Etika (Sebagian) Mahasiswa Kami

Ini kejadian di ITB tempat saya mengajar dan sempat ramai dibincangakn di milis dosen. Seorang dosen Fisika mempunyai pengalaman buruk dengan attitude (sebagian) mahasiswa kami. Ketika dia mengajar, di ruang kuliah sebelah sekelompok mahasiswa membuat ribut hingga mengganggu konsentrasinya mengajar. Dia pun keluar ruangan dan menegur para mahasiswa tersebut, tetapi mereka tetap ketawa-tawa dan bersorak. Hingga akhirnya dosen tersebut menulis e-mail di milis mengeluhkan kelakuan mahasiswa kami itu. Cerita selengkapnya dan komentar-komentar para mahasiswa dan alumni bisa dibaca di blog Pak Budi Rahardjo ini.

Seorang dosen lain menulis di milis pengalamannya tentang sopan-santun mahasiswa. Ketika dia akan masuk kelas, sekelompok mahasiswa duduk-duduk tepat di depan pintu sehingga menghalanginya masuk. Dia pun menegur para mahasiswa tersebut dan menyuruh mereka duduk di teras samping pintu agar tidak mengganggu orang yang keluar masuk. Hanya ada dua-tiga orang yang duduk di mulut pintu yang bergeser. Yang lebih buruk, ketika dia baru masuk melewati pintu di belakangnya terdengar celetukan, “Lu yang ganggu kita!”.

Lu yang ganggu kita? Astaghfirullah, ditegur baik-baik malah mendapat celutukan asbun yang membuat sakit hati, pakai kata “lu” lagi.

Kalau dikumpulkan tentu banyak pengalaman dosen yang tidak berkenan dengan sikap mahasiswa. Saya juga mempunyai beberapa pengalaman yang tidak mengenakkan dengan mahasiswa. Ketika saya sedang berbicara dengan teman, datang seorang mahasiswa yang memotong pembicaraan tanpa permisi dan berkata:”Pak, minta tanda tangan”. Sopan nggak sih memotong pembicaraan orang lain? Atau pengalaman naik lift dengan seorang mahasiswa yang selama di dalam lift dia pura-pura seperti orang tidak kenal dan memasang wajah jutek tanpa sapaan sama sekali. Mahasiswa(i) kayak gini mungkin tidak diajar sopan santun oleh orangtuanya di rumah, tegur sapa dengan orang lain itu penting, apalagi kepada orangtua atau guru.

Sikap yang tidak sopan semacam cerita di atas tentu tidak bisa digeneralisasi kepada semua mahasiswa kami. Itu hanyalah ulah oknum saja, hanya sebagian mahasiswa saja yang begitu. Mungkin mereka ini yang EQ-nya di bawah IQ. Otak pintar tetapi kelakuan jelek jangan harap bisa sukses dalam hidup bermasyarakat.

Tentu saja — meminjam kata-kata Pak Budi — kami para dosen tidak gila hormat atau meminta penghormatan yang berlebihan seperti menunduk-nunduk atau cium tangan. Yang wajar-wajar saja sesuai dengan norma umum kesopanan yang berlaku. Zaman boleh semakin maju, kepintaran mahasiswa boleh semakin hebat, tetapi yang namanya tata krama, etika, budi pekerti, attitude atau apalah namanya tetap di atas semua hal itu.

“Mana Ada Jujur Itu Sekarang, Bang. Jujur Itu Hanya Ada Pada Zaman Nabi:

Ketika lagi menunggu boarding di ruang tunggu bandara, saya secara tidak sengaja “menguping” pembicaraan seorang ibu lewat ponsel dengan seseorang di seberang sana. Ya gimana nggak nguping, si ibu tadi duduk di belakang saya, praktis mau tidak mau saya mendengar apa yang dia omongkan. Dia berbicara dalam bahasa daerah yang saya tahu artinya.

Saya jadi serius mendengar pembicarannya karena dia berbicara tentang uang suap untuk memasukkan seorang anak dari kerabatnnya yang akan mendaftar di sebuah perguruan tinggi swasta. Apalagi dalam pembicaraanya itu menyebut-nyebut ITB segala, makin tegaklah telinga saya mendengarnya. Si anak yang bernama Adi tidak lulus SNMPTN, jadi pilihannya sekarang adalah ke PTS. Sekolah swasta itu dikelola oleh sebuah yayasan.

“Ikut sajalah si Adi tu mendaftar di sana, Bang. Universitas itu bagus juga tuh mutunya. Nanti kalau nilai tes masuknya jelek dan tidak lulus, kasih saja uang dua juta, taruh uangnya di bawah map. Yayasan itu kan lapar uang Bang, pasti dia butuh uanglah”

“Sekarang ini kalau jujur-jujur sudah tidak ada, Bang. Jujur itu ‘kan hanya ada pada zaman Nabi. Apa-apa sekarang ini pakai uang.”

“Nilai rapor saja bisa diminta tinggi supaya bisa lulus PMDK (Jalur undangan. Red). Si Nelly teman saya itu minta kepada guru kelas anaknya agar nilai pelajaran anaknya dikasih 9 di rapor. Nilai 8 saja sekarang tidak bisa PMDK masuk ITB (duh, kok nama institusi saya jadi disebut-sebut nih? Red). Kalau masuk U***d mungkin bisa”

“Makanya kalau urusan sekolah ini serahkan saja pada ibu-ibu, bapak-bapak mana ngerti urusan begini. Bapak-bapak bisanya cuma marah-marah dan main tempeleng saja kepada anak”

Masih banyak lagi cerocos ibu ini yang begitu semangat meminta saudaranya untuk pakai uang pelicin — atau apalah namanya– untuk memasukkan anak kuliah di sebuah sekolah. Baginya tidak masalah berbuat tidak jujur untuk memuluskan tujuan. Dengan asumsi bahwa zaman sekarang ini sogok menyogok itu adalah hal yang lumrah saja, kalau tidak begitu kita bisa kalah sama orang lain. Begitu banyak alasan untuk membenarkan (justifikasi) sikapnya dalam memandang persoalan kehidupan dengan cara meremehkan kejujuran.

