Lebih Baik Konserrvatif Daripada Penyesalan

Teman saya yang dulu adik kelas di kampus tinggal dan bekerja di Jakarta. Dia mempunyai dua orang anak perempuan yang baru ABG, masih SMP. Teman saya itu bercerita bahwa dia tidak membekali anaknya dengan ponsel canggih seperti BB, Ipad, atau smartphone lainnya. Dia hanya membelikan anaknya ponsel biasa saja TANPA KAMERA, padahal secara materi dia sebenarnya berkecukupan dan mampu membelikan anaknya apa saja yang menjadi trend anak gaul zaman sekarang. Tentu kebayang kan betapa cupu anaknya di antara teman-temannya yang rata-rata mempunyai BB atau minimal ponsel yang bisa multimedia, di Jakarta gitu lho.

Tidak hanya itu, dia cukup protektif terhadap kedua anaknya. Pulang tidak boleh malam, kalau pergi ke luar rumah harus tahu sama siapa dan kemana. Pergi keluar selalu diantar. Acara menginap bersama teman-temannya tidak boleh kecuali program sekolah. Komunikasi dengan guru-guru sekolah dan sesama orang tua murid cukup intens, pokoknya pagarnya super ketatlah.

Saya mendukung sikapnya itu. Sikap ketat dan protektifnya itu tidak lain untuk melindungi anak dari pergaulan bebas di ibukota. Apalagi anaknya perempuan dan baru ABG, tentu godaan kehidupan di kota besar dan teman pergaulan sangat besar pengaruhnya. Mirip seperti dia, anak saya yang laki-laki kelas 5 SD hingga hari ini belum saya belikan ponsel, apalagi memiliki ponsel berkamera, enggak dulu deh, belum perlu amat.

Saya katakan kepada teman saya itu, biarlah kita disebut kolot, konservatif, ketinggalan zaman, atau apapun namanya dalam mendidik anak, daripada suatu hari timbul penyesalan karena anak kita salah pergaulan. Tidak apa-apa kita sebagai orangtua reseh sedikit, selalu periksa apa isi tas anak, siapa saja temannya, kemana dia pergi dan dengan siapa saja, serta selalu mengawasi penggunaan internet.

Sudah banyak penelitian yang menyebutkan bahwa persentase remaja di Indonesia melakukan seks pra nikah angkanya semakin mencemaskan. Di Bali saja menurut penelitian yang valid 75% remaja sudah melakukan seks pra nikah. Akibat pergaulan yang bebas banyak remaja puteri yang hamil di luar nikah hingga menggugurkan kandungannya karena rasa malu. Alat kontrasepsi seperti k*nd*m yang dijual bebas di apotek dan minimarket laku keras di kalangan remaja (baca berita ini). Sungguh mengerikan mendengar kabar seperti ini.

Di zaman sekarang kita tidak bisa terlalu berharap kepada Pemerintah untuk melindungi anak-anak kita dari pornografi dan pornoaaksi. Pemerintah kita ini sudah kepayahan, jangankan melindungi warganegaranya dari budaya asing yang buruk, mencegah hiburan yang mengumbar syahwat saja tidak sanggup. Anehnya, ada sekelompok LSM yang membela hiburan semacam itu dengan dalih kebebasan berekspresi. Porno itu di otak katanya, kalau pikiran memang sudah kotor maka apapun yang dilihat akan dianggap porno, begitu dalih mereka. Atau dalil lainnya begini: kalau tidak setuju ya tidak usah dilihat. Titik. Sesederhana itukah?

Maka, jika Negara tidak bisa memberikan perlindungan bagi warganegaranya, benteng terakhir ada pada orangtua (baca: keluarga). Pendidikan agama saja tidak cukup, tetapi masih perlu aksi protektif yang kolot semacam di atas agar anak-anak kita terlindungi dari pengaruh buruk zaman modern sekarang. Lebih baik dicap konservatif daripada kita menimba penyesalan di kemudian hari.

Korupsi vs Pornografi

Setiap kali ada masalah yang berkaitan dengan asusila di negeri ini –mulai dari video porno, film mesum, artis pengumbar syahwat, goyangan erotis penyanyi dangdut, kemunculan artis porno dari luar ngeri, dsb– maka dipastikan ada sekelompok orang yang melakukan demo penolakan atau protes. Tidak jarang aksi protes tersebut berujung kegaduhan. Masih ingat dalam benak kita kasus video mesum Ariel yang menyita perhatian dan menimbulkan aksi demo kelompok ormas dan elemen rakyat lainnya. Juga masih belum lepas dari ingatan demo penolakan terhadap Miyabi dan artis asusila lainnya, atau aksi demo FPI menentang film murahan yang mengumbar syahwat. Bahkan kasus rok mini di DPR pun mencuat menjadi kasus nasional. Yang terbaru sekarang ini adalah aksi demo penolakan kedatangan Lady Gaga.

Dalam sekejap aksi-aksi demo itu mendapat banyak komentar di dunia maya, ada yang pro dan ada yang kontra. Media pun ikut meramaikan suasana dengan memuat opini serta komentar yang mengkritik demo tersebut. Sebagai negara demoktratis pro kontra itu tentu sah-sah saja. Tetapi, yang menarik adalah komentar yang membandingkan pornografi dengan korupsi. Bunyi komentar tersebut kira-kira nadanya begini:” mengapa yang diurusin masalah pornografi, urus tuh korupsi”, atau “mengapa ormas-ormas itu tidak mendemo pejabat yang korupsi, mengapa hanya mengurusi goyangan Inul” atau “korupsi lebih penting didemo daripada rok mini”, “ormas sok suci, giliran pejabat yang korupsi diam saja, tapi giliran goyang pinggul langsung bereaksi”.

Pertanyaannya adalah apakah pornografi itu tidak lebih penting diurusi daripada korupsi? Apakah korupsi lebih prioritas dipikirkan bangsa ini ketimbang masalah asusila? Baik korupsi maupun pornografi sama-sama buruknya, sama-sama berbahaya. Korupsi memiskinkan negara, sedangkan pornografi merusak akhlak generasi muda harapan bangsa.

