Catatanku

Entries categorized as ‘Indonesiaku’

Film “2012″ dan Kontroversi dari MUI Malang

18 November 2009 · 20 Tanggapan

Saat ini film 2012 sedang menggemparkan dunia. Film bertema bencana yang bercerita tentang kehancuran bumi (kiamat?) itu sedang menjadi film box office dan menjadi pembicaraan banyak orang, termasuk di Indonesia. Saya belum sempat sih menonton film ini.

Klik trailer video film 2012 di YouTube di bawah ini:

Di Indonesia film 2012 menjadi tambah ramai karena ada kontroversi yang muncul akibat pemutaran film ini. MUI Malang (kota atau kabupaten Malang ya?) mengeluarkan larangan bagi ummat Islam untuk menonton film ini (baca beritanya di sini). Alasannya, film 2012 bisa menyesatkan dan membuat orang yang lemah iman percaya bahwa kiamat itu memang akan terjadi pada tahun 2012. Padahal di dalam ajaran Islam kapan datangnya hari kiamat itu tidak ada seorangpun — termasuk nabi atau malaikat sekalipun — yang tahu. Hari kiamat adalah rahasia Allah SWT. Selain itu, menurut kata para ulama yang melarang film itu, penggambaran kiamat di film 2012 tidak sama dengan persepsi ajaran agama. Kiamat dalam ajaran Islam adalah kehancuran alam semesta dan seluruh isinya, bukan hanya planet bumi saja seperti yang digambarkan dalam film tersebut.

Setelah berita itu muncul di media online, kecaman pun datang dari masyarakat. Mereka menilai MUI Malang terlalu berlebihan menanggapi film tersebut. Saya baca komentar-komentar mereka di media online, tersirat jelas ejekan dan sinisme mereka kepada lembaga yang berisi para ulama yang dihormati itu. Bahkan ada komentar-komentar yang bernada menghina dan merendahkan martabat para ulama. Tentu saja saya sedih melihat ulama direndahkan, namun pada sisi lain saya bisa mengerti mengapa sinisme itu terjadi.

Saya sendiri berpendapat bahwa para ulama yang mengecam film itu tidak bisa disalahkan seluruhnya, namun tidak bisa juga dibenarkan semuanya. Kesalahannya ada pada ketidaktahuan mereka mengenai film 2012. Saya yakin ulama yang melarang belum pernah menonton film tersebut (termasuk saya, he..he), mereka mungkin hanya tahu dari berita yang berseliweran saja. Padahal jelas-jelas diceritakan di dalam film bahwa itu bukan kiamat sungguhan, sebab pada bagian akhir film digambarkan masih ada sekelompok manusia yang selamat di dalam kapal (kapal Nabi Nuh?). Lha, kalau yang namanya kiamat jelas seluruh kehidupan musnah, alam semesta hancur tidak bersisa. Menurut saya film ini murni fiksi belaka dan merupakan hasil imajinasi dari serangkaian efek visual hasil program komputer yang canggih. Angkat topi deh bagi produser film ini karena mereka berhasil membuat para penonton terkesima dengan efek visual tentang kehancuran bumi.

Tapi, ulama yang melarang film 2012 tidak juga bisa disalahkan sepenuhnya. Mereka, para ulama itu, hanya khawatir saja jika setelah menonton film 2012 orang-orang jadi percaya dengan perhitungan kalender bangsa Maya kuno — yang mendasari film 2012 itu — bahwa kiamat akan terjadi pada tanggal 21 Desember 2012 (yang juga merupakan tanggal kelahiran anak saya yang ketiga tuh, he..he). Tanggal 21 Desember 2012 adalah akhir kalender bangsa Maya. Adakah setelah menonton film ini orang-orang bakal percaya bahwa kiamat benar-benar terjadi pada tahun 2012? Mungkin saja ada, tapi saya rasa itu tidak banyak jumlahnya. Saya yakin sebagian besar orang tidak percaya dengan ramalan 2012 itu, sebab hampir semua umat Islam sepakat bahwa akhir dunia ini tidak ada yang tahu pasti kapan terjadi, semuanya adalah rahasia Ilahi. Jangankan kiamat, gempa saja tidak bisa diramalkan kapan persisnya.

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Q.S. Al A’raaf 187)

Sebagai bentuk kekhawatiran sih boleh-boleh saja, namun kalau diikuti dengan larangan menonton fim 2012, apalagi meminta Pemerintah melarang peredaran film itu, jelas tindakan yang tidak bijak. Berlebihan. Justru lebih bijak menyatakan: silakan menonton filmnya tetapi jangan percaya. Malah, larangan menonton akan membuat film ini semakin laris sebab orang-orang semakin penasaran saja untuk melihatnya, dan ini jelas kontraproduktif dengan tujuan larangan tadi. Memang yang mengusulkan larangan itu hanya MUI beberapa daerah saja, sementara MUI Pusat tidak pernah membuat larangan atau semacam itu, namun masyarakat menilai seolah-olah MUI telah membuat fatwa haram film 2012. Jelas hal ini dapat merugikan citra MUI itu sendiri dan dapat membuat ulama makin dilecehkan ummat, seperti yang tergambar pada komentar-komentar di forum online.

