Catatanku

Entries categorized as ‘Budi Pekerti’

Hiburan di Tengah “Kesedihan”

16 Juli 2009 · & Komentar

Okelah, lupakan saja “kesedihan” kampus almamater karena ulah belasan mahasiswanya yang menjadi joki SNMPTN di Makassar. Mereka sudah mendapat hukuman sosial dari masyarakat, sementara hukuman dari ITB tinggal menunggu waktu saja (komunitas ITB menginginkan mahasiswa yang terlibat joki itu dikeluarkan saja).

Di tengah “kesedihan” itu, lumayan ada sedikit hiburan. Empat mahasiswa dari Prodi Informatika ITB yang tergabung dalam Tim Big Bang berhasil mengharumkan nama bangsa dengan memenangkan Mobile Device Award, pada kompetisi desain software internasional, Imagine Cup 2009 di Kairo, Mesir. Empat mahasiswa kami itu adalah David Samuel, Dody Dharma, Dominikus Damas Putranto, dan Samuel Simon. Tentu kalian sudah membaca berita-beritanya di koran maupun situs online. Kalau belum, baca pranala ini. Berita lainnya dapat dibaca di portal berita ini dan cerita lebih jauhnya baca di sini.

bigbang285

Bagi mahasiswa-mahasiswa yang menggunakan otaknya untuk prestasi yang sangat positif itu, banggalah kita. Tetapi, untuk mahasiswa yang menggadaikan otaknya untuk prestasi kecurangan dalam ujian dan tugas-tugas kuliah, itu adalah musibah bagi kita. Mengapa hal ini bisa terjadi berulang kali?

Yang memprihatinkan, perilaku kecurangan dalam ujian itu sudah berakar sejak pendidikan dasar dan menengah. Dan yang lebih menyedihkan lagi, kecurangan itu dilakukan oleh oknum guru, orang yang sepantasnya memberi teladan baik. Guru saja sudah berbuat curang dalam ujian, bagaimana muridnya? Masih ingat oleh kita berita beberapa tahun lalu, seorang guru di Medan dipecat dari sekolahnya karena melaporkan kecurangan yang dilakukan pihak sekolah dalam Ujian Akhir Nasional. Demi meluluskan murid-muridnya dalam UAN yang “menakutkan” itu — yang juga akan mengangkat gengsi sekolah — para guru diinstruksikan membagikan jawaban ujian kepada murid di ruang ujian. Tapi ada satu guru yang masih punya hati nurani, dia tahu perbuatan teman-temannya itu salah besar, lalu melaporkannya ke Disdik. Bukan dukungan yang dia dapat, malah dia dipecat karena telah menjelekkan nama sekolah.

Seorang rekan dosen yang pernah menjadi rektor sebuah universitas bercerita tentang perilaku mahasiswa di universitasnya itu. Sebagian besar mahasiswa universitas X itu adalah guru SD lulusan SPG yang mengambil D2 Pendidikan Guru SD. Menjelang ujian semester banyak beredar kunci jawaban yang ditawarkan. Yang sangat memprihatinkan, ada GURU mahasiswa universitas X tersebut yang mengeluh/protes karena membeli kunci jawaban palsu! Membeli kunci jawaban saja sudah memalukan, apalagi protes itu.

Kemanakah nilai-nilai kejujuran hendak dilabuhkan? Di zaman serba matre seperti ini masih banyak orang yang mengukur kerberhasilan pendidikan dari capaian nilai-nilai akademis semata, sementara nilai-nilai karakter individu seperti kejujuran diabaikan. Seolah-olah tujuan sekolah adalah untuk mendapat nilai tinggi, lalu mendapat sekolah/PT favorit, biar nanti mudah mendapat pekerjaan di perusahaan besar dengan gaji tinggi. Proses tidak penting, kalau perlu menyontek, menyogok, memanipulasi, dan sebagainya, yang penting adalah hasil akhir. Kemana negara ini mau dibawa ya?

Kategori: Budi Pekerti

Hentikan Saja Tayangan Itu Untuk Selamanya

12 Juni 2009 · & Komentar

Pelawak Tukul dan acaranya “Bukan Empat Mata” di sebuah TV swasta kembali kena semprit KPI (Komisi Penyiaran Indonesia). Program “Bukan Empat Mata” itu harus dihentikan untuk sementara. Ini kali kedua acaranya Tukul kena peringatan. Dulu acaranya yang berjudul “Empat Mata” dihentikan oleh KPI karena mengandung adegan kekerasan, kali ini acara yang merupakan ganti kulit dari acara yang lama dihentikan lagi karena ada unsur pornografi. Begitulah yang saya baca di koran tadi pagi.

Buat bapak-bapak dan ibu-ibu di KPI, saya kira acaranya Tukul ini tidak usah dihentikan sementara, tetapi untuk selamanya saja, dan saya pikir Tukul tidak diperbolehkan lagi menjadi host acara serupa. Kenapa? Tidak kapok-kapok, itu kata yang pas untuk menggambarkan pengelola acara (Tukul cs). Perilaku Tukul dalam acara itu jauh dari nilai-nilai kesopanan. Ada pelecehan terhadap kaum perempuan di dalam acara itu. Dia suka mencolek-colek dan memegang-megang tamu wanita maupun rekan mainnya yang perempuan. Seakan-akan perempuan itu istrinya atau saudaranya saja. Namun yang paling menyebalkan dan sangat tidak pantas adalah kata-kata dan sikapnya yang merendahkan martabat orang lain lantaran kekurangan fisik orang tersebut. Kelemahan fisik tamunya dijadikan bahan olok-olokan dan tertawaan. Baca tulisan saya yang terdahulu soal perilaku Tukul itu.

