Catatanku

Entries categorized as ‘Agama’

Air Mata Palestina

6 Januari 2009 · & Komentar

Hari-hari ini tentara Israel terus memborbardir Jalur Gaza di Palestina. Sasarannya adalah pejuang Hamas, sebuah faksi militan yang menguasai Jalur Gaza. Pemerintah Israel selalu berdalih bahwa serangan militer ke Gaza merupakan pembalasan atas serangan-serangan roket yang dilancarkan Hamas terhadap Israel. Padahal, serangan Hamas adalah reaksi dari embargo tak manusiawi Israel di Gaza. Namun tindakan Israel memborbardir Gaza sudah keterlaluan dan berlebihan. Sejauh ini setidaknya 510 warga Palestina telah tewas sejak agresi militer mulai dilancarkan Israel ke Gaza pada 27 Desember lalu.

Pertarungan antara tentara Israel dan pejuang Hamas bagaikan pertarungan antara gajah dengan kelinci. Yang satu mempunyai senjata super canggih, sedangkan yang lain hanya bermodalkan senjata konvensional seperti roket, granat, senjata rakitan, ketapel, dan batu. Korbannya jelas warga sipil Palestina yang tidak berdosa, sebagian besar adalah anak-anak dan wanita. Sungguh memilukan melihat foto bocah-bocah Palestina yang tewas bersimbah darah karena kebrutalan bom Israel.

Foto di bawah ini adalah seorang ayah yang membopong jenazah putranya berusia setahun yang menjadi korban serangan Israel di Gaza, Senin (Sumber foto: kompas.com).

gaza

sedangkan foto di bawah ini adalah para lelaki Palestina meratapi anak-anak yang tewas di sebuah sekolah PBB di Utara Jalur Gaza (sumber: republika.co.id).

PALESTINIANS-ISRAEL/

Sementara kecaman, protes, dan unjuk rasa di seluruh dunia terus berlangsung atas kekerasan di kawasan itu, Israel tampak tidak peduli dengan semua kecaman itu. Dalam istilah orang Minang, sikap Israel itu adalah penerapan “ilmu basi”, yaitu basibanak, basipakak, dan basimada (arti dalam bahasa Indonesianya kurang lebih adalah bebal). PBB terlihat mandul dan membiarkan tragedi kemanusiaan di Gaza terus berlangsung. Amerika Serikat sekali lagi menunjukkan jatidirinya sebagai pembela utama Israel. Apapun usulan resolusi PBB tentang Israel pasti selalu diveto oleh AS. Pemerintah negara-negara Arab juga diam membisu, hal ini berbeda dengan sikap warganya yang gemas bercampur marah. Mesir, yang merupakan negara terdekat dengan Jalur Gaza, bahkan menutup pintu perbatasannya dari warga Gaza. Faksi Fatah di Palestina, yang berseberangan dengan Hamas, juga terkesan membiarkan saudara-saudaranya di Gaza tewas dibantai, seolah-olah mereka memanfaatkan situasi ini untuk merebut kendali Gaza dari Hamas. Semua kebisuan itu seolah-olah menjadi lampu hijau bagi Israel untuk terus secara leluasa melakukan pembersihan genosida, sesuatu yang pernah dialami oleh bangsa Yahudi pada Perang Dunia I.

Dunia hanya bisa menonton tanpa mampu berbuat apa-apa. Akhirnya tinggallah warga Gaza sendirian di wilayahnya menghadapi serangan brutal tentara Israel. Bagi mereka, jika tidak ada jalan lain yang terbuka, maka mati syahid adalah pilihan terakhir yang akan ditempuh. Mati sekarang atau nanti sama saja, mati syahid adalah pilihan yang mulia.

Perang antara Israel dan pejuang Hamas memang bukan konflik berlatar belakang agama, yang terjadi sebenarnya adalah sebuah penjajahan suatu bangsa terhadap bangsa lain. Meski bukan perang antar agama, tetapi sentimen keagamaan tidak bisa dihindari, apalagi Israel juga membom masjid-masjid yang merupakan simbol agama Islam. Terlepas dari ideologi pejuang Hamas, bagaimanapun warga Gaza yang menjadi korban adalah saudara-saudara ummat Islam di seluruh dunia. Solidaritas Islam muncul dimana-mana termasuk di Indonesia sebagai bentuk dukungan mereka kepada saudara-saudaranya yang tertindas. Tidak hanya dukungan dan bantuan dalam bentuk materi, tetapi sebagian dari mereka siap berangkat ke Palestina sebagai mujahidin untuk bertempur dengan Israel. Keinginan seperti itu adalah hal yang wajar dan bisa dipahami sebagai bentuk solidaritas sesama muslim.

Solidaritas sesama muslim merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran agama. Sesama oran Islam, apapun suku bangsa dan warna kulitnya, adalah bersaudara. Dalam sebuah hadis, Nabi pernah berkata bahwa sesungguhnya umat Islam itu bagaikan satu tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka bagian tubuh yang lain juga ikut merasakan sakit.

Kita tidak tahu bagaimana episode perang antara tentara Israel dan pejuang Hamas. Di atas kertas sebenarnya Israel jauh lebih unggul. Meski mereka nantinya (akan) berhasil memusnahkan sebuah bangsa, tetapi ideologi bangsa itu tidak akan pernah bisa mati. Ideologi bangsa Palestina hanya satu: kembalikan tanah-tanah milik mereka yang dicaplok Israel. Selama Israel belum mengembalikan tanah milik Palestina, selama itu pula Israel tidak akan pernah bisa hidup aman.

Kategori: Agama

Isa dalam Pandangan Orang Islam dan Kristen

22 Desember 2008 · & Komentar

Sebentar lagi ada hari besar di seluruh dunia, yaitu hari raya Natal. Saudara-saudara kita umat kristiani menyambut Natal dengan sukacita. Nah, saya di rumah juga merayakan hari natal (“n” kecil), tapiii ….natal dalam pengertian hari kelahiran (natal kan artinya kelahiran). Natal hari yang penting dan bersejarah bagi saya, karena anak saya yang pertama lahir pada tanggal 25 Desember, persis di Hari Raya umat Kristiani. Saya masih ingat pada tanggal itu hari libur, saya tergopoh-gopoh di tengah kepanikan mencari taksi di jalan raya karena istri menunjukkan tanda-tanda mau melahirkan. Anak saya lahir tepat pada Hari Natal, jadi ulang tahun anak saya juga dirayakan jutaan orang di seluruh dunia, he..he.