Masyarakat menilai, ketimbang film 2012 mengapa para ulama tidak melarang menonton film-film porno berkedok film hantu atau film komedi yang banyak diproduksi oleh para sineas berselera rendah? Justru film-film bermutu rendah itulah yang harus dibasmi, bukan film sains-fiksi semacam 2012 itu. Saya justru melihat bahwa film bertema bencana seperti Deep Impact, The Day After Tomorrow, dan 2012, malah membuat orang teringat akan mati dan sadar bahwa kehidupan ini suatu saat akan berakhir. Jadi, tidak usah terlalu dianggap seriuslah, itu film hiburan semata. Just a fun!

Kategori: Agama · Indonesiaku

Bagaimana Akhir “Sinetron KPK”?

13 November 2009 · 2 Tanggapan

Lama-lama bosan juga mengikuti perkembangan berita tentang kasus Bibit-Chandra dan kasus Antasari Azhar. Isi berita TV soal itu melulu, berita di koran dan media online juga sama. Bak sebuah sinetron, kita tidak tahu kapan dan apa ending-nya. Siapa yang benar dan siapa yang salah, kita juga tidak tahu. Bibit dan Chandra bersikukuh tidak menerima uang suap dari Anggodo, sementara polisi — katanya — memiliki bukti yang kuat bahwa keduanya menerima uang suap. Siapa yang benar?

Pada episode lain, kita juga dibuat tercengang dengan pengakuan Wiliardi Wizar, orang yang diduga terlibat dengan Antasari dalam kasus pembunuhuan Nasrudin. Wiliardi membuat pengakuan bahwa dia dirayu dan ditekan oleh perwira tinggi polisi untuk mengarahkan Antasari sebagai dalang pembunuhan Nasrudin. Polisi pun segera membantah telah menekan Wiliardi dan mereka pun membela diri dengan menayangkan video bahwa suasana pemeriksaan Wiliardi berlangsung santai dan penuh gelak tawa. Siapa yang benar?

Negara kita sedang mengalami krisis kepercayaan, confidence crisis, terhadap aparat penegak hukum. Tidak hanya kepada polisi, hakim, jaksa, dan pengacara. Jangan-jangan kita juga jadi ragu apakah KPK benar-benar bersih seperti yang dikesankan selama ini? Ini efek domino, kehilangan kepercayaan kepada satu lembaga publik dapat merembet ke lembaga lainnya, lembaga bersih sekalipun. Tidak ada satupun orang atau lembaga yang suci dan bebas kritik.

Uang. Itulah ujung dari semua masalah di atas. Demi uang, orang rela melakukan perbuatan apa saja, menghalalkan segala cara, untuk mendapatkannya. Tidakkah manusia mengambil pelajaran dari kasus-kasus serupa di masa lalu?

Kategori: Indonesiaku

“Gurita Mafia Hukum” di Dunia Peradilan Indonesia

5 November 2009 · 3 Tanggapan

Hiiii…., serem sekali bila kita berurusan dengan pengadilan di Indonesia. Dunia peradilan di negeri ini sudah disusupi mafia yang sudah menggurita, mulai dari pintu masuk pengadilan hingga proses peradilan itu sendiri. Baca tulisan di bawah ini. Dikutip dari sini.

Kamis, 05 November 2009 pukul 01:22:00
Kegilaan Cengkeraman ‘Gurita Mafia Hukum’

Oleh: Muhammad Subarkah

”Apakah ada penegak hukum yang masih bersih? Jangan-jangan semuanya sudah terimbas mafia?” Pernyataan ini ditegaskan Sekjen Transparency International Indonesia (TII), Teten Masduki, ketika ditanya mengenai sampai sejauh mana cengkeraman ‘gurita mafia peradilan’ dalam dunia peradilan Indonesia.

”Bahkan, saya kira sudah terorganisasi. Jadi, mafia itu sudah ada di setiap elemen penegak hukum, mulai dari hakim, jaksa, hingga pengacara. Masing-masing sudah ada broker -nya. Kalau saya sih yakin bila ada jaksa, hakim, pengacara yang baik, itu tak lebih dari 10 persen saja,’ kata Teten, di Jakarta, Rabu (4/11).

Menurut Teten, munculnya mafia peradilan ini memang sudah sangat luar biasa. ”Misalnya begini. Begitu ada seorang terkena masalah hukum, dia akan segera tahu ke mana jalur untuk memengaruhi para penegak hukum itu. Dan, di situ sudah ada orang yang menjadi penunjuk jalannya.”

Tak berbeda dengan Teten, praktisi hukum Ary Yusuf Amir, juga mengakui kuatnya cengkeraman mafia peradilan di Indonesia. Namun, kata dia, situasi buruk itu hanya bisa dirasakan, tanpa bisa ditunjukkan buktinya. ”Semua orang pasti sudah tahu adanya mafia peradilan itu. Tapi, ini susah sekali dibuktikan secara kasat mata. Hanya terasa saja,” ujarnya.

Bukan hanya itu, lanjut Ary, tingkat daya rusak mafia peradilan kini sudah bisa dikatakan sangat luar biasa. Bahkan, ada sebuah pameo bila ada seorang pengacara bersikap idealis, dia tak akan bisa dapat klien. Perkara yang dipegangnya di forum pengadilan nantinya hanya akan menjadi bahan bulan-bulanan.

