Catatanku

Entries categorized as ‘Gado-gado’

Ajaib, Kaki Bayi Bertuliskan Ayat Al-Quran

21 Oktober 2009 · & Komentar

bayi-Alquran1Wallahu alam, hanya Dia yang tahu pesan apa yang hendak Dia sampaikan kepada ummat manusia di dunia ini. Dunia sudah tua ataukah kiamat sudah dekat? Seorang bayi yang berusia 9 bulan di negara bagian Dagestan, Rusia, menunjukkan fenomena aneh. Di kaki bayi yang bernama Ali Yakubova itu terdapat tulisan ayat Al-Quran. Seperti yang ditulis di situs TempoInteraktif.com, harian Inggris The Sun menyebutkan bahwa sebelum muncul di kaki kalimat itu muncul pada pergelangan tangan, kaki, dan perut Ali. Kedua orang tua Ali pertama kali dibuat kaget ketika lafal Allah muncul pada dagu anaknya tak lama setelah lahir. Setelah itu beragam kalimat bertuliskan arab memenuhi seluruh anggota tubuh anak tersebut. (Berita tentang hal ini di media lainnya juga bisa dibaca di situs Hidayatullah, di situs Okezone.com, atau di situs Detik.com)

Video di YouTube tentang berita heboh ini bisa diklik di bawah ini:

Ali juga membuat kalangan dokter di Rusia pusing tujuh keliling. Seperti dilansir dari The Sun, tim medis mengatakan, pihaknya tidak bisa menjelaskan kondisi misterius Ali Yakubov, tapi mereka membantah, tanda ini ditulis oleh seseorang pada kulit bayi ini. Madina Yakubova, ibu sang bayi mengatakan ia dan suaminya tidak begitu taat dalam melaksanakan agama Islam sebelum kalimat tersebut muncul pada kulit anaknya.

bayi-Alquran2 Tulisan arab di kaki bayi itu begitu jelas dibaca. Coba lihat foto di kanan ini, di situ tertulis falanaqusshanna ‘alaihim dan seterusnya. Ada yang tahu artinya? Pada surat apa dan ayat berapa? Anehnya, tulisan di kaki itu selalu berganti. Menurut Madina kalimat berlafalkan Al-Qur’an itu muncul setiap dua pekan sekali. “Biasanya muncul pada malam antara hari Kamis dan Jumat,” akunya.

Sang ibu, mengatakan bahwa anak laki-lakinya dilahirkan dengan hematoma di dagunya, dan ketika memar pulih, kata ‘Allah’ tulisan Arab muncul. Dalam dunia medis, Hematoma adalah penampakan biru (keunguan) pada kulit, yang dapat terjadi karena benturan atau sebab lain.

Di balik kulit yang membiru itu, terdapat pembuluh darah yang pecah dan darahnya keluar, serta kemudian membeku (menjendal) di luar pembuluh darah itu. Jika letaknya cukup dekat dengan permukaan kulit, maka akan terlihat seperti warna biru/ungu. Umumnya terasa nyeri, terutama jika ditekan, dan kadang juga disertai pembengkakan.

bayi-Alquran4Masalahnya, semenjak muncul tulisan yang dipercaya “ayat-ayat Allah” pertama kali, sejak itu pula, munculnya tulisan-tulisan bernuansa Arab lain bertebaran di punggung, lengan, kaki, dan perutnya. Menariknya, keluarganya mengklaim, selalu ada tanda-tanda sebelum ayat-ayat baru muncul, dua kali dalam sepekan.

Paramedis tentu saja tidak percaya bahwa itu adalah mukjizat agama. Ludmila Luss, seorang dokter setempat, percaya bahwa cerita dengan tanda-tanda seperti itu, hanya didalangi oleh orangtua sang anak.

Menurut Ludmila Luss, kemungkinan besar tulisan itu adalah akibat efek iritasi, seperti lada dan garam, atau obat-obatan, yang memicu peradangan kulit dan meninggalkan jejak merah berbentuk huruf Arab,” katanya.

“Beberapa orang yang menderita patologi lambung memiliki kulit yang sangat sensitif. Jika Anda menggambar sesuatu pada kulit mereka dengan tongkat kecil, misalnya, gambar akan kemudian muncul,” kata Ludmila Luss.

bayi-Alquran3 Bayi bermata biru yang lucu, wajahnya benar-benar menggemaskan (lihat foto). “Anak ini adalah murni tanda dari Tuhan. Allah mengirimkannya ke Dagestan dalam rangka menghentikan perang dan ketegangan di republik ini,” kata Akhmedpasha Amiralaev, salah seorang pemuka agama di Dagestan, Rabu (21/10). Bila betul ini kebesaran Allah SWT, jangan sampai fenomena ini dijadikan klenik atau tahayul seperti yang sering terjadi di Indonesia.

Kategori: Gado-gado

Siapa Bilang Orang Sunda nggak Bisa Ngomong “F”?

30 Juli 2009 · & Komentar

Waktu nyari-nyari gambar via mbah Google, ketemu gambar lucu ini:

sunda

Aya-aya wae nya…, benar-benar pitnah!!! (eh, kok malah ketularan, hi..hi..hi).

Kategori: Gado-gado · Seputar Bandung

Memasak Rendang

21 Juli 2009 · & Komentar

Hari Senin kemaren tanggal merah, kami di rumah memasak randang (di sini dikenal dengan nama rendang padang). Kebetulan ada persediaan daging beku di freezer, dan kebetulan pula kami sudah lama tidak memasak rendang di rumah. Memasak rendang sendiri dilatari ketidapuasan dengan rendang yang dijual di beberapa rumah makan padang di Bandung ini, sebab rasanya berbeda dengan yang di kampung aslinya. Nah, memasak sendiri rendang kenapa tidak? Kebetulan hari libur pula.

Untuk memasak rendang, saya tidak perlu repot-repot membuat bumbunya. Di Bandung ada beberapa pedagang urang awak di pasar tradisionil yang menjual aneka bumbu masakan olahan. Mereka umumnya berjualan di deretan pedagang yang menjual kebutuhan dapur seperti sayur mayur, daging, dan kelapa. Ciri khas pedagang ini adalah baskom-baskom yang penuh dengan bumbu yang sudah dihaluskan seperti cabe, laos, kunyit, jahe, bawang merah, bawang putih, kemiri, dan sebagainya. Kita tinggal pesan mau masakan apa, maka pedagang bumbu ini siap meracik bumbu masakan dengan mencampurkan aneka bumbu tadi. Mau buat gulai ayam, rendang, opor, semua ada. Mau untuk daging sekilo, dua kilo, mau pedas, super pedas, tergantung selera. Harganya murah, sekitar lima ribu rupiah saja untuk masakan dengan daging satu kilo.

