Kue Klappertaart Tanpa Rhum

Sewaktu pulang dari Manado, Sulawesi Utara, beberapa waktu yang lalu, saya dioleh-olehi teman kue klappertaart. Klappertaart adalah kue tar kreasi orang Manado yang sekarang banyak ditiru dan dijual di mana-mana. Di Bandung ada beberapa toko yang menjual klappertaart.

Dari namanya, klappertaart berarti tar kelapa. Klapper adalah plesetan dari kata kelapa. Bentuknya seperti kue pie, bahan-bahannya adalah terigu, susu, telur, dan potongan daging buah kelapa muda. Rasanya sangat enak, teksturnya lembut seperti kue srikaya. Daging buah kelapa muda di dalam kue menciptakan rasa seperti kue coconut yang khas. Kue ini lebih enak jika dimakan dalam keadaan dingin setelah disimpan di dalam kulkas.

Di Sulawesi Utara kelapa tumbuh di mana-mana. Dari atas pesawat yang akan mendarat di Bandara Sam Ratulangi kita dapat melihat dengan jelas pohon kelapa tumbuh di sepanjang daratan. Makanya tidak salah kalau provinsi ini disebut negeri nyiur melambai. Karena banyaknya produksi kelapa itulah maka menimbulkan ide bagi orang di sana membuat kue yang bernama klappertaart itu. Kue klappertaart sudah dimodifikasi sedemikian rupa sesuai dengan selera kontemporer, ada yang memakai keju, coklat, dan sebagainya. Klappertaart yang original tidak memakai keju, di atasnya ditaburi potongan buah kenari dan kacang mete, seperti foto di bawah ini:

Sebagai muslim kita harus berhati-hati jika mengkonsumsi kue klappertaart. Kebanyakan kue klappertaart – dan juga beberapa jenis kue lain — menggunakan bahan rhum sebagai penyedap kue. Rhum adalah minuman beralkohol, kandungan alkohol di dalam rhum termasuk tingkat tinggi yaitu sekitar 38%. Karena termasuk minuman keras maka memakan makanan yang mengandung rhum hukumnya haram, baik dalam jumlah sedikit atau banyak. Untuk lebih jelasnya silakan baca artikel ini (hukum mengkonsumsi makanan yang mengandung rhum).

Sejak tahu rhum itu minuman beralkohol yang hukumnya haram, saya tidak mau lagi makan kue sus dengan fla putih, salah satunya kue sus Merd*ka di Bandung. Dari bau flanya sangat jelas kue sus ini menggunakan rhum. Lain kali saya juga harus hati-hati memakan kue lain yang kemungkinan juga mengandung rhum.

Nah, untunglah tuan rumah di Manado bisa menemukan kue klappertaart yang tidak mengandung rhum. Kue tanpa rhum tersebut harus dipesan sehari sebelum kita ambil sehingga pembuatnya tahu kalau pembeli tidak menginginkan tambahan rhum pada kue. Tanpa rhum pun kue klappertaart rasanya tetap enak. Tidak ada bahan pengawet dan pewarna yang digunakan dalammembuat kue sehingga klappertaart ini sehat untuk dimakan.

Saya lihat dus kue pada foto di atas tertera label sertifikasi halal dari LPPOM MUI. Pemilik toko kue klappertaart ini sadar benar bahwa jaminan halal sangat penting untuk memberi rasa aman bagi wisatawan muslim yang berkunjung ke Sulawesi Utara, juga agar pangsa pasarnya lebih besar lagi sehingga dapat menjangkau berbagai kalangan yang lebih luas. Hanya saja saya tidak mengerti kenapa LPPOM-MUI bisa memberikan label halal kepada toko kue ini, bukankah pemiliknya juga memproduksi kue klappertaart yang mengandung rhum disamping order kue tanpa rhum? Jadi, label halal MUI itu untuk semua kue klappertaart atau yang khusus (tanpa rhum) saja?

Terkenang Daun Ruku-Ruku

Prof Amrinsyah, Guru Besar Teknik Sipil ITB, beberapa bulan lalu memberi saya bibit tanaman ruku-ruku. Saya menanamnya di dalam pot di pekarangan rumah. Tanpa perawatan yang berarti — apalagi saya tidak terlalu sering menjenguknya — tiba-tiba saja saya tersadar kemarin ketika memperhatikan deretan pot dekat tembok rumah. Ternyata tanaman ruku-ruku itu sudah besar dan tinggi, sebentar lagi ia akan berbunga.