”Itu ekstremnya. Pengacara itu hampir pasti akan selalu kalah. Dan, ini pun terasa bukan hanya dalam kasus yang bernuansa ada kepentingan bernilai materi, tapi dalam kasus bernuansa politik, peran mafia hukum juga terasa. Ujung dari ini, misalnya, akan muncul putusan pengadilan yang aneh atau di luar nalar akal yang sehat,” tegas Ary.

Dalam sebuah artikel yang dikutip dari situs Komisi Reformasi Hukum Nasional (KRHN) dinyatakan mafia peradilan yang terjadi di lembaga peradilan di Indonesia sudah berlangsung sejak lama seperti yang ditunjukkan oleh beberapa hasil penelitiaan.

Bahkan, Daniel Kaufmann dalam laporan Bureaucratic and Judiciary Bribery tahun 1998, mengatakan tingkat korupsi di peradilan Indonesia paling tinggi di antara negara-negara Ukraina, Venezuela, Rusia, Kolombia, Yordania, Turki, Malaysia, Brunei, Afrika Selatan, dan Singapura.

Penelitian yang dilakukan Indonesia Corruption Watch (ICW) tahun 2002 juga menyebutkan bahwa mafia peradilan di Mahkamah Agung (MA) melibatkan para pegawai, pejabat, panitera, dan para hakim. Praktik mafia itu dilakukan dengan cara; pemerasan, penyuapan, pengaturan majelis hakim favourable , calo perkara, pengaburan perkara, pemalsuan vonis, pemberian ’surat sakti’, atau vonis yang tidak bisa dieksekusi.

Selain itu, mafia peradilan dapat diibaratkan suatu transaksi jual beli. Penjual sebagai pihak yang mempunyai kewenangan, sedangkan pembeli kelompok yang membutuhkan kemenangan dalam suatu proses hukum. Penjual, adalah hakim yang memutuskan perkara, dan pembeli adalah terdakwa yang membutuhkan putusan bebas.

Dalam praktik jual beli tersebut, posisi panitera, pegawai pengadilan, dan advokat hanyalah makelar perkara. Sebagai calo, mereka hanya berfungsi sebagai penghubung negosiasi antara penjual dan pembeli. Ibarat makelar jual beli tanah, mereka hanya mendapat komisi dari transaksi jual beli tersebut. Tanah akan langsung dinikmati oleh pembeli, sedangkan penjual akan mendapatkan sebagian besar uang hasil jual beli.

Di tempat terpisah, Ketua Komisi Yudisial (KY), M Busyro Muqoddas, mengatakan, cengkeraman mafia peradilan di Indonesia sudah sangat kuat. Bahkan, indikasinya kekuatan mafia itu sudah memasuki semua elemen penegakan hukum.

”Bila dilihat dari sejarahnya, mafia peradilan itu mulai menggeliat semenjak munculnya Orde Baru. Saat itu, lembaga hukum berada di dalam hegemoni kekuasaan. Sementara di sisi lain, kekuatan masyarakat sipil tak berdaya sama sekali,” kata Busyro Muqoddas. Menurut Busyro, pihaknya tak bisa menentukan sampai berapa besar persentasenya pengaruh mafia peradilan itu. Tapi, jelas terlihat sudah sangat luar biasa.

Kategori: Indonesiaku

Siapa Lagi yang Bisa Dipercaya?

4 November 2009 · 4 Tanggapan

Honesty is the foundation of services and the prerequisite for full realization of trust, fairness, respect and responsibility. Honesty begins with oneself and extends to others… (dikutip dari buku Komisi Pembelajaran ITB)

p4a5ee6c0cc14e_saya-cicak-berani-lawan-buayaKasus drama kriminalisiasi pimpinan KPK, Bibit dan Chandra, mencapai klimaksnya kemarin lewat “pengadilan rakyat” di di Mahkamah Konstitusi setelah diperdengarkan rekaman pembicaraan antara Anggodo (adik Anggoro, tersangka kasus korupsi) dengan para pejabat di Polri dan Kejaksaan Agung. Kasus ini membuat masyarakat semakin sinis kepada aparat penegak hukum. Hukum bisa dipermainkan oleh mereka, BAP bisa direkayasa dengan imbalan uang bermilyar-milyar dan mobil mahal dari orang kaya yang terjerat masalah hukum. Orang yang tidak bersalah dikorbankan supaya akal bulusnya tidak ketahuan. Tetapi, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Sepandai-pandai menyimpan rapat kebusukan, akhirnya tercium juga. Itulah drama pertarungan cicak lawan buaya yang kita saksikan kemarin. Benar-benar menggemaskan sekaligus bikin geram.

Kasus ini juga menunjukkan betapa pejabat di negeri ini bisa diatur oleh para cukong. Para cukong alias pengusaha kaya yang terjerat masalah hukum tahu benar cara jitu untuk menggoda iman para pejabat itu. Gemerincingkan saja uang, maka mereka akan silau, silau, silau…., dan berhasillah para pejabat itu masuk ke dalam perangkap si pengusaha.