Natal dalam perspektif Kristen adalah hari kelahiran Yesus (atau Isa dalam bahasa Arab). Orang Islam dan Kristen sangat menghormati Isa atau Yesus, hanya cara memandangnya berbeda. Bagi orang Kristen, Yesus adalah Tuhan (sehingga sering disebut juga Tuhan Yesus), sedangkan bagi orang Islam Yesus bukanlah Tuhan, dia hanyalah seorang utusan Allah SWT, seorang nabi dan rasul yang diutus kepada kaumnya. Inilah menurut saya perbedaan mendasar antara ajaran Islam dan Kristen. Beberapa perbedaan lain yang saya catat mengenai pandangan terhadap Isa dalam perspektif Kristen dan Islam adalah:
- dalam ajaran Kristen, Yesus dilahirkan di kandang domba, dalam ajaran Islam Isa dilahirkan di bawah pohon kurma;
- dalam ajaran Kristen, Yesus mati di tiang salib, dalam ajaran Islam yang mati ditiang salib adalah muridnya yang berkhianat yang bernama Judas, yang oleh kuasa Allah SWT wajahnya diserupakan dengan Isa, sedangkan Nabi Isa diselamatkan oleh Allah;
- dalam ajaran Kristen, Yesus adalah anak-Nya yang tunggal, dalam ajaran Islam Allah SWT tidak mempunyai anak dan juga tidak diperanakkan.

Itulah beberapa perbedaan cara memandang Isa atau Yesus dalam ajaran Islam dan Kristen, tetapi saya kira hal ini tidak perlu diperdebatkan atau diperselisihkan, karena masing-masing agama mempunyai keyakinan (akidah) masing-masing. Silakan kita menyakini ajaran agama amsing-masing soal Nabi Isa/yesus. Yang perlu dilakukan oleh umat Islam maupun umat Kristen adalah saling menghormati keyakinan masing-masing mengenai Isa/Yesus. Orang Islam tidak perlu menafsirkan Alkitab sesuai keyakinannya, begitu juga orang Kristen juga tidak patut menafsirkan Alquran sesuai keyakinannya. Tiap agama mempunyai cara menfasirkan kitab sucinya masing-masing. Dalam pandangan Islam, cukuplah bunyi ayat terakhir di dalam surat Alkafirun, yaitu “Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku”. Orang Islam meyakini apa yang tentang Isa Almasih seperti yang tertulis dalam Alquran dan Hadis, sedangkan saudara-saudara kita umat kristiani meyakini apa yang tertulis di dalam Alkitab mengenai Yesus. Dengan cara begini, maka hidup terasa indah karena kita saling menghormati perbedaan.

Saudara-saudara kita umat Kristiani merayakan kelahiran Yesus setiap tanggal 25 Desember. Di dalam Alquran tidak disebutkan kapan persisinya Nabi Isa dilahirkan, tetapi hanya disebutkan pada masa kelahiran itu pohon kurma masih berbuah, domba-domba masih merumput, jadi kira-kira Nabi Isa dilahirkan pada musim semi. Karena tidak ada catatan tanggal yang persis, orang Islam dapat merayakan kelahiran Nabi Isa kapan saja, tidak hanya pada tanggal 25 Desember saja. Setiap malam kita bisa merayakankan kelahiran Isa dengan membaca Surat Maryam.

Bagi saya, surat Maryam (Maria dalam versi Alkitab) di dalam Alquran adalah salah satu surat yang terindah. Maryam adalah salah satu wanita mulia sehingga namanya diabadikan sebagai nama surat di dalam Alquran (surat 19). Di dalam surat ini diceritakan proses kelahiran Nabi Isa dan mu’jizat yang menyertainya diwaktu kecil (bisa berbicara pada saat masih bayi). Begitu indahnya bunyi ayat-ayat di dalam Surat Maryam sehingga saya yang membacanya begitu terkesima ketika membaca terjemahannya. Cobalah baca surat Maryam ini di malam hari dengan khusyu’, lalu bacalah terjemahannya.

Di bawah ini terjemahan sebagian ayat di dalam surat Maryam yang sangat detil menceritakan kelahiran Isa:

[19.16] Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur,

[19.17] maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.

[19.18] Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”.

[19.19] Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”.

[19.20] Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!”

[19.21] Jibril berkata: “Demikianlah. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.”

[19.22] Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.

[19.23] Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan”.

[19.24] Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.

[19.25] Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.

[19.26] Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang Manusia pun pada hari ini”.

[19.27] Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.

[19.28] Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”,

[19.29] maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?”

[19.30] Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.

[19.31] dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;

[19.32] dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.

[19.33] Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.

[19.34] Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.

[19.35] Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.

