Jalan-Jalan ke Cipanas (Garut) dan Kawah Kamojang

Hari Sabtu dan Minggu yang lalu dosen-dosen STEI-ITB mengadakan rapat kerja di Cipanas, Garut. Sungguh, Kabupaten Garut mempunyai alam yang sangat indah. Selama perjalanan dari Bandung ke Cipanas kami disuguhi pemandangan bentang alam yang menawan. Benar kata penyair Taufik Ismail, Tuhan menciptakan alam Parahyangan ini ketika sedang tersenyum.

Di Cipanas Garut ini ada sumber air panas yang berada di lereng Gunung Guntur. Sebagai daerah wisata, banyak hotel tersedia di sini. Bahkan rumah-rumah penduduk pun disulap menjadi wisma atau hotel melati. Setiap rumah mengalirkan air panas dari sumber mata air di lereng gunung, sebagian ada juga yang mengebor mata air panas dari dalam tanah.

Kami menginap di hotel di Cipanas yang mempunyai sumber air panas sendiri. Air panas di hotel ini mengandung belerang yang baik untuk kesehatan kulit.

Banyak pengunjung yang datang ke hotel ini bukan untuk menginap, tetapi berenang dan berendam di kolam air panas. Panasnya…aduh… panas sekali, mula-mula saya tidak kuat merendam kaki di kolam tersebut, tetapi lama-kelamaan biasa saja dan terasa enak.

Berendam di dalam kolam air panas

Setelah satu hari beraker ria, besoknya kami jalan-jalan ke Kawah Kamojang. Sebagian dosen sudah pulang, jadi yang jalan-jalan ke kawah Kamojang ini tidak banyak. Saya sudah 25 tahun tinggal di Jawa Barat, tetapi jarang mengunjungi obyek-obyek wisatanya. Ke Kawah Kamojang juga baru pertama kali. Kawah Kamojang terletak di selatan Cipanas, tepatnya di daerah Samarang (bukan Semarang lho). Jalan menuju Kamojang lebarnya sempit sehingga bila dua mobil yang berpapasan maka salah satunya harus bertoleransi dan mengalah untuk mendahulukan mobil lainnya. Kami naik bus besar, jadi terbayang kan sempitnya jalan tidak sebanding dengan lebar bus.

Perjalanan menuju Kamojang mendaki pengunungan. Jurang menganga lebar di pinggir jalan. Jika tidak hati-hati mengendarai, wah… tamatlah sudah. Bentang alam yang saya lihat luar biasa, perpaduan lembah, jurang an bukit. Tempat ini cocok untuk olahraga paralayang kayaknya. Sayang saya tidak sempat memotretnya karena bus tidak berhenti di jalan.

Sebenarnya ada apa di Kawah Kamojang? Di Kawah Kamojang itu ada sumber panas bumi bertekanan tinggi. Panas uap air ini berasal dari aktivitas magma yang mendidihkan air di dalam tanah. Air itu keluar ke permukaan bumi dalam bentuk uap bertekanan tinggi. Tekanan uap air yang tinggi itu dimanfaatkan Pertamina untuk menggerakkan turbin listrik. Listrik yang dihasilkan dari turbin ini sekitar 50 MW. Sungguh, energi panas bumi ini energi yang ramah lingukungan (green energy). Maha Besar Allah SWT, Dia menganugerahi Indonesia dengan kekayaan alam yang luar biasa.

Sebenarnya yang disebut kawah di Kamojang itu bukan kawah gunung api, tetapi letupan air mendidih bercampur belerang yang keluar dari dalam bumi. Sebagian lagi keluar dalam bentuk uap air sehingga berbentuk asap.

Salah satu kawah yang menarik perhatian adalah kawah kereta api. Disebut begitu karena bunyi uap air yang keluar dari lubang mengeluarkan bunyi menderu seperti uap air yang keluar dari cerobong asap lokomotif kereta uap.

Tekanan uap air dari kawah kereta api bertekanan sangat tinggi. Seorang kakek beraksi di dekat lubang uap air untuk menghibur pengunjung. Dia melemparkan botol air mineral, kain, bambu, dan lain-lain ke atas uap air itu. Benda-benda itu cengan cepat lenyap seperti ditelan lubang uap air, tetapi sebenarnya yang terjadi mereka terlempar ke atas dengan cepat sekali.

Kemudian dia mengambil sepotong bambu dan diarahkannya ujung bambu ke lubang uap air. Terdengar bunyi udara beresonansi di dalam bambu menciptakan musik tersendiri.

Berjalan sedikit ke atas bukit kita menemukan kawah yang lain. Di sini ada sumber mata air mengandung belarang dan uap air yang keluar dari pori-pori lubang tanah.

Sumber mata air yang mendidih.

Pengunjung memanfaatkan kawah di sini untuk mandi uap (sauna). Uap air yang mendandung belerang bagus untuk terapi tubuh. Di tebing dekat air mendidih ini keluar cipratan air panas yang bila terkena tubuh seperti ditusuk jarum. Beberapa pengunjung membuka bajunya dan membiarkan tubuhnya ditusuk cipratan air panas.

Mandi sauna

Seorang bapak yang mengaku juru kunci kawah itu memperlihatkan aksi magic. Dia dapat memerintahkan asap uap air itu diarahkan ke badan pengunjung. Dengan jarinya uap air yang keluar dari tumpukan batu mengikuti gerakan tangannya yang diarahkan ke badan pengunjung. Entah mantera apa yang dia pakai ya…

Dia juga dapat “memerintahkan” uap air itu dengan asap rokok. Diambilnya sebatang rokok, lalu dinyalakan, dan diarahkannya ke tumpjukan batu tadi. Ajaib, asap keluar dari celah-celah batu mengikuti gerakan tangannya. Ah, dunia ini memang banyak diisi dengan hal-hal gaib.

Sepenggal Potret Kehidupan di dalam KRD Cicalengka – Padalarang

Naik kereta api adalah kesenangan anak-anak. Hari Minggu kemarin anak saya minta jalan-jalan naik kereta api. Di kawasan Bandung Raya ada kereta api komuter yang bolak-balik dari Padalarang ke Cicalengka. Jarak Padalarang ke Cicalengka cukup jauh, barangkali sekitar 30 km lebih. Kereta api sangat berjasa bagi para pelaju yang rumahnya di pinggiran Bandung tetapi bekerja di kota Bandung. Tarifnya sangat murah, hanya Rp1000 per orang. Hampir tidak bisa dipercaya harga karcis kereta api semurah itu baik untuk jarak jauh maupun jarak dekat. Kalau mau yang sedikit lebih nyaman bisa naik kereta api patas yang harga karcisya Rp4000 atau KA Baraya Geulis yang Rp8000. Namun harga karcis kereta api itu masih tetap jauh lebih murah dibandingkan naik angkot yang mungkin menghabiskan ongkos Rp15.000 lebih plus kemacetan yang menjadi-jadi pada hampir semua jalan di dalam kota dan pinggiran kota Bandung.

Harga karcis yang sangat murah itu sebanding dengan pelayanan kereta yang seadanya dan terkesan seperti kurang diperhatikan oleh PT KAI. Gerbong kereta sangat kotor, jorok, bau, dan penuh sampah. Para pedagang kaki lima, pengamen dan pengemis bebas masuk ke dalam kereta. Tetapi, justru disitulah seninya naik kereta api ekonomi, kereta api kelas rakyat. Kalau anda ingin melihat potret kehidupan bangsa ini, maka sesekali naikilah kereta api ekonomi. Sepanjang perjalanan banyak cerita kehidupan yang mengalir begitu cepat, bagaikan mosaik-mosaik yang direkatkan ke dalam sebuah bingkai.