Siapa lagi yang bisa kita percaya ya? Polisi, jaksa, hakim, pengacara, sama saja kelakuannya, sama-sama mempermainkan hukum untuk kepentingan duniawi, mau menerima uang suap demi memuluskan perkara hukum para terdakwa. Memang tidak semua polisi, jaksa, hakim, pengacara itu mempunyai perilaku buruk seperti itu, masih banyak kok polisi yang baik, masih banyak yang jaksa yang jujur, masih banyak hakim yang lurus dan tetap amanah. Namun perilaku sebagian oknum merekalah yang membuat instansi mereka tercoreng. Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Akibatnya citra penegak hukum terlihat sangat bobrok dimata masyarakat. Prilaku para oknum itu telah merusak institusi mereka sendiri dan membuat kepercayaan masyarakat kepada institusi kepolisian dan kejaksaan semakin tipis. Jadi, kalau aparat yang dipercaya menegakkan hukum saja mempermainkan hukum dengan imbalan uang, kepada siapa lagi kita harus percaya?

Saya heran dengan para pejabat yang rela menggadaikan amanah yang disandangnya untuk kepentingan sesaat. Untuk apa uang haram bermilyar-milyar itu ya? Perut kita terbatas kapasitasnya. Sebanyak-banyaknya kita makan hanya sanggup 2 piring. Dibelikan puluhan rumah, apakah semua rumah itu ditinggali? Dibelikan banyak kendaraan, apakah semuanya dinaiki? Pergi meninggalkan dunia ini, hanya selembar kain kafan yang bisa dibawa ke alam kubur, harta yang banyak itu harus ditinggalkan karena tidak bisa ikut serta. Belum lagi di pengadilan Allah semua perbuatan itu harus dipertanggungjawabkan. Tidak takutkah mereka dengan kehidupan sesudah mati, tidak takutkah mereka dengan siksa api neraka yang menyala-nyala karena telah memperoleh uang secara haram?

Lagu lama selalu benar: harta, tahta, dan wanita adalah tiga hal yang membuat silau mata manusia. Karena tiga hal itu manusia bisa jatuh binasa, karena tiga “ta” itu manusia rela menggadaikan imannya.

Kategori: Indonesiaku

Ketika “Putri Aceh” Minta Izin Tidak Berjilbab

20 Oktober 2009 · 7 Tanggapan

qory_puteri_ina_285_fahmiBarangkali isu ini sudah agak basi dan sudah tidak terdengar lagi gaungnya. Seperti yang anda ketahui, pemilihan Putri Indonesia, yang katanya merupakan ajang menuju pemilihan Miss Universe, meninggalkan sejumlah kontroversi. Masalahnya terletak pada pernyataan Qory Sandioriva, putri yang mengaku mewakili daerah Aceh dan terpilih sebagai pemenang, pada malam final. Dia menjawab pertanyaan MC kenapa dirinya tidak mengenalkan jilbab seperti wakil-wakil Aceh tahun sebelumnya. Qory menjawab bahwa dia sudah meminta izin kepada tokoh ulama dan Gubernur Aceh untuk tidak memakai jilbab, juga sudah minta izin kepada Meutia Hatta, Menteri urusan peranan wanita, untuk tidak berjilbab pada acara itu, seolah-olah orang-orang itu mempunyai hak untuk mengambil alih peran Tuhan dalam hukum agama.

Sehari-harinya Qory memang tidak berjilbab, dan orang-orang memang tidak mempersoalkan hal itu. Memakai jilbab atau tidak adalah urusan hati nurani dan keimanan seseorang, jadi tidak bisa dipaksa. Hak Qory ikut pemilihan kontes putri-putrian itu dan orang lain tidak berhak pula untuk melarangnya. Masalahnya karena dia mengatasnamakan rakyat Aceh dalam kontes ratu-ratuan ini, namun dia tidak berpenampilan yang menunjukkan identitas sebagai orang Aceh yang sesuai dengan syariat Islam (menutup aurat). Kita semua tahu Aceh mempunyai kultur sendiri yang berbeda dengan daerah lainnya, yaitu kultur islami. Sebagai daerah yang mempunyai otonomi khusus dengan penerapan syariat Islam, “ulah” Qory memancing reaksi keras orang-orang di Aceh, apalagi Qory pada malam itu memakai busana yang menampakkan sebagian auratnya yaitu bagian dada yang seharusnya tidak boleh dilihat.

Sekarang kontoversi soal Qory itu sudah mulai mereda seiring dengan berjalannya waktu dan orang-orang pun sudah mulai melupakan masalah ini. Namun, tetap ada yang tersisa dan tetap menarik untuk diulas. Qory meminta izin kepada orang-orang penting untuk tidak berbusana muslimah (baca: jilbab). Qory merasa orang-orang itu memiliki otoritas memberi izin mengenai hukum agama, bukan Allah SWT Sang Pemilik Hukum. Orang-orang penting itu menjadi “wakil” Tuhan untuk mengeluarkan izin bagi Qory.

Dipastikan Qory akan ikut kontes ratu sejagad tahun depan. Pemilihan ratu-ratuan ini diperkirakan akan menimbulkan kontroversi baru lagi nanti karena ada keharusan para peserta kontes untuk memakai bikini pada salah satu sesi penilaian. Kita semua tahu bahwa yang selalu menimbulkan pro kontra dalam kontes ratu sejagad itu adalah soal penampilan gadis Indonesia berbikini itu. Tahun depan pro kontra akan lebih heboh karena yang tampil dari Indonesia adalah gadis yang mengaku dari Aceh yang menjunjung syarit Islam. Apakah Qory nanti juga akan meminta izin kepada ulama Aceh atau orang-orang penting itu untuk memakai bikini? Jika kemaren meminta izin untuk tidak berjilbab, nanti akan minta izin untuk lepas baju alias (maaf) semi telanjang di hadapan publik. Astaghfirullah, jika begitu yang terjadi nanti betapa besar dosa Qory dan orang-orang penting yang memberi izin itu nanti jika dia nekat maju dengan bikini untuk memperlihatkan auratnya kepada jutaan orang di seluruh dunia. Ini akan menjadi tamparan keras bagi orang Aceh, nih ada wanita yang mengaku dari Aceh negeri Serambi Mekah berani berbusana minim di hadapan banyak orang. Gelar ratu dunia tidak akan didapat (tidak akan mungkin gadis Indonesia bisa menang di ajang itu, ada semacam permainan untuk selalu memenangkan gadis latino), dosa bertambah pula.