[19.36] Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus

~~~~~~~~~~~~~~~~

Begitulah bunyi sebagian Surat Maryam yang saya sebut sangat indah itu. Membaca surat ini seolah-olah kita dibawa ke masa-masa Maryam melahirkan Isa, lalu Maryam yang diolok-olok kaumnya yang menuduhnya pezina, dan Isa kecil yang mampu berbicara sewaktu masih bayi. Ucapan Isa di bawah ini sangat berkesan bagi saya:

Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.
Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.
(Q.S.19: 30-33).

Maha benar Allah Yang Maha Agung.

Itulah Isa Almasih putra Maryam, salah seorang Rasul dari 25 orang Rasul yang wajib diimani, yang ditakdirkan lahir tidak mempunyai ayah diperintahkan oleh Allah SWT untuk berbakti kepada ibunya, Maryam. Begitulah cinta Nabi Isa kepada ibunya, seorang wanita yang shalehah lagi mulia.

Isa adalah “milik” kedua agama samawi ini. Kita semua menghormati Isa.

Kategori: Agama

Mencegah AIDS kok dengan Membagikan “K”?

16 Desember 2008 · & Komentar

Beberapa hari yang lalu ada peringatan hari AIDS sedunia. Di Indonesia hari AIDS juga diperingati dengan berbagai acara, salah satunya dengan pembagian kondom (selanjutnya disebut “k” saja ya, soalnya saya sendiri risih menyebutkanya, he..he) gratis bagi remaja dan anak-anak muda. “K” dibagikan pada acara-acara yang menyedot banyak remaja dan pemuda, misalnya acara konser musik. Setiap pengunjung konser musik diberi “oleh-oleh” berupa satu bungkus yang berisi beberapa buah “k”. Maksud si pemberi “k” mungkin begini: dengan penggunaan “k”, diharapkan penyebaran virus HIV-AIDS dapat diminimalisir.

Ada nalar yang tidak nyambung di sini. Apa hubungan antara pembagian “k” dengan pencegahan virus HIV?

Saya tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang-orang di departemen kesehatan atau pihak-pihak (seperti LSM) yang mengkampanyekan pencegahan penularan virus HIV dengan membagi-bagikan “k” kepada anak-anak muda. Jika membagikan “k” di tempat lokalisasi yang begituan mungkin masih masuk akal. Silahkanlah bagikan “k” kepada wanita penjaja diri dan lelaki hidung belang. Tapi lha ini kok diberikan kepada remaja yang notabene belum menikah. “K” adalah alat kontrasepsi, barang ini ditujukan kepada pasangan yang telah menikah untuk menunda kehamilan. Jika “k” diberikan kepada para remaja itu, maksudnya untuk apa? Apa menyuruh mereka melakukan hubungan seks dengan menggunakan “k’?

Menurut saya, pembagian “k” kepada remaja/anak muda sama saja dengan melegalkan perzinahan atau bahasa lannya seks bebas. Sama saja dengan mendorong kaum remaja itu untuk melakukan seks bebas tetapi supaya lebih aman pakailah “k” (maksudnya aman untuk mencegah kehamilan maupun aman untuk mencegah virus HIV). Na’udzubillah min dzalik.

Kita memang tidak memungkiri jika sekarang ini pergaulan bebas di kalangan remaja sangat “mengerikan”. Hubungan seks pra-nikah sudah biasa dilakukan remaja, sebagaimana tergambar pada hasil survei yang dilakukan berbagai lembaga yang menyatakan jumlah remaja yang melakukan seks pra-nikah semakin besar dari tahun ke tahun. Menurut BKKBN, 63% remaja Indonesia sudah melakukan hubungan seks diluar nikah (baca beritanya di sini). Maraknya industri pornografi, ikatan sosial di masyarakat yang semakin longgar, dan teralienansinya nilai-nilai agama/moral dari kehidupan adalah beberapa faktor pendorong orang berbuat zina. Tetapi fenomena ini bukan menjadi alasan untuk mengkampanyekan penggunaan “k” di kalangan remaja sebagai cara pencegahan HIV. Yang terjadi mungkin kontradiktif, yaitu timbulnya anggapan bahwa seks pra-nikah itu adalah legal sebab negara/lembaga tertentu memfasilitasinya dengan pemberian “k”.

Justru yang harus dikampanyekan kepada remaja adalah ajakan untuk tidak melakukan seks pra-nikah. Selain dosanya sangat besar, juga dapat menjadi sarana penularan berbagai penyakit menular seperti virus HIV itu. Di Amerika saja negeri yang sangat liberal sedang digalakkan kampanye kepada remajanya untuk menghindari hubungan seks pra-nikah, di Indonesia malah sebaliknya dengan membagi-bagikan “k”.

Disinilah pentingnya menanamkan pendidikan agama dan budi pekerti sejak dini kepada anak kita agar mereka mempunyai bekal iman yang kuat menghadapi tantangan dan godaan hidup di dunia ini. Ingatlah bahwa kita tidak selamanya hidup di dunia ini, pada masanya nanti akan tiba suatu hari dimana semua amal dan dosa kita mendapat balasan dari Allah SWT.

Akan datang hari, mulut dikunci
kata tak ada lagi
hanya tangan kita dan kaki kita jadi mulut kita

Berkata tangan kita, tentang apa yang dilakukannya
berkata kaki kita, kemana saja dia melangkahnya

Tidak tahu kita, bila harinya
tanggung jawab kita

(Chrisye, “Ketika Tangan dan Kaki Bicara”)

Kategori: Agama · Budi Pekerti · Indonesiaku

Khutbah Jumat di Masjid Salman Hari Ini Lain dari Biasanya

14 November 2008 · & Komentar

Siapapun yang shalat Jum’at di Masjid Salman ITB hari ini pasti terkaget-kaget. Khutbah shalat Jumat tadi siang sangat singkat, tidak sampai 10 menit (kira-kira 5 hingga 8 menit saya kira), lalu shalat Jumat 2 rakaat, dan selesai. Jam 12.10 ibadah shalat Jum’at sudah selesai, padahal biasanya dengan waktu Dhuhur masuk jam 12 kurang 10, ibadah shalat Jum’at baru berakhir pukul 12.30. Bagi jamaah yang suka melambat-lambatkan diri datang ke masjid pasti kaget, sebab baru sampai ke masjid ternyata shalat Jum’at sudah bubaran. Usai shalat, khutbah yang singkat itu menjadi pembicaraan jamaah yang keluar masjid, pasalnya hal ini belum pernah terjadi sebelumnya, biasanya khutbah molor.

Yang membuat shalat Jumat kali ini berkecepatan ekspres adalah khatibnya yang berasal dari Arab Saudi, yaitu imam Masjid Madinah Almunawarah (saya lupa menulis namanya siapa, tapi dia seorang Doktor). Dia menyampaikan khutbah dalam Bahasa Arab. Saya dan sebagian besar jamaah masjid yang tidak mengerti Bahasa Arab hanya bisa menebak-nebak apa yang ia sampaikan. Baru beberapa menit berbicara, Khatib sudah menyelesaikan khutbah bagian pertamanya, lalu dia duduk sebentar. Khutbah bagian kedua juga tidak sampai 3 menit, lalu selesai. Hmm… apakah di Arab Saudi khutbah Jumat memang singkat saja, ataukah karena khatib menyadarijamaah Salman tidak mengerti Bahasa Arab sehingga dia tidak perlu berlama-lama berkhutbah? Wallahu alam.

Sejak dulu hingga sekarang saya selalu setia shalat Jum’at di Masjid Salman ITB. Waktu masuk shalat Dhuhur sebagai penanda mulai ibadah shalat Jum’at tidak tetap tergantung pada posisi matahari saat itu. Kadang-kadang waktu shalat Dhuhur masuk sebelum pukul 12, kadang setelah pukul 12. Ibadah shalat Jumat di Masjid Salman waktunya tergolong lebih lama dibandingkan dengan masjid lain, kira-kira menghabiskan waktu 45 menit termasuk khutbah dan shalat. Bergantung pada khatib Jum’atnya siapa, ada khatib yang menyampaikan khutbah berpanjang-panjang dan ada yang tidak terlalu lama.

Tentu saja saya tidak mempermasalahkan lama atau singkatnya ceramah Shalat Jum’at. Kalau di masjid bukan masjid kampus tentu tidak terlalu masalah ibadah shalat Jum’at agak lama. Masalahnya Masjid Salman ada di lingkungan ITB dan waktu kuliah di ITB pada hari Jum’at dimulai lagi pukul 13.00. Jadi jika ibadah shalat Jum’at berakhir pukul 12.45 atau lebih, maka bagi mahasiswa hanya tersisa waktu kurang dari 15 menit untuk makan siang dan berjalan tergesa-gesa menuju ruang kuliah yang cukup jauh dari masjid. Untuk makan siang juga tidak bisa cepat sebab mereka harus antri panjang di kantin dan warung makan di sekitar masjid. Menurut pengamatan saya, kuliah yang diadakan setelah shalat Jumat seringkali banyak mahasiswa yang terlambat masuk ke dalam kelas. Oleh karena itu, beberapa dosen yang bijaksana biasanya memulai kuliah lebih lambat yaitu pukul 13.15 atau 13.30, tetapi beberapa dosen yang tidak mau kompromi soal waktu, apapun alasannya, tetap memulai kuliah pukul 13.00.

Kalangan civitas ITB terbagi dua dalam memilih tempat shalat Jumat. Bagi yang ingin cepat dan enggan shalat Jumat di Salman, mereka memilih shalat Jum’at di masjid PDAM Jalan Ciung Wanara yang letaknya tidak jauh dari masjid Salman. Di kalangan civitas ITB ada joke tentang ini: kalau mau shalat Jumat dengan kecepatan ‘turbo’ maka shalat Jumatnya di di PDAM (tetapi sekarang tampaknya ada alternatif selain masjid PDAM, yaitu masjid BATAN di belakang GSG). Soal niat serahkan kepada masing-masing orang saja dalam menentukan pilihan.

Masalah ini seharusnya menjadi perhatian pengurus Masjid Salman (YPM) dan khatib yang akan mengisi khutbah Jumat. YPM perlu mengingatkan khatib untuk memberikan khutbah secara singkat, dan khatib juga perlu menyadari bahwa ada kendala waktu pada jamaah di lingkungan kampus atau di lingkungan perkantoran. Sejauh pengamatan saya, khatib Shalat Jumat yang orang Indonesia memang suka berlama-lama menyampaikan khutbahnya. Pernah suatu kali ada khatib Jum’at di Salman yang sudah agak tua menyampaikan khutbah lebih dari 30 menit, hingga pukul 12.40 belum juga selesai. Saya lihat jamaah sudah banyak yang gelisah, terutama bagi yang punya acara atau kuliah pada pukul 13.00. Pukul 12.45 barulah khutbah selesai, ditambah dengan shalat Jumat 10 menit akhirnya ibadah Jumat selesai pukul 12.55. Benar-benar sangat mepet.

Menurut pandangan saya khutbah Jum’at tidak perlu berlama-lama, maksimal 15 menit sudah cukup. Yang penting isinya bernas dan bermanfaat buat jamaah. Khutbah yang berpanjang-panjang, datar, monoton, dan tidak memberi pencerahan, membuat jamaah bosan dan mengantuk. Saya pernah membaca sebuah Hadis Nabi yang menyatakan khutbah itu tidak perlu panjang-panjang. Saya menyimpan tulisan yang memuat Hadis ini, tapi ketika saya cari tidak ketemu sehingga tidak bisa saya kemukakan di sini (mungkin ada pembaca yang bisa memberikan hadis ini?).