Saya mengajak anak-anak naik kereta api ekonomi ini. Biarlah nanti mereka melihat seperti apa potret kehidupan di sana. Kami naik KRD ekonomi dari stasiun Kiaracondong, stasiun ini paling dekat dengan rumah saya. Stasiun Kiaracondong adalah stasiun kelas 2 yang dikhususkan untuk kereta api ekonomi.

Jam sepuluh pagi KRD ekonomi datang dari arah Cicalengka. Gerbong kereta sangat padat dengan penumpang. Penumpang berjejalan di dalam gerbong, sebagian besar hanya bisa berdiri. Banyak penunpang yang naik dan banyak pula penumpang yang turun. Saya pun bersama anak-anak hanya bisa berdiri.

Meskipun padat, tetapi di dalam kereta selalu ada tempat bagi pedagang asongan, pengamen, dan pengemis untuk mencari rezeki. Naik kereta ekonomi berarti harus berlapang dada dengan mereka. Di sela-sela penumpang yang berdesakan mereka menarik-narik dagangannya yang diletakkan di atas gerobak beroda. Para pedagang itu sangat kreatif dengan menggunakan roda, sehingga barang dagangan tidak perlu dipikul.

Kegigihan para pedagang asongan dalam menjajakan dagangannya patut diacungi jempol. Pernah ketika saya naik KRD sebelum ini, seorang pedagang salak mula-mula menawarkan 20 biji salak Manonjaya (Tasikmalaya) seharga sepuluh ribu. Tidak ada penumpang yang tertarik membelinya. Tetapi dia tidak putus asa. Ketika dia kembali lag, dia menawarkan salaknya lagi, kali ini 30 biji dengan harga tetap sepuluh ribu. Penumpang tetap tidak bergeming. Setelah bolak balik ke gerbong lain, dia datang lagi, kali ini dia menawarkan empat puluh biji salak seharga sepuluh ribu. Aha, akhirnya ada penumpang pun tertarik membelinya. Ha..ha..ha, kalau saja penumpang itu mau bersabar sedikit menunggu pedagang salak itu kembali lagi, mungkin jumlahnya bisa bertambah lima puluh biji salak dengan harga yang sama. Saya pun tersenyum geli membayangkan ulah pedagang salak ini.

Kereta terus melaju, tetapi jalannya tidak bisa cepat. Pada setiap stasiun antara kereta berhenti menaikkan dan menurunkan penumpang. Pengamen dan pedaganga asongan tak henti-hentinya lalu lalang. Tiba-tiba datanglah seorang anak muda yang berjalan dengan cara merangkak. Badan dan pakainnya kotor sekali. Dia membawa sebuah sapu. Sapu itu terus disorong-sorongkannya ke lantai gerbong untuk mendorong sampah yang berserakan. Sekali-sekali dia berhenti lalu melakukan gerakan dengan tangan seperti orang minta minum dan makan. Tahulah saya maksudnya, ternyata dia mengemis meminta uang buat minum atau makan. Kasihan sekali. Beberapa penumpang memberikan uang ala kadarnya.

Stasiun Bandung, Ciroyom, Andir, Cimindi, Cimahi, Gadobangkong telah dilewati. Melewati stasiun Ciroyom kita akan menemui bau yang menusuk hidung. Bau busuk dari pasar ikan di Ciroyom memenuhi gerbong kereta yang terbuka. Akhirnya kereta sampai di stasiun Padalarang. Ini adalah stasiun terakhir tempat perhentian. Saya dan anak-anak segera turun. Tidak bisa berlama-lama kami di staisun ini, sebab kereta akan berangkat lagi ke Cicalengka. Saya segera membeli karcis yang harganya tetap seribu rupiah.

Baru turun lima menit ternyata kereta sudah dipenuhi penumpang. Ini suatu tanda bahwa antusiasme masyarakat urban untuk naik kereta api sangat tinggi, karena kereta api rakyat semacam ini tarifnya sangat murah dan bebas dari kemacetan.

Seperti dalam perjalanan pergi, dalam perjalanan pulang ini penumpang disuguhi kembali potret yang sama, yaitu lalu lalang pedagang asongan, pengamen dan pengemis. Kali ini penumpang tidak sepadat dari Kiaracondong sehingga para pengamen lebih leluasa dalam mencari makan.

Pada pedagang buah pun ikut meramaikan kereta dengan buah mangganya.

Hujan deras ikut menemani selama perjalanan. Kereta terus melaku menyinggahi stasiun-stasiun kecil. Penumpang naik dan turun. Hidup itu seperti perjalanan kereta api, ada yang datang dan ada yang pergi. Kita berangkat dari suatu tempat dan akhirnya harus berhenti untuk turun. Selama dalam perjalanan kita menemukan banyak manusia dengan aneka ragam tingkah polah dan nasibnya. Perguliran nasib hanya Allah yang tahu.

Berkunjung ke Banda Aceh (4 – Habis): Dari Mie Razali Hingga Ayam Tangkap

Kuliner di Aceh memang unik. Dua makanan yang saya ceritakan di sini adalah mie Razali dan ayam tangkap. Kita mungkin sudah mengenal masakan mie aceh (baik mie rebus maupun mie goreng). Di Bandung banyak terdapat warung mie aceh. Warung mie aceh langganan saya adalah Gampong Aceh di Jalan Dago.

Di kota Banda Aceh kedai mie yang terkenal adalah Kedai Mie Razali di Jalan Panglima Polem (kawasan Simpang Lima). Kebetulan kedai ini dekat dengan hotel tempat saya menginap, jadi kesanalah saya malam-malam mencari makan. Banyak orang sedang makan di sana. Mie Razali ini katanya sudah ada sejak tahun 1967. Seingat saya di Rest Area jalan tol Cikampek juga ada gerai mie Razali. Saya tidak tahu yang di rest area tersebut berhubungan dengan kedai mie Razali di Banda Aceh atau tidak.

Saya memesan mie kesukaan saya, yaitu mie rebus udang dan segelas es timun. Ini dia makanan dan minuman yang saya pesan:

Hmmmm… kuah kental mie rebusnya begitu menggoda selera. Apa rahasia bumbu kuah ini? Ada bumbu kari pasti, sebab masakan Aceh memang banyak menggunakan bumbu kari. Saya pun makan dengan enaknya. Bismillahhirahmaanirrahiim. Rasanya memang tidak jauh beda dengan mie di Gampong Aceh Jalan Dago, Bandung. Tetapi, menikmati mie aceh di tempat asalnya sendiri tentu lebih maknyus.

Siang hari saya pun berburu “ayam tangkap”. Mendengar masakan ayam tangkap saya semula berpikir ayamnya diuber-uber dulu sebelum ditangkap dan akhirnya digoreng (capek dong…), tetapi saya salah kira. Saya bertanya ke supir becak motor (bentor) yang menjadi angkutan umum di Banda Aceh, di mana kedai makanan yang menjual ayam tangkap.

Supir bentor (benar nggak sih disebut supir, sebab kendaraannya sebenarnya adalah becak yang ditarik dengan sepeda motor) mengantarkan saya ke kedai ayam tangkap Cut Dek di daerah Lampineung.

Saya minta izin melihat proses memasak ayam tangkap di dapur belakang. Ternyata ayam tangkap itu adalah ayam kampung yang dipotong kecil-kecil kemudian digoreng dengan aneka daun-daun. Wuah, jenis daunnya banyak sekali, mulai dari daun jeruk, daun pandan, dan lain-lain, mungkin ada juga daun ganja kali ya (maklum masakan Aceh terasa sedap jika pakai ganja, kata orang-orang). Saya sendiri belum pernah melihat daun ganja, tetapi sebagai bumbu masakan saya pikir tidak masalah. Yang salah adalah jika diproses dan disalahgunakan menjadi narkoba.