Sebenarnya banyak acara-acara TV yang bermasalah, tidak hanya acara Tukul tersebut. Sinetron-sinetron picisan dan kejar tayang banyak berhamburan kata sumpah serapah, makian, hinaan, adegan kekerasan, gaya hidup mewah, dan sebagainya menghiasi layar kaca setiap hari. Belum lagi acara reality show yang banyak mempertontonkan tindakan asusila. Manajemen televisi berlomba membuat acara yang mendatangkan keuntungan materi semata. Rating adalah kata sakti yang didewakan manajemen televisi. Sayangnya dalam mengejar rating tinggi, aspek moral dan etika sering terabaikan, baik oleh artis maupun oleh manajemen TV. Pihak artis dan manajemen TV sering berkilah bahwa tidak ada standard ukuran nilai-nilai moral di Indonesia. Buruk bagi seseorang belum tentu buruk pula menurut pandangan orang lain. Semua tergantung pribadi masing-masing, begitu alasan klise yang sering kita dengar. Dengan memanfaatkan perdebatan nilai-nilai yang tidak habis-habisnya itu — serta didukung oleh kelompok-kelompok liberal — pihak artis dan televisi seakan menutup mata dan telinga mereka dari suara-suara yang dianggap mewakili kelompok konservatif. Bak anjing menggonggong kafilah tetap lalu. Padahal televisi merupakan media yang paling banyak mempengaruhi persepsi dan nilai-nilai sosial di masyarakat. Perubahan nilai-nilai di masyarakat salah satunya karena dampak tayangan televisi.

Saya pikir banyak acara-acara TV sekarang ini yang tidak layak untuk ditonton, apalagi oleh keluarga yang punya anak kecil. Jalan yang paling aman memang matikan saja pesawat TV, habis perkara. Namun tidak semua orang berpikiran seperti itu, jutaan orang lain tidak atau belum peduli tentang hal ini. Bagi kebanyakan orang di Indonesia yang tingkat pendidikannya masih rendah, televisi adalah sarana hiburan keluarga yang murah meriah dan seolah wajib ada di rumah. Merekalah sebenarnya sasaran empuk infiltrasi nilai-nilai yang kurang baik dari acara-acara TV sampah itu. Parahnya lagi tidak semua orang Indonesia memiliki iman, nilai moral dan agama yang kuat. Sekali dua kali infiltrasi nilai-nilai itu belum terasa pengaruhnya, tapi kalau sering dilihat maka pengaruhnya terhadap perilaku baru dirasakan setelah jangka waktu yang agak panjang. Jika benteng moral dan agama tidak kuat, maka anak-anak kita kelak menjadi orang yang permisif terhadap perbuatan asusila.

Menyerahkan solusi masalah ini dengan pendidikan agama dan etika seakan-akan menyederhanakan masalah dan terkesan menghindari tanggung bagi pihak artis dan manajemen televisi. Pendidikan agama dan budi pekerti memang perlu dan harus selalu diberikan kepada anak kita, namun sumber masalah yang menyebabkan terjadinya degradasi moral itu juga harus tetap diselesaikan. Dalam kasus ini, masalahnya ada pada produser dan artis yang terlibat di dalamnya. Program televisi mereka itu dilarang saja agar menimbulkan efek jera. Indonesia ini tidak hanya berisi orang-orang seperti mereka, tetapi masih banyak berisi orang-orang yang menginginkan negara ini menjadi negara yang beradab.

Kategori: Budi Pekerti · Indonesiaku

Soal Komitmen yang Payah

10 Maret 2009 · & Komentar

Rekan saya yang mengurusi kemahasiswaan ITB mengeluarkan uneg-uneg kekesalannya. Katanya, mahasiswa sekarang ini payah sekali komitmennya. Janji tinggal janji. Berjanji mau datang, tetapi tidak nongol-nongol. Dia mencontohkan pengalaman pahit. Sebuah perusahaan di Jakarta mengundang mahasiswa untuk menghadiri acara peluncuran produknya. Perusahaan itu menawarkan 15 orang mahasiswa untuk diundang. Disediakan angkutan gratis pp Bandung-Jakarta, plus akomodasi lain dan sejumlah hadiah sponshorship lainnya. Bagian Kemahasiswaan segera mengumumkan hal ini kepada mahasiswa, siapa yang tertarik silakan mendaftar. First come first serve. Menjelang hari terakhir pendaftaran, yang berminat untuk ikut ternyata banyak sekali. Karena tempat duduk hanya untuk 15 orang pertama yang mendaftar, maka mahasiswa lainnya yang tidak kebagian memohon agar jumlah peserta ditambah lagi. Okelah, staf bagian kemahasiswaan melobi perusahan di Jakarta itu agar jumlah perwakilan mahasiswa ditambah. Lobi disambut baik, perusahaan menyediakan tambahan tempat untuk 25 orang, hampir dua kali jumlah semula.

Di hari H, pagi-pagi sekali, mobil jemputan dari Jakarta sudah menunggu di gerbang kampus. Acara di Jakarta akan dimulai pukul 10.00 pagi. Ada 4 mobil yang disediakan perusahaan pengundang. Hingga pukul 7.00 — batas waktu terakhir penantian — mahasiswa yang datang tidak sampai 8 orang. Kemana yang lainnya? Kemana mahasiswa yang memohon-mohon agar jumlah peserta ditambah? Staf bagian kemahasiswaan sibuk menelpon atau me-SMS ria para mahasiswa yang terpilih dan berjanji mau datang. Sibuk menananyakan kenapa belum hadir jua? Beberapa SMS dijawab, ada yang menyatakan sedang kuliah, ada yang menyatakan ada kesibukan lain, dll. Bagian kemahasiswaan tidak dapat menutup rasa malunya ke perusahaan pengundang. Kemana muka ni mau disurukkan? Yang datang hanya 8 orang, 3 mobil lainnya percuma saja. Konsumsi sudah terlanjur dibeli. Kalau memang ada kuliah atau kesibukan, mengapa bela-belain mendaftar, mengapa memohon-mohon tempat duduk ditambah? Banyak mahasiswa lain yang berminat tetapi terpaksa ditolak karena tempat duduk terbatas.