Akan lebih baik bagi Qory untuk membatalkan keikutsertaannya di ajang kontes ratu sejagat tahun depan, sebelum timbul masalah baru lagi nanti. Kalau dia peka maka seharusnya dia tidak meneruskan langkahnya. Kita sudah lelah dengan berbagai kontroversi di negara ini, janganlah ditambah dengan kontroversi baru yang menghabiskan energi bangsa. Mudah-mudahan apa yang dilakukan Qory saat ini adalah karena keawaman dia dalam pengetahuan agama. Kepada orangtuanya yang memberi izin kepada putrinya untuk pamer aurat, cepatlah bertobat kepada Allah SWT karena dukungan yang kalian berikan kepada Qory itu hanya menambah dosa saja.

Kategori: Indonesiaku

Menunggu Telpon dari Cikeas

13 Oktober 2009 · 7 Tanggapan

Hari-hari ini hingga seminggu ke depan adalah hari yang menegangkan bagi para pejabat dan politisi. Mereka H2C alias harap-harap cemas menanti panggilan telepon dari Puri Cikeas, kediaman SBY itu, siapa tahu diminta oleh SBY menjadi pembantunya (baca:menteri). Siapa saja pengidap H2C itu? Mereka adalah para rektor perguruan tinggi, politisi parlemen, politisi partai, pejabat departemen, gubernur, bupati, ilmuwan, pengusaha, bahkan para menteri yang masih menjabat hingga saat-saat terakhir di bulan Oktober ini. Di ITB ada rumor bahwa Pak Joko, rektor ITB sekarang, tidak mencalonkan diri lagi menjadi rektor yang baru, jangan-jangan karena ada sinyal menjadi menteri. Entahlah, namanya juga gosip.

Ada ratusan nama yang beredar di media massa yang disebut-sebut menjadi calon menteri, sementara pos menteri hanya ada 24 hingga 30 orang saja. Tentu ada “persaingan sengit” di antara mereka untuk dipilih SBY menjadi menteri. Dari ratusan nama itu, sebagian dari mereka ada yang merasa tersanjung namanya digadang-gadang menjadi menteri. Mereka inilah yang sport jantung alias stres menunggu kabar dari Cikeas. Kalau tidak terpilih padahal digembar-gemborkan bakal terpilih, tentu malu juga awak jadinya.

Memangnya jadi menteri itu enak sehingga menjadi “buruan” banyak kalangan? Kalau saya diminta SBY (mimpi kali, dikenal juga tidak) saya juga tidak akan dan tidak pernah mau. Tidak mau karena tidak mampu. Enakan begini saja, jadi dosen, bisa datang ke kampus kapan saja saya mau, mau siang boleh, mau sore boleh. Awalnya jadi menteri itu memang enak, badan terasa melambung karena begitu tersanjung, ucapan selamat datang dari sana-sini, bayangan gaji tinggi dan segudang fasilitas siap menanti. Tetapi, lihatlah ke depan, segunung beban dan tanggung jawab siap diletakkan ke punggung menteri itu. Kalau tidak cakap, maka hujatan, kritikan, dan cacian dari media massa dan para kritisi harus siap dihadapi. Belum lagi rongrongan dari partainya untuk menyetor dana buat kelangsungan hidup partai. Beberapa kementrian yang “basah” dan menaungi banyak BUMN adalah lahan rebutan karena dari situ duit mengalir ke kocek partai. Jadi, kalau tidak cakap dan tidak kuat iman, jangan bermimpi deh jadi menteri.

Okelah, bagi yang masih berharap dan kebelet jadi menteri, jangan matikan HP, blackberry, blueberry (eh salah, ini mah nama buah), telepon rumah, email, Yahoo Messenger, bahkan Facebook, Plurk, dan Twitter. Siagakan terus HP, larang pembantu atau anak menggunakan telelpon rumah sebab khawatir ada panggilan yang gagal masuk kalau telepon rumah digunakan, cek secara periodik inbox email anda, aktifkan YM terus menerus 24 jam, selalu cek status di Plurk dan Twitter, jangan lupa simak setiap pesan di Fesbuk. Siapa tahu SBY atau stafnya akan menghubungi anda pada tengah malam melalui salah satu perangkat itu.

Kategori: Indonesiaku

Tumpeng, Cendol, Ketupat, Air Kelapa, Dodol, dll Dipatenkan Malaysia

29 September 2009 · 2 Tanggapan

Bukan Malaysia namanya kalau tidak bikin berita “panas” orang Indonesia. Setelah sedikit reda soal klaim Tari Pendet, Malaysia baru-baru ini mengklaim dan mamatenkan makanan yang sudah menjadi khas turun temurun berbagai suku bangsa di Indonesia. Apa saja itu? Nih dia makanan itu: nasi tumpeng, es cendol, ketupat, air kelapa, tempoya, lemang, sate, dodol, bubur sum-sum, dan bubur kacang hijau.

