-anaknya bersilang pendapat tentang jenazah ayahnya, apakah dimakamkan secara Islam atau Kristen atau Kejawen. Cukup lama jenazah Mustopo “terbengkalai”, akhirnya oleh beberapa ustad di Bandung, setelah berembug cukup lama dengan keluarga, saat itu diputuskan jenazah Prof. Mustopo diselenggarakan secara Islam, dengan menilik masa lalunya yang pernah menyandang “Islam KTP”.

Kasus yang mirip juga terjadi di komplek pemukiman saya beberapa bulan yang lalu. Ada seorang ibu meninggal dunia. Ibu ini seorang muslimah, tetapi (alm) suami dan anak-anaknya bukan (mengikuti agama ayah mereka). Ketika si ibu meninggal dunia, anak-anaknya bingung bagaimana mengurus jenazah ibu mereka, apakah akan dimakamkan secara Islam atau non-Islam sesuai agama mereka. Untunglah DKM masjid di RW saya cukup sigap, DKM mengambil alih urusan pemakaman mulai dari memandikan hingga penguburan, termasuk tahlilan (takziah) pada malam setelah pemakaman.

Begitulah kisah sedih tentang seonggok jenazah. “Nasibnya” tergantung pada orang-orang hidup yang mengenalnya. Semoga kita yang masih hidup diberikan oleh Allah SWT kelak hari akhir yang baik, berada di tengah orang-orang yang baik, dan diperlakukan secara baik pula hingga ke liang lahat. Khusnul khotimah, mati dalam keadaan yang baik.

Kategori: Agama · Gado-gado

Alhamdulillah, Hoka Hoka Bento Sudah Halal

2 Maret 2009 · & Komentar

Kemaren ketika melewati restoran Hoka Hoka Bento di Stasiun Kereta Api Bandung, saya melihat logo sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia di restoran ini. Oh, jadi Hoka Hoka Bento sudah dijamin halal?

hokahokabento

mui1

Ketika kembali ke Bandung, saya cari di Mbah Google, ketemu beritanya dari Situs Hoka Hoka Bento, begini bunyinya:

Sertifikat HALAL MUI
Pada tanggal 24 September 2008, Komisi Fatwa MUI telah mengeluarkan SERTIFIKAT HALAL Hoka Hoka Bento no. 00160048830908, sehingga secara resmi seluruh produk Hoka Hoka Bento telah dinyatakan memenuhi persyaratan HALAL. Setelah melalui proses audit yang merupakan prosedur standar MUI, sertifikat ini telah diserah-terimakan ke pihak Hoka Hoka Bento pada tanggal 17 Oktober 2008.

Sertifikat HALAL yang diterbitkan oleh LPPOM MUI Pusat berlaku untuk seluruh restoran Hoka Hoka Bento, dari mulai pemasok bahan baku, logistik sebagai pusat distribusi sampai pengiriman ke setiap restoran. Setiap restoran Hoka Hoka Bento tidak diperkenankan membeli bahan baku dari luar selain dari logistik Hoka Hoka Bento. Jadi proses sertifikasi halal tidak hanya di restoran saja melainkan keseluruhan prosesnya mulai dari pemasok, pengangkutan dari pemasok ke logistik atau restoran, pengangkutan dari logistik ke restoran semuanya di sertifikasi HALAL.

Sejak beberapa tahun lalu saya memang menahan diri untuk tidak makan produk Hoka Hoka Bento (selain itu juga roti BreadTalk, donat J.Co, dll, baca tulisan terdahulu terkait hal ini). Alasannya saya mendengar restoran ini masih ‘abu-abu’ soal kehalalan makanannya. Ada isu — yang entah benar atau tidak — yang menyatakan bahwa restoran ini menambahkan arak Jepang pada masakannya supaya lebih lezat. Karena masih di wilayah ‘abu-abu’ dan belum mendapat sertifikat halal, maka saya memilih untuk berhenti sementara membeli makanan Hoka Hoka Bento, sampai tuntas masalah kehalalannya.

Bagi saya soal kehalalan makanan sangat krusial, tidak peduli restoran tersebut restoran beken dan ramai pengunjungnya. Banyak orang mengira bahwa soal halal haram itu sebatas tentang daging babi saja. Padahal halal dan haramnya makanan cukup luas cakupannya, misalnya: apakah makanan tersebut disengaja mengandung alkohol, apakah ayam atau sapinya disembelih dengan nama Allah, apakah makanan itu makakan sesaji untuk para dewa, leluhur, atau apalah, dan lain-lain.

Alhamdulillah, restoran Hoka Hoka Bento sudah mendapat serifikat halal ke LPOOM MUI, jadi saya tidak khawatir lagi dan bisa makan dengan tenang. Yang saya suka dari restoran ini adalah nasinya yang pulen abis, enak deh. Beras apa sih yang digunakan Hoka Hoka Bento kok enak sekali, apakah beras impor dari Jepang, atau berasnya dicampur beras ketan supaya lebih manis?

