<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Catatanku &#187; Cerita Ranah Minang</title>
	<atom:link href="http://rinaldimunir.wordpress.com/category/cerita-ranah-minang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rinaldimunir.wordpress.com</link>
	<description>Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 07 Jan 2010 07:59:13 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='rinaldimunir.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/02f88ff696dff6961cd8a2f32e0547d0?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Catatanku &#187; Cerita Ranah Minang</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rinaldimunir.wordpress.com/osd.xml" title="Catatanku" />
		<item>
		<title>&#8220;Rendang Runtiah&#8221;, Rendang Padang Laksana Abon</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/11/21/rendang-runtiah-rendang-padang-laksana-abon/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/11/21/rendang-runtiah-rendang-padang-laksana-abon/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 08:39:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ranah Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan enak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=1891</guid>
		<description><![CDATA[Ini oleh-oleh yang tersisa waktu pulang ke Padang pasca gempa yang lalu. Ketika membeli oleh-oleh di toko keripik balado Christine Hakim di Jalan Nipah (suer, ini bukan artis film Cut Nyak Dien itu lho, tetapi orang Tionghoa-Padang yang namanya kebetulan sama dengan artis film itu), saya menemukan kemasan rendang yang unik yaitu rendang runtiah. Saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1891&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ini oleh-oleh yang tersisa waktu pulang ke Padang pasca gempa yang lalu. Ketika membeli oleh-oleh di toko keripik balado <em>Christine Hakim</em> di Jalan Nipah (<em>suer</em>, ini bukan artis film <em>Cut Nyak Dien</em> itu lho, tetapi orang Tionghoa-Padang yang namanya kebetulan sama dengan artis film itu), saya menemukan kemasan rendang yang unik yaitu <em>rendang runtiah</em>. Saya tidak sempat memfoto <em>rendang runtiah</em> ini sebab di rumah sudah keburu habis <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> , tetapi di internet saya temukan gambar kemasan <em>rendang runtiah</em> yang saya beli:</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/11/rendang-runtiah.jpg"><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/11/rendang-runtiah.jpg?w=500&#038;h=348" alt="" title="rendang-runtiah" width="500" height="348" class="aligncenter size-full wp-image-1892" /></a></p>
<p><em>Runtiah </em> artinya disuwir-suwir. Jadi, <em>rendang runtiah</em> adalah rendang yang dagingnya sudah disuwir-suwir seperti daging abon. Kalau anda pernah melihat abon sapi, nah seperti itulah rendang runtiah, jadi <em>rendang runtiah </em>= abon dalam bumbu rendang. Rasanya renyah dan garing, tidak terlalu pedas, cocok buat anak-anak yang tidak suka rendang tetapi suka abon.</p>
<p>Setelah dibeli, walah-walah&#8230;anak saya di Bandung ketagihan, makannya jadi nambah <em>euy </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> . Sayang ya, cuma beli satu bungkus. Harganya relatif mahal juga, Rp 40.000/bungkus dengan berat 200 gram.</p>
<p>Wah..wah, menurut saya ini inovasi bisnis yang menarik, yaitu membuat kemasan rendang yang berbeda dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh orang lain. Rendang yang asli jika dibuat sampai hitam sebenarnya bisa tahan berbulan-bulan, namun jika dijadikan <em>rendang runtiah</em> bisa tahan lebih lama lagi, utamanya lagi disukai anak-anak.</p>
<p>Pembuat rendang runtiah ini ternyata orang dari kota Payakumbuh (Sumbar). Menariknya, mereka sudah memasarkan rendang lewat internet. Ini situs web (blog) nya: <a href="http://produksimasyarakatminang.blogspot.com/">http://produksimasyarakatminang.blogspot.com/</a>. Selain di situs ini, saya juga menemukan <em>rendang runtiah </em>di situs oleh-oleh Minang lainnya. Klik <a href="http://camilanpadang.blogspot.com/">di sini</a>.  </p>
<p>Selain <em>rendang runtiah</em> juga ada rendang ayam, rendang telur, dan  rendang paru. Di toko Christine Hakim saya juga menemukan rendang daun singkong. Wah, makin variatif saja rendang padang ini. </p>
<p>Ntar kalau pulang lagi ke Padang saya mau beli <em>rendang runtiah</em> lagi ah&#8230; (di Bandung ada nggak ya supermarket yang menjual <em>rendang runtiah</em> ini?)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/1891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/1891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/1891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/1891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/1891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/1891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/1891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/1891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/1891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/1891/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1891&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/11/21/rendang-runtiah-rendang-padang-laksana-abon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/11/rendang-runtiah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rendang-runtiah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Foto-Foto SMA 1 Padang Setelah Gempa Besar</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/10/26/foto-foto-sma-1-padang-setelah-gempa-besar/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/10/26/foto-foto-sma-1-padang-setelah-gempa-besar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 08:52:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ranah Minang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=1803</guid>
		<description><![CDATA[Masih dalam rangkaian kunjungan pulang kampung ke Padang, saya sempatkan menjenguk bekas sekolah SMA saya dulu, SMA Negeri 1 Padang. SMAN 1 Padang termasuk salah satu dari ratusan sekolah yang hancur atau rusak berat karena diayun-ayun oleh gempa tanggal 30 September yang lalu. Awal tahun lalu saya juga mengunjungi sekolah ini, cerita dan foto-fotonya dapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1803&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Masih dalam rangkaian kunjungan pulang kampung ke Padang, saya sempatkan menjenguk bekas sekolah SMA saya dulu, SMA Negeri 1 Padang. SMAN 1 Padang termasuk salah satu dari ratusan sekolah yang hancur atau rusak berat karena diayun-ayun oleh gempa tanggal 30 September yang lalu. Awal tahun lalu saya juga mengunjungi sekolah ini, cerita dan foto-fotonya dapat dibaca <a href="http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/01/30/bernostalgia-di-sma-negeri-1-padang/#comments">di sini</a>. Sekarang, bandingkan kondisi sekolah ini dengan 9 bulan yang lalu, jauh sekali bedanya.</p>
<p>Memasuki halaman sekolah, saya tidak mengenal siapapun lagi di sana, baik guru-guru maupun karyawannya. Maklum sudah 24 tahun saya tinggalkan, para gurunya sudah pensiun atau sudah dipanggil oleh Allah Yang Maha Kuasa. Saya berkeliling sekolah dan memotret bangunan-bangunan yang rusak. Dari luar sekilas sekolah ini aman-aman saja saja, seolah-olah tidak terkena gempa, tetapi jika melongok ke dalam barulah terlihat kerusakan parah akibat gempa. Secara umum gedung yang rusak adalah gedung peninggalan Belanda yang terrletak di sebelah kanan sehingga ruang-ruang kelasnya tidak bisa dipakai lagi, sementara gedung sebelah kiri yang terletak tidak mengalami kerusakan dan aman dipakai. Waktu itu saya lihat siswa-siswa sibuk mengerjakan soal UTS.  Gedung lain yang rusak adalah gedung baru berlantai tiga yang bertetangga dengan SMA PGRI. </p>
<p>Berikut foto-fotonya:</p>
<p>1. Ruang kelas yang rusak parah </p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00761.jpg?w=500&#038;h=666" alt="DSC00761" title="DSC00761" width="500" height="666" class="alignleft size-full wp-image-1804" /></p>
<p>2. Lorong sekolah di gedung lama. Kesan dari luar tidak terlihat ada kerusakan, tapi jika kita menengok ke dalam ruangan kelas, alamaakk&#8230; pemandangan yang menyedihkan seperti gambar 1 di atas.</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00768.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00768" title="DSC00768" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1823" /></p>
<p>3. Bangunan baru berlantai tiga yang juga rusak parah</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00766.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00766" title="DSC00766" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1805" /></p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00762.jpg?w=500&#038;h=666" alt="DSC00762" title="DSC00762" width="500" height="666" class="alignleft size-full wp-image-1806" /></p>