Di bidang kesenian, Malaysia juga mematenkan gamelan, wayang kulit, gendang, tari Zapin, dan masih banyak lagi. Info pematenan bisa dibaca di situs warisan.gov.my dan beritanya dapat dibaca di media cetak Indonesia.

Semakin banyak saja produk budaya Indonesia yang diklaim oleh Malaysia. Hayo, apa saja yang sudah diklaim Malaysia?
1. Lagu rakyat Maluku: Rasa Sayang-sayange (di Malaysia diubah menjadi Rasa Sayang-Sayang Hei)
2. Lagu Burung Kakatua
3. Lagu Jali-jali
4. Reog
5. Tari Pendet
6. Angklung
7. Rendang
8. Batik
9. …. (silakan isi sendiri)

Jangan-jangan nanti nasi uduk, nasi kuning, wayang golek, sarung, nasi pecel, gado – gado, gathot, thiwul, geplak, ayam goreng, nasi goreng, soto, rawon, wajik juga dipatenkan oleh Malaysia.

Apa arti semuanya itu? Itu artinya Malaysia sigap menginventarisir produk budaya yang ada di negara mereka, sementara Pemerintah negara kita terkesan lamban dan baru bereaksi setelah isu dari negara tetangga itu muncul ke permukaan. Malaysia juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena budaya mereka sudah bercampur dengan budaya nusantara sejak dulu kala. Rakyat Malaysia ada yang merupakan keturunan Minangkabau, Aceh, Riau, Jawa, Bugis, Makassar, dan sebagainya. Masing-masing suku pendatang itu membawa budaya mereka sendiri, dan setelah jangka waktu yang panjang akhirnya menjadi budaya yang diklaim Malaysia.

Di satu sisi ada dampak positif dari isu klaim budaya oleh Malaysia itu. Rakyat Indonesia yang selama ini kurang peduli dengan produk budayanya, tiba-tiba menjadi sadar budaya dan merasa geram ketika miliknya “dicuri” orang. Mungkin karena Malaysia yang mengklaim maka reaksinya begitu demikian keras, lain halnya kalau yang mengklaim itu Timor Leste atau Papua Nuigini mungkin reaksinya tidak sekeras itu.

Hanya saja, rasa peduli budaya yang tiba-tiba itu baru sebatas permukaan saja, belum menyentuh substansi yang lebih dalam. Coba tanya, berapa banyak orang Indonesia yang hafal syair lagu Rasa Sayang-sayange? Saya juga tidak hafal, hanya bait-bait awal saja yang hafal, begini:

Rasa sayange rasa sayang-sayange
Liat nona dari jauh rasa sayang-sayange

Lalu? Tidak tahu lagi bait berikutnya….

Kategori: Indonesiaku

Sosiologi Mudik

25 September 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Musim mudik lebaran segera berakhir. Senin minggu depan kehidupan normal seperti sediakala akan berdenyut kembali. Pembantu di rumah saya sudah mulai masuk lagi. Dia mudik ke kampungnya di Garut. Garut tidak terlalu jauh dari Bandung. Naik kereta api ekonomi pun dari Bandung ke Garut tidak sampai satu jam. Tapi di musim lebaran ini, kereta api apapun penuh sesak, berjejal-jejalan manusia memenuhi semua tempat di kereta. Semuanya bertujuan sama: pulang ke rumah orangtua.

Kata pembantu kepada anak saya, meskipun mudik itu capek, berdesak-desakan di kereta maupun di jalan, tapi reseup (bahasa Sunda, artinya senang). Saya mengartikan kata-katanya begini, pulang mudik itu memberi kebahagiaan batin tiada tara bagi pelakunya karena dapat bertemu dengan orangtua dan sanak famili. Kalaupun orangtua sudah almarhum, minimal bisa menengok kuburannya.

Kebahagiaan batin itu justru lebih dirasakan oleh orang-orang kecil yang selama ini terpinggirkan. Mereka adalah para pekerja keras yang membanting badan untuk mencari rezeki di kota. Kelompok marginal itu adalah pekerja sektor informal para buruh, pedagang keliling, pedagang kaki lima, sopir angkot, pembantu rumah tangga, office boy, mbok jamu, pegawai toko, dan sebagainya. Setahun bekerja keras di kota, semua penghasilan dibawa ke kampung untuk dibagi-bagi ke sanak famili.

Merekalah yang meramaikan stasiun kereta kelas ekonomi, terminal bus, pelabuhan laut, bahkan dengan sepeda motor. Bagi kelompok pemakai kendaraan yang disebutkan terakhir ini, ratusan ribu jumlahnya. Mereka berjuang keras naik sepeda motor menempuh perjalanan jauh dari kota ke kampung. Satu sepeda motor berisi tiga hingga empat penumpang. Anak, istri, bayi, dan barang bawaan berisi oleh-oleh berdesakan di atas sepeda motor yang sempit. Hujan panas dilawan, macet berkilometer di jalan bukan rintangan. Jarak ke kampung yang ratusan kilometer dari kota tidak terasa jauh. Wajah orangtua yang menunggu di kampung, wajah sanak famili yang menunggu oleh-oleh dan uang pemberian, mengalahkan rasa capek, pegal, dan segala rupa kapayahan fisik maupun batin.

pemudikmotor

pemudikimotor2
(Sumber foto: mediaindonesia.com)

Berbeda dengan orang-orang mapan yang pulang dengan kereta api eksekutif, mobil pribadi, atau dengan pesawat, mereka tidak merasakan suasana berdesak-desakan di dalam kendaraan. Yang ada adalah rasa nyaman karena kendaraan ber-AC. Bagi kelompok ini, bahagia batin pulang mudik masih kalah reseup dibandingkan pelaku mudik yang orang-orang kecil tadi. Beda pada perjuangan mudiknya.

