Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.
Kemarin hujan turun sore hari. Sebelumnya langit memang terlihat gelap pertanda sebentar lagi hujan akan turun. Benar saja, tidak lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Saya melihat ke arah jendela, air hujan serasa ditumpahkan begitu saja dari langit. tiga orang anak saya sedang tidur dengan nyenyaknya dalam satu ranjang, bersusun-susun antara adik dan kakak.
Saya pandang wajah anak-anak itu, ingatan saya kembali melayamg pada tahun-tahun yang silam ketika mereka masih bayi atau balita. Setiap kali hujan saya terkenang dengan lagu dendang pengantar tidur yang saya nyanyikan ketika mereka akan tidur. Seperti yang pernah saya ceritakan pada tulisan terdahulu, lagu Timang-timang adalah favorit saya untuk didendangkan. Sambil mendekap anak dalam pelukan, saya timang-timang dia dan saya mulai menyanyikan lagu itu hingga dia tertidur lelap. Bahkan, ketika anak saya sedang sakit panas dan dia selalu menangis tidak bisa tidur, dendang lagu semacam itu tidak lupa saya nyanyikan dengan mata yang basah. Sungguh berat hidup ini, Nak.
Nah, selain lagu Timang-timang, saya juga sering mendendangkan lagu Belaian Sayang yang ditulis oleh almarhum Bing Slamet. Lagu melankolis ini pas benar dinyanyikan ketika hujan turun. Sunggu menyentuh bait-bait dan irama lagunya. Begini syairnya:
Waktu hujan turun
rintik perlahan
bintangpun menyepi
awan menebal
Kutimang si buyung
belaian sayang
anakku seorang
tidurlah tidur
Ibu mendoa
ayah menjaga
agar kau kelak
jujur melangkah
Jangan sampai lupa
tanah pusaka
tanah air kita
Indonesia
Saya cari-cari lagu tersebut di Youtube, ketemu ini yang dinyanyikan oleh grup Elfa Secoria. Sangat pas dinyanyikan oleh penyanyi itu, sangat menyentuh rasanya. Tak terasa mata saya basah menahan keharuan.
Satu klip video lagi dengan lagu yang sama di bawah ini, mengingatkan pada kita betapa anak-anak itu adalah amanah titipan Ilahi yang perlu kita jaga. Masa kecil anak adalah usia emas yang menjadi kenang-kenangan indah bagi ayah dan ibu.
Ini tulisan tentang lagu yang berkesan bagi saya. Berkesan karena syair lagunya berisi pesan yang bermakna. Seperti lagu Timang-Timang yang tidak saya lupakan, satu lagu pengantar tidur anak yang juga saya suka adalah Anakku Sazali. Lagu ini sering saya dendangkan ketika anak saya masih bayi. Sambil menggendong anak dalam pelukan, saya bernyanyi lagu ini hingga anak saya tertidur.
Lagu Anakku Sazali dikarang oleh komponis terkenal asal negeri jiran, yaitu P. Ramlee. Tetapi saya lebih suka mendengar lagu ini dinyanyikan oleh Tiar Ramon, seorang penyanyi Minang legendaris dan sudah almarhum. Selain memiliki album lagu Minang, Tiar ramon juga pernah merilis album lagu-lagu Melayu Deli, salah satunya berisi lagu Anakku Sazali.
Ini syair lagunya:
Anakku Sazali dengarlah
lagu yang ayahnda karangi
sifatkan laguku hai anak
sebagai sahabatmu nanti
Andainya kami t’lah kembali
menyambut panggilan ilahi
laguku biarlah ganti
dijiwamu hidup abadi
penawar imanmu sejati
penjagamu wahai Sazali
Saya menemukan klip video lagu ini di Youtube. Dalam video ini tampak Tiar Ramon menyanyikannya dalam keadaan sakit (stroke?), mungkin beberapa bulan sebelum dia wafat. Klik video berikut untuk mendengarkan lagu Anakku Sazali.