<p>4. Karena banyak ruang kelas yang berbahaya jika digunakan kembali, maka siswa terpaksa belajar di dalam tenda-tenda bantuan UNICEF. Tenda-tenda itu didirikan di halaman sekolah dan di lapangan upacara. Gerah memang belajar di dalamnya, tapi mau bagaimana lagi. Perlu waktu lama untuk memperbaiki kembali sekolah yang rusak tanpa harus menghancurkan seluruhnya, karena bangunan sekolah ini cagar budaya yang dilindungi.</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00765.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00765" title="DSC00765" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1807" /></p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00764.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00764" title="DSC00764" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1808" /></p>
<p>Sedih memang melihat sekolah kebanggaan saya dulu rusak parah oleh gempa, lebih sedih lagi menyakisikan kondisi siswanya yang belajar di bawah tenda. Mudah-mudahan para alumninya yang tersebar di seluruh dunia tergerak membantu setelah membaca tulisan ini.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/1803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/1803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/1803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/1803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/1803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/1803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/1803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/1803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/1803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/1803/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1803&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/10/26/foto-foto-sma-1-padang-setelah-gempa-besar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00761.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00761</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00768.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00768</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00766.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00766</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00762.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00762</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00765.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00765</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00764.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00764</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pulang ke Padang Melihat Kedahsyatan Gempa</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/10/26/pulang-ke-padang-melihat-kedahsyatan-gempa/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/10/26/pulang-ke-padang-melihat-kedahsyatan-gempa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 08:15:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ranah Minang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=1784</guid>
		<description><![CDATA[Minggu lalu, saat UTS di ITB, saya menyempatkan diri pulang ke Padang. Setelah gempa besar melanda Padang dan Pariaman 30 September yang lalu, saya ingin sekali pulang ke Padang, ingin melihat langsung dahsyatnya gempa bumi itu.
Keluar dari Bandara Minangkabau Padang, saya belum melihat kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa. Hingga melewati Lubuk Buaya dan Tabing, rumah-rumah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1784&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Minggu lalu, saat UTS di ITB, saya menyempatkan diri pulang ke Padang. Setelah gempa besar melanda Padang dan Pariaman 30 September yang lalu, saya ingin sekali pulang ke Padang, ingin melihat langsung dahsyatnya gempa bumi itu.</p>
<p>Keluar dari Bandara Minangkabau Padang, saya belum melihat kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa. Hingga melewati Lubuk Buaya dan Tabing, rumah-rumah dan toko-toko di sepanjang jalan masih berdiri utuh. Hanya satu dua yang rusak. Tetapi ketika memasuki Jalan Khatib Sulaiman hingga Jalan Sudirman, barulah saya menyaksikan sendiri bangunan-bangunan yang ambruk, remuk redam, dan &#8220;patah pinggang&#8221; dihoyak gempa. Benar-benar mengerikan. Sebagian bangunan itu sudah ditutup dengan pagar seng, dan sebagian lagi sudah dibersihkan puing-puingnya.</p>
<p>Hari Sabtu saya menyusuri jalan-jalan yang bangunannya <em>hondoh pondoh</em> dilamun gempa bumi. Benar-benar mengerikan membayangkan gempa berskala 7,9 SR itu. Saya berjalan dari Jalan Sawahan hingga Simpang Haru. Lalu saya teruskan menuju area Pasar Raya, SMA 1 Padang, daerah Pondok (pecinan), Jalan Bundo Kandung, hingga Hotel Ambacang yang terkenal itu. Banyak bangunan yang rubuh atau rusak parah sehingga tidak bisa digunakan lagi. </p>
<p>Berikut foto-foto bangunan yang berhasil saya jepret dengan kamera ponsel:</p>
<p>1. Ruko-ruko di Jalan Sawahan (dekat rumah saya) yang ambruk dan &#8220;patah pinggang:</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00753.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00753" title="DSC00753" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1785" /></p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00754.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00754" title="DSC00754" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1786" /></p>
<p>2. Masjid Muhammadiyah Simpang Haru yang sudah rata dengan tanah. Bangunan STM di belakangnya rusak sedang, sedangkan STIE di bagian kanannya &#8220;patah pinggang&#8221;.</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00757.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00757" title="DSC00757" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1787" /></p>
<p>3. Toko di Pasar Raya Padang yang ambruk</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00774.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00774" title="DSC00774" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1788" /></p>
<p>Aktivitas di Pasar Raya Padang yang menjadi kacau pasca gempa, mereka terpaksa berdagang di luar karena bangunan pasar sudah roboh.</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00775.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00775" title="DSC00775" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1790" /></p>
<p>4. Sentral Pasar Raya yang hancur dan tidak bisa digunakan lagi.</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00783.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00783" title="DSC00783" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1791" /></p>
<p>5. Sebagian bangunan hotel Ina Muara yang sudah doyong</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00794.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00794" title="DSC00794" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1792" /></p>
<p>6. Sebagian bangunan gereja yang hancur di Jalan Bundo Kanduang</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00795.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00795" title="DSC00795" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1793" /></p>
<p>Sekolah Yayasan Prayoga yang luluh lantak:</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00797.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00797" title="DSC00797" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1801" /></p>
<p>7. Hotel Bumi Minang yang rusak parah</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00801.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00801" title="DSC00801" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1794" /></p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00799.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00799" title="DSC00799" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1795" /></p>
<p>8. Hotel Mariani yang porak poranda</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00798.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00798" title="DSC00798" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1796" /></p>
<p>9. Reruntuhan hotel Ambacang</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00803.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00803" title="DSC00803" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1797" /></p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00805.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00805" title="DSC00805" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1798" /></p>