Apakah sikap si ibu dalam menganggap enteng persoalan suap menyuap ini mewakili masyarakat kita? Saya tidak berani menggeneralisasi. Namun saya yakin cukup banyak orang yang mempunyai pandangan serupa dimana untuk memudahkan urusan pakai cara-cara suap. Pakai uang suap adalah hal yang dianggap biasa pada zaman sekarang, kalau tidak begitu mana bisa berhasil. Mau masuk sekolah favorit pakai suap, mau jadi PNS pakai uang pelicin, mau lulus ujian pakai uang sogok, mau cepat selesai urusan pakai uang rokok, dan sebagainya.

Kalau ada peluang untuk melakukan suap dan uangnya ada, maka jalan pintas dengan cara-cara tidak terpuji itu mungkin dengan enteng akan dilakukan. Untuk membenarkan perbuatannya maka dipakailah asumsi-asumsi bahwa zaman sekarang mana bisa hidup jujur, jujur hanya ada pada zaman Nabi. Duh!

Efek Kebebasan yang Kebablasan

Seorang artis yang baru menikah 1 bulan lalu dengan seorang pengusaha negara seberang mengakui bahwa dia sudah hamil 4 bulan. Lho? Kaget? Tidak perlu heran, kata orang minang: lah dulu bajak daripado jawi.

Di Palembang, beberapa orang anak-anak SD melakukan pesta se*s dengan teman-temannya yang perempuan. Anak-anak itu mengakui bahwa mereka melakukan perbuatan terlarang itu karena terobsesi sering melihat video por*o.

Seorang produser film dengan bangga mengatakan dia berhasil mendatangkan artis por*o dari luar negeri untuk membintangi film dedemit murahan yang diproduksinya. Bayarannya sangat mahal, kata produser tersebut.

Di dalam gedung wakil rakyat, anggota dewan yang terhormat kepergok memutar video por*o. Parahnya lagi, anggota dewan itu berasal dari partai yang mengusung kesalehan dan kesucian.

Teman saya yang menjadi guru di daerah mengeluhkan perilaku para siswa-siswinya. Siswa-siswi yang saling pacaran memanggil pasangannya dengan sebutan “mami” atau “papi”, seperti sudah menjadi pasangan suami-istri saja. Wallahualam, mungkin saja mereka telah terlalu jauh melakukan perbuatan suami dan istri sungguhan. Sementara pada waktu yang lain, ketika sekolah melakukan razia ponsel, guru-guru menemukan foto-foto dan video por*o di dalam ponsel para siswa. Bergidik bulu roma melihat kelakuan para siswa-siswi itu, mau muntah rasanya, kata teman saya itu. Padahal sehari-hari para siswa itu terlihat alim, eh tidak tahunya kelakuan mereka di belakang guru sangat “mengerikan”.

Begitulah potret suram kebobrokan moral di negeri kita. Liberalisasi dalam berbagai bidang kehidupan sudah mencapai taraf yang kebablasan, kondisinya sudah lampu merah.

Suara kaum moralis seperti para agamawan dan pendidik tidak terlalu dipedulikan. Mereka dianggap sebagai kaum konservatif yang menghambat kebebasan berekspresi. Setiap orang bebas untuk berbuat apa saja, asalkan tidak merugikan atau mengganggu orang lain, begitu suara pembelaan dari kelompok liberal yang tidak suka terlalu diatur dengan berbagai aturan yang mereka anggap mengekang. Membatasi kebebasan manusia dalam berekspresi dianggap melanggar HAM. Saat ini HAM sudah menjadi ideologi yang berada di atas segala-galanya.

Maka, jika suara kaum agamawan dan pendidik saja sudah tidak didengar lagi, maka benteng terakhir untuk melindungi generasi penerus bangsa dari kerusakan moral ada di dalam keluarga. Pendidikan di dalam keluarga adalah sarana efektif untuk melindungi anak-anak kita dari degradasi dan dekandensi moral. Di luar rumah tidak ada lagi lagi tokoh yang bisa dijadikan teladan, maka ayah dan ibulah yang menjadi panutan bagi anak-anak. Ayah dan ibu yang baik, yang mendidik anak-anaknya dengan baik, akan menghasilkan anak-anak yang berakhlaq baik pula.

Wahai para bapak dan ibu, jangan terlalu sibuk mencari harta di luar rumah, ingatlah anak-anak di rumah yang bisa terabaikan dari perhatian dan pendidikan akhlaq, sebelum mereka menjadi korban paham kebebasan yang kebablasan.

Ya Allah, bimbinglah kami untuk mendidik generasi penerus dengan akhlaqul karimah.

Sulitnya Menjadi Orangtua Zaman Sekarang (Tentang Pornografi pada Anak dan Remaja)

Membaca resume hasil seminar dengan speaker Bu Elly Risman di bawah ini (resume saya peroleh dari sebuah milis), membuat saya bergidik. Hii…mengerikan! Sudah luar biasa virus pornografi merasuki pikiran anak-anak dan remaja di Indonesia. Sudah lihai dan berpengalaman anak-anak dan remaja soal seks. Teknologi informasi semula dibuat untuk memudahkan, tetapi dibalik itu tersimpan bahaya yang mengancam masa depan anak-anak kita.

Duh, betapa sulitnya menjadi orangtua zaman sekarang. Pendidikan agama dan moral saja tidak cukup buat anak. Anak-anak dan remaja masih memiliki iman yang labil, sekuat apapun pendidikan agama yang diberikan, tidak sanggup menahan pengaruh lingkungan dan pergaulan dengan teman-temannya. Yang lebih penting adalah tindakan nyata dari orangtua untuk melakukan tindakan preventif kepada anak-anaknya supaya tidak terjerumus pada bahaya pornografi.

Yuk, kita baca laporan berikut yang bikin kita terus membaca istighfar…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

30 Oktober 2010 di Kemang Village, Jakarta
By Elly Risman, M.Psi (Yayasan Buah Hati)
Di share dari teman yang ikut di Jakarta.
Panjang tapi sangat menarik buat orang tua agar aware

1.Seminar dibuka dengan layar presentasi yang menayangkan contoh sms anak sekarang, dengan huruf biasa tapi dibuat secara ALAY, tapi dibuat sedemikian rupa, sehingga kami, seluruh orang tua yang ada di ruangan seminar, tidak ada yang bisa membaca sms apakah itu?Apa maksud sms tsb?

