Kisah Sir Edmund Hillary dan Pemandu (Sherpa) ke Puncak Mount Everest

Copas dari milis tetangga, tidak diketahui siapa penulis pertamanya. Semoga dapat memberi hikmah kepada kita yang membacanya.

~~~~~~~~~~~~~

Setelah Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay (pemandu/sherpa) kembali dari puncak Mount Everest, hampir semua reporter dunia berebut mewawancarai Sir Edmund Hillary, dan hanya ada satu reporter yang mewawancarai Tenzing Norgay, berikut cuplikannya :

Reporter: “Bagaimana perasaan Anda dengan keberhasilan menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia?”

Tenzing Norgay: “Sangat senang sekali”

Reporter: “Anda khan seorang Sherpa (pemandu) bagi Edmund Hillary, tentunya posisi Anda berada di depan dia, bukankah seharusnya Anda yang menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di puncak Mount Everest?”

Tenzing Norgay: “Ya, benar sekali. Pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilahkan dia (Edmund Hillary) untuk menjejakkan kakinya & menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menaklukkan Puncak Gunung Tertinggi di dunia”.

Reporter: “Mengapa Anda lakukan itu?”

Tenzing Norgay: “Karena itulah IMPIAN Edmund Hillary, bukan impian saya. Impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih IMPIAN-nya”.

Di sekitar kita, banyak sekali orang seperti Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay. Pepatah mengatakan, “Bila Anda hendak jadi pahlawan, harus ada yang bertepuk tangan dipinggir jalan”.

Di dunia ini, tidak semua manusia berkeinginan dan memiliki impian seperti Sir Edmund Hillary, menjadi pahlawan.Mereka ini cukup berbahagia dengan memberikan pelayanan dengan membantu orang lain mencapai impiannya. Mereka merasa cukup menjadi “orang2 yang bertepuk tangan saja dipinggir jalan”.Kadang, orang2 seperti ini diperlakukan ibarat “telor mata sapi”.Yang punya telur si Ayam, yang tersohor malah Sapi.

Sudahkah Anda menghargai, menghormati dan mengangkat orang-orang seperti Tenzing Norgay dalam tim Anda?

Kisah Angga Mencari Ayahnya di “Lembah Sukhoi” Gunung Salak

Peristiwa kecelakaan pesawat super jet Sukhoi yang menabrak tebing Gunung Salak masih mengharu biru masyarakat kita hari-hari ini. Hingga saat tulisan ini dibuat Tim Basarnas dibantu prajurit TNI dan para relawan masih kesulitan mengevakuasi jenazah para korban yang hancur bercerai berai. Medan yang sangat berat, tebing yang terjal hampir membentuk sudut 90 derajat dan lembah yang dalam membuat proses evakuasi menjadi sangat berat dan beresiko.

Diantara kisah sedih dan tragedi Sukhoi yang memilukan itu, ada sebuah kisah yang mengharukan. Ini adalah kisah tentang anak dari salah seorang korban pesawat –yang mudah-mudahan adalah anak yang shaleh– yang ikut mencari ayahnya bersama tim evakuasi. Dengan bermodalkan hubungan batin antara ayah dan anak, disertai Kuasa Tuhan dan doa anak yang shaleh, dia berhasil mendapat petunjuk keberadaan ayahnya di “lembah Sukhoi” dan memberikan informasi tersebut kepada Tim Evakuasi. Kisah ini saya rangkum dan kutip dari tiga berita daring di bawah ini:
1. Angga Dapat ‘Mukjizat’, Marinir Terbantu Temukan Lokasi Korban Sukhoi
2. Kisah Angga Berjuang Mendaki Gunung Salak Mencari Ayahnya
3. VIDEO: Kisah Angga Cari Ayah di Gunung Salak

~~~~~~~~~~~~~~~~

Namanya Angga Tirta (27), bukan seorang pendaki gunung. Tapi dengan tekad yang kuat dia bisa bertahan mendaki Gunung Salak bersama tim evakuasi korban Sukhoi Superjet 100. Ayah Angga, Aan Husdiana, adalah salah satu penumpang Sukhoi nahas itu.

Rabu (9/5) sore, Angga baru mendengar kabar Sukhoi yang ditumpangi ayahnya lost contact. Ayahnya, Aan, yang merupakan seorang pilot di Kartika Airlines menjadi salah satu penumpang pesawat. Kartika Airlines merupakan calon konsumen Sukhoi.

Rabu malam, Angga bersama kakak ayahnya dan keluarganya, total ada 6 orang, berangkat menuju Pos Cidahu. Keluarga besar Angga ingin tahu langsung kepastian nasib Sukhoi itu. Kamis (10/5) dini hari, dia bersama keluarganya tiba di Pos Cidahu. Di sini muncullah niat Angga untuk ikut mencari ayahnya. Pada mulanya keinginan Angga itu ditolak, Angga tidak diperbolehkan ikut mencari. Tapi dengan tekadnya yang membaja dia membujuk Tim Evakuasi agar diperbolehkan ikut. Dia meyampaikan kepada Komandan bahwa feeling-nya mengatakan ayahnya ada di lereng.

Kamis pagi, Angga bersama prajurit TNI AD ikut mendaki menuju Puncak Gunung Salak. Dia mendengar kabar, untuk menuju lokasi, perlu perjalanan sekitar 2-3 jam. Angga membulatkan tekad untuk ikut. Angga bergerak bersama Tim Marinir, melakukan pencarian lokasi jatuhnya Sukhoi. Angga ingin ikut agar dia dapat mengetahui kondisi Sukhoi dan ayahnya sebenar-benarnya. Tim Marinir kagum dengan kesungguhan Angga, walau tanpa bekal dia bersungguh-sungguh mencari lokasi jatuhnya Sukhoi dan mencari jenazah ayahnya.