Orang-orang yang heran dengan fenomena mudik setiap tahun itu, mungkin bertanya-tanya: apa yang dicari oleh orang-orang yang mudik itu sehingga mau bersusah payah menempuh perjalanan panjang, menyusuri jalanan yang full macet pulang pergi dari rumah ke kampung? Bukankah nanti-nati bisa pulang kampung pada lain hari? Kalau mau bagi-bagi uang ke orangtua atau sanak famili, kan bisa dikirim lewat bank atau pos? Jawabannya sederhana, seperti kata pembantu saya tadi: meskipun mudik itu capek, macet, berdesak-desakan, tapi reseup. Dan hal itu tidak tergantikan dengan cara apapun. Dan itu hanya ada di Indonesia, tanah air beta.

Kategori: Indonesiaku

Merah Hitam Hubungan Indonesia dan Malaysia

1 September 2009 · 24 Tanggapan

Di Jalan Dago dekat kampus ITB terdapat sebuah pom bensin milik Petronas Malaysia. Setiap kali saya lewat di depan pom bensin itu, saya perhatikan pom bensin Petronas selalu sepi dari kendaraan yang mengisi bahan bakar.

DSC00691

Tidak jauh dari situ, di Jalan Dipati Ukur dekat kampus Unpad, juga ada pom bensin milik Pertamina. Bebeda dengan pom bensin Petronas, pom bensin Pertamina di Jalan Dipati Ukur itu tidak pernah sepi dari antrian mobil dan motor yang hendak mengisi bahan bakar.

Saya menduga-duga penyebab pom bensin Petronas di Jalan Dago itu selalu sepi. Pertama, mungkin karena harga BBM yang dijual di sana lebih mahal dari pom bensin Pertamina. Satu liter bensin di Petronas dijual Rp 6.500, padahal di pom bensin Pertamina dijual Rp 4.500. Besar memang bedanya, mungkin hal itu membuat orang mikir-mikir mengisi bensin di Petronas.

