Hari-hari ini tentara Israel terus memborbardir Jalur Gaza di Palestina. Sasarannya adalah pejuang Hamas, sebuah faksi militan yang menguasai Jalur Gaza. Pemerintah Israel selalu berdalih bahwa serangan militer ke Gaza merupakan pembalasan atas serangan-serangan roket yang dilancarkan Hamas terhadap Israel. Padahal, serangan Hamas adalah reaksi dari embargo tak manusiawi Israel di Gaza. Namun tindakan Israel memborbardir Gaza sudah keterlaluan dan berlebihan. Sejauh ini setidaknya 510 warga Palestina telah tewas sejak agresi militer mulai dilancarkan Israel ke Gaza pada 27 Desember lalu.
Pertarungan antara tentara Israel dan pejuang Hamas bagaikan pertarungan antara gajah dengan kelinci. Yang satu mempunyai senjata super canggih, sedangkan yang lain hanya bermodalkan senjata konvensional seperti roket, granat, senjata rakitan, ketapel, dan batu. Korbannya jelas warga sipil Palestina yang tidak berdosa, sebagian besar adalah anak-anak dan wanita. Sungguh memilukan melihat foto bocah-bocah Palestina yang tewas bersimbah darah karena kebrutalan bom Israel.
Foto di bawah ini adalah seorang ayah yang membopong jenazah putranya berusia setahun yang menjadi korban serangan Israel di Gaza, Senin (Sumber foto: kompas.com).

sedangkan foto di bawah ini adalah para lelaki Palestina meratapi anak-anak yang tewas di sebuah sekolah PBB di Utara Jalur Gaza (sumber: republika.co.id).

Sementara kecaman, protes, dan unjuk rasa di seluruh dunia terus berlangsung atas kekerasan di kawasan itu, Israel tampak tidak peduli dengan semua kecaman itu. Dalam istilah orang Minang, sikap Israel itu adalah penerapan “ilmu basi”, yaitu basibanak, basipakak, dan basimada (arti dalam bahasa Indonesianya kurang lebih adalah bebal). PBB terlihat mandul dan membiarkan tragedi kemanusiaan di Gaza terus berlangsung. Amerika Serikat sekali lagi menunjukkan jatidirinya sebagai pembela utama Israel. Apapun usulan resolusi PBB tentang Israel pasti selalu diveto oleh AS. Pemerintah negara-negara Arab juga diam membisu, hal ini berbeda dengan sikap warganya yang gemas bercampur marah. Mesir, yang merupakan negara terdekat dengan Jalur Gaza, bahkan menutup pintu perbatasannya dari warga Gaza. Faksi Fatah di Palestina, yang berseberangan dengan Hamas, juga terkesan membiarkan saudara-saudaranya di Gaza tewas dibantai, seolah-olah mereka memanfaatkan situasi ini untuk merebut kendali Gaza dari Hamas. Semua kebisuan itu seolah-olah menjadi lampu hijau bagi Israel untuk terus secara leluasa melakukan pembersihan genosida, sesuatu yang pernah dialami oleh bangsa Yahudi pada Perang Dunia I.
Dunia hanya bisa menonton tanpa mampu berbuat apa-apa. Akhirnya tinggallah warga Gaza sendirian di wilayahnya menghadapi serangan brutal tentara Israel. Bagi mereka, jika tidak ada jalan lain yang terbuka, maka mati syahid adalah pilihan terakhir yang akan ditempuh. Mati sekarang atau nanti sama saja, mati syahid adalah pilihan yang mulia.
Perang antara Israel dan pejuang Hamas memang bukan konflik berlatar belakang agama, yang terjadi sebenarnya adalah sebuah penjajahan suatu bangsa terhadap bangsa lain. Meski bukan perang antar agama, tetapi sentimen keagamaan tidak bisa dihindari, apalagi Israel juga membom masjid-masjid yang merupakan simbol agama Islam. Terlepas dari ideologi pejuang Hamas, bagaimanapun warga Gaza yang menjadi korban adalah saudara-saudara ummat Islam di seluruh dunia. Solidaritas Islam muncul dimana-mana termasuk di Indonesia sebagai bentuk dukungan mereka kepada saudara-saudaranya yang tertindas. Tidak hanya dukungan dan bantuan dalam bentuk materi, tetapi sebagian dari mereka siap berangkat ke Palestina sebagai mujahidin untuk bertempur dengan Israel. Keinginan seperti itu adalah hal yang wajar dan bisa dipahami sebagai bentuk solidaritas sesama muslim.
Solidaritas sesama muslim merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran agama. Sesama oran Islam, apapun suku bangsa dan warna kulitnya, adalah bersaudara. Dalam sebuah hadis, Nabi pernah berkata bahwa sesungguhnya umat Islam itu bagaikan satu tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka bagian tubuh yang lain juga ikut merasakan sakit.
Kita tidak tahu bagaimana episode perang antara tentara Israel dan pejuang Hamas. Di atas kertas sebenarnya Israel jauh lebih unggul. Meski mereka nantinya (akan) berhasil memusnahkan sebuah bangsa, tetapi ideologi bangsa itu tidak akan pernah bisa mati. Ideologi bangsa Palestina hanya satu: kembalikan tanah-tanah milik mereka yang dicaplok Israel. Selama Israel belum mengembalikan tanah milik Palestina, selama itu pula Israel tidak akan pernah bisa hidup aman.