Payah! Begitulah kita menyebut soal komitmen mahasiswa kita. Institusi tidak hanya malu, tetapi juga terkesan mempunyai citra yang kurang baik dimata perusahaan. Mungkin perusahaan itu berpikir seribu kali kalau nanti mengundang mahasiswa ITB lagi.

Itu contoh satu kasus komitmen yang payah. Seorang alumnus pernah bercerita, perusahaan tempat ia bekerja baru saja menerima pegawai baru yang merupakan adik kelas di jurusannya. Dari sekian banyak pelamar, beberapa orang diterima bekerja. Tetapi, baru 5 hari bekerja di sana, tiba-tiba pegawai baru tersebut mengajukan pengunduran diri karena ada tawaran lain yang lebih wah. Tidak ada rasa bersalah sedikitpun pada pegawai baru itu. Payah, kata alumnus tersebut. Pintar sih pintar orangnya, tetapi soal komitmen tidak bisa diandalkan, lanjut dia. Perusahaan harus kembali ke titik nol untuk mencari pegawai baru dan menjelaskan dari awal spesifikasi pekerjaan.

Pengalaman pribadi, saya pun pernah mengalami kekecewaan soal komitmen mahasiswa. Beberapa mahasiswa pernah datang untuk meminta sesi diskusi. Setelah dicari waktu yang luang antara mahasiswa dan saya, disepakati diskusi akan dilakukan pada hari dan jam sekian. Pada waktu yang telah ditentukan, ternyata mahasiswa yang mau ketemuan tidak nongol-nongol. Tidak ada kabar lewat SMS dari mereka kenapa tidak datang. Ditunggu sampai sore, akhirnya saya pulang saja. Untung saja saya tidak termasuk tipikal orang yang sangat sibuk, jadi yaa… easy going sajalah, masih bisa mengerjakan yang lain, tapi coba kalau hal ini menimpa orang lain yang super sibuk dimana dia harus membatalkan beberapa acaranya guna memenuhi janji dengan mahasiswanya, eh tahu-tahu mahasiswanya tidak datang-datang. Payah ‘kali kau, meminjam istilah orang Medan.

Tentu tidak semua mahasiswa kita seperti itu, tidak pula bisa kita rampatkan semuanya mempunyai sifat serupa. Namun ibarat kata pepatah, karena nila setitik rusak susu sebelanga. Karena ulah sebagian yang mempunyai etika kurang baik, akhirnya yang mendapat getah ya insitusi pendidikan juga.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, komitmen artinya perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu. Kalau sudah terikat dengan janji, ya harus ditepati. Itu konsekuensinya. Orang yang mempunyai komitmen yang tinggi pertanda orang yang baik, sebab dia mampu menghargai pihak lain. Selama ini pendidikan kita hanya melatih kecerdasan otak semata, sementara aspek lain kurang diperhatikan atau malah diabaikan. Anak didik sering dinilai dari IPK, nilai mata kuliah, kemampuan matematika, Bahasa Inggris, dan lain-lain, padahal sukses dalam kehidupan tidak hanya ditentukan oleh angka-angka di transkip akademik saja, tetapi juga integritas moral, kejujuran, amanah, tanggung jawab, etika, dan juga komitmen untuk melaksanakan sesuatu yang sudah disepakati.

Kategori: Budi Pekerti

Mencegah AIDS kok dengan Membagikan “K”?

16 Desember 2008 · & Komentar

Beberapa hari yang lalu ada peringatan hari AIDS sedunia. Di Indonesia hari AIDS juga diperingati dengan berbagai acara, salah satunya dengan pembagian kondom (selanjutnya disebut “k” saja ya, soalnya saya sendiri risih menyebutkanya, he..he) gratis bagi remaja dan anak-anak muda. “K” dibagikan pada acara-acara yang menyedot banyak remaja dan pemuda, misalnya acara konser musik. Setiap pengunjung konser musik diberi “oleh-oleh” berupa satu bungkus yang berisi beberapa buah “k”. Maksud si pemberi “k” mungkin begini: dengan penggunaan “k”, diharapkan penyebaran virus HIV-AIDS dapat diminimalisir.

Ada nalar yang tidak nyambung di sini. Apa hubungan antara pembagian “k” dengan pencegahan virus HIV?

Saya tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang-orang di departemen kesehatan atau pihak-pihak (seperti LSM) yang mengkampanyekan pencegahan penularan virus HIV dengan membagi-bagikan “k” kepada anak-anak muda. Jika membagikan “k” di tempat lokalisasi yang begituan mungkin masih masuk akal. Silahkanlah bagikan “k” kepada wanita penjaja diri dan lelaki hidung belang. Tapi lha ini kok diberikan kepada remaja yang notabene belum menikah. “K” adalah alat kontrasepsi, barang ini ditujukan kepada pasangan yang telah menikah untuk menunda kehamilan. Jika “k” diberikan kepada para remaja itu, maksudnya untuk apa? Apa menyuruh mereka melakukan hubungan seks dengan menggunakan “k’?

Menurut saya, pembagian “k” kepada remaja/anak muda sama saja dengan melegalkan perzinahan atau bahasa lannya seks bebas. Sama saja dengan mendorong kaum remaja itu untuk melakukan seks bebas tetapi supaya lebih aman pakailah “k” (maksudnya aman untuk mencegah kehamilan maupun aman untuk mencegah virus HIV). Na’udzubillah min dzalik.

Kita memang tidak memungkiri jika sekarang ini pergaulan bebas di kalangan remaja sangat “mengerikan”. Hubungan seks pra-nikah sudah biasa dilakukan remaja, sebagaimana tergambar pada hasil survei yang dilakukan berbagai lembaga yang menyatakan jumlah remaja yang melakukan seks pra-nikah semakin besar dari tahun ke tahun. Menurut BKKBN, 63% remaja Indonesia sudah melakukan hubungan seks diluar nikah (baca beritanya di sini). Maraknya industri pornografi, ikatan sosial di masyarakat yang semakin longgar, dan teralienansinya nilai-nilai agama/moral dari kehidupan adalah beberapa faktor pendorong orang berbuat zina. Tetapi fenomena ini bukan menjadi alasan untuk mengkampanyekan penggunaan “k” di kalangan remaja sebagai cara pencegahan HIV. Yang terjadi mungkin kontradiktif, yaitu timbulnya anggapan bahwa seks pra-nikah itu adalah legal sebab negara/lembaga tertentu memfasilitasinya dengan pemberian “k”.