~~~~~~~~~~~~~~~~
(Susulan) Naah, ini hadisnya. Seorang rekan memberikan hadis yang dimaksud:
Hadits Riwayat Muslim: Dari Abul Yaqdlan ‘Ammar bin Yasir r.a. berkata: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: ” Sesungguhnya lamanya shalat seseorang dan singkatnya khutbah itu adalah membuktikan mahirnya agama seseorang, oleh karena itu perpanjanglah shalat dan persingkatlah khutbah”.
Dikutib dari : Terjemah “Riyadlus Shalihin ” ( kitab yang disusun oleh Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An Nawawi, seorang ulama besar yang hidup di tahun 618 H – 667 H) yang diterjemahkan oleh Drs. Muslich Sabar, tahun 1981 M, dan diterbitkan oleh Penerbit CV Toha Putra, Semarang, Jilid
I – halaman 558.

Kategori: Agama · Seputar ITB

Sesama Ummat Islam Berantem, Siapa yang Diuntungkan?

7 Juni 2008 · & Komentar

Pasca insiden Monas yang berakhir dengan penyerbuan anggota FPI (Front Pembela Islam) terhadap demonstran AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan), situasi di tanah air, khususnya umat islam, semakin mengkwatirkan. Para simpatisan NU dan PKB, khususnya di Jawa Timur, yang tidak terima pemimpin agungnya dilecehkan bereaksi keras dengan menyerang balik FPI. Mereka menuntut FPI dibubarkan dan melakukan sweeping terhadap anggota FPI itu.

Sebagai seorang muslim, saya merasa prihatin dan sedih dengan adu domba yang tengah berlangsung. FPI itu muslim, NU dan PKB itu juga muslim, tetapi keduanya sekarang berada dalam kondisi “perang”. Sesama ummat Islam saling berkelahi untuk membela kehormatan. Simpatisan NU dan PKB menyerang balik FPI untuk membela pemimpin agungnya yang “dihina” oleh Habib Riziq, tetapi anehnya mereka tidak bereaksi apa-apa ketika agama mereka dihina dan dilecehkan (baca: dinodai).  Ketika seorang ulama dari NU (yang kebetulan anggota MUI) dilecehkan oleh seorang anggota Watimpres di depan umum, mereka juga tidak bereaksi apa-apa. Bahkan, ketika pemimpin agung mereka dalam wawancara di media Jaringan Islam Liberal (sewaktu panasnya isu RUU APP) menghina Al-Quran dengan mengatakan bahwa Al-Quran adalah kitab suci paling porno, para simpatisan yang jelas-jelas muslim itu juga tidak bereaksi apa-apa. Bagi mereka yang sudah dibutakan hatinya, apa yang dikatakan oleh pemimpin agung itu adalah yang paling benar, sedangkan yang lain adalah salah.

Jelas pihak yang diuntungkan oleh konflik sesama ummat Islam ini adalah pihak yang tidak senang dengan Islam, khususnya kepada ummat Islam yang ingin menegakkan agamanya. Pihak yang diuntungkan itu bisa di dalam negeri, bisa pula di luar negeri. Pihak yang di dalam negeri misalnya kelompok liberal-sekuler yang tidak menginginkan peran agama tampil dalam kehidupan. Selain itu ada kelompok penganut aliran menyimpang seperti Ahmadiyah yang dengan peritiwa ini semakin kuat posisinya di tanah air karena mendapat pembelaan dari kelompok liberal-sekuler. Pihak luar negeri yang senang dengan konflik ini tentu saja kelompok atau negara yang tidak suka dengan peran Islam yang dianggap mengancam kepentingan mereka seperti budaya hedonisme, kapitalisme, dan liberalisme.