Saya rasa mereka tidak rugi tuh mengurus setifikat halal, yang biayanya tidak seberapa (saya dengar 2 juta rupiah), malah mereka akan diuntungkan karena kepercayaan konsumen muslim bertambah (minimal pelanggan Hoka Hoka Bento bertambah satu, yaitu saya, he..he). Lihat saja restoran KFC atau McDonalds, sejak mendapat sertifikat halal dari MUI restoran tersebut tambah ramai pengunjungnya.

Kalau tulisan ini menajdi promosi gratis buat Hoka Hoka bento tak apalah, moga-moga jadi amal baik karena menginformasikan makanan halal.

Kategori: Agama

Pohon Nabi

20 Februari 2009 · & Komentar

Mahasiswa saya yang sudah jadi alumni, Ali Akbar, membawa oleh-oleh dari Tanah Suci sepulang dari menunaikan ibadah haji. Oleh-olehnya adalah sebuah lukisan dari bambu yang menggambarkan pohon nabi. Seperti ini foto lukisan pohon nabi:

pohonnabi

Apa itu pohon nabi? Pohon nabi adalah pohon silsilah para nabi mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad. Dimulai dari akar adalah manusia pertama, yaitu Nabi Adam (1). Dari keturunan Nabi Adam melahirkan Nabi Idris (2), Nabi Nuh (3). Ket: nomor urut di dalam tanda kurung menyatakan urutan nabi

Selanjutnya, dari keturunan Nabi Nuh lahir Nabi Hud (4), Nabi Shalih (5), Nabi Ibrahim (6), dan Nabi Luth (7).

Nabi Ibrahim mempunyai 2 anak yang semuanya menjadi nabi, yaitu Ismail (8) dan Ishaq (9). Keturunan Nabi Ishaq melahirkan banyak nabi, sedangkan dari keturunan Ismail hanya melahirkan satu nabi yaitu Nabi Muhammad (25).

Dari keturunan Nabi Ishaq lahir Nabi Ya’qub (10), Yusuf (11) yang merupakan putera Nabi Ya’qub, Ayub (13), dan Zulkifli (14). Oh ya, jauh dari abad Nabi Ibrahim ada satu nabi lagi yang diutus Tuhan yaitu Nabi Syu’aib (12).

Keturunan nabi Ya’qub selanjutnya melahirkan Nabi Musa (15), Harun (16), Daud (17), dan Yunus (21).

Dari Daud kemudian diteruskan oleh Sulaiman (18). Keturunan Sulaiman melahirkan Nabi Isa (24), Nabi Zakaria (22) dan Nabi Yahya (23).

Keturunan Nabi Harun melahirkan Nabi Ilyas (19), dan Ilyasa’ (20).

Jika diurut, maka susunan Nabi itu adalah:
1. Adam
2. Idris
3. Nuh (Inggris: Noah)
4. Hud
5. Shaleh
6. Ibrahim (Inggris: Abraham)
7. Luth
8. Ismail
9. Ishaq (Inggris: Isaac)
10. Ya’qub (Inggris: Jacob)
11. Yusuf (Inggris: Joseph)
12. Syua’ib
13. Ayub
14. Zulkifli
15. Musa (Inggris: Moses)
16. Harun
17. Daud (Inggris: David)
18. Sulaiman (Inggris: Solomon)
19. Ilyas
20. Ilyasa’
21. Yunus (Inggris: Jones)
22. Zakaria
23. Yahya (Inggris: John)
24. Isa (Inggris: Jesus)
25. Muhammad. (Inggris: Mohammed)

Dari pohon nabi tersebut terlihat bahwa Nabi Ibraham adalah bapak dari semua agama samawi. Keturunan Ibrahim melahirkan 3 nabi pembawa ajaran (agama) tauhid, yaitu Nabi Musa (Yahudi), Nabi Isa (Nasrani), dan Nabi Muhammad (Islam). Jadi, titik temu dari ketiga agama samawi itu ada pada Nabi Ibrahim.

Kategori: Agama

Fenomena Ponari dan Bagaimana Sikap Kita Seharusnya

14 Februari 2009 · & Komentar

Masyarakat Indonesia dihebohkan dengan bocah cilik asal Jombang Jawa Timur, bernama Ponari yang tiba-tiba mendapat kemampuan untuk mengobati berbagai penyakit dengan sebuah batu yang dicelupkan ke dalam air minum. Akibat ekspos media massa yang luar biasa, dengan cepat puluhan ribu orang dari seluruh Indonesia memadati dusun tempat tinggal Ponari di Jombang. Sudah empat orang yang tewas terinjak-injak karena berdesak-desakan di gang sempit menuju rumah Ponari.

ponari (Keterangan foto: Ponari yang digendong keluarganya sedang mencelupkan batu ditangannya ke dalam air minum yang dibawa pasien. Sumber foto: www.kompas.com)

Bagi yang belum tahu, begini kisahnya. Ponari mendapat kemampuan supranatural itu setelah terkena petir. Seperti dikutip dari sini, Ponari saat itu bermain di bawah guyuran hujan deras yang ditingkahi sambaran petir. Tiba-tiba, tubuh bocah itu kemasukan hawa panas, seperti baru terkena sambaran petir. Saat itulah, di bawahnya muncul batu sebesar kepalan tangan, berwarna kehitaman. Batu ini, oleh Ponari, dibawa pulang. Oleh neneknya, batu itu sempat dibuang. Namun, menurut cerita, batu tersebut muncul kembali di rumahnya.