Justru yang harus dikampanyekan kepada remaja adalah ajakan untuk tidak melakukan seks pra-nikah. Selain dosanya sangat besar, juga dapat menjadi sarana penularan berbagai penyakit menular seperti virus HIV itu. Di Amerika saja negeri yang sangat liberal sedang digalakkan kampanye kepada remajanya untuk menghindari hubungan seks pra-nikah, di Indonesia malah sebaliknya dengan membagi-bagikan “k”.

Disinilah pentingnya menanamkan pendidikan agama dan budi pekerti sejak dini kepada anak kita agar mereka mempunyai bekal iman yang kuat menghadapi tantangan dan godaan hidup di dunia ini. Ingatlah bahwa kita tidak selamanya hidup di dunia ini, pada masanya nanti akan tiba suatu hari dimana semua amal dan dosa kita mendapat balasan dari Allah SWT.

Akan datang hari, mulut dikunci
kata tak ada lagi
hanya tangan kita dan kaki kita jadi mulut kita

Berkata tangan kita, tentang apa yang dilakukannya
berkata kaki kita, kemana saja dia melangkahnya

Tidak tahu kita, bila harinya
tanggung jawab kita

(Chrisye, “Ketika Tangan dan Kaki Bicara”)

Kategori: Agama · Budi Pekerti · Indonesiaku

Ketika Anak Menyanyi

24 Juli 2008 · & Komentar

Suatu sore, ketika asik bermain dengan mainan yang dibelinya di sekolah, anak saya secara tidak sadar menggumamkan sebait lagu Ayat-ayat Cinta yang lagi populer:

Maafkan bila ku tak sempurna,
Cinta tak mungkin terhapus saja…

Olala, anak umur 6 tahun menyanyikan lagu cinta? Saya tidak habis pikir dia dapat darimana lagu itu. Tetapi, itu belum “parah”, suatu kali dia menyanyikan sepenggal lagu yang saya tidak hapal judul dan penyanyinya, tapi ada kata-katanya seperti ini:

kaulah makhluk Tuhan yang paling seksi, la .. la..

Ups. Sungguh kaget saya mendengar gumaman lagu itu. Cepat-cepat saya ingatkan dia bahwa lagu itu tidak pantas buatnya. Jangankan untuk anak saya, lagu itu juga tidak pantas pula buat saya sendiri, sebab syair lagu tersebut menyiratkan bahwa seolah-olah wanita itu hanya dipandang sebagai obyek seks semata.

Darimana anak saya mendengar lagu itu ya? Di rumah anak saya nonton TV hanya film kartun saja yang dia senangi. Acara-acara TV seperti video klip atau film hampir tidak pernah dia tonton. Lagipula saya membatasi anak menonton TV. Radio juga tidak pernah nyala. Lalu darimana?

Setelah berpikir cukup lama, barulah saya ngeh. Bukankah anak saya bermain dan bergaul dengan banyak anak lain, baik di rumah atau di sekolah. Mungkin saja dari pergaulan itu dia mendengar anak-anak lain menyanyikan lagu-lagu orang dewasa, lalu dia pun ikut-ikutan menirukannya di rumah.

Punya anak itu susah-susah gampang mendidiknya. Kita ingin anak kita menjadi anak sholeh, yang mendoakan ibu-bapaknya kala kita sudah tiada di dunia ini. Di rumah anak-anak sudah kita tanamkan nilai-nilai agama dan budi pekerti, kita didik shalat, berdoa, dan mengaji, tetapi kita tentu tidak bisa mengontrol perilakunya di luar selama 24 jam. Dia bergaul dengan anak-anak lain yang mungkin berbeda prinsip dan nilai-nilai. Apalagi anak-anak umumnya suka meniru apa yang dia lihat dan dia dengar. Mereka merasa senang jika bisa menirukan sesuatu. Terkadang di rumah anak saya mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Sunda yang maknanya kata orang Sunda kasar, tapi dia tidak tahu bahwa kata tersebut kasar, dia hanya mendengar temannya berkata begitu, maka di rumah kepada si bibi dia juga mengucapkannya sambil tertawa-tawa seolah-olah kata tersebut lucu baginya.

Kembali ke soal lagu tadi. Perhatikan acara kontes menyanyi anak-anak, baik di TV, mal, atau di perlombaan nyanyi anak-anak. Hampir semua peserta menyanyikan lagu orang dewasa yang lagi ngetop. Pernah dalam sebuah lomba menyanyi anak-anak di Taman Lalu-lintas Bandung, seorang anak memilih menyanyikan lagu Kucing Garong sambil bergoyang seperti penyanyi dangdut di TV. Pakaian dan dandanan anak itu seperti orang dewasa. Tidak terlihat lagi kepolosan anak-anak di wajahnya yang berbalut bedak dan lispstik. Orang-orang yang menyaksikannya mungkin tertawa karena ulah si anak yang dianggap lucu dan meggemaskan, tetapi siapa yang sadar bahwa perilaku anak tersebut sudah mengkhawatirkan. Entah bagaimana perasaan kita kalau lagu yang dinyanyikan anak-anak adalah lagu cabul seperti Belah Duren, Cucak Rowo, dan sebagainya.