Waaaahh.. saya merasa surprise. Anda tahu tanaman ruku-ruku? Ini tanaman yang digunakan sebagai bumbu masakan di Sumatera Barat. Ruku-ruku memiliki nama latin Ocimum tenuiflorum. Dia satu keluarga dengan daun kemangi di Jawa Barat, yaitu dari keluarga Lamiaceae dengan Genus Ocimum.

Tanaman ruku-ruku biasanya diambil batang dan daunnya saja, biasanya digunakan oleh ibu-ibu di Ranah Minang untuk memasak gulai ikan. Fungsinya adalah sebagai penyedap dan pengharum masakan, sama seperti fungsi daun kemangi yang digunakan untuk membuat pepes ikan di kalangan orang Sunda. Dibandingkan dengan daun kemangi, daun ruku-ruku baunya lebih wangi. Setahu saya tanaman ini memang hanya ada di Sumatera Barat, saya belum menemukannya di tanah Jawa. Anda bisa membaca tulisan ini untuk membandingkan ruku-ruku dengan daun kemangi.

Di rumah kami di Padang, (alm) ibu saya menamam tanaman ini di pekarangan rumah. Setiap kali memasak gulai ikan ibu pasti memetik beberapa helai daun ruku-ruku. Seperti inilah gulai ikan yang diberi daun ruku-ruku (foto diambil dari sini):

Tidak hanya untuk gulai ikan, tetapi daun ruku-ruku juga dipakai untuk memasak gulai pensi. Pensi adalah tiram endemik yang hanya terdapat di Danau Singkarak. Kalau membayangkan pensi, menitik air liur saya. Entah kapan saya bisa makan nasi dengan pensi lagi. Seperti ini bentuk gulai pensi (gambar diambil dari sini):

Ondeh, lamak bana! Setiap kali melihat tanaman ruku-ruku itu saya teringat dengan almarhum ibu saya. Oh, Ibu, semoga Allah melapangkan tempatmu di alam barzah sana dan memasukkanmu ke dalam syurga. Amiin.

Lontong Padang Berlauk Rendang

Di kota Bandung ini cukup banyak pedagang kaki lima yang menjual makanan khas Minang bernama lontong (ketupat) sayur. Mungkin karena di Di Bandung banyak perantau “urang awak” yang bekerja sebagai pedagang, pegawai, dan mahasiswa. Soal urusan perut mereka pasti akan mencari-cari makanan kampung halaman seperti ketupat sayur. Ketupat sayur adalah sarapan pagi seperti halnya bubur ayam atau nasi kuning di Bandung. Ketupat yang khas adalah katupek gulai paku, yaitu ketupat dengan sayur gulai pakis. Jarang-jarang di Bandung ketemu gulai paku ini.

Nah, saya sudah mencoba banyak ketupat sayur dari berbagai pedagang. Selama ini ketupat sayur yang maknyus dan mantap rasanya adalah ketupat sayur Ombak Piaman di Jalan Kuningan raya, Antapani (pertigaan dengan Jalan Cibatu), dekat rumah saya. Pedagangnya seorang ajo Piaman (julukan daerah Pariaman di Sumbar). Khas ketupat sayur ini adalah kuahnya yang kental. Sayurnya adalah gulai nangka muda yang berwarna kuning kemerahan dan gulai buncis yang berwarna hijau.

Ternyata ada lagi ketupat sayur yang enak dan mantap rasanya, yaitu ketupat di kedai Dapur Minang Lima Saudara di Jalan Bagusrangin (dekat jalan Dipati Ukur). Pedagangnya bernama Ajo Herman, asal dari Pariaman juga tepatnya dari Sungai Garinggiang, Kabupaten Pariaman, Sumbar (kebanyakan pedagang ketupat sayur memang berasal dari Pariaman, baik yang berjualan di Padang maupun yang di tanah rantau). Sudah 3 tahun Ajo Herman berjulan di Bandung, sebelumnya dia sudah mencoba berdagang yang sama di Padang lalu di Jabotabek.

Di kedai Ajo Herman ini tidak hanya menjual ketupat sayur, hampir semua makanan dan jajanan khas Minang ada di sana. Ada bubur kampiun, kacang padi (bubur kacang hijau), teh talua (teh pakai telur), sarikayo (srikaya), goreng pisang rajo + katan (ketan), lapek, lupis, dan lain-lain. Wah, benar-benar lengkap ya, benar-benar palapeh lambuang, kanyang rasonyo makan di sana.

