<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Catatanku &#187; Makanan enak</title>
	<atom:link href="http://rinaldimunir.wordpress.com/category/makanan-enak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rinaldimunir.wordpress.com</link>
	<description>Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 07 Jan 2010 07:59:13 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='rinaldimunir.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/02f88ff696dff6961cd8a2f32e0547d0?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Catatanku &#187; Makanan enak</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rinaldimunir.wordpress.com/osd.xml" title="Catatanku" />
		<item>
		<title>&#8220;Rendang Runtiah&#8221;, Rendang Padang Laksana Abon</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/11/21/rendang-runtiah-rendang-padang-laksana-abon/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/11/21/rendang-runtiah-rendang-padang-laksana-abon/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 08:39:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ranah Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan enak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=1891</guid>
		<description><![CDATA[Ini oleh-oleh yang tersisa waktu pulang ke Padang pasca gempa yang lalu. Ketika membeli oleh-oleh di toko keripik balado Christine Hakim di Jalan Nipah (suer, ini bukan artis film Cut Nyak Dien itu lho, tetapi orang Tionghoa-Padang yang namanya kebetulan sama dengan artis film itu), saya menemukan kemasan rendang yang unik yaitu rendang runtiah. Saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1891&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ini oleh-oleh yang tersisa waktu pulang ke Padang pasca gempa yang lalu. Ketika membeli oleh-oleh di toko keripik balado <em>Christine Hakim</em> di Jalan Nipah (<em>suer</em>, ini bukan artis film <em>Cut Nyak Dien</em> itu lho, tetapi orang Tionghoa-Padang yang namanya kebetulan sama dengan artis film itu), saya menemukan kemasan rendang yang unik yaitu <em>rendang runtiah</em>. Saya tidak sempat memfoto <em>rendang runtiah</em> ini sebab di rumah sudah keburu habis <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> , tetapi di internet saya temukan gambar kemasan <em>rendang runtiah</em> yang saya beli:</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/11/rendang-runtiah.jpg"><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/11/rendang-runtiah.jpg?w=500&#038;h=348" alt="" title="rendang-runtiah" width="500" height="348" class="aligncenter size-full wp-image-1892" /></a></p>
<p><em>Runtiah </em> artinya disuwir-suwir. Jadi, <em>rendang runtiah</em> adalah rendang yang dagingnya sudah disuwir-suwir seperti daging abon. Kalau anda pernah melihat abon sapi, nah seperti itulah rendang runtiah, jadi <em>rendang runtiah </em>= abon dalam bumbu rendang. Rasanya renyah dan garing, tidak terlalu pedas, cocok buat anak-anak yang tidak suka rendang tetapi suka abon.</p>
<p>Setelah dibeli, walah-walah&#8230;anak saya di Bandung ketagihan, makannya jadi nambah <em>euy </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> . Sayang ya, cuma beli satu bungkus. Harganya relatif mahal juga, Rp 40.000/bungkus dengan berat 200 gram.</p>
<p>Wah..wah, menurut saya ini inovasi bisnis yang menarik, yaitu membuat kemasan rendang yang berbeda dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh orang lain. Rendang yang asli jika dibuat sampai hitam sebenarnya bisa tahan berbulan-bulan, namun jika dijadikan <em>rendang runtiah</em> bisa tahan lebih lama lagi, utamanya lagi disukai anak-anak.</p>
<p>Pembuat rendang runtiah ini ternyata orang dari kota Payakumbuh (Sumbar). Menariknya, mereka sudah memasarkan rendang lewat internet. Ini situs web (blog) nya: <a href="http://produksimasyarakatminang.blogspot.com/">http://produksimasyarakatminang.blogspot.com/</a>. Selain di situs ini, saya juga menemukan <em>rendang runtiah </em>di situs oleh-oleh Minang lainnya. Klik <a href="http://camilanpadang.blogspot.com/">di sini</a>.  </p>
<p>Selain <em>rendang runtiah</em> juga ada rendang ayam, rendang telur, dan  rendang paru. Di toko Christine Hakim saya juga menemukan rendang daun singkong. Wah, makin variatif saja rendang padang ini. </p>
<p>Ntar kalau pulang lagi ke Padang saya mau beli <em>rendang runtiah</em> lagi ah&#8230; (di Bandung ada nggak ya supermarket yang menjual <em>rendang runtiah</em> ini?)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/1891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/1891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/1891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/1891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/1891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/1891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/1891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/1891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/1891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/1891/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1891&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/11/21/rendang-runtiah-rendang-padang-laksana-abon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/11/rendang-runtiah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rendang-runtiah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Awug Beras&#8221;, Jajanan Khas Bandung Kesukaan Pak Bondan</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/11/02/awug-beras-jajanan-khas-bandung-kesukaan-pak-bondan/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/11/02/awug-beras-jajanan-khas-bandung-kesukaan-pak-bondan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 05:46:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makanan enak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=1825</guid>
		<description><![CDATA[Setiap hari dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah saya selalu melewati Jalan Ahmad Yani di daerah Cicadas, Bandung. Di pinggir jalan ada penjaja awug beras yang ramai pembelinya. Awug Beras Cibeunying namanya.