Anak-anak saat ini tampaknya sudah kehilangan identitas anak-anaknya. Penyebabnya adalah orang-orang dewasa tidak mempedulikan masalah budi pekerti anak-anak. Anak-anak dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis semata. Artis-artis kita, terutama para pemusik, punya andil kesalahan karena mereka melahirkan karya seni yang tidak mendidik. Mereka mengarang lagu-lagu yang mempunyai konotasi cabul semata-mata untuk meraih popularitas dalam waktu singkat dengan memanfaatkan dalih kebebasan berekspresi. Meskipun lagu-lagu itu dikatakan untuk orang dewasa, kita yang orang dewasa saja merasa jengah mendengarnya, apalagi anak-anak.Para artis tidak sadar bahwa lagu mereka dapat membawa pengaruh buruk kepada budi pekerti anak-anak.

Kunci pendidikan memang ada di rumah-rumah. Masyarakat yang baik berawal dari keluarga yang baik. Tetapi, sebaik apapun kita mendidik anak di rumah, anak-anak nantinya pasti ke luar rumah juga. Mereka harus bersosialisasi dengan lingkungan. Lingkungan yang buruk dapat membuyarkan didikan baik yang sudah kita tanamkan. Di zaman yang banyak kemaksiatan dimana-mana, yang perlu kita siapkan adalah bekal agama dan moral buat anak kita. Kehidupan di luar rumah ada yang baik dan ada yang buruk. Di luar rumah anak-anak bertarung dengan nilai-nilai kehidupan. Jika nilai baik yang kita tanamkan sangat kokoh, maka dia aman, tetapi jika tidak maka siap-siap saja kita merasa khawatir. Makanya saya katakan di awal bahwa mendidik anak itu susah-susah gampang, tidak semudah orangtua zaman dulu dimana pengaruh buruk lingkungan tidak sebanyak seperti sekarang.

Kategori: Budi Pekerti

Korupsi Kecil-kecilan

22 Mei 2008 · & Komentar

Korupsi rupanya menjadi isu utama di negeri yang penuh carut marut ini. Definisi korupsi menurut saya adalah mengambil sesuatu yang bukan haknya dengan memanfaatkan posisinya sebagai pemegang amanah. Termasuk di dalamnya adalah menerima suap dan manipulasi. Dalam pengertian agama Islam, sesuatu yang bukan haknya itu jelas hukumnya haram.  

Langkah KPK menangkap pelaku korupsi kelas kakap patut diacungi jempol. Pelaku korupsi kelas kakap yang sudah ditangkap adalah politisi DPR, jaksa, pejabat pusat, kepala daerah, pejabat daerah, dan lain-lain. Kiprah KPK begitu luar biasa hingga kado pernikahan pejabat atau anak pejabat pun perlu disidik apakah mengandung unsur gratifikasi (pemberian hadiah kepada seseorang karena jabatan yang disandangnya). Untuk kasus terakhir ini, saya sangat salut kepada Pak Hidayat Nur Wahid (Ketua MPR), sebab beliaulah yang berinisiatif menelpon KPK untuk memeriksa apakah kado pernikahan keduanya itu mengandung unsur grattifikasi. Politisi PKS memang bersih dan jujur, pantas saja partai ini mendapat simpati banyak orang.

Koruptor kelas kakap memang banyak, tetapi sebenarnya koruptor kelas teri jauh lebih banyak lagi. Sayangnya KPK tidak menjangkau koruptor kelas teri. Koruptor kelas teri ini, atau korupsi kecil-kecilan, banyak terdapat di sekitar kita. Cobalah berbelanja di toko supermarket atau di toko swalayan yang sekarang menjamur di pemukiman penduduk. Kasir toko sering mengambil uang konsumen meskipun hanya 25 atau 50 rupiah atau kurang dari itu. Misalkan total nilai belanjaan kita Rp 9.850 dan kita menyerahkan uang Rp 10.000, maka biasanya kasir hanya mengembalikan uang Rp 100 saja dengan alasan tidak ada uang receh Rp 50 (saya yakin uang receh Rp 50 masih berlaku dan masih banyak beredar). Masih sukur kalau kasir menambahkan sebuah permen sebagai pengganti uang Rp 50 itu (meskipun cara ini tidak adil karena pembeli tidak minta diganti dengan permen). Kalau konsumen protes, misalnya tidak mau menerima kembalian berupa permen, biasanya si kasir memasang muka cemberut kepada konsumen itu.

Rp 50 memang kecil, orang pikir berapalah nilainya itu di zaman serba mahal ini. Kebanyakan konsumen tidak mempermasalahkan hal ini atau tidak ingin mencari ribut (tipikal orang Indonesia: suka mengalah). Tetapi, coba hitung, jika ada 1000 orang yang berbelanja dalam satu hari lalu dan dari setiap konsmen kasir mengambil Rp 50, maka dalam satu hari kasir mendapat uang tidak halal sejumlah Rp 50.000. Kalikan saja dalam satu bulan, itu sudah Rp 1.500.000, atau paling sedikit Rp 500.000 hingga Rp 1.000.000 bisalah didapat sang kasir (dan tokonya) kalau konsumen yang berbelanja tidak banyak. Banyak orang sudah mengeluhkan kejadian semacam ini, tetapi pemilik toko/supermarket biasanya tutup mata atau tidak mau tahu. Hak sebagai konsumen sudah biasa tidak mendapat perlindungan di negeri ini.

Kasus karupsi sang kasir tadi baru satu contoh. Masih banyak lagi hak-hak masyarakat yang diambil secara tidak jujur oleh pihak yang mempunyai otoritas.

Korupsi kecil-kecilan juga terjadi di lingkungan perguruan tinggi. Misalnya, dosen sering tidak masuk kuliah karena alasan sibuk (sibuk proyek, bisnis, dan urusan pribadi). Hak mahasiswa untuk mendapat layanan pengajaran menjadi berkurang. Sukur-sukur kalau kehilangan jam kuliah itu diganti pada waktu lain hari. Kalau tidak ada penggantian, maka dosen semacam ini telah melakukan korupsi waktu yang merupakan hak mahasiswa. 