Kedai bumbu favorit saya adalah Kedai Buyung, terletak di lantai basement Pasar Kosambi Bandung. Kita dilayani oleh Uni yang berbadan gemuk. Uni penjual bumbu adalah istri Pak Buyung pemilik kedai itu. Saya membeli bumbu rendang di sana untuk satu kilo daging sapi. Pedas, pasti itu. :-)

Bumbu rendang tergolong lengkap dan rumit, ada bawang putih, bawang merah, cabe, kunyit, jahe, laos, lengkuas, ketumbar, garam, daun kunyit, daun limau (jeruk), dan daun sereh (serai), dan masih ada lagi yang kecil-kecil. Enak tidaknya masakan rendang bergantung pada kelengkapan bumbu tadi dan komposisinya. Uni yang menjual bumbu di kedai Buyung sudah terampil dengan komposisi bumbu rendang yang enak. Jadi, anda tidak usah khawatir.

Daging sapi sudah ada di rumah, kami cukup membeli kelapa parut saja. Daun-daun penyedap rasa seperti sereh (sarai) dan daun limau (jeruk) ada di pekarangan rumah, jadi saya tidak perlu repot mencari lagi. Kalau tidak ada, di tukang sayur yang lewat depan rumah pasti menjual daun bumbu ini.

Yup, kami mulai memasak rendang. Kelapa parut diperas santannya. Lalu, campurkan bumbu yang dibeli di kedai tadi ke dalam santan sampai tercampur sempurna, jangan lupa daun-daun penyedap tadi dimasukkan ya. Panaskan campuran santan tadi hingga mendidih, jangan lupa terus diaduk agar santannya tidak pecah, baru kemudian masukkan potongan daging sapi.

Di kampuang asalnya, rendang ada yang polos dan ada yang dicampur dengan kacang atau kentang kecil-kecil seukuran kelereng. Anak saya lebih suka kacangnya daripada dagingnya, sehingga saya tambahkan satu kilo kacang putih (di Bandung disebut kacang ndul). Jadi, jangan heran kalau nanti hasil akhirnya kelihatan lebih banyak kacang daripada dagingnya.

Bergantian dengan istri, kami sesekali mengaduk-aduk masakan rendang yang belum jadi ini. Memasak rendang tidak sulit, yang penting ada kesabaran dan waktu yang cukup. Memasak rendang memerlukan waktu lama, kira-kira empat hingga lima jam. Jadi, kita harus siap berdiri dekat kompor selama waktu itu. Filosofinya ya kita harus sabar menjalani hidup ini, hidup itu seperti memasak rendang, he..he..

Sambil mengaduk-aduk masakan rendang, ingatan saya pun melayang ketika masa-masa masih kuliah dulu….

**************

Ketika menjadi mahasiswa, masih muda dan masih lucu-lucunya :-) , ibu saya sering mengirim rendang dari Padang ke Bandung melalui jasa Titipan Kilat (sekarang Tiki). Hampit semua teman kuliah saya yang satu daerah pasti pernah dikirimi rendang dari ibunya. Rendang seakan lauk-pauk wajib yang harus dibawa kalau seseorang pergi merantau jauh, entah untuk sekolah, kuliah, berdagang, naik haji, dan sebagainya. Tidak lengkap bepergian jauh tanpa membawa rendang.

Bagi kami mahasiswa kosan di Bandung, seakan para ibunda tahu para anaknya di rantau mungkin sulit makan, kurang gizi, dan sebagainya, maka kiriman rendang dari kampuang adalah obat pelepas rindu pada masakan di rumah sendiri sekaligus perbaikan gizi. Rendang yang dikirim tentu adalah rendang yang warnanya hitam, yaitu jenis rendang kering yang bisa awet hingga waktu satu bulan. Biasanya ibu saya mengirim rendang dalam kaleng, di atas tutup kaleng ada tulisan begini: Setelah dibuka, langsung dipanaskan. Maksudnya supaya tidak jamuran dan bisa lebih awet lagi. Untunglah di tempat kos ada kompor, jadi tinggal dipanaskan sebentar. Kiriman rendang dari kampung lumayan mengirit pengeluaran makan sebab saya cukup membeli nasi putih saja.

Tentu bosan setiap hari makan dengan rendang terus, yaah tidak setiap harilah rendangnya dimakan, sekali-kali saja sampai akhirnya habis dalam waktu dua minggu. Masakan ibu adalah pengikat tali batin antara anak dengan keluarganya. Jadi, kiriman rendang itu adalah barokah, tidak boleh disia-siakan.

*************

Upss… jangan terlalu lama melamun. Akhirnya, masakan rendang kami sudah hampir matang. Sudah empat jam nih, minyak kelapanya sudah banyak keluar, warna masakan sudah menjadi coklat. Sampai di sini, masakan setengah rendang ini dinamakan kalio randang. Ini dia fotonya:

DSC00587

Hi..hi.. kalio randang buatan kami lebih banyak kelihatan kacang daripada dagingya. Maka, kami sebut saja ini randang dagiang kacang.

Beberapa rumah makan padang yang “tidak sabaran” memasak rendang, menghidangkan rendang dalam bentuk kalio saja. Hmm.. sebenarnya rendang dalam bentuk kalio belum terlalu mak nyus, dagingya belum terlalu empuk, kalau mereka mau bersabar teruskan beberapa jam lagi hingga menjadi rendang yang sempurna. Tapi ini juga terkait masalah selera tampaknya.

Ketika rendang sudah mencapai tahap kalio, maka api kompor dimatikan, Biarkan kalio randang ini dingin agak beberapa jam supaya uap airnya mengering dan bumbu meresap ke daging.

Setelah didiamkan beberapa jam, api kompor dihidupkan lagi. Kalio randang sekarang dikeringkan hingga minyaknya tidak ada lagi. Sesekali aja diaduk bolak-balik agar rendang menjadi kering. Sampai di sini, dihasilkan rendang yang warnanya coklat tua. Hmmm… tadinya satu kuali penuh santan dan bumbu, sekarang tinggal sepertiga saja. Satu kilo daging, satu kilo kelapa, satu kilo kacang ndul, dihasilkan rendang yang bobotnya kira-kira satu kilo. Dua kilo lagi menguap menjadi uap air. Ini dia fotonya:

DSC00590

Kalau ingin menjadi rendang hitam, panaskan terus kira-kira satu hingga dua jam lagi sehingga menjadi rendang kering yang tahan lama. Capek juga ya… tetapi rendang buatan sendiri tentu lebih enak daripada rendang yang dibeli di rumah makan padang.