Saya berpendapat masalah pornografi jauh lebih berat daripada korupsi. Korupsi tidak memberi efek langsung kepada orang lain, yang dirugikan adalah keuangan negara. Memang jika negara miskin karena korupsi ada pengaruhnya terhadap kesejahteraan rakyat, tetapi itu persoalan lain lagi. Namun kalau masalah asusila seperti pornografi dan pornoaksi dampaknya membekas pada banyak orang, terutama anak-anak dan remaja. Ketika video Ariel dulu merebak, penyebarannya sangat masif. Yang menonton mulai dari anak SD hingga aki-aki. Otak anak-anak dan remaja belum mampu memfilter adegan porno itu. Adegan seperti itu bisa membekas lama dan menimbulkan keingintahuan lebih lanjut. Mulai mencoba-coba dan bereksperimen. Ketika nafsu tidak bisa dikontrol, pelampiasannya mungkin lebih buruk yaitu perkosaan. Sudah banyak kasus perkosaan yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja disebabkan karena sering menonton video porno.

Yang saya khawatirkan dari pornografi pada anak dan remaja adalah budaya hidup permisif. Segala apa boleh dilakukan tanpa takut pada norma-norma lagi. Budaya permisif ini arahnya adalah pergaulan bebas yang tanpa aturan, termasuk di dalamnya seks bebas, kumpul kebo, minum minuman keras, homoseksualitas, dan narkotika.

Bagi orang yang meremehkan pornografi dibandingkan korupsi, coba tanya bagaimana perasaannya bila pornografi itu terjadi pada anaknya sendiri? Bagaimana reaksinya bila anaknya yang masih kecil sudah mengakses situs porno atau menonton video mesum? Apakah dia bisa terima jika anaknya yang remaja sudah melakukan seks pra nikah dengan pacarnya atau teman wanitanya? Saya yakin dia akan shock, dan akan bertambah shock ketika tahu pacar anaknya hamil dan meminta pertanggungjawaban. Apakah hal itu yang dia inginkan? Saya yakin orangtua yang waras tidak mau anaknya terjerumus dalam kemaksiatan, sekecil apapun perhatian orangtua kepada anaknya tetaplah mereka menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi orang yang baik dan berakhlah mulia.

Karena itu, janganlah bangsa ini mengabaikan moralitas. Korupsi dan pronografi adalah musuh bersama yang harus kita berantas. Didiklah anak-anak kita menjadi orang yang baik dan sholeh.

Selagi Masih Muda Sekolahlah Setinggi-tingginya

Kamarin saya ketemu alumni yang hendak melanjutkan S3. Saya katakan kepadanya, mumpung belum direpotkan dengan anak (dia sudah menikah tapi belum punya anak), segeralah mencari sekolah ke luar negeri. Kalau sudah punya keluarga atau punya anak cukup repot sekolah sembari mengurus keluarga. Pikiran harus dibagi-bagi untuk urusan sekolah, urusan anak, dan urusan istri. Kurang konsenlah, pokoknya.

Setiap tahun saya memberikan banyak surat rekomendasi bagi para mahasiswa saya yang melamar beasiswa/program S2/S3 di dalam maupun di luar negeri. Dengan usia yang masih 20 tahunan mereka mempunyai semangat tinggi untuk meneruskan pendidikan ke jenjang pendidilkan lebih tinggi. Ada yang sudah bekerja dulu baru ambil S2, tapi sebagian besar mengambil S2 ketika baru lulus S1.

Saya bangga dengan para mahasiswa saya yang punya semangat tinggi melanjutkan sekolah itu. Kata saya kepada mereka, selagi masih muda ambil kesempatan sekolah setinggi-tingginya. Masa muda adalah masa menimba ilmu. Selagi belum direpotkan dengan tanggung jawab bila sudah punya keluarga, maka sekolah lagi adalah pilihan yang bagus. Kalau sudah berkeluarga, anda harus membagi waktu dan pikiran anda untuk istri/suami dan anak anda. Apalagi jika keluarga dibawa serta ke luar negeri, kerepotam pasti lebih besar daripada ditinggal di tanah air. Bila anak anda sakit terbayang repotnya, padahal besok anda ada ujian di kampus.

Maka, selagi belum menikah atau punya anak, jangan menunda waktu lebih lama lagi untuk sekolah. Segera apply program beasiswa S2 yang banyak bertebaran. Pilihan S2 ke luar negeri lebih menarik, namun S2 di dalam negeri juga tidak kalah baiknya. Ilmu di manapun sama, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, semua bahan ilmu pengetahuan tersedia di Internet, tinggal gugling saja maka apa yang kita butuhkan tersedia. Di mana pun kita sekolah, yang terpenting adalah usaha dan kemauan kita sendiri. Sekolah di luar negeri dengan fasilitas super lengkap tetapi kita sendiri malas-malasan ya nggak ada gunanya. Kuliah S2 atau S3 berarti dituntut bisa belajar dan meneliti secara mandiri. Dosen pembimbing atau profesor di lab hanyalah penyelia, selebihnya diri kita sendirilah yang menentukan keberhasilans ekolah.

Saya sendiri adalah produk dalam negeri; S1, S2, dan S3 semuanya di ITB. Bukannya saya tidak mau ke luar negeri, saya sudah diterima di University of Leeds di Inggris, tetapi waktu itu saya tidak berhasil mendapat beasiswa. Dulu program beasiswa S2 tidak sebanyak sekarang. Setelah beberapa tahun tidak juga mendapat beasiswa ke luar negeri, sementara uang tidak punya, maka saya mulai berpikir realistis saja, yang pasti-pasti saja. Umur saya bertambah terus mendekati kepala tiga, tidak mungkin saya terus menunggu yang tidak pasti. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil program S2 (lalu S3) di ITB saja dengan beasiswa BPPS yang disediakan Dikti bagi dosen PT.

Karena sekolah di kampus sendiri, di tempat saya mengabdi, maka kewajiban mengajar dan membimbing tetap jalan terus. Teorinya sih seharusnya dibebastugaskan mengajar karena saya menjadi mahasiswa tugas belajar, tetapi Jurusan saya tetap memberi beban mengajar dan membimbing. Katanya sih supaya tunjangan fungsional PNS saya tetap jalan terus karena ada beban akademik, kalau tidak mengajar nanti tunjangan fungsional saya dihentikan; Lalu bagaimana nanti anda bisa survival, kata Ketua Jurusan saya kala itu. Ha..ha..ha, saya manggut-manggut saja mendengar penjelasan Kajur, ada benarnya juga sih, apalagi saya baru menikah dan punya anak waktu itu, tentu butuh biaya ekstra. Itu sudah menjadi rahasia umum di ITB atau di PT tempat anda bekerja di mana anda mengambil Pascasarjana di sana, anda tetap harus kuliah sambil bekerja.