Awug adalah jajanan khas Bandung yang terbuat dari tepung beras, kelapa, aroma daun pandan, dan gula merah. Mirip dengan kue putu, bedanya kalau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1825&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Setiap hari dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah saya selalu melewati Jalan Ahmad Yani di daerah Cicadas, Bandung. Di pinggir jalan ada penjaja awug beras yang ramai pembelinya. Awug Beras Cibeunying namanya.</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/11/dsc00819.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00819" title="DSC00819" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1827" /></p>
<p>Awug adalah jajanan khas Bandung yang terbuat dari tepung beras, kelapa, aroma daun pandan, dan gula merah. Mirip dengan kue putu, bedanya kalau putu dikukus di dalam potongan bambu kecil sedangkan awug dikukus di dalam wadah yang berbentuk gunungan lancip, mirip gunungan nasi tumpeng. Potongan gula merah dicampur sedemikian rupa sehingga berbentuk mozaik. Awug rasanya manis dan legit, lebih enak dimakan pada sore dan malam hari dalam keadaan masih panas.</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/11/dsc00812.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00812" title="DSC00812" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1826" /></p>
<p>Setiap sore pedagang awug ini mulai berjualan. Awug yang baru matang setelah dikukus langsung dipotong-potong dalam potongan kecil-kecil. Satu kotak yang berisi sepuluh potongan harganya Rp 5000. Satu buah awug yang berbentuk lancip itu habis dalam seketika karena pembeli umumnya membeli beberapa kotak.</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/11/dsc00815.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00815" title="DSC00815" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1828" /></p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/11/dsc00816.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00816" title="DSC00816" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1829" /></p>
<p>Proses pembuatan awug: Seorang pekerja menyiapkan adonan awug. Ada tepung beras, ada gula merah yang sudah dihancurkan. </p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/11/dsc00813.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00813" title="DSC00813" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1830" /></p>
<p>Pekerja lain mengukus awug di dalam cetakan yang berbentuk gunungan lancip:</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/11/dsc00817.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00817" title="DSC00817" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1831" /></p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/11/dsc00818.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00818" title="DSC00818" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1836" /></p>
<p>Pedagang awug ini makin &#8220;ge-er&#8221; setelah kedai awugnya dikunjungi Pak Bondan Winarno dan masuk tipi dalam acara Wisata Kuliner. Sebagai bentuk kebangaaannya masuk tipi, maka di gerobak awugnya dipasang foto pedagang dengan Pak Bondan, begitu pula di bagian depan gerobaknya. Sepertinya kalau pedagang makanan dikunjungi Pak Bondan maka dagangannya menjadi laris.</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/11/dsc00814.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00814" title="DSC00814" width="500" height="375" class="alignleft size-full wp-image-1832" /></p>
<p>Jajanan tradisionil akan selalu bertahan karena penggemarnya masih banyak. Saya salah satunya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/1825/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/1825/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/1825/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/1825/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/1825/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/1825/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/1825/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/1825/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/1825/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/1825/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1825&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/11/02/awug-beras-jajanan-khas-bandung-kesukaan-pak-bondan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/11/dsc00819.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00819</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/11/dsc00812.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00812</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/11/dsc00815.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00815</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/11/dsc00816.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00816</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/11/dsc00813.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00813</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/11/dsc00817.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00817</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/11/dsc00818.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00818</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/11/dsc00814.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00814</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Emping Tike&#8221;, Emping Biji Rumput dari Indramayu</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/09/29/kiriman-emping-tike-dari-indramayu/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/09/29/kiriman-emping-tike-dari-indramayu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 06:23:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makanan enak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=1694</guid>
		<description><![CDATA[Pernah coba makan emping dari biji rumput? Nah, kalau belum dan sempat mampir di Indramayu, coba beli emping ini. Kebetulan tetangga saya waktu lebaran kemaren menghantarkan pesanan saya berupa emping tike. Emping tike merupakan makanan khas dari Indramayu. Emping ini dari tike (umbi) sejenis rumput yang hanya tumbuh di daerah pesisir Indramayu. Bentuknya mirip emping [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1694&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pernah coba makan emping dari biji rumput? Nah, kalau belum dan sempat mampir di Indramayu, coba beli emping ini. Kebetulan tetangga saya waktu lebaran kemaren menghantarkan pesanan saya berupa <em>emping tike</em>. Emping tike merupakan makanan khas dari Indramayu. Emping ini dari tike (umbi) sejenis rumput yang hanya tumbuh di daerah pesisir Indramayu. Bentuknya mirip emping melinjo, tetapi emping tike memiliki rasa yang lebih renyah dan lebih gurih. </p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/09/dsc00707.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00707" title="DSC00707" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1696" /></p>
<p>Hmmm&#8230; setelah dicoba enak juga, mirip rasa emping melinjo. Warnanya putih bercampur coklat kehitaman (warna biji rumput setelah ditumbuk). Saya belum pernah melihat seperti apa bentuk umbi rumput, dan rumput macam apa yang menghasilkan umbi seperti itu. Tetapi, melihat bentuk empingnya yang mirip emping melinjo, maka saya perkirakan umbi rumput besarnya seperti biji melinjo.</p>
<p>Ada-ada saja kreativitas orang Indonesia menghadirkan aneka macam makanan. Apapun bisa diolah menjadi makanan yang unik, yang penting punya gagasan dan inovasi yang unik pula. Yang penting cepat-cepat dipatenkan supaya tidak diklaim pula oleh orang lain, apakagi oleh negara tetangga.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/1694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/1694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/1694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/1694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/1694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/1694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/1694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/1694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/1694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/1694/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1694&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/09/29/kiriman-emping-tike-dari-indramayu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/09/dsc00707.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00707</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memasak Rendang</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/07/21/memasak-rendang/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/07/21/memasak-rendang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2009 09:05:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ranah Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Gado-gado]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan enak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=1474</guid>
