Saat ini film 2012 sedang menggemparkan dunia. Film bertema bencana yang bercerita tentang kehancuran bumi (kiamat?) itu sedang menjadi film box office dan menjadi pembicaraan banyak orang, termasuk di Indonesia. Saya belum sempat sih menonton film ini.
Klik trailer video film 2012 di YouTube di bawah ini:
Di Indonesia film 2012 menjadi tambah ramai karena ada kontroversi yang muncul akibat pemutaran film ini. MUI Malang (kota atau kabupaten Malang ya?) mengeluarkan larangan bagi ummat Islam untuk menonton film ini (baca beritanya di sini). Alasannya, film 2012 bisa menyesatkan dan membuat orang yang lemah iman percaya bahwa kiamat itu memang akan terjadi pada tahun 2012. Padahal di dalam ajaran Islam kapan datangnya hari kiamat itu tidak ada seorangpun — termasuk nabi atau malaikat sekalipun — yang tahu. Hari kiamat adalah rahasia Allah SWT. Selain itu, menurut kata para ulama yang melarang film itu, penggambaran kiamat di film 2012 tidak sama dengan persepsi ajaran agama. Kiamat dalam ajaran Islam adalah kehancuran alam semesta dan seluruh isinya, bukan hanya planet bumi saja seperti yang digambarkan dalam film tersebut.
Setelah berita itu muncul di media online, kecaman pun datang dari masyarakat. Mereka menilai MUI Malang terlalu berlebihan menanggapi film tersebut. Saya baca komentar-komentar mereka di media online, tersirat jelas ejekan dan sinisme mereka kepada lembaga yang berisi para ulama yang dihormati itu. Bahkan ada komentar-komentar yang bernada menghina dan merendahkan martabat para ulama. Tentu saja saya sedih melihat ulama direndahkan, namun pada sisi lain saya bisa mengerti mengapa sinisme itu terjadi.
Saya sendiri berpendapat bahwa para ulama yang mengecam film itu tidak bisa disalahkan seluruhnya, namun tidak bisa juga dibenarkan semuanya. Kesalahannya ada pada ketidaktahuan mereka mengenai film 2012. Saya yakin ulama yang melarang belum pernah menonton film tersebut (termasuk saya, he..he), mereka mungkin hanya tahu dari berita yang berseliweran saja. Padahal jelas-jelas diceritakan di dalam film bahwa itu bukan kiamat sungguhan, sebab pada bagian akhir film digambarkan masih ada sekelompok manusia yang selamat di dalam kapal (kapal Nabi Nuh?). Lha, kalau yang namanya kiamat jelas seluruh kehidupan musnah, alam semesta hancur tidak bersisa. Menurut saya film ini murni fiksi belaka dan merupakan hasil imajinasi dari serangkaian efek visual hasil program komputer yang canggih. Angkat topi deh bagi produser film ini karena mereka berhasil membuat para penonton terkesima dengan efek visual tentang kehancuran bumi.
Tapi, ulama yang melarang film 2012 tidak juga bisa disalahkan sepenuhnya. Mereka, para ulama itu, hanya khawatir saja jika setelah menonton film 2012 orang-orang jadi percaya dengan perhitungan kalender bangsa Maya kuno — yang mendasari film 2012 itu — bahwa kiamat akan terjadi pada tanggal 21 Desember 2012 (yang juga merupakan tanggal kelahiran anak saya yang ketiga tuh, he..he). Tanggal 21 Desember 2012 adalah akhir kalender bangsa Maya. Adakah setelah menonton film ini orang-orang bakal percaya bahwa kiamat benar-benar terjadi pada tahun 2012? Mungkin saja ada, tapi saya rasa itu tidak banyak jumlahnya. Saya yakin sebagian besar orang tidak percaya dengan ramalan 2012 itu, sebab hampir semua umat Islam sepakat bahwa akhir dunia ini tidak ada yang tahu pasti kapan terjadi, semuanya adalah rahasia Ilahi. Jangankan kiamat, gempa saja tidak bisa diramalkan kapan persisnya.
Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Q.S. Al A’raaf 187)
Sebagai bentuk kekhawatiran sih boleh-boleh saja, namun kalau diikuti dengan larangan menonton fim 2012, apalagi meminta Pemerintah melarang peredaran film itu, jelas tindakan yang tidak bijak. Berlebihan. Justru lebih bijak menyatakan: silakan menonton filmnya tetapi jangan percaya. Malah, larangan menonton akan membuat film ini semakin laris sebab orang-orang semakin penasaran saja untuk melihatnya, dan ini jelas kontraproduktif dengan tujuan larangan tadi. Memang yang mengusulkan larangan itu hanya MUI beberapa daerah saja, sementara MUI Pusat tidak pernah membuat larangan atau semacam itu, namun masyarakat menilai seolah-olah MUI telah membuat fatwa haram film 2012. Jelas hal ini dapat merugikan citra MUI itu sendiri dan dapat membuat ulama makin dilecehkan ummat, seperti yang tergambar pada komentar-komentar di forum online.
Masyarakat menilai, ketimbang film 2012 mengapa para ulama tidak melarang menonton film-film porno berkedok film hantu atau film komedi yang banyak diproduksi oleh para sineas berselera rendah? Justru film-film bermutu rendah itulah yang harus dibasmi, bukan film sains-fiksi semacam 2012 itu. Saya justru melihat bahwa film bertema bencana seperti Deep Impact, The Day After Tomorrow, dan 2012, malah membuat orang teringat akan mati dan sadar bahwa kehidupan ini suatu saat akan berakhir. Jadi, tidak usah terlalu dianggap seriuslah, itu film hiburan semata. Just a fun!

Kasus drama kriminalisiasi pimpinan KPK, Bibit dan Chandra, mencapai klimaksnya kemarin lewat “pengadilan rakyat” di di Mahkamah Konstitusi setelah diperdengarkan rekaman pembicaraan antara Anggodo (adik Anggoro, tersangka kasus korupsi) dengan para pejabat di Polri dan Kejaksaan Agung. Kasus ini membuat masyarakat semakin sinis kepada aparat penegak hukum. Hukum bisa dipermainkan oleh mereka, BAP bisa direkayasa dengan imbalan uang bermilyar-milyar dan mobil mahal dari orang kaya yang terjerat masalah hukum. Orang yang tidak bersalah dikorbankan supaya akal bulusnya tidak ketahuan. Tetapi, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Sepandai-pandai menyimpan rapat kebusukan, akhirnya tercium juga. Itulah drama pertarungan cicak lawan buaya yang kita saksikan kemarin. Benar-benar menggemaskan sekaligus bikin geram.
Barangkali isu ini sudah agak basi dan sudah tidak terdengar lagi gaungnya. Seperti yang anda ketahui, pemilihan Putri Indonesia, yang katanya merupakan ajang menuju pemilihan Miss Universe, meninggalkan sejumlah kontroversi. Masalahnya terletak pada pernyataan Qory Sandioriva, putri yang mengaku mewakili daerah Aceh dan terpilih sebagai pemenang, pada malam final. Dia menjawab pertanyaan MC kenapa dirinya tidak mengenalkan jilbab seperti wakil-wakil Aceh tahun sebelumnya. Qory menjawab bahwa dia sudah meminta izin kepada tokoh ulama dan Gubernur Aceh untuk tidak memakai jilbab, juga sudah minta izin kepada Meutia Hatta, Menteri urusan peranan wanita, untuk tidak berjilbab pada acara itu, seolah-olah orang-orang itu mempunyai hak untuk mengambil alih peran Tuhan dalam hukum agama.