Nah, kalau video di bawah ini lagu asli yang dinyanyikan oleh P. Ramlee dalam film jadul asal Malaysia yang berjudul sama:
Siang-siang yang panas ini, seusai shalat Jumat dan makan siang, timbullah rasa kantuk. Sambil kepala terangguk-angguk menahan kantuk, saya mendengarkan lagu Minang lawas dari situs Youtube. Judul lagunya adalah Anak Salido, didendangkan oleh penyanyi batak tahun 70-an yang serba bisa, Eddy Silitonga. Klik video di bawah ini:
Memang sungguh nikmat mendengar lagu Anak Salido yang melankolik ini. Rasa melayang-layang pikiran ini jauh ke negeri Ranah Minang. Lagu ini adalah salah satu lagu Minang kesukaan saya selain lagu Sayang Tak Sudah dari penyanyi (alm) Tiar Ramon. Pertama kali saya mendengarkan lagu Anak Salido adalah ketika masih SMA. Lagu Anak Salido bercerita tentang pemuda(i) dari negeri Salido yang pergi merantau karena dikecewakan cintanya oleh kekasih hati. Lagu ini diciptakan oleh (alm) Huriah Adam dan dulu dipopulerkan oleh penyanyi Lily Syarief dan Elly Kasim.
Tak bosan-bosan saya mendengarkan lagu Anak Salido, bahkan kalau hati lagi gundah gulana saya sering menyanyikannya seorang diri di malam hari. Ketika anak masih bayi, saya sering pula mendendangkan lagu Anak Salido sebagai salah satu lagu pengantar tidur.
Anak Salido, anak Salido ka parantauan
pandan dibaok, pandan dibaok ka dipadagangkan
dunsanak tido, ondeh tuan manga bajalan
kasia badan, kasia badan kaditompangkan
Sungai Tanang, Sungai Tanang tapian mandi
rang Bukittinggi, rang Bukittinggi mandi bakawan
kasiah sayang bakeh tuan tatuntuang habih
manga kok kini, mangka kok kini tuan rangguikkan
tagamang badan, tagamang badan ndek ditinggakan
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Anak Salido, Anak Salido pergi merantau
membawa pandan, membawa pandan untuk diperdagangkan
sanak suadara tidak ada, mengapa tuan pergi berjalan
pada siapa badan akan menumpang
Sungai Tanang, Sungai Tanang tempat mandi
Orang Bukittinggi, orang Bukittingi mandi dengan kawan
kasih sayang tuan kenapa sudah habis
mengapa sekarang, mengapa sekarang tuan renggutkan
tergamang badan, tergamang badan karena ditinggalkan
Salido, sebuah negeri yang jauh di seberang lautan sana. Tahukan anda dimana Salido itu? Salido adalah nama daerah di pinggir laut di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Dari daerah pesisir ini lahirlah musik rebab yang diberi nama rabab pasisie. Saya belum pernah ke Salido, tetapi melewatinya hampir saja pernah. Akhir tahun lalu ketika liburan ke Padang kakak saya membawa kami ke Pantai Carocok di Painan, Kabupaten Pesisir Selatan. Perjalanan ke pantai Carocok pasti melewati daerah Salido. Namun, belum sampai ke pantai Carocok, anak saya yang paling kecil muntah-muntah karena mabuk perjalanan. Akhirnya rencana ke Pantai Carocok gagal namun negeri Salido sudah berhasil disinggahi.
Lihatlah foto di bawah ini tentang keelokan daerah Salido yang menghadap Samudera Hindia (foto diambil dari sini).
Negeri-negeri di pinggir laut itu sekarang sedang dirundung kekhawatiran, yaitu tsunami. Ancaman tsunami akibat gempa megatrust dari sesar aktif Mentawai sudah diprediksi oleh para ahli geologi, namun tidak seorangpun pernah tahu kapan peristiwa itu akan terjadi. Prediksi dari para pakar geologi itu seolah-olah menjadi kabar “kematian” bagi warga di pinggir laut pantai barat Sumetera, termasuk negeri Salido. Jika tsunami besar betul-betul terjadi (mudah-mudahan saja tidak), luluh lantaklah negeri Salido dan negeri-negeri lain di pesir barat Sumatera ini. Mungkin yang akan tetap terkenang dan lestari adalah lagu Anak Salido yang melankolis ini.