Anda bisa membayangkan betapa repotnya S2 dan S3 di kampus sendiri. Pikiran harus dibagi-bagi untuk urusan kuliah S2/S3, urusan mengajar dan membimbing TA, membimbing kemahasiswaan, mengurus anak yang masih kecil-kecil, membagi waktu untuk istri, memikirkan orangtua, dan sebagainya. Semuanya harus multitasking. Walah, kok saya jadi curhat ya…, hi..hi.. Setelah semuanya selesai (S2 dan S3 beres), saya masih tetap tidak percaya kok saya bisa lolos juga menyelesaikan semua kerumitan hidup itu, he..he. Pastilah ini ada campur tangan Tuhan di dalamnya, saya makin menyadari bahwa kalau kita tekun dan ikhlas menjalani, pasti Allah SWT akan memberi ridho-Nya. Jangan lupa pula ada restu orangtua, doa yang mereka panjatkan, doa anak dan istri, dan doa orang-orang sholeh yang baik kepada kita. Duh, saya jadi curhat lagi.

Tapi intinya saya ingin mengatakan bahwa selama anda belum dipusingkan dengan segala kerepotan hidup, selagi masih bebas, jangan buang-buang kesempatan untuk mengambil sekolah lagi setamat S1 atau S2. Kalau sudah berumur dan sudah makin tua maka akan lebih sulit untuk sekolah lagi, sebab daya ingat sudah berkurang, sudah mulai pelupa, dan lamban berpikir. Jika anda masih muda maka berbahagialah, raihlah ilmu setingi-tingginya dan beramal shalehlah sebanyak-banyaknya. Iman itu bertambah dengan ilmu dan amal.

Anak Meniru Kelakuan Orangtua di Rumah

Seringkali kita temukan remaja yang suka merokok di tempat umum. Selain karena pengaruh temannya, ternyata penyebab mereka merokok itu adalah karena kebiasaan ayahnya yang suka merokok di rumah. Seorang ayah yang suka memamerkan kebiasaan merokoknya di depan anak maka percayalah bahwa nanti suatu hari anaknya juga akan merokok. Sang anak merasa bahwa perbuatan merokok itu adalah hal yang biasa, maka dia pun merasa tidak “bersalah” jika mencobanya dan akhirnya menjadi terbiasa pula seperti ayahnya. Jika anda sebagai ayahnya marah memergoki anak anda merokok, maka anda harus introspeksi bahwa andalah yang menyebabkan anak demikian.

Apakah anda — para ibu — juga suka memamerkan merokok di depan anak perempuan anda? Anda tidak perlu menyesali diri jika nanti anak perempuan anda juga menjadi perokok.

Apakah anda — para ayah — suka bertelanjang dada di dalam rumah, memakai hanya celana pendek saja dengan alasan gerah? Anak anda yang melihat itu hal yang biasa dan kelak dia pun tidak sungkan bertelanjang dada di depan tamu yang datang ke rumah.

Anak yang suka berkata kasar, berisi kata-kata sumpah serapah, atau suka mengabsen nama-nama penghuni kebun binatang, maka patut diduga kebiasaan berkata kasar itu diperoleh dari rumah. Tidak sadarkah anda sebagai orangtua yang sering berkata kasar di dalam rumah tangga, maka anak akan meniru pula kebiasaan itu. Saya pernah menemukan kasus ini, teman anak saya yang kata-katanya cenderung kasar ternyata setelah saya amati orangtuanya juga begitu terhadap anaknya. Tak ada kasih sayang lemah lembut sama sekali dalam berbicara.

Sebaliknya saya juga sering menemukan anak yang sopan dan santun dalam berbicara, sikapnya juga ramah. Ternyata orangtuanya juga ramah dan dalam bertutur kata lemah lembut dan sopan. Pantesan. Bagaimana anda sebagai orangtua bersikap di rumah maka anak juga akan melihat dan menirunnya. Bagaimana anda di depan anak, maka begitulah anak anda nanti. Dia belajar dari ayah dan ibunya. Dia belajar dari apa yang dia lihat di sekelilingnya. Dia belajar dari perlakuan yang diterimanya.

Mendidik anak itu tidak mudah. Teladan pertama datang dari anda, para orangtua. Maka, jika anda memberikan contoh yang baik, anak anda tumbuh menjadi anak yang baik, tetapi jika anda memberikan contoh yang buruk, maka anda jangan kaget jika anak anda meniru keburukan itu.

Dalam ajaran Islam, contoh dari orangtua adalah yang nomor satu. Bagaimana anak anda mau shalat lima waktu jika anda sendiri tidak menegakkan shalat berjamaah di rumah. Bagaimana anak anda mau membaca al-Quran jika anda sendiri tidak pernah mengaji setiap waktu Maghrib.

Dengarlah sebuah kutipan puisi tentang mendidik anak dari Dorothy Law Nolte (saya kutip dari sini):

Jika anak dibesarkan dengan celaan, dia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, dia belajar membenci
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, dia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, dia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, dia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, dia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, dia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, dia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, dia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, dia pun belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Kapan Ujian Nasional Bisa Jujur?

(Oknum) Guru juga bagian dari masalah kejujuran. (Oknum) guru berani menciderai kejujuran karena mereka (dan sekolah) takut disalahkan jika muridnya banyak yang tidak lulus UN.

Kapan Ujian Nasional di negeri ini bisa bersih dari kecurangan? Menunnggu ujian nasional yang jujur sama saja menunggu GODOT yang tidak akan pernah muncul.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sumber: http://sindikasi.inilah.com/read/detail/1854462/guru-bagikan-4-paket-jawaban-un

Guru Bagikan 4 Paket Jawaban UN

NILAH.COM, Palembang – Meski bimbingan belajar, try out, dan pelajaran tambahan sudah dilakukan oleh sejumlah sekolah, masih ada saja sekolah yang meragukan kemampuan siswanya. Bahkan, ada sekolah yang mengantisipasi hal tersebut dengan menyiapkan empat paket jawaban ujian nasional (UN) untuk dibagikan kepada siswanya.

Sejumlah siswa SMP yang baru saja menyelesaikan UN hari ke-2, Selasa (24/4/2012), mengaku dapat mengerjakan UN dengan mudah karena telah dibekali empat paket jawaban dari gurunya, sebelum UN berlangsung. Siswa dianjurkan untuk tidak sembarangan membuang jawaban setelah pelaksanaan UN.