“Saya tidak membawa apa-apa, hanya jaket, dan sebotol air mineral,” terang Angga.

Perjalanan mendaki Gunung Salak menempuh medan yang berat. Angga menahan diri untuk tidak meminum air mineral yang dia bawa. Dia berjaga-jaga untuk perjalanan panjang.

“Ternyata kalau saya minum air, saya bisa keram. Itu aturan pendaki gunung,” imbuhnya.

Tanpa bekal logistik yang cukup, Angga berjalan menuju lokasi di puncak. Jalur yang belum dibuka membuat perjalanan menjadi lama. Angga mengaku selalu teringat bau-bauan ayahnya sehingga dia merasa kuat. Dalam pendakian itu, dia kehilangan sepatunya yang jebol.

“Dia kasih petunjuknya lewat bau jengkol, bau petai (makanan favorit ayah Angga yang mengarahkan ke lokasi penemuan, red)”, ucapnya.

Yang menarik, sepanjang perjalanan, Angga tidak melupakan melakukan ibadah shalat. “Sepanjang perjalanan, Angga rajin shalat. Usai shalat dia berdoa meminta petunjuk kepada Yang Kuasa,” kata komandan Tim Marinir, Letkol Oni Junianto.

Angga bersyukur dalam perjalanan melelahkan itu, dirinya mendapat kemudahan-kemudahan. “Alhamdulillah, saat saya butuh air, menemukan mata air. Saya sempat makan daun pakis, sebelum akhirnya bertemu Tim Marinir yang memberi ransum,” imbuh Angga.

Kamis malam, Angga bermalam di kawasan Puncak Gunung Salak. Sebelumnya di perjalanan bertemu Tim Marinir yang memberikan bantuan logistik. Angga tidur beralaskan kantung jenazah yang dibawa TNI.

Nah, keajaiban datang. Usai salat Subuh pada Jumat (11/5) pagi, Angga mengaku ditemui ayahnya. Saat itu, ayahnya memberitahu supaya dirinya tidak usah datang ke lokasi jatuhnya Sukhoi karena daerah itu berbahaya. Petunjuk itu diperoleh Angga saat tim Marinir sudah berada di Puncak Gunung Salak.

Angga pun, lanjut Oni, dalam doanya itu sempat bertanya di mana ayahnya berada. Dia diberi petunjuk bahwa ayahnya berada di lereng gunung. Angga juga diminta pulang. Mendapat petunjuk seperti itu, Angga lalu memberi kabar kepada tim Marinir.

“Kami kemudian turun ke lereng”, jelas Oni.

Tebing yang curam inilah yang ditabrak oleh pesawat Sukhoi sehingga meledak dan hancur berkeping-keping. Di lereng tebing itu ditemukan jenazah korban pesawat termasuk SIM ayahnya Angga (Sumber foto: http://www.tribunnews.com/2012/05/10/lokasi-jatuhnya-sukhoi-ditemukan-mayor-penerbang-fahlevi)

Jumat pukul 07.20 WIB, Tim Marinir turun ke jurang. Angga sempat meminta ikut turun, namun Tim Marinir meminta dia menunggu di atas. Untuk turun ke jurang membutuhkan tali. Dan benar, ternyata sejumlah korban Sukhoi ada di jurang itu. Tim Marinir juga menemukan SIM ayah Angga atas nama Aan Husdiana.

“Setelah SIM ditemukan dan diberikan kepada Angga, dia sempat histeris. Namun akhirnya Angga bisa menerima dan dia pulang bersama tim logistik kami,” tutur Oni.

“Saya sudah cukup puas dengan itu. Walau sebenarnya saya ingin menemukan cincin atau benda yang lain. Tapi itu sudah cukup,” imbuhnya.

Jumat sore, setelah melihat tim Marinir membawa SIM ayahnya, Angga akhirnya memutuskan turun bersama tim Marinir. Angga mengucapkan terima kasih kepada Tim TNI AD dan Tim Marinir, relawan serta Basarnas yang memberi bantuan.

“Sekarang kami berharap identifikasi bisa cepat dan akurat,” tutur Angga, putra sulung almarhum Aan.