Saat itu menjelang shalat Subuh, saya sudah terbangun dari tidur. Lamat-lamat dari kejauhan terdengar kumandang lantunan bacaan dalam Bahasa Arab dari sebuah masjid. Sangat syahdu dan indah suaranya. Lantunan bacaan — yang kemudian saya ketahui sebagai sebuah shalawat — itu mengingatkan saya kembali ke masa lalu, masa-masa kecil di Padang. Dulu, ketika saya masih seusia SD, orangtua saya selalu rajin mengajak saya shalat Subuh di Masjid Istiqamah, terutama pada bulan Ramadhan. Dari rumah kami berjalan kaki menuju masjid yang jaraknya 400 meter. Dari kejauhan terdengar suara lantunan shalawat tadi mengiringi langkah kaki saya. Meskipun saya tidak tahu artinya, namun saya sangat meresapinya. Suara qori yang melantunkannya sangat indah, begitu terpesona saya mendengarnya. Wahai, siapa pemilik suara yang indah itu, apakah orangnya masih hidup? Semoga Allah SWT membalas kebajikannya karena telah mengalunkan shalawat yang membuat hati siapa pun bergetar mendengarnya.
Sekarang memori masa kecil itu kembali terbayang di kepala saya setelah mendengar bacaan shalawat tadi. Lama saya mencari-cari bacaan apa itu namun tidak bertemu. Untunglah dengan adanya internet dan Youtube, akhirnya saya berhasil memperolehnya jua. Belakangan saya baru tahu nama bacaan shalawat yang diputar di masjid tadi adalah Shalawat Tarhim (FYI, shalawat adalah bacaan yang berisi kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW). Apakah anda pernah mendengar bacaan shalawat yang syahdu tersebut, yang membawa anda terkenang ke masa lalu? Cobalah klik video di Youtube berikut ini:
Sungguh indah mendengarkan shalawat tadi, apalagi ditunjang oleh suara qori yang merdu. Hati merasa bergetar mendengarkannya, dan tanpa terasa mata saya jadi basah karena terharu. Shalawat Tarhim itu membuat saya terkenang pada ayah dan ibu yang telah mendidik saya dengan ajaran agama sejak kecil, terutama kepada almarhum ayah saya yang telah mengenalkan shalat subuh di masjid bersama-sama dari rumah. Ketika orang-orang masih terlelap dalam tidurnya, kami berjalan bersama-sama menuju masjid, dan Shalawat Tarhim tadi mengiringi langkah kaki kami menuju masjid.
Beginilah bunyi Shalawat Tarhim yang indah itu beserta terjemahannya (dikutip dari sini):
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ imâmal mujâhidîn yâ Rasûlallâh
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ nâshiral hudâ yâ khayra khalqillâh
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ nâshiral haqqi yâ Rasûlallâh
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ Man asrâ bikal muhayminu laylan nilta mâ nilta wal-anâmu niyâmu
Wa taqaddamta lish-shalâti fashallâ kulu man fis-samâi wa antal imâmu
Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman
Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman wa sai’tan nidâ ‘alaykas salâm
Yâ karîmal akhlâq yâ Rasûlallâh
Shallallâhu ‘alayka wa ‘alâ âlika wa ashhâbika ajma’în
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulullah
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
duhai penuntun petunjuk Ilahi, duhai makhluk yang terbaik
Shalawat dan salam semoga tercurahkan atasmu
Duhai penolong kebenaran, ya Rasulullah
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
Wahai Yang Memperjalankanmu di malam hari Dialah Yang Maha Melindungi
Engkau memperoleh apa yang kau peroleh sementara semua manusia tidur
Semua penghuni langit melakukan shalat di belakangmu
dan engkau menjadi imam
Engkau diberangkatkan ke Sitratul Muntaha karena kemulianmu
dan engkau mendengar suara ucapan salam atasmu
Duhai yang paling mulia akhlaknya, ya Rasulullah
Semoga shalawat selalu tercurahkan padamu, pada keluargamu dan sahabatmu.