<p>10. Matahari Dept. Store yang tidak bisa dipakai lagi</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00781.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00781" title="DSC00781" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1799" /></p>
<p>11. Jembatan Siti Nurbaya di kampung Nias selamat dari gempa.</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00789.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00789" title="DSC00789" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1800" /></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/1784/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/1784/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/1784/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/1784/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/1784/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/1784/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/1784/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/1784/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/1784/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/1784/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1784&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/10/26/pulang-ke-padang-melihat-kedahsyatan-gempa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00753.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00753</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00754.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00754</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00757.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00757</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00774.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00774</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00775.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00775</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00783.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00783</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00794.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00794</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00795.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00795</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00797.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00797</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00801.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00801</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00799.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00799</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00798.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00798</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00803.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00803</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00805.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00805</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00781.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00781</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/dsc00789.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00789</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Merahnya Cabe Mengalahkan Rasa Takut pada Gempa</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/10/08/merahnya-cabe-mengalahkan-rasa-takut-pada-gempa/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/10/08/merahnya-cabe-mengalahkan-rasa-takut-pada-gempa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 04:16:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ranah Minang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=1744</guid>
		<description><![CDATA[Gempa telah menghancurkan banyak sarana infrastruktur di kota Padang, salah satunya Pasar Raya yang merupakan pasar terbesar di kawasan Sumatera Bagian Tengah. Tetapi, life must go on, hidup harus dimulai lagi, dapur harus terus berasap, periuk nasi harus tetap diisi. Berlama-lama bersedih hati tidaklah patut. Beberapa hari sesudah gempa, pedagang cabe giling di Pasar Raya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1744&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Gempa telah menghancurkan banyak sarana infrastruktur di kota Padang, salah satunya Pasar Raya yang merupakan pasar terbesar di kawasan Sumatera Bagian Tengah. Tetapi,<em> life must go on</em>, hidup harus dimulai lagi, dapur harus terus berasap, periuk nasi harus tetap diisi. Berlama-lama bersedih hati tidaklah patut. Beberapa hari sesudah gempa, pedagang cabe giling di Pasar Raya  mulai berani menggelar dagangannya di antara puing-puing pasar yang telah hancur. Merahnya cabe mengalahkan rasa takut pada gempa. Mau apalagi, karena itulah satu-satunya sumber nafkah pedagang ini. </p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/s39_20630339.jpg?w=500&#038;h=358" alt="s39_20630339" title="s39_20630339" width="500" height="358" class="aligncenter size-full wp-image-1745" /></p>
<p>(Sumber foto: www.boston.com)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/1744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/1744/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/1744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/1744/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/1744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/1744/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/1744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/1744/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/1744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/1744/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1744&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/10/08/merahnya-cabe-mengalahkan-rasa-takut-pada-gempa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/s39_20630339.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">s39_20630339</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gempa di Sumbar: Pariaman Menangis</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/10/05/pariaman-menangis/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/10/05/pariaman-menangis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 09:28:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ranah Minang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=1726</guid>
		<description><![CDATA[Pariaman, siapakah urang awak yang tidak kenal dengan daerah ini. Piaman laweh, itulah julukan negeri ini, yang artinya Pariaman yang luas. Bahkan, sebagian orang Indonesia juga mengenal Pariaman meskipun dengan konotasi yang agak negatif, yaitu daerah di mana laki-laki &#8220;dibeli&#8221; oleh keluarga pengantin perempuan sebagai syarat tercapainya &#8220;deal&#8221; pada proses melamar. Sebuah konotasi yang tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1726&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pariaman, siapakah <em>urang awak</em> yang tidak kenal dengan daerah ini. <em>Piaman laweh</em>, itulah julukan negeri ini, yang artinya Pariaman yang luas. Bahkan, sebagian orang Indonesia juga mengenal Pariaman meskipun dengan konotasi yang agak negatif, yaitu daerah di mana laki-laki &#8220;dibeli&#8221; oleh keluarga pengantin perempuan sebagai syarat tercapainya &#8220;deal&#8221; pada proses melamar. Sebuah konotasi yang tidak seluruhnya benar, namun citra itu masih melekat sampai sekarang.</p>
<p>Bagi urang Minang, Pariaman adalah daerah yang terkenal dengan tradisi <em>tabuik </em>(tabot) untuk mengenang kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husein di Padang Karbala. Pariaman juga terkenal sebagai penghasil kelapa dengan beruknya (kera) yang lihai memelintir buah kelapa dan menjatuhkannya ke bawah. Pariaman juga dikenal dengan masakan satenya, sehingga pedagang sate di Padang maupun di tanah rantau kebanyakan adalah dari daerah ini. Kalau anda menemukan pedagang sate dengan gerobak, maka dipastikan pedagang itu dari daerah Pariaman. </p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/tabut21.jpg?w=330&#038;h=400" alt="tabut2" title="tabut2" width="330" height="400" class="aligncenter size-full wp-image-1730" /><br />
(Sumber foto: lagulamaku.blogspot.com)</p>
<p>Waktu kecil saya cukup sering main ke Pariaman dengan teman-teman. Naik kereta api dari Padang sampai ke Kurai Taji. Pantai-pantai di Pariaman elok dikunjungi. Pantainya landai dan berpasir putih. Ke Pariaman belum lengkap jika tidak mencoba makanan khas yang bernama <em>sala lauak </em>.</p>