Simak penuturan Angga pada video di tautan ini.

~~~~~~~~~~~~~~

Setelah membaca ini, saya terhenyak. Mungkin inilah petunjuk atau ilham yang diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya. Adapun kemudahan yang diperoleh Angga seperti menemukan mata air ketika Tim Evakuasi kehausan dan tidak menemukan air, itu adalah keajaiban yang diturunkan-Nya. Pada saat-saat yang sulit Allah SWT akan selalu datang menolong. Semoga kisah yang membawa hikmah ini dapat memperteguh iman kita kepada Allah SWT.

Kisah Tikus dan Perangkap dari Pak Tani

Tulisan metafora dari milis sebelah (tidak diketahui penulis pertamanya). Di dalam kisah ini bodoh, pintar, egois, peduli, semua bercampur baur pada kisah ini. Semoga dapat memberi hikmah dan pelajaran bagi anda yang membacanya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sepasang suami istri petani pulang ke rumah setelah berbelanja. Seekor tikus memperhatikan maknan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar. Ternyata, salah satu yg dibeli petani ini adalah sebuah perangkap tikus. Sang Tikus kaget bukan kepalang.

Ia segera berlari menuju kandang, mendatangi ayam dan berteriak ada perangkap tikus. Sang ayam berkata, “Tuan Tikus, aku turut bersedih, tapi perangkap itu tidak berpengaruh padaku”

Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak. Sang Kambing pun berkata “Aku turut bersimpati, tapi tidak ada yang bisa aku lakukan”

Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. “Maafkan aku, tapi perangkap tikus tidak berbahaya buatku sama sekali”

Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sang Ular berkata, “Perangkap Tikus yg kecil tidak akan mencelakai aku”

Akhirnya Sang Tikus kembali ke rumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.

Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor Ular berbisa. Buntut Ular yang terperangkap membuat Ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh Ular tersebut, sang Istri tetap harus dibawa ke rumah sakit.

Beberapa hari kemudian Istrinya demam. Ia lalu minta dibuatkan sop ceker Ayam oleh Suaminya. Dengan segera ia menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya. Tetapi sakit sang Istri tak kunjung reda.

Seorang teman menyarankan untuk makan hati Kambing. Ia lalu menyembelih Kambing untuk mengambil hatinya. Namun istrinya tetap tidak sembuh dan akhirnya meninggal dunia.

Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman, sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya utk memberi makan para pelayat.

Dari kejauhan sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat perangkap tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.

3 x 7 = 27?

Sebuah tulisan hikmah yang saya dapat dari sebuah milis. Semoga bermanfaat.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

‎Di suatu padepokan di Tiongkok pernah hidup seorang GURU yg sangat dihormati karna tegas jujur. Suatu hari, dua murid menghadap GURU. Mereka bertengkar hebat nyaris beradu fisik. Keduanya berdebat tentang hitungan 3×7.

Murid pandai mengatakan hasilnya 21, murid bodoh bersikukuh mengatakan hasilnya 27. Murid bodoh menantang murid pandai untuk meminta GURU sebagai jurinya untuk mengetahui siapa yang benar diantara mereka , sambil si bodoh mengatakan : “jika saya yang benar 3 x 7 = 27 maka engkau harus mau dicambuk 10 kali oleh GURU , tetapi jika kamu yang benar ( 3 x 7 = 21 ) maka saya bersedia untuk memenggal kepala saya sendiri., hua ha ha …..”, demikian si bodoh menantang sambil tertawa dengan sangat yakin dengan pendapatnya.

“Katakan GURU mana yang benar?” tanya murid bodoh. Ternyata GURU memvonis cambuk sepuluh kali bagi murid yang pandai (orang yang menjawab 21).

Si murid pandai protes. Sang GURU menjawab: “Hukuman ini Bukan untuk hasil hitunganmu, tapi untuk KETIDAKARIFAN-mu yang mau-maunya berdebat dengan orang bodoh yang tidak tahu kalau 3×7 adalah 21!!”

Guru melanjutkan: “Lebih baik melihatmu dicambuk dan menjadi ARIF daripada GURU harus melihat satu nyawa terbuang sia sia!”

~~~~~~~~~~~~~

Pesan Moral:

Jika kita sibuk memperdebatkan sesuatu yang tak berguna, berarti kita juga sama salahnya atau bahkan lebih salah daripada orang yang memulai perdebatan, sebab dengan sadar kita membuang waktu energi untuk hal yang tidak perlu. Bukankah kita sering mengalaminya?

Bisa terjadi dengan pasangan hidup, tetangga/kolega. Berdebat atau bertengkar untuk hal yangg tidak ada gunanya, hanya akan menguras energi percuma.

Ada saatnya untuk kita diam untuk menghindari perdebatan atau pertengkaran yang sia-sia. Diam bukan berarti kalah, bukan? Memang bukan hal yang mudah, tapi janganlah sekali-kali berdebat dengan orang bodoh yang tidak menguasai permasalahan.

Kisah Inspiratif: “Low Vision” Tidak Menghalangiku Mengambil Program S3 di Australia

Di bawah ini kisah Taufik Faturohman, dosen SBM-ITB, yang sedang mengambil program S3 di Curtin University, Western Australia. Dia mempunyai keterbatasan penglihatan yang cukup parah, yang dalam ilmu medis dinamakan “low vision“. Namun dengan keterbatasan penglihatannya itu dia mampu menyelesaikan S1 dan S2, dan sekarang sedang menjalani program S3 sebagai dosen tugas belajar.