Daun-daun ini bersama ayam digoreng dalam kuali besar berisi minyak goreng yang sudah menghitam. Hmmm…minyak jelantah itu. Di Bandung pun banyak pedagang ayam goreng yang menggunakan minyak jelantah. Secara higienis minyak jelantah tidak sehat.

Inilah dia satu porsi ayam tangkap yang dihidangkan di meja saya. Mana ayamnya? Ternyata daging ayam tadi ditaruh di bagian bawah, lalu diatasnya ditumpuk daun-daun yang sudah digoreng tadi (plus bawang goreng dan cabe bulat hijau yang juga digoreng). Itulah kenapa disebut ayam tangkap, sebab ayamnya bersembunyi di balik rimbunan daun-daun tersebut.

Selintas masakan ini mirip “tumpukan sampah” daun kering ketimbang ayam goreng. Saya mulai mencoba mencicipi daun-daun itu. Wow, rasanya enak dan garing seperti kerupuk. Untuk memakannya tersedia sambal cabe rawit, tetapi saya lebih suka sambal udang yang disamping itu, lebih segar rasanya.

Saya mengubek-ubek tumpukan daun mencari ayamnya, dan inilah hasil “pengubek-ubekan” saya itu:

Terlihat daging ayamnya kan? Dengan porsi sebanyak itu tentu tidak habis saya makan sendiri. Harga seporsinya Rp60.000 (mahal?), padahal kalau tahu saya bisa memesan setengah porsi saja. Karena tidak habis, saya minta sisanya dibungkus dengan kotak saja untuk dibawa pulang ke Bandung. Di Bandung saya tinggal menggoreng ulang supaya garing lagi.

Selain ayam tangkap, ada pula masakan bernama “ayam lepaas” (dengan dua huruf “a”). Aha, ada-ada saja namanya ya, ada ayam tangkap dan ada pula ayam lepaas, dua-duanya saling antagonis. Saya belum sempat mencoba ayam lepaas. Kata supir bentor, ayam lepas itu sejenis ayam gulai, pakai santan gitu. Hmm… penasaran. Ini dia kedai ayam lepaas di Simpang Lima, saya hanya bisa memfoto kedainya saja.

Demikianlah pengalaman saya yang berkesan di Banda Aceh. Hanya dua hari saja saya di sana, belum cukup rasanya. Saya masih ingin ke kota Sabang di Pulau Weh, atau melihat Pantai Lhok Nga yang indah. Namun, pesawat Garuda sudah menunggu saya di Bandara Sultan Iskandar Muda yang megah.

Pada lain kesempatan saya ingin mengunjungi Banda Aceh lagi.

Berkunjung ke Banda Aceh (3): Masjid Raya Baiturrahman yang Mempesona

Tidak lengkap ke kota Banda Aceh jika belum mengunjungi Masjid raya Baiturrahman. Inilah masjid yang menjadi kebangaan orang Aceh, yang menjadi landmark dan ikon kota Banda Aceh. Inilah masjid yang bersejarah karena masjid ini sudah beberapa kali dibakar oleh Belanda, sebab masjid raya menjadi simbol perjuangan orang Aceh melawan penjajah Belanda. Masjid Baiturrahman juga menjadi saksi sejarah peristiwa tsunami Desember 2004, sebab pada persitiwa itu masjid tetap kokoh berdiri meskipun dihantam gelombang tsunami.

Sudah lama saya memendam keinginan shalat di masjid Baiturrahman. Hari ini impian saya untuk shalat di masjid itu terwujud sudah. Dengan perasaan hati bergetar bercampur keharuan karena memang saya sudah rindu berkunjung ke masjid tersebut, saya berjalan kaki dari hotel tempat menginap mendekati masjid Baiturrahman.

Dari kejauhan tampaklah menara dan kubah masjid:

Menara masjid yang tinggi menyambut kedatangan saya di pintu gerbang, seolah-olah mengucapkan selamat datang kepada saya yang merindukan shalat di masjid itu:

Saya terus berjalan memasuki halaman masjid. Gapura masjid menyambut kehadiran saya dengan ramah:

Dan, inilah dia, Masjid Baiturrahman yang sangat mempesona. Arsitektur masjid merupakan paduan gaya Persia, Arab, dan India. Orang Aceh dan budayanya memang merupakan perpaduan ketiga bangsa tersebut.

Saya berjalan memasuki masjid, melihat-lihat ruangan masjid yang penuh dengan tiang-tiang lengkung khas Timur-tengah. Arsitektur interior masjid tak kalah mempesona dengan eksteriornya. Pantaslah jika masjid raya Baiturrahman merupakan salah satu masjid terindah di Asia Tenggara.

Ini bagian mihrab masjid, saya berfoto di sini:

Saya bertanya di mana tempat wudlu. Ternyata tempat wudhu jauh di halaman masjid. Biasanya tempat wudhu berada di samping masjid atau di belakang, tetapi di Masjid Baiturrahman kita harus berjalan kira-kira 25 meter ke samping taman. Tempat wudlu itu terletak agak ke pinggir jalan raya, sedangkan toiletnya berada dekat trotoar jalan.

Halaman masjid yang luas ditata menjadi taman yang asri dan indah:

Pada kejadian tsunami, halaman ini penuh dengan sampah material bangunan rumah, mobil, pohon-pohon, dan mayat-mayat manusia. Ketika terjadi tsunami air laut tidak masuk ke dalam masjid, tetapi hanya sampai anak tangga paling atas saja. Anehnya aliran air sangat tenang melewati halaman masjid, begitu penuturan saksi mata (tukang potret keliling yang mangkal di halaman masjid). Yang lebih aneh adalah jika di dalam areal masjid aliran air laut begitu tenang, tetapi di jalan raya di samping masjid aliran air laut lebih tinggi dan sangat deras menghanyutkan apa saja. Sulit untuk dipercaya dengan logika, tetapi mungkin itulah mukjizat Allah SWT menyelamatkan Rumah-Nya. Makanya masjid ini merupakan masjid yang “keramat” bagi orang Aceh.


(foto di atas diambil dari sini)

Selesai shalat dhuha dua rakaat, saya memotret masjid dari arah yang berbeda. Majid Baiturrahman sangat anggun dan sangat menggoda untuk terus difoto. Berikut beberapa foto keindahan masjid yang saya jepret:

Berat hati untuk meninggalkan masjid raya, inginnya terus berada di sini, tetapi karena waktu saya yang terbatas, saya harus meninggalkannya. Alhamdulillah, saya sudah pernah shalat di Masjid raya Baiturrahman, Banda Aceh, dan suatu saat saya ingin kembali ke masjid ini.

Berkunjung ke Banda Aceh (2): Museum Tsunami dan Rumoh Aceh

Hanya dua hari saya di Banda Aceh, tetapi sudah banyak tempat yang saya kunjungi. Ke Banda Aceh jangan lupa mengunjungu museum yang satu ini, Museum Tsunami Aceh. Museum tsunami letaknya di dekat lapangan Blang Padang. Lapangan Blang Padang sekarang sudah bersih dana sri, padahal ketika kejadian tsunami lkapangan ini penuh dengan mayat manusia, materi bangunan, mobil, motor, batang pohon, dan segala sampah yang dihanyutkan oleh gelonbang tsunami.

Museum tsunami Aceh yang berbentuk kapal ini adalah hasil rancangan lulusan Arsitektur ITB. Dari dekat tidak kelihatan berbentuk kapal karena dimensi bangunan yang besar, tetapi kalau dilihat dari udara tampaklah seperti kapal dengan cerobongnya. Di bawah ini gambar maket museum yang diambil dari sini.