Ambilkan bulan bu (2x)
yang s’lalu bersinar di langit
di langit bulan benderang
cahyanya sampai ke bintang
ambilkan bulan bu
untuk menerangi
tidurku yang lelap
di malam g’lap
Diantara lagu-lagu anak ciptaan AbdullahTotong Mahmud, atau yang lebih dikenal dengan nama A. Mahmud, lagu “Ambilkan Bulan Bu” itu yang paling berkesan bagi saya. Lagu sederhana namun sangat menyentuh. Klik video lagunya di YouTube ini.
Kemarin Allah SWT telah memanggil AT Mahmud ke haribaan-Nya karena sakit kanker paru-paru pada usia 80 tahun. Siapa yang tidak kenal dengan nama penulis lagu anak ini. Lagu-lagu anak yang diciptakanya berisi pesan moral yang mendidik. Sebut saja “Pelangi”, “Naik Kereta Api”, “Paman Datang”, “Libur Telah Tiba”, “Aku Seorang Kapiten”, “Amelia”, “Anak Gembala”, dan sebagainya. Anda pasti pernah menyanyikan salah satu lagu di atas. A.T Mahmud hanya dapat disejajarkan dengan (alm) Pak Kasur yang juga banyak menciptakan lagu anak-anak.
Bagi anak-anak, menyanyi adalah ekspresi yang menyenangkan dan natural. Hanya sayangnya, anak-anak saat ini sudah banyak direcoki dengan lagu orang-orang dewasa. Mereka lebih hafal lagu-lagu dari Afghan, d’Masiv, Kuburan, Naif, dan penyanyi yang tersangkut kasus video zina, Ariel Peterpan. Peserta kontes lagu anak di televisi juga lebih banyak menyanyikan lagu-lagu cinta ketimbang lagu seusia mereka.
A.T Mahmud, Kak Seto, dan lainnya adalah sedikit orang Indonesia yang peduli pendidikan moral bagi anak-anak lewat nyanyian yang sederhana, mendidik, tetapi menghibur. Sudah sangat jarang ada orang yang menulis lagu anak-anak yang bagus dan sederhana seperti A.T Mahmud. Selamat jalan A.T Mahmud.
Lamat-lamat dari pengeras suara di masjid terdengar suara anak-anak melantunkan doa khatam Quran (doa sesudah selesai membaca Al-Quran). Doa itu terdengar begitu syahdu, membuat kalbu bergetar. Inilah doa khatam Quran itu:
Allahummar hamna bil Quran
waj’alhu lana imaamau wa nuurau wa hudaw wa rahmah
Allahumma dzakkirna minhu maa nasiina
wa ’allimna minhumaa jahiilna
warzuqna tilaawatahu
aana al laili wa athrofannahar
waj’alhu lana hujjatan
Yaaa rabbal ‘alamiin
Artinya kira-kira begini:
Ya Allah kasih sayangilah daku
dengan sebab AlQuran ini
Dan jadikanlah AlQuran ini
sebagai pemimpin
sebagai cahaya
sebagai petunjuk
dan sebagai rahmat bagiku
Ya Allah ingatkanlah daku
apa-apa yang aku lupa dalam AlQuran
yang telah Kau jelaskan
dan ajarilah apa-apa yang aku belum mengetahui
Dan kurniakanlah daku
selalu sempat membaca AlQuran
pada malam dan siang hari
Dan jadikanlah AlQuran ini
sebagai hujjah bagiku
**********
Bagi anda yang pernah dididik di pesantren atau di Taman Pendidikan Alquran semasa kecil, tentu anda pernah melafalkan doa ini bersama-sama. Pengalaman masa kecil belajar agama menjadi terkenang-kenang.
Kemarin sore — ketika di kantor — saya mendengarkan siaran MQ FM dari radio kecil di atas meja saya. Sesudah pembacaan sebuah surat dalam Al-Quran, penyiarnya memutar sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Haddad Alwi dan Shila. Judul lagunya Rahmat Quran. Setelah saya simak ternyata bait-bait lagunya berisi doa khatam Quran itu dalam tiga bahasa (Arab, Inggris, dan Indonesia). Penasaran, saya cari-cari di Youtube video lagu ini, eh…ketemu. Klik video di Youtube di bawah ini yang menayangkan video lagu Rahmat Quran yang tidak lain berisi doa khatam Quran.