Alaaahh…sms alay kan bisa dibaca. meski bikin mata dan otak kerja keras dulu buat tau maksudnya?

NO! Totally…….ga ada satupun yang bisa baca sms tsb.

Dan, Taaaraa…..ternyata selain dengan huruf alay, sms tsb, dibacanya harus dengan posisi HP terbalik (bagian atas HP menjadi bagian bawah)! Can u imagine thattt????

DAN isinya adalah:
” Hi, sayang, aku kangen nih. Udah lama kita GA ML, Yuk, mumpung bonyok lagi pergi, yuk kita ketemuan…dsb .” (sori saya agak lupa persisnya namun isinya kurang lebih spt itu – ML= Making Love=berhub SEX)

Seisi ruangan seminar lgs heboh.

Note dr pembicara: SMS sayang2an anak sekarang udah bukan i love u/I miss u, tapi udah soal LAMA GA ML…

Demmm…Ihikksss dari awal seminar, mata saya udah melotot lebaarr !!

2. Anak2 kita hidup di era digital. Banyak media elektronik & cetak yang diakses anak, banyak yang mengandung unsur pornografi: Games, Internet, HP, TV, VCD, Komik, Majalah dll

3. Yang pertama dibahas adalah GAMES. Games diabad 21, berdasar penelitian, gambar lebih realistis, pemain bisa memilih karakter apa saja, yang tidak ada di dunia nyata, ketrampilan lebih kompleks dan kecekatan yg lebih tinggi—> Kepuasan dan kecanduan lebih besar.

4. Jenis Games lebih beraneka macam: Aksi, adventure, strategi, Role playing.

Note dari pembicara:

SUPER HATI2 dengan GAMES-GAMES anak-anak anda!
a. Ada games yang bergenre awal action, isinya adalah tembak2an dsb, namun ternyata jika, anak kita udah sampai level akhir, bonus di akhir levelnya adalah ML dengan pelacur jalanan…?????
b. Ada games yang berjenis role playing, dan naudzubillahimindzalik, ceritanya adalah tentang bagaimana “memperkosa paling asyik???????”

Jadi tinggal pilih cerita yang melatarbelakangi , kemudian tinggal pilih perempuan model apa yg mau “dipilih”, modelnya ga pake baju sama sekali, dan tinggal pilih bagian tubuh mana yang mau dipegang pertama kali dst. Cursor berbentuk tangan, yg digerakkan oleh anak2-anak kitaa….——>Seisi ruangan seminar lgs heboh lagiii….Gumaman Astagfirrullah bertebarann di ruangan….:(

5. Pikir baik2 jika anda ingin membelikan games atau anak anak anda beli games sendiri/ meminjam games dari teman! Dan hati-hati , jika didepan sekolah anak2 ada warnet! Jenis Games yang ada, murah dan gampang didapat, jenisnya sudah diluar perkiraan kita, orang tua!

Note: suami saya, yg orang IT dan doyan maen games pun, terkejut bukan kepalang, pas tau soal jenis games ini!!:(

6. Internet. Situs Porno bertebaran di dunia maya. Dan, jangan salah, pembuatnya juga anak-anak kita juga! Bahkann…Untuk mendapatkan uang, mereka menjual video sex mereka sendiri!–> Pas seminar kami ditunjukkan ribuan video sex yg gampang diperoleh lewat internet.

Note dari pembicara:
a. Siapa bilang ML harus telanjang dan harus di tempat tidur/hotel ?
–>> kami ditunjukkan sekilas video ABG berseragam SMP, sedang ML ditangga dan berpakaian lengkap!
b. Hamil?siapa takkut!–> Bisa Aborsi !

7. HP.
Hoho…Video2 sex tersebar melalui HP. Kapasitas HP yang besar, memungkinkan sang pemilik memiliki file2 berukuran besar seperti video dan gambar porno. Anak anda CLEAN?–>Bisa jadi dia dapat kiriman gambar/video dari temennya!

Kasus : (yg pernah ditangani Ibu Elly) Ada seorang Ibu, yg datang ke beliau, shock karena menemukan gambar Vagina-seseorang di BBnya, yg ternyata setelah ditelusuri adalah kepunyaan temen sekolah (wanita) anaknya yang lelaki (yang suka minjem BB beliau!)… :(

8. Televisi : Program TV yang masih pantas diikuti, bisa dihitung dengan 1 tangan. Lainnya adalah program pembodohan, hantu, kekerasan dan pornografi. Sinetron, telenovela, sinetron2 Jepang/korea , film dsb. Jangan salah, Iklan pun juga menyesatkan.Ayoo jangan anggap enteng sinteron/filim2 korea/jepang!Lama2 anak anda terbrainwash, terbiasa dengan kekerasan, sex bebas!

9. KOMIK: Ya, komik memang bergambar kartun. Tapi soal cerita, ga kalah dengan novel porno lainnya. Bahkan lebih mengerikan karena didukung dengan gambar. Gambar sampul depan, mungkin tidak menyiratkan 1 kepornoan pun, tapi didalamnya, kita orang tua harus tau bahwa ceritanya ujung2nya tentang sex bebas.

Notes: Dari, survey yang telah dilakukan pembicara, salah satu judul games, komik, dvd yang masuk dalam kategori “BaHAYA” adalah NAR***…semuanya yg berbau NAR***, hati2!! WATCH OUT!!!!

APA TUJUANNYA? APA YANG MEREKA INGINKAN TERHADAP ANAK-ANAK KITA

1.Yang mereka inginkan, anak dan remaja kita memiliki MENTAL MODEL PORNO = perpustakaan porno, yang bisa diakses kapan saja dan dimana saja.
2.Kerusakan otak permanen —> yang hasil akhir yang diinginkan adalah–>INCEST!!! (astaghfirullahaladzim)
3.Sasaran tembak utama: Anak2 kita yg belum baligh. Jika sudah mengalami 33-36 ejakulasi–> pecandu pornografi — >PASAR MASA DEPAN!!!

Proses Kecanduan & Akibatnya.