Museum sepi hari itu, jadi saya sendiri yang berada di dalam museum yang sunyi. Saya memulai masuk dari lorong tsunami. Lorong tsunami ini gelap dan sempit, di dinding lorong terdapat air terjun yang mengeluarkan suara air bergemuruh. Agak merinding saya melewati lorong tsunami tersebut, sendirian lagi. Kesan yang ingin disampaikan melalui lorong ini mungkin ingin mengingatkan pengunjung pada suara gemuruh tsunami. Saya tidak bisa memotret lorong ini karena gelapnya, jadi fotonya saya ambil dari sini saja.

Setelah keluar dari lorong tsunami pengunjung memasuki ruang panel. Suasana di dalam ruangan besar ini juga gelap dan sepi. Hanya ada puluhan panel layar monitor komputer yang menampilkan foto-foto kejadian tsunami secara bergantian. Ratusan foto-foto dokumentasi tsunami seakan-akan menceritakan kepedihan dan duka mendalam Tanah Rencong. Tanah Rencong porak poranda, ribuan mayat tergeletak begitu saja, jerit pilu keluarga korban mencari sanak suadranya yang hilang.

Dari ruang panel ini saya terus berjalan, dan akhirnya memasuki ruang cerobong asap. Di dinding ruangan terpatri ribuan nama-nama korban tsunami, sedangkan di puncak cerobong tergambar kaligrafi “Allah”. Alunan suara qari yang melantunkan ayat-ayat Alquran di dalam ruangan menambah sakral suasana, seakan-akan mengingatkan kita akan kematian. Suatu saat kita pun akan mati dan kembali kepada-Nya.

Dikutip dari sini: The light of God, sebuah ruang berbentuk sumur silinder yang menyorotkan cahaya keatas sebuah lubang dengan tulisan arab “Allah” dan dinding sumur silinder dipenuhi nama para korban sangat mengandung nilai-nilai religi merupakan cerminan dari Hablumminallah (konsep hubungan manusia dan Allah).

Suasana di dalam museum:

Saya terus berjalan melihat ruang pamer lainnya. Di dalam ruang pamer terdapat model tiga dimensi yang memperlihatkan suasana tsunami, seperti pada foto-foto di bawah ini:

1. Situasi setelah terjadi gempa

2. Situasi saat datangnya gelombang tsunami

3. Kapal nelayan yang terdampar di Lampulo

Selain museum tsunami, saya juga mengunjungi satu museum lagi yaitu Rumoh Aceh. Museum berbentuk rumah adat Aceh ini berisi barang-barang tradisional dan foto-foto sejarah Aceh.

Di depan Rumoh Aceh ada sebuah lonceng yang besar, lonceng peninggalan zaman Belanda:

Suasana di dalam Rumoh Aceh:

Satu pajangan yang menarik saya di Rumoh Aceh adalah Kohler Boom atau Pohon Kohler. Kohler Bomm adalah potongan kayu dari pohon geulumpang (Sterculia Foetida Linn) yang dahulu tumbuh di sisi utara Masjid Raya Baiturrahman. Belanda menyebutnya Kohler Boom karena di bawah pohon inilah Panglima Perang Belanda bernama Jenderal Kohler ditembak mati oleh pejuang Aceh pada tanggal 14 April 1873.

Di dalam museum di belakang Rumoh Aceh ada foto-foto kuno yang menceritakan perjuangan Aceh pada zaman Belanda. Ini beberapa foto yang saya jepret:

Foto di atas adalah foto uleebalang (hulubalang Aceh) dengan seorang “Controlleur” di Krung Maba (Aceh Barat Laut) pada tahun 1877.

Kalau foto yang di bawah ini foto perempuan Jawa dengan tentara KNIL (tentara kerajaan Hindia Belanda) dekat jalan masuk kraton Kutaraja (Banda Aceh) pada tahun 1874:

Pasar kerbau di Masjid Raya Baiturrahman pada tahun 1892:

Kediaman Sultan Mahmudsyah, Kutaraja (Banda Aceh) 1874:

Berkunjung ke Banda Aceh (1): Melihat Sisa-Sisa Tsunami

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan mengunjungi kota Banda Aceh. Ada konferensi nasional yang diadakan oleh Jurusan Teknik Elektro Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Saya mempresentasikan makalah saya di sana. Berhubung saya belum pernah ke Banda Aceh, maka saya sangat antusias datang ke sana. Selain mengikuti konferensi, apalagi tujuannya kalau bukan melihat sisa-sisa peninggalan tsunami 2004.

Ya, setiap orang yang datang ke Banda Aceh pasti penasaran ingin melihat memorabilia tsunami. Orang Aceh pasti paham hal itu, dan mereka akan menjawab setiap pertanyaan pendatang tentang kejadian tsunami. Pertanyaan-pertanyaan standard seperti apakah air laut sampai ke jalan ini, berapa ketinggian air laut di jalan itu, di mana anda pada saat kejadian tsunami, dsb, pasti ditanyakan siapapun yang berkunjung ke kota Serambi Mekkah ini. Orang Aceh akan menjawab semua pertanyaan itu dengan antusias. Mereka adalah saksi hidup peristiwa bersejarah itu.

Kalau kita mengunjungi Banda Aceh saat ini, kita mungkin hampir tidak percaya kalau tsunami pernah terjadi di kota ini enam tahun yang lalu. Kota Banda Aceh terlihat bersih, resik, dan tidak terlihat lagi bekas-bekas tsunami. Setidaknya pemandangan itu saya saksikan di pusat kota dimana menara Masjid Raya Baiturahman terlihat dari kejauahan. Padahal di tempat ini air laut pernah meneobos dengan deras.

Di sungai pada foto di bawah ini, sungai Krueng Aceh namanya, pada saat kejadian penuh dengan mayat-mayat manusia yang dihanyutkan air laut, tetapi sekarang sungai terlihat sangat bersih.

Sebuah gereja Katolik Bunda Hati Kudus berdiri dengan anggun di pinggir sungai Krueng Aceh. Meskipun Aceh adalah daerah otonomi dengan penerapan Syariat Islam, namun keberadaan agama lain dilindungi. Jika anda menyangka bahwa semua perempuan di Aceh harus memakai busana muslimah (jilbab atau kerudung), maka sangkaan anda itu tidak benar. Syariat Islam hanya berlaku bagi orang Islam saja, sedangkan orang non-muslim terikat dnegan hukum positif Indonesia. Sehingga, aturan berbusana yang sesuai syariat Islam hanya berlaku bagi wanita muslim saja. Saya melihat wanita Tionghoa dan wanita non muslim lain di jalanan bebas memakai pakaian yang sopan meskipun tidak berkerudung.

Kota Banda Aceh dan Meulaboh adalah kota yang paling parah dihantam tsunami. Meskipun di Banda Aceh tidak terlihat lagi bekas-bekas tsunami, namun ada beberapa memorabilia yang menjadi saksi bisu yang menceritakan betapa dahsyatnya tsunami pada akhir tahun 2004 itu. Dua memorabilia yang saya kunjungi adalah kapal PLTD Apung dan kapal nelayan di atas rumah.

Kapal PLTD Apung ini terdampar di kawasan darat yang jauhnya 5 km dari pinggir pantai. Kapal berbobot puluhan ton ini hanyut dari tengah laut menuju ke daratan. Bisa kita bayangkan betapa tinggi dan dahsyatnya gelombang tsunami menghantam Banda Aceh saat itu.

