Catatanku

Entries categorized as ‘Cerita perjalanan’

Jalan-jalan ke Kuala Lumpur (Bag. 4 – Habis)

13 Agustus 2009 · & Komentar

Berkunjung ke Kuala Lumpur tidak lengkap kalau tidak mengunjungi kota Putra Jaya. Jaraknya 40 km dari Kuala Lumpur dan dekat dengan bandara KLIA. Putra Jaya adalah kota baru yang merupakan ambisi mantan PM Malaysia, Mahathir Mohammad. Pusat pemerintahan Malaysia dipindahkan ke kota ini, jadi semua departemen, kantor kehakiman, kantor perdana meneteri, dll, termasuk semua pegawai negeri (kaki tangan) dan keluarganya bedol desa ke kota Putra Jaya. Sebagai kota baru, kota ini dirancang dari awal sehingga lanskap dan susunannya sangat teratur. Tidak ada rumah di sini, sebab semua kaki tangan dan pejabat tinggal di flat dan apartmen. Seperti di Kuala Lumpur, hampir semua penduduk tinggal di flat dan apartemen, jarang kita jumpai rumah tinggal yang berdiri sendiri seperti di negara kita.

Di bawah ini beberapa sudut kota Putra Jaya. Di tengah kota terdapat danau buatan yang luar biasa besarnya, menambah kesejukan mata:

DSC00647

DSC00637

DSC00643

DSC00645

DSC00640

DSC00642

Berhubung hari ini Hari Jumat, kami bersiap-siap shalat Jumat di masjid Putra. Masjid ini sangat besar. Dari jauh terlihat menaranya yang menjulang tinggi. Gapura masjid ini mengingatkan kita pada gapura masjid di Iran. Langit-langit masjid begitu tinggi dan dekorasi di dalamnya sangat indah. Masjid ini terletak di pinggir danau buatan yang membelah kota Putra Jaya.