1. Didalam otak ada bagian yang disebut PRE FRONTAL CORTEX (PFC). PFC, tempat dibuatnya moral, nilai2, bertanggung jawab untuk: perencanaan masa depan, organisasi, pengaturan emosi, control diri, konsekuensi, pengambilan keputusan. PFC–> Matang diusia 25 thn.

2. Sekali anak mencoba “kenikmatan” semu–>Dopamin ( ket: suatu hormon yang dihasilkan oleh hipotalamus) diproduksi –> Anak merasa senang–> Kemudian timbul rasa bersalah.

3. Saat anak merasa senang tsb (kebanjiran Dopamin), maka yang akan terganggu adalah: Analisa, penilaian, pemahaman,

3. Saat anak merasa senang tsb (kebanjiran Dopamin), maka yang akan terganggu adalah: Analisa, penilaian, pemahaman, pengambilan keputusan, Makna hubungan, Hati Nurani—> Spiritualitas /Iman akan terkikis–> ANAK TUMBANG–> Mental Model Porno—>INCEST!!!!

4. Bagian otak yang rusak karena Narkoba: 3 bagian saja, tapi oleh Pornografi/SEX: 5 bagian otak yang rusak!

5. Industri yang terlibat Pornografi: Entertainment, Pornografi, Perfilman, Majalah Porno, Musik, Jaringan TV Kabel, Pembuat dan pemasar Video Games dll

SIAPKAH KITA SEBAGAI ORTU?

1. Kesalahan Budaya.
Yang mengasuh anak: IBU !! Ayah mencari Nafkah, bila perlu baru lapor Ayah!! SALAH BESAR ! —> REVOLUSI PENGASUHAN!! …………
(Nyambung dengan artikel pak Gendi, Where’s All The Father Gone?Kemana Para Ayah?…Indonesia , A Fatherless Country???)
Lihat fenomena Anak2 Jack Mania?–> Kemana AYAHmu nakkk?Kemana ibumu naak????

Note: Bukan main saya bersyukurnya saya, pas bagian ini. Syukur Alhamdullillah, saya berhasil “memaksa” suami saya untuk ikut seminar ini.
2. Kelalaian kita sebagai ortu:

Orang Tua Kurang:
1. Mempunyai waktu dengan anak.
Are u a weekend parent? Anak di ikutkan les sana-sini. Pertanyaan orang tua ke anak hanya tentang les mu gimana nak? Nilaimu berapa nak? Kamu ga bolos kan?Kamu biasa ngerjain ujian kan hari ini?—> Anak2 menjadi anak yg BLASTED (Boring–>Lazzy–> Stress!)

2. Mengajarkan agama & penerapannya?
—> Eksport! Merasa cukup menyekolahkan anak2 di sekolah berbasis agama. Anak disuruh les ngaji/agama. Penerapan? NOL BESAR!!!…. Menyuruh anak sholat tepat waktu, ortu? Bolong2 sholatnya? Ortu berbaju tertutup, anaknya maen ke mall hanya memakai rok mini/tanktop? Anak disuruh les ngaji? Ortunya ngaji aja ga bisa!!!!

3. Target pengasuhan:
UMUM, kurang teguh pada prinsip—> hanyut dalam TREND. Temen anak di sekolah pada punya IPOD, Anak buru2 dibelikan—> malu dibilang ga trendy? Malu anak punyanya HP jadul yg cuma bisa sms/telp?–> dibelikan BB palg mutakhir…

4. Tanggap Teknologi & Gagap Teknologi (Gaptek)
Ortu bisanya memfasilitasi, tapi nol besar dengan pengetahuan mengenai perangkat yg dibelikan buat anak-anaknya. Buktinya: baca sms alay aja ga bisa!…gimana mo ngawasin anak?

Note dr pembicara: Jadi orangtua, harus “GAUL” dan PINTER !!! siapa biang jadi orangtua itu gampang?

5. Memberikan anak perangkat teknologi, tidak tahu akibat negatifnya, tanpa penjelasan dan tanpa persyaratan.

Note dr pembicara:
Orang Tua sekarang adalah Generasi ORTU yang ABAI…Generasi ORTU PINGSAN !! Yang penting anak sekolah,les, diam di rumah didepan Komputer, Games, HP, Televisi —> Yakin, Anak anda AMAN????

6. Berkomunikasi yang baik dan benar : tidak memahami perasaan anak & remaja.

Berkomunikasi yang baik dan benar : tidak memahami perasaan anak & remaja.
TIPS Membuat Anak Tangguh di Era Digital:
1. Hadirkan Allah/Tuhan didalam diri anak. Ajarkan untuk selalu ingat Allah, taat kepadaNYA dari kecil. Hindari: Jangan sampai kamu hamil ya, Bikin malu keluarga! Bapak / Ibu malu!!!—> Salah Besar. Ajarkan bahwa, dimanapun dia berada, Allah tau apa yang dia perbuat!
2. Perbaiki pola pengasuhan/parenting. Libatkan kedua-belah pihak. Jangan jadi ortu yang abai bin pin
3. Validasi anak : penerimaan, pengakuan dan Pujian Jangan jadikan anak anda, anak yang BLASTED! Boringg –> Lazzy –> Stressed!!
4. Mandiri & Bertanggung jawab kepada ALLAH, diri sendiri, keluarga & masyarakat.
5. Memberikan fasilitas pada anak harus dengan landasan dan persyaratan agama yang jelas
6. Mempunyai MODEL yang baik dan benar
KOMIK
• Cek bacaan anak
• Baca dulu sebelum membeli
• Secara Berkala periksa meja belajar/lemari/kolong tempat tidur . Notes: JANGAN SAMPAI KETAHUAN ANAK!!
• Kenalkan anak pada berbagai jenis bacaan
• Diskusikan bacaan dengan anak

GAMES
• Perhatikan letak computer/media video games di rumah
• Perhatikan jarak antara mata anak/ruang cukup pencahayaan , layar tidak terlalu terang
• Pilihkan meja & kursi yang ergonomis
• Buat kesepakatan dengan anak tentang:
o Berapa dalam seminggu
o Kapan waktu yang tepat
o Games apa yg boleh dimainkan
o Sanksi apa yang diberlakukan , jika melanggar
• Dampingi anak dalam membeli games dan cek selalu rating Games dalam kemasan games.