		<description><![CDATA[Hari Senin kemaren tanggal merah, kami di rumah memasak randang (di sini dikenal dengan nama rendang padang). Kebetulan ada persediaan daging beku di freezer, dan kebetulan pula kami sudah lama tidak memasak rendang di rumah. Memasak rendang sendiri dilatari ketidapuasan dengan rendang yang dijual di beberapa rumah makan padang di Bandung ini, sebab rasanya berbeda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1474&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Hari Senin kemaren tanggal merah, kami di rumah memasak <em>randang </em>(di sini dikenal dengan nama <em>rendang padang</em>). Kebetulan ada persediaan daging beku di <em>freezer</em>, dan kebetulan pula kami sudah lama tidak memasak rendang di rumah. Memasak rendang sendiri dilatari ketidapuasan dengan rendang yang dijual di beberapa rumah makan padang di Bandung ini, sebab rasanya berbeda dengan yang di kampung aslinya. Nah, memasak sendiri rendang kenapa tidak? Kebetulan hari libur pula.</p>
<p>Untuk memasak rendang, saya tidak perlu repot-repot membuat bumbunya. Di Bandung ada beberapa pedagang <em>urang awak </em> di pasar tradisionil yang menjual aneka bumbu masakan olahan. Mereka umumnya berjualan di deretan pedagang yang menjual kebutuhan dapur seperti sayur mayur, daging, dan kelapa. Ciri khas pedagang ini adalah baskom-baskom yang penuh dengan bumbu yang sudah  dihaluskan seperti cabe, laos, kunyit, jahe, bawang merah, bawang putih, kemiri, dan sebagainya. Kita tinggal pesan mau masakan apa, maka pedagang bumbu ini siap meracik bumbu masakan dengan mencampurkan aneka bumbu tadi. Mau buat gulai ayam, rendang, opor, semua ada. Mau untuk daging sekilo, dua kilo, mau pedas, super pedas, tergantung selera. Harganya murah, sekitar lima ribu rupiah saja untuk masakan dengan daging satu kilo.</p>
<p>Kedai bumbu favorit saya adalah <em>Kedai Buyung</em>, terletak di lantai <em>basement </em>Pasar Kosambi Bandung. Kita dilayani oleh Uni yang berbadan gemuk. Uni penjual bumbu adalah istri Pak Buyung pemilik kedai itu. Saya membeli bumbu rendang di sana untuk satu kilo daging sapi. Pedas, pasti itu. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Bumbu rendang tergolong lengkap dan rumit, ada bawang putih, bawang merah, cabe, kunyit, jahe, laos, lengkuas, ketumbar, garam, daun kunyit, daun limau (jeruk), dan daun sereh (serai), dan masih ada lagi yang kecil-kecil. Enak tidaknya masakan rendang bergantung pada kelengkapan bumbu tadi dan komposisinya. Uni yang menjual bumbu di kedai Buyung sudah terampil dengan komposisi bumbu rendang yang enak. Jadi, anda tidak usah khawatir. </p>
<p>Daging sapi sudah ada di rumah, kami cukup membeli kelapa parut saja.  Daun-daun penyedap rasa seperti sereh (<em>sarai</em>) dan daun limau (jeruk) ada di pekarangan rumah, jadi saya tidak perlu repot mencari lagi. Kalau tidak ada, di tukang sayur yang lewat depan rumah pasti menjual daun bumbu ini.</p>
<p>Yup, kami mulai memasak rendang. Kelapa parut diperas santannya. Lalu, campurkan bumbu yang dibeli di kedai tadi ke dalam santan sampai  tercampur sempurna, jangan lupa daun-daun penyedap tadi dimasukkan ya. Panaskan campuran santan tadi hingga mendidih, jangan lupa terus diaduk agar santannya tidak pecah, baru kemudian masukkan potongan daging sapi. </p>
<p>Di <em>kampuang</em> asalnya, rendang ada yang polos dan ada yang dicampur dengan kacang atau kentang kecil-kecil seukuran kelereng. Anak saya lebih suka kacangnya daripada dagingnya, sehingga saya tambahkan satu kilo kacang putih (di Bandung disebut kacang <em>ndul</em>). Jadi, jangan heran kalau nanti hasil akhirnya kelihatan lebih banyak kacang daripada dagingnya.</p>
<p>Bergantian dengan istri, kami sesekali mengaduk-aduk masakan rendang yang belum jadi ini. Memasak rendang tidak sulit, yang penting ada kesabaran dan waktu yang cukup. Memasak rendang memerlukan waktu lama, kira-kira empat hingga lima jam. Jadi, kita harus siap berdiri dekat kompor selama waktu itu. Filosofinya ya kita harus sabar menjalani hidup ini, hidup itu seperti memasak rendang, he..he.. </p>
<p>Sambil mengaduk-aduk masakan rendang, ingatan saya pun melayang ketika masa-masa masih kuliah dulu&#8230;. </p>
<p>**************</p>
<p>Ketika menjadi mahasiswa, masih muda dan masih lucu-lucunya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> , ibu saya sering mengirim rendang dari Padang ke Bandung melalui jasa Titipan Kilat (sekarang Tiki). Hampit semua teman kuliah saya yang satu daerah pasti pernah dikirimi rendang dari ibunya. Rendang seakan lauk-pauk wajib yang harus dibawa kalau seseorang pergi merantau jauh, entah untuk sekolah, kuliah, berdagang, naik haji, dan sebagainya. Tidak lengkap bepergian jauh tanpa membawa rendang. </p>
<p>Bagi kami mahasiswa kosan di Bandung, seakan para ibunda tahu para anaknya di rantau mungkin sulit makan, kurang gizi, dan sebagainya, maka kiriman rendang dari kampuang adalah obat pelepas rindu pada masakan di rumah sendiri sekaligus perbaikan gizi. Rendang yang dikirim tentu adalah rendang yang warnanya hitam, yaitu jenis rendang kering yang bisa awet hingga waktu satu bulan. Biasanya ibu saya mengirim rendang dalam kaleng, di atas tutup kaleng ada tulisan begini: <em>Setelah dibuka, langsung dipanaskan</em>. Maksudnya supaya tidak jamuran dan bisa lebih awet lagi. Untunglah di tempat kos ada kompor, jadi tinggal dipanaskan sebentar. Kiriman rendang dari kampung lumayan mengirit pengeluaran makan sebab saya cukup membeli nasi putih saja. </p>
<p>Tentu bosan setiap hari makan dengan rendang terus, yaah tidak setiap harilah rendangnya dimakan, sekali-kali saja sampai akhirnya habis dalam waktu dua minggu.  Masakan ibu adalah pengikat tali batin antara anak dengan keluarganya. Jadi, kiriman rendang itu adalah barokah, tidak boleh disia-siakan.</p>
<p>*************</p>
<p>Upss&#8230; jangan terlalu lama melamun. Akhirnya, masakan rendang kami sudah hampir matang. Sudah empat jam nih, minyak kelapanya sudah banyak keluar, warna masakan sudah menjadi coklat. Sampai di sini, masakan setengah rendang ini dinamakan <em>kalio randang</em>.  Ini dia fotonya:</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/07/dsc00587.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00587" title="DSC00587" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1475" /></p>
<p>Hi..hi.. <em>kalio randang</em> buatan kami lebih banyak kelihatan kacang daripada dagingya. Maka, kami sebut saja ini <em>randang dagiang kacang</em>. </p>
<p>Beberapa rumah makan padang  yang &#8220;tidak sabaran&#8221; memasak rendang, menghidangkan rendang dalam bentuk kalio saja. Hmm.. sebenarnya rendang dalam bentuk kalio belum terlalu <em>mak nyus</em>, dagingya belum terlalu empuk, kalau mereka mau bersabar teruskan beberapa jam lagi hingga menjadi rendang yang sempurna. Tapi ini juga terkait masalah selera tampaknya.</p>
<p>Ketika rendang sudah mencapai tahap kalio, maka api kompor dimatikan, Biarkan <em>kalio randang</em> ini dingin agak beberapa jam supaya uap airnya mengering dan bumbu meresap ke daging. </p>
<p>Setelah didiamkan beberapa jam, api kompor dihidupkan lagi. <em>Kalio randang</em> sekarang dikeringkan hingga minyaknya tidak ada lagi. Sesekali aja diaduk bolak-balik agar rendang menjadi kering. Sampai di sini, dihasilkan rendang yang warnanya coklat tua. Hmmm&#8230; tadinya satu kuali penuh santan dan bumbu, sekarang tinggal sepertiga saja. Satu kilo daging, satu kilo kelapa, satu kilo kacang <em>ndul</em>, dihasilkan rendang yang bobotnya kira-kira satu kilo. Dua kilo lagi menguap menjadi uap air. Ini dia fotonya:</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/07/dsc00590.jpg?w=500&#038;h=375" alt="DSC00590" title="DSC00590" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1476" /></p>