*************

Tidak percuma sejak mahasiswa saya suka memasak hingga sekarang. Laki-laki tidak perlu malu memasak, memasak bukan masalah feminimitas atau maskulinitas, tetapi hal ini terkait hobi dan kegemaran.

Di Jakarta, ada perantau urang awak yang mempunyai bisnis rendang kantoran. Mereka menerima pesanan rendang untuk teman-teman sekantor. Karena enak, maka rendang buatan mereka tersebar dari mulut ke mulut menjadi promosi gratis sehingga pesanan pun membanjir. Baca kisah lengkapnya dengan mengklik tulisan ini: Bisnis Rendang Orang Kantoran. Menarik sekali.

Hmmm… pernah terlintas dalam pikiran saya, andai nanti saya sudah tidak terpakai lagi menjadi guru mahasiswa (pensiun maksudnya :-) ), ingin juga saya membuka usaha rendang kantoran semacam itu. Tapi itu ‘kan nanti, apa nanti masih punya tenaga atau tidak. Yang jelas, nikmati dulu rendang yang dibuat tadi. Ayo ambil nasi….

Kategori: Cerita Ranah Minang · Gado-gado · Makanan enak

Apakah Jacko akan Dimakamkan Secara Islam?

30 Juni 2009 · & Komentar

Kematian Michael Jackson masih menyisakan banyak misteri dan pertanyaan banyak orang. Hingga saat ini jenazah Jacko belum dimakamkan, masih disimpan di dalam lemari pendingin.

Satu berita yang sering diungkap oleh media di Indonesia sejak hari kematiannya adalah kabar bahwa Jacko sudah berpindah ke agama Islam sejak tahun 2008 yang lalu (beritanya baca di koran ini dan di koran itu). Itu berarti, jika tidak ada perubahan yang berarti dari tahun 2008 hingga hari kematiannya, maka Jacko adalah seorang muslim, terlepas dari apakah dia menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim (shalat, puasa dan sebagainya) atau tidak.

Banyak orang, termasuk saya, menunggu-nunggu apakah Jacko akan dimakamkan secara Islam. Jika ya, berarti jenazahnya akan dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan terakhir dikuburkan sesuai tatacara penyelenggaraan jenazah dalam ajaran Islam. Namun hingga saat ini belum terdengar kabar bagaimana keluarga Jacko akan memperlakuakn mayat Jacko.

Kalau menurut ajaran Islam, mayat tidak boleh telalu lama menunggu untuk dimakamkan. Dia harus disegerakan pemakamannya. Ketika seseorang meninggal dunia, maka sang mayat harus cepat diselenggarakan mulai dari dimandikan hingga dikuburkan. Jeda waktu dari kematian hingga penguburan tidak boleh lebih dari sehari semalam. Jika dia meninggal pukul 12 siang, maka mayat harus dikuburkan selambat-lambatnya sebelum pukul 12 siang pada hari berikutnya.

Namun untuk Jacko, kita tidak tahu kepastian tentang hal ini. Entah, bagaimana keluarganya memperlakukan mayat Jacko, apakah dimakamkan sesuai agama keluarganya atau sesuai agama Jacko. Saya juga belum mendengar kabar inisiatif kelompok muslim di Amerika terhadap jenazah Jacko.

Saya jadi teringat ketika Prof. Mustopo (pemilik Universitas Mustopo di Jakarta dan SD Mustopo di Bandung) meninggal dunia di Bandung pada tahun 80-an. Prof. Mustopo sendiri tidak jelas agamanya apa, entah Kejawen atau agama apa, anak-anaknya sendiri beragama macam-macam, ada yang Islam, Kristen, dan sebagainya. Ketika Prof. Mustopo meninggal, anak-anaknya bersilang pendapat tentang jenazah ayahnya, apakah dimakamkan secara Islam atau Kristen atau Kejawen. Cukup lama jenazah Mustopo “terbengkalai”, akhirnya oleh beberapa ustad di Bandung, setelah berembug cukup lama dengan keluarga, saat itu diputuskan jenazah Prof. Mustopo diselenggarakan secara Islam, dengan menilik masa lalunya yang pernah menyandang “Islam KTP”.

Kasus yang mirip juga terjadi di komplek pemukiman saya beberapa bulan yang lalu. Ada seorang ibu meninggal dunia. Ibu ini seorang muslimah, tetapi (alm) suami dan anak-anaknya bukan (mengikuti agama ayah mereka). Ketika si ibu meninggal dunia, anak-anaknya bingung bagaimana mengurus jenazah ibu mereka, apakah akan dimakamkan secara Islam atau non-Islam sesuai agama mereka. Untunglah DKM masjid di RW saya cukup sigap, DKM mengambil alih urusan pemakaman mulai dari memandikan hingga penguburan, termasuk tahlilan (takziah) pada malam setelah pemakaman.

Begitulah kisah sedih tentang seonggok jenazah. “Nasibnya” tergantung pada orang-orang hidup yang mengenalnya. Semoga kita yang masih hidup diberikan oleh Allah SWT kelak hari akhir yang baik, berada di tengah orang-orang yang baik, dan diperlakukan secara baik pula hingga ke liang lahat. Khusnul khotimah, mati dalam keadaan yang baik.

Kategori: Agama · Gado-gado

Terkenang dengan Buah Langka

27 Juni 2009 · & Komentar

Kemaren, waktu melewati Pasar Baru, saya menemukan penjaja buah-buahan yang menjual buah lokal yang sudah langka. Di Bandung buah itu bernama buah kesemek. Di kalangan anak-anak di tatar Sunda ada teka-teki yang bebunyi begini: buah apa yang suka bersolek? Jawabannya adalah buah kesemek karena kulit buahnya bertabur serbuk putih seperti bedak.