Ketika saya datang, lokasi ini dipagari karena sedang ada pembangunan kawasan menjadi taman edukasi tsunami, jadi saya saya tidak dapat melihat kapal lebih dekat, Lihatlah dari jauh kapal PLTD itu, sungguh dahsyat tsunami yang melanda Aceh saat itu.

Tidak jauh dari kapal PLTD kita dapat melihat foto-foto kejadian tsunami. Melihat foto-foto itu terasa begitu mencekam dan horor, seolah-olah masih terdengar jerit pilu warga Banda Aceh ketika gelombang laut tiba-tiba merenggut nyawa dan harta benda yang dilaluinya.

Satu memorabilia lagi yang wajib dikunjungi adalah kapal yang nyangkut di atas rumah. Ini adalah kapal nelayan yang terombang ambing dan tersangkut di atas sebuah rumah penduduk di daerah Lampulo (masih dalam kota Banda Aceh). Lokasi ini berjarak 2 km dari pinggir pantai.

Semua rumah yangg ada di sekitar memorabilia adalah bangunan baru. Hampir semua bangunan lama rata dengan tanah. Melihat rumah-rumah itu kita hampir tidak percaya kalau dulu pernah terjadi bencana alam yang maha dahsyat di Tanah Rencong.

Sebagai pengingat bahwa kita semua akan mati, saya melewati kuburan massal korban tsunami di kawasan Uleu-leu. Kuburan yang tidak berbatu nisan, di dalamnya terkubur jasad ribuan korban tsunami yang tidak diketahui identitasnya. Mereka adalah sebagian dari 240.000 ribu korban tsunami yang hilang atau ditemukan. Jumlah itu sama dengan jumlah penduduk sebuah kota kecil di Pulau Jawa.

Cerita Liburan Dibuang Sayang (2): Pulau Bunaken Tidak Seindah Taman Lautnya

Belum lengkap ke Manado kalau belum merasakan 3B, canda teman saya di Manado. “3B” itu adalah Bunaken, Bubur Manado, dan ….Bibir Manado, he..he..he. Untuk B yang terakhir ini enggaklah ya, tapi untuk 2B yang pertama saya sudah merasakannya.

Seusai sidang tugas akhir mahasiswa bimbingan jarak jauh saya di perguruan tinggi swasta di kota yang dijuluki “Kota Tinutuan” itu, para mahasiswa mengajak kami (saya dan teman saya) jalan-jalan ke Pulau Bunaken. Bunaken? Wow, siapa pemerhati wisata dan pelaku travelling yang tidak kenal dengan nama itu. Menyebut Bunaken berarti membayangkan taman lautnya yang indah seperti tampak pada foto di bawah ini (Foto ini diambil dari sini)

Ke sanalah saya pergi berkunjung dengan para mahasiswa Kawanua yang ramah-ramah, ganteng-ganteng dan cantik-cantik itu. Dari dermaga Marina kami menyewa kapal speed boat. Jumlah penumpang kapal maksimal 10 orang. Dari dermaga ini tampaklah kejauhan pulau Manado Tua yang berdampingan dengan pulau Bunaken.

Perjalanan ke Pulau Bunaken ini menempuh waktu setengah jam. Sayang sekali laut indah di antara kota Manado dan pulau Bunaken tercemar sampah rumah tangga dan sampah dari pasar.

Pulau Bunaken sudah nampak di depan mata, di sebelah kirinya pulau Manado Tua yang tadi terlihat dari pantai Marina.

Perahu berlabuh di dermaga Pulau Bunaken. Dermaganya kecil saja, cukup untuk bersandar beberapa perahu.

Nah, ini dia Pulau Bunaken itu. Ada perkampungan penduduk di ujung pulau, sedangkan di bagian tengah hanya ada kios-kios yang menjual cenderamata dan jajanan. Saya lihat ada gereja dan sebuah masjid di perkampungan itu. Toleransi beragama orang-orang Sulawesi Utara memang mengagumkan. Torang samua basudara, begitu semboyan warga kawanua.

Saya pun berfoto sejenak di depan papan yang memuat peta Pulau Bunaken. Akhirnya bisa juga saya menginjakkan kaki di pulau yang terkenal itu.

Sebuah rumah adat Minahasa menyambut kedatangan saya. Rumah adat Minahasa berbentuk panggung dengan dua buah tangga di sisi kiri dan kanan depan.

Ternyata pulau Bunaken tidak seindah taman lautnya. Pantainya biasa-biasa saja, pasirnya berwarna kuning, banyak batu karang seperti foto di bawah ini. Kalau tidak hati-hati berjalan menyusuri pasir pantai kaki kita bisa menginjak hewan lunak bernama bulu babi yang sakitnya tak tertahankan.

Ada sebuah hotel di pinggir pantai ini. Hotel tersebut terlihat sepi. Tamunya sebagian besar bule yang mengahbiskan waktunya menyelam (diving) melihat taman laut.

Gadis-gadis Kawanua yang cantik-cantik dan cowoknya yang ganteng-ganteng berfoto bersama di pinggir pantai Bunaken.

Bye..bye Bunaken, saya agak menyesal tidak melakukan diving di sana melihat taman lautnya yang indah. Soalnya saya tidak bisa berenang, apalagi kata teman di taman laut Bunaken ada jurang yang dalam, ngeri juga kalau terperosok masuk jurang di dalam laut, habislah saya.

Malam sebelum balik ke Bandung kami makan di restoran Wisata Bahari yang terletak di pinggir pantai kawasan Boulevard.

Di restoran-restoran pinggir laut itu makanan apalagi yang paling enak kalau bukan hidangan seafood seperti foto di bawah ini. Ikan-ikan segar dari Samudera Pasifik diolah menjadi masakan khas Manado seperti woku belanga, gorappa salad, sup ikan, dan sebagainya. Benar-benar menggoda!

Pulau Sulawesi memang mengesankan!

Cerita Liburan Dibuang Sayang (1): Bali dari Sisi yang Lain

Liburan sekolah bulan Juli yang lalu saya membawa keluarga liburan ke Pulau Bali. Tiket promo Air Asia yang saya beli setahun sebelumnya benar-benar murah untuk harga musim liburan. Bayangkan, saya hanya membeli tiket pesawat dengan harga 290 ribu dari Bandung ke Denpasar, padahal harga normal sudah 600 ribuan, apalagi kalau musim liburan (peak season), tentu lebih mahal lagi.

Sedikit catatan tentang Air Asia ini, meskipun digaungkan sebagai pesawat low cost, ternyata tidak benar-benar murah juga. Mendapatkan nomor kursi saja harus bayar. Barang bagasi juga tidak gratis, 15 kg pertama bayar 75 ribu, di atas 15 kg lebih mahal lagi. Kalau mau lebih murah, beli vucer bagasi ini di kantor penjualan tiket, sebab kalau bayar bagasi di bandara harganya jauh lebih mahal. Jadi, kalau dihitung-hitung harga tiket Air Asia ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan maskapai lain yang menggratiskan bagasi sampai 20 kg dan memilih kursi tidak dikenakan biaya.

Pulau Bali, semua orang sudah tahu hal itu. Pantai Kuta, Legian, Sanur, Tanah Lot, Kintamani, dan sebagainya adalah ikon Bali. Tidak ada yang baru di pulau ini. Saya sudah beberapa kali ke Bali, tetapi anak-anak belum. Hotel di kawasan Kuta ratusan jumlahnya, mulai dari yang super murah hingga yang mahal minta ampun. Berada di kawasan Kuta seakan-akan kita tidak berada di Indonesia saja, karena orang-orang yang berseliweran di jalan-jalan, yang duduk-duduk di pinggir jalan, di rumah makan, dan sebagainya adalah orang bule dan orang asing lainnya. Suasana di Kuta sangat internasional.