Berikut bait-bait lagu Rahmat Quran itu:
Rahmat Qur’an
( Haddad Alwi dan Shila )
Allah turunkan rahmat qur’an
jadikan Qur’an cahaya petunjuk kebenaran
Allah ingatkan kami
semua yang kami lalai, berikan ilmu yang bermanfaat
jadikan qur’an bacaan yang kami cinta
di malam dan siang
jadikan Qur’an penerang
Ya Robbal ‘alamin
Versi B. Inggris
Oh Allah bless us with al Qur’an
Make it our leader our light our guide and blessing
Allah remind us of what we forget and teach us what we don’t know
Oh my beloved Allah
Do al Qur’an as our reading all night and all day,
All night and all day
Make al Qur’an our foundation
Ya Robbal Alamin
Versi B. Arab
Allahummarhamna bil Qur’an
Waj’alhulana imamaw wa nurrow wahudaw wa rohmah
Allahumma dzakkirna min huma nasiina wa a’limna minhuma jahilna
Warzuqna tilawatahu aana
Allaili wa athrofannahar
Waj’alhu lana hujjatan
Ya Robbal ‘Alamin
Hari ini, 22 Desember 2009, adalah Hari Ibu. Setiap tanggal 22 Desember, kita selalu mengenang setiap perempuan yang telah melahirkan anak-anak, itulah ibu kita dan istri kita. Apa jadinya dunia ini tanpa anak-anak, karena anak-anaklah yang menghiasi dunia dengan derai gelak tawa mereka.
Anak saya yang paling bungsu, Fajar, 3 tahun, setiap hendak mau tidur selalu minta dinyanyikan lagu Timang-Timang. Sejak anak-anak masih bayi, saya memang selalu mendendangkan lagu itu sebagai pengantar tidur. Entah kenapa, setiap mendengarkan lagu Timang-Timang itu, atau setiap kali menyanyikannya mata saya selalu basah. Tak kuasa menahan air mata. Lagu Melayu lama karya Said Effendi itu lirik dan iramanya betul-betul sangat menyentuh. Mata saya jadi basah karena dua hal. Pertama, terkenang dengan pengasuhan ayah-bunda ketika saya masih kecil. Kata ibu saya, ayah saya suka berdendang ketika menidurkan anaknya. Kedua, sekarang setelah mempunyai anak sendiri, gantian saya yang menidurkan anak dengan menyanikan lagu itu hingga sang anak tertidur lelap.
Kemaren saya cari-cari lagu ini di Internet, ketemu videonya di YouTube. Jika pembaca belum pernah mendengar lagu ini, klik video di bawah ini atau langsung klik pranala di YouTube ini. Lagu Timang-Timang ini dinyanyikan oleh Koes Hendratmo. Lagu Timang-timang memang lebih pas dinyanyikan oleh suara pria dengan jenis suara agak berat diiringi dengan gesekan biola. Sebenarnya Koes Hendratmo belum begitu bagus menyanyikannya, tapi yaa.. lumayanlah .
Berikut lirik lagu Timang-Timang itu:
Timang-timang anakku sayang
Buah hati ayahnda seorang
Jangan nangis dan jangan merajuk sayang
Tenanglah tenang dalam buaian
Betapakah hati tak kan riang
Bila kau bergurau dan tertawa
S’mogalah jauh dari marabahaya
Riang gembira sepanjang masa
Ref:
Setiap waktu ku berdoa
K’pada Tuhan yang Maha Kuasa
Jika kau sudah dewasa
Hidupmu bahagia selamanya
Timang-timang anakku sayang
Kasih hati permata ibunda
Tidurlah tidur pejamkan mata sayang
Esok hari bermain kembali
Seorang mahasiswa saya yang sekarang sudah menjadi ayah berbagi pengalaman. Pernah pada suatu acara renungan pelatihan yang diikutinya, diputar lagu Timang-Timang ini. Biasanya dia susah menangis, tapi ketika diputar lagu ini, baru beberapa detik saja langsung nangis, dan tidak berhenti sampai lagu selesai. Cengeng ya, katanya. Ah tidak, kata saya, memang lagunya sangat menyentuh kalbu, jadi wajar saja jika begitu terharu.