DSC00557

Ini gambar daging buahnya setelah dipotong:

DSC00558

Saya perhatikan pedagang buah itu sudah lama menanti pembeli namun buah kesemeknya tidak kunjung laku. Sudah nanar matanya menatap seliweran orang-orang di Jalan Otista (jalan di Pasar Baru), berharap ada pembeli yang tertarik dengan dagangan langkanya itu. Saya mendekatinya dan membeli satu kilo buah kesemek, pedagangnya menawarkan Rp 4000/kg. Barangkali hanya saya yang membeli buah ini, karena bagi orang lain mungkin bentuk buahnya tidak menarik atau kurang elit, ntahpapa. Namanya saja ‘kesemek’ yang bunyinya bagi sebagian orang terkesan kampungan, gitu. Buah kesemek pedagang itu kalah dengan buah mangga yang saat ini juga lagi musim di Bandung.

Buah kesemek kalau anda pernah mencobanya, rasanya manis-manis sepat. Saya jadi terkenang masa-masa kecil di Padang dulu bila mengingat buah ini. Waktu kecil saya beberapa kali pernah makan buah kesemek. Di Padang buah itu bernama apel pahit, karena bentuknya seperti buah apel dan rasanya memang agak pahit bercampur manis sepat. Buah itu baru bisa dimakan jika direndam dulu di dalam larutan air garam selama satu malam untuk menetralisir rasa pahitnya. Tapi buah kesemek yang di Bandung ini tidak perlu direndam dulu dan dapat langsung dimakan, mungkin jenisnya agak beda dengan yang di Sumatera.

Selain buah kesemek, saya juga kangen buah-buahan masa kecil yang sudah jarang ditemukan di pasaran, misalnya jambu kaliang (apa ya namanya di sini? buah jamblang?), kamuntiang (karamunting), dan jambak (jambu bol). Jambu kaliang bentuknya kecil ldan mirip buah anggur, warnanya hitam dan rasanya manis sedikit pahit. Biasanya dijual per liter (menggunakan takaran beras). Buah kamuntiang biasanya ditemukan pada tanaman di semak-semak, warnanya coklat, bentuknya kecil sebesar ujung jari kelingking, dan berbiji banyak seperti biji buah strawberi. Rasanya manis. Kami sering menemukan buah ini di semak-semak di dekat sawah. Jambak atau jambu bol bentuknya bulat seperti kedondong, warnanya merah keputihan, daging buahnya agak tebal tetapi bijinya besar.

Buah-buahan yang saya sebutkan di atas saat ini sudah tergolong buah langka, jarang ada yang menjual buah ini. Batang pohonnya pun mungkin sudah langka pula dan mungkin banyak ditebang karena buahnya tidak bernilai ekomomis tinggi, kalah bersaing dengan buah impor yang banyak membanjiri pasar. Buah-buah lokal saat ini makin terjepit oleh kehadiran buah impor yang datangnya begitu deras dari luar. Buah lokal yang bertahan hingga saat ini paling-paling hanya mangga, nanas, sawo, kedondong, bangkuang, jeruk, salak, dan belimbing. Selebihnya anak-anak kita lebih mengenal buah apel, pir, anggur, lengkeng, kiwi, strawberi, blueberry, dan aneka buah impor lainnya.

Buah-buahan lokal bagaimanapun, apalagi yang sudah langka, seharusnya mendapat perhatian dari Pemerintah untuk terus dilestarikan. Bagi saya, buah-buahan itu tidak hanya sekadar untuk dimakan, tetapi ada kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Dengan memakan buah lokal itu, kita mengingat jerih payah petani yang merawat tanaman itu dari kecil hingga berbuah. Ada filosofi yang begitu dalam bila kita melihat jauh ke belakang puluhan tahun silam. Pohon-pohon buah itu mungkin sudah berusia puluhan hingga ratusan tahun, ditanam oleh kakek moyang mereka dan diteruskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Pohon-pohon itu dirawat dan dicintai karena dari tanaman itulah petani mendapat penghasilan. Ketika waktu kalah berpacu dengan uang, pohon-pohon itu mungkin harus mengalah: ditebang karena tawaran yang lebih menggiurkan dari bisnis tanah yang terus mencari mangsa hingga ke kampung-kampung. Buah-buah langka itu mungkin suatu hari tidak akan terhidang lagi di meja makan kita, tinggal menjadi sejarah saja.

Kategori: Gado-gado

Komentar Mengenai Film KCB 1

27 Juni 2009 · & Komentar

Akhirnya kesampaian juga niat saya untuk menonton film Ketika Cinta Bertasbih. Bersama istri, saya menonton di bioskop yang bukan di mal, ini supaya mudah mendapat tiket. Belajar dari pengalaman menonton Ayat-Ayat Cinta (AAC) dan Laskar Pelangi di bioskop yang ada di mal dimana kita harus antri panjaaaang, bahkan bisa-bisa kehabisan dan harus datang lagi besok harinya.

Setelah menonton film itu, ada sedikit kekecewaan. Sebenarnya novel KCB sangat bagus dan meyentuh kalbu, tetapi ketika difilmkan, ternyata film nya biasa-biasa saja tuh. Isinya memang persis sama dengan novel aslinya, tidak ada yang ditambah atau yang dikurangi. Tetapi disini masalahnya. Film KCB 1 (waaah… ada lanjutannya di film KCB 2 yang entah kapan diputarnya) tidak menyajikan konflik, jalan ceritanya datar-datar saja seperti sinetron seri. Padahal sebuah film akan menarik jika menyuguhkan konflik dalam bentuk drama sehingga dapat membuat emosi penonton ikut terbawa. Nggak tahu deh apakah di film KCB 2 menyajikan konflik di antara tokoh-tokohnya atau kembali datar saja seperti KCB 1?

Film AAC, meskipun banyak dikritik kiri kanan, namun sukses meraup jumlah penonton. Kekuatan AAC terletak pada unsur dramanya. Mereka mengakali kegagalan shooting di Mesir dengan fokus pada drama. Jalan cerita di film dibuat tidak persis sama dengan yang ada di novel, ada yang ditambah-tambah dan didramatisir. Tetapi disitulah kelebihan sutradara Hanung. Dia pandai membuat film AAC yang membuat emosi penonton ikut hanyut dan bahkan diaduk-aduk (kayak adonan kue saja). Nah unsur drama ini yang tidak ada pada KCB 1 sehingga cerita di film terasa datar. Padahal ‘tidak haram’ toh membuat film yang tidak harus persis sama dengan isi novel aslinya asalkan tidak jauh menyimpang? Yang penting pesan moral film itu tersampaikan seperti novelnya.