Yang menarik adalah ketupat sayurnya pakai rendang. He..he, baru kali ini saya menemukan ketupat sayur padang pakai daging rendang, di negeri asal makanan itu sendiri ketupat sayur tidak pakai apa-apa, hanya ketupat dan gulai sayur saja. Di Bandung ketupatnya dapat ditambahi telur ayam, tetapi di kedai Ajo Herman ini ketupatnya pakai rendang seperti foto di bawah ini. Menarik, bukan? Ide yang brilian juga mengkombinasikan ketupat sayur dengan rendang.

Hmmm…. mau? Dari tampilannya saja sudah menggugah selera.

Selain pakai rendang, ada juga ketupat gulai tunjang, selain tentu saja pakai telur. Harganya sepuluh ribu kalau pakai rendang, kalau pakai telur tujuh ribu, dan kalau hanya ketupat sayur saja lima ribu. Tidak terlalu mahal saya kira, pas dengan kantong mahasiswa yang menjadi pelanggan utamanya. Gulai sayurnya adalah gulai nangka dan gulai buncis tauco. Rasa gulai sayurnya pas di lidah, terutama gulai buncis tauconya, persis seperti gulai buncis tauco khas minang umumnya. Setiap hari Senin dan Jumat kadang-kadang ada gulai paku (pakis). Sayur pakisnya bukan sayur dari kebun, tetapi pakis yang didatangkan dari hutan daerah Pangandaran. Sayur pakis yang pas dibuat gulai paku memang pakis hutan.

Pelanggan kedai Ajo Herman ini banyak juga ternyata. Yang makan di sana ternyata bukan orang Minang saja, banyak juga pelangan asal daerah lain. Mungkin karena masakan minang itu cocok di lidah siapa saja. O iya, kedai ini buka dari pagi hingga pukul 12 siang. Kalau anda berada di daerah Bandung Utara, sempatkan singgah makan di warung Lima Saudara ini.

“Karupuak Jariang” (Emping Jengkol), Si Penambah Selera Makan

Saya bukan penggemar jengkol, sejenis sayuran yang mendatangkan bau khas di mulut dan di toilet. Namun kalau emping jengkol, waaahhh… suka banget. Emping jengkol atau bahasa Minangnya karupuak jariang adalah sejenis kerupuk emping yang terbuat dari jengkol. Rasanya sepat-sepat seperti emping melinjo. Karupuak jariang ini lebih enak jika ditambahi samba lado (cabe merah), maka selera makan dijamin bakal hemmmm….. Saya bisa batambauh (nambah) makan jika pakai karupuak jariang ini.

Karupuak jariang sudah menjadi makanan biasa di Padang, tetapi jarang ada yang menjualnya di Bandung. Eh, sebuah rumah makan kaki lima di depan Unpad sering menyediakan menu ini, sepertinya didatangkan langsung dari Padang. Langsung saya beli saja, trus di rumah dimakan dengan nasi plus samba lado kapau, lebih heboh lagi pakai lalap ketimun atau daun singkong. Waah, wah, mantaps. Makan pakai itu saja sudah enak

Sekelumit Cerita Kehidupan di dalam Ikan Nila Bakar “Bang Themy “

Sekali seminggu dalam perjalanan pulang dari kantor, saya sering menyinggahi kedai ikan bakar Bang Themy untuk membeli ikan nila bakar sebagai lauk makan malam di rumah. Kedai ikan nila bakar Bang Themy terletak di Jalan Terusan Jakarta, Bandung, dekat perbatasan daerah Arcamanik (setelah terminal Antapani).

Rasa ikan bakar di kedai ini berbeda dengan ikan bakar yang lain, perbedaannya terletak pada bumbu yang digunakan. Ikan nila dibakar di kedai Bang Themy memakai bumbu khas Minang (orang sering menyebutnya sebagai bumbu Padang). Kalau saya amati, bumbunya adalah paduan santan kental dan aneka bumbu dapur seperti bawang, jahe, kunyit, laos, dan lain-lain. Bumbu-bumbu inilah membuat rasa ikan bakarnya enak dan gurih.

Untuk mendapatkan rasa ikan bakar yang mantap dan enak, maka ikan nila di kedai ini dibakar tiga kali. Pada pembakaran pertama, ikan nila yang sudah dibelah hanya diolesi (menggunakan kuas) dengan minyak goreng yang sudah diberi bumbu khusus, kemudian dibakar di atas bara api sampai dagingnya setengah matang dan air di dalam tubuh ikan menguap. Pada pembakaran kedua, ikan diolesi bumbu santan tadi tetapi agak tipis, lalu dibakar lagi sampai matang. Setelah pembakaran kedua, ikan-ikan tadi beserta alat pemanggangnya dipajang dengan cara menggantung seperti pada foto di atas sambil menununggu pembeli yang datang. Siapapun yang lewat di depan kedai dan melihat ikan bakar yang tergantung tadi pasti terbit air liurnya karena bentuk ikan bakar hasil pembakaran kedua ini sangat menggoda selera.