<p>Kalau ingin menjadi rendang hitam, panaskan terus kira-kira satu hingga dua jam lagi sehingga menjadi rendang kering yang tahan lama. Capek juga ya&#8230; tetapi rendang buatan sendiri tentu lebih enak daripada rendang yang dibeli di rumah makan padang.</p>
<p>*************</p>
<p>Tidak percuma sejak mahasiswa saya suka memasak hingga sekarang. Laki-laki tidak perlu malu memasak, memasak bukan masalah feminimitas atau maskulinitas, tetapi hal ini terkait hobi dan kegemaran. </p>
<p>Di Jakarta, ada perantau <em>urang awak</em> yang mempunyai bisnis rendang kantoran. Mereka menerima pesanan rendang untuk teman-teman sekantor. Karena enak, maka rendang buatan mereka tersebar dari mulut ke mulut menjadi promosi gratis sehingga pesanan pun membanjir. Baca kisah lengkapnya dengan mengklik tulisan ini: <a href="http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/18/1316039/bisnis.rendang.orang.kantoran">Bisnis Rendang Orang Kantoran</a>. Menarik sekali.</p>
<p>Hmmm&#8230; pernah terlintas dalam pikiran saya, andai nanti saya sudah tidak terpakai lagi menjadi guru mahasiswa (pensiun maksudnya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> ), ingin juga saya membuka usaha rendang kantoran semacam itu. Tapi itu &#8216;kan nanti, apa nanti masih punya tenaga atau tidak. Yang jelas, nikmati dulu rendang yang dibuat tadi. Ayo ambil nasi&#8230;.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/1474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/1474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/1474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/1474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/1474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/1474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/1474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/1474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/1474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/1474/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1474&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/07/21/memasak-rendang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/07/dsc00587.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00587</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/07/dsc00590.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00590</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Makan Spagheti Enak Tapi Murah, Diantar Lagi</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/04/22/makan-spagheti-enak-tapi-murah-harganya/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/04/22/makan-spagheti-enak-tapi-murah-harganya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 08:43:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makanan enak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=1259</guid>
		<description><![CDATA[Mau makan siang tapi malas keluar ruangan, maunya makanan diantar hingga ke pintu rumah atau ruang kerja. Mau makan spagheti yang enak tapi murah. Dimana ya? (di Jalan Ganesha ada restoran Warung Pasta, tapi harganya cukup mahal dan menurut saya rasanya biasa-biasa saja).
Oh, ternyata ada. Saya ketemu situs web yang menawarkan spagheti yang &#8212; kata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1259&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Mau makan siang tapi malas keluar ruangan, maunya makanan diantar hingga ke pintu rumah atau ruang kerja. Mau makan spagheti yang enak tapi murah. Dimana ya? (di Jalan Ganesha ada restoran Warung Pasta, tapi harganya cukup mahal dan menurut saya rasanya biasa-biasa saja).</p>
<p>Oh, ternyata ada. Saya ketemu situs web yang menawarkan spagheti yang &#8212; kata mahasiswa saya &#8212; rasanya enak <em>banget </em>tapi harganya murah, dan hebatnya lagi diantar dalam keadaan hangat ke tempat kita tanpa tambahan ongkos antar. Yang terpenting dari semua itu ada jaminan halal. Ini dia situsnya: <a href="http://www.farfallepasta.com/">http://www.farfallepasta.com</a>. </p>
<p><em>Farfalle Pasta</em> sepertinya usaha rumahan &#8212; beralamat di Jalan Sariwangi (Perumahan Sarijadi) &#8212; menyajikan pasta (spagheti dan fusili) dengan cita rasa Italia dan Oriental yang lezat, sehat, dan bergizi (wah, saya ikutan berpromosi punya mereka nih). </p>
<p>Ini <a href="http://www.farfallepasta.com/menu.html">daftar menunya</a>:</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/04/spagheti.jpg?w=500&#038;h=340" alt="spagheti" title="spagheti" width="500" height="340" class="aligncenter size-full wp-image-1260" /></p>
<p>Ada <em>spicy tuna</em> dengan saus tomat yang pedas dan pakai keju, ada <em>bolognese </em>berupa saus dengan daging cincang dan sayuran segar, ada <em>hot sweet addict</em> berupa saus udang dengan paprika dan jus lemon, dan lain-lain. Harganya hanya Rp 7000 hingga Rp 8500 ukuran regular. Cukup kirim SMS atau <em>email </em>atau telpon langsung maka pesanan spagheti yang enak itu datang ke tempat kita dalam waktu 30 hingga 45 menit (tergantung jauh dekatnya) tanpa ongkos antar.</p>
<p>Berbekal info di situs web tadi, saya dan Bu Harlili memesan dua macam spagheti yang pedas-pedas, yaitu <em>spicy tuna</em> dan <em>hot sweet addict</em>. Dalam waktu setengah jam (berhubung jarak ITB dengan Sarijadi dekat) pesanan sampai ke lab kami.  </p>
<p>Wow, spaghetinya dibungkus di dalam <em>alumunium foil </em>sehingga kehangatan spagheti tetap terjaga sampai ke tempat kita (sebuah strategi <em>marketing </em>yang jitu). Saus/bumbunya sengaja kami minta dipisah supaya nanti dicampur pas mau makan saja. </p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/04/dsc00426.jpg?w=500&#038;h=375" alt="dsc00426" title="dsc00426" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1261" /></p>
<p>Setelah dipindahkan ke piring, ini dia spaghetinya (<em>spicy tuna</em>):</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/04/dsc00428.jpg?w=500&#038;h=375" alt="dsc00428" title="dsc00428" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1262" /></p>
<p><em>Bismillahirrahmaanirrahim</em>, yuk kita makan spaghetinya. Rasanya? Benar-benar mantap <em>euy </em>, edan&#8230;bumbu sausnya  terasa <em>banget</em>. Kalah <em>deh </em>spagheti di restoran mahal. Benar juga seperti yang ditulis di dalam <a href="http://www.farfallepasta.com/about_us.html">about us</a> mereka, pasta yang ini dibuat dengan <em>science</em>, <em>art</em>, dan standard yang tingi. </p>
<p>Saya rekomendasikan pada anda yang ada di Bandung untuk mencoba spagheti yang enak dan murah ini. Cukup sms saja ke 081321195125 atau telpon ke 2016126 atau kalau lagi di depan komputer e-mail ke: info@farfallepasta.com. </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/1259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/1259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/1259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/1259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/1259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/1259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/1259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/1259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/1259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/1259/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1259&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/04/22/makan-spagheti-enak-tapi-murah-harganya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/04/spagheti.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">spagheti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/04/dsc00426.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dsc00426</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/04/dsc00428.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dsc00428</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasi Pecel Madiun Jl. Hariangbanga</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/03/17/nasi-pecel-madiun-jl-hariangbanga/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/03/17/nasi-pecel-madiun-jl-hariangbanga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 09:31:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makanan enak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=1198</guid>
		<description><![CDATA[Kita tinggalkan dulu hiruk pikuk kampanye Pemilu yang tengah berlangsung. Mari kita pikirkan soal&#8230;. makanan. Ho..ho, soal makanan tidak akan pernah habis-habisnya untuk dibahas. Sesulit apapun krisis hidup yang melanda, separah apapun masalah yang dihadapi, setiap orang tetap perlu makan. Maka, bisnis makanan tidak pernah kenal krisis. 