Kebebasan beragama dijadikan isu oleh kelompok pembela HAM untuk membela Ahmadiyah. Padahal masalah yang terjadi bukanlah masalah kebebasan beragama, sebab Ahmadiyah bukan sebuah agama. Yang terjadi adalah penodaan agama dengan menambah-nambah ajaran agama yang sudah baku. Penganut Ahmadiyah mengaku Islam tetapi anehnya mereka mempunyai syariat sendiri, seperti mempunyai nabi tambahan sesudah Nabi Muhammad SAW, mempunyai kitab suci lain selain Al-Quran. Selain itu mereka tidak mau bergabung dengan ummat Islam lain dalam hal shalat misalnya, sebab mereka menganggap orang Islam mainstream adalah orang kafir. Mereka juga punya mesjid sendiri. Karena itu salah besar jika mengatakan masalah Ahmadiyah adalah masalah khilafiyah, sebab soal kenabian sesudah Muhammad sudah final dan disepakati oleh ulama dan ummat Islam dimanapun di seluruh dunia. Banyak orang yang tidak mengerti soal fiqih berbicara seolah tahu banyak soal agama, akibatnya komentar-komentar mereka seringkali konyol.

Pelik memang dengan situasi yang tidak enak ini. Akar masalahnya sebenarnya adalah masalah Ahmadiyah itu. Menurut hemat saya, warga Ahmadiyah tetap harus dilindungi haknya untuk hidup seperti warganegara Indonesia lainnya, tetapi tidak untuk ajarannya. Tidak boleh ada kekerasan atau anarkisme terhadap mereka sebab mereka juga bagian dari rakyat Indonesia. Ummat Islam hanya menuntut satu saja: negara membubarkan aliran ini. Jika pembubaran itu tidak mungkin, maka negara cukup menegaskan bahwa Ahmadiyah bukan bagian dari Islam (berarti non-muslim) dengan segala konsekuensinya (misalnya tidak boleh berhaji ke Mekkah). Itulah yang dituntut ummat Islam dengan SKB yang ditunggu-tunggu itu. Dengan pilihan yang terakhir ini, maka eksistensi Ahmadiyah tetap terjamin dan mereka akan hidup berdampingan dengan penganut agama lain di Indonesia. 

 

Kategori: Agama

Bagaimana Menyikapi Ahmadiyah?

29 April 2008 · & Komentar

Hmm…topik ini masalah yang sensitif, tapi semua kita harus jujur untuk mengungkapkannya tanpa dibelenggu rasa takut. Mengaitkan HAM untuk masalah Ahmadiyah tidak selalu tepat.

Menurut yang saya baca dan saya pelajari, secara teologis Ahmadiyah itu aliran agama yang berada di luar Islam alias sesat. Kesesatan mereka disebabkan pengakuan ada nabi lain sesudah Nabi Muhammad SAW, yaitu Mirza Ghulam Ahmad (MGA). Meskipun jemaat Ahmadiyah mengatakan MGA tidak membawa syariat baru dan mereka tetap mengakui nabi Muhammad SAW (hal itu dibuktikan dengan syahadat mereka yang sama seperti orang Islam lain umumnya, begitu juga shalat dan bacaannya), tetapi pengakuan MGA sebagai utusan Allah berarti sudah sangat menyimpang dari hal yang paling fundamental di dalam ajaran Islam. Hadis dan Alquran sudah tegas menyatakan bahwa Muhammad SAW adalah nabi terakhir penutup zaman, tidak ada lagi nabi sesudah beliau. Semua orang Islam meyakini hal itu sebagai sebuah prinsip yang tidak bisa ditawar lagi. Masalah nabi bukan masalah khilafiyah (yang menimbulkan ragam tafsiran), sehingga tidak ada perbedaan pendapat ulama soal prinsip mendasar itu. Maka, pemikiran atau aliran yang menyatakan ada nabi lain sesudah Muhhamad pastilah pemikiran yang berada di luar Islam. Dengan kata lain, ajaran Ahmadiyah telah menodai ajaran Islam mainstream (kita gunakan istilah mainstream untuk menyatakan ajaran Islam yang dianut orang Islam pada umumnya).

Jemaat Ahmadiyah pun sebenarnya secara tidak langsung sudah menyatakan kelompok mereka berbeda dengan Islam mainstream. Mereka tidak mau shalat di masjid Islam mainstream, tidak mau berimam kepada orang Islam mainstream. Mereka beribadah di mesjid mereka sendiri dengan jemaah mereka sendiri. Pokoknya eksklusiflah.

Sekarang masalah Ahmadiyah dikait-kaitkan dengan HAM. Kelompok pembela Ahmadiyah mengatakan melarang dan membubarkan Ahmadiyah adalah bentuk pelanggaran HAM. Hmmm… bagaimana dengan penodaan agama lslam oleh ajaran Ahmadiyah, apakah itu juga bukan pelanggaran HAM ummat Islam mainstream yang tidak menginginkan agamanya dinodai? Jadi, selalu ada alasan balik untuk membantah sebuah klaim.

Kelompok pembela Ahmadiyah mengatakan bahwa pelarangan dan pembubaran Ahmadiyah merupakan pelanggaran terhadap kebebasan beragama yang dijamin oleh UUD. Baiklah, tapi apakah kebebasan beragama berarti boleh mengacak-acak ajaran suatu agama yang sudah baku? Kebebasan bergama adalah kebebasan untuk memeluk suatu agama dan menjalankan ibadah sesuai agama yang diyakininya. Kebebasan beragama tidak berarti kebebasan untuk mempermainkan ajaran agama dengan menambah dan menguranginya.

Kelompok pembela Ahmadiyah mengatakan, hanya Tuhan pemilik kebenaran, ulama atau kelompok ulama (MUI yang selalu “ditembak” kelompok ini) tidak punya hak untuk memutuskan sebuah kelompok sesat atau tidak. Baiklah, kalau begitu untuk apa Tuhan menurunkan Alquran dan Rasulullah mewariskan al-Hadis kalau tidak dijadikan sebagai sebagai pegangan hidup dan pedoman bagi ummat Islam? Di dalam Alquran dan al-hadis berisi ayat-ayat dan wasiat Nabi Muhammad yang dijadikan tuntunan bagi ummat Islam untuk memutuskan mana yang ebnar dan mana yang salah. Berkata Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang bunyinya seperti ini: “Aku tinggalkan dua hal ini kepadamu (Alquran dan Al-Hadis), jika kamu berpegang teguh kepada keduanya maka kamu tidak akan tersesat”. Para ulama tidak main-main dalam menilai sebuah ajaran, mereka menggunakan kitab suci dan hadis nabi sebagai dalilnya. Seperti yang sudah dijelaskan di bagian awal, soal kenabian sudah final, sudah tidak ada lagi ruang perbedaan pendapat.