<p>Tapi, keeksotisan daerah Pariaman hanya tinggal kenangan. Gempa besar yang melanda Padang, Pariaman, dan beberapa daerah lainnya di Sumbar telah meluluh-lantakkan daerah ini. Kota Padang dan dan Kabupaten Pariaman adalah daerah terparah yang dilanda gempa. Di Pariaman sendiri hampir 80% rumah dan bangunan rubuh, dan yang lebih memilukan lagi terjadi longsor dimana-mana. Anda tahu kan Sumatera Barat itu dilalui oleh Pegunungan Bukit Barisan. Sebagian jalur pegunungan itu melewati daerah ini, dan banyak kampung-kampung (di sana disebut korong) yang berada di kaki bukit. Gempa telah menggoyang bukit-bukit tadi, membelahnya,  kemudian meluruhkan juataan kubik tanah ke bawah. Kampung-kampung yang berada di bawahnya tertimbun beserta penghuninya hidup-hidup. </p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/s07_20615569.jpg?w=500&#038;h=326" alt="s07_20615569" title="s07_20615569" width="500" height="326" class="aligncenter size-full wp-image-1731" /></p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/s37_20605085.jpg?w=500&#038;h=332" alt="s37_20605085" title="s37_20605085" width="500" height="332" class="aligncenter size-full wp-image-1734" /><br />
(Sumber foto: <a href="http://www.boston.com/bigpicture/2009/10/2009_sumatra_earthquakes.html">www.boston.com</a>)</p>
<p>Tidak hanya satu kampung, tetapi banyak! Lebih dari 600 orang tertimbun karena tidak sempat melarikan diri. Yang lebih tragis, ada <a href="http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/empat-dusun-di-pariaman-tertimbun/">400 orang yang sedang menghadiri pesta pernikahan</a>, merekapun juga tertimbun. Lazim di ranah Minang mengadakan pesta pernikahan pada bulan Syawal, sebab pada bulan itu orang rantau pulang kampung. Sanak famili kumpul semua pada hari-hari pasca Lebaran, dan masa itulah digunakan untuk <em>ma-alekkan </em>anak dan kemenakan. Tapi apa mau dita, para perantau itu tidak bisa kembali lagi ke kota asalnya karena mereka terkubur hidup-hidup pada saat gempa.</p>
<p>Hari-hari ini Pariaman menangis. Nagarinya telah luluh lantak dihancurkan oleh gempa dahsyat. Nasib anak nagari benar-benar menyedihkan. Rumah tempat berteduh sudah hancur, kemana lagi tempat untuk bernaung. Bahan makanan sudah habis, kelaparan mulai mengancam, penyakit mulai datang. Para perantau Pariaman hanya bisa menangis menyaksikan kampung halaman mereka sudah porak poranda, bahkan hilang dari peta. Tidak hanya itu, para sanak keluarga mereka pun banyak yang mati atau hilang. Rumah-rumah atau gedung mungkin bisa dibangun kembali, namun trauma akibat gempa perlu waktu lama agar bisa hilang. Entah sampai kapan eksotisme Pariaman terlukis kembali seperti semula. Perlu waktu setidaknya lima tahun untuk mengembalikan Pariaman seperti semula.</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/s27_20602535.jpg?w=500&#038;h=308" alt="s27_20602535" title="s27_20602535" width="500" height="308" class="aligncenter size-full wp-image-1732" /><br />
(Sumber foto: <a href="http://www.boston.com/bigpicture/2009/10/2009_sumatra_earthquakes.html">www.boston.com</a>)</p>
<p>Semua ini sudah takdir dari Ilahi, mau apalagi. Mungkin sudah digariskan oleh Allah SWT nasib suatu negeri,  seperti itu pula skenario nagari Pariaman yang sudah ditakdirkan oleh ilahi. Kita hanya bisa memasrahkan diri kepada-Nya dan menerima semua kejadian ini dengan ikhlas. </p>
<p>Orang Pariaman, baik di kampung maupun di rantau, tidak perlu terus menangis. Sudah sering ranah Minang dilanda berbagai bencana dan dengan cepat bisa pulih kembali karena besarnya sumbangsih urang rantau untuk membangun kembali negeri. Yang meninggal karena terhimpit bangunan dan tertimbun bukit-bukit diikhlaskan saja, kepentingan orang yang masih hidup harus diprioritaskan. Negeri harus dibangun kembali.      </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/1726/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/1726/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/1726/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/1726/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/1726/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/1726/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/1726/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/1726/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/1726/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/1726/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1726&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/10/05/pariaman-menangis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/tabut21.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tabut2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/s07_20615569.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">s07_20615569</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/s37_20605085.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">s37_20605085</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/s27_20602535.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">s27_20602535</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gempa di Sumbar: Suami Istri Itu Tewas Berpelukan Saat Hendak Selamatkan Anak</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/10/03/suami-istri-itu-tewas-berpelukan-saat-hendak-selamatkan-anak/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/10/03/suami-istri-itu-tewas-berpelukan-saat-hendak-selamatkan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 07:30:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ranah Minang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=1723</guid>
		<description><![CDATA[Rasa sayang kepada anak mengalahkan rasa takut apapun, meskipun nyawa pertaruhannya. Dikutip dari kompas.com:
Jumat, 2 Oktober 2009 &#124; 21:10 WIB
PADANG, KOMPAS.com  &#8211; Musibah gempa di Kota Padang meninggalkan kisah memilukan bagi keluarga korban ketika Aini (55) warga Ginung Pangilun kehilangan anak, menantu dan cucunya dalam sekejap.
Menurut cerita Aini, Jumat, yang sehari-hari berjualan di Pasar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1723&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Rasa sayang kepada anak mengalahkan rasa takut apapun, meskipun nyawa pertaruhannya. Dikutip dari <a href="http://www.kompas.com/lipsus092009/gempapadangread/2009/10/02/21101796/Suami.Istri.Itu.Tewas.Berpelukan.Saat.Hendak.Selamatkan.Anak.">kompas.com</a>:</p>
<p><em>Jumat, 2 Oktober 2009 | 21:10 WIB</p>
<p>PADANG, KOMPAS.com  &#8211; Musibah gempa di Kota Padang meninggalkan kisah memilukan bagi keluarga korban ketika Aini (55) warga Ginung Pangilun kehilangan anak, menantu dan cucunya dalam sekejap.</p>
<p>Menurut cerita Aini, Jumat, yang sehari-hari berjualan di Pasar Alai Padang, ketika gempa terjadi dia dalam perjalanan pulang. Jarak rumah dan pasar tempat dia berjualan sekitar dua kilometer. Di tengah jalan angkot yang dia tumpangi seperti mau terbalik karena gempa.</p>
<p>&#8220;Sopirnya loncat dan penumpang juga semua turun menyelamatkan diri, termasuk saya. Lalu saya jalan kaki pulang karena sudah lumayan dekat,&#8221; kata Aini.</p>
<p>Ketika sampai di rumah yang dia melihat reruntuhan sebagian rumahnya, terutama bagian depan. Bukan hanya itu, tetangga menyatakan keluarganya, yakni anak perempuan, menantu dan cucunya yang barusia berusia tujuh bulan terkurung di dalam.</p>
<p>Menurut cerita tetangganya, saat gempa anaknya yang bernama Nur sudah lari duluan ke luar rumah sedangkan menantunya memang sedang berada di halaman rumah. Sampai di halaman terdengar lengkingan tangis anak bayinya yang ternyata tertinggal dalam ayunan di depan pintu kamar Nur.</p>
<p>Segera saja suami istri ini secara refleks berbarengan lari kembali ke dalam rumah dan sejenak kemudian tetangga hanya menyaksikan rumah itu ambruk.</p>
<p>&#8220;Saat reruntuhan rumah dibersihkan untuk mengeluarkan anak saya, ternyata ketiganya sudah tak bernyawa dengan posisi Nur dan suami saling berpelukan dan anak mereka ada di antara tubuh ibu dan ayahnya,&#8221; kata tetangga Aini di Gunung Pangilun.</p>
<p>Jasad Nur, anak dan suaminya baru akan dikuburkan esok, Sabtu, karena harus menunggu ayahnya Nur yang masih dalam perjalanan dari Bengkulu. Kebetulan ayah Nur baru tiga hari meninggalkan rumah untuk menjenguk adiknya yang sedang sakit di Bengkulu.</p>
<p>&#8220;Meski sudah mulai bau tetapi Ani bersikeras baru akan memakamkan jasad anak, menantu dan cucunya esok, karena harus menunggu suaminya dulu,&#8221; ujar tetangga Aini. Nur adalah tunggal Aini dan musibah gempa ini membuat keluarganya punah.<br />