Sejak dulu saya senang makan nasi pecel. Kalau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1198&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kita tinggalkan dulu hiruk pikuk kampanye Pemilu yang tengah berlangsung. Mari kita pikirkan soal&#8230;. makanan. Ho..ho, soal makanan tidak akan pernah habis-habisnya untuk dibahas. Sesulit apapun krisis hidup yang melanda, separah apapun masalah yang dihadapi, setiap orang tetap perlu makan. Maka, bisnis makanan tidak pernah kenal krisis. </p>
<p>Sejak dulu saya senang makan nasi <em>pecel</em>. Kalau di Padang namanya <em>pical</em>, tapi intinya sama saja dengan pecel di Jawa, yaitu aneka sayuran yang sudah dikukus lalu disiram dengan kuah kacang pedas. Makan nasi dengan pecel sangat nikmat, apalagi dalam keadaan panas, selain itu murah lagi. Di Jawa Timur, nasi pecel adalah makanan khas yang sudah mendarah daging. </p>
<p>Pecel yang terkenal adalah pecel Madiun. Sebenarnya Kediri juga terkenal dengan pecelnya, tapi di Bandung entah kenapa pecel Madiun lebih populer, <em>nggak </em>tahu ya kalau di Jawa Timur apa pecel Madiun juga sudah menjadi <em>trade mark</em>.</p>
<p>Di Bandung cukup banyak yang menjual nasi pecel. Pergilah ke jalan dekat Gasibu, setiap hari ada orang Madiun yang menjual nasi pecel dengan mobil <em>carry</em>. Kalau hari Minggu pagi ada beberapa warung dadakan yang menjual nasi pecel.   </p>
<p>Tapi semua nasi pecel itu masih kalah enak dengan yang satu ini. Kata rekan senior saya, Pak Mary Handoko, nasi pecel di Jalan Hariangbanga itu yang asli, rasanya persis sama sepertu pecel di Madiun sana. Bagi yang tidak tahu dimana Jalan Hariangbanga, Jalan Hariangbanga itu adalah sepotong jalan ke arah Unisba Jalan Tamansari, kalau mau ke sana bisa dari Unisba atau dari Jalan Purnawarman belok ke kiri. Kedai yang menjual nasi pecel Madiun ada di sebuah rumah kuno peninggalan Belanda di pertigaan jalan.  </p>
<p>Karena Pak Mary orang Madiun asli, saya <em>sih </em>percaya saja. Selera orang Madiun soal pecel pasti tidak salah, bukan? Ketika ada kesempatan melewati Jalan Hariangbanga, saya sempatkan singgah di sana untuk membeli satu bungkus nasi pecel. Satu porsi nasi pecel harganya Rp 7.500 (mahal juga ya), jika ditambah ayam goreng atau lauk yang lain harganya bisa belasan ribu. Selain nasi pecel, kedai ini juga menjual  rawon, rujak cingur, dan aneka masakan Jawa Timur lainnya.</p>
<p>Nih foto nasi pecel madiun + telur asin + kerupuk (kata teman saya, orang Jawa makan nasi &#8216;wajib&#8217; pakai kerupuk):</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/03/dsc00417.jpg?w=500&#038;h=375" alt="dsc00417" title="dsc00417" width="500" height="375" class="aligncenter size-full wp-image-1199" /></p>
<p>Rasanya? Memang berbeda dengan yang di Gasibu, hanya saja kurang pedas, saya masih lebih suka nasi pecel di Gasibu. Soal selera tiap orang bisa saja berbeda. </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/1198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/1198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/1198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/1198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/1198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/1198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/1198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/1198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/1198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/1198/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1198&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/03/17/nasi-pecel-madiun-jl-hariangbanga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/03/dsc00417.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dsc00417</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasi Timbel Merah Ceu Eti</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/02/25/nasi-timbel-merah-ceu-eti/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/02/25/nasi-timbel-merah-ceu-eti/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 05:50:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makanan enak]]></category>
		<category><![CDATA[Seputar Bandung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=1123</guid>
		<description><![CDATA[Bagi penggemar nasi timbel, Nasi Timbel Istiqamah di Jalan Taman Citarum Bandung mungkin tidak asing lagi. Berada di pinggir jalan di depan masjid, setiap jam makan siang warung tenda ini ramai dengan orang-orang yang datang untuk makan. Kalau hari Sabtu dan Minggu apalagi, para wisatawan dari Jakarta ramai-ramai makan di sini bersama keluarganya. Bagi orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1123&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bagi penggemar nasi timbel, Nasi Timbel Istiqamah di Jalan Taman Citarum Bandung mungkin tidak asing lagi. Berada di pinggir jalan di depan masjid, setiap jam makan siang warung tenda ini ramai dengan orang-orang yang datang untuk makan. Kalau hari Sabtu dan Minggu apalagi, para wisatawan dari Jakarta ramai-ramai makan di sini bersama keluarganya. Bagi orang Jakarta, ke Bandung itu ya untuk makan dan belanja-belanja.  </p>
<p>Tapi sekarang Nasi Timbel Istiqamah sudah pindah ke Jalan Citarum, di samping Rumah Makan Raja Melayu. Bukan berbentuk warung tenda lagi, tetapi sudah berupa pondok permanen, yang tempat parkirnya sudah diatur oleh juru parkir. Tidak asik lagi makan di sana, tidak seperti dulu makan di pinggir jalan di bawah naungan pohon dan deru kendaraan terasa lebih asik dan nikmat. Lagipula terlalu ramai, apalagi Hari Sabtu, padahal saya kurang suka tempat makan yang terlalu ramai. </p>
<p>Sepeninggal Nasi Timbel Istiqamah, bermunculan warung nasi timbel lain di seputar Masjid Istiqamah dengan rasa yang tidak jauh berbeda, salah satunya Nasi Timbel <em>Ceu </em>Eti. <em>Ceu </em>itu panggilan buat wanita Sunda. </p>
<p>Siang ini saya makan nasi timbel merah Ceu Eti yang jualan di depan Masjid Istiqamah, Jalan Taman Citarum, Bandung. Warungnya tidak terlalu padat, jadi bisa makan lebih santai. </p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/02/ceueti.jpg?w=500&#038;h=375" alt="ceueti" title="ceueti" width="500" height="375" class="alignright size-full wp-image-1124" /></p>
<p>Nasi timbel merah&#8230; waah saya suka sekali itu. Nasi timbel merah dibuat dari beras merah. Entah siapa yang memulai pertama kali membuat nasi timbel beras merah di tatar Pasundan ini. Yang jelas nasi timbel merah itu menyehatkan karena mengandung vitamin B. Cocok juga buat orang yang diet. Kalau beras merahnya kualitas nomor 1 nasi timbelnya akan terasa pulen seperti nasi putih. </p>
<p>Seperti Nasi Timbel Istiqamah, Nasi Timbel Ceu Eti menyajikan masakan Sunda yang serba pepes: pepes ayam, pepes jamur, pepes tahu, pepes ikan, dan lain-lain. Ada pula yang serba goreng yaitu tahu goreng, tempe goreng, ikan goreng, ayam goreng, ikan asin, dan lain-lain. Masakan Sunda ya begitu itu, sederhana dan tidak bersantan-santan serta tidak berbumbu aneka rupa seperti masakan Padang. Justru karena tidak bersantan itu masakan Sunda tampak lebih sehat karena tidak mengandung banyak lemak. Makan nasi timbel merah dengan lauk semacam itu ditemani sambal terasi, sayur lalap, dan air teh hangat di siang hari jelas terasa nikmat, apalagi nasi merahnya disajikan hangat. Oh ya, selain nasi merah juga ada nasi timbel putih.</p>