Pak Taufik menulis di milis alumni ITB tentang kisahnya yang mengharukan ini. Atas seizin beliau e-mail-nya saya salin ke dalam blog, mudah-mudahan dapat menjadi sumber inspirasi bagi siapapun yang mempunyai keterbatasan fisik agar tidak pantang menyerah dalam menimba ilmu setinggi-tingginya.

~~~~~~~~~~~~~

No disabilities can hold you back

Perth, Maret 2012

Saat ini saya sedang mengambil program PhD di Curtin University, Western Australia. Saya ditugaskan oleh kampus di Bumi Ganesha sana, Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB, untuk sekolah (karena masih dianggap kurang pinter hehe…), atas beasiswa dari Putera Sampoerna Foundation.

Saya memiliki kondisi spesial di mata yang disebut Retinitis Pigmentosa (RP). Kalau ditanya bagaimana kondisi mata saya, saya agak sulit menjelaskannya. Yang pasti mah cukup parah.

Waktu medical check up untuk mengajukan visa, dokter yang memeriksa hampir tidak percaya kalau dengan kondisi low vision seperti ini saya akan ambil S3. Tapi itu tidak mengecilkan hati saya. Saya malah bangga karena dengan kondisi seperti ini saya bisa meraih apa yang tidak mudah diraih oleh orang yang bermata normal sekalipun. Alhamdulillah… Segala puji bagi Allah.

Semua dokter yang saya temui (termasuk di Perth sini) menyatakan bahwa mata saya tidak dapat diobati. Akan tetapi sebagai seorang muslim saya harus yakin bahwa yang Maha Menyembuhkan hanya Allah, dan kita harus tetap berusaha mencari solusinya. Beberapa dokter bilang kalau kondisi ini bersifat genetis. Sesuatu yang nampaknya masuk akal, karena adik saya yang laki-laki pun mengalami kondisi yang sama. Alhamdulillah dia akhirnya bisa lulus dari jurusan Fisika ITB, meski dengan perjuangan yang luar biasa. Jujur, saya sempat agak ragu kalau dia akan lulus (sori ya De). Sebaliknya, adik saya yang perempuan tidak mengalami masalah dengan retinanya. Dia relatif jauh lebih lancar dalam studinya, dan lulus dari S1 di Kimia dan S2 Teknik Kimia (keduanya di ITB) dengan baik. Selama kuliah S2 dia juga mendapatkan beasiswa karena prestasinya yang baik. Kuliahnya memang lebih lancar, tapi bukan berarti dia lebih cerdas, hanya matanya saja yang lebih bagus hehe…. Maaf bercanda. Kami memang sangat kompetitif dalam berbagai hal. Meski sering saling mencela, saya bangga pada adik-adik saya. Mereka hebat (meski nggak sehebat kakaknya haha…). Maaf, lagi-lagi bercanda.

Dua tahun pertama di negeri asing, saya benar-benar struggling, di dalam dan luar studi. Semua serba baru dan semua harus dapat dilakukan sendiri. Meski Alhamdulillah banyak rekan dan sahabat yang selalu siap membantu, basically you’re on your own. Banyak trik yang saya lakukan to make life easier, antara lain:

1. Menyimpan barang-barang di tempat yang mudah terlihat dan mudah diingat.
2. Ketika sedang menunggu bis, saya akan minta tolong orang lain untuk memberi tahu nomor bis yang lewat. Sebetulnya nomornya cukup besar, terpampang di atas windshield, tapi tetep aja nggak keliatan. Otomatis saya tidak boleh malu atau segan bertanya. Harus cuek. Tapi dengan begini saya bisa berkenalan dengan banyak orang. Lelaki, perempuan, tua, atau muda. Tidak hanya warga setempat, tetapi juga warga dan pendatang dari berbagai penjuru dunia. Mulai pekerja, pelajar, sampai mantan manusia perahu pencari suaka. Sangat menarik. Tapi yang paling seru kalau bertemu orang yang berasal dari kota atau negara dengan tradisi sepak bola kuat. Nunggu bis jadi nggak kerasa kalau sudah ngomongin bola. Tapi saya lebih suka membicarakan klub dibanding tim nasional. Sedih kalau ditanya soal tim nas kita. Apalagi beberapa waktu lalu kita baru saja dibantai 10 gol tanpa balas. Rekor terburuk sej ak berdirinya negara kepulauan terbesar di dunia yang kita cintai ini. Tragis. Kembali ke halte bis, kalau tidak ada orang yang bisa saya tanyai, saya terpaksa memberhentikan semua bis yang lewat. Maaf ya pak supir, habis bagaimana lagi….

3. Saya berusaha menghapalkan situasi di tempat-tempat yang sering saya datangi. Posisinya, pohon-pohon di sekitarnya, apapun yang memudahkan saya mengidentifikasi tempat tersebut. Sebagai contoh, ruangan supervisor saya adalah pintu ke tiga dari lift. Jadi saya menghitung pintu, bukan membaca namanya yang terpampang di pintu ruangannya, karena saya tidak bisa membacanya. Percaya atau tidak, saya sampai hapal jumlah tangga dan anak tangga yang ada di sepanjang jalan utama main campus. Tujuannya adalah agar saya tidak jatuh kalau saya melewati tangga itu apabila harus buru-buru :)

4. Apabila melakukan presentasi riset, saya harus memahami bahan dengan sangat baik, karena saya tidak bisa mengandalkan tulisan yang ada di slide. Kalaupun saya bisa membacanya, saya butuh waktu lama. Jadi paling tidak, saya harus menghapalkan judul tiap slide, atau saya menulis judul dengan font ekstra besar, sehingga lebih mudah dibaca. Dalam menjelaskannya, saya harus banyak melakukan improvisasi. Hal ini juga saya lakukan ketika mengajar di SBM.
5. Banyak berdoa dan minta didoakan, agar Allah memudahkan semua urusan.
6. Dan lain-lain.

Masih banyak trik dan rutinitas yang saya lakukan untuk mempermudah aktivitas saya. Most of the time memang berhasil. Akan tetapi, tidak jarang gagal juga. Sering kali saya tidak berhasil menemukan barang yang saya simpan karena lupa di mana saya menyimpannya. Atau salah naik bis. Atau salah masuk ruangan. Saya bahkan pernah salah masuk ke toilet perempuan. That was an honest mistake, bukan berniat ngintip hehe…. Kalau nabrak tiang, jatuh dari tangga, atau kesandung mah sudah biasa. Alhamdulillah paling parah hanya memar-memar, luka kecil, atau pakaian robek :) . Di tempat gelap saya hampir tidak bisa melihat apa pun. Dalam situasi seperti itu saya harus dituntun atau berjalan dengan sangat pelan sambil meraba-raba. Tapi saya masih bersyukur, masih banyak orang yang benar-benar tidak bisa melihat sama sekali.

Menyadari kondisi penglihatan yang buruk, saya mengajukan aplikasi untuk mengambil program PhD di Curtin Business School tanpa menyebutkan kondisi tersebut. Saya tidak merasa disable. Saat itu saya sangat yakin kalau saya akan berhasil melewati program doktoral ini dengan baik, karena toh saya juga berhasil mengantongi gelar sarjana dan master dari ITB. Kepercayaan diri yang ternyata berlebihan, bahkan mendekati kesombongan. Astaghfirullah….

Alhamdulillah… di kampus saya mendapat support yang saya butuhkan. Saya memiliki supervisor-supervisor yang sangat kompeten dan pengertian. Belakangan, saya juga disarankan untuk berkonsultasi dengan disability counselor. Awalnya saya agak reluctant untuk melakukannya. Saya nggak yakin mereka bisa membantu masalah saya. Dan sekli lagi, saya tidak merasa disable.