Satu-satunya kelebihan film KCB adalah karena menyuguhkan panorama Mesir yang asli, yang tidak kita temukan pada film AAC padahal sama-sama bercerita mengenai kisah mahasiswa Al-azhar. Banyak sudut-sudut negeri Mesir yang terekam di dalam film ini sehingga kita yang tidak pernah ke Mesir pun bisa merasakan suasana kehidupan di Kairo, Alexandria, dan lain-lain. Namun sayangnya — sekali lagi ini juga kelemahan sutradara Chaerul Umam — dia tidak berhasil mengeksploitasi panorama Mesir menjadi gambar-gambar yang indah dan menawan.

Dari segi jumlah penonton, tampaknya film KCB 1 akan menjadi film dengan jumlah penonton terbanyak dalam sejarah. Baru dua minggu diputar di bioskop sudah menyedot penonton 2 juta orang, begitu yang saya baca di koran. Film AAC mencapai jumlah penonton 3 juta orang, film Laskar Pelangi 5 juta orang, nah film KCB 1 mungkin bisa melebihi jumlah penonton Laskar Pelangi karena masa edarnya masih panjang, apalagi sekarang saat liburan panjang yang baru berakhir Agustus mendatang, saat yang memancing orang untuk berkunjung ke mal sekalian nonton film bersama keluarga.

Terlepas dari semua itu, kehadiran film AAC, LP, dan KCB menghadirkan genre film baru di Indonesia, yang selama ini jagad film di Indonesia selalu disuguhi film hantu dan komedi seks yang tidak tidak bermutu dan bisa dikategorikan film sampah.

Kategori: Gado-gado

Antara Hamka dan Kang Abik (Menanti Film “KCB”)

5 Juni 2009 · & Komentar

Kemarin saya sempat lihat di TVOne trailer thriler film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) (kalau anda mau lihat trailernya thriler klik yang di YouTube ini (versi pendek) atau yang versi panjangnya ini. Kalau mau baca resensinya, klik pranala ini. Rencananya film yang disutradarai Chairul Umam ini akan diputar di bioskop mulai pada tanggal 11 Juni mendatang. Inilah film yang ditunggu-tunggu pembaca setia novel karya Habiburrahman El Shirazy atau lebih dikenal dengan nama Kang Abik. Novel yang judulnya sama dengan film itu sudah terjual 1 juta eksemplar. Luar biasa. Sebelum ini novel Kang Abik yaitu Ayat-ayat Cinta (AAC) juga telah difilmkan dan berhasil menjadi box office dengan jumlah penonton lebih dari 3 juta orang. Tapi banyak orang yang agak kecewa dengan film AAC. Pertama setting film nya bukan di Mesir sebagaimana cerita aslinya, tetapi di India. Kedua, jalan ceritanya tidak sama dengan yang ada di novel.

KCB (Sumber foto: http://seveners.com)

Setidaknya di film KCB kerinduan pembaca dengan suasana Mesir, khususnya Kairo, akan terobati, dan jalan ceritanya persis sama dengan yang ada pada novelnya (begitu yang saya baca di media online, salah satunya di sini).

Saya sudah baca novel KCB jilid 1 beberapa bulan yang lalu (telat ya…hi..hi), sementara yang jilid 2 sudah dibeli tetapi belum sempat dibaca karena menunda-nunda. Membaca novel Kang Abik yaitu AAC dan KCB mengingatkan saya pada novel-novel karya Buya Hamka. Sejak zaman masih sekolah di Padang saya adalah penggemar roman yang ditulis Hamka, antara lain Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Merantau ke Deli, dan lain-lain. Sebagian besar roman karya Hamka bercerita tentang cinta kasih yang terhalang oleh perbedaan budaya (Minang – Makassar pada Tenggelamnya Kapal Van der Wijck), atau perbedaan strata sosial (Di Bawah Lindungan Ka’bah).

Meskipun novel karya Hamka bercerita tentang cinta antara dua anak manusia, namun jalan cerita dibawakan dengan santun. Pergaulan antara tokoh pria dan wanita di novel itu masih tetap berada dalam bingkai syariat agama. Tokoh pria dan wanitanya tidak pernah berdua-duaan di tempat sepi, tahu benar Hamka bahwa berdua-duaan antara lawan jenis itu bisa menimbulkan hal yang tidak baik (zina). Bahkan, untuk mengutarakan isi hati tokoh pria kepada wanita (atau sebaliknya) Hamka tidak selalu menceritakannya secara langsung, tetapi melalui media surat, seakan-akan berterus terang tentang rasa mencintai itu masih tabu untuk dibicarakan. Misalnya pada penggalan kisah Zainuddin dan Hayati di bawah ini di dalam novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck:

Tiba-tiba, pada suatu hari, di waktu matahari hendak terbenam ke barat, di waktu perempuan-perempuan telah pulang dari pancuran mengisi parian betungnya, Hayati bertemu dengan Zainuddin di liku jalan.
” Ai… Tuan Zainuddin di sini.”
” Ya, disini menunggumu!”
“Menunggu saya?” Tanya Hayati, sedang dadanya mulai berdebar. ” Apakah maksudnya, lekaslah terangkan, supaya saya segera pulang.”
” Saya pun takut pula akan mengganggu perjalananmu. Engkau saya tunggu hanya sekadar hendak memberikan ini”. Lalu dikeluarnya sepucuk surat dari sakunya, diberikannya ketangan Hayati. Ketika memberikan itu jari-jemarinya kelihatan gementar.

Tengah Hayati masih bingung sendiri, memegang buli-buli yang ada dalam tangannya, Zainuddin berangkat dari tempat itu secepat-cepatnya. Hayati segera pulang. Sehabis sembahyang dan makan malam, segera dia naik ke atas anjung ketidurannya, membaca di dekat sebuah lampu dinding!

Kang Abik yang alumni Al Azhar Kairo pun begitu dalam setiap novelnya. Ia tahu batasan muhrim antara lelaki dan perempuan. Tokoh-tokoh pria dan wanita di dalam novelnya tidak pernah digambarkan berdua-duaan di tempat sepi, tidak pernah saling berpegangan dan bergandengan tangan. Tahu betul Kang Abik tentang syariat agama yang melarang pria dan wanita bukan muhrim berkhalwat di tempat yang sepi, tidak seperti pergaulan wanita dan pria zaman sekarang yang begitu bebas dan jauh dari nilai-nilai agama.