Penyebab kedua mungkin karena faktor nasionalisme. Petronas adalah milik negara tetangga yang sekarang sedang bermasalah dengan Indonesia, kenapa harus beli bensin dari mereka, lebih baik beli dari perusahaan negara sendiri, mungkin begitu pikiran sebagian orang Indonesia khususnya yang di Bandung. Ada rekan senior saya yang dengan semangat nasionalismenya yang tinggi mengatakan bahwa sampai kapanpun dia tidak akan pernah mau membeli BBM di pom bensin Petronas itu. Jelek-jelek begini saya cinta negeri sendiri, katanya.

~~~~~~~~~~~~

Sejak dulu zaman Bung Karno hubungan Indonesia dan Malaysia memang bagai api dalam sekam, sewaktu-waktu bisa membara jika ada pemicunya. Kalau dulu hubungan panas tersebut muncul karena faktor geografis, sekarang penyebabnya beraneka ragam, mulai dari persoalan TKI yang disiksa di Malaysia, Ambalat, klaim Malayasia terhadap produk budaya Indonesia, seperti lagu Rasa Sayang-sayange, lagu Jali-jali, reog Ponorogo, pematenan terhadap batik, rendang Padang, tari pendet dari Bali, dan yang terbaru adalah lagu kebangsaan Malaysia, Negaraku, yang dituding menjiplak lagu keroncong Terang Boelan.

Rakyat Indonesia tentu gemas dan marah dengan sikap Malaysia itu. Media di Indonesia ramai memberitakan aksi protes dan kemarahan rakyat Indonesia. Api di dalam sekam mulai membara kembali. Kemarahan rakyat Indonesia kepada Malaysia diwujudkan dalam bentuk seperti demo, protes, hacking web Malaysia, mengganti kata Malaysia dengan Malingsia, bahkan sampai pada kesiapan untuk berperang dengan Malaysia. Di level perguruan tinggi, beberapa PTN di Indonesia seperti Undip Semarang dan UNS Solo menghentikan menerima mahasiswa asing asal Malaysia sebagai wujud nasionalisme mereka.

Tetapi, bagaimana dengan sikap warga Malaysia sendiri? Seorang wartawan Indonesia pernah melaporkan bahwa sebagian besar warga Malaysia tidak tahu menahu tentang aksi demo dan protes di Indonesia itu. Dia mengatakan bahwa ketika ramai demo tentang kasus Ambalat, di Malaysia tenang-tenang saja seolah-olah tidak ada persoalan. Tidak ada aksi balasan serupa di sana ketika di Indonesia ada sekelompok orang yang siap bertempur di garis depan dengan Malaysia. Bahkan rakyat Malaysia sendiri tidak tahu tentang Ambalat itu apa, apalagi perselisihan mengenai Ambalat itu.

Tentu saja begitu, karena pers di Malaysia dikontrol oleh Pemerintah. Tidak ada kebebasan pers dan kebebasan bersuara di sana. Jadi, jangan harap media massa di Malaysia memberitakan tentang aksi demo orang Indonesia terhadap Malaysia. Warga Malaysia tidak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi. Jangan harap pula mereka akan membaca media massa online Indonesia untuk mengetahui peristiwa yang diributkan, sebagaimana kita tidak pernah membaca media online mereka. Mungkin sebagian besar orang Malaysia menganggap hubungan dengan Indonesia baik-baik saja. Akhirnya, aksi kemarahan bangsa tidak bergaung di Malaysia. Kita marah dan berharap orang Malaysia tahu dengan kemarahan itu agar mereka malu atau terpancing. Tapi, harapan kita tidak terwujud.

Bagi Malaysia, “musuh” mereka sebenarnya adalah Singapura. Singapura negeri kecil yang terletak di “kaki” Malaysia, namun meskipun kecil tetapi negeri singa itu suka ngelunjak atau apalah namanya, yang membuat geram Pemerintah Malaysia. Indonesia sebenarnya juga bermasalah dengan Singapura terutama dengan sikap Singapura yang melindungi para koruptor Indonesia yang melarikan diri ke sana, sebelumnya tentang pembelian pasir dari Kepulauan Riau untuk menguruk pantai Singapura sehingga daratannya makin luas yang berarti batas teritorinya bertabrakan dengan Indonesia.

Yah, begitulah, hubungan antara Indonesia dan Malaysia itu bisa disebut 3B, benci-benci butuh. Malaysia membutuhkan TKI dan turis dari Indonesia, sedangkan Indonesia membutuhkan lapangan pekerjaan di Malaysia bagi jutaan rakyatnya. Sulit bagi Pemerintah bersikap tegas kepada Malaysia, apalagi sampai memutuskan hubungan diplomatik. Terlalu besar resikonya. Kepala dingin diperlukan untuk menyelesaikan banyak masalah antara kedua negara.

Kategori: Indonesiaku

Rindu Tanah Air

17 Agustus 2009 · 6 Tanggapan

Hari ini hari HUT kemerdekaan RI yang ke-64. Saya nggak kemana-mana, di rumah saja, sementara anak ikut lomba balap kelereng di halaman masjid dekat rumah. Di rumah ada pianika, dan saya suka memainkan pianika itu. Salah satu lagu yang saya sangat sukai untuk dimainkan adalah Timang-timang karya Said Effendi, sebuah lagu melankolik untuk menidurkan si buah hati.

Di rumah saya ada buku not musik yang memuat lagu-lagu perjuangan Indonesia. Salah satu lagu perjuangan yang paling sukai dimainkan degan pianika adalah lagu Tanah Air. Lagu ini sangat jarang diputar menjelang HUT kemerdekaan RI, namun ketika dinyanyikan dengan penuh penghayatan, niscaya akan basah mata ini karena begitu meresap syair dan musiknya di dalam jiwa. Saya mainkan pianika dan menikmati syairnya yang melankolis. Begini syairnya:

Tanah Air
Cipt: Ibu Sud

Tanah airku tidak kulupakan
kan terkenang selama hidupku
biarpun saya pergi jauh
tidak kan hilang dari kalbu
tanahku tak kulupakan
engkau kubanggakan

Walaupun banyak negeri kujalani
yang mahsyur damai dikata orang
tetapi kampung dan rumahku
disanalahku rasa senang
tanahku yang kucintai
engkau kuhargai

Wah..wah…kalau lagu ini dimainkan atau diperdengarkan kepada orang-orang Indopnesia di luar negeri, saya yakin air mata mereka akan menitik karena membayangkan negeri elok tempat kampung halaman dan rumah berada, temnpat dimana ayah bunda ditinggalkan, tempat dimana anak dan istri (suami) menunggu. Rasa cinta tanah air itu justru muncul jika kita jauh di negeri orang.

Lagu perjuangan lain yang juga ikut mengharu biru perasaan adalah lagu yang berjudul Rayuan Pulau Kelapa karya Ismail Marzuki. Lagu ini biasanya dulu dijadikan lagu penutup siaran TVRI, entahlah sekarang apakah juga masih digunakan (jarang nonton TV, apalagi TVRI). Begini syairnya:

Rayuan Pulau Kelapa
Cipt: Ismail Marzuki

Tanah airku Indonesia
negeri elok yang amat kucinta
tanah tumpah darahku yang mulia
yang kupuja sepanjang masa

Tanah airku aman dan makmur
pulau kelapa yang amat subur
pulau melati pujaan bangsa
sejak dulu kala

Ref:
Melambai-lambai
nyiur dipantai
berbisik-bisik raja kelana
memuja pulau
yang indah permai
tanah airku
Indonesia

Jika lagu tersebut diputar dengan video klip yang menampilkan barisan pulau-pulau yang di-shoot dari angkasa, sembari memperlihatkan deretan pohon kelapa yang daunnya melambai-lambai ditiup angin (raja kelana), lalu ada rumah-rumah pondok dengan hamparan sawah membentang laksana permadani hijau, sungai-sungai yang airnya mengalir bersih, niscaya akan menambah kerinduan pada tanah air yang jauh.

Kategori: Indonesiaku