Tidak hanya dosen, mahasiswa juga ada yang melakukan korupsi. Menjiplak laporan tugas/PR teman, mengambil kode program orang lain tanpa izin, mencontek dalam ujian, dan lain-lain, semua itu juga termasuk korupsi. Jika sejak muda sudah sering berbuat curang, maka kebiasaan itu lama-lama dianggap hal yang lumrah/wajar, dan akhirnya ketika dia menjadi pejabat atau mempunyai kedudukan, maka perilaku korupsi itu menjadi budaya.

Itulah pentingnya hidup jujur. Satu hal yang harus diingat bahwa ada kehidupan sesudah mati. Di sana semua perbuatan kita akan diadili.  

 

Kategori: Budi Pekerti · Indonesiaku

Pelajaran Penting

18 Maret 2008 · & Komentar

Saya pernah membaca sebuah artikel menarik yang berjudul “Pelajaran Penting”. Penulisnya tidak diketahui, maklum artikel ini saya peroleh dari e-mail yang lalu lalang di milis-milis. Pelajaran penting pertama adalah mengingat banyak orang. Begini cuplikannya:

Pada bulan ke-2 diawal kuliah saya, seorang Profesor memberikan quiz mendadak pada kami. Karena kebetulan cukup menyimak semua kuliah-kuliahnya, saya cukup cepat menyelesaikan soal-soal quiz, sampai pada soal yang terakhir. Isi Soal terakhir ini adalah : Siapa nama depan wanita yang menjadi petugas pembersih sekolah ?. Saya yakin soal ini cuma “bercanda”. Saya sering melihat perempuan ini. Tinggi, berambut gelap dan berusia sekitar 50-an, tapi bagaimana saya tahu nama depannya… ?

Saya kumpulkan saja kertas ujian saya, tentu saja dengan jawaban soal terakhir kosong. Sebelum kelas usai, seorang rekan bertanya pada Profesor itu, mengenai soal terakhir akan “dihitung” atau tidak. “Tentu Saja Dihitung !!” kata si Profesor. “Pada perjalanan karirmu, kamu akan ketemu banyak orang. Semuanya penting ! Semua harus kamu perhatikan dan pelihara, walaupun itu cuma dengan sepotong senyuman, atau sekilas “hallo”! Saya selalu ingat pelajaran itu. Saya kemudian tahu, bahwa nama depan ibu pembersih sekolah adalah “Dorothy”.

Nah, itu dia pelajaran pentingnya, yakni pentingnya kita mengenal nama-nama orang yang kita temui dalam hidup ini. Sekecil apapun perannya, mereka telah ikut berjasa mengantarkan kita menjadi orang sukses. Suatu kali, ketika akan memulai mengajar, seorang pegawai teknisi masuk kelas untuk memasang laptop dan proyektor LCD. Begitulah tugasnya setiap kali ada kuliah. Setelah pegawai itu pergi, saya tanya kepada mahasiswa, apakah mereka tahu nama Bapak tadi. Tidak ada yang tahu. Padahal, tanpa mereka tentu kuliah tidak berjalan sempurna karena tidak ada LCD yang bisa memproyeksikan Powerpoint. Ujung-ujungnya mahasiswa juga yang tidak mendapat layanan kuliah dengan baik, bukan?

Hal yang sama terjadi ketika ada seminar Tugas Akhir atau seminar Kerja Praktek. Mahasiswa yang akan seminar biasanya akan meminta pegawai teknisi untuk memasang laptop dan LCD. Mereka datang ke bagian teknisi dan celinagk-celinguk mencari pegawai mana yang mengurusi soal pemasangan itu. Karena tidak tahu nama, maka mahsiswa hanya memanggil “Pak” saja, tanpa pakai nama. “Pak, tolong pasangin infocus, dong“, kata mahasiswa itu ke seorang pegawai. Untunglah pegawai di kantor saya umumnya ramah-ramah (benar lho, pegawai di IF adalah orang-orang yang sangat sabar dan baik), jadi mereka akan layani mahasiswa dengan baik. Saya tanya kepada mahasiswa, apakah dia tahu nama pegawai itu? Tidak tahu.

Sebenarnya kejadian di atas belum seberapa ‘parah’. Banyak juga mahasiswa tidak kenal nama dosen yang mengajarnya. Ketika saya menjadi dosen wali TPB, saya tanyakan kepada mahasiswa siapa nama dosen yang mengajar Kimia atau Fisika di kelasnya? Tidak tahu. Hanya beberapa orang yang mengingat nama dosennya dengan baik. Lalu saya tanya, siapa nama rektor ITB. Luar biasa, sebagian besar mereka tidak hafal nama rektornya sendiri.

Mahasiswa kami di Informatika kebanyakan hanya mengenal dengan baik nama dua pegawai, yaitu Pak Rasidi dan Pak Ade. Nama pertama dikenal karena mahasiswa yang membutuhkan surat keterangan, transkip nilai, kerja praktek, pasti berhubungan dengan Bapak itu. Nama kedua dikenal karena mahaisswa yang mengambil Tugas Akhir pasti berhubungan dengan Pak Ade untuk urusan yang menyangkut TA (jadwal seminar, jadwal sidang, kartu tugas akhir, laporan TA, dll). Pegawai yang lain tidak dikenal namanya oleh mahasiswa. Wajar juga sih, karena mahasiswa tidak intens berhubungan dengan mereka. Tapi, siapa yang menyadari bahwa orang-orang yang tidak dikenal itu ikut berjasa mengantarkan mereka menyelesaikan kuliah di sini. Saya pernah memberi masukan kepada senior-senior himpunan, setiap kali acara penerimaan anggota baru, para anggota baru itu biasanya ditugaskan mengumpulkan tanda-tangan senior. Hampir tidak pernah ada tugas mengumpulkan tanda-tangan dosen dan karyawan. Kalau ini dilakukan, tentu mahasiswa mengenal lingkungannya dengan baik.