DSC00649

DSC00661

DSC00654

DSC00653

DSC00655

~~~~~~~~~~

Penutup

Setelah mengunjungi Kuala Lumpur, apa kesan yang didapat? Tak lain adalah perasaan terenyuh bahwa bangunan-bangunan modern di Kuala Lumpur dan Putra Jaya merupakan hasil tetes keringat para TKI, tenaga kerja dari negara kita yang berprofesi sebagai kuli bangunan dan kuli berat lainnya, baik legal maupun ilegal. Ada sejuta lebih TKI di Malaysia, kebanyakan berprofesi sebagai buruh kebun sawit dan kuli bangunan. Menara Petronas yang menjulang, bangunan pencakar langit dan lain-lain adalah saksi bisu dari hasil kerja susah payah para TKI yang semata-mata mengandalkan otot mereka untuk membangun negeri Malaysia. Malaysia yang punya petro dolarnya, orang Indonesia — yang disebut Indon — yang bertarung dengan nyawa untuk mewujudkan mimpi Malaysia menjadi negara maju.

Meskipun Malaysia terkesan negara makmur, namun ada satu hal yang tidak dipunyai oleh mereka namun dimiliki oleh Indonesia, yaitu kebebasan berbicara untuk mengeluarkan pendapat. Pers di Malaysia tidak berani bersikap kritis kepada pemerintahnya, apalagi tulisan atau berita yang menjelek-jelekkan pemerintahan. Siaran TV dan berita di koran — begitu yang saya amati — nyaris seragam dan monoton, isinya sanjungan kepada Pemerintah dan kecaman kepada kaum oposisi (disini disebut kaum pembangkang). Berita tentang Anwar Ibrahim jangan harap dapat anda temukan di media massa Malaysia. Yang ada adalah tulisan maupun berita yang memojokkan tokoh reformis Malaysia itu. Demonstrasi jalanan atau aksi unjuk rasa seperti di Indonesia jangan harap ditemui di Malaysia. Salah-salah UU yang bernama ISA diterapkan kepada kaum demonstran. ISA adalah UU yang membolehkan polisi untuk menangkap orang tanpa menjelskan apa kesalahannya. Selama orang itu mengancam keamanan di Malaysia, polisi berhak menangkapnya. Yah, keadaan di Malaysia persis seperti Indonesia di zaman Orde Baru dimana kebebasan berbicara dibungkam.

Atas kondisi Malaysia yang sepi unjuk rasa dan demonstrasi itu, Mahathir Muhammad menyatakan di dalam blognya kira-kira bunyinya begini: “sudah kita lihat di negara-negara rantau dimana aksi unjuk rasa dan demonstrasi jalanan sudah biasa terjadi, apakah negera-negara itu makin berjaya?”. Mahathir seakan menyindir Indonesia dan Thailand, dua negara rantau yang tidak pernah sepi dari aksi demonstasi jalanan yang hingga saat ini kondisi perekonomian kedua negara itu tetap saja tidak maju-maju, jauh di bawah Malaysia. Mahathir seakan menghubungkan demokrasi berkorelasi dengan kemakmuran. Negara-negara yang mendeklarasikan negerinya sebagai negara demokratis tidak ada jaminan menjadi negara yang makmur. Begitulah kepongahan Mahathir.

Indonesia, meski penduduknya tidak semakmur Malayisa, namun ada hak dasar manusia yang dilindungi UU, yaitu kebebasan berbicara, menyatakan pendapat, berserikat, dan berkumpul. Kebebasan berbicara adalah hak manusia yang paling hakiki, dan itu tidak dimiliki oleh Malaysia.

Kategori: Cerita perjalanan

Jalan-jalan ke Kuala Lumpur (Bag. 1)

11 Agustus 2009 · & Komentar

Minggu lalu saya dan beberapa dosen STEI mendapat kesempatan mengikuti International Conference on Electrical Engineering and Informatics (ICEEI 2009) di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Kuala Lumpur. Konferensi ICEEI 2009 ini merupakan kerjasama STEI-ITB dan Fakulti Sains dan Teknologi Maklumat (FTSM) UKM. Jika di-Inggriskan maka nama fakultas di UKM itu adalah Faculty of Information Science and Technology. Dalam Bahasa Malaysia, informasi = maklumat.

Biaya akomodasi, biaya seminar, dan biaya transportasi ke Kuala Lumpur ditanggung olh ITB. Waaah… gratis, siapa yang tidak mau, ya kan?. Syaratnya kita harus mempresentasikan makalah kita di sana. Saya memang ikut submit makalah di ICEEI 2009 ini.

Saya belum pernah ke Kuala Lumpur, jadi ini pengalaman pertama saya ke sana. Kebetulan ada penerbangan langsung dari Bandung ke Kuala Lumpur dengan Air Asia, sehingga kami tidak usah jauh-jauh ke Jakarta untuk naik pesawat.

Sebenarnya saya deg-degan ketika mau berangkat. Semalam sebelum berangkat, badan saya meriang karena demam. Flu. Saya tertular flu dari anak-anak, karena kondisi fisik saya ikut turun karena mengurus anak yang sakit. Saya khawatir jika badan tetap panas juga sampai besok, jangan-jangan saya dikarantina di bandara KLIA Kuala Lumpur. Saat ini memang lagi musim flu babi. Setiap bandara di dunia menempatkan peralatan pemindai panas (termostat) pada pintu keluar. Penumpang yang terdeteksi panas dengan suhu > 38 derajat Celcius, akan dibawa ke pusat karantina dan dicurigai sebagai suspect flu babi. Hiii… membayangkan hal itu saya benar-benar khawatir. Bisa-bisa ke Kuala Lumpur hanya masuk rumah sakit saja. Buyar deh rencana jalan-jalan ke Malaysia.

Alhamdulillah, setelah minum Decolgen, paginya badan saya mulai terasa enak, tidak terasa panas lagi, mungkin sekitar 37 derajat Celcius-lah, tidak sampai 38 derajat. Penerbangan ke Kuala Lumpur dari Bandung memakan waktu 2 jam. Kami mendarat di sub-bandara KLIA khusus untuk pesawat berbiaya murah seperti Air Asia, namanya LCCT (Low Cost Carrier Terminal). Bandara LCCT ini sangat ramai. Meski untuk pesawat murah namun pelayanannya bagus.

Penumpang pesawat harus mengisi formulir H1N1 (flu babi) yang menyatakan kondisi kesehatannya dalam waktu 1 minggu belakang, apakah pernah batuk, panas, pilek, bersin, dll. Benar-benar ketat pengawasan Malaysia terhadap penumpang jalur internasional. Wajar saja, sudah 18 orang penduduknya meninggal karena flu babi, jadi mereka harus lebih waspada terhadap pendatang. Melewati pemindai panas di pintu keluar, hati saya mulai tidak tenang, jangan-jangan mereka berhasil mendeteksi panas tinggi pada pada tubuh saya. Untunglah semuanya lancar, saya bisa lolos pemindai panas itu. Dokter-dokter yang berjaga di sekitar itu sudah siap membawa penumpang yang terdeteksi panas di atas 38 derajat. Alhamdulillah.

Sambutan pertama petugas flu babi cukup menjengkelkan. Ada rekan kami lupa menyerahkan kartu H1N1, dia lewat begitu saja. Eh, petugas itu meneriakinya dengan sebutan Indon: “Indon.. Indon.. serahkan kartunya di sini”, katanya. Duh, sebutan Indon sungguh tidak enak bukan, itu sebutan yang melecehkan orang Indonesia, khususnya TKI, di Malaysia. Memangnya kami ini TKI?

Baik, kita teruskan ya. Karena perjalanan kami ini menggunakan paspor biru (paspor dinas), maka kami harus melapor dulu ke KBRI Kuala Lumpur.