Ternyata saya salah. Banyak bantuan dan kemudahan yang mereka sediakan untuk membantu aktivitas saya, terutama dalam studi dan riset. Di Robertson Library, yang berada di main campus, terdapat satu ruangan khusus yang disediakan untuk student dengan kondisi istimewa seperti saya. Saya baru sadar, ternyata saya tidak sendiri. Ruangan ini benar-benar eksklusif, seperti the chamber of secret di Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry hehe…. Bedanya adalah tidak diperlukan mantra khusus untuk dapat memasuki ruangan ini. Di depan pintu ruangan ini ada alat pemindai alias scanner untuk memindai kartu mahasiswa. Pintu ruangan ini hanya akan terbuka bila diakses oleh kartu mahasiswa yang telah diberi security clearance.

Di dalam ruangan ini banyak terdapat alat canggih. Ada sejenis proyektor yang dapat menampilkan buku atau teks berbentuk hard copy ke layar. Ada pula komputer yang dapat menampilkan interface dengan perbesaran dan warna yang bisa kita atur. Komputer ini bahkan bisa membacakan apa yang tertera di monitor, termasuk membacakan dokumen-dokumen berbentuk soft copy. Tidak cukup dengan itu, saya juga dibekali dengan ZoomText, sebuah software yang bisa membuat PC saya semakin cerdas. Secerdas komputer di library yang bisa saya atur perbesaran dan kontrasnya, serta saya perintahkan untuk membacakan apa yang ada di screen. Laptop saya sekarang sudah bisa membaca dan berbicara! Masih belum selesai sampai di situ. Saya juga dipinjami sebuah electronic magnifier. Alat mungil yang belakangan saya tau ternyata harganya hampir sepuluh juta rupiah. Alat bernama SmartView ini sangat membantu saya dalam membaca buku dan bentuk hard copy lainnya. Sesuatu yang sudah sangat sulit saya lakukan, meski dengan bantuan kaca mata.

ZoomText dan SmartView sangat membantu saya, sehingga saya tidak perlu menyengaja datang ke library hanya untuk membaca. Alhamdulillah, banyak bantuan yang saya terima. Dari kampus baik di Curtin maupun SBM, sponsor, supervisor, teman-teman, keluarga, bahkan dari orang yang tidak saya kenal. Tentu saja support dari orang tua dengan doa yang dapat menggetarkan langit. Tanpa mengecilkan itu semua, saya mendapatkan dukungan luar biasa dari istri tercinta. Dia tanpa kenal lelah dan dengan kesabaran hampir tak terbatas begitu setia mendampingi saya. Bukan hanya mendorong dari segi moral, dia juga membantu riset saya. Dia adalah partner yang baik dalam berdiskusi, pengetik yang handal, dan penginput data yang telaten. Saya benar-benar tidak tahu apa yang bisa saya lakukan tanpa dia. Alhamdulillah progress riset saya berjalan jauh lebih cepat sejak kehadirannya. Dia benar-benar perempuan super. Semua itu dilakukannya sewaktu hamil, dan saat ini sedang menyusui bayi kecil kami.

Pentingnya keberadaan istri semakin terasa kala saya sedang down. Saya berusaha selalu positif dengan kondisi mata saya. Akan tetapi tidak jarang juga saya merasa frustasi dengan keadaan ini. Saya paling tidak suka kalau saya tidak bisa melakukan sesuatu yang sebenarnya mudah. Di saat mood saya sedang jelek, saya bisa sangat marah bila misalnya saya tidak bisa menemukan suatu barang. Saya marah. Marah pada diri sendiri karena tidak bisa melakukan sesuatu yang sangat mudah. Tapi efeknya saya juga marah pada orang lain, dan yang paling sering terkena dampaknya adalah istri tercinta. Terkadang dia juga kesal, suatu reaksi yang wajar. Namun most of the time dia luar biasa sabar menghadapi saya. Dia malah memberi semangat dan membesarkan hati saya. Dia sering kali mengingatkan saya pada salah satu episode Kick Andy yang pernah kami tonton bersama. Di episode itu, bang Andy mewawancarai orang-orang hebat dengan kondisi tuna netra. Ada seorang ibu yang berhasil meraih gelar master di Belanda. Ada juga seorang bapak dari Makasar yang menolak bersekolah di Sekolah Luar Biasa, sampai akhirnya meraih gelar sarjana hukum dan bahkan menjadi salah seorang anggota Komnas HAM. Isteri saya selalu bilang “mereka aja bisa, jadi Abi juga pasti bisa”. Saya bilang mereka itu orang-orang hebat, dan saya nggak bisa kayak mereka. Tapi dia selalu meyakinkan kalau saya bisa. Subhanallah…. She really is my better half. A much better half of me.

Akhir Mei ini tepat tiga tahun masa studi saya berjalan. Saya mungkin belum bisa menyelesaikan studi tepat tiga tahun. Tapi saya menargetkan untuk menyubmit tesis doktor saya akhir 2012 ini, insya Allah.

Selain studi, saya juga aktif di berbagai aktivitas sosial. Bukan hanya karena saya diwajibkan oleh pihak sponsor, tapi karena memang saya tidak bisa lepas dari kegiatan-kegiatan sosial. Saya pernah mengikuti kegiatan Curtin Volunteer. Saya juga pernah menjadi pengajar di Taman Pendidikan Al Quran di Mushalla Curtin University. Dalam dua tahun terakhir saya juga selalu diberi tugas sebagai host pada acara shalat Idul Fitri dan Idul Adha yang diselenggarakan oleh Konsulat Jendral Republik Indonesia di Australia Barat. Saat ini saya diberi amanah (lebih tepatnya dipaksa hehe…) menjadi sekretaris jendral Perkumpulan Pengajian Indonesia Perth (PPIP). Konon PPIP merupakan kelompok pengajian tertua di Perth yang kemudian diformalkan dalam bentuk organisasi yang memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga sendiri.

Alhamdulillah, di tengah kesulitan yang kami hadapi selalu ada kemudahan. Kebahagiaan kami bertambah sejak kehadiran puteri pertama kami. Aisha Ghina Fathiya, 3 Desember 2011 lalu. Itu berarti bertambah pula tanggung jawab dan kesibukan, but it is totally worth :)

Jujur, tidak mudah bagi saya dalam menjalani ini semua. Tapi saya mendapat support berlimpah dari berbagai pihak, yang membuat saya yakin bahwa saya akan meraih PhD. Kemudian saya akan kembali ke Indonesia, ke kampus, untuk membaktikan ilmu yang saya peroleh di sini.

Pendidikan merupakan hak setiap orang (bagi setiap muslim, menuntut ilmu juga merupakan suatu kewajiban). Bahkan bagi setiap Warga Negara Indonesia, hak itu dijamin oleh konstitusi. Semua memiliki hak yang sama, termasuk untuk yang memiliki keterbatasan secara fisik. Pendidikan sering kali berharga mahal. Di situlah diperlukan dukungan dan komitmen dari pemerintah.

Tulisan ini saya buat untuk mengingatkan diri saya sendiri, betapa banyak nikmat yang saya terima. Alhamdulillah apabila ini juga bermanfaat bagi orang lain. Terima kasih atas kesabaran Anda membaca sampai akhir. Semoga ada manfaatnya.

Salam
Taufik Faturohman
PhD Candidate, Curtin Business School, Curtin University, Western Australia
Tutor at Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Teknologi Bandung
Putera Sampoerna Foundation Scholar
E-mail: taffy_foreman@yahoo.com

Profesor yang Bersahaja

Saya kutip sebuah cerita yang saya peroleh dari sebuah milis. Cerita ini saya dapatkan dari Pak Dermawan Wibisono, dosen SBM ITB. Ini sebuah kisah tentang kerendah-hatian seorang dosen di Universitas Barkeley. Banyak hikmah yang terkandung di dalam cerita ini. Semoga bermanfaat bagi anda yang membacanya.