<p>Nah, ini yang saya makan di sana: nasi merah, ayam goreng, pepes tahu, ikan asing, sayur lalap, dan sambal terasi. Harganya? Hanya Rp 9.500 untuk semua itu. Murah juga ya.</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/02/nasitimbel.jpg?w=500&#038;h=375" alt="nasitimbel" title="nasitimbel" width="500" height="375" class="alignright size-full wp-image-1125" /></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/1123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/1123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/1123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/1123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/1123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/1123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/1123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/1123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/1123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/1123/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=1123&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/02/25/nasi-timbel-merah-ceu-eti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/02/ceueti.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ceueti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2009/02/nasitimbel.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">nasitimbel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasi Goreng Padang Kesukaan Pak Bondan</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2008/12/24/nasi-goreng-padang-kesukaan-pak-bondan/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2008/12/24/nasi-goreng-padang-kesukaan-pak-bondan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 05:23:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makanan enak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=892</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama saya berkeinginan makan nasi goreng khas Minang di Bandung. Dulu Catra pernah merekomendasikan nasi goreng padang di Pasar Simpang Dago, katanya nasi goreng ini pernah masuk tipi dalam acara Wisata Kuliner asuhan Pak Bondan Winarno. 
Kemaren sore saya melewati ke Pasar Simpang Dago, saya cari-cari pedagang nasi goreng padang itu, syukurlah ketemu juga. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=892&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sudah lama saya berkeinginan makan nasi goreng khas Minang di Bandung. Dulu <a href="http://www.rangmudo.com/">Catra</a> pernah merekomendasikan nasi goreng padang di Pasar Simpang Dago, katanya nasi goreng ini pernah masuk tipi dalam acara <em>Wisata Kuliner</em> asuhan Pak Bondan Winarno. </p>
<p>Kemaren sore saya melewati ke Pasar Simpang Dago, saya cari-cari pedagang nasi goreng padang itu, syukurlah ketemu juga. Warung kaki lima ini terletak di pinggir Jalan Ir.H.Juanda (depan pertigaan Jl. Tubagus Ismail), tepatnya di depan Gedung Pusat Penelitian Air. Ini dia foto warungnya:</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/12/nasgor-1.jpg?w=500&#038;h=375" alt="nasgor-1" title="nasgor-1" width="500" height="375" class="alignnone size-full wp-image-893" /></p>
<p>Saya masuk ke dalam. Ternyata benar, di atas meja ada foto pemilik warung ini dengan Pak Bondan:</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/12/nasgor-2.jpg?w=500&#038;h=375" alt="nasgor-2" title="nasgor-2" width="500" height="375" class="alignnone size-full wp-image-894" /></p>
<p>Wah, promosi <em>nih</em>, kata saya dalam hati. Berarti benar Pak Bondan pernah makan di sini sekalian <em>shooting </em> acara makan-makannya itu. </p>
<p>Saya pesan dua bungkus nasi goreng untuk dibawa pulang (lebih enak makan di tempat). Selain nasi goreng khas Minang (Padang), ada juga soto padang. Saya juga pesan satu bungkus soto. </p>
<p>Ini dia foto nasi goreng khas Minang yang sudah ditaruh ke dalam piring setiba di rumah (sayang pencahayaannya kurang ya):</p>
<p><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/12/nasgor-3.jpg?w=500&#038;h=375" alt="nasgor-3" title="nasgor-3" width="500" height="375" class="alignnone size-full wp-image-895" /></p>
<p>Ada telur mata sapi, irisan ketimun, irisan tomat, dan kerupuk merah. Sepintas tidak ada bedanya dengan nasi goreng yang dijual kebanyakan pedagang Jawa Timur atau pedagang asal Tegal/Banyumas. Tapi kalau dilihat lebih detil dan dicoba rasanya, baru kelihatan bedanya. Nasi goreng padang tidak berminyak atau basah, hal ini karena penggunaan minyak goreng  lebih sedikit. Warnanya merah karena kecap tidak digunakan overdosis seperti pada nasi goreng lainnya. Warna merah berarti penggunaan porsi cabe lebih banyak, maka dapat ditebak rasanya pedas menggugah selera, tapi tidak terlalu pedas. Di dalam nasi goreng kita temukan irisan daun seledri sehingga nasi goreng terasa lebih harum. </p>
<p>Nasi goreng semacam itu umum kita temukan di Sumatera Barat dan di rumah makan di semua tempat di sana. Bumbunya macam-macam: bawang merah, bawang putih, cabe merah, pala, garam, merica, digerus sampai halus dengan <em>batu lado</em>. Bumbu ini dirajang dengan sedikit minyak sampai harum. Masukkan irisan daun seledri dan bawang daun (<em>bawang perai </em>kalau bahasa Minangnya). Tidak perlu mencampurnya dengan telur, karena telurnya nanti dibikin sebagai telur mata sapi atau telur dadar saja. Kecap cukup sedikit saja. Penyedap? Tidak usah, sebab bumbu itu saja sudah enak, tapi kalau mau ya boleh-boleh saja. </p>
<p>Silakan dicoba, atau kalau malas memasaknya datang saja ke Pasar Simpang Dago, cari warung nasi goreng di atas.  </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/892/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/892/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/892/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/892/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/892/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/892/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/892/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/892/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/892/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/892/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=892&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2008/12/24/nasi-goreng-padang-kesukaan-pak-bondan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/12/nasgor-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">nasgor-1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/12/nasgor-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">nasgor-2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/12/nasgor-3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">nasgor-3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Makan Nasi Jamblang di Bandung</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2008/11/04/makan-nasi-jamblang-di-bandung/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2008/11/04/makan-nasi-jamblang-di-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Nov 2008 06:26:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makanan enak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=708</guid>
		<description><![CDATA[Dulu waktu masih kuliah, teman saya Wahyudin Akbar, IF 86, bangga sekali menceritakan tentang nasi jamblang khas Cirebon. Cita-citanya adalah berjualan nasi jamblang, tidak tahunya dia sekarang bekerja di Pertamina. Hallo Wahyudin, semoga kamu membaca tulisan ini.