Ihwal berita bahwa Ponari bisa mengobati penyakit, terjadi setelah salah seorang tetangganya menderita sakit. Tanpa sadar, Ponari memberi minuman air putih, yang dicelupi batu itu. Menurut pengakuan warga di dusun itu, orang yang diberi minuman Ponari itu bisa sembuh. Peristiwa ini menjadi bahan pembicaraan warga dusun.

Selanjutnya, lewat ‘radio dengkul’ alias dari mulut ke mulut, cerita itu pun menyebar ke berbagai tempat: bahwa di Dusun Kedungsari, muncul dukun tiban yang bisa mengobati segala macam penyakit. Puluhan ribu orang pun kemudian berbondong-bondong ke sana. Calon pasien yang datang bukan hanya orang miskin, tapi juga orang-orang kaya–terutama yang frustrasi karena penyakitnya tak kunjung sembuh meski sudah berobat ke dokter.

Begitulah berita yang kita baca dari media.

Apa yang dilakukan oleh Ponari sebenarnya tidak beda dengan praktek pengobatan alternatif lain. Misalnya seperti yang dilakukan oleh Ustad Haryono di Bekasi melalui air minum dan minyak kelapa yang sudah diberi doa atau transfer penyakit ke tubuh hewan. Kunci penyembuhan dari pengobatan alternatif adalah karena faktor sugesti. Pasien percaya atau tidak dengan teknik penyembuhan seperti itu. Kalau yakin dan percaya, maka pada beberapa kasus penyakit memang berhasil disembuhkan, tapi kalau ragu-ragu atau kurang yakin biasanya memang sulit sembuh.

Tapi, Ponari memang fenomenal. Mengapa bisa sampai puluhan ribu orang datang menyemut mengharapkan pengobatan dari Ponari? Biasanya pasien pengobatan alternatif tidak sebanyak itu. Penyebabnya mungkin karena Ponari masih anak-anak, biasanya masyarakat lebih percaya kepada ‘dukun’ anak-anak karena anak-anak biasanya lebih tulus dalam memberi pertolongan, tidak seperti ‘dukun’ dewasa yang cenderung lebih pragmatis. Apalagi Ponari tidak membuka praktek, tetapi orang-orang saja yang ramai mendatanginya mengharapkan celupan tangannya. Ponari sendiri tidak menerapkan tarif pengobatan, pasien hanya dikenakan infaq Rp 2000.

Beberapa kalangan menilai fenomena Ponari menunjukkan matinya logika. Cibiran dan cemoohan ditujukan kepada orang-orang yang datang ke Ponari. Masyarakat dinilai sudah tidak percaya kepada pengobatan modern yang lebih rasional. Bahkan, beberapa ulama dengan cepat menyatakan bahwa pengobatan ala Ponari itu tergolong perbuatan syirik, sebab orang lebih percaya kepada batu, bukan kepada Allah.

Menurut Prof Haryadi seperti dikutip dari sini, fenomena pengobatan yang dilakukan Ponari tidak bisa hanya dianalisis dari sisi ilmiah. Semua orang seharusnya lebih bijaksana menghadapi fenomena Ponari ini, termasuk di dalamnya kemungkinan adanya kekuatan gaib pada diri Ponari yang tidak bisa dijelaskan dengan akal.

“Ini bukan sekadar ilmu logika. Harus diakui bahwa masyarakat yang berduyun-duyun ke praktik Ponari melihat hal ini dari sisi kegunaan, dari sisi aksiologinya saja. Mereka tak butuh penjelasan ilmiah, mereka hanya ingin sembuh,” ujar Hariyadi.

Menurut saya, kita memang harus hati-hati memberikan penilaian (syirik atau bukan) dan tidak cepat berburuk sangka. Ada dua kemungkinan skenario Tuhan tentang ini.

Skenario pertama, mungkin saja Ponari diberi anugerah kekuatan penyembuhan penyakit oleh Allah SWT. Hal seperti ini sudah sering kita dengar dibeberapa tempat bahwa ada orang yang tiba-tiba mendapat kekuatan atau ‘ilmu’ dari Tuhan sehingga dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Bagi Allah SWT, apapun yang tidak mungkin dalam pandangan manusia, bagi Dia mudah saja. Kun faya kun, jadilah maka terjadilah ia.

Skenario kedua, melalui Ponari dan batunya itu, Allah SWT ingin menguji iman ummat-Nya, sejauh mana akidah manusia berubah melalui pengobatan Ponari itu. Apakah manusia lebih percaya bahwa batu itu yang menyembuhkan penyakit atau tetap percaya bahwa Allah yang menyembuhkan sedangkan Ponari hanyalah perantara kesembuhan belaka. Jika meyakini batu atau Ponari itu yang menyembuhkan, jatuhlah ia keperbuatan syirik yaitu sikap mempersekutukan Tuhan, yang mana dosanya tidak bisa diampuni.