~~~~~~~~~~~~~

Dalam sebuah acara reuni di suatu masa, beberapa alumni University of Berkeley, California menjumpai seorang dosen di kampus mereka dulu. Melihat para alumni beramai-ramai membicarakan kesuksesan mereka, sang Profesor segera menuju ke dapur dan mengambil seteko kopi panas dan beberapa cangkir kopi yang berbeda-beda, motif, bahan dan ornamennya. Mulai dari cangkir yang terbuat dari kristal, kaca melamin dan plastik biasa seperti kita jumpai di pasar kaget Gasibu Bandung.

Profesor tersebut menyuruh para alumninya untuk mengambil cangkir dan mengisinya dengan kopi. Setelah masing-masing alumni mengisi cangkirnya dengan kopi, Profesor tsb berkata:”Perhatikan, bahwa kalian semua memilih cangkir-cangkir yang bagus dan kini, yang tersisa hanyalah cangkir-cangkir yang murah dan tidak menarik. Memilih hal terbaik adalah wajar dan manusiawi. Namun persoalannya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus itu, perasaan kalian mulai terganggu. Kalian secara otomatis melihat cangkir yang dipegang orang lain dan mulai membandingkan dengan cangkir kalian. Pikiran kalian fokus pada cangkir, padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkirnya melainkan kopinya”.

Ia melanjutkan: “Hidup kita seperti kopi dalam analogi tersebut di atas, sedangkan cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan dan harta benda yang kita miliki. Pesan moralnya adalah jangan pernah membiarkan cangkir mempengaruhi kopi yang kita nikmati. Cangkir bukanlah hal yang utama, kualitas kopi itulah yang terpenting. Jangan berpikir bahwa kekayaan yang melimpah, karier yang bagus dan pekerjaan yang mapan merupakan jaminan kebahagiaan. Itu konsep yang keliru, Kualitas hidup kita ditentukan oleh ‘apa yang ada di dalam’ bukan ‘apa yang kelihatan dari luar’. Apa gunanya kita memiliki segalanya namun tidak pernah merasakan damai, suka cita, dan kebahagiaan dalam hidup kita? Itu sangat menyedihkan karena kita seperti menikmati kopi basi di dalam cangkir kristal yang mewah dan mahal. Kunci menikmati kopi adalah bukan seberapa bagus cangkirnya, tetapi yang paling penting adalah kualitas kopinya?”.

Para alumni itu tercenung, dalam hati mengatakan, itulah mengapa mereka perlu jauh-jauh datang reuni dan menemui Profesor mereka yang bersahaja namun kaya makna itu”.

Jika Waktu Ayah Bisa Dibeli

Ada sebuah tulisan menarik yang saya peroleh dari situs ini: http://erabaru.net/kehidupan/41-cermin-kehidupan/7649-membeli-waktu-ayah. Sehabis membacanya membuat mata memerah ingin menangis. Wahai para ayah yang sibuk, yang waktunya sangat berharga sehingga lalai memberikan satu jam perhatian saja buat anaknya, bacalah ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ada seorang ayah setelah pulang dari kantor hari sudah larut malam, dengan perasaan sangat lelah dan kesal sekali dia masuk ke dalam rumah, dia menemukan anaknya yang baru berusia lima tahun duduk bersandar di atas kursi sedang menunggunya.

“Ayah, apakah saya boleh mengajukan satu pertanyaan?” tanya anak itu penuh harap.

“Tentu saja boleh, apa yang ingin kau tanyakan?” balas sang ayah.

“Mmm…..Berapa upah ayah bekerja setiap jamnya?”

“Wah, masalah seperti ini tidak perlu dipertanyakan. Mengapa tiba-tiba menanyakan hal ini?” Ayahnya menjawab dengan nada sedikit gusar.