Bagi para ayah bunda yang mempunyai anak yang masih kecil-kecil atau bagi calon ayah dan ibu, selamat menikmati lagu yang menyentuh ini. Selamat Hari Ibu.
Ada perasaan ganjil setelah Ramadhan dan Idul Fitri usai. Perasaan kehilangan. Siapapun tidak ingin suasana kondusif yang sudah dibangun dalam waktu lama, tiba-tiba harus ditinggalkan. Ketika rasa cinta mulai terbentuk, kita harus berpisah dengan yang kita cintai itu, siapa yang tidak sedih. Itulah bulan Ramadhan.
Tiba-tiba saja saya merasa ada kehilangan. Selama sebulan penuh kami melaksanakan ibadah puasa. Pagi dinihari kami sudah bangun untuk menyiapkan dan makan sahur, lalu menunggu waktu shalat subuh, kemudian tadarus Al-quran.
Sore hari, suasana jalanan macet karena semua orang beradu cepat agar sampai ke rumah untuk berbuka puasa. Sepanjang jalan menuju pulang, banyak pedagang dadakan yang menjual makanan untuk buka puasa. Mereka semua berusaha meraup rezeki berkah bulan puasa.
Malam hari, seusai shalat Isya, masjid dipenuhi orang untuk sholat tarawih. Kadang-kadang suara petasan yang memekakkan telinga terdengar dari luar masjid, seolah ikut menemani orang yang sedang shalat tarawih.
Televisi selama sebulan itu terlihat shaleh. Kata-kata penuh hikmah terlontar dari layar kaca sepanjang hari, siang dan malam. Jangan tanya soal artis dan presenter mereka, semua terlihat alim dalam balutan busana muslimah.
Ketika suara takbir menggema di malam hari, ada kesedihan yang merasuk. Oh, bulan Ramadhan segera berakhir. Mungkin sebagian orang merasa senang karena mereka tidak perlu capek lagi menahan lapar dan haus sepanjang hari. Oh, kalau begitu puasa seolah menjadi siksaan bagi sebagian orang. Seharusnya kita merasakan sebaliknya, merasa sedih ditinggalkan bulan Ramadhan dan rindu untuk bertemu lagi. Mengapa? Karena belum tentu umur kita panjang, belum tentu tahun depan kita ketemu lagi dengan bulan Ramadhan, dan belum tentu kita merasakan kembali suasana bulan Ramadhan yang syahdu. Semoga kita diberi umur panjang agar dapat bertemtu lagi dengan bulan Ramadhan tahun depan.
Saya jadi teringat lagu yang dinyanyikan oleh Bimbo, yang berjudul Setiap Habis Ramadhan (syair lagu: Taufik Ismail):
Setiap habis Ramadhan
hamba rindu lagi Ramadhan
saat-saat padat beribadah
tak terhingga nilai mahalnya
Setiap habis Ramadhan
hamba cemas kalau tak sampai
umur hamba di tahun depan
berilah hamba kesempatan
Setiap habis Ramadhan
rindu hamba tak pernah menghilang
mohon tambah umur setahun lagi
berilah hamba kesempatan
Reff:
Alangkah nikmat ibadah bulan Ramadhan
sekeluarga, sekampung, senegara
kaum muslimin dan muslimat se dunia
seluruhnya kumpul di persatukan
dalam memohon ridho-Nya.
~~~~~~~~
Taqaballahu minna wa minkum, shiyaamana wa shiyaamakum
Hari ini hari HUT kemerdekaan RI yang ke-64. Saya nggak kemana-mana, di rumah saja, sementara anak ikut lomba balap kelereng di halaman masjid dekat rumah. Di rumah ada pianika, dan saya suka memainkan pianika itu. Salah satu lagu yang saya sangat sukai untuk dimainkan adalah Timang-timang karya Said Effendi, sebuah lagu melankolik untuk menidurkan si buah hati.