“Kami dapat menyelesaikan UN dengan mudah, bahkan lebih mudah dari try out karena kami sudah memliliki empat paket kunci jawaban yang diberikan guru sebelum UN. Sepertinya para pengawas di kelas tidak terlalu memperhatikan kami,” ujar salah satu siswa saat diwawancarai setelah pulang ujian.

Siswa itu menambahkan, awalnya ia dan teman-teman ragu-ragu tentang kebenaran dari kunci jawaban tersebut. Tapi akhirnya mereka percaya saja karena yang memberikan adalah guru mereka sendiri dan mereka yakin tidak mungkin guru itu mau menjerumuskan mereka.

“Lagi pula kami mendapatkan empat paket jawaban sekaligus sehingga dapat menyesuaikan dengan paket apa yang didapat,” ucapnya.

Disinggung soal hujan yang mengguyuri Kota Palembang sejak pagi pada hari ke-2 UN, ia mengaku banyak temannya yang terlambat mengikuti UN, namun para guru dan pengawas memberikan toleransi serta mengizinkan untuk mengikuti UN sebagaimana mestinya.

Tak hanya itu, aksi saling contek lewat pesan singkat (SMS) melalui HP masih terjadi pada UN tingkat SMP. Sejumlah siswa memasukkan HP dalam saku dan tidak diperiksa pengawas.

“Memang jika ketahuan handphone tidak boleh dipakai. Namun waktu masuk kelas, disimpan di tas. Kemudian, sebelum tas dikumpul di depan, handphone dipindah ke kantong dan tidak lagi diperiksa. Tetapi, tetap saja membukanya diam-diam jangan sampai pengawas tahu. Jadi, bisa secontekan dengan teman yang paket sama,” ungkap siswa sekolah lain, saat ditemui usai ujian, di depan sekolahnya.

Akan tetapi, karena jumlah paket soal cukup banyak, jadi cukup kesulitan untuk secontekan dan jawaban yang diberikan temannya pun tidak begitu banyak. Sedangkan mengenai isu bocoran soal sebelum ujian, dirinya mengatakan tidak pernah mendapatkan.

“Contekan dari teman, hanya sedikit. Sulit, karena jumlah paketnya banyak dan kabarnya memang ada bocoran lewat SMS tapi saya tidak pernah dapat,” katanya.

Mengenai hujan yang melanda saat pelaksanaan UN hari kedua dengan mata pelajaran bahasa Inggris ini, siswa itu menambahkan, hujan tidak sampai mengganggu jalannya ujian, serta tidak ada siswa lain yang terlambat datang.

Sementara itu, Koordinator UN Kota Palembang, Nursyamsu Alamsyah, ditemui saat mengantar LJUN di Dinas Pendidikan (Disdik) Sumsel, menuturkan, di Prosedur Operasional Standar (POS) UN, handphone tidak boleh digunakan dan tas diletakkan di depan kelas.

“Hal yang utama pengawas tidak boleh meresahkan peserta dan siswa hanya boleh menggunakan alat tulis. Jika memang hal itu masih terjadi artinya kelalaian dari pengawas,” tuturnya.

Padahal, lanjut Kasi Kurikulum Bidang SMP/SMA/SMK Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Palembang ini, sejak awal kepala sekolah dan pengawas sudah ditekankan untuk memeriksa peserta sebelum memulai ujian. Untuk sanksi terhadap kelalaian ini, tergantung dari bentuk kesalahan dan perlu pembuktian.

“Sejak awal sekolah sudah kita tekankan agar dapat mengantisipasi hal-hal seperti itu, dan kepala sekolah harusnya menyampaikannya kepada pengawas serta polisi yang bertugas di situ juga berhak menegur dan melaporkan melalui kepala sekolah jika ada indikasi tindak kecurangan,” jelasnya.

Menurut Nursyamsu, secara umum pelaksanaan UN berjalan cukup lancar. Tidak ada kekurangan soal ataupun LJUN, seperti pada pelaksanaan UN di tingkat SMA sederajat sebelumnya. Serta dari data sementara, peserta yang tidak hadir tercatat sebanyak enam orang.

“Dari data absen yang diterima siswa tidak hadir ada enam orang, namun sejauh ini belum ada surat resmi pemberitahuan ketidakhadiran mereka. Namun, jika ada surat keterangan dokter dan pihak sekolah, siswa tersebut dapat mengikuti ujian susulan,” imbuhnya. [bar]

Punya Profile di “Google Scholar”

Rekan saya dari Teknik Telekomunikasi STEI-ITB, Kang Eueung Mulyana, mengabarkan bahwa saat ini setiap penulis (author) makalah/artikel dapat membuat profile sendiri di Google Scholar. FYI, Google Scholar adalah salah satu mesin pengindeks untuk makalah, buku, dan karya-karya kecendekiaan lainnya asalkan dalam bentuk tertulis. Mesin pengindeks yang lain adalah Scopus, Index Copernicus, ProQuest, IEEXplore, dan sebagainya.

Profile di Google Scholar berisi daftar semua tulisan seorang penulis (buku, makalah, artikel, dsb) yang dikutip (citation) oleh penulis lain. Tulisan karya penulis tersebut diacu sebagai referensi yang disebutkan di dalam daftar pustaka. Daftar semua kutipan tersebut berasal dari search.scholar yg secara otomatis di-crawl oleh Google apabila artikel/makalah terkait bisa ditemukan oleh Google.

Cara membuat profile di Google Scholar adalah sebagai berikut:

1. Anda hanya hanya perlu login dengan akun gmail

2) Buka alamat http://scholar.google.com atau http://scholar.google.co.id/

3) Klik link “My Citation” atau “Kutipan Saya” (jika di http://scholar.google.co.id) di kanan atas atau kanan bawah

4) Ikuti 3 langkah pada halaman tersebut

5) Edit data bila perlu (foto, affiliation dll.), kemduian klik “Make Public” agar bsia dilihat oleh orang lain.