“Ayah, saya hanya ingin mengetahui, berapa upah Ayah per jam? Tolong beritahu saya…”

Dengan nada suara yang agak gemetaran anak tersebut memohon dengan sangat.

“Baiklah! Kalau kamu merasa harus mengetahuinya, upah ayah setiap jamnya lima puluh ribu rupiah.”

“Uhh….” Anak kecil tersebut menundukkan kepala dan berpikir sejenak, kemudian melanjutkan berkata, “Ayah, bolehkah saya meminjam uang sebesar lima puluh ribu rupiah?”

Kesabaran ayah anak itu telah habis, dengan nada keras dia menegur, “Jika kamu menanyakan persoalan ini hanya ingin meminjam uang untuk membeli mainan atau benda lain yang sama sekali tidak ada gunanya itu, maka sebaiknya kamu sekarang segera kembali ke kamar! Coba pikirkan mengapa kamu hanya mementingkan diri sendiri. Ayah setiap hari bekerja lembur dengan susah payah untuk memberikan nafkah kepada kalian, tidak ada waktu yang berlebihan untuk permainan semacam ini!”

Akhirnya dengan tertunduk lesu anak tersebut masuk ke dalam kamar tidurnya dan menutup pintu kamar.

Setelah duduk di atas kursi, si Ayah memikirkan kembali pertanyaan anaknya, semakin dipikir semakin menjadi jengkel.

“Beraninya dia menanyakan hal tersebut hanya demi meminjam uang?” Dalam hati ayah tersebut terus berpikir.

Namun lewat satu jam kemudian, pada akhirnya si Ayah bisa menenangkan diri. Dia mulai berpikir, “Mungkin sikap saya terlalu keras terhadap anak itu, atau mungkin dia seharusnya menggunakan uang lima puluh ribu tersebut untuk membelikan barang yang benar-benar dia inginkan, agar tidak sering-sering lagi minta uang kepadaku.”

Karena itu sang ayah pergi ke kamar anaknya dan mengetuk pintu kamar sambil bertanya, “Anakku, apakah kamu sudah tidur?”

“Belum, Ayah. Saya masih terjaga……” sahut anak itu lirih.

“Ayah baru saja berpikir, mungkin ayah terlalu keras terhadapmu….” Ayah tersebut melanjutkan berkata, “Maafkan Ayah yang telah meluapkan kekesalan dalam hati! Ini Ayah berikan uang yang kau kehendaki……” kata si Ayah sambil menyodorkan uang itu pada anaknya.

Dengan tersenyum simpul anak tersebut duduk di atas ranjang sambil berteriak girang, “Terima kasih ayah!”. Anak itu lalu mengeluarkan uang kertas yang sudah lusuh serta uang receh dari bawah bantalnya.

Si Ayah yang melihat anaknya telah memiliki uang sebesar itu, dan masih juga meminta uang kepadanya, hampir membuat kejengkelannya meluap lagi.

Dengan hati-hati anak itu menghitung uangnya, “Seribu, sepuluh ribu, dua puluh lima ribu, empat puluh ribu…… lima puluh ribu……” gumamnya menghitung uang receh yang dia miliki. Ketika genap seratus ribu, dengan mata berbinar dia memandang ke ayahnya.

Baru saja ingin mengatakan sesuatu, si Ayah sudah tidak bisa menahan kejengkelannya, dengan nada gusar dia bertanya, “Kamu telah mempunyai uang sebanyak itu, mengapa masih juga meminta lagi?”

“Karena…uang saya…….tak mencukupi….tetapi…. tapi….. sekarang sudah mencukupi…..”

Dengan terbata-bata anak tersebut melanjutkan perkataannya, “Ayah, sekarang saya sudah mempunyai uang sebanyak seratus ribu, bolehkah saya membeli waktu Ayah selama dua jam? Karena besok saya sangat ingin sekali makan malam bersama ayah……”

Mata jernih anak tersebut berlinangan air mata, sedangkan di dalam hati sang ayah penuh dengan penyesalan……

Kisah yang Menyentuh: Mandikan Aku Bunda

Kisah yang menyentuh kalbu, kiriman dari milis sebelah. Semoga dapat menjadi hikmah bagi kita, terutama bagi ayah dan ibu yang sibuk dengan urusan pekerjaannya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sebagian menganggap tugas wanita lebih sebagai manajer di rumahnya tanpa perlu dipusingkan urusan dapur dan merawat anak yang lebih pantas dilakukan oleh para bawahan, alias pembantu ataupun baby-sitter. Peran sosial dan aktualisasi diri menjadi lebih utama. Di sisi lain, tidak sedikit akhwat yang tetap “teguh” dan bangga dengan kesibukan seputar urusan dapur dan diaper ini. Mereka cukup puas dengan imbalan surga untuk jerih payahnya membenamkan muka di asap “sauna” mazola (minyak goreng) dan berparfumkan aroma popok bayi.

Saya tidak hendak membahas kekurangan dan kelebihan kedua sisi ini. Saya hanya ingin bertutur tentang seorang sahabat saya. Sebut saja Rani namanya. Semasa kuliah ia tergolong berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak awal, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik, baik itu dalam bidang akademis maupun bidang profesi yang akan digelutinya. Ketika Universitas mengirim kami untuk mempelajari Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, di negerinya bunga tulip, beruntung Rani terus melangkah. Sementara saya, lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran dan berpisah dengan seluk beluk hukum dan perundangan. Beruntung pula, Rani mendapat pendamping yang “setara” dengan dirinya, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.