KBRI

Kota Kuala Lumpur terkesan lebih modern, lebih bersih, dan lebih teratur daripada Jakarta. Jalan-jalannya lebar, kiri kanan dipenuhi bangunan pencakar langit. Sarana transportasi banyak di sini. Mulai dari kereta api, monorail, dan busway. Tidak ada angkot di Kuala Lumpur. Jalan-jalan menuju luar kota hampir seluruhnya berupa jalan tol. Yang menarik di sini, sepeda motor (di sini disebut motosikal) boleh masuk ke jalan tol dan tidak dikenai bayaran. Kalau di Indonesia sepeda motor dibolehkan masuk jalan tol, wah…bisa terbayang semrawutnya jalan tol, akhirnya menjadi jalan biasa lagi.

Di bawah ini beberapa sudut kota Kuala Lumpur:

DSC00617

DSC00618

DSC00625

Kawasan jajanan Mandarin:
DSC00662

Kawasan Little Indian (pedagang India):
DSC00674

Istana raja:
DSC00667

Tentara pengawal istana dengan seragam militer khas Melayu:
DSC00664

Tentara pengawal istana berkuda:
DSC00666

Flat untuk kaum menengah ke bawah:
DSC00632

DSC00633

Pengalaman berkesan adalah ketika naik kereta monorail. Monorail adalah Rapid Mass Transport, kehadirannya sangat membantu mengatasi kemacetan kota Kuala Lumpur. Jika di kota Jakarta masih bersilang pendapat mengenai rencana pembangunan monorail, Kualu Lumpur sudah lebih dulu menerapkannya.

DSC00630

Kami naik monorail dari stasiun Bukit Bintang. Karena tidak tahu mau kemana, kami memilih tujuan akhir Pasar Sentral. Harga karcisnya hanya RM 2.10, cukup murah (RM 1 = Rp 3000).

Ini stasiun Bukit Bintang:

DSC00634

Ini kereta monorailnya:

DSC00636

Naik kereta monorail serasa naik KRL Jabotabek, bedanya kereta monorail pakai AC, dingin. Saat itu jam pulang kantor, kereta penuh dengan penumpang. Penumpang yang tidak mendapat tempat duduk memilih berdiri bergelantungan. Seperti di KRL Jabotabek, di kereta monorail ini juga ada copet, jadi kita harus hati-hati dengan dompet, HP, dan tas kita.

Malaysia memang Truly Asia, Asia yang sebenarnya, sesuai dengan semboyan pariwisatanya. Di sini mudah kita jumpai orang India, Cina, dan Melayu. Melayu merupakan etnik mayoritas, komposisinya sekitar 50% dari populasi penduduk Malaysia. Sesudah itu etnik Cina (25%) dan India (20%), sisanya Bangladesh, Arab, Thaliland, dan lain-lain. Berjalan-jalan di Kuala Lumpur tidak aneh kita menemui orang India yang berkulit hitam yang di dahinya ada bintik putih. Baik orang Cina, India, dan Melayu, mereka berbicara dengan bahas mereka masing-masing, meskipun Bahasa Melayu merupakan bahasa resmi di sini. Selain Bahasa Melayu, rata-rata orang Malaysia bisa berbahasa Inggris. Bahasa Inggrisnya ya gitulah, dialek Melayu banget dengan pronounciation yang kurang jelas.

Segitu dulu tulisan bagian pertama ini, nanti akan dilanjutkan dengan bagian lainnya dengan foto-foto yang menarik.

Kategori: Cerita perjalanan

Sejenak di Bandara Hasanuddin Makassar

28 Juli 2009 · & Komentar

Dalam perjalanan pulang usai sebuah tugas di Indonesia Timur, pesawat Garuda yang saya tumpangi transit di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Sudah dua kali saya mengunjungi bandara Hasanuddin, tetapi baru kali ini kesempatan menapaki bandara yang baru. Ya, bandara Hasanuddin yang baru terkesan mewah dan modern. Bandara ini menghadirkan kesan transaparan, karena hampir semua unsur bangunannya berwarna putih dan terbuat dari kaca. Fasilitasnya menyerupai bandara Soekarno-Hatta, yaitu ada lantai berjalannya. Ruang tunggu (gate) penumpangnya saja banyak (ada enam).

Wajar saja bandara Hasanuddin dibuat besar dan modern, sebab bandara ini merupakan bandara nomor 3 tersibuk di Indonesia sesudah bandara Soekarno-Hatta dan Juanda Surabaya. Bandara Hasnuddin merupakan batu loncatan dari dan ke Indonesia Timur. Penerbangan dari dan ke Indonesia Timur banyak yang transit atau berakhir di sini. Wajar juga bandara Hasanuddin terkesan mewah dan prestisius, ini mungkin berkah dari putra daerahnya yang menjadi RI-2, yaitu Jusuf Kalla. Saya amati, siapapun yang menjadi orang penting di negeri ini, maka ia akan membuat daerah asalnya terlihat beda. Masih ingat dengan “legenda” kota Solo? Bandara Adi Sumarno yang besar dan kampus UNS yang luas dan megah, ini tak lain karena peran Ibu Tien Soeharto ketika menjadi fisrt lady.

Ada waktu 30 menit buat transit. Saya sempat menjelajahi lantai 2 bandara. Di bawah ini beberapa foto-fotonya:

1. Pemandangan bandara dari dalam pesawat

DSC00592

2. Lantai 2 bandara yang mewah dan besar

DSC00593

Ini pemandangan lantai dua lainnya:

DSC00594

Sayangnya saya tidak sempat turun ke bawah untuk melihat bandara dari tampak depan karena sudah keburu dipanggil masuk ke dalam pesawat. Saya gunakan foto bandara tampak depan yang saya ambil dari sini:

bandara_hasanuddin

Hmmm… bandara Hasunuddin mirip dengan Terminal 3 Soekarno-Hatta yang baru diresmikan SBY beberapa waktu yang lalu.

Satu hal kelemahan bandara ini adalah keamanan di ruang tunggu penumpang yang akan masuk ke pesawat. Penumpang masuk ke ruangan ini dengan pemeriksaan seperti biasa, tetapi kalau hendak ke toilet, harus ke luar ruang tunggu yang melewati pintu lain yang tidak dijaga. Jadi, orang yang tidak punya boarding pass bisa masuk melalui pintu yang satu ini tanpa melalui pemeriksaan petugas. Teledor amat manajemen bandara ini ya.

Kategori: Cerita perjalanan

Jalan-jalan (lagi) ke Semarang

30 Januari 2009 · & Komentar

Hari Rabu 28 Januari 2009 yang lalu saya diundang lagi ke Semarang oleh Jurusan Teknik Informatika Udinus Semarang. Sebelumnya saya sudah pernah ke Semarang masih dalam rangka kerjasama dengan Udinus juga (baca tulisan terdahulu). Kali ini saya memberikan pelatihan sebuah mata kuliah bagi dosen-dosen di sana. Bertemu dosen-dosen di PTN/PTS daerah sangat menyenangkan bagi saya, apalagi saya bisa berbagi pengetahuan untuk kemajuan institusi di PT tersebut.

Di sela-sela acara, saya masih sempat-sempatnya diajak melihat beberapa obyek wisata di kota Semarang. Obyek wisata yang dimaksud adalah bangunan-bangunan bersejarah yang ada di kota Semarang. Wah, ternyata Semarang itu kaya dengan obyek wisata bersejarah, sayangnya tidak digarap dengan baik, yah semacam city tour lah. Tidak ada paket wisata dalam kota bagi para pelancong.

Bagi anda yang belum pernah ke Semarang atau perantau Semarang yang berada di pelosok dunia, cerita saya ini semoga megobati rasa kangen pada kota Semarang.

1. Gereja Blenduk