Nasi jamblang? Apa pula itu? Dari hasil baca-baca sana-sini ternyata nasi jamblang itu adalah nasi yang dibungkus dengan daun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=708&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dulu waktu masih kuliah, teman saya Wahyudin Akbar, IF 86, bangga sekali menceritakan tentang nasi jamblang khas Cirebon. Cita-citanya adalah berjualan nasi jamblang, tidak tahunya dia sekarang bekerja di Pertamina. Hallo Wahyudin, semoga kamu membaca tulisan ini.</p>
<p>Nasi jamblang? Apa pula itu? Dari hasil baca-baca sana-sini ternyata nasi jamblang itu adalah nasi yang dibungkus dengan daun jati. Daun jati yang lebar itu menggantikan peran daun pisang. Aroma daun jati melekat pada nasi sehingga memberi sensasi tersendiri.  Hmmm&#8230;, saya jadi ingin tahu apakah di Cirebon jarang tumbuh pohon pisang sehingga pedagang nasi membungkus nasinya dengan daun jati?</p>
<p>Menurut literatur, nasi jamblang adalah makanan rakyat kecil di Cirebon. Mang-mang beca, kuli, buruh, dan orang-orang kecil lainnya adalah pelanggan setia nasi jamblang. Mungkin karena harganya yang murah. Saya penasaran ingin mencoba makan nasi jamblang, seperti apa sih rasanya. Makan nasi yang dibungkus daun jati  <em>kayaknya </em>asik juga. Berhubung saya tidak pernah ke Cirebon (duluuu  pernah sekali sehabis mendaki gunung Ciremai), maka saya tanya-tanya ke mahasiswa saya asal Cirebon dimana ada yang menjual nasi jamblang di Bandung. Tidak tahu, jawab mereka (atau dapat juga diartikan: tidak ada). Masa <em>sih </em>di kota Bandung yang besar ini tidak ada yang menjual nasi jamblang? Saya yang orang Minang saja mudah menemukan makakan khas Minang di Bandung (seperti ketupat gulai paku yang saya <em>posting </em>tempo hari, lemang, <em>sala lauak</em>, dan lain-lain), masa Cirebon yang masih dalam Propinsi Jabar tidak ada yang menjual nasi jamblang di sini? Jangan-jangan Cirebon memang ingin memisahkan diri dari Jabar dan membentuk propinsi sendiri (<em>eit</em>, bercanda). Cirebon memang unik, Sunda bukan, Jawa juga bukan.</p>
<p>Lama saya melupakan keinginan makan nasi jamblang, <em>eh </em>tidak tahunya di kompleks perumahan saya di Antapani, tepatnya di jalan Purwakarta Raya, ada orang Cirebon yang berjualan nasi jamblang.</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/11/jamblang1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-711" title="jamblang1" src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/11/jamblang1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="jamblang1" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Selain nasi jamblang dia juga menjual empal gentong (hmm&#8230; lain kali ingin mencoba empal gentong yang katanya khas itu).</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/11/jamblang2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-712" title="jamblang2" src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/11/jamblang2.jpg?w=300&#038;h=225" alt="jamblang2" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Oh, ternyata nasi jamblang itu lauknya memang biasa-biasa saja. Ada tahu, tempe, ikan asin jambal, ayam goreng, telur bacem, lalap, dan &#8230; apalagi ya, cukup banyak saya lihat variasi masakannya. Lalu yang membuatnya makin kental disebut &#8220;makanan rakyat&#8221; adalah kehadiran si jengkol goreng, pete, dan urap. Makan nasi jamblang wajib pakai sambal goreng khas Cirebon. Kali ini sambalnya dibungkus dengan daun pisang, bukan dengan daun jati. Tidak lupa &#8220;senjata&#8221; penggugah selera: sambal terasi.</p>
<p>Berhubung sebagian besar masakannya berasa manis dan kurang cocok dengan lidah saya, saya memilih tahu, tempe, lalap, sambal goreng, dan sambal terasi saja. Sederhana sekali, bukan? Nasi jamblangnya dua bungkus karena satu bungkus porsinya sedikit amat (beberapa kepal saja). Kalau mau kenyang anda perlu minta sedikitnya 4 bungkus nasi jamblang.</p>
<p>Ini dia fotonya, daun jati sebagai alas nasinya (klik foto untuk melihat lebih besar):</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/11/jamblang3.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-713" title="jamblang3" src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/11/jamblang3.jpg?w=300&#038;h=225" alt="jamblang3" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Saya tanya si ibu penjual nasi, daun jatinya diperoleh  di mana? Dari Cirebon, katanya. Di Bandung memang jarang ditemukan daun jati, tetapi kalau si ibu mau jalan-jalan ke kampus ITB, di samping Gedung Fisika (dekat jalan di samping gedung CC) ada pohon jati yang batangnya besar. Daunnya memang lebar, dan kalau sudah rontok kita dapat mengambil daunnya yang memang lebar itu.</p>
<p>Ini foto pohon jati di kampus ITB (klik foto untuk melihat lebih besar):</p>
<p><a href="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/11/jati.jpg"><a href="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/11/jati1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-746" title="jati1" src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/11/jati1.jpg?w=225&#038;h=300" alt="jati1" width="225" height="300" /></a><br />
</a></p>
<p>Makan nasi jamblang di siang hari, ditemani sambal goreng dan sambal terasi, memang nikmat.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/708/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/708/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/708/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/708/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/708/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=708&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2008/11/04/makan-nasi-jamblang-di-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/11/jamblang1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">jamblang1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/11/jamblang2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">jamblang2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/11/jamblang3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">jamblang3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/11/jati1.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">jati1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketupat Gulai Paku</title>
		<link>http://rinaldimunir.wordpress.com/2008/10/29/ketupat-gulai-paku/</link>