Banyak video games ber-rating AO (Adult Only) atau M (mature) yang dibajak dengan rating ESRB (Entertainment Software Rating Board, sebuah lembaga pemberi rating untuk games hiburan) diubah menjadi Teen, seperti GTA San Andreas, Mass Effect, Gta IV dsb.
Marak video game kekerasan yang menampilkan secara gamblang adegan seksual di tengah-tengah video gamenya seperti GTA: San Andreas dan Mass Effect. GTA: San Andreas mendapatkan kecaman keras dari banyak kalangan dunia seperti Jack Thompson dan Hillary Clinton, sehingga memaksa produsennya mengganti rating ESRBnya menjadi AO (awalnya M (Mature)). Hal ini mengakibatkan profitnya turun hingga $28.8 juta.

Pada tanggal 20 Oktober 2003, Aaron Hamel dan Kimberly Bede menjadi korban penembakan yang dilakukan oleh 2 remaja, William dan Josh Buckner, karena keduanya terinspirasi setelah memainkan GTA:III. Akibat kejadian tersebut Aaron meninggal dunia, sedangkan Kimberley mengalami luka parah.

TV
• Atur jam menonton TV
o No TV dibawah 2 thun
o 5-7 tahun paling lama menonton TV: 2 jam/hari
• Kenalkan dan diskusikan ttg program TV yang baik dan buruk
• Perhatikan jarak menonton

INTERNET
• Perhatikan letak computer : tidak menghadap dinding
• Lakukan filterisasi terhadap situs porno (pasang alat pemblokir situs porno)
• Buat Kesepakatan tentang waktu bermain internet
• Secara berkala, cek situs apa saja yang telah dibuka anak di computer
1. Perbanyak mendengarkan perasaan. GUNAKAN 2 TELINGA lebih sering daripada satu MULUT
2. Orang tua harus TTS = TEGAS, TEGAR, SABAR
3. Meningkatkan diri dengan berbagai macam pengetahuan (Seminar, pelatihan, buku parenting dan agama)
4. Setelah semua upaya —> DOA

Jujur, pas pada saat mengikuti seminar tsb, beberapa kali, saya menitik-kan airmata – mbrebes mili.
Betapa saya merinding hebat dan pengen segera pulang memeluk anak-anak saya..

Semoga saya bukan salah satu orangtua yg pingsan ituu… Semoga anak2 saya (kita), menjadi anak2 yang sholeh dan selalu dilindungi oleh Yang Maha Kuasa

Anggota DPR pun Titip Absen

Jangan sekali-kali anda titip absensi kuliah lewat teman. Kalau di ITB kejadiannya, urusannya bisa panjang. Mahasiswa perwalian saya di TPB (tingkat I) terpaksa membuat surat pernyataan dan permintaan maaf kepada dosennya karena titip tanda tangan lewat temannya. Pada waktu kuliah Kalkulus dia tidak hadir alias bolos tetapi tanda tangannya ada di dalam daftar hadir. Ketika dosen Kalkulus secara tidak sengaja memanggil namanya di dalam daftar hadir, ternyata si mahasiswa tersebut tidak ada, tetapi tanda tangannya kok ada. Jadi dia sudah berbohong dengan mengaku hadir (lewat tanda tangan yang diisi temannya) padahal bolos. Beberapa mata kuliah memang mensyaratkan jumlah kehadiran minimal sekian persen sebagai syarat ikut ujian. Maka, mahasiswa yang takut tidak bisa ikut ujian, terpaksa berlaku curang dengan titip absen (sebenarnya istilah yang tepat adalah titip presensi, sebab absen artinya tidak hadir, cuma kita sudah terbiasa dengan kata absen ini, misalnya “mana absennya?”, “sudah ngabsen pa belum?”, dsb).

Untung saja dosennya masih baik, dia hanya dipanggil dan diminta membuat surat pernyataan dan permohonan maaf serta berjanji tidak mengulanginya lagi. Surat itu harus diketahui dan ditandatangani oleh Dosen Wali, maka saya pun “terpaksa” ikut memberi tanda tangan.

Coba kalau dia dosennya sangat strik dan tegas, mungkin dia dinyatakan tidak lulus mata kuliah tersebut karena sudah berbohong. Wajar saja jika hukumannya tidak lulus, sebab berbohong adalah cikal bakal perilaku buruk lainnya, seperti korupsi dan manipulasi. Di beberapa perguruan tinggi di luar negeri mungkin hukumannya dikeluarkan (DO). Mau apa jadinya mahasiswa itu setelah lulus nanti jika semasa kuliah saja sudah curang. Apa mau seperti Gayus? :-) .

Kalau mahasiswa yang suka titip absen itu menjadi anggota DPR, mungkin mereka akan seperti berita di bawah ini:

Anggota DPR Titip Absen Lewat Ajudan Memalukan!
Reza Yunanto – detikNews

Jakarta – Sejumlah anggota DPR nyata-nyata sering bolos saat rapat paripurna. Tak hanya itu, yang lebih memalukan lagi, mereka juga terbiasa titip absen lewat ajudan.

“Yang memalukan bukan sekedar membolos tetapi titip absen lewat ajudan,” kata Kordinator Advokasi & Investigasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Ucok Sky Khadafy kepada detikcom, Kamis (29/7/2010).

Ucok mengatakan, kebiasaan titip absen ini perbuatan yang sangat memalukan. Anggota DPR yang merupakan wakil rakyat pada kenyataannya justru melakukan perbuatan curang dengan mengaku hadir, padahal yang hadir adalah ajudannya.

“Memalukan sekali kelakuan seperti ini. Parah!,” katanya.

Menurut laporan yang dimiliki FITRA, kebiasaan titip ajudan ini bukan cuma untuk menghadiri rapat-rapat di DPR seperti rapat paripurna atau rapat komisi. Para anggota DPR tersebut bahkan melimpahkan pekerjaannya ke ajudan. Tindakan seperti ini sebetulnya tidak salah, namun kalau semuanya diserahkan ke ajudan, lalu apa kerja para anggota DPR itu.

“Kalau sedikit-sedikit ajudan, buat apa mereka jadi wakil rakyat dong,” kritiknya.