Kami makan siang di Rumah makan Cianjur di kawasan kota lama. Wah, ternyata masakan Sunda ada juga di kota ini. Pengunjungnya ramai lagi. Di depan restoran ini terdapat sebuah gereja tua bekas peninggalan Belanda yang dikenal dengan nama Gereja Blenduk. Saya dan teman-teman dari Udinus berkeliling bangunan gereja ini. Gereja Protestan yang cantik ini terlihat sangat anggun.

dsc00315

Ini saya lagi bergaya di depan Gereja Blenduk:

dsc00319

2. Pagoda
Wow, di Semarang juga ada pagoda, besar lagi. Pagoda adalah sebuah vihara Budha yang biasa kita temui di Myanmar atau Thailand. Pagoda ini terletak di daerah Banyumanik, sebuah kawasan di Semarang Atas.

dsc00321

Di dalam pagoda ada patung Budha yang besar. Di depan patung ada altar tempat meletakkan dupa dan barang-barang sesembahan lainnya untuk sang Budha Gautama.

dsc00325

Saya pernah melihat pagoda waktu jalan-jalan ke kota Tomohon di Sulawesi Utara (kala itu ada tugas ke Manado). Pagoda di Tomohon ukurannya lebih kecil dari yang di Semarang, tetapi pagoda di Tomohon mempunyai tangga hingga kita bisa naik ke puncak pagoda, sedangkan pagoda di Semarang tidak ada tangganya. Langit-langit pagoda di Semarang adalah seperti ini:

dsc00326

3. Kelenteng Sam Poo Kong
Jika di Semarang Atas ada pagoda, di Semarang Bawah ada kelenteng besar yang bernama kelenteng Sam Poo Kong. Kelenteng ini dibangun oleh Laksamana Cheng Ho ketika ia mendarat di sana . Di dalam Wikipedia disebutkan: Bagian kota Semarang Bawah yang dikenal sekarang ini dahulu merupakan laut. Pelabuhan tersebut diperkirakan berada di daerah Pasar Bulu sekarang dan memanjang masuk ke Pelabuhan Simongan, tempat armada Laksamana Cheng Ho bersandar pada tahun 1405 M. Di tempat pendaratannya, Laksamana Cheng Ho mendirikan kelenteng dan mesjid yang sampai sekarang masih dikunjungi dan disebut Kelenteng Sam Poo Kong.

dsc00339

Bagian lain kelenteng yang dipenuhi ornamen Cina dengan warna merah dan kuning emas:

dsc00344

Ini bangunan lain yang juga berfungsi sebagai tempat sembahyang umat Khong Hu Cu:

dsc00343

Ini patung Laksamana Cheng Ho di depan kelenteng:

dsc00345

Semarang adalah kota yang memiliki komunitas Tionghoa yang besar, sehingga tidak heran penganut Khong Hu Cu dan Budha banyak di sini. Mereka sudah berbaur dengan penduduk asli dan menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Pagoda dan kelenteng yang besar ini menandakan keragaman agama di kota Semarang, selain Islam sebagai agama mayoritas di Semarang. Eh, saya kok tidak melihat masjid di kawasan kelenteng Sam Poo Kong ini ya? Padahal sejarah mengatakan bahwa Laksamana Cheng Ho juga membangun mesjid dekat kelenteng. Dimana ya?

4. Lawang Sewu
Pada kunjungan pertama ke Semarang dulu, saya hanya bisa melihat Lawang Sewu dari luar saja.

semarang_lawangsewu

Nah, sekarang saya diajak teman-teman dari Udinus masuk ke dalamnya dan menyusuri lorong-lorongnya. Wah, bangunan ini memang mempunyai aura tersendiri dan terkesan angker.

dsc00337

Ternyata di belakan bangunan ini masih ada bangunan lain yang juga eksotik, seperti terlihat pada foto di bawah ini.

dsc00333

Ini kaca patri yang indah di dalam bagian dalam bangunan:

dsc00332

Dari lantai atas saya memotret museum Mandala Bakti. Tampak pula kesibukan kota Semarang.

dsc00328

Saya belum mencoba menghitung jumlah pintu di Lawang Sewu. Kata orang di Semarang, setiap kali menghitung jumlah pintu pasti gagal sebab jumlah pintu tidak bisa dihitung dengan pasti. Oh ya? Saya punya ide, supaya menghitung pintu tidak salah, nomori saja setiap pintu, saya yakin jumlah pintu sebenarnya bisa dihitung dengan pasti.

Demikianlah perjalanan saya di Semarang yang meski hanya satu hari tetapi saya sudah cukup puas melihat sudut-sudut kota. Satu hal keinginan saya yang belum kesampaian adalah mengunjungi Masjid Agung Jawa Tengah yang baru. Kabarnya masjid ini mempunyai tutup atap yang canggih. Saya ingin shalat di sana. Mungkin nanti kalau saya ke Semarang lagi.

Kategori: Cerita perjalanan

Bernostalgia di SMA Negeri 1 Padang

30 Januari 2009 · & Komentar

Ini oleh-oleh yang tersisa sewaktu saya pulang ke Padang awal tahun 2009 yang baru lalu. Sudah lama saya ingin menginjakkan kaki di bekas sekolah saya dulu di SMA Negeri 1 Padang. Sebenarnya saya sering pulang ke Padang, tetapi saya tidak pernah datang ke sekolah ini lagi. Nah, liburan kemaren barulah kesampaian niat saya ini, setelah 23 tahun lebih waktu berlalu. Saya mengajak anak-anak saya ke sana, melihat bekas sekolah bapaknya.

Kebetulan hari itu masih libur, jadi saya datang ke sana saat sekolah masih sepi. Ini foto-foto tampak depan sekolah:
dsc00269

dsc00268

dsc00260

Ah, sekolah ini tidak banyak berubah sejak saya bersekolah di sana. Masih seperti dulu. Bangunannya tidak berubah, hanya ada penambahan beberapa bagian baru. Tentu saja begitu, karena gedung sekolah ini adalah salah satu bangunan bersejarah di kota Padang yang tidak boleh diubah maupun dialihkan fungsinya. SMA Negeri 1 Padang sudah tua usianya, sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Dulu di zaman Belanda sekolah ini bernama HIS (apa ya kepanjangannya?), lalu ketika zaman merdeka bernama SMA Belantung karena terletak di jalan Belantung (sekarang Jl. Sudirman). Saya jadi teringat SMAN 3 Bandung yang terletak di Jalan Belitung (sama-sama ‘tung’ nya). Di samping SMA 1 ada bangunan SMP Negeri 1 Padang yang dulu bernama MULO. Sudah banyak tokoh-tokoh nasional yang pernah sekolah di SMA ini. Perdana Menteri M. Natsir pernah juga sekolah di sini.

Memasuki sekolah ini dan berjalan-jalan di lorongnya membuka kembali kenangan lama sewaktu di SMA. Masa SMA memang masa yang menyenangkan. Masa remaja dihabiskan dengan teman-teman sekolah. Jalan-jalan dan kumpul-kumpul adalah kebiasaan kami dulu. Karena di SMA juga saya bisa jalan-jalan keliling Sumatera Barat, padahal saya sebelumnya tidak pernah jalan-jalan mengelilingi nagari.

dsc00264

Memasuki halaman dalam sekolah, dari jauh terlihat bekas kelas saya dulu. Di ujung bangunan pada foto di bawah ini adalah ruang kelas yang saya tempati saat di kelas 1.

dsc00262

Saya melongok dari jendela melihat suasana kelas. Oh, bangku-bangku dan kursinya sama seperti 23 tahun yang lalu. Bangku dan kursi dari kayu jati yang tidak pernah berubah. Masa sih bangku dan kursinya tidak pernah diganti?

dsc00266