Gejala apakah ini? Tidak peduli lingkungan? Tidak mau tahu? Malas menghafal nama? Kalau menurut saya itu karena banyak anak-anak sekarang tidak dibiasakan menyapa orang-orang di sekelilingnya. Kebiasaan menyapa adalah kebiasaan yang baik. Anak-anak sebaiknya dibiasakan mengenal orang-orang di sekelilingnya, mengingat namanya, dan menyapanya ketika bertemu. Sejak kecil mereka harus diajarkan pentingnya menghargai orang lain. Ada kesan mendalam jika seseorang dipanggil dengan namanya, apalagi oleh orang lain yang jauh perbedaan kedudukannya. Memanggil orang dengan namanya menunjukkan kita telah menempatkannya menjadi orang yang dihargai, sama dengan diri kita sendiri yang juga ingin juga dihargai orang lain.

Kategori: Budi Pekerti · Seputar Informatika

Halal bil Halal, Tradisi yang Baik

22 Oktober 2007 · & Komentar

Hari pertama bekerja/sekolah setelah libur panjang lebaran belum terlalu efektif. Anak saya yang di SD, hanya 2 jam sekolah hari ini, setelah salaman massal dengan guru-guru, anak-anak kembali pulang ke rumah. Begitu juga hampir di semua instansi Pemerintah dan swasta, hari pertama bekerja diisi dengan silaturahmi lebaran, salam-salaman dengan seluruh karyawan dan pimpinan, ramah tamah, makan-makan. Untung saja tidak seperti anak sekolah, aktivitas bekerja langsung dimulai setelah acara silaturahmi. Tidak ada alasan untuk santai-santai lagi.

Tadi pagi di ITB juga dilangsungkan acara halal bil halal antara rektor dengan seluruh dosen dan karyawan. Lalu siangnya dilanjutkan dengan acara halal bil halal tingkat fakultas. Padahal hari ini juga dimulai UTS, dan saya kebagian memberi ujian pada hari pertama ini. Untung ada asisten yang mengawas ujian, jadi saya bisa “kabur” ke Aula Timur mengikuti acara dan diakhiri dengan makan-makan enak (hmmm…).

Halal bil halal entah dari mana asal muasalnya dan siapa yang memulainya. Tidak dicontohkan di dalam ajaran Islam “ritual” ini, tetapi yang jelas hal bil halal adalah produk asli Indonesia. Hanya ada di Indonesia. Di negeri asal agama itu sendiri (tanah Arab) tidak dikenal tradisi ini. Halal bil halal kurang lebih artinya saling menghalalkan kesalahan yang pernah dilakukan kepada sesama manusia. Menghalalkan kesalahan artinya memaafkan kesalahan yang pernah kita lakukan kepada orang lain.

Tidak ada keterangan sejak kapan orang Indonesia mengadakan tradisi halal bil halal. Mungkin acara halal bil halal berangkat dari kebiasaan orang Indonesia yang suka saling berkunjung ke rumah-rumah kerabat pada Hari Raya Idul Fitri. Nah, untuk mengunjungi rumah teman, rekan sekerja, dan relasi yang berjauhan letaknya serta banyak jumlahnya jelas tidak mungkin dilakukan karena alasan waktu dan biaya. Lalu orang Indonesia berpikir praktis saja,   pertemuan cukup dilakukan di suatu tempat dan jam yang telah ditentukan, maka acara silaturahmi Idul Fitri untuk semua orang itu tetap bisa terlaksana.

Meskipun tidak pernah dicontohkan Nabi, tetapi halal bil halal ini merupakan tradisi yang baik dan mulia. Intinya adalah silaturahmi, yaitu menyambung kasih sayang antara sesama manusia. Kata ustad yang ceramah di acara tadi, kata silaturahmi berasal dari kata “rahim”. Kata “rahmat”, “rahman”, “arham”, dan sebagainya mempunyai akar kata yang sama, yaitu “rahim”. Rahim ibu adalah tempat yang penuh dengan kasih dan sayang. Menyambung silaturahim artinya menyambung kasih sayang. Ajaran Islam itu intinya ada dua, yaitu beribadah kepada Allah (vertikal) dan menyebarkan kasih sayang sesama manusia (horizontal), tidak peduli agamanya apa. Lebih kurang maknanya adalah Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, yaitu Islam itu sebagai rahmat bagi alam semesta.

Alangkah indah hidup ini kalau kita selalu berkasih sayang kepada semua makhluk hidup, khususnya sesama manusia. Orang yang selalu mengisi hidup dengan kasih sayang biasanya mempunyai umur yang panjang. Kalau anda ingin umur yang panjang, perbanyaklah silaturahmi. Makna umur panjang mungkin tidak selalu berkaitan dengan usia fisik, tetapi juga bisa berarti panjang dalam pengertian masa.  Dikisahkan ada sebuah keluarga yang kedua orangtuanya selalu mempertahankan silatuhami dengan semua orang di kampungnya. Orangtua anak-anak itu mempunyai kebiasaan selalu berkunjung kepada setiap rumah di kampung itu. Kebiasaan itu terus dilakukan tidak hanya pada hari raya, tetapi juga pada hari-hari yang lain. Kalau tidak bertemu di rumah, mungkin bisa bertemu di masjid di atau di pasar. Ketika ada jamaah masjid yang biasanya selalu hadir shalat berjamaah tetapi suatu kali tidak hadir, maka si bapak ibu yang baik itu menjenguk ke rumah yang bersangkutan untuk memastikan apakah jamah itu sakit atau terkena musibah. Setelah kedua orangtua itu meninggal dunia, orang-orang di kampung tetap masih ingat dengan mereka, terkenang dengan kebaikan dan keramahannya kepada semua orang. Meski kedua orangtua itu  telah tiada, nama mereka tetap selalu hidup di hati warga. Itulah makna lain umur panjang, yaitu meskipun kita sudah tidak ada lagi di alam fana ini, namun kebaikan yang kita sebarkan melalui silaturahmi tetap selalu menjadi kenangan.