 </em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/1723/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/1723/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/1723/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/1723/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/1723/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/1723/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/1723/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/1723/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/1723/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/1723/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1723&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/10/03/suami-istri-itu-tewas-berpelukan-saat-hendak-selamatkan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gempa di Sumbar: Ya Ilahi, Padang &#8220;Jatuah Tapai&#8221;</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/10/02/ya-ilahi-padang-jatuah-tapai/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/10/02/ya-ilahi-padang-jatuah-tapai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 04:06:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ranah Minang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=1709</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun saya lelaki namun perasaan saya sering tersentuh hingga menitik air mata bila melihat penderitaan orang lain yang mendapat musibah berat. Dan kali ini musibah dahsyat itu menimpa kampung halaman saya sendiri, khususnya di kota Padang tercinta. Melihat tayangan breaking news di TV tentang kedahsyatan gempa besar itu, perasaan saya menjadi tidak tenang. Galau. Tenggorokan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1709&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Meskipun saya lelaki namun perasaan saya sering tersentuh hingga menitik air mata bila melihat penderitaan orang lain yang mendapat musibah berat. Dan kali ini musibah dahsyat itu menimpa kampung halaman saya sendiri, khususnya di kota Padang tercinta. Melihat tayangan <em>breaking news</em> di TV tentang kedahsyatan gempa besar itu, perasaan saya menjadi tidak tenang. Galau. Tenggorokan tercekat, mata basah. Begitu dahsyat dampak gempa, kerusakan yang ditimbulkan sangat masif, dan korbannya sangat banyak. Pikiran saya langsung teringat pada ibunda yang sudah tua yang sudah susah berjalan dan para kakak berada di Padang. Bagaimanakah keadaannya?</p>
<p>Dari malam sampai pagi saya mencoba menghubungi kakak di Padang, tetapi tidak berhasil. Ternyata menurut laporan di TV semua saluran telekomunikasi di Padang putus..tus..tus. Listrik mati pula di sana karna jaringan PLN hancur. Keadaan benar-benar gelap gulita dan entah sampai kapan listrik bisa menyala lagi. Jadilah saya dari malam sampai siang hanya bisa menyaksikan tayangan langsung di TV tentang kedahsyatan gempa itu. Ratusan korban tewas telah ditemukan dan ribuan lainnya masih tertimbun di balik reruntuhan gedung, entah masih hidup entah sudah mati. Itu baru di Padang, sementara di Pariaman lebih dahsyat lagi dan belum tersentuh bantuan. Ribuan rumah di sana hancur, dan yang lebih mengenaskan satu kampung di kaki bukit tertimbun longsor bukit barisan dan menguburkan ratusan orang di kampung itu yang sedang menghadiri pesta pernikahan warga. Mirip seperti longsor akibat gempa di Cianjur baru-baru ini. </p>
<p>Di TV saya melihat kota kelahiran saya luluh lantak, hampir semua gedung rubuh dan banyak rumah yang hancur. Kebakaran di mana-mana dan semua orang sibuk menyelamatkan diri. Perasaan saya menjadi tidak karu-karuan selama beberapa hari. Bagaimana tidak, kota Padang tempat saya dilahirkan dan dibesarkan selama 18 tahun sehingga saya tahu betul semua sudut kota ini, luluh lantak dihoyak gempa besar berskala 7,6 SR pada hari Rabu sore kamaren. Hanya dalam waktu 2 menit saja kemegahan dan keindahan kota ini sirna sekejap mata. Kota Padang seperti <em>jatuah tapai</em>.  <em>Jatuah tapai</em> adalah perumpamaan yang diberikan kepada kejatuhan yang menimpa orang atau barang. Tapai adalah tape singkong yang lembek, bila ia jatuh dari ketinggian maka  tiba di lantai tape itu sudah tidak berbentuk lagi. Begitulah kondisi kota dan daerah lainnya di Sumbar yang porak poranda setelah diayun-ayun oleh gempa.</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/bangunan-bertingkat01.jpg?w=450&#038;h=300" alt="bangunan-bertingkat01" title="bangunan-bertingkat01" width="450" height="300" class="aligncenter size-full wp-image-1717" /><br />
(Sumber foto: Detik.com)</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/s09_20603539.jpg?w=500&#038;h=326" alt="s09_20603539" title="s09_20603539" width="500" height="326" class="aligncenter size-full wp-image-1736" /><br />
(Sumber foto: <a href="http://www.boston.com/bigpicture/2009/10/2009_sumatra_earthquakes.html">www.boston.com</a>)</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/s35_20591587.jpg?w=500&#038;h=333" alt="s35_20591587" title="s35_20591587" width="500" height="333" class="aligncenter size-full wp-image-1737" /><br />
(Sumber foto: <a href="http://www.boston.com/bigpicture/2009/10/2009_sumatra_earthquakes.html">www.boston.com</a>)</p>
<p>Penderitaan warga makin bertambah karena sarana telekomunikasi terputus. Saya yakin jutaan perantau Minang di seperti saya baik di Indonesia maupun di luar negeri mencoba menelpon sanak sudaranya di Sumbar, tetapi tidak bisa. Semua orang menjadi putus komunikasi dengan Sumatera Barat. Seperti yang saya lihat di TV, perantau hanya bisa menangis, menangis, dan menangis tanpa tahu harus berbuat apa dan tidak tahu harus bertanya kemana. </p>
<p>Tadi malam barulah saya berhasil menelpon ke Padang. Alhamdulillah keluarga selamat meskipun rumah retak-retak dan pagar rubuh. Kata kakak di sana listrik masih padam, air tidak mengalir, makanan susah didapat. Pertokoan di jalan Sawahan hancur, banyak orang terperangkap di dalam reruntuhan. Meskipun keluarga selamat, namun tetap tidak mengurangi kepiluan saya yang mendalam tentang penderitaan warga Sumbar. Mereka saudara-saudara saya juga, derita mereka saya rasakan di rantau. Dua hari ini saya tidak bersemangat melakukan apa-apa, kepikikran terus, banyak pekerjaan terbengkalai. Badan memang di Bandung, tapi pikiran menerawang jauh ke kampung halaman. </p>
<p>Saya yakin ratusan ribu perantau Minang ingin pulang kampung melihat kondisi keluarga mereka di sana. Saya pun ingin pulang. Tapi apa daya, sarana transportasi sangat terbatas. Sangat sulit mendapat tiket pesawat dalam kondisi seperti ini. Kalaupun ada harganya sangat mahal. Naik mobil juga tidak mungkin karena sarana jalan terputus ke Padang akibat longsor. Jadilah di sini saya hanya bisa termangu-mangu menyaksikan tayangan langsung dari reporter TV di Padang, sambil sesekali menyeka air mata. Pilu.</p>
<p>*********</p>
<p>Bunyi <em>saluang </em>di Metro TV terdengar bagai ratapan di tengah malam. Suaranya menghiba-hiba mengiringi tayangan tentang <em>nagari </em>yang telah hancur oleh gempa, lalu anak-anak dan kaum ibu yang menangis ketakutan. Pilu.</p>
<p>Allah SWT menurunkan cobaan yang berat ini sebagai ujian untuk menguji seberapa kuat iman seseorang, apakah ia makin menjauh atau malah makin dekat kepada-Nya. Tentu ada hikmah dari bencana alam ini agar manusia lebih mendekatkan diri kepada-Nya, karena hanya kepada Allah SWT tempat untuk kembali. </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/1709/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/1709/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/1709/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/1709/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/1709/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/1709/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/1709/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/1709/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/1709/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/1709/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1709&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/10/02/ya-ilahi-padang-jatuah-tapai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/bangunan-bertingkat01.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bangunan-bertingkat01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/s09_20603539.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">s09_20603539</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/10/s35_20591587.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">s35_20591587</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jalan-jalan ke Kuala Lumpur (Bag. 3)</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/08/13/jalan-jalan-ke-kuala-lumpur-bag-3/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/08/13/jalan-jalan-ke-kuala-lumpur-bag-3/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 05:40:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ranah Minang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=1559</guid>
		<description><![CDATA[Jika ke Kuala Lumpur hanya untuk konferensi tentu membosankan. Di sela-sela konferensi kami masih sempat jalan-jalan ke berbagai sudut kota Kuala Lumpur. Apa sasaran utama turis di Kuala Lumpur? Tentu saja jawabannya adalah menara kembar Petronas. Ya, kesanalah kami pergi. 