Menurut saya, Pemerintah harus tegas untuk menentukan status Ahmadiyah. Kalau tidak, maka konflik horizontal akan terus terjadi antara kelompok Ahmadiyah dengan umat Islam mainstream tadi. Perusakan, penyerangan, atau anarkisme terjadap jemaah Ahmadiyah bukanlah ajaran Islam, hal itu sangat tidak dibenarkan, sebab bagimananpun jemaah Ahmadiyah itu adalah saudara sebangsa juga yang dilindungi oleh hukum. Anarkisme terhadap jemaah Ahmadiyah adalah masalah hukum dimana polisi harus menindak pelaku anarkis. Sebelum anarkisme massa semakin brutal, maka Pemerintah dituntut ketegasannya. Di negara-negara Islam lainnya ajaran Ahmadiyah sudah dilarang, hanya di Indonesia yang belum. Organisasi OKI pun sudah menyatakan Ahmadiyah sebagai aliran di luar Islam. Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah berdosa karena selama ini telah membiarkan jemaah Ahmadiyah menginjak tanah suci Mekah dan Madinah untuk berhaji (yang sebenarnya haram bagi orang non-Muslim).

Bagi jemaah Ahmadiyah sendiri, penyelesaiannya menurut saya hanya ada dua pilihan. Pilihan pertama adalah menyatakan bahwa ajarannya tidak sama dengan Islam (berarti membentuk agama baru). Jika ini pilihannya, maka mereka akan diterima sebagai pemeluk agama baru yang berdampingan dengan agama lain di Indonesia. Kasus ini mirip seperti agama Sikh di India yang menggabungkan ajaran Islam dan Hindu dan membentuk agama baru yaitu Sikh. Jika mereka tidak mau disebut non-muslim, maka pilihan kedua adalah kembali ke ajaran Islam yang mainstream dengan melepaskan pengakuan MGA sebagai nabi sesudah Nabi Muhammad SAW. Tidak ada pilihan ketiga, sebab pilihan ketiga akan membuat masalah ini akan terus berlarut-larut tanpa penyelesaian, bagaikan kerikil yang berada di dalam sepatu.

Kategori: Agama

Mengapa Mudah Melalaikan Kewajiban Shalat?

25 Januari 2008 · & Komentar

Sebuah statsiun TV swasta menyiarkan secara langsung acara Super Mama, sebuah acara pencarian bakat yang sedang naik daun, mengekor kesuksesan program pendahulunya, Mammamia. Program ini melibatkan ratusan penonton yang hadir di studio sebagai juri, pembawa acara (host), dan 3 orang juri yang semuanya selebriti. Tidak ada yang istimewa dengan acara ini. Acara dipenuhi dengan guyonan para juri dengan pembawa acara dan peserta (calon seleb dan mamanya), penampilan performance show si calon seleb dengan ibunya, dan banyolan-banyolan splastick yang kadang-kadang yaahhh… memuakkan sebab tidak jauh-jauh dari pelecehan fisik dan kata-kata yang tidak pantas didengar (mengarah ke porno). Saya jarang sekali menonton acara ini, hanya melihat sekali-sekali ketika kebetulan pindah ke saluran TV ini karena ada tayangan iklan di saluran lain.

Yang menjadi perhatian saya adalah acara ini disiarkan secara langsung mulai pukul 6 sore hingga tengah malam terus menerus (nonstop). Pas waktu masuk shalat maghrib acara dihentikan sejenak guna mengumandangkan adzan Maghrib. Setelah itu, acara dilanjutkan kembali. Saya perhatikan para penonton di dalam studio apakah ada di antara mereka yang beranjak untuk shalat. Ternyata tidak. Mereka tetap duduk di tempatnya masing-masing. Diantara penonton itu terlihat ibu-ibu dan wanita yang memakai busana muslimah. Dengan asumsi bahwa penonton di studio mayoritas muslim, saya bertanya-tanya kapankah mereka menunaikan shalat maghrib? Ketika orang-orang di masjid, di rumah, dan di mushala menunaikan shalat maghrib, para juri dan penonton di studio tetap terkekeh-kekeh tertawa di studio.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian.

Waktu shalat Maghrib telah berlalu dan waktu shalat Isya pun datang. Sekali lagi saya amati posisi duduk penonton di studio, ternyata tetap tidak berubah. Mereka tetap asik terpingkal-pingkal menikmati guyonan dewan juri dan aksi panggung calon seleb. Hal ini terus berlangsung hingga tengah malam. Saya mengasumsikan para penonton di studio itu memang tidak melakukan shalat karena berbagai alasan, dugaan saya adalah: (1) dilarang produser untuk meninggalkan tempat duduk untuk menunaikan shalat karena dapat merusak acara, (2) merasa malu melakukan shalat karena hampir sebagian besar penonton lain tidak ada yang shalat, (3) tidak tersedia tempat shalat di dekat studio, (4) memang tidak pernah atau jarang melakukan shalat. Kecuali kalau ada penonton wanita sedang datang bulan memang tidak ada kewajiban shalat bagi mereka.  

Begitulah, banyak orang (muslim) yang  dengan mudah melalaikan kewajiban shalat karena terlena dengan gemerlap dunia. Untuk menemui Tuhan mereka saja yang hanya butuh waktu 10 menit mereka tidak mau. Fenomena seperti ini banyak kita temukan pada acara-acara TV yang melewati waktu shalat Maghrib, atau pada pertandingan sepakbola yang dimulai sebelum waktu Ashar dan selesai ketika adzan Maghrib berkumandang, acara kunjungan yang memakan waktu, jalan-jalan ke tempat rekreasi, dan sebagainya. Banyak orang yang merasa enggan menunaikan shalat pada situasi seperti itu karena mungkin  merasa repot, sungkan, malu, dan sebagainya. Jika ada satu dua orang yang tetap menunaikan shalat di tempat umum pada situasi dan kondisi seperti itu, saya pikir itu luar biasa sebab dia menjadi orang yang tidak biasa di tengah orang-orang lain yang enggan atau tidak menunaikan shalat.

Imam Al-Ghazali, seorang ulama Islam terkenal, pernah membuat sebuah teka-teki kepada murid-muridnya, yang salah satunya adalah: apa yang paling ringan di dunia ini. Murid-muridnya ada yang menjawab kapaslah yang paling ringan, sebagian lagi menjawab debu, sebagian lagi menjawab angin. Jawab Imam Ghazali, semua jawaban itu benar adanya, tetapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SHALAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita dengan gampang meninggalkan shalat.

Dalam sebuah rapat di kampus saya pernah sangat gelisah karena rapat yang dimulai pukul 16.00 belum juga selesai hingga waktu maghrib sudah berllau beberapa puluh menit. Tidak ada keinginan si pemimpin rapat menghentikan (break) sejenak untuk memberikan kesempatan pada peserta rapat untuk shalat. Pemimpin rapat dan peserta lain asik saja melanjutkan diskusi. Saya yang duduk di dalam ruangan itu sudah tidak tahan lagi dan tidak berminat mendengarkan mereka. Pikiran saya sudah tidak konsentrasi lagi dan ingin segera lari keluar karena waktu shalat maghrib hampir habis. Duh.