Berjalan di lorong itu lagi, saya teringat kebanggaan ketika masih di kelas 1. Saya beruntung masuk sekolah ini. Dulu pendaftaran SMA di Padang masih menggunakan sistem rayonisasi. Lulusan SMP-SMP di Padang dipetakan ke SMA negeri mana saja boleh mendaftar. SMP saya dulu, SMP 8 Padang, rayonnya adalah ke SMA 4 Lubuk Begalung. SMA 4 ini jauh dari rumah saya dan masih relatif baru sehingga saya enggan ke sana. Cita-cita saya kalau tidak ke SMAN 1 ya SMAN 3. Mungkin karena NEM saya cukup tinggi maka saya berhasil diterima di SMA 1 Padang, yang merupakan SMA top di kota ini, he..he.

Ketika diterima di SMA 1, saya masih risih pakai celana panjang. Maklum, dari SD hingga SMP sehari-harinya saya masih bercelana pendek dan di rumah tidak mempunyai celana panjang. Jadi, pengalaman memakai celana panjang ya ketika di SMA. Lucu sekali, bukan?

Saya tidak bisa berlama-lama di sekolah ini. Anak saya sudah merengek-rengek ingin main air laut ke Pantai Padang. Maklumlah, sekarang saya dan keluarga jadi ‘orang gunung’ karena tinggal di Bandung. Di Bandung tidak ada laut, jadi bagi ‘orang gunung’ melihat laut tentu mengasikkan.

Saya tingalkan SMA 1 Padang yang terkletak di jantung kota, persisnya di kawasan simpang ampek.

dsc00270

Kategori: Cerita perjalanan

Naik Kereta Api dari Padang ke Pariaman

7 Januari 2009 · & Komentar

Awal tahun baru 2009 kemaren, saya membawa anak-anak pulang ke Padang. Anak-anak minta liburan ke rumah neneknya di Padang setelah menerima rapor.

Di Padang saya mengajak anak-anak naik kereta api wisata yang menjalani rute dari Padang ke Pariaman. Pariaman adalah sebuah kota di pinggir Samudera Hindia di propinsi Sumatera Barat. Nama daerah ini sering diplesetkan Piaman saja. Orang Pariaman yang merantau ke daerah lain kebanyakan menjadi pedagang, sebagian lagi berjualan sate. Sate padang yang khas adalah sate Pariaman. Dari Padang ke Pariaman ada jalur rel kereta api yang dibangun pada zaman Belanda.

Di Indonesia kereta api hanya ada di Pulau Jawa dan Sumatera. Di Sumatera pun hanya ada di propinsi Sumbar, Sumut, Sumsel dan Lampung. Jaringan jalan kereta api di Sumbar dibangun sejak ditemukannya tambang batubara Ombilin pada abad 19. Sebenarnya di Sumatera Barat kereta api sudah lama mati suri semenjak tambang batubara Ombilin tidak berproduksi lagi. Kereta api tidak digunakan untuk mengangkut penumpang, tetapi batubara, sebab kalah bersaing dengan bus. Beberapa tahun terakhir kereta api mulai dihidupkan kembali untuk tujuan wisata. Rute yang dibuka barulah Padang – Pariaman. Rencananya nanti akan dibuka jalur wisata dari Padang ke Padangpanjang melewati Lembah Anai, jalur Padang ke Solok melewati Danau Singkarak dan jalur Padang – Sawahlunto melewati tambang batubara Ombilin.

Mulai tahun lalu kereta api melalui rute Padang – Pariaman setiap hari untuk mengangkut pegawai, selain hari Minggu untuk kereta wisata. Setiap hari ada dua kali rit, yaitu jam 6.30 dan jam 11.00. Dari Pariaman ke Padang juga dua rit yaitu jam 9.00 dan jam 16.00.

Saya sudah sering naik kereta api di Pulau Jawa. Naik kereta api di Padang tentu pengalaman yang berbeda. Semasa kecil di Padang dulu saya sering naik kereta api. Sekarang saya ingin mencobanya lagi untuk melihat sisa-sisa kejayaan kereta api di sana. Saya naik kereta api jam 11.00 siang dari stasiun Simpang Haru, Padang.

Ini gerbang stasiun Simpang Haru:

simpang-haru-3

Ini kereta api wisata yang saya naiki, berwarna-warni seperti marawa di ranah Minang:

dsc00236

Jam 11 lewat sedikit kereta berangkat. Olala, kereta penuuh sekali, mungkin karena masih suasana libur. Harga karcisnya murah, hanya Rp 5000 per orang. Di atas kereta banyak orang berdesak-desakan. Ini pertanda warga Sumbar memang merindukan kereta api. Bagi orang-orang tua, naik kereta api membangkitkan romantisme dan kenangan masa lalu, seperti tahun 60-an dan 70-an. Karena sifatnya kereta rakyat yang murah meriah, maka di atas kereta api berseliweran pedagang asongan yang menjajakan makanan seperti telur rebus, kacang tojin, tebu, sala lauak, dan jajanan anak-anak. Persis seperti kereta api rakyat di Pulau Jawa.

Kereta melewati stasiun kecil seperti Tabing, Duku, Pasar Usang, Lubuk Alung, Kayutanam, Kurai Taji, dan beberapa stasiun lain yang saya lupa mencatatnya. Stasiun-stasiun yang dilewati mempunyai aristektur zaman kolonial dan dipertahankan hingga saat ini. Sayangnya kereta api tidak bisa berlari kencang tetapi berjalan agak pelan sehingga jarak Padang – Pariaman ditempuh 2 jam kurang. Tetapi untunglah rasa bosan di jalan terobati dengan pemandangan yang menawan seperti sawah, kebun, dan sungai yang lebar-lebar.

Kereta api akhirnya sampai di kota Pariaman. Stasiun kereta api persis di pinggir laut. Jadi, tidak salah jika penumpang kereta kebanyakan ingin berwisata ke pantai di Pariaman. Nama pantai dekat stasiun ini adalah Pantai Gandoriah. Di Pariaman nama pantainya mirip dengan nama pantai di Bali, misalnya Pantai Kata (Bali: Kuta), Pantai Sunur (Bali: Sanur). Entah disengaja atau kebetulan, saya kurang tahu. Kalau pantai Gandoriah ini mirip dengan nama apa ya? Gandaria di Jakarta?

Ini foto stasiun Pariaman:

dsc00235

Penumpang turun dari atas kereta menuju Pantai Gandoriah. Di gerbang pantai ini ada sebuah masjid besar tempat penumpang dan wisatawan menunaikan shalat Dhuhur dan Ashar. Agama Islam memang tidak bisa dipisahkan dari adat dan budaya Minang.

dsc00237

Sepanjang pantai banyak ibu-ibu yang berjualan jajanan khas Pariaman, sala lauak. Sala adalah gorengan yang terbuat dari adonan tepung beras dicampur kunyit, garam, dun seledri, cabe, dan ikan. Ikan yang cocok untuak sala adalah ikan tukai. Rasanya asin dan sedikit pedas. Enak dimakan selagi panas. Harganya Rp 250/buah. Bagi orang Pariaman, sala sering dijadikan lauk dan dimakan dengan nasi.

Ini foto sala lauak yang menggugah selera bagi siapa saja yang memandangnya.

dsc00246

Tentang sala lauak ini, ada lagu lama yang dinyanyikan oleh penyanyi legendaris Minang bernama Elly Kasim. Judul lagunya adalah Sala Lauak. Begini syairnya (dalam bahasa Minang tentu):

Sasaklah bana pasa rang Tarusan yo lah alai
bakaruang sumpik, yo alai di tangah balai (2x)

Lamaklah bana sala rang Piaman yo lah alai
badaun kunyik yo alai balauak tukai (2x)
salaaa lauak (2x)

Urang Cimparuah, pai ka Sintuak yo lah alai
naiak kureta yo alai di Kurai Taji (2x)

Kok lah tacubo sala rang Situngkuak yo lah alai
makan batambuah tasigi sapiriang lai (2x)
salaaa lauak (2x)

Selain sala juga dijual udang goreng, kepiting goreng, dan goreng ikan baledang. Ikan baledang adalah ikan yang panjang dan rasanya manis kalau digoreng dalam keadaan segar.

Ini foto goreng ikan baledang dengan tepung:

dsc00247

Puas bermain di pantai, penumpang kereta kembali menuju stasiun. Di sana kereta sudah menunggu untuk keberangkatan jam 16.00 sore, membawa penumpang kembali ke kota Padang.

Kategori: Cerita Ranah Minang · Cerita perjalanan

Berkunjung ke Semarang

21 April 2008 · & Komentar

Hari Selasa minggu lalu saya diundang ke Semarang oleh Jurusan Teknik Informatika, Universitas Dian Nuswantoro (Udinus). Saya belum pernah ke Semarang, jadi ini adalah kesempatan pertama saya mengunjungi kota yang hanya sering saya dengar namanya saja. Berhubung tidak ada penerbangan langsung dari Bandung ke Semarang, saya terpaksa naik pesawat dari Jakarta (kenapa ya Bandara Husein Sastranegara di Bandung sepi rute pesawat?).

Kesan pertama saya tentang kota Semarang adalah: panaaasss…. He..he, maklum saya ini orang gunung (Bandung kan di atas gunung), maka kalau pergi ke kota pantai ya jelas terasa gerah. Saya sempat diajak jalan-jalan mengelilingi kota Semarang oleh rekan dosen di Udinus. Ternyata kota Semarang itu tampak teratur, rapi, dan yang paling penting jarang ada kemacetan. Tidak seperti Bandung yang …halah, muaaacett dan padat. Semarang juga padat sih, tapi menurut saya kota Bandung jauh lebih crowded.

Saya diajak melihat landmark kota Semarang yang terkenal itu, yaitu gedung Lawang Sewu. Berhubung mobil terus melaju, saya tidak sempat memotret Lawang Sewu, jadi fotonya saya ambil dari internet saja ya (lupa tadi di situs web mana ya mengunduhnya):

Lawang Sewu atau gedung seribu pintu menurut saya cantik dan artistik. Sayang, gedung peninggalan kolonial Belanda ini tampak tidak terawat, dinding luarnya terlihat kusam dan berjamur. Kenapa ya Pemda Kota Semarang tidak membenahi gedung kebanggaan warga kotanya? Menurut kabar-kabari berbau mistik, jumlah pintu di gedung itu sebenarnya tidak 1000, tetapi banyak. Namun tidak seorangpun yang berhasil menghitung secara persis berapa jumlah pintu itu semuanya. Selalu ada perbedaan menghitung antara satu orang dengan orang lainnya. Benarkah? Selain itu, di ruang bawah tanah juga terdapat cerita-cerita mistik tentang suara-suara aneh dari bekas penghuninya. Ruang bawah tanah itu dulunya penjara dan ruang penyiksaan.

Seperti biasa kita juga melewati Simpang Lima yang terkenal itu, yah seperti lapangan Gasibu-nya Bandung lah. Tapi, kok saya tidak melihat rumah makan padang di Simpang Lima ini ya? Setahu ya, rumah makan padang ada di setiap simpang, baik itu simpang tiga, simpang empat, maupun simpang lima. He…he.

Oleh-oleh Semarang yang terkenal apalagi kalau bukan wingko babat dan ikan bandeng presto Juwana. Banyak sekali toko yang menjual oleh-oleh ini, tapi untunglah tuan rumah memilihkan toko oleh-oleh yang paling terkenal di jalan Pandanaran. Kalau ingat ikan bandeng presto, saya jadi kasihan sama kucing. Tidak ada yang bersisa lagi buat kucing, sebab sampai ke duri-duri ikan terasa renyah dan enak dimakan.

Tentang Udinus, saya punya kesan tersendiri. Udinus sejak tahun lalu menjalin kerjasama dengan ITB dengan nama Twinning Program. Program ini memungkinkan mahasiswa Informatika Udinus kuliah di ITB setelah menjalani seleksi ketat dari ITB tentunya. Sayang, belum ada seorang pun mahasiswa Udinus yang lolos seleksi masuk Informatika ITB tahun lalu. Mungkin perlu banyak belajar lagi ya agar berhasil lolos masuk ITB tahun ini. Setahu saya, untuk twinning program ini, baru ada dua orang maahsiswa PTS yang berhasil masuk Informatika ITB, yaitu dari Universitas Al-Azhar Jakarta. Namun, dosen-dosen Informatika di sana sangat antusias dengan program kerjasama ini. Mereka ingin sekali menimba ilmu dari ITB. Kami di ITB tentu dengan senang hati membantu teman-teman di PTS/PTN daerah. Adalah kewajiban ITB untuk meningkatkan mutu perguruan tinggi di tanah air. Dalam rangka itulah saya datang ke Semarang.

Udinus ini menurut dosen di sana adalah PTS nomor satu di Semarang. Kampusnya besar dan mahasiswanya banyak. Hebatnya lagi, Udinus mempunyai stasiun TV sendiri bernama TV-KU. Stasiun TV Stasiun TV ini menjadi salah satu TV lokal komersil di Semarang. Pengelola TV ini adalah staf pengajar di Fakultas Ilmu Komputer Udinus dan operatornya adalah mahasiswa mereka sendiri. Menariknya, di Udinus ini Fakultas Ilmu Komputer mempunyai program studi yang beraneka ragam dan tidak berhubungan langsung dengan Ilmu Komputer. Selain Jurusan Teknik Informatika dan Sistem Informasi, di fakultas ini juga ada program studi Fotografi (D3), dan Multimedia (D3). Ketika saya tanyakan, kenapa kedua program studi D3 itu ‘nekat’ dikelompokkan ke dalam Fakultas Ilmu Komputer, mereka mengatakan tidak ada aturan Dikti yang melarang hal itu, bukan? Ada benarnya juga sih, saya jadi ingat ITB saja mempunyai SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen) yang secara rumpun keilmuan sangat jauh beda dengan “sekolah sebelahnya” yang menggeluti sains dan teknik (ups.. hampir lupa, ada lagi Fakultas Seni Rupa dan Desain di ITB yang dianggap merupakan “keberanian” ITB menggabungkan seni ke dalam institut teknologi). Menurut saya, modal nekat dan keberanian itu memang diperlukan di dalam sebuah institusi. Memang awal-awalnya ada suara sumbang dan dicerca, tetapi setelah inovasi itu memperlihatkan performanya, barulah orang berbalik kagum.

Itulah oleh-oleh dari Semarang.

Kategori: Cerita perjalanan

Jalan-jalan (Lagi) ke Manado

19 Februari 2008 · & Komentar

Pekan lalu saya diminta datang ke Manado oleh rekan saya di Universitas De La Salle, sebuah universitas swasta yang merupakan franchise dari induknya di Eropa (Paris?). Saya diminta membimbing Tugas Akhir mahasiswa Teknik Informatika di sana dengan sistem jarak jauh. Saya menemui mahasiswa di sana untuk membahas proposal TA dan akan datang lagi ketika sidang tugas akhir. Di sana mahasiswa juga mendapat dosen pembimbing II. E-mail dan chatting dengan YM adalah sarana komunikasi antara saya dengan mahasiswa di Manado sana. Teknologi informasi membuat dunia ini makin sempit saja. Jarak memang tidak lagi menjadi persoalan, namun bertemu secara fisik antara dosen dan mahasiswa tetap saja masih diperlukan, sebab ada hal-hal yang tidak bisa terjawab tuntas dengan e-mail dan chatting.