Menara Petronas lebih dekat:



Menara Petronas memiliki dua buah tower (twin), di antara kedua tower itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1559&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Jika ke Kuala Lumpur hanya untuk konferensi tentu membosankan. Di sela-sela konferensi kami masih sempat jalan-jalan ke berbagai sudut kota Kuala Lumpur. Apa sasaran utama turis di Kuala Lumpur? Tentu saja jawabannya adalah menara kembar Petronas. Ya, kesanalah kami pergi. </p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/08/dsc00619.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00619" title="DSC00619" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1560" /></p>
<p>Menara Petronas lebih dekat:</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/08/dsc00613.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00613" title="DSC00613" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1563" /></p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/08/dsc00614.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00614" title="DSC00614" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1564" /></p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/08/petronas.jpg?w=500&#038;h=666" alt="petronas" title="petronas" width="500" height="666" class="aligncenter size-full wp-image-1562" /></p>
<p>Menara Petronas memiliki dua buah tower (<em>twin</em>), di antara kedua tower itu terdapat gedung KLCC. Di gedung ini ada megamal yang bernama Suria KLCC:</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/08/dsc00606.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00606" title="DSC00606" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1565" /></p>
<p>Menurut saya Suria KLCC ini tidak lebih megah dari Senayan City, malah masih lebih bagus Bandung Super Mal di Bandung. Yang menarik, di mal ini banyak sekali turis-turis dari Timur Tengah yang berbelanja membawa anak-anak dan istrinya. Uniknya, sang istri memakai cadar hitam dan berjubah panjang, khas tipikal wanita di Timur Tengah, tetapi para suami mereka dengan enteng memakai celana jins pendek dan berkaos oblong, seperti terlihat pada foto di bawah ini. Anak-anak mereka juga memakai pakaian modis anak-anak zaman kini, termasuk anak perempuannya.</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/08/dsc00608.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00608" title="DSC00608" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1568" /></p>
<p>Di Kuala Lumpur turis dari Arab begitu banyaknya. Mereka menghabiskan uangnya di sini. Saya heran, mengapa tidak banyak turis Arab yang mengunjungi Indonesia, khususnya Jakarta. Kenapa harus ke Kuala Lumpur? Selama ini turis Arab di Indonesia sering diidentikkan tujuannya ke daerah Puncak Bogor saja untuk &#8230;. kawin kontrak, he..he. Jelek benar imej turis Arab di mata orang Indonesia.</p>
<p>Membanjirnya turis Timur Tengah tidak terlepas dari <em>public relation</em> mantan PM Malaysia,  Mahathir Muhammad, yang begitu pintar meyakinkan negara-negara Timur Tengah untuk berinvestasi di Malaysia. Dampaknya memang hebat, investasi dari Timur Tengah mengalir ke Malaysia, termasuk ribuan turisnya yang membanjiri Kuala Lumpur. Indonesia tampaknya perlu belajar kepada Malaysia untuk menarik investor dan turis dari Timur Tengah.</p>
<p>Ada yang bilang, Malaysia adalah negara yang aman untuk investasi dan pariwisata. Setiap kali bom meledak di Indonesia, maka yang untung adalah Malaysia sebab para turis akhirnya mengalihkan tujuannya ke Malaysia daripada ke Indonesia. Jangan-jangan Noordin M. Top yang orang Malaysia itu sengaja dihadirkan ke Indonesia untuk terus menyandera bangsa Indonesia dengan ancaman bom-bomnya itu, agar pihak investor dan turis mengalihkan tujuannya ke Malaysia..he..he  </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/1559/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/1559/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/1559/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/1559/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/1559/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/1559/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/1559/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/1559/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/1559/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/1559/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1559&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/08/13/jalan-jalan-ke-kuala-lumpur-bag-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/08/dsc00619.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00619</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/08/dsc00613.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00613</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/08/dsc00614.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00614</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/08/petronas.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">petronas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/08/dsc00606.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00606</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/08/dsc00608.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00608</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jalan-jalan ke Kuala Lumpur (Bag. 2)</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/08/12/jalan-jalan-ke-kuala-lumpur-bag-2/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/08/12/jalan-jalan-ke-kuala-lumpur-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 05:48:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ranah Minang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=1553</guid>
		<description><![CDATA[Konferensi ICEEI 2009 diadakan di kampus UKM (Universiti Kebangsaan Malaysia), tepatnya di lingkungan FTSM (Fakulti Teknologi dan Sains Maklumat). Tidak banyak peserta yang datang, jadi konferensi ini nyaris sepi. Kami dari ITB ada 15 orang yang ke sana, lumayanlah untuk meramaikan konferensi dua tahunan itu. Menurut riset di IEEE, konferensi ilmiah yang sukses (dalam arti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1553&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Konferensi ICEEI 2009 diadakan di kampus UKM (Universiti Kebangsaan Malaysia), tepatnya di lingkungan FTSM (Fakulti Teknologi dan Sains Maklumat). Tidak banyak peserta yang datang, jadi konferensi ini nyaris sepi. Kami dari ITB ada 15 orang yang ke sana, lumayanlah untuk meramaikan konferensi dua tahunan itu. Menurut riset di IEEE, konferensi ilmiah yang sukses (dalam arti banyak peserta yang datang) adalah konferensi yang diadakan di daerah pantai, seperti Phuket, Bali, dan sebagainya. Maunya peserta adalah setelah presentasi langsung &#8220;kabur&#8221; ke pantai untuk berenang, hi..hi..hi. Kalau begitu konferensi ICEEI 2011 di  Bali saja ah atau di Phattaya atau daerah pantai lainnya di kawasan Asia Tenggara, he..he. </p>
<p>Karena ada konferensi, maka mahasiswa FTSM diliburkan selama seminggu (kalau di ITB meliburkan mahasiswa itu jelas tidak mungkin, konferensi ya konferensi, kuliah tetap jalan). Konferensi diadakan selama 4 hari penuh. Menurut saya 4 hari terlalu lama, karena kalau kami di ITB mengadakan konferensi ilmiah paling lama 2 hari saja (lebih sering 1 hari penuh). Tetapi, saya kira ini adalah taktik pariwisata Malaysia agar para tamu lebih lama lagi di Malaysia untuk membelanjakan uangnya di sana, agar semain banyak devisa dari turis yang terkumpul. Cerdik juga ya.</p>
<p>Ini tampak depan kampus FTSM, masih keren Labtek V he..he:</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/08/dsc00605.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00605" title="DSC00605" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1554" /></p>