Saya lebih percaya Tuhan sedang menjalankan skenario kedua. Kita, manusia, sedang diuji keimanannya melalui fenomena Ponari dan batu ajaibnya.

Menurut saya, sikap yang paling bijaksana adalah kehati-hatian. Kesembuhan sumbernya tetap dari Allah SWT. Allah yang menciptakan penyakit, Allah juga yang menyediakan obatnya. Kedokteran atau pengobatan alternatif hanyalah perantara kesembuhan saja. Mungkin melalui tangan dokter, tabib, shinse, paranormal, atau Ponari obat itu diberikan Tuhan kepada si sakit.

Khusus mengenai pengobatan Ponari, ulama wanti-wanti mengingatkan untuk tidak meyakini batu milik Ponari bisa menyembuhkan segala macam penyakit, juga tidak meyakini bahwa Ponari bisa menyembuhkan penyakit. Keyakinan seperti itu bisa merusak akidah. Mengikuti pengobatan seperti yang dilakukan Ponari, akidah harus kuat. Kalau akidah tidak kuat, bisa berubah menjadi syirik. Menurut ketua MUI Jombang, seperti dikutip dari sini, berobat ke Ponari boleh-boleh saja, tapi harus meyakini bahwa yang bisa menyembuhkan penyakit hanya Allah SWT. Untuk menyembuhkan penyakit, kata dia, Allah memberikan berbagai macam cara, diantaranya melalui ilmu kedokteran.

Manusia hanya berikhtiar mencari jalan kesembuhan, tetapi kesembuhan tetap milik Allah SWT. Ponari hanyalah perantara saja.

Kategori: Agama · Indonesiaku

Fatwa Haram Merokok Yes, Haram Golput No

6 Februari 2009 · & Komentar

MUI baru-baru ini di Padangpanjang, Sumater Barat, mengeluarkan beberapa fatwa terkait masalah-masalah kontemprer yang diajukan oleh masyarakat. Fatwa yang dikeluarkan antara lain masalah pernikahan dini, vasektomi, yoga, rokok, golput, dan lain-lain. Dua fatwa yang memicu pro dan kontra adalah fatwa haram merokok dan fatwa haram golput (golongan putih) dalam Pemilu bagi ummat Islam. Fatwa pertama memang sesuai dengan garapan MUI, tetapi fatwa kedua masih patut dipertanyakan relevansinya.

Soal fatwa rokok dikatakan bahwa merokok haram bagi anak-anak, wanita hamil, dan di tempat-tempat umum. Dalam UU Perlindungan Anak disebutkan bahwa anak-anak adalah manusia yang berusia hingga 17 tahun (remaja). Hukum ini sebenarnya ‘jalan tengah’ karena pengharaman rokok secara total belum bisa dilakukan di Indonesia sat ini mengingat ketergantungan rakyat pada industri rokok sangat tinggi (buruh pabrik rokok, petani tembakau, dan lain-lain). Di negara Islam lain seperti Arab Saudi, Mesir, Malaysia, merokok sudah dikategorikan haram. Hanya di Indonesia yang belum tegas soal hukum merokok.

Fatwa haram rokok ada yang mendukung ada yang tidak. Yang mendukung antara lain Komnas Anak karena anak-anaklah yang banyak menjadi korban dari budaya merokok. Merokok sejak kecil menimbulkan banyak masalah kesehatan dan sosial.

Anehnya, yang menolak fatwa haram merokok ini justru dari ulama-ulama atau kyai-kyai yang memang sehari-harinya merokok, khususnya dari kyai-kyai NU. Hampir tidak terdengar suara penolakan dari perokok biasa. Boleh jadi para kyai yang menolak fatwa haram rokok karena mereka tidak mau kebiasaan merokok mereka jadi terganggu akibat fatwa ini (he..he, semoga saja dugaan saya salah). Mereka hanya menyatakan bahwa merokok itu hukumnya makruh (dikerjakan tidak berdosa, ditinggalkan lebih baik atau berpahala). Titik.

Saya sependapat dengan MUI bahwa rokok itu haram. Tanpa difatwakan pun rokok jelas-jelas haram, karena mengandung zat kimia berbahaya yang merusak kesehatan. Sesuatu yang mudharatnya lebih banyak dari manfaatnya maka hukumnya adalah haram. Jelas-jelas dalam iklan rokok sudah ditulis bahwa merokok dapat menimbulkan gangguan kesehatan seperti kanker, impotensi, dan gangguan kehamilan. Jadi, merokok itu memang sangat tidak baik untuk kesehatan.

Untunglah saya tidak pernah merokok, sebatang pun belum pernah saya isap. Jadi, soal fatwa haram rokok itu tidak masalah buat saya. Difatwa haram atau tidak, tidak ada pengaruhnya buat diri saya pribadi dan keluarga.

Tentang fatwa yang satu lagi, yaitu golput haram, nah yang ini saya tidak sependapat. Orang tidak memilih dalam pemilu karena banyak alasan. Pertama, seseorang menjadi golput karena ia tidak terdaftar sebagai pemilih. Dalam pilkada banyak kita temukan kasus seperti ini. Apakah orang tersebut berdosa karena tidak memilih?