		<comments>http://rinaldimunir.wordpress.com/2008/10/29/ketupat-gulai-paku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 08:12:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rinaldimunir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makanan enak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rinaldimunir.wordpress.com/?p=682</guid>
		<description><![CDATA[Yang namanya &#8220;urang awak&#8221; selera makan sulit sekali diubah. Jauh merantau ke mana-mana yang dicari masakan Minang juga. Salah satu masakan &#8220;urang awak&#8221; yang juga dijual di Bandung adalah lontong padang atau ketupat sayur khas Padang. Cukup banyak yang menjual lontong Padang ini di Bandung, misalnya di Pasar Simpang Dago, Jl. Dipati Ukur depan kampus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=682&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Yang namanya &#8220;urang awak&#8221; selera makan sulit sekali diubah. Jauh merantau ke mana-mana yang dicari masakan Minang juga. Salah satu masakan &#8220;urang awak&#8221; yang juga dijual di Bandung adalah <em>lontong padang</em> atau ketupat sayur khas Padang. Cukup banyak yang menjual lontong Padang ini di Bandung, misalnya di Pasar Simpang Dago, Jl. Dipati Ukur depan kampus Unpad, di Pasar Palasari, di depan masjid Istiqamah, dan lain-lain. Pokoknya dimana ada konsentrasi perantau Minang (mahasiswa, pedagang), disitu ada yang menjual lontong ini.</p>
<p>Lontong padang hanya dijual pada waktu pagi hari saja, karena biasanya lontong adalah makanan sarapan pagi bagi orang-orang di Sumatera Barat sana (seperti <em>coto Makassar </em>bagi orang di Makassar). Lontong padang adalah ketupat atau lontong yang dimakan dengan gulai sayur. Sayur yang banyak digulai adalah <em>cubadak </em>alias nangka, kacang panjang, atau buncis. Saya sudah mencoba berbagai lontong padang yang dijual di tempat-tempat yang saya sebutkan di atas. Rasanya <em>average </em>-lah, biasa-biasa saja.</p>
<p>Lontong padang yang enak adalah <em>katupek gulai paku </em>atau ketupat dengan sayur pakis. Pakis atau paku adalah tumbuhan liar yang hidup di hutan, tetapi sekarang sudah bisa dibudidayakan. Batangnya melengkung di ujung dan daunnya kecil-kecil. Paling enak pakis ini digulai hijau. Warna hijau pada gulainya ditimbulkan oleh zat klorofil pada daun dan batang pakis. Rasa gulainya  <em>sepet-sepet asem</em> pedas. Sayur pakis dimasak dengan santan yang sudah dibubuhi bumbu dasar (bawang merah, lengkuas, jahe, sedikit kunyit, sereh). Rasa pedas diperoleh dengan menambahkan cabe hijau, sedangkan rasa <em>asem </em>diperoleh dengan memasukkan asam kandis. Asam kandis adalah asam khas Sumatera, yang kalau di Bandung biasanya dijual di pedagang bumbu dari Padang. Supaya lebih enak, ke dalam gulai paku juga dimasukkan ikan teri. Di kota Padang ketupat gulai paku yang terkenal adalah yang di pasar Simpang Haru. Setiap pulang kampung saya sering sarapan pagi di sana      </p>
<p>Di Bandung jarang ada yang menjual <em>katupek gulai paku</em>. Salah satu yang jarang itu adalah pedagang kaki lima yang ada di dekat rumah saya di Antapani, tepatnya di Jalan Kuningan. <em>Ajo Piaman</em>, sebutan bagi laki-laki dari Pariaman (sebuah kabupaten di Sumbar), ini menamai gerobaknya &#8220;Ombak Piaman&#8221;. Setiap hari dia menjual lontong padang dari jam 6 hingga jam 10. Lontongnya enak, bumbu gulainya sangat terasa Padang sekali, dan yang membedakannya dengan lontong padang yang lain adalah kuahnya yang kental. Gulai sayurnya biasanya adalah gulai <em>cubadak </em>dan gulai buncis (dipisah masaknya). Jika kebetulan beruntung, dia menemukan sayur pakis dijual pasar, maka gulai buncisnya pada hari itu diganti dengan gulai paku. Tidak setiap hari ada yang menjual sayur pakis, karena itu tidak setiap hari pula dia menghadirkan gulai paku. Biasanya sayur pakis banyak dijual pada musim hujan seperti sekarang. </p>
<p>Tadi pagi saya beruntung dia menyajikan gulai paku ini. Waah&#8230; ingin saya beli semua gulai pakunya itu (tanpa ketupat) untuk saya makan di rumah, tapi pasti dia tidak mau karena ketupatnya masih banyak. Saya beli sebungkus <em>katupek gulai paku</em> untuk dimakan di kantor. Gulai pakunya saya minta dipisah dengan ketupatnya. ditambah dengan gula <em>cubadak </em>sedikit. Biar nanti siang dicampur pas mau makan.</p>
<p>Nah ini dia foto ketupat gulai paku yang saya makan di kantor tadi siang (klik foto untuk melihat lebih besar):<br />
<a href="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/10/ketupat.jpg"><img src="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/10/ketupat.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="ketupat" width="300" height="225" class="alignnone size-medium wp-image-684" /></a></p>
<p>Berminat? Coba sekali-kali datang ke jalan Kuningan Raya, Antapani, persisnya di pertigaan Jalan Cibatu &#8211; Kuningan. Kadang-kadang Ajo ini juga menjual <em>sala lauak </em>Piaman, karipik balado, dan keripik singkong bumbu kuning. </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rinaldimunir.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rinaldimunir.wordpress.com/682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rinaldimunir.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rinaldimunir.wordpress.com/682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rinaldimunir.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rinaldimunir.wordpress.com/682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rinaldimunir.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rinaldimunir.wordpress.com/682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rinaldimunir.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rinaldimunir.wordpress.com/682/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rinaldimunir.wordpress.com&blog=735177&post=682&subd=rinaldimunir&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rinaldimunir.wordpress.com/2008/10/29/ketupat-gulai-paku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ba1c901d812b5c3be1756541764a2e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rinaldimunir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/10/ketupat.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ketupat</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>