<p>Mahasiswa S2 dan S3 di UKM ini banyak yang berasal dari luar, umumnya dari Indonesia. UKM adalah universitas berbasis riset, jumlah mahasiswa S1 dan mahasiswa Pasca Sarjana nya hampir berimbang, tidak seperti ITB yang begitu jomplang perbandingan antara mahasiswa S1 dan S2/S3, dimana lebih banyak mahasiswa S1 nya (3 kali lipat jumlah mahasiswa S2/S3) padahal ITB sering mendeklarasikan diri sebagai <em>research university</em>. </p>
<p>Malaysia beberapa tahun belakangan ini sangat gencar mempromosikan universitasnya di Indonesia. Mereka &#8220;memburu&#8221; calon mahasiswa S1 dan S2/S3 di Indonesia. Menurut dosen di UKM, minat mahasiswa Malaysia untuk melanjutkan S2/S3 di perguruan tinggi di Malaysia sangat rendah, oleh karena itu mereka ekspansi ke Indonesia untuk menjaring mahasiswa. Jika tidak ada mahasiswa yang mendaftar bisa-bisa program studinya ditutup. Untuk &#8220;merayu&#8221; calon mahasiswa dari Indonesia, pihak universitas menawarkan beasiswa termasuk <em>living cost</em>. Jadi tidak heran jika banyak mahasiswa Indonesia yang mengambil S2/S3 di perguruan tinggi Malaysia itu termasuk di UKM. Tetapi saya mempunyai analisis tambahan lain mengapa banyak mahasiswa Indonesia di Malaysia, yaitu Malaysia tahu betul jika pelajar/mahasiswa dari Indonesia mempunyai kualitas akademik lebih bagus daripada mahasiswa negaranya sendiri. Kualitas akademik mahasiswa itu penting, sebab secara tidak langsung hal itu akan mengangkat kualitas universitasnya, sebab akan lebih banyak <em>paper </em>yang dihasilkan mahasiswa-mahasiswa itu dari riset-riset yang mereka lakukan dan dimuat di jurnal internasional, dan hal ini akan meningkatkan SCORPUS index sebagai salah satu indikator penilaian ranking universitas di seluruh dunia (<em>world top university</em>). </p>
<p>Untuk diketahui, universitas di Malaysia seperti UKM sangat berlimpah dana untuk membiayai kegiatannya. Mau melakukan apa saja tersedia dananya (membeli buku, seminar ke luar negeri, membeli peralatan, melakukan riset, mendatangkan dosen tamu dari luar, dll).  Di UKM saya sempat bertemu dengan dosen sebuah PTS di Yogya yang mengambil S3 di sana. Katanya, di UKM mereka dberi ruang yang luas untuk residensi. Kalau mau beli peralatan (dia mengambil topik riset di bidang robotika), tinggal bilang saja, nanti dibelikan oleh pihak universitas. Mau buku, gratis. Wah..enak betul ya, makanya mahasiswa Indonesia betah kuliah di sana.</p>
<p>Jadi, jika universitas di Malaysia memiliki dana dalam jumlah yang besar, sebaliknya dari segi SDM kurang. Kontras sekali dengan kondisi perguruan tinggi di Indonesia yang selalu menghadapi masalah klasik: dana. Karena kekurangan SDM, universitas Malaysia tidak segan-segan menawarkan dosen di Indonesia untuk mengajar di sana. Beberapa orang rekan kami ditawari untuk mengajar di Malaysia, bisa 3 bulan atau dua minggu sekali ke sana. Tentu saja bayarannya tinggi.</p>
<p>Kalau saya ditawari mengajar di UKM, saya tidak mau. Alasannya sederhana, soal perut: saya tidak cocok dengan masakan Malaysia, bisa-bisa saya tambah kurus di sana, hi..hi..hi. Beberapa hari di Malaysia saya tidak bisa makan karena rasa masakannya aneh saja menurut lidah saya. Rendangnya manis <em>banget </em>serasa kita makan kolak saja, satenya juga begitu, bumbunya manis karena diberi gula pasir, ayam goreng Kentucky di sana pakai bumbu kari. Rasa sotonya juga aneh entah pakai bumbu apa tuh, benar-benar asing di lidah saya dan susah menelannya. Masakan Malaysia tidak ada yang pedas, kebanyakan manis. Aneh ya, padahal masakan melayu di Medan pedas-pedas lho, tapi di Malaysia lain sendiri. Saya hampir tidak bisa makan masakan di hotel. Nasi lemak yang saya coba tidak ada rasanya, hambar. Saya terpaksa membeli masakan padang dan membawanya ke hotel untuk sarapan. Kebetulan dekat hotel ada restoran padang yang diklaim otentik, namanya restoran Sari Ratu.  </p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/08/dsc00627.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00627" title="DSC00627" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1555" /></p>
<p>Saya beli dendeng balado di restoran itu dan membawanya untuk sarapan pagi di hotel. Teman-teman saya ketawa melihatnya. Soal selera saya memang &#8220;payah&#8221;, susah beradaptasi dengan makanan lokal, he..he. Kalau tidak ada pedasnya, saya tidak bisa makan. Kapan-kapan kalau ke Malaysia lagi nanti saya harus membawa bekal sendiri seperti rendang, dendeng, dan sambal balado, supaya tetap sehat di negara orang. Asli <em>urang awak</em> benar saya ini, hi..hi.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/1553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/1553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/1553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/1553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/1553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/1553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/1553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/1553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/1553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/1553/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1553&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/08/12/jalan-jalan-ke-kuala-lumpur-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/08/dsc00605.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00605</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/08/dsc00627.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00627</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memasak Rendang</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/07/21/memasak-rendang/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/07/21/memasak-rendang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2009 09:05:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ranah Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Gado-gado]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan enak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=1474</guid>
		<description><![CDATA[Hari Senin kemaren tanggal merah, kami di rumah memasak randang (di sini dikenal dengan nama rendang padang). Kebetulan ada persediaan daging beku di freezer, dan kebetulan pula kami sudah lama tidak memasak rendang di rumah. Memasak rendang sendiri dilatari ketidapuasan dengan rendang yang dijual di beberapa rumah makan padang di Bandung ini, sebab rasanya berbeda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1474&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Hari Senin kemaren tanggal merah, kami di rumah memasak <em>randang </em>(di sini dikenal dengan nama <em>rendang padang</em>). Kebetulan ada persediaan daging beku di <em>freezer</em>, dan kebetulan pula kami sudah lama tidak memasak rendang di rumah. Memasak rendang sendiri dilatari ketidapuasan dengan rendang yang dijual di beberapa rumah makan padang di Bandung ini, sebab rasanya berbeda dengan yang di kampung aslinya. Nah, memasak sendiri rendang kenapa tidak? Kebetulan hari libur pula.</p>
<p>Untuk memasak rendang, saya tidak perlu repot-repot membuat bumbunya. Di Bandung ada beberapa pedagang <em>urang awak </em> di pasar tradisionil yang menjual aneka bumbu masakan olahan. Mereka umumnya berjualan di deretan pedagang yang menjual kebutuhan dapur seperti sayur mayur, daging, dan kelapa. Ciri khas pedagang ini adalah baskom-baskom yang penuh dengan bumbu yang sudah  dihaluskan seperti cabe, laos, kunyit, jahe, bawang merah, bawang putih, kemiri, dan sebagainya. Kita tinggal pesan mau masakan apa, maka pedagang bumbu ini siap meracik bumbu masakan dengan mencampurkan aneka bumbu tadi. Mau buat gulai ayam, rendang, opor, semua ada. Mau untuk daging sekilo, dua kilo, mau pedas, super pedas, tergantung selera. Harganya murah, sekitar lima ribu rupiah saja untuk masakan dengan daging satu kilo.</p>