Gaya bahasa antara Kang Abik dan Hamka memiliki kemiripan, yaitu sama-sama melankolik. Cerita mengalir begitu saja dengan alamiah. Perbedaannya, gaya bahasa Hamka kental dengan warna Melayu yang sarat dengan perlambang, sedangkan Kang Abik yang dibesarkan di Jawa tentu mempunyai ciri berbeda untuk menggambarkan simbolisme.

Begini penggalan karya Hamka untuk menggambarkan gaya bahasanya:

Surat itu rupanya diperbuat dengan jiwa, bukan dengan tangan. Apa yang bergelora didalam sanubari, ditumpahkan di kertas. Dan bagi yang membaca, tentu jiwanya pula yang kena. Gemetar kedua belah tangan Hayati membaca surat yang demikian. Dibacanya, tiba-tiba dengan tidak disadarinya, air mata telah mengalir di atas pipinya membasahi bantal kalanghulunya. Terbayanglah di hadapannya wajah Zainuddin yang muram, keluh yang sentiasa mengandung rahasia dalam. Yakinlah dia bahawa gerak dan bisik jantungnya bilamana melihat Zainuddin selama ini rupanya bukanlah gerak sembarang, tetapi adalah gerak ilham, gerak jiwa yang bertali dengan jiwa, gerak batin yang bertali dengan batin.

Demikianlah, hampir seluruh malam Hayati karam di dalam permohonannya kepada Tuhan, supaya Tuhan memberi perlindungan dan tujuan di dalam hidupnya, sebab sangat sekali surat Zainuddin mempengaruhi jiwanya. la merasa dirinya dalam gelap, dia meminta cahaya. Bermacam-¬macam perasaan yang bergelora hebat semalam itu dalam jiwanya, ganjil, beraneka warna; bercampur di antara cinta dan takut, kesenangan fikiran dan kesedihan, bertempur. Di antara pengharapan yang besar dan cita-cita yang rasakan patah. Dalam dia menangis, tiba-tiba berganti dengan tersenyum. Dalam senyum dia kembali mengeluh panjang. Mengapa dia menangis? Entahlah, dia sendiri pun masih ragu. Apa sebab dia tersenyum? Padahal biasanya senyuman dengan air mata itu adalah dua yang bermusuh yang tak mahu berdamai. Mengapa sekali ini dia damai? Jam di ruang tengah telah berbunyi dua kali, hanya detikan dan bunyi cengkerik di sudut rumah yang memecahkan kesunyian malam. Dalam keadaan yang demikian, Hayati tertidur.

Adapun yang berkirim surat, Zainuddin, lain pula halnya. Meskipun anak-anak muda di surau tempatnya tidur telah berlayar dalam lautan mimpi yang enak, bahkan kadang-kadang kesepian itu dipecahkan oleh dengkur dua atau tiga orang anak-anak, dia masih bermenung melihatkan bulan terang benderang, bulan di antara tanggal 15 dengan 16, muram dan damai. Bermenung di beranda surau seorang dirinya,tidak merasai takut dan gentar. Diperhatikannya langit yang jernih itu, seakan-akan dia mengajak bulan bercakap. Mengajak bintang berceng-kerama.Dia ajak alam besar itu bertutur, percakapan jiwanya sendiri, seakan-akan mengadukan nasibnya yang malang, yang patut alam itu ikut meratapinya, atau seakan-akan memberitakan bahawa hatinya tidak sesedih dahulu lagi, sebab Tuhan telah memberinya nikmat yang paling besar, iaitu nikmat cinta. Bertahun-tahun dia laksana seorang yang kehilangan sekarang barang yang dicari itu telah dapat kembali. Barang yang hilang itu paling mahal, dan berharga, ialah “hati” yang hilang separuh seketika bondanya mati, habis separuh lagi setelah ayahnya meninggal. Sekarang “hati” itu telah kembali, sebab … mencintai Hayati! Tiba-tiba, timbul pulalah seruan dari jiwanya kepada Tuhan yang melindungi seluruh alam, diserukannya pada waktu tengah malam demikian, pada waktu segala doa makbul. “Pujianku tetaplah pada-Mu, ya Ilahi! Saya telah beroleh hidup, hidup yang saya kenang-kenangkan.

~~~~~~~~~~

Nah, bandingkan dengan gaya bahasa Kang Abik di dalam penggalan cerita KCB:

Tiara menghela nafas. Ia memejamkan kedua mata. Haruskah ia menjelaskan lebih dalam tentang perasaannya yang selama ini ia simpan di dalam dada kepada Cut Mala? Tidak terasa matanya basah. Air matanya tanpa bisa ia bendung keluar perlahan membasahi pipinya. Cut Mala menangkap dengan jelas apa yang terjadi pada kakak kelasnya itu.

……..

Cut Mala diam. Dari kalimat yang disampaikan Tiara, ia bisa menangkap bahwa kakak kelasnya itu memendam sesuatu. Ia hanya bisa meraba bahwa Tiara susah mengambil keputusan karena kelihatannya Tiara mengharapkan kakaknya, Fadhil. Namun Cut Mala tidak mau terlalu jauh menduga dan berprasangka. Bukankah sebagian dari prasangka adalah dosa?

~~~~~~~~~~~~

Bagi anda yang sudah pernah membaca karya Hamka dan Kang Abik, anda tentu sepakat kalau saya katakan Kang Abik adalah “Hamka muda”, yaitu orang yang mempunyai gaya penuturan lemah lembut seperti Hamka dan meletakkan jalan cerita di dalam karya sastranya dalam jalur yang dibingkai syariat agama. Hamka dan Kang Abik sama-sama ingin memberikan pesan moral agar kita sebagai manusia selalu menempatkan cinta kepada Allah SWT di atas segala-galanya dibandingkan cinta kepada makhluk-Nya.

Kategori: Gado-gado

Hanya Karena Nama Berbau Islam, Visa Ditolak

12 Februari 2009 · & Komentar

Meskipun Presiden AS sudah berganti dengan Obama, namun kebijakan negara itu terhadap hal-hal yang berkaitan dengan Islam masih belum berubah (baca berita di bawah ini). Islam phobia masih melekat pada negara Amerika, misalnya untuk hal-hal yang sepele seperti nama. Bagi orangtua muslim, memberi nama pada anak ada maksudnya. Nama adalah doa atau pengharapan. Diberi nama “Muhammad” dengan harapan anaknya mempunyai sifat yang baik seperti nabi, diberi nama “Hanif” supaya mempunyai sifat yang lurus, diberi nama “Rahman” dengan harapan dia menjadi orang yang penyayang pada sesama, diberi nama “Mizan” dengan harapan dia menjadi orang yang adil, dan sebagainya. Mengidentikkan atau mencurigai nama dengan hal-hal lain, apalagi terorisme, jelas keliru. Tentu tidak mungkin orang harus ganti nama dulu supaya bisa mendapat visa.