Kedua, seseorang tidak mau memilih karena dia merasa tidak ada partai atau caleg/capres yang sesuai dengan kriterianya. Dia tidak bisa dipaksa untuk memilih karena tidak ada caleg/capres yang berkenan di hatinya. Memilih adalah hak, bukan kewajiban, jadi kalau dia memilih untuk tidak memilih, maka itu juga hak asasinya. Sebagai konsekuensinya, dia tidak boleh keberatan dengan hasil pemilu. Salah sendiri mengapa tidak menggunakan hak pilihnya.

Jadi, fatwa haram MUI tentang golput ini sudah out of topics alias “diluar batas” atau kebablasan. Dalam hal ini, saya sependapat dengan tulisan Adian Husaini di dalam Hidayatullah, yang menuliskan sebagai berikut:

Demokrasi itu tergantung kehendak rakyat. Kalau rakyat mau memilih silakan, tidak memilih pun tidak soal. Itu bagian dari demokrasi. Mengapa rakyat tidak mau memilih? Sejumlah alasan mengapa golput antara lain:

1. Kriteria pemimpin tidak sesuai dengan selera pemilih.

2. Sistem pemilu diskriminatif, karena tidak memberikan peluang yang sama kepada seluruh rakyat untuk dipilih sebagai pemimpin. Calon pemimpin khususnya presiden dan wapres harus melalui partai atau gabungan partai dengan syarat perolehan kursi 20% dari total kursi parlemen, sehingga menutup potensi pemimpin lain di luar partai yang bisa jadi lebih baik.

Di semua negara yang menganut demokrasi, memilih tidak wajib apalagi dosa.

Sistem pemilu memaksa rakyat memilih orang-orang itu saja dari partai-partai besar dan berduit, padahal rakyat sudah melihat kegagalannya ketika mereka memimpin negeri ini. Rakyat menghendaki pemimpin baru yang bersih dari berbagai skandal masa lalu.

Pemilih adalah raja, tidak bisa dipaksa oleh siapa pun untuk memilih yang tidak sesuai dengan pilihannya. Sekalipun memilih yang terbaik dari yang jelek-jelek. Karena calon yang baik-baik dipersulit memasuki bursa calon pemimpin, seperti ditutupnya jalur independen untuk capres dan cawapres.

Sebagai seorang muslim yang baik, saya mengikuti perkembangan seputar kedua fatwa tersebut. Pro dan kontra soal fatwa itu saya anggap hal yang biasa karena apa yang dilakukan oleh para ulama itu adalah sebuah ijtihad terkait masalah yang hukumnya tidak tertulis di dalam Al-quran dan Hadis Nabi. Soal ijtihat, bisa benar bisa salah. Jika benar berpahala, jika salah juga berpahala.

Meskipun saya tidak sependapat soal fatwa haram golput, saya tetap menghormati para ulama. Ulama adalah pewaris Nabi. Mereka sudah berusaha menjawab permasalahan kontemporer yang berkembang di masyarakat sesuai dengan kompetensi mereka yang menguasai masalah fiqih berdasarkan Al-quran dan Hadis. Jika kita tidak setuju dengan fatwa MUI itu, tidak perlu pula kita mencelanya atau mencacimaki para ulama itu, sebagaimana yang selalu dilakukan oleh kelompok liberal. Ulama adalah tempat bertanya. Ummat bertanya, ulama menjawab. Benar salahnya kita kembalikan kepada Allah saja. Tidak setuju dengan fatwa tersebut, ya tidak usah dituruti. Mari kita hargai jerih payah ulama dan tetap ber-khusnudhon alias berpikir positif.

Kategori: Agama

Air Mata Palestina

6 Januari 2009 · & Komentar

Hari-hari ini tentara Israel terus memborbardir Jalur Gaza di Palestina. Sasarannya adalah pejuang Hamas, sebuah faksi militan yang menguasai Jalur Gaza. Pemerintah Israel selalu berdalih bahwa serangan militer ke Gaza merupakan pembalasan atas serangan-serangan roket yang dilancarkan Hamas terhadap Israel. Padahal, serangan Hamas adalah reaksi dari embargo tak manusiawi Israel di Gaza. Namun tindakan Israel memborbardir Gaza sudah keterlaluan dan berlebihan. Sejauh ini setidaknya 510 warga Palestina telah tewas sejak agresi militer mulai dilancarkan Israel ke Gaza pada 27 Desember lalu.

Pertarungan antara tentara Israel dan pejuang Hamas bagaikan pertarungan antara gajah dengan kelinci. Yang satu mempunyai senjata super canggih, sedangkan yang lain hanya bermodalkan senjata konvensional seperti roket, granat, senjata rakitan, ketapel, dan batu. Korbannya jelas warga sipil Palestina yang tidak berdosa, sebagian besar adalah anak-anak dan wanita. Sungguh memilukan melihat foto bocah-bocah Palestina yang tewas bersimbah darah karena kebrutalan bom Israel.