Pembeli memilih ikan nila bakar yang disukainya, selanjutnya ikan nila hasil pembakaran yang kedua tadi dibakar untuk ketiga kalinya. Sebelum dibakar, ikan dioles lagi dengan bumbu yang lebih tebal. Pembakaran yang ketiga bertujuan untuk menambah sensasi aroma bakar dan menciptakan rasa ikan bakar dengan bumbu gurih yang lezat.

Satu ekor ikan nila bakar harganya bervariasi dari Rp14.000 hingga Rp22.000, bergantung besar kecilnya ikan. Selain ikan nila di kedai itu juga ada ayam bakar dan ikan gurami bakar, tetapi yang khas ya ikan nila itu. Ikan nila bakar bisa dimakan di sana dengan nasi hangat atau dibawa pulang. Sebagai pelengkap makan, ikan dimakan dengan sambal cabe hijau dan lalap sayur waluh, kacang panjang, irisan tomat, dan ketimun. Yuk, kita makan ikan bakarnya.

Bang Themy, lelaki Minang pemilik kedai ikan bakar itu, beristrikan wanita asal Sumedang. Sehari-hari istrinya yang membantu di kedai. Kebetulan anak Bang Themy ini satu sekolah dengan anak saya di SD Muhamadiyah. Saya menilai Bang Themy sebagai seorang lelaki yang gigih. Dia mencari sendiri ikan nila itu ke sentra budidayanya di daerah Subang. Subang terletak di balik gunung Tangkubanperahu dan dikenal sebagai penghasil ikan nila terbaik di Jawa Barat. Setiap minggu dengan sepeda motornya Bang Themy pergi ke daerah Subang yang berjarak satu jam lebih perjalanan. Ikan-ikan nila yang ada di tambak dipilihnya sendiri dan ditangkap sendiri. Jadi, bukan petani tambak yang mengambilkan ikan, tetapi dia sendiri yang terjun ke dalam tambak untuk memilih ikan nila yang gemuk-gemuk, menangkapnya, lalu membayar ke pemilik tambak seharga ikan nila yang dia ambil.

Ketika saya tanya, kenapa tidak menunggu ikan nila diantarkan saja ke Bandung oleh pemasok, daripada capek datang jauh-jauh ke Subang? Bang Themy tidak mau, sebab belum tentu ikan nila yang diantarkan itu berkualitas bagus atau kecil-kecil, harus dia sendiri yang memilihnya. Saya pikir itu prinsip pemasaran yang bagus, kalau ingin pelanggan puas ya harus memberikan produk terbaik, bukan ecek-ecek atau asal-asalan. Kan banyak orang yang berdagang makanan hanya untuk mencari untung semata tetapi tidak memikirkan kualitas masakan atau makanannya. Jangan harap pelanggan akan setia atau datang lagi-datang lagi.

Kalau ikan nila lagi kosong di sentra produksi di Subang, Bang Themy memilih tidak berjualan. Dia tidak mau membeli ikan nila di pasar. Begitu juga kalau dia lagi sakit berarti tidak ada ikan, sebab tidak ada yang menjemput ikan ke Subang, otomatis kedainya juga tutup sementara. Makanya saya nilai dia seorang penjual makanan yang konsisten menjaga kualitas dagangannya. Garis-garis tua di wajahnya menandakan kerasnya kehidupan yang telah dijalaninya. Semoga ikan bakarnya tetap laris karena nafkah keluarganya berasal dari situ, dan saya masih dapat terus menikmati ikan nila bakarnya yang enak itu.

Menikmati Teh Srilanka

Teman saya yang menjadi diplomat di Kedubes RI di Colombo, Srilanka, beberapa waktu yang lalu pulang ke tanah air. Dia membawakan saya oleh-oleh berupa teh. Wah, tahu sendiri kan, Srilanka adalah penghasil teh terbaik di dunia. Teh di Srilanka ditanam pada daerah ketinggian yang berbeda-beda, untuk setiap elevasi ketinggian rasa tehnya juga tidak sama.

Nah, teh yang dibawakannya ada bermacam-macam, salah satunya teh seduh bermerek Dilmah. Saya seduh teh ini untuk minuman satu gelas.