Tapi, itulah Amerika, kita tidak berdaya dengan aturan diskriminatif seperti itu. Memang sih itu hak Amerika menerima atau menolaknya tamunya, kita tidak bisa berbuat apa-apa, namun setidaknya ada alasan yang lebih adil dan tidak menyakitkan. Mudah-mudahan ini kasus terakhir, sesuai dengan janji Obama yang ingin membangun suasana bersahabat dengan dunia Islam.

Berita diambil dari Republika. Berita yang sama juga muncul di koran Pikiran Rakyat Bandung.

Nama Bernuansa Islam, Visa Ditolak

BANDUNG–Rencana tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mengikuti kegiatan Harvard National Model United Nation (HNMUN) 2009 di Boston, Amerika Serikat (AS), kandas. Hanya gara-gara namanya bernuansa Islam, Kedutaan Besar AS dinilai tak mau mengeluarkan visa kepada salah seorang mahasiswa. Keputusan itu dinilai sangat mengecewakan.

Mahasiswa ITB yang gagal berangkat karena namanya adalah Misykat Fahada Mochamad Nur. Sedangkan, Tizar MK Bijaksana, yang awalnya ditolak karena berjenggot, akhirnya memperoleh visa setelah mencukurnya. ”Kalau yang lain, begitu wawancara, langsung dibilang ambil visa tanggal sekian. Kalau saya, harus melengkapi syarat administrasi lain yang tidak jelas,” ujar Misykat.

Misykat mengaku kecewa. Hanya gara-gara nama, kata dia, rencana yang telah disusunnya untuk menghadiri HNMUN batal. Apalagi, Misykat telah ditunjuk sebagai ketua rombongan mahasiswa ITB. Ia terpaksa menyerahkan jabatan ketua rombongan kepada temannya, Tizar MK Bijaksana.

”Seharusnya, kalau presidennya ganti, kebijakan luar negerinya pun berubah. Sehingga, bisa melihat lebih objektif, siapa yang mengajukan visa dan untuk kepentingan apa,” kata Misykat. Ia meminta agar AS mengubah kebijakan luar negerinya dan tak fobia terhadap nama-nama bernuansa Islam.

Dosen pendamping mahasiswa yang akan pergi ke Boston untuk acara HNMUN 2009, Dermawan Wibisono, menuturkan, tiga mahasiswa ITB tak bisa berangkat karena visa belum keluar dengan alasan tak jelas.

Tahun ini, ITB memberangkatkan 16 mahasiswanya untuk menghadiri pertemuan internasional di Boston. Mereka adalah mahasiswa terpilih. Namun, yang berangkat hanya 13 mahasiswa. Semua mahasiswa, kata dia, hanya diwawancarai sekitar lima menit untuk mendapatkan visa.

”Laki-laki ternyata memang lebih susah memperoleh visa dibandingkan perempuan. Pertanyaan yang diajukan ke laki-laki lebih detail dan terperinci, kemungkinan karena mereka fobia dengan terorisme,” tuturnya. Untungnya, kata dia, dua mahasiswi berjilbab masih bisa memperoleh visa. ”Mahasiswa yang hadir dalam acara itu diharapkan nantinya bisa mengolah isu dalam diskusi. Kami sudah mengirimkan tiga angkatan untuk menghadari acara tersebut,” ujar Dermawan.

Saat dihubungi Republika, atase pers Kedutaan Besar AS di Jakarta, Paul Belmont, belum berani memberikan komentar atas masalah ini. Ia mengatakan belum mengetahui secara pasti alasan penolakan visa tersebut. ”Tanyakan lagi kepada saya besok.” Ia mengatakan akan mengeceknya terlebih dulu ke bagian konsuler. kie/lan

Kategori: Gado-gado · Seputar ITB

Tentara Israel Membunuh Anak-anak untuk Santapan Anjing Pelacak

15 Januari 2009 · & Komentar

Sungguh tidak bisa saya menahan air mata membaca kekejian tentara Israel terhadap anak-anak Palestina di jalur Gaza. Kebiadaban mereka tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Foto-foto dan video kekejaman yang menimpa anak-anak Palestina adalah saksi bahwa kebiadaban itu adalah fakta yang tidak terbantahkan.

Tentara Israel membawa anjing pelacak untuk memburu pejuang Hamas. Ketika anjing itu lapar, mereka mencari anak-anak dan menembaki mereka. Mayat anak-anak itu dijadikan makanan bagi anjing-anjing ini. Seperti yang saya kutip dari sini, inilah penggalan berita yang saya baca:

Beberapa hari lalu, di kamp pengungsi Jabaliya, yang terletak di bagian utara Gaza City, tak jauh dari pintu perbatasan Erez, seorang bocah perempuan, Shahd (4 tahun), sedang bermain di halaman belakang rumahnya. Tiba-tiba, tentara Zionis Israel menyerang dan menembak membabi-buta. Bocah gemuk yang lucu itu bersimbah darah.

Melihat anaknya tergeletak di lantai dengan kondisi mengenaskan, kedua orang tuanya buru-buru mengulurkan tangan hendak meraihnya. Tapi, serdadu Israel mengusirnya dengan hujan peluru. Kedua orang tua itu pun meninggalkan tempat itu, sementara anaknya masih tertidur di sana: entah sedang sekarat, entah sudah tewas.

Rupanya tentara Israel yang selalu membawa anjing pelacak saat melakukan serangan darat ke Jalur Gaza, memang punya maksud tertentu dengan tindakannya itu. Jenazah Shahd sengaja dibiarkan tergeletak di halaman terbuka itu untuk (maaf) dijadikan santapan anjing.

”Anjing-anjing itu meninggalkan satu bagian utuh tubuh bayi malang itu,” kata Abu Aukal, dengan air mata berderai, saat menuturkan cerita tragis itu, seperti dikutip islamonline, kemarin.

”Kami melihat pemandangan memilukan selama 18 hari terakhir (agresi Israel). Kami mengangkat mayat anak-anak yang tercabik atau terbakar. Tapi, tak ada yang seperti ini,” kata Abu Aukal.