Kami menginap di kawasan Tuban, Kuta. Pantai Kuta sekarang tidak sebagus dulu. Kotor dan ancaman abrasi yang mengikis pantai. Sore hari saya membawa anak berenang di Pantai Kuta. Menjelang Maghrib ketika selesai berenang — masih di pantai Kuta — saya merasakan pengalaman yang mengharukan. Dari kejauhan lamat-lamat terdengar suara shalawat tarhim dari masjid yang entah dimana letaknya. Suaranya hilang timbul ditiup angin. Tidak lama kemudian terdengar kumandang adzan Maghrib. Tentu saja saya merasa ada keharuan mendengar shalawat tarhim dan suara adzan di sini. Ini di Pulau Bali, pulau yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Di daerah Kuta lagi, daerah tujuan turis internasional. Ternyata Islam hadir di sini. Ada sebuah masjid di kawasan Kuta yang selalu setia melantunkan adzan dan shalawat itu.

Tentu saja saya merasa surprise mendengar suara adzan di Kuta. Saya bertambah surprise lagi ketika pada Hari Minggu pagi suara lonceng gereja berdentang keras dari sebuah gereja Katolik untuk mengingatkan jemaatnya untuk siap-siap ke gereja. Dentang lonceng itu berbunyi cukup lama, ada kira-kira lima menit lamanya. Suaranya terdengar sampai ke hotel tempat saya menginap. Sore hari lonceng itu berdentang kembali. Di Manado sendiri, kota yang mayoritas beragama Kristen, tidak pernah saya mendengar suara lonceng gereja sekeras itu. Tetapi di Kuta, semuanya bisa hidup berdampingan dengan damai. Suara adzan, lonceng gereja, gamelan Bali, adalah warna-warni lain kehidupan di Kuta yang tidak pernah sepi siang dan malam.

Berkunjung ke Kuta tentu hal yang biasa. Kuta sudah menjadi tujuan utama wisatawan ke Bali. Selama dua hari di Bali saya menyewa mobil travel yang bisa mengantarkan kami kemana-mana seperti ke Pura Tanah Lot atau belanja o
leh-oleh di toko Krisna,

Satu lagi tempat yang sangat menarik yang belum pernah saya kunjungi adalah pantai Benoa. Pantai Benoa lebih bagus dari pantai Kuta. Pasirnya putih bersih, tapi ombaknya tidak sebesar di Kuta. Di sini anginnya kencang sehingga ada fasilitas paralayang yang ditarik perahu spead boat selain banana boat tentunya. Di dekat pantai ini ada Pulau Penyu. Untuk mencapai pulau Penyu ada perahu spead boat yang dapat disewa dengan tarif Rp100 ribu per orang (mahal ya). Perahu ini membawa kami berkeliling-keliling laut di sekitar pantai sebelum akhirnya mendarat di Pulau Penyu.

Pulau Penyu, begitu namanya, adalah tempat penangkaran penyu langka. Penyu-penyu itu ditangkar di dalam sebuah pondok yang di tengahnya diisi air laut. Wuah, penyunya besar-besar lho, sepertinya sudah berusia puluhan tahun. Selain penyu di pulau ini ada penangkaran ular phyton dan burung kakatua. Anak saya tidak takut dilingkar ular phyton ini, tentu saja mulut ular sudah diikat supaya tidak mematuk.

Bagaimanapun Bali tetap tujuan wisata favorit, namun Bali tidak hanya Kuta. Ada sisi lain Pulau Bali yang belum banyak diketahui. Suatu saat saya ingin melihat sisi-sisi Pulau Bali yang menarik untuk ditulis.

Wajah SMP Negeri 8 Padang Setelah 29 Tahun Waktu Berlalu

Tanggal 9 Juli 2011 yang lalu saya sengaja pulang ke Padang untuk menghadiri acara reuni pertama alumni SMP 8 Padang lulusan tahun 1982. Acaranya diadakan pada hari Sabtu, cukup banyak juga teman-teman dan guru-guru yang pernah mengajar kami datang. Sebagian guru itu sudah ada yang dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, hanya sebagian yang masih hidup inilah yang bisa datang menemui kami anak didiknya. Thank to Mark Zuckenberg si penemu fesbuk, berkat jejaring sosial yang dia buatlah maka kami bisa bertemu dan berkumpul kembali setelah 29 tahun berpisah ketika tamat SMP pada tahun 1982. Kalau kita kuliah di perguruan tinggi maka angkatan kita diberi nama dengan tahun masuk kuliah, tetapi ketika di SD, SMP, dan SMA angkatan kita diberi nama tahun kita lulus karena kita lulus bersama-sama. Angkatan kami adalah angkatan 1982 yaitu lulusan tahun 1982.

Foto bersama alumni Angkatan 1982 di depan sekolah:

Tidak penting benar menceritakan acara reuni tersebut. Biasalah acaranya, kangen-kangenan dan nostalgia masa sekolah. Bagi saya sendiri inilah pertama kali saya menjejakkan kaki di sekolah ini kembali setelah 29 tahun saya tidak pernah ke sana lagi. Setamat SMP saya diterima di SMA 1 Padang, sedangkan sebagian besar teman-teman saya sekolah di SMA 4 Lubuk Begalung. Apalagi setelah saya kuliah di Bandung, terputuslah “hubungan” dengan SMP 8 ini dan teman-teman sekolah. Tanggal 9 Juli 2011 kemarin menyimpan keharuan bagi saya ketika menjejakkan kaki di sekolah ini kembali.

Sekarang sekolah ini sudah berubah. Dulu ketika saya sekolah, SMP ini adalah SMP pinggiran yang tidak banyak dilirik, “terpencil” (maklum Padang dulu masih belum luas), dan tidak masuk “hitungan”. Sekarang? Hmmm… SMP 8 Padang sudah menjadi sekolah RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) dan menjadi SMP bergengsi, SMP pilihan dan nomor 1 di Sumatera Barat. Murid-muridnya brilian, seleksi masuknya ketat. Seperti jamak SMP favorit di mana saja, otomatis ia menjadi sekolah “mahal”, sehingga tentulah yang masuk ke sana adalah orang-orang “the have”. Dulu boleh dihitung anak yang diantar sekolah dengan mobil hanya satu atau dua orang, sekarang barisan mobil berderet di depan sekolah menjemput anak pulang sekolah.

Saya melemparkan kembali ingatan pada tahun 1979, ketika saya tamat sekolah dasar di SD Muhammadiyah Sawahan (1979 adalah tahun yang sudah lama ya). Biasanya rayon SD saya (sekarang SD tersebut sudah tidak ada) untuk mendaftar di SMP adalah di SMP 5 Padang. Begitulah setiap tahunnya, alumni SD kami melanjutkan di SMP 5. Tetapi ketika saya lulus, rayon itu berubah menjadi SMP 8. Terus terang saya tidak tahu di mana letak SMP 8 itu. Bagi saya tahunya ya hanya SMP 1, SMP 2, dan SMP 5, karena itulah sekolah yang sering saya lewati kalau jalan-jalan di kota dan menjadi dambaan setelah lulus SD kelak.

Ada sedikit perasaan berat hati ketika saya harus mendaftar di SMP 8. Dari informasi yang saya dengar, SMP 8 itu adalah filial dari SMP 1 alias “kelas jauh”, wah bertambah sedihlah saya. Saya meminta kepada ibu saya agar saya bisa mendaftar di SMP 1, bukan di SMP 8. Ibu saya mencoba mendatangi kantor Kelurahan untuk mengurus surat pindah rayon, eh..ternyata Lurah malah mengatakan tidak usah pindah rayon sambil mengatakan SMP 8 itu bagus, baru, dan sederet kata-kata yang membesarkan hati.