Alifya, buah cinta mereka lahir ketika Rani baru saja diangkat sebagai staf Diplomat bertepatan dengan tuntasnya suami Rani meraih PhD. Konon nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah “alif” dan huruf terakhir “ya”, jadilah nama yang enak didengar : Alifya. Tentunya filosofi yang mendasari pemilihan nama ini seindah namanya pula. Ketika Alif, panggilan untuk puteranya itu berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila saja. Frekuensi terbang dari satu kota ke kota lain dan dari satu negara ke negara lain makin meninggi. Saya pernah bertanya , ” Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal?”

Dengan sigap Rani menjawab : ” Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Everything is ok.” Dan itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya walaupun lebih banyak dilimpahkan ke baby sitter betul-betul mengagumkan. Alif tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas dan pengertian. Kakek neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu tentang ibu-bapaknya. “Contohlah ayah-bunda Alif kalau Alif besar nanti.” Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani bertutur disela-sela dongeng menjelang tidurnya. Tidak salah memang. Siapa yang tidak ingin memiliki anak atau cucu yang berhasil dalam bidang akademis dan pekerjaannya. Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau Alif minta adik. Waktu itu Ia dan suaminya menjelaskan dengan penuh kasih-sayang bahwa kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini “dapat memahami” orang tuanya.

Mengagumkan memang. Alif bukan tipe anak yang suka merengek. Kalau kedua orang tuanya pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Kisah Rani, Alif selalu menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Rani bahkan menyebutnya malaikat kecil. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orang tua sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam hati kecil saya menginginkan anak seperti Alif.

Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby-sitternya.” Alif ingin bunda mandikan.” Ujarnya. Karuan saja Rani yang dari detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, menjadi gusar. Tak urung suaminya turut membujuk agar Alif mau mandi dengan tante Mien, baby-sitternya. Persitiwa ini berulang sampai hampir sepekan,” Bunda, mandikan Alif ” begitu setiap pagi. Rani dan suaminya berpikir, mungkin karena Alif sedang dalam masa peralihan ke masa sekolah jadinya agak minta perhatian.

Suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ” Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency”. Setengah terbang, saya pun ngebut ke UGD. But it was too late. Tuhan sudah punya rencana lain. Alif, si Malaikat kecil keburu dipanggil pemiliknya. Rani, bundanya tercinta, yang ketika diberi tahu sedang meresmikan kantor barunya, shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan anaknya. Dan itu memang ia lakukan, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. “Ini bunda, Lif. Bunda mandikan Alif.” Ucapnya lirih namun teramat pedih.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu berkata, ” Ini sudah takdir, iya kan ? Aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, dia pergi juga kan ? “. Saya diam saja mendengarkan. ” Ini konsekuensi dari sebuah pilihan.” lanjutnya lagi, tetap tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja berbaur aroma kamboja. Tiba-tiba Rani tertunduk. ” Aku ibunya!” serunya kemudian, ” Bangunlah Lif. Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan bunda sekali lagi saja, Lif”. Rintihan itu begitu menyayat. Detik berikutnya ia bersimpuh sambil mengais-kais tanah merah Sekali lagi, saya tidak ingin membahas perbedaan sudut pandang pembagian tugas suami isteri. Hanya saja, sekiranya si kecil kita juga bergelayut : ” Mandikan aku, Bunda .” Akankah kita menolak ? Ataukah menunggu sampai terlambat ?

Sopan kepada Orang lain, Kasar kepada Anak

Dari milis alumni IA-ITB saya mendapat kiriman e-mail yang berisi pesan moral yang bermakna. Saya bagi di sini kepada anda supaya dapat diambil hikmahnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. “Oh, maafkan saya” adalah reaksi saya.
Ia berkata, “Maafkan saya juga, saya tidak melihat Anda.”
Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.

Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda. Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh.

“Minggir,” kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya. Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan berbicara padaku,

Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang.

Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu. Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu. Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes.

Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, “Bangun, nak, bangun”, kataku. “Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?”.

Ia tersenyum, “Aku menemukannya jatuh dari pohon”.
“Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu.
Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru”.

Aku berkata, “Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu;
Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi”.

Si kecilku berkata, “Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu”.

Aku pun membalas, “Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru”.

Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka. Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan?

Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas? Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA? Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.
FAMILY = (F)ather (A)nd (M)other, (I), (L)ove, (Y)ou.

(Sumber: milis IA-ITB)

Kasih Sayang Ayah

Sumber: milis sebelah

Ada sebuah kisah dari Spanyol tentang seorang ayah dan anak yang lama terpisah. Sang anak lari dari rumah, dan sang ayah mencarinya selama berbulan-bulan tanpa hasil. Akhirnya, sang ayah memasang iklan di sebuah surat kabar ibukota, berbunyi: ”Paco sayang, temui aku di depan kantor surat kabar ini, jam 12 siang, hari Sabtu. Semuanya sudah aku ampuni. Aku mengasihimu. Ayahmu.”

Di hari Sabtu itu, ada 800 orang bernama Paco berkumpul, untuk mencari kasih dan pengampunan dari seorang ayah yang sangat mengasihinya.

Statistik mengatakan bahwa orang-orang yang kehilangan kasih ayahnya akan tumbuh dengan kelainan perlaku, kecenderungan bunuh diri, dan menjadi kriminal yang kejam. Sekitar 70% dari penghuni penjara dengan hukuman seumur hidup adalah orang-orang yang bertumbuh tanpa ayah.

Para ayah, Anda dirindukan dan dibutuhkan oleh anak-anak Anda. Jangan habiskan seluruh energi dan pikiran di tempat kerja, sehingga waktu tiba di rumah para ayah hanya memberikan ”sisa-sisa” energi dan duduk menonton TV. Peluk anak-anak Anda, dengarkan cerita mereka, ajarkan kebenaran & moral. Dan Anda tidak akan menyesal, karena anak-anak Anda akan hidup sesuai jalan yang Anda ajarkan & persiapkan.

Satu ayah lebih berharga daripada 100 guru di sekolah. (George Herbert)