Nah, mahasiswa bisa berkilah, ternyata yang titip absensi itu tidak hanya mereka, anggota DPR yang terhormat pun begitu. Parahnya lagi, biasanya setiap sidang di DPR ada uang rapat atau uang sidang. Anggota DPR yang titip absen ini tetap dapat honor meskipun tidak hadir. Hiii… nggak malu tuh ya makan uang buta (apalagi gaji buta).

Selingkuh = Tidak Jujur

Saya kira hanya kaum laki-laki saja yang suka berselingkuh, tetapi saya menemukan kasus ternyata perempuan juga melakukan hal ini. Teman saya diselingkuhi oleh istrinya sendiri dalam waktu cukup lama. Tetapi Tuhan masih baik kepadanya, semua rahasia itu akhirnya terungkap juga. Singkat kata, perceraian adalah jalan yang ditempuh oleh teman saya itu. Untunglah dia sekarang mendapat pengganti istri yang sholehah.

Ah, dunia ini dipenuhi dengan banyak kepalsuan. Banyak orang berpura-pura tampil baik, tetapi ternyata oh ternyata ia adalah musuh di dalam selimut. Saya sering menemui kasus perselingkuhan yang dialami oleh orang-orang yang saya kenal, baik kenal baik maupun kenal begitu-begitu saja, semuanya adalah kaum pria. Tidak disangka ternyata mereka melakukan perselingkuhan, padahal rumah tangganya sudah menghasilkan beberapa orang anak yang manis-manis.

Saya jadi hilang kepercayaan kepada orang-orang yang melakukan perselingkuhan. Menurut saya, mereka sudah berlaku tidak jujur, tidak jujur kepada diri sendiri dan tidak jujur kepada orang lain. Rasa hormat saya kepada mereka lenyap begitu saja. Bagaimana orang seperti itu diangkat menjadi pemimpin jika mengurus rumah tangganya saja dia tidak becus, kepada istri atau suaminya dia sudah mengibuli dengan bermain api dengan orang lain. Mereka — orang-orang yang melakukan perselingkuhan itu — tidak bisa dipercaya lagi.

Di Amerika yang kita anggap negara paling sekuler dan menghargai privasi, ternyata masih menempatkan aspek etika moral sebagai basis memilih pemimpin. Banyak calon presiden dan wakil presiden tumbang sebelum terpilih karena aib perselingkuhannya terkuak dan menjadi komoditas media massa. Bahkan presiden yang sedang menjabat pun ketika tersandung kasus perselingkuhan (ingat kasus Bill Clinton dengan Monica Lawrensky) mendapat kecaman luas dari publik Amerika. Mereka menuntut Bill Clinton mengundurkan diri dari jabatannya. Rakyat Amerika ternyata masih menghargai kejujuran, mereka tetap ingin presiden mereka adalah orang yang bersih dari skandal.

Cukuplah perilaku berselingkuh hanya milik kaum artis yang memang tidak jauh-jauh dari kawin cerai. Dunia artis adalah dunia yang penuh permisivisme, segala hal serba boleh untuk dilakukan mereka. Orang biasa seperti kita tidak perlu mencontoh perilaku buruk itu, sebab ajaran agama telah membentengi kita untuk menahan syahwat, selalu berlaku jujur, dan selalu ingat bahwa malaikat-Nya selalu mengawasi kita dan mencatat setiap perbuatan yang kita lakukan. Orang lain mungkin bisa dikelabui, tetapi dimanakah Allah? Allah SWT tidak pernah tidur dan tidak pernah mengantuk. Dia tidak bisa ditipu oleh makhluk-Nya.

Ambilkan Bulan, Bu (Mengenang A.T Mahmud)

Ambilkan bulan bu (2x)
yang s’lalu bersinar di langit
di langit bulan benderang
cahyanya sampai ke bintang
ambilkan bulan bu
untuk menerangi
tidurku yang lelap
di malam g’lap

Diantara lagu-lagu anak ciptaan AbdullahTotong Mahmud, atau yang lebih dikenal dengan nama A. Mahmud, lagu “Ambilkan Bulan Bu” itu yang paling berkesan bagi saya. Lagu sederhana namun sangat menyentuh. Klik video lagunya di YouTube ini.

Kemarin Allah SWT telah memanggil AT Mahmud ke haribaan-Nya karena sakit kanker paru-paru pada usia 80 tahun. Siapa yang tidak kenal dengan nama penulis lagu anak ini. Lagu-lagu anak yang diciptakanya berisi pesan moral yang mendidik. Sebut saja “Pelangi”, “Naik Kereta Api”, “Paman Datang”, “Libur Telah Tiba”, “Aku Seorang Kapiten”, “Amelia”, “Anak Gembala”, dan sebagainya. Anda pasti pernah menyanyikan salah satu lagu di atas. A.T Mahmud hanya dapat disejajarkan dengan (alm) Pak Kasur yang juga banyak menciptakan lagu anak-anak.

Bagi anak-anak, menyanyi adalah ekspresi yang menyenangkan dan natural. Hanya sayangnya, anak-anak saat ini sudah banyak direcoki dengan lagu orang-orang dewasa. Mereka lebih hafal lagu-lagu dari Afghan, d’Masiv, Kuburan, Naif, dan penyanyi yang tersangkut kasus video zina, Ariel Peterpan. Peserta kontes lagu anak di televisi juga lebih banyak menyanyikan lagu-lagu cinta ketimbang lagu seusia mereka.

A.T Mahmud, Kak Seto, dan lainnya adalah sedikit orang Indonesia yang peduli pendidikan moral bagi anak-anak lewat nyanyian yang sederhana, mendidik, tetapi menghibur. Sudah sangat jarang ada orang yang menulis lagu anak-anak yang bagus dan sederhana seperti A.T Mahmud. Selamat jalan A.T Mahmud.