Rasanya, wah…. agak beda dengan teh kita. Rasa teh Srilanka sangat kuat, agak sedikit pahit sepat gitu, tapi enak lho. Saya bagi-bagi teh ini kepada teman-teman di kantor, komentar mereka juga sama, enak.

Saya suka minum teh tawar (tanpa gula). Biasanya saya minum teh sambil makan nasi. Nasi panas-panas, dimakan dengan lauk dan sambal, temannya adalah segelas teh panas, mantaap! Saya ingin membiasakan lagi tradisi minum teh ini, karena minum teh itu menyehatkan. Teh mengandung antioksidan yang bermanfaat untuk membuang racun dalam tubuh kita dan membuat stamina tubuh tetap sehat.

Makan Mie Goreng di Gampoeng Aceh

Kemarin anak saya yang sulung pesan minta dibelikan mie goreng Aceh. Baiklah, dia memang sangat suka makan mie goreng Aceh ini. Pulang dari ITB jam 17.00 saya segera meluncur menuju kedai Gampoeng Aceh yang terletak di jalan Dago di samping Hotel Holiday Inn Bandung. Gampoeng artinya kampung, jadi Gampoeng Aceh maksudnya kampung Aceh. Di Bandung cukup banyak kedai mie goreng khas Aceh, salah satunya Gampoeng Aceh itu. Saya mencatat kehadiran pedagang mie goreng Aceh mulai menjamur di kota Bandung pasca tragedi tsunami yang memilukan di akhir tahun 2004. Sejak itu nama Aceh menjadi terkenal di seluruh dunia, dan sejak itu pula ekspansi perantau dari Aceh ke kota Bandung cukup besar jumlahnya.

Kedai Gampoeng Aceh dirancang seperti kafe. Banyak anak muda suka mangkal di sana, apalagi pada malam minggu. Maklumlah lokasinya di Jalan Dago yang terkenal sebagai tempat nongkrong anak muda setiap malam, khususnya pada akhir pekan.

Macam-macam makanan khas Aceh yang dijual di sana. Ada martabak Aceh (yang sebenarnya mirip dengan telur dadar), roti cane, gulai kari, dan sebagainya. Nah, saya mau makan roti cane (canai) dulu ah sebelum pulang. Roti cane adalah roti khas India/Timur Tengah. Roti ini dimasak di atas wajan datar, ketika hampir matang roti tersebut digebuk hingga pipih. Hancur deh, tapi disitu pula nikmatnya. Rasanya agak asin. Roti cane bisa dimakan dengan gulai kari, atau kuah sop. Tetapi sekarang variasi pendamping makan roti cane sudah lebih bervariasi, bisa pakai keju, coklat, dan sebagainya, mengikuti selera anak muda zaman kini. Karena saya ingin makan roti cane saja tanpa embel apapun, maka pelayan menyediakan gula pasir jika ingin rotinya terasa agak manis.

Di Padang juga ada roti cane semacam ini, biasanya dijual pada pedagang martabak mesir/martabak Kubang. Sekarang pedagang martabak Kubang ada di mana-mana. Di Jakarta martabak Kubang yang terkena di Jalan Saharjo sehingga sering disebut Kubang Saharjo. Kalau di Bandung martabak kubang ada di Jalan Terusan Jakarta (baca tulisan saya terdahulu tentang martabak Kubang di Bandung).

Makan roti cane tentu tidak lengkap tanpa minum. Nah, saya minta dihidangkan minuman khas Aceh yang bernama es timun. Es timun terbuat dari serutan buah ketimun (Sunda: bonteng), diberi air, gula, dan es batu, ahhhh… segar rasanya.

Dulu semasa kecil di Padang saya sering minum es timun. Biasanya es timun dibuat orang pada bulan puasa sebagai minuman pembuka puasa. Jadi terkenang masa kecil nih…

Nah, mana pesanan anak saya? Oh, ini dia sudah datang, mie goreng Aceh. Mie goreng Aceh adalah mie goreng yang dicampur dengan sayur tauge dan dimasak dengan bumbu khas Aceh. Saya pernah baca bahwa di Aceh sendiri makanan mie goreng ini sudah menjadi makanan sehari-hari. Rasa mie goreng Aceh sangat khas, mienya bulat dan berukuran cukup besar. Mantaplah pokoknya. Selain mie goreng juga ada nasi goreng khas Aceh, cuman saya lebih suka mie goreng daripada nasi goreng. Nasi gorengnya agak kering, masih kalah dengan rasa nasi goreng khas Minang/Padang di Pasar Simpang dago. .