Foto di bawah ini adalah seorang ayah yang membopong jenazah putranya berusia setahun yang menjadi korban serangan Israel di Gaza, Senin (Sumber foto: kompas.com).

gaza

sedangkan foto di bawah ini adalah para lelaki Palestina meratapi anak-anak yang tewas di sebuah sekolah PBB di Utara Jalur Gaza (sumber: republika.co.id).

PALESTINIANS-ISRAEL/

Sementara kecaman, protes, dan unjuk rasa di seluruh dunia terus berlangsung atas kekerasan di kawasan itu, Israel tampak tidak peduli dengan semua kecaman itu. Dalam istilah orang Minang, sikap Israel itu adalah penerapan “ilmu basi”, yaitu basibanak, basipakak, dan basimada (arti dalam bahasa Indonesianya kurang lebih adalah bebal). PBB terlihat mandul dan membiarkan tragedi kemanusiaan di Gaza terus berlangsung. Amerika Serikat sekali lagi menunjukkan jatidirinya sebagai pembela utama Israel. Apapun usulan resolusi PBB tentang Israel pasti selalu diveto oleh AS. Pemerintah negara-negara Arab juga diam membisu, hal ini berbeda dengan sikap warganya yang gemas bercampur marah. Mesir, yang merupakan negara terdekat dengan Jalur Gaza, bahkan menutup pintu perbatasannya dari warga Gaza. Faksi Fatah di Palestina, yang berseberangan dengan Hamas, juga terkesan membiarkan saudara-saudaranya di Gaza tewas dibantai, seolah-olah mereka memanfaatkan situasi ini untuk merebut kendali Gaza dari Hamas. Semua kebisuan itu seolah-olah menjadi lampu hijau bagi Israel untuk terus secara leluasa melakukan pembersihan genosida, sesuatu yang pernah dialami oleh bangsa Yahudi pada Perang Dunia I.

Dunia hanya bisa menonton tanpa mampu berbuat apa-apa. Akhirnya tinggallah warga Gaza sendirian di wilayahnya menghadapi serangan brutal tentara Israel. Bagi mereka, jika tidak ada jalan lain yang terbuka, maka mati syahid adalah pilihan terakhir yang akan ditempuh. Mati sekarang atau nanti sama saja, mati syahid adalah pilihan yang mulia.

Perang antara Israel dan pejuang Hamas memang bukan konflik berlatar belakang agama, yang terjadi sebenarnya adalah sebuah penjajahan suatu bangsa terhadap bangsa lain. Meski bukan perang antar agama, tetapi sentimen keagamaan tidak bisa dihindari, apalagi Israel juga membom masjid-masjid yang merupakan simbol agama Islam. Terlepas dari ideologi pejuang Hamas, bagaimanapun warga Gaza yang menjadi korban adalah saudara-saudara ummat Islam di seluruh dunia. Solidaritas Islam muncul dimana-mana termasuk di Indonesia sebagai bentuk dukungan mereka kepada saudara-saudaranya yang tertindas. Tidak hanya dukungan dan bantuan dalam bentuk materi, tetapi sebagian dari mereka siap berangkat ke Palestina sebagai mujahidin untuk bertempur dengan Israel. Keinginan seperti itu adalah hal yang wajar dan bisa dipahami sebagai bentuk solidaritas sesama muslim.

Solidaritas sesama muslim merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran agama. Sesama oran Islam, apapun suku bangsa dan warna kulitnya, adalah bersaudara. Dalam sebuah hadis, Nabi pernah berkata bahwa sesungguhnya umat Islam itu bagaikan satu tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka bagian tubuh yang lain juga ikut merasakan sakit.

Kita tidak tahu bagaimana episode perang antara tentara Israel dan pejuang Hamas. Di atas kertas sebenarnya Israel jauh lebih unggul. Meski mereka nantinya (akan) berhasil memusnahkan sebuah bangsa, tetapi ideologi bangsa itu tidak akan pernah bisa mati. Ideologi bangsa Palestina hanya satu: kembalikan tanah-tanah milik mereka yang dicaplok Israel. Selama Israel belum mengembalikan tanah milik Palestina, selama itu pula Israel tidak akan pernah bisa hidup aman.

Kategori: Agama

Isa dalam Pandangan Orang Islam dan Kristen

22 Desember 2008 · & Komentar

Sebentar lagi ada hari besar di seluruh dunia, yaitu hari raya Natal. Saudara-saudara kita umat kristiani menyambut Natal dengan sukacita. Nah, saya di rumah juga merayakan hari natal (“n” kecil), tapiii ….natal dalam pengertian hari kelahiran (natal kan artinya kelahiran). Natal hari yang penting dan bersejarah bagi saya, karena anak saya yang pertama lahir pada tanggal 25 Desember, persis di Hari Raya umat Kristiani. Saya masih ingat pada tanggal itu hari libur, saya tergopoh-gopoh di tengah kepanikan mencari taksi di jalan raya karena istri menunjukkan tanda-tanda mau melahirkan. Anak saya lahir tepat pada Hari Natal, jadi ulang tahun anak saya juga dirayakan jutaan orang di seluruh dunia, he..he.