Nah, saya mengikuti algoritma yang diberikan oleh Kang Eueung Mulyana di atas, maka jadilah seperti gambar di bawah ini:

Anda dapat melihat profile saya di Google Scholar pada alamat ini: http://scholar.google.com/citations?hl=en&user=ugYa9lEAAAAJ&oi=sra

Profile scholar punya Kang Eueung Mulyana yang ini: http://scholar.google.com/citations?user=-wXTUQoAAAAJ&hl=en

Wah, betapa kaget saya melihat profile saya sendiri, tidak menyangka sebanyak itu. Ternyata Google Scholar tidak hanya berhasil mengumpulkan semua citation terhadap makalah-makalah saya, tetapi juga semua citation buku dan diktat kuliah yang saya tulis. Buku saya yang sederhana, yaitu Pengolahan Citra Digital dengan Pendekatan Algoritmik tenyata mempunyai citation tertinggi, yakni dikutip oleh 169 makalah (status saat tulisan ini dibuat). Dengan mengklik angka cite maka anda dapat melihat makalah-makalah apa saja yang mengutip suatu tulisan/artikel.

Selain buku dan diktat, makalah-makalah saya di berbagai konferensi dan jurnal ilmiah juga mendapat citation, baik oleh penulis di dalam negeri maupun di luar negeri. Bahkan, beberapa makalah penulis tersebut sudah terindeks pula di dalam IEEXplore. Memang tidak semua makalah saya mendapat citation

Alhamdulillah, saya bersyukur kepada Allah SWT bahwa apa yang saya tulis memberi nilai tambah bagi orang lain. Jika semua karya kecendekiaan (scholar) kita di-online kan di internet, maka akan banyak manfaat bagi orang lain yang membacanya. Jazakallah.

Dengan menaruh makalah/artikel kita di Internet, maka mesin-mesin pencari akan mengindeks tulisan kita tersebut. Dampaknya, selain terhadap si penulis, secara tidak langsung juga akan meningkatkan penilaian oleh lembaga pemeringkat perguruan tinggi dunia seperti THES, sebab salah satu kriteria pemeringkatan perguruan tinggi adalah jumlah citation index yang dikumpulkan oleh mesin pencari. Hmmmm… saya berpikir alangkah baiknya para akademisi (mahasiswa, dosen, peneliti) di seluruh Indonesia juga membuat scholar profile di Google.

Apakah anda sudah membuat profile di Google Scholar?

Dari TK Hingga Mahasiswa Ada Bimbel-nya

Bimbingan Belajar atau Bimbel sekarang ini ada di mana-mana, terutama di kota-kota. Para siswa mulai dari SD hingga SMA mengikuti Bimbel untuk mendongkrak prestasi belajar mereka di sekolah. Bimbel ada karena siswa merasa pelajaran di sekolah masih kurang dimengerti sehingga mereka merasa perlu ikut Bimbel. Orangtua juga sibuk di luar sehingga tidak bisa membimbing anak-anaknya belajar di rumah. Baiklah, itu alasan yang bisa dipahami meskipun tidak bsia selalu menjadi pembenaran.

Tidak hanya untuk siswa SD hingga SMA, untuk anak prasekolah (TK) pun juga ada Bimbel-nya. Saya sering membaca iklan di koran atau yang ditempel di pohon-pohon tentang bimbingan belajar membaca, menulis, dan berhitung bagi anak TK. Bahkan banyak orangtua yang telah memasukkan anak-anak mereka yang masih TK ikut les matematika Kumon. Kasihan anak TK, belum waktunya mereka dipaksa untuk belajar menulis, membaca, dan berhitung, tetapi orangtua sudah memasukkan mereka ke Bimbel lebih dini.

Menarik menyoroti fenomena bahwa Bimbel bukan hanya untuk siswa yang merasa diri lemah, tetapi siswa-siswa yang otaknya pintar pun ikut-ikutan Bimbel. Mereka ini menurut saya adalah anak-anak yang merasa kurang percaya diri (PD) sehingga ikut trend teman-temannya yang les di Bimbel. Persaingan memperebutkan sekolah favorit di tingkat SMP dan SMA berdasarkan nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) telah membuat banyak siswa-siswa yang sebenarnya tidak perlu Bimbel akhirnya merengek-rengek kepada orangtuanya agar ikut Bimbel.

Bagi Bimbel, memperoleh siswa yang pintar adalah berkah atau aset yang berharga, sebab keberhasilan siswa tersebut masuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi (SMP/SMA/PTN) akan mengangkat nama lembaga mereka. Bimbel akan mengklaim inilah siswa-siswa mereka yang berhasil masuk sekolah atau PTN favorit. Kadang-kadang siswa yang mendapat ranking di sekolah dibebaskan dari biaya Bimbel atau diberi potongan harga yang besar agar mereka tertarik masuk.

Jangan dikira Bimbel itu hanya sampai SMA saja. Bahkan hingga menjadi mahasiswa pun masih ada Bimbel. Setidaknya ini saya temukan di ITB, ada Bimbel yang dikhususkan bagi mahasiswa TPB (tingkat 1 ITB) dengan harga yang mencapai jutaan rupiah, bahkan pakai garansi nilai A lagi. Lihat foto di bawah ini:

Sumber foto dari sini: http://wa2010.ee.itb.ac.id/content/bimbingan-test-tpb-itb

Bimbel buat mahasiswa ITB ini muncul diduga sebagai “kerasnya” efek persaingan memilih Program Studi pada tahun kedua di ITB. Peminat Prodi tertentu di suatu fakultas sangat banyak tetapi jumlah kursi terbatas, akhirnya seleksi terpaksa dilakukan berdasarkan IPK TPB. FYI, di ITB mahasiswa masuk Prodi pada tahun kedua. Ketika menjadi mahasiswa baru ITB statusnya adalah sebagai mahasiswa di fakultasnya. Jadi, ketika ikut SNMPTN calon mahasiswa yang memilih ITB hanya bisa memilih fakultas saja (gal ini berbeda di PT lain dimana mahasiswanya sudah memilih jurusan/Prodi ketika baru masuk). Nanti pada tahun kedua mereka berada pada Prodi pilihannya sesuai dengan minat (dari kuisioner yang diisi sebanyak 3 kali), daya tampung, dan IPK. Karena itu “wajar” jika mahasiswa TPB-ITB berlomba mendapat IPK tinggi agar bisa lolos masuk Prodi pilihannya.

