Okelah, lupakan saja “kesedihan” kampus almamater karena ulah belasan mahasiswanya yang menjadi joki SNMPTN di Makassar. Mereka sudah mendapat hukuman sosial dari masyarakat, sementara hukuman dari ITB tinggal menunggu waktu saja (komunitas ITB menginginkan mahasiswa yang terlibat joki itu dikeluarkan saja).
Di tengah “kesedihan” itu, lumayan ada sedikit hiburan. Empat mahasiswa dari Prodi Informatika ITB yang tergabung dalam Tim Big Bang berhasil mengharumkan nama bangsa dengan memenangkan Mobile Device Award, pada kompetisi desain software internasional, Imagine Cup 2009 di Kairo, Mesir. Empat mahasiswa kami itu adalah David Samuel, Dody Dharma, Dominikus Damas Putranto, dan Samuel Simon. Tentu kalian sudah membaca berita-beritanya di koran maupun situs online. Kalau belum, baca pranala ini. Berita lainnya dapat dibaca di portal berita ini dan cerita lebih jauhnya baca di sini.

Bagi mahasiswa-mahasiswa yang menggunakan otaknya untuk prestasi yang sangat positif itu, banggalah kita. Tetapi, untuk mahasiswa yang menggadaikan otaknya untuk prestasi kecurangan dalam ujian dan tugas-tugas kuliah, itu adalah musibah bagi kita. Mengapa hal ini bisa terjadi berulang kali?
Yang memprihatinkan, perilaku kecurangan dalam ujian itu sudah berakar sejak pendidikan dasar dan menengah. Dan yang lebih menyedihkan lagi, kecurangan itu dilakukan oleh oknum guru, orang yang sepantasnya memberi teladan baik. Guru saja sudah berbuat curang dalam ujian, bagaimana muridnya? Masih ingat oleh kita berita beberapa tahun lalu, seorang guru di Medan dipecat dari sekolahnya karena melaporkan kecurangan yang dilakukan pihak sekolah dalam Ujian Akhir Nasional. Demi meluluskan murid-muridnya dalam UAN yang “menakutkan” itu — yang juga akan mengangkat gengsi sekolah — para guru diinstruksikan membagikan jawaban ujian kepada murid di ruang ujian. Tapi ada satu guru yang masih punya hati nurani, dia tahu perbuatan teman-temannya itu salah besar, lalu melaporkannya ke Disdik. Bukan dukungan yang dia dapat, malah dia dipecat karena telah menjelekkan nama sekolah.
Seorang rekan dosen yang pernah menjadi rektor sebuah universitas bercerita tentang perilaku mahasiswa di universitasnya itu. Sebagian besar mahasiswa universitas X itu adalah guru SD lulusan SPG yang mengambil D2 Pendidikan Guru SD. Menjelang ujian semester banyak beredar kunci jawaban yang ditawarkan. Yang sangat memprihatinkan, ada GURU mahasiswa universitas X tersebut yang mengeluh/protes karena membeli kunci jawaban palsu! Membeli kunci jawaban saja sudah memalukan, apalagi protes itu.
Kemanakah nilai-nilai kejujuran hendak dilabuhkan? Di zaman serba matre seperti ini masih banyak orang yang mengukur kerberhasilan pendidikan dari capaian nilai-nilai akademis semata, sementara nilai-nilai karakter individu seperti kejujuran diabaikan. Seolah-olah tujuan sekolah adalah untuk mendapat nilai tinggi, lalu mendapat sekolah/PT favorit, biar nanti mudah mendapat pekerjaan di perusahaan besar dengan gaji tinggi. Proses tidak penting, kalau perlu menyontek, menyogok, memanipulasi, dan sebagainya, yang penting adalah hasil akhir. Kemana negara ini mau dibawa ya?