Ampuuun….Membuat Makalah Ilmiah Saja Pakai Joki

Mahasiswa saya sudah biasa menulis makalah sebagai salah satu penilaian kuliah. Semua kuliah yang saya ampu ada tugas membuat makalah. Makalah dibuat dengan format 2 kolom mengikuti format makalah pada jurnal atau proceeding internasional. Makalah tidak boleh berupa tulisan populer atau feature seperti yang kita temukan di media massa, tetapi harus berupa technical report yang merupakan aplikasi suatu metode yang mereka pelajari di dalam kuliah. Technical report artinya tulisan itu berisi istilah-istilah teknis yang hanya bisa dipahami oleh orang dalam bidang yang sama.

Dengan menulis makalah mereka diharapkan dapat mengartikulasikan keilmuannya dalam bentuk tulisan. Agar tulisan itu bisa di-share dan dibaca oleh banyak orang, maka saya mengunggahnya ke dalam situs web saya. Klik daftar makalah mahasiswa pada kuliah yang saya berikan semester lalu. Siapapun yang mengunjungi situs web tersebut dapat mengunduh dan membacanya untuk dipelajari. Ini adalah cara kami menginformasikan dan berbagi pengetahuan dengan orang lain.

Tadi ketika mengakses Detik.com, saya kaget membaca berita bahwa ribuan guru di Riau menggunakan joki untuk membuat makalah ilmiah. Makalah ilmiah digunakan sebagai syarat kenaikan pangkat dari golongan IVa ke IVb. Kenaikan pangkat berarti kenaikan gaji :-) . Beritanya di bawah ini dan diambil dari sini:

Karya Ilmiah Pakai Joki, 1.820 Guru di Riau Terancam Turun Pangkat
Chaidir Anwar Tanjung – detikNews

Pekanbaru – Tindakan tak terpuji dilakukan 1.820 guru di Riau. Mereka menggunakan joki untuk membuat karya ilmiah sebagai salah satu syarat kenaikkan pangkat. Akibatnya, para pendidik ini pangkatnya terancam diturunkan.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Pemprov Riau, Irwan Effendi, dalam perbincangan dengan detikcom, di Pekanbaru, Selasa (2/2/2010).

Irwan menjelaskan, pembuatan karya ilmiah itu dilakukan sebagai syarat kenaikan pangkat dari golongan 4A menjadi 4B. Tapi dalam prakteknya, para guru itu malah menggunakan joki untuk membuat karya ilmiah tersebut.

“Sanksi yang diberikan kepada mereka tentulah menurunkan pangkat mereka kembali. Jumlah mereka mencapai 1.820 orang. Sebagian dari mereka memiliki jabatan sebagai kepala sekolah,” kata Irwan.

Para guru nakal ini adalah guru PNS, mulai dari guru SD, SMP dan SMA. Guru-guru itu menyebar luas di seluruh kabupaten dan kota se-Riau.

“Tindakan penurunan pangkat dan jabatan itu akan dilakukan masing-masing kepala daerah. Karena para guru itu menjadi tanggung jawab masing-masing kabupaten dan kota. Namun demikian kita tetap memproses kasus karya ilmiah yang bukan hasil karya sendiri para guru tersebut,” kata Irwan.

Berita lanjutan yang terkait bisa dibaca di sini. Tentu saja berita ini memalukan dunia pendidikan kita yang memang sudah seperti benang kusut. Guru yang seharusnya memberikan contoh budi pekerti kepada muridnya ternyata malah melakukan kecurangan karena alasan materi.

Biasanya kita hanya bisa menghibur diri bahwa tidak semua guru seperti itu, masih banyak guru yang baik dan bermoral tinggi yang tidak menghalalkan berbagai cara guna mendapatkan kenaikan pangkat. Mudah-mudahan memang demikian adanya. Yang baik itu masih lebih banyak daripada yang buruk.

Hiburan di Tengah “Kesedihan”

Okelah, lupakan saja “kesedihan” kampus almamater karena ulah belasan mahasiswanya yang menjadi joki SNMPTN di Makassar. Mereka sudah mendapat hukuman sosial dari masyarakat, sementara hukuman dari ITB tinggal menunggu waktu saja (komunitas ITB menginginkan mahasiswa yang terlibat joki itu dikeluarkan saja).

Di tengah “kesedihan” itu, lumayan ada sedikit hiburan. Empat mahasiswa dari Prodi Informatika ITB yang tergabung dalam Tim Big Bang berhasil mengharumkan nama bangsa dengan memenangkan Mobile Device Award, pada kompetisi desain software internasional, Imagine Cup 2009 di Kairo, Mesir. Empat mahasiswa kami itu adalah David Samuel, Dody Dharma, Dominikus Damas Putranto, dan Samuel Simon. Tentu kalian sudah membaca berita-beritanya di koran maupun situs online. Kalau belum, baca pranala ini. Berita lainnya dapat dibaca di portal berita ini dan cerita lebih jauhnya baca di sini.

bigbang285

Bagi mahasiswa-mahasiswa yang menggunakan otaknya untuk prestasi yang sangat positif itu, banggalah kita. Tetapi, untuk mahasiswa yang menggadaikan otaknya untuk prestasi kecurangan dalam ujian dan tugas-tugas kuliah, itu adalah musibah bagi kita. Mengapa hal ini bisa terjadi berulang kali?

Yang memprihatinkan, perilaku kecurangan dalam ujian itu sudah berakar sejak pendidikan dasar dan menengah. Dan yang lebih menyedihkan lagi, kecurangan itu dilakukan oleh oknum guru, orang yang sepantasnya memberi teladan baik. Guru saja sudah berbuat curang dalam ujian, bagaimana muridnya? Masih ingat oleh kita berita beberapa tahun lalu, seorang guru di Medan dipecat dari sekolahnya karena melaporkan kecurangan yang dilakukan pihak sekolah dalam Ujian Akhir Nasional. Demi meluluskan murid-muridnya dalam UAN yang “menakutkan” itu — yang juga akan mengangkat gengsi sekolah — para guru diinstruksikan membagikan jawaban ujian kepada murid di ruang ujian. Tapi ada satu guru yang masih punya hati nurani, dia tahu perbuatan teman-temannya itu salah besar, lalu melaporkannya ke Disdik. Bukan dukungan yang dia dapat, malah dia dipecat karena telah menjelekkan nama sekolah.