Yuk, ah, saya mau pulang dulu. Anak saya di rumah tentu sudah menanti-nanti mie goreng Aceh kesukaannya. Jika ingin lebih lengkap, pulang ke rumah melewati Jalan Aceh yang rindang dan sejuk. Nama Aceh memang sudah melekat di hati orang Bandung sejak zaman dulu, sampai-sampai diberi nama jalan di wilayah kota yang banyak bangunan militernya.

Bila Sarjana Informatika ITB Jualan Mie Kocok

Alumni Informatika (IF) ITB jualan mie kocok Bandung? Apa sudah tidak ada lagi pekerjaan di bidang informatika (IT) yang bisa dikerjakan alumni, he..he? Apakah proyek pembuatan perangkat lunak sudah sepi order sehingga alumni IF ITB banting stir jualan mie kocok? Bukan saudara-suadra, tentu saja bukan karena itu alasannya. Bidang informatika masih tetap termasuk “madece” alias masa depan cerah. Proyek di bidang teknologi informasi tidak habis-habisnya, selalu saja banyak permintaan untuk mengerjakan proyek di bidang ini. Lalu, kenapa ada lulusan Informatika jualan mie kocok Bandung? (Emangnya nggak boleh?, ha..ha)

Kemarin sore saya menyinggahi warung mie kocok Bandung yang dikelola oleh lulusan Informatika, mantan mahasiswa saya dulu. Namanya Doni Hernawan, dulu Informatika ITB angkatan 1996. Doni ini men-tag saya di fesbuk pada gambar lokasi warung mie kocoknya yang bernama Larizo. Ia mengabarkan bahwa dirinya sekarang berjualan mie kocok di jalan Rontgen, pertigaan Jalan Dr. Radjiman. Setengah berrpromosi dia menceritakan mie kocoknya ini beda dengan mie kocok yang yang lain, kuahnya lebih kental sebab berisi kaldu dan sumsum tulang sapi sehingga terasa gurih. Daging kikilnya juga asli, katanya (Emang ada kikil yang palsu?, tanya saya. Ada, kata Doni, yaitu kikil yang terbuat dari kulit sapi yang biasanya digunakan untuk membuat sepatu. Sampah kalau gitu.).

Wah..wah..wah, siapa yang tidak ngiler mendengar promosi mie kocoknya ini, apalagi saya ini seorang pencinta dan pengamat kuliner. Lebih menarik lagi dia mantan mahasiswa saya dulu di Informatika ITB, kok jualan mie kocok? Ada yang “salah” kah dengan pendidikannya di Informatika? He..he..he… . Saya pun meluncur ke lokasi yang dia sebutkan. Penasaran. Tidak susah mencari warungnya itu yang terletak di depan Dinas Pendidikan Kota Bandung.

FYI, mie kocok adalah jajanan khas Bandung sehingga sering dinamakan mie kocok Bandung. Bentuknya mirip mie bakso, tetapi ada beberapa perbedaan. Mie kocok Bandung ini kuahnya adalah kaldu dan sum-sum dari kaki sapi dan kikil yang direbus dengan bumbu-bumbu (makanya sering dinamakan “mie kocok kaki sapi”). Urang Sunda sangat doyan makan kikil (hati-hati kolesterol lho, he..he). Oh ya, mienya juga khusus yaitu mie gepeng. Nah, untuk menghidangkan satu mangkok mie kocok Bandung, mie dicampur dengan sayur tauge, bawang daun, bawang goreng, selederi, tongcai, lalu ditambah dengan kikil sapi yang dipotong dadu. Selanjutnya campuran tadi disiram dengan kuah kaldu, tambahi perasan jeruk, sambal cabe rawit, dan kecap. Mantaaapp! Mie kocok ini dimakan selagi panas ditemani es jeruk atau teh hangat. Karena Bandung berhawa sejuk/dingin maka mie kocok ini populer sebagai pengisi kehangatan selain makan mie bakso, batagor, dan minum bajigur tentunya. Tidak heran pada resepsi pernikahan di Bandung selalu ada stand mie kocok yang diserbu tamu undangan. Di Bandung mie kocok yang terkenal itu terletak di Jalan Macan (dekat Jalan Banteng) dan di jalan Kebon Jukut.

Kembali ke mie kocok Larizo milik si Doni ini. Segera saja saya dihidangkan semangkok mie kocok. Karena saya tidak suka kikil, maka saya minta mie kocok pakai bakso saja, nggak pakai kikil. Wah, sudah tidak sabar saya ingin mencicipi mie kocok Doni ini. Hmm… baru dimakan satu dua sendok, memang terasa gurih. Gurihnya bukan karena bumbu penyedap, tetapi berasal dari kuah kaldunya yang kental litu. Enak, euy, mantap. Ternyata resep mie kocok ini hasil eksperimen ibunya Doni yang memang hobi memasak. Cerita si Doni, warung mie kocok ini dia yang memodali, sementara yang memasak adalah ibunya, jadi boleh dibilang ini usaha keluarganya.