Manado? Ini kota paling utara di Indonesia, jauh lagi, di kawasan Indonesia Timur. Manado adalah ibukota Provinsi Sulawesi Utara. Sebelah utara berbatasan dengan negara Filipina. Sekilas orang-orang Manado mirip dengan orang Filipina, karena memang ada kedekatan kultural dengan orang-orang di negara sana. Mendengar nama kota ini saya tidak bisa melupakan ikan bakarnya yang segar dengan sambal dabu-dabu dan sambal rica-rica yang pedas bukan kepalang. Kota Manado yang terletak di bibir Samudera Pasifik memang berlimpah dengan ikan laut. Ikan laut yang baru ditangkap jika langsung dimasak menghasilkan masakan yang enak. Tidak seperti di Bandung yang jauh dari laut, maka ikannya sudah tidak segar lagi.

Berangkatlah saya dari Bandara Soekanro-Hatta dengan pesawat Batavia Air. Terbang ke Manado dengan penerbangan langsung menempuh waktu 3 jam, tetapi karena perbedaan wilayah waktu (Manado di WITA sedangkan Jakarta WIB), maka kita “rugi” 1 jam sehingga lama penerbangan menjadi 4 jam. Karena pesawat saya ini via Balikpapan, maka waktu terbang lebih lama lagi, 5 jam! Berangkat jam 15.00 WIB dari Jakarta dan tiba di Manado pukul 20.00 WITA. Sungguh bete di pesawat. Namun sebaliknya, kalau terbang dari Manado ke Jakarta kita “untung” satu jam. Bila berangkat pukul 10.00 WITA, maka tiba di Jakarta pukul 12.00 WIB. Hemat 1 jam.

Di Bandara Soekarno-Hatta

Manado adalah kota yang tenang, tidak hiruk pikuk seperti di Jakarta, dan tidak macet seperti di Bandung. Jalan-jalan di sana lancar sehingga mobil bisa sedikit ngebut. Seperti yang saya bahas pada tulisan sebelumnya (baca tulisan yang ini), Manado dijuluki “Kota Tinutuan”, artinya kota bubur manado. Tinutuan atau bubur manado adalah makanan khas orang Manado. Tinutuan mirip seperti bubur ayam di Bandung, tetapi buburnya dimasak dengan campuran aneka sayur seperti jagung, wortel, kangkung, dan lain-lain. Paduan beras dan sayur-sayuran itu membuat bubur manado berwarna-warni namun itulah yang membuatnya gurih dan segar, apalagi jika dimakan dengan sambal dan ikan cakalang. Ikan cakalang adalah ikan khas kawasan Indonesia Timur, agak mirip dengan ikan tuna. Di bawah ini foto bubur manado yang disajikan di hotel tempat saya menginap (Hotel Gran Puri). Bubur manado pas jika dimakan pada pagi hari.
Bubur manado

Rekan saya di sana mengatakan, belum lengkap ke Manado jika belum menikmati 3B. Apa itu? Bunaken, bubur manado, dan … bibir Manado. Halah, yang terakhir ini bikin mesem-mesem. Ada-ada saja.

Manado dapat dikatakan kota seribu gereja, sebab mayoritas warganya memang beragama Kristen. Jika di Jawa kita mudah menemukan masjid setiap 100 meter, maka di Manado berjalan setiap 100 meter akan bertemu gereja. Orang Islam juga cukup banyak di sana. Ada kampung-kampung yang mayoritas warganya muslim seperti Kampung Ternate, Kampung Arab, da lain-lain. Di Manado juga banyak warga dari Gorontalo dan Bolaangmangondouw, kedua wilayah ini adalah tereknal dengan ketaatannya pada agama Islam. Secara umum kerukunan beragama di Manado sangat baik. Rekan saya di Manado menanyakan apakah saya akan shalat di masjid. Saya jawab di hotel saja, shalat jamak Dhuhur dan Ashar, sebab saya berstatus musafir.

Di bawah ini foto-foto yang saya jepret dari lantai 11 Hotel Gran Puri. Ini foto pada Hari Minggu pagi, suasana kota Manado sangat lengang karena warganya siap-siap beribadah ke gereja.
Stadion Klabat

Di bawah adalah Stadion Klabat dengan latar belakang kota Manado. Klabat adalah nama gunung yang tertinggi di Sulawesi Utara. Gunung Klabat terlihat dengan jelas dari kampus De La Salle.

Stadion Klabat

Di bawah ini adalah foto Manado ke arah lautan Pasifik. Dari kejauhan nampak Pulau Manado Tua. Pulau Bunaken ada disebelahnya (tidak terlihat dari foto) . Saya belum sempat ke Bunaken yang indah itu.

Manado dan Samudera Pasifik

Di Manado jelas ikan bakarnya yang enak, lebih tepatnya makang ikang bakar. Saya bisa menghabiskan banyak ikan bakar. Gimana lagi, enak sih. Makan ikan bakar dengan lalap sayur kangkung yang dimasak dengan minyak kelapa dan bawang putih, wah mak nyus benar. Rekan saya di Manado mengajak makan ikan bakar di kedai ikan di pinggir pantai Boelevard. Pantai Boelevard adalah kawasan pantai yang sudah diuruk menjadi kawasan komersil. Pantai ini diuruk tidak tanggung-tanggung panjang dan lebarnya. Panjangnya mencapai beberapa kilometer, lebarnya mencapai ratusan meter. Jutaan kubik tanah dan batu untuk menguruk pantai ini diambil dari bukit-bukit sekitar Manado. Mungkin kalau pengurukan itu dilakukan sekarang-sekarang bakal diprotes oleh WALHI, Greenpeace, dan organisasi lingkungan hidup lainnya. Bayangkan banyak biota laut yang mati dan rusak akibat pengurukan itu. Di kawasan boelavard ini berdiri kompleks mal dan ruko Mega Mas. Konon, kata rekan saya, itu adalah singkatan Megawati-Taufik Kiemas. Wah, ekspansi bisnis keluarga mantan presiden ini sudah mencapai kawasan timur. Tidak hanya keluarga Cendana saja yang berbisnis. Satu unit ruko di sini harganya gila-gilaan, bisa mencapai satu milyar per unit.

Oh ya, mahasiswa di Universitas De La Salle ini memanggil dosen pria dengan sebutan Sir, sedangkan dosen wanita dipanggil Mam, bukan Pak atau Bu seperti kita, misalnya Sir Rudy, Mam Deby, dan lain-lain. Saya risih juga dipanggil Sir (artinya”Tuan”), tapi bagaimana lagi, itu kan kebiasaan di sana, jadi saya tahan-tahan saja rasa geli itu. Kata rekan saya, kalau di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), universitas negeri di Manado, panggilan buat dosen lebih miris lagi, yaitu Meneer. Serasa berada di zaman Belanda.

Begitulah, Manado memang unik.

Kategori: Cerita perjalanan

Semalam di Padang

19 September 2007 · & Komentar

Dua hari sebelum gempa besar melanda Bengkulu dan Sumbar dua minggu lalu, saya pulang ke Padang. Ada urusan keluarga. Tidak lama, hanya semalam saja. Naik pesawat sore dari Jakarta, dan kembali lagi ke Jakarta siang keesokan harinya. Singkat ya, tetapi ini memang bukan untuk urusan bersenang-senang, apalagi Kamis keesokan harinya saya ada kelas mengajar.

Beberapa jam sebelum keberangkatan dari bandara BIM Padang, saya masih sempat “jalan-jalan”. Pertama yang saya kunjungi pagi itu adalah berziarah makam ayah saya di bukit Seberang Padang. Mumpung mau puasa Ramadhan. Di Padang, banyak makam yang berada di atas bukit, maklumlah kota Padang dikelilingi oleh bukit-bukit yang hijau. Warga keturunan cina misalnya, kebanyakan kuburannya berada di bukit sebarang Muaro (dekat “makam” Siti Nurbaya). Di bukit Seberanga Padang (tepatnya di kelurahan Seberang Padang Selatan) ini terdapat pemakaman warga perantau dari daerah Koto Anau, Kabupaten Solok. Orangtua saya memang dari Koto Anau.