Adanya Bimbel buat mahasiswa itu tentu fenomena yang ganjil karena terjadi di ITB. Dulu belum pernah ada Bimbel seperti ini, toh kami-kami bisa juga lulus dengan baik. Mungkin lain dulu lain sekarang. Dengan tingkat ekonomi mahasiswa baru ITB yang sebagian besar dari kelas atas, maka hal ini ditangkap sebagai peluang bisnis bagi mahasiswa lain. Tentu saja hal ini sah-sah saja, namun bagi saya tetap merasa aneh karena terjadi di kampus saya. Apakah kualitas mahasiswa baru sekarang ini semakin menurun sehingga sampai ada Bimbel? Atau karena sengitnya pemilihan Prodi? Atau karena faktor lain? Yang saya khawatirkan adalah jangan sampai mahasiswa menganggap segala persoalan bisa diselesaikan dengan uang. Tidak baik.

Tidak Ada Lagi “SNMPTN Ujian Tulis” pada Tahun 2013?

Kebijakan ujian masuk perguruan tinggi negeri selalu berubah-ubah, entah sampai kapan menjadi format yang mapan dan selalu diterapkan setiap tahun. Baru-baru ini, Dirjen Dikti, Djoko Santoso, yang tidak lain mantan Rektor ITB, mengumumkan kebijakan baru yang mungkin menjadi kabar buruk bagi sebagian siswa SMA. Tahun 2013 tidak ada lagi SNMTN jalur ujian tulis. Jalur yang ada adalah jalur undangan (minimal 60%) dan jalur mandiri (maksimal 40%). Jalur undangan dilakukan melalui SNMPTN berdasarkan nilai rapor sekolah, sedangkan jalur mandiri dilaksanakan oleh masing-masing PTN.
(Baca berita selengkapnya di bagian bawah).

Tentu saja berita ini kabar buruk bagi siswa SMA yang mengandalkan jalur ujian tulis (berhubung nilai rapornya kurang bagus). Juga menjadi kabar buruk bagi siswa yang tidak lolos masuk PTN pada tahun sebelumnya dan mencoba peruntungan nasib dengan mengikuti seleksi masuk PTN lagi. Satu-satunya jalur yang tersedia adalah jalur ujian mandiri di masing-masing PTN yang kapasitas maksimal 40% saja. Karena setiap PTN mengadakan ujian mandiri, maka seorang calon mahasiswa harus wara-wiri mengikuti ujian di beberapa PTN pilihannya di berbagai kota. Ongkosnya akan menjadi lebih mahal daripada mengikuti SNMPTN jalur ujian tulis bersama yang selama ini ada. Selain itu, jalur ujian mandiri tentu akan mensyaratkan SPP dan uang pangkal yang lebih mahal bagi calon mahasiswa baru.

Positifnya, peniadaan jalur ujian tulis akan memicu para siswa lebih dini mempersiapkan diri untuk masuk perguruan tinggi negeri lewat jalur undangan, yaitu dari kelas 1 SMA (atau kelas 10). Sebab, jalur undangan akan memperhatikan nilai rapor siswa selama sekolah. Jadi, kesuksesan itu dilihat dari prosesnya (prestasi belajar selama sekolah), bukan hanya dari hasil akhir saja (ujian tulis SNMPTN). Hal ini juga menjawab protes sebagian kalangan yang pernah mengkritik penentuan kelulusan siswa SMA hanya dari hasil UAN (Ujian Akhir Nasional) semata, sementara hasil belajar selama 3 tahun di sekolah diabaikan. Ibaratnya hasil UAN selama 3 hari dapat menghapus hasil belajar selama 3 tahun. Dengan SNMPTN jalur undangan yang porsinya besar (60%) maka jerih payah siswa 3 tahun diperhitungkan sebagai syarat diterima di PTN.

Jujur saja, sebenarnya saya lebih setuju jalur ujian tulis SNMPTN tetap ada untuk mengakomodasi calon mahasiswa yang tersingkir dari jalur undangan. Mereka bukan tidak pintar sehingga gagal, tetapi porsi jalur undangan bagi tiap sekolah terbatas. Untuk sekolah-sekolah unggulan yang siswanya sebagian besar bagus-bagus tentu tidak semua siswanya lolos jalur undangan. Mereka harus rela ikut jalur ujian mandiri untuk memperebutkan sisa tempat duduk yang ada.