Ini mie kocok Larizo, potongan yang putih-putih itu adalah kikil sapi:

Hei Don, apakah kamu memang kerjanya cuma jualan mie kocok?, tanya saya. Ternyata tidak juga, jualan mie kocok hanya usaha sampingan. Doni ini masih tetap “on the track” di bidang Informatika, dia punya perusahaan konsultan IT bareng teman-temannya, proyeknya di bidang GIS. Sekali-sekali saja dia datang ke warungnya untuk memantau perkembangan usaha jualan mie kocok. Sudah ada yang mau jadi waralaba, katanya senang. Saya pun ikut senang. Oh iya, saya jadi ingat, mantan mahasiswa saya bernama Latif angkatan 1999 juga saya dengar jualan mie bakso di Bandung, tetapi saya belum pernah coba baksonya itu. Rasa-rasanya jualan bakso ini lebih menyenangkan daripada coding deh…

Ini Doni di depan warung mie kocoknya. Mana yang sapi dan mana Doni nih? He..he…

Slurp, slurp…olala, mie kocok Bandung sudah habis saya makan. Karena enak, saya pesan dua bungkus lagi untuk anak dan sitri di rumah. Harganya juga tidak terlalu mahal, antara Rp10.000 sampai Rp13.000 per porsi. Saya rekomendasikan nih mie kocok Larizo ini kalau anda sempat melewati jalan-jalan yang bernama para dokter itu, boleh dicoba rasanya memang beda dengan mie kocok yang pernah saya coba.

Cobalah Makan di R.M “Malah Dicubo”

Sudah lama saya tidak menulis soal kuliner. Yap, kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya makan di rumah makan padang yang patut dicoba. Namanya Rumah Makan “Malah Dicubo”, yang kalau di-Indonesiakan artinya “marilah dicoba”. Kata “malah” memang tidak ada artinya dalam Bahasa Minang, tetapi saya yakin pemiliknya bemaksud menulis kata “marilah” namun disingkat “malah” saja.

Letaknya “tersembunyi” nun di dalam terminal Stasiun Hall, agak dipojok gitu, persis di selatan Stasiun Kereta Api Bandung. Meskipun letaknya tidak di pinggir jalan, tetapi siapa sangka jika rumah makan ini pernah disinggahi oleh para tokoh, pejabat, dan artis. Tercatat Pak Jusuf Kalla pernah makan di sana, juga para seleb lainnya. Saya tahu hal itu dari teman yang pertama kali mangajak makan siang di sana. Dari segi fisik sih sebenarnya rumah makan ini biasa-biasa saja, tidak ada istimewanya, begitu juga penyajian masakannya dalam panci dan piring besar seperti laiknya rumah makan padang.

Namun, penampilan boleh biasa, tetapi rasa yang berbeda. Orang datang makan ke suatu tempat kan tidak melihat bangunan fisik rumah makannya, tetapi apa yang disajikan di sana, bagaimana rasanya, sehingga membuat terpikat dan ingin datang lagi, datang lagi.

Apa sih menu andalan di rumah makan padang yang satu ini? Tak lain adalah dendeng batokok dengan sambal cabe hijau yang banyak kuah minyaknya. Dendeng batokok memang sudah hal biasa di rumah padang manapun, tetapi yang membedakan adalah rasanya. Tercatat dendeng batokok Rumah Makan Simpang Raya di Padang dan di Bukittinggi yang saya nilai sebagai dendeng batokok yang benar-benar asli dan yahud, tetapi dendeng batokok di RM Malah Dicubo ini rasanya memang mantap. Daging dendeng digoreng setengah matang, lalu angkat kemudian dipukul-pukul (bahasa Minang: ditokok) sampai memar (mirip seperti gepuk di Jawa, tetapi yang ini lebih tipis). Selanjutnya dendeng batokok tadi dibakar di atas bara api untuk menciptakan sensasi harum.