<p>Kedai bumbu favorit saya adalah <em>Kedai Buyung</em>, terletak di lantai <em>basement </em>Pasar Kosambi Bandung. Kita dilayani oleh Uni yang berbadan gemuk. Uni penjual bumbu adalah istri Pak Buyung pemilik kedai itu. Saya membeli bumbu rendang di sana untuk satu kilo daging sapi. Pedas, pasti itu. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Bumbu rendang tergolong lengkap dan rumit, ada bawang putih, bawang merah, cabe, kunyit, jahe, laos, lengkuas, ketumbar, garam, daun kunyit, daun limau (jeruk), dan daun sereh (serai), dan masih ada lagi yang kecil-kecil. Enak tidaknya masakan rendang bergantung pada kelengkapan bumbu tadi dan komposisinya. Uni yang menjual bumbu di kedai Buyung sudah terampil dengan komposisi bumbu rendang yang enak. Jadi, anda tidak usah khawatir. </p>
<p>Daging sapi sudah ada di rumah, kami cukup membeli kelapa parut saja.  Daun-daun penyedap rasa seperti sereh (<em>sarai</em>) dan daun limau (jeruk) ada di pekarangan rumah, jadi saya tidak perlu repot mencari lagi. Kalau tidak ada, di tukang sayur yang lewat depan rumah pasti menjual daun bumbu ini.</p>
<p>Yup, kami mulai memasak rendang. Kelapa parut diperas santannya. Lalu, campurkan bumbu yang dibeli di kedai tadi ke dalam santan sampai  tercampur sempurna, jangan lupa daun-daun penyedap tadi dimasukkan ya. Panaskan campuran santan tadi hingga mendidih, jangan lupa terus diaduk agar santannya tidak pecah, baru kemudian masukkan potongan daging sapi. </p>
<p>Di <em>kampuang</em> asalnya, rendang ada yang polos dan ada yang dicampur dengan kacang atau kentang kecil-kecil seukuran kelereng. Anak saya lebih suka kacangnya daripada dagingnya, sehingga saya tambahkan satu kilo kacang putih (di Bandung disebut kacang <em>ndul</em>). Jadi, jangan heran kalau nanti hasil akhirnya kelihatan lebih banyak kacang daripada dagingnya.</p>
<p>Bergantian dengan istri, kami sesekali mengaduk-aduk masakan rendang yang belum jadi ini. Memasak rendang tidak sulit, yang penting ada kesabaran dan waktu yang cukup. Memasak rendang memerlukan waktu lama, kira-kira empat hingga lima jam. Jadi, kita harus siap berdiri dekat kompor selama waktu itu. Filosofinya ya kita harus sabar menjalani hidup ini, hidup itu seperti memasak rendang, he..he.. </p>
<p>Sambil mengaduk-aduk masakan rendang, ingatan saya pun melayang ketika masa-masa masih kuliah dulu&#8230;. </p>
<p>**************</p>
<p>Ketika menjadi mahasiswa, masih muda dan masih lucu-lucunya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> , ibu saya sering mengirim rendang dari Padang ke Bandung melalui jasa Titipan Kilat (sekarang Tiki). Hampit semua teman kuliah saya yang satu daerah pasti pernah dikirimi rendang dari ibunya. Rendang seakan lauk-pauk wajib yang harus dibawa kalau seseorang pergi merantau jauh, entah untuk sekolah, kuliah, berdagang, naik haji, dan sebagainya. Tidak lengkap bepergian jauh tanpa membawa rendang. </p>
<p>Bagi kami mahasiswa kosan di Bandung, seakan para ibunda tahu para anaknya di rantau mungkin sulit makan, kurang gizi, dan sebagainya, maka kiriman rendang dari kampuang adalah obat pelepas rindu pada masakan di rumah sendiri sekaligus perbaikan gizi. Rendang yang dikirim tentu adalah rendang yang warnanya hitam, yaitu jenis rendang kering yang bisa awet hingga waktu satu bulan. Biasanya ibu saya mengirim rendang dalam kaleng, di atas tutup kaleng ada tulisan begini: <em>Setelah dibuka, langsung dipanaskan</em>. Maksudnya supaya tidak jamuran dan bisa lebih awet lagi. Untunglah di tempat kos ada kompor, jadi tinggal dipanaskan sebentar. Kiriman rendang dari kampung lumayan mengirit pengeluaran makan sebab saya cukup membeli nasi putih saja. </p>
<p>Tentu bosan setiap hari makan dengan rendang terus, yaah tidak setiap harilah rendangnya dimakan, sekali-kali saja sampai akhirnya habis dalam waktu dua minggu.  Masakan ibu adalah pengikat tali batin antara anak dengan keluarganya. Jadi, kiriman rendang itu adalah barokah, tidak boleh disia-siakan.</p>
<p>*************</p>
<p>Upss&#8230; jangan terlalu lama melamun. Akhirnya, masakan rendang kami sudah hampir matang. Sudah empat jam nih, minyak kelapanya sudah banyak keluar, warna masakan sudah menjadi coklat. Sampai di sini, masakan setengah rendang ini dinamakan <em>kalio randang</em>.  Ini dia fotonya:</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/07/dsc00587.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00587" title="DSC00587" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1475" /></p>
<p>Hi..hi.. <em>kalio randang</em> buatan kami lebih banyak kelihatan kacang daripada dagingya. Maka, kami sebut saja ini <em>randang dagiang kacang</em>. </p>
<p>Beberapa rumah makan padang  yang &#8220;tidak sabaran&#8221; memasak rendang, menghidangkan rendang dalam bentuk kalio saja. Hmm.. sebenarnya rendang dalam bentuk kalio belum terlalu <em>mak nyus</em>, dagingya belum terlalu empuk, kalau mereka mau bersabar teruskan beberapa jam lagi hingga menjadi rendang yang sempurna. Tapi ini juga terkait masalah selera tampaknya.</p>
<p>Ketika rendang sudah mencapai tahap kalio, maka api kompor dimatikan, Biarkan <em>kalio randang</em> ini dingin agak beberapa jam supaya uap airnya mengering dan bumbu meresap ke daging. </p>
<p>Setelah didiamkan beberapa jam, api kompor dihidupkan lagi. <em>Kalio randang</em> sekarang dikeringkan hingga minyaknya tidak ada lagi. Sesekali aja diaduk bolak-balik agar rendang menjadi kering. Sampai di sini, dihasilkan rendang yang warnanya coklat tua. Hmmm&#8230; tadinya satu kuali penuh santan dan bumbu, sekarang tinggal sepertiga saja. Satu kilo daging, satu kilo kelapa, satu kilo kacang <em>ndul</em>, dihasilkan rendang yang bobotnya kira-kira satu kilo. Dua kilo lagi menguap menjadi uap air. Ini dia fotonya:</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/07/dsc00590.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00590" title="DSC00590" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1476" /></p>
<p>Kalau ingin menjadi rendang hitam, panaskan terus kira-kira satu hingga dua jam lagi sehingga menjadi rendang kering yang tahan lama. Capek juga ya&#8230; tetapi rendang buatan sendiri tentu lebih enak daripada rendang yang dibeli di rumah makan padang.</p>
<p>*************</p>
<p>Tidak percuma sejak mahasiswa saya suka memasak hingga sekarang. Laki-laki tidak perlu malu memasak, memasak bukan masalah feminimitas atau maskulinitas, tetapi hal ini terkait hobi dan kegemaran. </p>
<p>Di Jakarta, ada perantau <em>urang awak</em> yang mempunyai bisnis rendang kantoran. Mereka menerima pesanan rendang untuk teman-teman sekantor. Karena enak, maka rendang buatan mereka tersebar dari mulut ke mulut menjadi promosi gratis sehingga pesanan pun membanjir. Baca kisah lengkapnya dengan mengklik tulisan ini: <a href="http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/18/1316039/bisnis.rendang.orang.kantoran">Bisnis Rendang Orang Kantoran</a>. Menarik sekali.</p>
<p>Hmmm&#8230; pernah terlintas dalam pikiran saya, andai nanti saya sudah tidak terpakai lagi menjadi guru mahasiswa (pensiun maksudnya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> ), ingin juga saya membuka usaha rendang kantoran semacam itu. Tapi itu &#8216;kan nanti, apa nanti masih punya tenaga atau tidak. Yang jelas, nikmati dulu rendang yang dibuat tadi. Ayo ambil nasi&#8230;.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/1474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/1474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/1474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/1474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/1474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/1474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/1474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/1474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/1474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/1474/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1474&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/07/21/memasak-rendang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/07/dsc00587.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00587</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/07/dsc00590.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00590</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>