Di rumah saya ada buku not musik yang memuat lagu-lagu perjuangan Indonesia. Salah satu lagu perjuangan yang paling sukai dimainkan degan pianika adalah lagu Tanah Air. Lagu ini sangat jarang diputar menjelang HUT kemerdekaan RI, namun ketika dinyanyikan dengan penuh penghayatan, niscaya akan basah mata ini karena begitu meresap syair dan musiknya di dalam jiwa. Saya mainkan pianika dan menikmati syairnya yang melankolis. Begini syairnya:
Tanah Air
Cipt: Ibu Sud
Tanah airku tidak kulupakan
kan terkenang selama hidupku
biarpun saya pergi jauh
tidak kan hilang dari kalbu
tanahku tak kulupakan
engkau kubanggakan
Walaupun banyak negeri kujalani
yang mahsyur damai dikata orang
tetapi kampung dan rumahku
disanalahku rasa senang
tanahku yang kucintai
engkau kuhargai
Kalau ingin dengar lagunya di YouTube, klik video di bawah ini:
Wah..wah…kalau lagu ini dimainkan atau diperdengarkan kepada orang-orang Indopnesia di luar negeri, saya yakin air mata mereka akan menitik karena membayangkan negeri elok tempat kampung halaman dan rumah berada, temnpat dimana ayah bunda ditinggalkan, tempat dimana anak dan istri (suami) menunggu. Rasa cinta tanah air itu justru muncul jika kita jauh di negeri orang.
Lagu perjuangan lain yang juga ikut mengharu biru perasaan adalah lagu yang berjudul Rayuan Pulau Kelapa karya Ismail Marzuki. Lagu ini biasanya dulu dijadikan lagu penutup siaran TVRI, entahlah sekarang apakah juga masih digunakan (jarang nonton TV, apalagi TVRI). Begini syairnya:
Rayuan Pulau Kelapa
Cipt: Ismail Marzuki
Tanah airku Indonesia
negeri elok yang amat kucinta
tanah tumpah darahku yang mulia
yang kupuja sepanjang masa
Tanah airku aman dan makmur
pulau kelapa yang amat subur
pulau melati pujaan bangsa
sejak dulu kala
Ref:
Melambai-lambai
nyiur dipantai
berbisik-bisik raja kelana
memuja pulau
yang indah permai
tanah airku
Indonesia
Jika lagu tersebut diputar dengan video klip yang menampilkan barisan pulau-pulau yang di-shoot dari angkasa, sembari memperlihatkan deretan pohon kelapa yang daunnya melambai-lambai ditiup angin (raja kelana), lalu ada rumah-rumah pondok dengan hamparan sawah membentang laksana permadani hijau, sungai-sungai yang airnya mengalir bersih, niscaya akan menambah kerinduan pada tanah air yang jauh.
Beberapa bulan yang lalu, tepatnya Desember 2006, saya mendapat anugerah dari Allah SWT berupa kelahiran anak yang ketiga. Namanya Fajar, karena dia lahir pada waktu menjelang subuh. Mendapat anak dari Allah SWT adalah rizki yang tidak terkira nilainya, tidak dapat diukur dengan harta sekalipun.
Seperti pada anak-anak saya yang lain, saya selalu menidurkan bayi dengan menyanyikan beberapa lagu pengantar tidur. Kalau dia rewel dan tidak mau tidur, atau ibunya sudah lelah mengasuhnya, saya gendong dia dalam dekapan. Sambil digendong dengan kedua tangan, dibuai-buai dengan cara mengayun perlahan, mulailah saya bernyanyi. Lagu pengantar tidur yang paling saya sukai adalah lagu klasik Melayu yang berjudul “Timang-Timang”. Syair lagu ini dikarang oleh almarhum Said Efendi, seorang komponis yang terkenal di era tahun 60-an. Begini bunyi syair lagu yang saya dendangkan itu:
Timang-timang anakku sayang
Kasih hati ayahnda seorang
Jangan nangis dan jangan merajuk sayang
Tenanglah tenang dalam buaian
Betapakah hati tak kan riang
Bila kau bergurau dan tertawa
S’mogalah jauh dari marabahaya
Riang gembira sepanjang masa
Ref: Setiap waktu ku berdoa
K’pada Tuhan yang Maha Kuasa
Jika kau sudah dewasa
Hidupmu bahagia selamanya
Timang-timang anakku sayang
Kasih hati permata ibunda
Tidurlah tidur pejamkan mata sayang
Esok hari bermain kembali
Klik video di Youtube di bawah ini untuk mendengarkan lagu tersebut:
Ajaib, anak saya seolah terhanyut dengan lagu tadi. Dia mulai terlelap di dalam dekapan ayahnya. Wajah bayi yang damai ketika dia tidur membuat hati menjadi tenang. Segera saya pindahkan dia ke dalam box-nya.