Di bawah ini foto Bukit Seberang Padang yang saya jepret dari kamera ponsel. Di bawah bukit terdapat sungai buatan penegndali banjir. Untuk mendaki bukit ini diperlukan kehati-hatian karena lahannya curam. Memakamkan jenazah di bukit ini mengingatkan saya dengan cara pemakaman mayat di Tana Toraja, Sulawesi  Selatan. Sama-sama mendaki bukit yang terjal.

Bukit Seberang Padang

Seusai berziarah ke makam ayahanda, saya bergegas ke Pasar Raya Padang. Ini pasar yang sangat ramai tetapi kotor. Di pasar ini saya  ingin membeli masakan Padang untuk dibawa ke Bandung. Membawa masakan dari kampung kelahiran ke tanah Jawa adalah kebiasaan saya sejak dulu. Meskipun di Bandung banyak rumah makan Padang, tetapi masakan dari Padang sendiri tentu lebih asli. Saya ingin mencari masakan palai bada, itu lho ikan teri kecil yang sudah dicampur dengan bumbu-bumbu kelapa lalu dibungkus dengan daun pisang dan dipanggang di atas bara api. Bisa batambuah-tambuah makan dengan palai bada ini. Selain bada, ikan laut juga sering di-palai.

Tapi sayang sekali saya sulit menemukan palai bada pagi itu. Kata kakak saya, jualan palai bada baru ada pada siang hari. Akhirnya saya membeli ikan bilih danau Singkarak. Ikan bilih (bilis?) adalah ikan endemik yang hanya ada di dua danau di Sumbar, yaitu Danau Singkarak dan Danau Maninjau. Besarnya seperti ikan teri dan rasanya khas. Meskipun di RM Sederhana di Bandung menyediakan goreng ikan bilih, tetapi saya ingin membelinya sendiri di Padang. Sekilo harganya Rp 100.000. Cukup mahal juga. Yang saya beli adalah ikan bilih yang sudah digoreng, jadi di Bandung saya tinggal membeli sambal cabe hijau (samba lado hijau, bahasa Minangnya) di rumah makan kapau, lalu dicampurkan ke ikan bilih tadi. Di bulan puasa ini makan goreng ikan bilih lado hijau, amboi nikmatnya.

Karena hari sudah mulai siang sementara penerbangan saya adalah pukul 12.30, maka saya diantar kakak bergegas ke pool bis bandara (Tranex) di kawasan Simpang Haru. Simpang Haru dulunya adalah stasiun kereta api. Sekarang kereta api di Sumbar sudah mati. Hanya tersisa kereta api wisata yang berjalan setiap hari Minggu dari Padang ke Pariaman. Di Simpang Haru ini kita masih terdapat dipo lokomotif, loko-loko tua, dan gudang-gudang kereta peninggalan Belanda. Di bawah ini foto-foto Simpang Haru.

simpang-haru-3.jpg

Simpang Haru (2)

Bandara Internasional Minangkabau (BIM) adalah bandara baru yang megah. Hampir semua maskapai penerbangan di Indonesia menyinggahi bandara ini, mulai dari Garuda, Merpati, Mandala, Lion Air, Batavia, Adam Air, Wing,  Sriwijaya, dan Air Asia.  Benar-benar padat penerbangan dari bandara ini. Pantasan saja kapal laut sudah tidak menyinggahi Padang lagi, begitu pula bus-bus ke Jawa dari Padang sudah menyusut karena orang lebih senang naik pesawat yang tiketnya tidak terlalu mahal.

Foto di bawah ini suasana di dalam bandara BIM:

BIM (1)

Di bandara manapun di Indonesia yang saya kunjungi, orang selalu berebut naik pesawat ketika boarding, termasuk di BIM, seperti foto di bawah ini. Orang Indonesia tidak pernah mau antri, padahal budaya antri adalah ciri negara maju. Ini indikasi Indonesia belum menjadi negara maju. Padahal pesawat tidak akan lari. Seluruh penumpang pasti akan naik pesawat juga.

bim-2.jpg

Begitulah pengalaman sebentar di Padang, meski hanya semalam.

Kategori: Cerita Ranah Minang · Cerita perjalanan

Nonton Film di Teater 4 Dimensi Dufan

12 Juni 2007 · & Komentar

Hari Jumat 8 Juni 2007 kemaren saya absen ke kantor, karena menemani anak ikut jalan-jalan acara perpisahan sekolahnya (TK) ke Dunia Fantasi (Dufan) Ancol. Setiap anak didampingi ibunya, hanya dua orang anak yang ditemani ayahnya, termasuk saya. Risih juga <i>nih</i> bergabung dengan ibu-ibu, tapi gimana lagi, ibunya anak saya tidak bisa menemani karena repot dengan adik bayi yang setiap waktu harus disusui.

Dufan. Siapapun tahu nama itu. Arena kesenangan rakyat Indonesia yang terletak di tepi Pantai Ancol Jakarta. Orang daerah kalau jalan-jalan ke Jakarta tidak lupa datang ke sini. Apalagi kalau yang dibawa itu anak-anak, dijamin pasti merengek.

Saya baru dua kali ke Dufan, termasuk kali ini. Pertunjukan lumba-lumba dan singa laut <i>sih</i> udah biasa, udah “basi” kata anak-anak sekarang.  Tapi pada jalan-jalan kali ini ada wahana baru yang sangat menarik, yaitu teater 4 Dimensi (4D). Kalau film-film 3D sudah tidak aneh lagi kan, nah kalau nonton film 4D baru beda. 

Bangunan Teater 4D di Dufan bentuknya kotak, tetapi jika kita masuk ke dalamnya, kita melewati lorong yang terus menanjak seperti memasuki sebuah piramida Mesir. Dan memang, di dinding kiri dan kanan lorong yang agak gelap itu terdapat relief-relief yang menggambarkan diorama Mesir kuno. Hmmm… tampaknya sebelum menonton film 4D pengunjung dikondisikan dulu dengan suasana yang mencekam. 

Memasuki lantai bioskop, pengunjung diberi kacamata hitam. Untuk menonton film 4D memang diperlukan kacamata khusus. Lampu-lampu di dalam bioskop mulai dimatikan, pertanda film akan segera dimulai. Film yang diputar menampilkan kehidupan beruang di kutub utara, biota laut, dan satwa di hutan tropis. Kacamata khsuus tadi membuat penonton serasa benar-benar berada di dalam film tersebut. Gambar-gambar 3 dimensi yang sebenarnya realitas maya seolah menjadi nyata, buktinya ketika monyet-monyet di hutan melempar buah-buahan para penonton berteriak seakan-akan lemparan buah tadi mengenai kepala penonton. Tiba-tiba seekor ular menjulurkan kepalanya ke arah penonton sehingga banyak penonton berteriak ketakutan seolah-olah ular itu menerkam mereka. Benar-benar bikin “jantungan”. Dan braaaak…, pohon tempat bergelantung monyet rubuh karena ditebang dari bawah. Kitapun merasakan pohon patah karena kursi tempat duduk bergoyang-goyang ke depan dan ke belakang. Waaaahh. Efek nyata lainnya ditampilkan ketika beruang kutub melompat-lompat di gunung es. Hembusan angin pun berhembus di dalam teater, bahkan gerimis hujan pun dijatuhkan dari langit-langit teater seakan-akan penonton merasakan hujan yang ada di dalam film itu.

Film 4D
Secara umum film 4D memang menawarkan sensasi yang luar biasa. Efek 3 dimensi yang ditampilkan di dalam film ditambah dengan gerimis hujan, hembusan angin, dan kursi yang bergoyang-goyang itulah yang dinamakan film 4D.  Sayang, filmnya singkat sekali, hanya 15 menit, sehingga kami kurang puas. Tapi tak apa-apalah,  tidak rugi menemani anak ke Dufan, sebab saya bisa menyaksikan film 4D ini.

Kategori: Cerita perjalanan