Untuk menikmati dendeng tadi, dendeng batokok harus dimakan dengan sambal cabe hijau. Cara menumis sambal hijaunya cukup unik. Cabe hijau digiling kasar dengan garam, bawang merah dan sedikit bawang putih, lalu ditumis dengan minyak goreng yang cukup banyak. Saat ditumis tambahkan irisan tomat hijau segar dan daun jeruk. Menumisnya tidak usah terlalu lama, cukup sebentar saja (1/2 matang), maka hmmmm…. wangi sambalnya membuat selera makan bangkit. Sambal cabe hijau ini lantas disiram ke atas dendeng batokok dan siap dimakan dengan nasi hangat dan gulai sayur nangka. Mantap….!

Yuk, kita makan dengan dendeng batokok khas rumah makan ini. Saya bisa nambah nih makannya, bahkan jika daging dendengnya sudah habis, nasi dengan sambal cabe hijau yang tersisa saja enaknya juga mantap abisss gan.

Selain dendeng batokok, gulai ikan dan soto padangnya juga mantap. Ayo dicubo, eh dicoba makan di rumah makan dipojok terminal Stasiun Hall itu.

Gehu Pedas “Hot Jeletot”, Buruan Orang Untuk Berbuka Puasa

Pada bulan puasa ini, saat-saat yang mengasikkan adalah berburu makanan untuk berbuka puasa. Berbuka puasa dengan kolak atau kurma itu sudah biasa, tetapi dengan gorengan tahu pedas, maka itu baru tidak biasa.

Di Bandung, gorengan semacam bala-bala dan gehu (singkatan dari “toge di dalam tahu”) sudah menjadi makanan pengganjal perut kala sore atau malam hari. Nah, gorengan yang terakhir, gehu, tiba-tiba menjadi buruan orang ketika berbuka puasa. Gehu adalah tahu goreng yang di dalamnya diisi dengan sayuran toge (tauge) dan wortel. Sebelum digoreng, gehu ini dimasukkan ke dalam adonan tepung, lalu digoreng hingga garing. Dimakannya dalam keadaan panas dengan cabe rawit.

Biasa saja sih sebenarnya gehu ini, kita sering menemukan gorengan tersebut pada penjual gorengan yang banyak berjualan di pinggir jalan. Namun, entah siapa yang memulai, gehu ini dimodifikasi menjadi gehu pedas, sehingga memakannya tidak perlu lagi sambal atau cabe rawit. Rasa pedas ditimbulkan oleh sayuran di dalamnya yang sudah dicampur dengan sambal cabe rawit. Orang Indonesia mana yang tidak doyan pedas, sekali makan akan ketagihan. Akhirnya, gehu pedas dicari banyak orang untuk berbuka puasa.

Selama bulan puasa ini saya melihat banyak sekali muncul pedagang gehu pedas bagai jamur dimusim hujan (emang lagi hujan nih Bandung setiap hari). Berjejeran sepanjang jalan. Biasalah orang Indonesia, cepat sekali meniru jika ada yang jualannya laris. Pada gerobaknya ditambahkan kata “pedas” untuk menarik pembeli. Jika hanya gehu biasa saja, kurang laku, tetapi kalau gehu pedas, maka banyak orang yang antri untuk membelinya.

Seperti penjual gehu pedas yang menamakan gehu pedasnya hot jeletot. Apa ya artinya? Campuran bahasa Inggris dan bahasa Sunda, Hot = panas, jeletot = sensasi yang ditimbulkan oleh rasa pedas. Pedagang gehu ini sehari bisa menjual sampai 600 buah gehu, itu pun masih kurang karena banyak pembeli yang tidak kebagian. Gehunya menjadi istimewa karena di dalam campuran sayur toge dia tambahkan irisan daging sapi kecil-kecil. Satu buah gehu pedas dijual Rp2000. Yang beli terpaksa harus antri panjang di belakang gerobaknya.

Kerennya lagi, si pedagang punya situs web, www.hotjeletot.com seperti yang tertulis di gerobaknya. Tetapi, ketika saya klik tidak bisa diakses. Sambil antri di belakang gerobak, saya memotret gehu yang sedang digoreng. Oh ya, pedagang gehu pedas hot jeletot ini mangkal di depan Alf*m*art di Jalan Indramayu, Antapani.

Akhirnya tiba giliran saya, kebagian juga akhirnya setelah kemarin gagal membelinya karena sudah habis. Ini dia setelah empat gehu pedas ditaruh di dalam piring.

Hmm… minyaknya masih banyak yang nempel, seharusnya setelah digoreng ditiriskan dulu, tetapi karena pembeli tidak sabar, baru keluar dari wajan langsung diminta.

Allahu akbar allahu akbar… Oh, sudah adzan maghrib, tanda waktu untuk berbuka puasa. Langsung deh gehu pedas hot jeletot ini disambar. Memang rasanya hot dan jeletot. Hemmm….