Setiap kali bayi mau tidur, saya selalu dendangkan lagu itu. Saya begitu terkesan dengan lagu ini karena ketika saya kecil, tetangga saya yang punya bayi mendendangkan bayinya sampai tertidur. Bayi diletakkan di dalam ayunan kain yang digantung di langit-langit rumah. Sambil mengayun-ayun buaian, si ibu mulai menyanyi. Menyentuh sekali. Meskipun beberapa kalangan di dalam Islam mengharamkan nyanyian, saya termasuk orang yang tidak selalu setuju dengan pandangan ini. Bernyanyi adalah ungkapan hati seorang manusia yang paling dasar, tentu saja selama nyanyian itu tidak mengandung syair maksiat atau membuat kita lalai kepada Allah SWT.
Kembali pada lagu pengantar tidur tadi. Kadang-kadang satu lagu saja tidak cukup membuat anak tertidur. Ada beberapa lagu Melayu lagi yang cukup syahdu yang saya dendangkan, antara lain “Dodoi si Dodoi” dan “Tidurlah Intan”:
1. Dodoi si Dodoi
Buah hatiku, hubungan jiwa (2x)
Tidurlah tidur hai anak, Pejamkan mata ya sayang (2x)
Dodoi si dodoi, aaaa…, dodoi si dodoi
Janganlah anak resah gelisah (2x)
Ayahmu jauh ya anak, di rantau orang ya sayang )2x)
Dodoi si dodoi, aaaa…, dodoi si dodoi
2. Tidurlah Intan
Tidurlah Intan
Tidurlah kekasih hati
Hari sudah malam
Picingkanlah mata
(2x)
Lihatlah ayah asyik bernyanyi-nyanyi
Agar kau bahagia di kala jauh hari
(kembali ke awal)
Jika kehabisan stok lagu Melayu dan bayi belum juga tertidur, saya coba dengan lagu Minang yang melankolis, yang menceritakan kerinduan kepada tanah kelahiran atau tentang orang yang dikasihi yang ditinggalkan di seberang lautan. Bahkan, saya tidak segan-segan mendendangkan tembang Jawa yang terkenal itu, yaitu “Yen Ing tawang Ono Lintang”:
Yen ing tawang ono lintang, cah bagus (catatan: kalau anak perempuan, cah ayu) aku ngenteni tekamu
marang mego ing angkoso, ingsun takokke pawartamu
Janji-janji aku eling, cah bagus
sumedhot rasane ati
lintang-lintang ngiwi-iwi, nimas
tresnoku sundhul wiyati
Yen ing tawang ana lintang, cah bagus
rungokno tangising ati
binarung swarane ratri, nimas
ngenteni mbulan ndadari
Dhek semono janjiku disekseni mego kartiko
kairing rasa tresna asih
Yen ing tawang ana lintang, cah bagus
rungokna tangising ati
binarung swaraning ratri
ngenteni mbulan ndadari
Di malam hari menyanyikan lagu-lagu itu memang menghanyutkan. Meskipun suara saya tidak terlalu bagus, tetapi seorang anak akan dekat dengan suara orangtuanya. Terasa lelah, memang, menggendong bayi sambil berdendang, tetapi hati menjadi bahagia melihat anak terlelap tidur. Sampai anak berumur 2 tahun saya masih meninabobokannya dengan lagu-lagu itu.