Natal dalam perspektif Kristen adalah hari kelahiran Yesus (atau Isa dalam bahasa Arab). Orang Islam dan Kristen sangat menghormati Isa atau Yesus, hanya cara memandangnya berbeda. Bagi orang Kristen, Yesus adalah Tuhan (sehingga sering disebut juga Tuhan Yesus), sedangkan bagi orang Islam Yesus bukanlah Tuhan, dia hanyalah seorang utusan Allah SWT, seorang nabi dan rasul yang diutus kepada kaumnya. Inilah menurut saya perbedaan mendasar antara ajaran Islam dan Kristen. Beberapa perbedaan lain yang saya catat mengenai pandangan terhadap Isa dalam perspektif Kristen dan Islam adalah:
- dalam ajaran Kristen, Yesus dilahirkan di kandang domba, dalam ajaran Islam Isa dilahirkan di bawah pohon kurma;
- dalam ajaran Kristen, Yesus mati di tiang salib, dalam ajaran Islam yang mati ditiang salib adalah muridnya yang berkhianat yang bernama Judas, yang oleh kuasa Allah SWT wajahnya diserupakan dengan Isa, sedangkan Nabi Isa diselamatkan oleh Allah;
- dalam ajaran Kristen, Yesus adalah anak-Nya yang tunggal, dalam ajaran Islam Allah SWT tidak mempunyai anak dan juga tidak diperanakkan.

Itulah beberapa perbedaan cara memandang Isa atau Yesus dalam ajaran Islam dan Kristen, tetapi saya kira hal ini tidak perlu diperdebatkan atau diperselisihkan, karena masing-masing agama mempunyai keyakinan (akidah) masing-masing. Silakan kita menyakini ajaran agama amsing-masing soal Nabi Isa/yesus. Yang perlu dilakukan oleh umat Islam maupun umat Kristen adalah saling menghormati keyakinan masing-masing mengenai Isa/Yesus. Orang Islam tidak perlu menafsirkan Alkitab sesuai keyakinannya, begitu juga orang Kristen juga tidak patut menafsirkan Alquran sesuai keyakinannya. Tiap agama mempunyai cara menfasirkan kitab sucinya masing-masing. Dalam pandangan Islam, cukuplah bunyi ayat terakhir di dalam surat Alkafirun, yaitu “Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku”. Orang Islam meyakini apa yang tentang Isa Almasih seperti yang tertulis dalam Alquran dan Hadis, sedangkan saudara-saudara kita umat kristiani meyakini apa yang tertulis di dalam Alkitab mengenai Yesus. Dengan cara begini, maka hidup terasa indah karena kita saling menghormati perbedaan.

Saudara-saudara kita umat Kristiani merayakan kelahiran Yesus setiap tanggal 25 Desember. Di dalam Alquran tidak disebutkan kapan persisinya Nabi Isa dilahirkan, tetapi hanya disebutkan pada masa kelahiran itu pohon kurma masih berbuah, domba-domba masih merumput, jadi kira-kira Nabi Isa dilahirkan pada musim semi. Karena tidak ada catatan tanggal yang persis, orang Islam dapat merayakan kelahiran Nabi Isa kapan saja, tidak hanya pada tanggal 25 Desember saja. Setiap malam kita bisa merayakankan kelahiran Isa dengan membaca Surat Maryam.

Bagi saya, surat Maryam (Maria dalam versi Alkitab) di dalam Alquran adalah salah satu surat yang terindah. Maryam adalah salah satu wanita mulia sehingga namanya diabadikan sebagai nama surat di dalam Alquran (surat 19). Di dalam surat ini diceritakan proses kelahiran Nabi Isa dan mu’jizat yang menyertainya diwaktu kecil (bisa berbicara pada saat masih bayi). Begitu indahnya bunyi ayat-ayat di dalam Surat Maryam sehingga saya yang membacanya begitu terkesima ketika membaca terjemahannya. Cobalah baca surat Maryam ini di malam hari dengan khusyu’, lalu bacalah terjemahannya.

Di bawah ini terjemahan sebagian ayat di dalam surat Maryam yang sangat detil menceritakan kelahiran Isa:

[19.16] Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur,

[19.17] maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.

[19.18] Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”.

[19.19] Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”.

[19.20] Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!”

[19.21] Jibril berkata: “Demikianlah. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.”

[19.22] Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.

[19.23] Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan”.

[19.24] Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.

[19.25] Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.

[19.26] Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang Manusia pun pada hari ini”.

[19.27] Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.

[19.28] Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”,

[19.29] maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?”

[19.30] Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.

[19.31] dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;

[19.32] dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.

[19.33] Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.

[19.34] Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.

[19.35] Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.