Akhirnya saya mendaftarlah ke sana. Saya sendirian pergi mendaftar, tidak diantar orangtua (beda dengan anak sekarang, mendaftar sekolah saja orangtua yang mengurus. Anak-anak zaman sekarang memang kurang bisa mandiri). Olala… benar saja, sekolah ini masih baru, letaknya di tengah-tengah persawahan, dan agak jauh dari jalan raya. Ia memenuhi kriteria sekolah yang ideal, yaitu berada di lingkungan hijau dan jauh dari polusi jalan raya, halamannya luas lagi. Ketika saya datang mendaftar ke sana, saya pun langsung “jatuh hati” dengan sekolah ini. Benar kata Pak Lurah itu. Singkat cerita saya mantap sekolah di sini, menjadi siswa angkatan ketiga, yang berarti sudah ada dua angkatan sebelumnya yang bersekolah. Saya mempunyai teman-teman yang banyak dan guru-guru yang baik. Alhamdulillah berkat anugerah dari Ilahi saya punya prestasi cemerlang di sekolah ini, yang akhirnya mengantarkan saya jadi seperti sekarang.

Sekarang kalau dipikir-pikir kembali saya tidak pernah menyesali bersekolah di sini, malah saya sangat bersyukur pernah di sana. Barangkali inilah takdir hidup yang sudah digariskan Tuhan buat saya yang harus saya jalani. Kalaulah saya tidak bersekolah di SMP 8 ini, mungkin saya tidak pernah sekolah di SMA 1 Padang. Kalaulah saya tidak sekolah di SMA 1, mungkin saya tidak pernah kuliah di ITB, dan akhirnya menjadi dosen di ITB ini hingga sekarang. Itulah misteri perjalanan hidup yang kita tidak pernah tahu. Satu-satunya yang saya sesali adalah saya sama sekali tidak memiliki foto-foto kenangan semasa SMP. Mungkin kamera pada zaman itu belum banyak yang punya, atau wajah saya bukan tipe “camera-face”, he..he..

Selesai acara reuni, saya berkeliling sekolah sendirian, mengenang di mana saya dulu pernah hadir. Inilah beberapa foto yang membangkitkan nostalgia. Tentu saja wajah fisik sekolah ini sudah banyak berubah, namun masih ada beberapa bagian yang masih asli.

1. Tampak depan gedung sekolah SMP 8 Padang kini

2. Dari jauh tampak ruang kelas paling depan sebelah kiri (depan mobil yang parkir), itulah ruang kelas saya ketika di kelas 1

3. Ini ruang kelas 1 yang saya tempati dulu, sekarang furniturnya sudah bagus, maklum sekolah RSBI

4. Lorong kenangan di depan kelas III, masih seperti dulu, belum banyak berubah

5. Ruang guru, masih sama seperti dulu

6. Ruang di belakang kantor guru, dulu ini tempat parkir sepeda kami, sekarang jadi tempat menaruh piala-piala. Saya dulu ke sekolah naik sepeda mini, dari rumah di Sawahan ke SMP 8 di Marapalam yang jaraknya sekitar 5 km.

7. Banyak bangunan-bangunan baru di sekolah ini yang dulu belum ada.

Dulu di tengah sekolah ada lapangan voli, sekarang sudah sudah tidak ada lagi, berganti dengan bangunan tempat latihan kreativitas.

8. Bangunan kembar di sebelah kanan

9. Siswa-siswa berprestasi pembangkit motivasi

10. Jalan di samping sekolah. Sawah-sawah di sekeliling sekolah sudah tidak ada lagi, sudah berganti dengan rumah-rumah mewah.

Jalan-jalan ke Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis, Padang

Setelah di Bukittinggi, saya dan keluarga bermalam di rumah neneknya anak-anak di kota Padang. Di kota Padang tujuan utama wisata tentu saja pantai dan lautnya. Kota ini menghadap ke Samudera Hindia yang menurut para pakar gempa sangat rawan tsunami karena berada di sesar Mentawai yang aktif bergerak. Mudah-mudahan bencana yang ditakutkan orang Padang itu tidak terjadi. Ya Allah, lindungilah kota ini dari gempa dan tsunami. Terus terang, sejak isu gempa besar dan tsunami yang diperkirakan para pakar akan terjadi, kota ini terasa agak lengang, terutama di pusat kota (pusat kota terletak di sepanjang pantai). Banyak warga yang pindah ke pinggiran kota yang lokasinya di atas bukit, bahkan ada yang pindah ke kota lain. Tetapi, banyak juga yang tetap bertahan di pusat kota, mereka terlihat pasrah menunggu takdir dan tidak ikut-ikutan lari ke pinggiran kota setiap kali gempa terjadi. Kebetulan rumah saya — neneknya anak-anak– berada di pusat kota yang jaraknya dari pinggir pantai cuma sekitar 3 km.

Kembali tentang jalan-jalan. Saya membawa anak-anak jalan-jalan ke pantai yang terkenal dengan cerita yang sudah melegenda yaitu kisah si Malin Kundang anak durhaka. Pantai Air Manis (aie manih) namanya. Cerita legenda ini memang dikisahkan terjadi di Pantai Air Manis, arah selatan kota Padang. Di pantai inilah terdapat batu Malin Kundang yang menjadi obyek wisata andalan.

Untuk menuju Pantai Air Manis ada dua cara. Cara pertama melalui Jembatan Siti Nurbaya yang membentang di atas sungai Batang Arau menuju bukit Gado-gado (atau disebut juga Bukit Padang atau Gunung Padang). Di bawah ini potret Jembatan Siti Nurbaya yang saya ambil dari bawah:

Saya belum sempat naik jembatan ini, tetapi gambar Jembatan Siti Nurbaya yang tampak dari arah depan di bawah ini dapat menjelaskan seperti apa bentuknya (foto ini diambil dari situs ini)

Cara pertama menuju Pantai Air Manis melalui Jembatan Siti Nurbaya ini hanya bisa ditempuh dengan motor atau jalan kaki, sebab dari Bukit Padang menuju Pantai Air Manis belum bisa dilalui mobil. Oh ya, dinamakan Jembatan Siti Nurbaya karena di Bukit Padang ini terdapat “makam” Siti Nurbaya, sebagaimana diceritakan di dalam novel Siti Nurbaya karangan Marah Rusli yang terkenal itu. Makam ini berada di sebuah taman yang menghadap ke laut lepas, di dekat “makam” ini ada meriam kuno peninggalan Jepang. Moncong meriam ini menghadap ke laut, siap menembak kapal musuh yang masuk ke pelabuhan Muara. Benar-benar indah melihat pemandangan jurang dan laut yang menghampar di bawahnya dari taman ini. Ditulis “makam” dalam tanda petik karena sebenarnya Siti Nurbaya hanyakan cerita rekaan, tetapi bagi orang Padang cerita itu seakan-akan benar-benar terjadi, sehingga tumpukan batu berbentuk makam itu dianggap sebagai makam Siti Nurbaya sungguhan.

Dalam jalan-jalan kali ini saya tidak mengunjungi makam Siti Nurbaya, tetapi untuk membayangkan kepada anda seperti apa makamnya, maka di bawah ini ada beberapa foto yang diambil dari beberapa situs internet:


(Taman Siti Nurbaya. Gambar diambil dari sini)


(Pintu masuk makam Siti Nurbaya. Gambar diambil dari sini)


(Makam Siti Nurbaya, gambar diambil dari situs ini)


(Pemandangan Samudera Hindia dari atas Taman Siti Nurbaya. Gambar diambil dari sini)

Menurut keterangan masyarakat setempat, konon sekitar 10 meter di tebing di bawah makam Siti Nurbaya terletak makam kekasihnya, Samsul Bahri. Wallahualam.