Yang diuntungkan dari kebijakan baru ini tentu Bimbel (Bimbingan Belajar). Bimbel akan diserbu anak-anak SMA sejak kelas 1 agar nilai rapor mereka bagus sehingga kans lolos jalur undangan makin besar. Akhirnya yang kita lihat nanti adalah mahasiswa-mahasiswa produk Bimbel yang hanya pandai mengerjakan soal dengan cepat tanpa mengerti konsep. Para guru juga tergoda untuk mengobral nilai agar rapor siswanya bagus (meskipun jika sekolah ketahuan mengkatrol nilai akan terkena hukuman selama 3 tahun, tetapi manusia lebih cerdik daripada aturan).

~~~~~~~~~~~~~~~

SNMPTN 2013, Hapus Jalur Ujian Tulis

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2012/03/12/120316/SNMPTN-2013,-Hapus-Jalur-Ujian-Tulis

JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)
menetapkan formulasi baru dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan
Tinggi Negeri (SNMPTN) 2013 mendatang. Tahun depan, SNMPTN hanya
dilakukan dengan jalur undangan. SNMPTN jalur tulis dihapus.

Kebijakan menetapkan menghapus SNMPTN jalur ujian tulis merupakan
implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 34 Tahun
2010. Dalam Peraturan Menteri tersebut dinyatakan penerimaan mahasiswa
baru di PTN melalui dua skema, yaitu SNMPTN dan/atau jalur mandiri.

Dihubungi di Jakarta kemarin, Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti)
Kemendikbud Djoko Santoso menuturkan, pihaknya memang akan menghapus
SNMPTN jalur tulis untuk tahun depan. Dia menerangkan sesuai dengan
peraturan meteri, tahun depan seleksi masuk PTN dibagi menjadi dua.
Yaitu SNMPTN dengan pagu 60 persen dari total kuota nasional, dan
seleksi jalur mandiri dengan pagu 40 persen.

Mantan rektor ITB itu menegaskan, pagu 60 persen untuk SNMPTN tadi
dilaksanakan dengan jalur undangan semuanya. “Untuk yang jalur mandiri
(40 persen dari kuota, red) kita serahkan ke majelis rektor,” ucap
Djoko. Nantinya seluruh kampus negeri melalui majelis rektor diberi
wewenang untuk mengelola, apakah sebagian dari pagu seleksi mandiri
akan dipakai jalur tulis secara nasional atau digabung sekalian dengan
jalur undangan.

Djoko mengingatkan, pagu 60 persen untuk SNMPTN itu adalah batas bawah
atau minimum. Artinya, jalur SNMPTN ini boleh lebih dari pagu yang
ditetapkan itu. Sedangkan pagu 40 persen untuk jalur mandiri itu
adalah batas atas.

Ketentuan menghapus SNMPTN jalur ujian tulis menurut Djoko menjadi
bagian dari skema menjadikan nilai ujian nasional (unas) sebagai
ketentuan penerimaan mahasiswa baru. “Kita mendukung integrasi nilai
unas untuk acuan menerima mahasiswa baru,” kata dia. Seperti
diketahui, dalam SNMPTN jalur undangan mahasiswa yang diterima dilihat
dari nilai unas dan rapor semester III, IV, dan V.

Djoko lantas menjelaskan, skema SNMPTN 2013 yang seluruhnya untuk
jalur undangan harus benar-benar diperhatikan pihak sekolah. Sebagai
perbandingan, Djoko mengatakan dalam SNMPTN tahun ini pagu mahasiswa
baru yang diterima melalui jalur undangan hanya 35 persen, sisanya
untuk SNMPTN jalur ujian tulis.

Menurut Djoko, ada konsekwensi tinggi pada sistem baru SNMPTN 2013
nanti. Yaitu, pihak sekolah dilarang main-main untuk mengatrol nilai
siswa. Sebab, resiko untuk sekolah yang terbukti mengatrol nilai rapor
siswa dilarang ikut SNMPTN jalur undangan selama tiga tahun
berturut-turut.

Dampak dari aturan ini, siswa lulusan sekolah yang di-blacklist
panitia SNMPTN karena curang hanya bisa masuk PTN melalui jalur
mandiri. Akibatnya, seperti diketahui biaya kuliah untuk jalur mandiri
ini biasanya lebih mahal dibandingkan jalur SNMPTN. “Perubahan sistem
ini adalah bentuk meningkatnya kepercayaan kami. Mohon jangan
dirusak,” kata dia. (wan)

Panggilan Itu Adalah Doa

Waktu SMA dulu saya sering dipanggil “dotor” oleh teman-teman. “Dotor” dalam dialek Minang artinya “dokter”, sebab orang Minang sering memanggil dokter dengan sebutan pak dotor.Panggilan dotor itu mungkin karena penampilan saya yang memakai kacamata agak besar, badan kurus, rambut kurang tertata rapi, dan karena saya “jago” pelajaran kimia di sekolah, ha..ha..ha. Salah satu guru kimia saya (almarhum Azhar) adalah alumni Fakultas Kedokteran. Penampilannya sama seperti saya juga, berkacamata dan kurus, sehingga saya diidentikkan dengan tipikal guru kimia itu. Hingga saya menjadi dosen di ITB teman-teman SMA tetap memangil “dotor” seperti itu. Penampilan saya di ITB dan di SMA tidak jauh berubah.

Ternyata dua puluh lima tahun kemudian saya memang menjadi “dotor” betulan, tetapi bukan dokter, melainkan “Doktor” atau “Dr”. Ini adalah gelar akademik setelah saya menyelesakan S3 beberapa tahun yang lalu. Alhamdulillah, ini semua karena semangat juang, pertolongan Allah, dan doa banyak orang.

Doa? Ya, saya menganggap panggilan teman-teman dengan gelar “dotor” itu bukan panggilan iseng, melainkan adalah doa dan pengharapan mereka agar kelak saya menjadi dotor betulan. Ternyata doa itu benar-benar dikabulkan oleh Tuhan. Seorang teman SMP saya dulu sering dipanggil “profesor” karena dia jago matematika, ternyata dikemudian hari dia memang menjadi profesor betulan di Universitas Negeri Padang. Sekarang saya tidak dipanggil “dotor” lagi oleh teman-teman, tetapi berganti dengan “prof”. Amiin (padahal untuk menjadi profesor di ITB sangat sulit dibandingkan dengan di PT lain, seleksinya luar biasa ketat).

Kalau anda memanggil orang lain sebutan atau gelar-gelar, percayalah panggilan itu kelak akan menjadi kenyataan. Apa yang anda panggil itu adalah harapan dalam bentuk lain kepada orang itu. Dia akan mempersonifikasikan dirinya seperti yang disebut dalam panggilan. Kalau panggilan itu sebutan yang baik tentu tidak masalah, akan diijabah oleh Allah SWT. Bagaimana dengan panggilan yang buruk seperti “penipu”, “pengicuh, “nakal”, “bandel”, “pemarah”, “maling”, “gila”, dan lain-lain. Saya rasa panggilan yang buruk akan berbekas pada diri seseorang, dia merasa tidak bisa keluar dari stereotip yang dilekatkan orang kepadanya. Dia sudah terlanjur dicap buruk seperti yang sebutan yang buruk itu, dia merasa gagal menjadi orang baik karena orang-orang yang mengenalnya tetap menyimpan memori yang buruk tentang dirinya. Kelak di kemudian hari dia memang menjadi seperti sebutan itu. Anak kecil yang dulu dipanggil “pencuri” karena dia suka mencuri barang teman-temannya, ketika sudah besar dia menjadi penjahat kambuhan yang keluar masuk penjara karena mencuri.