Berhari-hari saudara Shahd, Matar, dan sepupunya, Muhammad, mencoba meraih tubuh gadis itu, tapi sia-sia. Lagi-lagi, tentara pendudukan Israel menggunakan bahasa tembakan untuk mengusir kedua bocah itu.

Tapi, melihat tubuh Shahd yang terus dicabik anjing dari hari ke hari, Matar dan Muhammad tak tahan. Pada hari kelima, keduanya nekat mendekati tubuh Shahd yang masih tersisa untuk membawanya pulang. Belum lagi keduanya meraih tubuh Shahd, tentara Israel menghujani dengan tembakan. Keduanya tewas.

Bergidik saya membaca kekejaman tentara Israel ini. Saya yang penyayang anak-anak tidak bisa membayangkan kepiluan orangtua Shahd yang melihat mayat anaknya dijadikan santapan anjing. Ya Allah, kenapa masih ada manusia yang sangat biadab seperti itu dimuka bumi ini. Apa salah anak-anak itu sehingga mereka menjadi korban kebiadabn tentara Israel.

Selanjutnya ditulis dalam berita itu,

Apa yang terjadi pada Shahd, kata Zayda, tak bisa digambarkan dengan kata-kata, tidak pula rekayasa kamera. ”Anda tidak akan pernah membayangkan apa yang telah dilakukan anjing-anjing itu kepada tubuh anak tak berdosa itu,” kata pria ini sambil menahan air matanya.

Zayda menambahkan, ”Mereka bukan hanya membunuh anak-anak kami. Mereka juga melakukan tindakan yang sangat keji dan tak berperikemanusiaan.” Sejumlah orang Palestina meyakini apa yang terjadi pada Shahd bukanlah satu-satunya kasus mengerikan yang dilakukan tentara Israel kepada warga Palestina di Gaza.

Sebelumnya, menimpa keluarga Abu Rabu yang sedang mencoba menguburkan tiga anggota keluarganya yang tewas, ketika tentara Israel secara tiba-tiba mencegah acara penguburan itu dengan berondongan peluru. Saat keluarga yang sedang berduka itu menjauh, tentara Israel melepaskan anjing-anjing pelacaknya ke arah tubuh-tubuh itu. Peristiwa ini juga terjadi di Jabaliya.

”Apa yang terjadi ini sangat mengerikan dan tak terbayangkan,” kata Saad Abu Rabu, salah satu anggota keluarga itu. ”Anak-anak kami tewas di depan mata kami, tapi kami bahkan dicegah untuk menguburkan mereka. Orang-orang Israel melepaskan anjing-anjing ke arah tubuh-tubuh mereka, seakan yang mereka lakukan belum cukup,” katanya sambil menangis.

Sekali lagi, saya hanya bisa menangis dan menangis membayangkan tragedi kemanusiaan yang memilukan ini. Semoga Allah SWT menimpakan balasan yang setimpal terhadap kekejian yang dibuat tentara Israel itu.

Kategori: Gado-gado

Jam Masuk Sekolah Dimajukan Pukul 06.30, Kenapa Keberatan?

13 Januari 2009 · & Komentar

Di Jakarta para siswa dan orangtua banyak yang protes karena jam sekolah dimajukan lebih pagi, yaitu pukul 06.30 dari sebelumnya pukul 07.00. Alasan pemajuan adalah untuk mengurangi kemacetan kota Jakarta yang biasanya sangat padat pada jam-jam masuk sekolah dan masuk kantor. Dengan memajukan jam masuk sekolah, maka diharapkan kemacetan Jakarta dapat dikurangi. Begitu kira-kira argumentasi Wakil Gubernur Jakarta yang mencetuskan ide ini. Belum jelas benar apakah pemajuan jam masuk sekolah itu akan mengurangi kemacetan kota Jakarta? Masih perlu pembuktian.

Meskipun bukan warga Jakarta, saya mengikuti juga berita ini. Saya baca di koran dan lihat beritanya di TV, saya perhatikan komentar-komentar warga dan pelajar yang menolak pemajuan jam masuk sekolah itu. Ibu-ibu keberatan karena berarti harus lebih pagi menyiapkan sarapan untuk anak-anak. Pelajar yang menolak atau keberatan sebagian besar beralasan masih ngantuk karena harus bangun lebih pagi. Seorang pelajar ditanya oleh wartawan TV, memang biasanya bangun pagi jam berapa, Dik? Jam 6.00, jawab pelajar itu.

Bangun pagi jam 6.00? Jika pelajar itu beragama Islam tentu kita sedikit heran, lalu kapan shalat subuhnya? Jam segitu waktu shalat shubuh tentu sudah habis, atau mungkin juga mereka tidak shalat shubuh karena ketiduran atau malas.

Banyak pelajar yang telat bangun pagi karena waktu tidurnya lebih lambat. Mungkin karena kebiasaan nonton TV, main games yang kecanduan, habis nge-geng, nongkrong, atau apalah. Tidur setelah pukul 11 malam, iya atuh jam tidurnya kurang sehingga telat bangun, dan kalau bangun lebih cepat maka rasa kantuk masih terasa. Di rumah, saya membiasakan anak-anak sudah harus tidur sebelum pukul 21.00 malam dan bangun pukul 4.30 atau 5.00 pagi. Total waktu tidur minimal 8 jam sesuai standar kesehatan. Bangun tidur dilanjutkan dengan shalat subuh berjamaah, lalu siap-siap mandi, sarapan, dan menunggu jemputan sekolah pukul 6.30 (di Bandung jam masuk sekolah rata-rata pukul 7.00, sebagian lagi pukul 7.30).

Menurut saya, pemajuan jam sekolah lebih pagi itu ada hikmah dan manfaatnya (malah manfaatnya lebih banyak daripada kerugiannya). Bagi keluarga muslim, hal ini dapat mendidik anak-anak untuk bangun lebih pagi dan tidak lalai menunaikan kewajiban shalat subuh. Setelah shalat subuh lalu mandi, maka rasa kantuk akan lenyap. Pikiran masih segar dan siap untuk menerima pelajaran di sekolah. Jadi, dalam perspektif ini, maka kebijakan Gubernur DKI itu seharusnya patut didukung.

Di Bandung, kemacetan memang belum separah Jakarta, sehingga pemajuan jam sekolah lebih pagi belum diperlukan. Andaikan nanti dimajukan, saya rasa tidak masalah, sebab kami sekeluarga sudah biasa bangun ketika adzan subuh berkemundang, jadi mau sekolah jam 6.30 pun tidak menjadi soal.

Kategori: Gado-gado