Perjalanan ke Pantai Air Manis melalui jalur tracking di atas bukit ini sangat mengasyikkan, pengunjung dapat menikmati pemandangan alam yang mempesona. Di kiri jalur terdapat hutan yang masih belum terjamah, sedangkan di sebelah kanan adalah jurang dengan laut biru menghampar di bawahnya. Dari jauh sudah kelihatan pantai Air Manis dengan Pulau Pisang yang duduk termenung. Dulu waktu remaja hampir setiap hari minggu saya lari pagi melewati bukit ini sampai ke Pantai Air Manis. Banyak warga kota yang juga lari pagi sejak usai shalat Subuh menikmati udara yang bersih sambil berjalan-jalan di Pantai Air Manis.

Cara kedua menuju Pantai Air Manis adalah dari jalan raya Teluk Bayur. Dari sini sudah ada jalur buat kendaraan roda empat menuju Pantai Air Manis. Masuk dari jalan di depan SMA 6 Padang, lalu anda akan melewati jalan yang berkelok-kelok mendaki bukit, kemudian menurun lagi sebelum akhirnya sampai di Pantai Air Manis yang landai. Hati-hati membawa kendaraan karena jurang di pinggir kanan jalan. Kemarin saya melewati jalur ini diantar kakak saya.

Nah, ini dia Pantai Air Manis dengan Pulau Pisang di kejauhan. Pantai ini cukup panjang dengan pasirnya yang berwarna kuning kecoklatan. Suasana di Pantai ini masih asri, tidak ada bangunan seperti hotel atau penginapan, juga tidak banyak rumah penduduk. Pohon kelapa dan pohon-pohon lain membuat udara di pantai ini terasa sejuk an tidak panas.

Lalu di mana batu Malin Kundang itu? Itu dia, letaknya paling ujung selatan pantai. Dari kejauhan tampaklah batu ini, itu tuh yang dekat pondok beratap seng.

Yuk, berjalan lebih dekat lagi:

Nampaklah batu Malin Kundang yang teronggok begitu saja di pinggir pantai. Karena bentuknya yang seperti kapal karam, lahirlah cerita dongeng Malin Kundang Anak Durhaka. Entah siapa yang pada zaman dahulu melahirkan cerita ini, apakah karena nenek moyang orang Padang zaman dahulu melihat batu itu seperti kapal maka terinspirasilah membuat cerita dongeng Malin Kundang.

Menurut kamu, apakah bentuknya memang mirip seperti kapal? Hmm…bangunan beberapa warung di belakang batu ini merusak pemandangan ya.

Yuk kita naiki kapal si Malin Kundang:

Dikisahkan Malin Kundang dan ibunya tinggal di desa Air Manis. Mungkin dahulu ada pelabuhan kapal di sana (atau mungkin yang dimaksudkan adalah Pelabuhan Teluk Bayur yang terltak tidka jauh dari Pantai Air Manis). Malin Kundang kemudian merantau menjadi anak buah kapal. Karena rajin dan jujur bekerja, maka pangkatnya dinaikkan dari semula anak buah kapal menjadi kelasi. Nakhoda kapal mulai tertarik dengan Malin Kundang. Dia menjodohkan puterinya dengan Malin Kundang, kemudian dia menyerahkan kapal kepada Malin Kundang dan mengangkat Malin Kundang sebagai nakhoda menggantikan dirinya yang ingin pensiun.

Kehidupun Malin Kundang semakin makmur, tetapi dia tetap merindukan ibunya yang dulu dia tinggal sendirian. Malin Kundang pun mengarahkan kapalnya menuju pelabuhan Padang. Melihat kapal besar memasuki pelabuhan, orang-orang di desa Air Manis berlarian melihat kapal besar yang belum pernah mereka lihat. Ibu Malin Kundang yang sudah semakin tua pun ikut melihat sambil berharap ada anaknya di kapal itu. Dia sudah sangat rindu melihat Malin Kundang. Sambil berjalan tertatih-tatih dengat tongkatnya, dia menuju pelabuhan. Setelah kapal bersandar, turunlah nakhoda kapal dengan istrinya yang cantik. Tidak salah lagi, itu adalah Malin Kundang. Sang Ibu pun berteriak sambil berlari menghampiri Malin Kundang. “Malin anakku, ini ibumu, Nak”, katanya. Melihat ibunya yang sudah tua dan buruk, Malin Kundang merasa malu kepada istrinya. Malin Kundang membantah bahwa itu bukan ibunya dan cepat-cepat kembali lagi ke kapal lalu memerintahkan anak buah kapal untuk mengangkat sauh. Hancur hati sang ibu. Sambil berlinang air mata ibu Malin Kundang berdoa kepada Tuhan agar Malin Kundang diberi hukuman karena telah mendurhakai ibunya.

Tuhan mendengar doa sang ibu. Langit berubah menjadi hitam, awan hitam bergulung-gulung, petir menggelegar-gelegar. Hujan badai datang. Kapal si Malin Kundang terombang-ombing dihempas gelombang laut yang menggila. Malin Kundang yang merasa berdosa memanggil-manggil ibunya seraya minta ampun, tetapi sayang sudah terlambat. Kapal dihempas gelombang hingga terdampar di tepi pantai, lalu seketika berubah menjadi batu. Malin Kundang dan seluruh isi kapal berubah menjadi batu. Itulah dia batu si Malin Kundang yang dapat dilihat di Pantai Air Manis. Dikisahkan bahwa setelah berubah menjadi batu, ibu si Malin Kundang menyesal telah mengutuk anaknya, namun sayang nasi sudah menjadi bubur, si Malin Kundang tidak bisa menjadi manusia lagi (moral of the story: orangtua jangan suka mengutuk anak atau mengatakan hal-hal yang jelek tentang anak, karena doa orangtua itu adalah doa yang paling makbul).

He..he.. terlena dengan cerita di atas? Apakah batu yang anda lihat itu mirip seperti kapal? Pada awalnya sih tidak terlalu mirip, saya masih ingat waktu dulu ke sana bentuknya tidaklah terlalu mirip kapal. Tetapi, beberapa tahun lalu Pemerintah Kota Padang merekayasa batu itu dengan menambahkan ornamen-ornamen dari semen di atas batu itu sehingga menyerupai geladak kapal. Bukan itu saja, bahkan ada cetakan semen berbetuk tali tambang, tong kayu, dan sebagainya seperti foto-foto saya di bawah ini:

Perekayasaaan batu Malin Kundang sehingga mirip kapal betulan itu pernah diprotes oleh para budayawan di Padang karena merusak keaslian legenda, namun Pemda tidak mengubrisnya. Bahkan di dekat batu itu dibuat diorama dari lempeng tembaga yang meceritakan kisah Malin Kundang. Singkat cerita batu Malin Kundang dan lingkungan di sekitarnya sudah tidak asli lagi. Kepentingan pariwisata dan ekonomi mengalahkan orisinilitas.

Ngomong-ngomong, mana si Malin Kundangnya? Ini dia tokoh utama cerita kita, sedang bersujud meminta ampun:


(saya lupa memotret si malin Kundang, jadi foto di atas saya ambil dasi sini saja)

Menurut kamu, apakah patung si Malin Kundang di atas asli atau rekayasa? Silakan jawab sendiri.

Demikianlah sekelumit cerita jalan-jalan kami di Pantai Air Manis dan batu Malin Kundangnya.