Betapa merugi orang-orang yang  melalaikan kewjaiban shalat. Amalan pertama yang dihisab oleh Allah SWT dihari akhir adalah shalat. Shalat adalah tiang agama. Kalau shalat selalu ditegakkan 5 kali dalam sehari semalam, maka insya Allah hal yang lain-lainnya juga baik, dengan catatan shalatnya dikerjakan dengan benar. Setiap bacaan di dalam shalat mulai dari doa iftitah hingga tahyat adalah doa pengharapan kepada Allah SWT agar selalu berada pada jalan yang lurus. Dengan shalat berarti kita selalu mengingat Allah SWT sehingga kita terhindar dari berbuat dosa (maksiat misalnya). Shalat juga mendidik kita kedisiplinan waktu, sedangkan shalat berjamaah mengajarkan kita selalu merapatkan barisan untuk bersatu. Banyaklah manfaat shalat pada diri seseorang, namun banyak manusia tidak mau mendapat manfaat itu. Dunia yang fana ini memang sudah melenakan banyak orang.

Kategori: Agama · Renunganku

Dugem adalah Pintu Gerbang Menuju Maksiat

29 November 2007 · & Komentar

Seorang alumnus IF berkata, di Jakarta, waktu Jumat sore hingga malam adalah waktunya untuk ber-dugem. Dugem atau dunia gemerlap, adalah istilah populer untuk menunjukkan gaya hidup orang di kota besar pada akhir pekan.  Jumat malam, selepas kerja atau kuliah, digunakan sebagian orang untuk melepas ketegangan dan kepenatan setelah 5 hari bekerja atau kuliah dengan mendatangi tempat-tempat hiburan. Kafe, bar,  pub, mal, diksotik, tempat biliar, dan tempat hiburan malam lainnya padat dengan orang-orang yang berdugem di Jumat malam. Sekadar kongkow-kongkow dengan teman, hang out, menikmati musik, ajojing, hingga minum-minum beralkohol.  Itulah dunia perkotaan zaman kini. Kenikmatan semu yang dicari oleh orang-orang yang gersang kearifan hidup. Benar-benar prihatin melihat gaya hidup anak muda zaman sekarang.

Di Bandung, sejak mudahnya akses jalan dari Jakarta, fenomena dugem makin menjadi.  Warga Jakarta  yang gemar ber-dugem mengalihkan kebiasaannya di Bandung. Jumat malam dan Sabtu malam Bandung sangat ramai dengan pendatang dari Jakarta. Bisnis hiburan malam berkembang pesat. Tidak sukar bagi kita menemukan billboard di pinggir-pinggir jalan besar yang menampilkan iklan minuman keras,  iklan acara-acara musik di kafe, pub, klab malam, dan hotel-hotel pada Jumat malam (yang biasanya disponsori oleh perusahaan rokok atau minuman keras) . Tidak heran Bandung saat ini dijuluki sebagai kota hiburan, selain sebutan sebagai kota wisata belanja dan makan-makan.  

Mencari hiburan tentu boleh-boleh saja, karena manusia itu dihinggapi dengan rasa jemu, bosan, lelah, dan sebagainya. Tetapi bila mencari hiburan dengan berdugem ria, tanpa disadari kebiasaan tersebut dapat menyeretnya ke perbuatan maksiat. Di tempat-tempat hiburan tersebut seseorang dapat terseret pada pergaulan bebas antara pria dan wanita, minum minuman beralkohol, mabuk-mabukan, hingga konsumsi narkoba.  Dugem tidak lengkap tanpa minuman alkohol. Dugem menawarkan kehidupan permisif, yaitu paham yang serba membolehkan.  Kehidupan modern yang gersang rohani membuat sebagian orang lari ke kehidupan malam. Maka, kehidupan malam di tempat-tempat dugem mengarahkan orang untuk berbuat maksiat, perbuatan yang dilarang agama. 

Ada pendapat yang mengatakan, ada skenario besar dari pihak asing untuk menghancurkan anak muda Indonesia agar jauh dari nilai-nilai agama dan menggantikannya dengan nilai-nilai permisif. Maraknya peredaran narkoba, minuman keras, pornografi, kehidupan malam lewat dugem, adalah  beberapa indikasi yang mendukung pendapat tadi.  Wallahu alam.

Daripada ber-dugem ria pada Jumat malam (dan Sabtu malam), mengapa tidak menggunakan waktu malam itu untuk bertafakkur di masjid atau di rumah? Berzikir mengingat Allah SWT, melakukan ibadah malam,  membaca Alquran, atau mengikuti pengajian? Semua itu jauh lebih bermanfaat dan menimbulkan kedamaian dan mendekatkan diri kita kepada Sang Khalik ketimbang berdugem yang cenderung mendekatkan diri kita kepada bujuk rayu syaitan.

Kategori: Agama · Renunganku

Peduli Makanan Halal Sejak Dini

27 November 2007 · & Komentar

Anak saya yang nomor dua masih berumur 6 tahun, tetapi paling kritis soal makanan. Setiap dibawa ke supermarket dia hanya mau membeli makanan atau minuman yang ada label halalnya. Misalnya kalau membeli makanan ringan sejenis Taro atau apa tuh namanya, dia akan lihat dulu di bungkus makanan tersebut apakah ada tulisan “halal” (dalam Bahasa Arab) di kemasannya. Kalau ada, baru dia mau mengambil, kalau tidak maka dikembalikan lagi ke tempat semula. Begitu juga kalau saya pulang membawa makanan atau dalam kemasan, maka dia akan cek dulu. “Ada halalnya, nggak?”, tanya dia. Pernah saya membeli makanan ringan, lalu setelah dia lihat tidak ada label halalnya, hampir saja makanan tersebut dibuangnya, dia ngambek. Raut mukanya tampak kecewa. Tetapi setelah disuruh ibunya untuk melihat lagi lebih teliti, ternyata ada label halalnya, barulah dia tampak gembira dan memakannya.  Mungkin ini karena didikan ibunya yang selalu kritis terhadap kehalalan makanan, khususnya jajanan anak-anak.