Kategori: Agama · Budi Pekerti

Iklan Bir yang Menantang

14 Februari 2007 · & Komentar

Ada pemandangan menyolok mata di perempatan lampu merah Jl. Diponegoro-Dago-Sulanjana (dekat Apotok Kimia Farma) Bandung.  Jika anda datang dari arah Jl. Diponegoro dan berhenti di perempatan itu, mata anda akan melihat billboard yang berisi gambar dua botol besar sebuah produk minuman bir. Iklan minuman keras ini terlihat seakan menantang orang-orang yang melihatnya. Hati ini miris melihatnya, dan beberapa kali saya mengucapkan istighfar.

Sungguh tidak saya sangka Pemkot Bandung berani mengizinkan billboard iklan minuman bir itu dipasang di tempat strategis lagi. Uang tampaknya lebih berkuasa daripada hati nurani. Tentu pemasangan billboard ini menyumbangkan pajak yang besar bagi pemkot. Tetapi, tidak dipikirkan dampak negatif iklan minuman keras ini bagi masyarakat? Tidakkah hal ini menjustifikasi keberadaan minuman keras di tengah masyarakat? Dalam Islam sendiri jelas minuman keras haram hukumnya, dan karena mayoritas penduduk Bandung adalah muslim, maka Pemkot seharusnya menolak pemasangan iklan minuman keras di tempat-tempat umum.

Setahu saya, media - termasuk media luar ruang  seperti billboard – dilarang mengiklankan produk-produk seperti rokok dan minuman keras. Beberapa produsen rokok mengakali larangan ini dengan membuat iklan yang tidak menampilkan gambar produknya secara langsung, tetapi hanya menampilkan kesan atau image mengenai rokok tersebut melalui gambar petualangan kaum pria di alam bebas, atau anekdot-anekdot lucu seperti “tanya kenapa”. Nama rokok memang ditampilkan tetapi gambar rokoknya sendiri tidak diperlihatkan.  Nah, iklan bir di perempatan jalan tadi melawan larangan ini, pengiklannya nyata-nyata memperlihatkan gambar botol bir besar-besar tanpa mengindahkan perasaaan orang yang melihatnya. Naudzubillah min dzalik.

Kategori: Budi Pekerti · Seputar Bandung

Anak Bagaimana Orangtuanya Mendidik

28 Desember 2006 · 1 Komentar

Setelah punya anak, barulah kalian tahu bagaimana besar pengaruh pendidikan orangtua terhadap perilaku anak-anaknya. Saya punya anak yang sudah sekolah dan pra sekolah (serta satu lagi masih bayi). Alhamdulllah, karena selalu dididik dengan baik, mulai dari ibadah agama, kejujuran, kesantunan, menghormati orang lain, sampai kebiasaan sehari-hari, maka anak-anak saya tumbuh menjadi anak yang baik, meski kenakalannya sebagai anak-anak pada umumnya tetap saja ada. Kadang saya mendapat cerita prihatin dari anak orang lain yang anaknya suka berkata kasar, eh ternyata karena di rumah dia selalu mendengar omongan kasar baik dari paman maupun kakek nenenknya. Ada juga anak yang sejak kecil selalu diperlakukan secara kasar, maka setelah besar diapun bertindak kasar pula.

Ya, anak itu gimana orangtuanya. Jika orangtuanya mendidik dengan baik, maka anak itu tumbuh menjadi orang yang baik. Sebaliknya jika anak dididik dengan buruk, maka dia tumbuh dengan perilaku yang buruk pula. Keluarga adalah benteng pendidikan terkecil di dalam negara. Jika keluarga baik, maka masyarakatnya baik. Jika masyaraknya baik, maka negara pun baik. Begitu pula sebaliknya.

Kita sehari-hari bertemu dengan banyak orang. Kita dapat melihat bagaimana sifat keluarga orang tersebut dari perilakunya. Seorang yang relijius, rajin shalat misalnya, maka keluarganya juga dari kalangan yang relijius. Seorang yang suka arogan, maka kemungkinan waktu kecil orangtuanya suka memperlakukannya secara kasar. Namun, kasus seperti ini tidak selalu demikian, tetap ada beberapa pengecualian atau anomali, namun persentasenya kecil.

Nah, jika ada seseorang yang dididik secara baik di dalam keluarga lalu setelah dewasa menjadi buruk, apa peyebabnya? Misalnya, sewaktu kecil seseorang tampak alim, tetapi setelah dewasa dia menjadi liar dan permisif (terhadap seks misalnya). Ternyata di luar keluarga, ada dunia lain yang dimasuki anak, yaitu lingkungan. Lingkungan pergaulan yang buruk dapat merusak keprbadian baik yang ditanamkan di rumah. Ibarat anak kijang yang masuk ke tengah kawasan srigala. Kerentanan ini sebenarnya dapat dikurangi jika orangtua tetap memantau perkembangan anak di lingkungan pergaulan. Kita sering mendengar bantahan dari keluarga yang anaknya terlibat narkoba. Anggota keluarga mengatakan bahwa si anak tidak pernah sekalipun memakai narkoba. Si anak selalu shalat 5 waktu, alim, dan patuh pada orangtua. Tapi, apakah orangtua tahu apa yang dilakukan anak setelah berada di luar rumah? Dengan siapa dia bergaul? Kemana saja dia pergi?

Kunci semua ini kembali pada agama. Penanaman agama sejak kecil (tidak sekadar hapalan atau rutinitas ibadah semata) dapat membantu anak tetap kuat memasuki “kawasan srigala” sekalipun. Makanya tidak heran, orangtua di kampung lebih suka memasukkan anak-anak mereka ke pesantren atau madrasah ketimbang sekolah umum. Mereka berharap, pendidikan agama yang diperoleh anak di pesantren atau madrasah dapat membentengi anak dari pengaruh negatif. Intinya, mereka berharap anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang shaleh. Sementara kita di kota dihadapkan pada tuntutan yang bermacam-macam sehingga enggan memasukkan anak ke sekolah agama. Meski di sekolahkan ke sekolah umum, janganlah orangtua lalai menanamkan pendidikan agama dengan cara lain, minimal di dalam keluarganya sendiri.

Kategori: Budi Pekerti