Seorang rekan dosen yang pernah menjadi rektor sebuah universitas bercerita tentang perilaku mahasiswa di universitasnya itu. Sebagian besar mahasiswa universitas X itu adalah guru SD lulusan SPG yang mengambil D2 Pendidikan Guru SD. Menjelang ujian semester banyak beredar kunci jawaban yang ditawarkan. Yang sangat memprihatinkan, ada GURU mahasiswa universitas X tersebut yang mengeluh/protes karena membeli kunci jawaban palsu! Membeli kunci jawaban saja sudah memalukan, apalagi protes itu.

Kemanakah nilai-nilai kejujuran hendak dilabuhkan? Di zaman serba matre seperti ini masih banyak orang yang mengukur kerberhasilan pendidikan dari capaian nilai-nilai akademis semata, sementara nilai-nilai karakter individu seperti kejujuran diabaikan. Seolah-olah tujuan sekolah adalah untuk mendapat nilai tinggi, lalu mendapat sekolah/PT favorit, biar nanti mudah mendapat pekerjaan di perusahaan besar dengan gaji tinggi. Proses tidak penting, kalau perlu menyontek, menyogok, memanipulasi, dan sebagainya, yang penting adalah hasil akhir. Kemana negara ini mau dibawa ya?

Hentikan Saja Tayangan Itu Untuk Selamanya

Pelawak Tukul dan acaranya “Bukan Empat Mata” di sebuah TV swasta kembali kena semprit KPI (Komisi Penyiaran Indonesia). Program “Bukan Empat Mata” itu harus dihentikan untuk sementara. Ini kali kedua acaranya Tukul kena peringatan. Dulu acaranya yang berjudul “Empat Mata” dihentikan oleh KPI karena mengandung adegan kekerasan, kali ini acara yang merupakan ganti kulit dari acara yang lama dihentikan lagi karena ada unsur pornografi. Begitulah yang saya baca di koran tadi pagi.

Buat bapak-bapak dan ibu-ibu di KPI, saya kira acaranya Tukul ini tidak usah dihentikan sementara, tetapi untuk selamanya saja, dan saya pikir Tukul tidak diperbolehkan lagi menjadi host acara serupa. Kenapa? Tidak kapok-kapok, itu kata yang pas untuk menggambarkan pengelola acara (Tukul cs). Perilaku Tukul dalam acara itu jauh dari nilai-nilai kesopanan. Ada pelecehan terhadap kaum perempuan di dalam acara itu. Dia suka mencolek-colek dan memegang-megang tamu wanita maupun rekan mainnya yang perempuan. Seakan-akan perempuan itu istrinya atau saudaranya saja. Namun yang paling menyebalkan dan sangat tidak pantas adalah kata-kata dan sikapnya yang merendahkan martabat orang lain lantaran kekurangan fisik orang tersebut. Kelemahan fisik tamunya dijadikan bahan olok-olokan dan tertawaan. Baca tulisan saya yang terdahulu soal perilaku Tukul itu.

Sebenarnya banyak acara-acara TV yang bermasalah, tidak hanya acara Tukul tersebut. Sinetron-sinetron picisan dan kejar tayang banyak berhamburan kata sumpah serapah, makian, hinaan, adegan kekerasan, gaya hidup mewah, dan sebagainya menghiasi layar kaca setiap hari. Belum lagi acara reality show yang banyak mempertontonkan tindakan asusila. Manajemen televisi berlomba membuat acara yang mendatangkan keuntungan materi semata. Rating adalah kata sakti yang didewakan manajemen televisi. Sayangnya dalam mengejar rating tinggi, aspek moral dan etika sering terabaikan, baik oleh artis maupun oleh manajemen TV. Pihak artis dan manajemen TV sering berkilah bahwa tidak ada standard ukuran nilai-nilai moral di Indonesia. Buruk bagi seseorang belum tentu buruk pula menurut pandangan orang lain. Semua tergantung pribadi masing-masing, begitu alasan klise yang sering kita dengar. Dengan memanfaatkan perdebatan nilai-nilai yang tidak habis-habisnya itu — serta didukung oleh kelompok-kelompok liberal — pihak artis dan televisi seakan menutup mata dan telinga mereka dari suara-suara yang dianggap mewakili kelompok konservatif. Bak anjing menggonggong kafilah tetap lalu. Padahal televisi merupakan media yang paling banyak mempengaruhi persepsi dan nilai-nilai sosial di masyarakat. Perubahan nilai-nilai di masyarakat salah satunya karena dampak tayangan televisi.

Saya pikir banyak acara-acara TV sekarang ini yang tidak layak untuk ditonton, apalagi oleh keluarga yang punya anak kecil. Jalan yang paling aman memang matikan saja pesawat TV, habis perkara. Namun tidak semua orang berpikiran seperti itu, jutaan orang lain tidak atau belum peduli tentang hal ini. Bagi kebanyakan orang di Indonesia yang tingkat pendidikannya masih rendah, televisi adalah sarana hiburan keluarga yang murah meriah dan seolah wajib ada di rumah. Merekalah sebenarnya sasaran empuk infiltrasi nilai-nilai yang kurang baik dari acara-acara TV sampah itu. Parahnya lagi tidak semua orang Indonesia memiliki iman, nilai moral dan agama yang kuat. Sekali dua kali infiltrasi nilai-nilai itu belum terasa pengaruhnya, tapi kalau sering dilihat maka pengaruhnya terhadap perilaku baru dirasakan setelah jangka waktu yang agak panjang. Jika benteng moral dan agama tidak kuat, maka anak-anak kita kelak menjadi orang yang permisif terhadap perbuatan asusila.

Menyerahkan solusi masalah ini dengan pendidikan agama dan etika seakan-akan menyederhanakan masalah dan terkesan menghindari tanggung bagi pihak artis dan manajemen televisi. Pendidikan agama dan budi pekerti memang perlu dan harus selalu diberikan kepada anak kita, namun sumber masalah yang menyebabkan terjadinya degradasi moral itu juga harus tetap diselesaikan. Dalam kasus ini, masalahnya ada pada produser dan artis yang terlibat di dalamnya. Program televisi mereka itu dilarang saja agar menimbulkan efek jera. Indonesia ini tidak hanya berisi orang-orang seperti mereka, tetapi masih banyak berisi orang-orang yang menginginkan negara ini menjadi negara yang beradab.