Oleh karrena itu, Al-Quran melarang kita memanggil orang lain dengan gelar yang buruk, sebagaimana disebutkan di dalam Surat Al-Hujuraat ayat 11:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan)dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. 49:11).

Jelaslah Allah melarang kita memanggil orang lain dengan gelar yang buruk, sebab gelar buruk itu akan terwujud di kemudian hari.

Bagi orangtua, sangat penting untuk tidak berucap kata yang buruk-buruk kepada anaknya. Apa yang diucapkan orangtua akan diijabah oleh Allah, karena doa orangtua kepada anaknya itu lebih makbul. Misalnya jika anak anda pemalas sehingga membuat anda sangat kesal maka janganlah sampai terlanjur anda mengucapkan “dasar pemalas” berulang-ulang kepadanya setiap kali anda marah dengan ulahnya. Kelak dia akan menjadi pemalas betulan di kemudian hari. Kalau anak anda pernah berdusta, janganlah anda terlanjur memanggilnya dengan sebutan “pembohong” berulang-ulang, kelak dia akan menjadi politisi yang suka berbohong kepada rakyat. Jika anak anda nakal, janganlah cap dia dengan sebutan “nakal”, karena nakal pada anak-anak itu hal yang biasa. Berhentilah mengucapkan kata yang buruk kepada anak, sebab Allah akan mengabulkan apa yang anda katakan, sebelum anda akan menyesal di kemudian hari.

Pilihlah Kelahiran Anak pada Tengah Tahun, he..he..

Anak saya yang bungsu tidak dapat diterima di sekolah dasar pilihannya pada tahun ini karena umurnya masih kurang. Anak saya lahir pada bulan Desember sehingga pada tahun ajaran baru (Juli 2012) umurnya baru 5,5 tahun. Padahal kebanyakan SD swasta yang bagus mensyaratkan batas umur minimal siswa baru kelas 1 adalah 5 tahun 10 bulan (kalau masuk SD negeri syaratnya lebih tinggi lagi, diutamakan umur tujuh tahun, umur enam tahun belum bisa diterima). Ini berarti anak saya harus menambah TK satu tahun lagi agar bisa diterima masuk SD pada tahun depan. Jika dihitung Playgroup satu tahun, TK dua tahun (kelas nol kecil dan kelas nol besar) plus satu tahun lagi, maka anak saya menjalani pendidikan prasekolah selama empat tahun.

Alasan pihak sekolah bisa saya pahami. Anak seumur segitu (dibawah 5 tahun 10 bulan) dikhawatirkan belum “matang”, belum siap sekolah. Okelah sang anak sudah lancar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi jika belum “matang” maka akan timbul persoalan di kemudian hari. Selama di kelas 1 dan 2 pelajarannya relatif mudah, namun kata Bu Guru — yang sudah berpengalaman menerima murid belum matang– persoalan akan muncul di kelas 3 dan selanjutnya. Si anak mulai terlihat bermasalah, tidak mau diatur, tidak mau mengerjakan PR, malas, cepat bosan, dan perilaku negatif lainnya.

Kata psikolog yang saya kunjungi, anak yang belum matang masuk SD — tetapi dipaksakan juga masuk SD — sebenarnya belum puas masa bermainnya, sehingga bisa timbul masalah ketika dia sudah bersekolah. Sekolah di TK dan di SD berbeda. Di SD sudah ada konsekuensi jika siswa tidak mengikuti aturan sekolah, sudah ada nilai terhadap pelajaran yang diberikan, sudah ada ujian, sudah ada PR yang harus dikerjakan, sudah ada hukuman jika tidak megerjakan tugas, dan sebagainya. Di SD anak tidak bisa bermain sekehendak hatinya lagi seperti di TK. Sebaliknya di TK tidak ada konsekuensi terhadap materi yang diberikan (reward and punnishment). Masa di Taman Kanak-kanak adalah masa-masa bermain yang menyenangkan. Anak-anak yang belum puas masa bermainnya dan langsung masuk SD (atas keinginan orangtua atau keinginan anak itu sendiri), maka biasanya timbul persoalan jika dia sudah mulai besar nanti.

Memang tidak semua anak yang belum cukup umur masuk SD akan bermasalah ketika sudah bersekolah, ada juga beberapa anak yang masih kecil usianya dapat melewati fase tersebut dengan baik. Beberapa anak yang masih kecil dapat dengan mudah beradaptasi dengan lingkungannya yang lebih besar. Namun kata psikolog dan guru-guru SD yang sudah makan asam garam mendidik anak, kebanyakan anak yang belum matang cenderung bermasalah di kemudian hari. Itulah yang sering terjadi.

Mahasiswa-mahasiswa saya di ITB banyak yang berusia masih sangat muda ketika dia menjadi mahaisswa baru. Ada yang umurnya 16 tahun atau 17 tahun sudah menjadi mahasiswa, bahkan pada angkatan 2011 kemarin ada yang masih 14 tahun! Mereka yang masih muda-muda ini masuk SD pada waktu masih kecil, rata-rata umur 5 tahun, lalu ketika di SD hingga SMA menjalani program akselerasi atau loncat kelas sehingga SD hanya perlu 5 tahun, SMP 2 tahun, dan SMA 2 tahun. Pantaslah mereka mash muda-muda ketika menjadi mahasiswa. Rata-rata mereka itu mahasiswa yang otaknya cerdas. Umur masih muda, pintar lagi.

Kalau saya amati, mahasiswa yang masih muda-muda itu ada yang yang terlihat belum dewasa dan matang dalam berpikir. Terhadap lawan jenis (terutama jika yang masih muda itu mahasiswa laki-laki) mereka masih diperlakukan seperti anak kecil. Sifat kekanak-kanakan mereka kadang masih terlihat, padahal mereka bergaul dengan mahasiswa yang seharusnya menjadi kakak kelas mereka. Tapi itulah resiko yang harus dhadapi dari pilihan usia dini bersekolah.

Orangtua teman anak saya pernah bercerita tentang keponakannya yang dulu masuk SD pada usia dini. Sekarang keponakannya itu sudah berusia di atas kepala dua, tetapi secara tingkah laku dan emosi terlihat belum dewasa. Memang ini hanya satu kasus yang tidak bisa dgeneralisir, namun sebagai orangtua kita perlu juga berkaca pada kasus yang sudah-sudah sebagai bahan evaluasi.

Pada prinsipnya kita sebagai orangtau jangan memaksakan kehendak. Jika anak belum matang untuk masuk SD ya jangan dipaksa. Puaskan dulu masa bermainnya agar dia siap menjalani kehidupan yang lebih serius ketika masuk SD. Saya juga begitu, tidak memaksakan anak saya masuk SD karena saya merasa masa bermainnya belum terpuaskan dan saya nilai anak saya belum matang masuk SD. Biarlah telat setengah tahun masuk SD daripada nanti timbul masalah yang merugikan masa depan anak itu sendiri. Dia yang menjalani hidupnya sendiri kelak, bukan kita orangtuanya.

Secara bercanda saya pernah berpikir, kalau boleh memilih maka aturlah program mempunyai anak sehingga lahirnya di pertengahan tahun, agar nanti masuk SD pas umur 6 tahun lebih, he..he. Tetapi itu hanya joke, siapa pula yang bisa memilih bulan dan hari. Tuhan sudah menentukan hidup setiap manusia, kita tidak bisa memilih lagi.