[19.36] Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus

~~~~~~~~~~~~~~~~

Begitulah bunyi sebagian Surat Maryam yang saya sebut sangat indah itu. Membaca surat ini seolah-olah kita dibawa ke masa-masa Maryam melahirkan Isa, lalu Maryam yang diolok-olok kaumnya yang menuduhnya pezina, dan Isa kecil yang mampu berbicara sewaktu masih bayi. Ucapan Isa di bawah ini sangat berkesan bagi saya:

Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.
Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.
(Q.S.19: 30-33).

Maha benar Allah Yang Maha Agung.

Itulah Isa Almasih putra Maryam, salah seorang Rasul dari 25 orang Rasul yang wajib diimani, yang ditakdirkan lahir tidak mempunyai ayah diperintahkan oleh Allah SWT untuk berbakti kepada ibunya, Maryam. Begitulah cinta Nabi Isa kepada ibunya, seorang wanita yang shalehah lagi mulia.

Isa adalah “milik” kedua agama samawi ini. Kita semua menghormati Isa.

Kategori: Agama

Mencegah AIDS kok dengan Membagikan “K”?

16 Desember 2008 · & Komentar

Beberapa hari yang lalu ada peringatan hari AIDS sedunia. Di Indonesia hari AIDS juga diperingati dengan berbagai acara, salah satunya dengan pembagian kondom (selanjutnya disebut “k” saja ya, soalnya saya sendiri risih menyebutkanya, he..he) gratis bagi remaja dan anak-anak muda. “K” dibagikan pada acara-acara yang menyedot banyak remaja dan pemuda, misalnya acara konser musik. Setiap pengunjung konser musik diberi “oleh-oleh” berupa satu bungkus yang berisi beberapa buah “k”. Maksud si pemberi “k” mungkin begini: dengan penggunaan “k”, diharapkan penyebaran virus HIV-AIDS dapat diminimalisir.

Ada nalar yang tidak nyambung di sini. Apa hubungan antara pembagian “k” dengan pencegahan virus HIV?

Saya tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang-orang di departemen kesehatan atau pihak-pihak (seperti LSM) yang mengkampanyekan pencegahan penularan virus HIV dengan membagi-bagikan “k” kepada anak-anak muda. Jika membagikan “k” di tempat lokalisasi yang begituan mungkin masih masuk akal. Silahkanlah bagikan “k” kepada wanita penjaja diri dan lelaki hidung belang. Tapi lha ini kok diberikan kepada remaja yang notabene belum menikah. “K” adalah alat kontrasepsi, barang ini ditujukan kepada pasangan yang telah menikah untuk menunda kehamilan. Jika “k” diberikan kepada para remaja itu, maksudnya untuk apa? Apa menyuruh mereka melakukan hubungan seks dengan menggunakan “k’?

Menurut saya, pembagian “k” kepada remaja/anak muda sama saja dengan melegalkan perzinahan atau bahasa lannya seks bebas. Sama saja dengan mendorong kaum remaja itu untuk melakukan seks bebas tetapi supaya lebih aman pakailah “k” (maksudnya aman untuk mencegah kehamilan maupun aman untuk mencegah virus HIV). Na’udzubillah min dzalik.

Kita memang tidak memungkiri jika sekarang ini pergaulan bebas di kalangan remaja sangat “mengerikan”. Hubungan seks pra-nikah sudah biasa dilakukan remaja, sebagaimana tergambar pada hasil survei yang dilakukan berbagai lembaga yang menyatakan jumlah remaja yang melakukan seks pra-nikah semakin besar dari tahun ke tahun. Menurut BKKBN, 63% remaja Indonesia sudah melakukan hubungan seks diluar nikah (baca beritanya di sini). Maraknya industri pornografi, ikatan sosial di masyarakat yang semakin longgar, dan teralienansinya nilai-nilai agama/moral dari kehidupan adalah beberapa faktor pendorong orang berbuat zina. Tetapi fenomena ini bukan menjadi alasan untuk mengkampanyekan penggunaan “k” di kalangan remaja sebagai cara pencegahan HIV. Yang terjadi mungkin kontradiktif, yaitu timbulnya anggapan bahwa seks pra-nikah itu adalah legal sebab negara/lembaga tertentu memfasilitasinya dengan pemberian “k”.

Justru yang harus dikampanyekan kepada remaja adalah ajakan untuk tidak melakukan seks pra-nikah. Selain dosanya sangat besar, juga dapat menjadi sarana penularan berbagai penyakit menular seperti virus HIV itu. Di Amerika saja negeri yang sangat liberal sedang digalakkan kampanye kepada remajanya untuk menghindari hubungan seks pra-nikah, di Indonesia malah sebaliknya dengan membagi-bagikan “k”.

Disinilah pentingnya menanamkan pendidikan agama dan budi pekerti sejak dini kepada anak kita agar mereka mempunyai bekal iman yang kuat menghadapi tantangan dan godaan hidup di dunia ini. Ingatlah bahwa kita tidak selamanya hidup di dunia ini, pada masanya nanti akan tiba suatu hari dimana semua amal dan dosa kita mendapat balasan dari Allah SWT.

Akan datang hari, mulut dikunci
kata tak ada lagi
hanya tangan kita dan kaki kita jadi mulut kita

Berkata tangan kita, tentang apa yang dilakukannya
berkata kaki kita, kemana saja dia melangkahnya

Tidak tahu kita, bila harinya
tanggung jawab kita

(Chrisye, “Ketika Tangan dan Kaki Bicara”)

Kategori: Agama · Budi Pekerti · Indonesiaku