Dulu, sewaktu jurusan (IF) saya jalan-jalan ke Bali, kami menginap di sebuah hotel berbintang. Waktu mau sarapan pagi, saya bertanya kepada seorang koki apakah makanan yang disajikan halal buat muslim. Koki itu menjawab, ya, halal. Tetapi, di sudut sana saya melihat seorang koki terlihat sedang menyiapkan pesanan seorang bule, yaitu omelet isi bacon.  Hii… bacon, kan daging babi. Saya pun jadi ragu memakan makanan yang dihidangkan, jangan-jangan semua alat masaknya termasuk piring-piringnyanya sudah tersentuh daging babi. Kalau sudah tersentuh daging babi berarti sudah najis. Akhirnya saya hanya makan roti dan susu saja, sementara teman-teman saya yang lain tidak mempermasalahkan hal itu, mereka tetap saja makan yang tersaji di meja prasmanan.  

Dalam Islam, soal kehalalan makanan merupakan soal prinsip, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Orang Islam yang meski hanya “Islam KTP” sekalipun  (mengaku Islam meskipun tidak menjalankan kewajiban agama) akan menolak mentah-mentah makanan yang terbuat dari daging babi. Ingat heboh isu lemak babi pada tahun 80-an, sampai-sampai banyak produk makanan lain yang terkena getahnya (diduga mengandung protein dari lemak babi), atau terakhir isu tidak halal yang menimpa es krim Wall’s (tapi udah dibantah dan produsen es krim ini mengeluarkan biaya yang besar untuk beriklan guna menenangkan pasar). Dahsyatnya soal makanan haram, para TKI yang bekerja di Malaysia bahkan rela disiksa majikannya karena tidak bersedia makan daging babi (majikan yang mempekerjakan TKI di Malaysia kebanyakan dari keturunan Tionghoa dan biasa mengkonsumsi daging babi). Begitulah, sejak kecil makanan yang halal dan haram itu sudah diajarkan kepada anak, baik di sekolah maupun di rumah, sehingga hal itu tertanam terus hingga dewasa. 

Tetapi kebanyakan orang Islam hanya tahu makanan haram itu adalah daging babi dan minuman keras. Padahal, masih banyak yang belum paham kalau makanan haram itu banyak jenisnya. Antara lain: daging hewan yang tidak dipotong dengan membaca basmallah, makanan yang dipersembahkan untuk berhala (sesajen misalnya), darah (masih banyak lho orang yang suka minum darah untuk alasan tidak masuk akal), hewan yang hidup di dua alam (penyu, katak), hewan tertentu (anjing, ular) , termasuk makanan hasil korupsi dan manipulasi, makanan hasil judi dan mencuri, makanan/minuman yang merusak kesehatan (narkoba, rokok, dll).

Dari kacamata agama, makanan berkaitan dengan  ibadah. Seseorang yang memakan makanan haram, maka ibadah orang tersebut tidak akan diterima oleh Allah SWT 40 hari 40 malam.  Karena itulah pentingnya menanamkan kesadaran makanan halal itu sejak kecil. Sayangnya, di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, soal makanan halal dan haram ini belum mendapat perhatian serius.  Memang ada LPPOM MUI yang memberi sertifikasi halal pada produk-produk makanan. Tetapi LPPOM MUI itu hanya memberi sertifikat halal jika pengusaha produk itu yang mengajukan permintaan, bukan LPPOM MUI-nya yang pro aktif. Kebanyakan pengusaha yang ‘nakal’ hanya mencantumkan label halal pada kemasan produknya tanpa mengajukan sertifikasi. Mencantumkan label  halal mudah saja, tetapi tentu tdiak ada jaminan produk makanan yang mereka hasilkan benar-benar halal.

Kalau melihat fakta, sesungguhnya jumlah produk makanan yang halal jauh lebih banyak daripada makanan haram. Jadi, yang haram itu hanya sedikit. Maka, sebaiknya label yang perlu diberikan pada kemasan makanan adalah label “haram” saja (maksudnya haram buat konsumen muslim). Dengan demikian, ada ketenangan pada konsumen yang muslim untuk mengkonsusmi dan mereka tidak perlu direpotkan lagi memeriksa kehalalan ribuan jenis produk makanan yang beredar di pasaran.  

Kategori: Agama

Berhati-hati Minum “Wine”

23 November 2007 · & Komentar

Suatu kali, seorang rekan menawari saya minum anggur (wine) dalam sebuah acara. Yang dia maksud wine adalah minuman anggur yang berkadar alkohol dan biasa disajikan di dalam kafe, hotel, dan klab malam. Secara halus saya mengucapkan terima kasih, saya memilih coca cola sajalah.

Saat ini minum wine sudah menjadi gaya hidup di kota besar. Banyak tempat makan dan  minum yang menyajikan wine ini. Restoran yang berkonsep dine & wine (maksudnya makan malam sekaligus minum anggur) banyak bermunculan. Di Bandung terdapat komunitas penggemar wine, seperti yang pernah dimuat di harian Pikiran Rakyat. Komunitas ini sering berkumpul dan berbagi info mengenai segala sesuatu mengenai wine, seperti cita rasa wine, resto wine, dan acara-acara minum wine.  Minum wine dianggap sebuah prestise dan akhirnya menjadi gaya hidup.

Wine Minuman anggur ada dua, yang pertama wine yang mengandung alkohol, dan kedua tanpa alkohol. Jika tanpa alkohol, maka minuman anggur wine tersebut tidak lebih dari jus anggur. Waktu lebaran dulu, saya dikirimi parsel yang salah satu isinya adalah sebuah botol minuman anggur wine. Setelah saya baca dengan teliti, minman anggur wine tersebut tidak mengandung alkohol dan tertulis minuman jus. Barulah saya berani meminumnya. Tetapi jika minuman anggur wine tersebut melalui proses fermentasi (menghasilkan wine), maka jelas ia mengandung alkohol, maka meminum wine dalam jumlah tertentu dapat memabukkan. Dari sini maka kita dapat menyimpulkan meminum wine yang jelas-jelas mengandung alkohol hukumnya haram bagi umat Islam. Inilah yang tidak disadari oleh sebagian orang, khususnya yang beragama Islam, yang gemar minum wine dan menjadikan minum wine sebagai gaya hidup. Orang lain minum wine,  kita pun ikut-ikutan tanpa memikirkan halal haramnya.

Minum wine bukan tradisi orang Indonesia. Ini adalah tradisi orang Barat. Bagi mereka, minum wine lumrah saja, apalagi sampai mabuk. Tetapi bagi kita, khususnya muslim, tentu harus memikirkan juga syariat agama. Meminum wine yang beralkohol banyak mudharatnya ketimbang manfaatntya. Selain mabuk, alkohol dapat merusak tubuh dan menimbulkan berbagai penyakit (kanker misalnya).   

Jadi, daripada minum wine yang mengandung alkohol, mengapa tidak jus buah saja?Jus buah sehat dan menyehatkan, dan yang pasti halal. Atau, kalau nggak, minum bandrek dan bajigur saja, atuh.

Kategori: Agama · Gado-gado