Tulisan ini masih berkaitan dengan tulisan sebelum ini. Memeriksa ujian itu susah-susah gampang. Yang paling menyenangkan adalah memeriksa ujian pilihan berganda, sebab sangat cepat memeriksanya, namun perlu waktu yang lama untuk membuat soalnya. Tapi, mana ada sih di ITB soal ujian dalam bentuk pilihan ganda? Sama sekali tidak mengasah kemampuan analisis mahasiswa. Kebanyakan soal ujian dibuat dalam bentuk esai dan jawaban untuk soal itu bersifat terbuka. Jawaban akhir mungkin salah, tapi kalau prosesnya (jalannya) benar maka tetap ada nilai, tidak nol sama sekali. Namun, memeriksa ujian tipe ini cukup melelahkan, karena dosen harus memeriksa dengan runtut jalan pikiran mahasiswa. Membuat soalnya juga cukup sulit sebab harus mengkombinasikan soal yang mudah dan soal yang sukar serta perkiraan waktu mengerjakannya.
Nah, pertanyaannya, apakah berkas ujian diperiksa per mahasiswa atau per soal? Jika per mahasiswa maka seluruh jawaban soal mulai dari nomor 1 sampai nomor terakhir diperiksa tuntas sebelum memeriksa lembar jawaban mahasiswa berikutnya. Kalau per soal, maka jawaban soal nomor yang sama diperiksa untuk setiap berkas ujian mahasiswa. Dengan cara yang terakhir ini, maka periksa jawaban nomor 1 pada berkas ujian mahasiswa kesatu, lalu ulangi (looping) memeriksa soal nomor 1 pada berkas ujian mahasiswa kedua, ketiga, keempat, begitu seterusnya. Setelah soal nomor 1 untuk seluruh berkas jawaban diperiksa, maka mulai memeriksa jawaban nomor 2 dari berkas ujian kesatu, kedua, dan seterusnya.
Cara memerika mana yang baik? Dosen senior yang banyak saya teladani dalam hal cara pengajaran maupun kesederhanaannya, yaitu Pak Harsono yang merupakan founder IF ITB — sekarang sudah pensiun — mengatakan cara yang baik adalah cara yang kedua itu, yaitu memeriksa per soal untuk seluruh berkas jawaban. Cara ini menjamin konsistensi dalam penilaian sehingga nilai jawaban dapat diberikan seragam dan fair.
Jika cara kesatu digunakan, yaitu memeriksa tuntas setiap berkas jawaban, maka ada kemungkinan nilai yang diberikan untuk jawaban yang mirip-mirip pada dua orang mahasiswa atau lebih bisa berbeda. Katakanlah ketika memeriksa jawaban nomor 1 untuk berkas seorang mahasiswa ternyata ada kesalahan lalu diberi nilai 8, terus karena keasikan menilai dan ketika menginjak pada berkas ke berapa ternyata ada jawaban mahasiswa lain yang jalannya agak mirip tetapi juga salah lalu diberi nilai 5 (dosen lupa tadi pada mahasiswa sebelumnya diberi nilai berapa ya?). Meskipun perbedaan nilai itu kecil, tetapi pengaruhnya sangat berarti khususnya pada kasus nilai-nilai di “perbatasan”. Hal-hal kecil membentuk kesempurnaan, tetapi kesempurnaan bukanlah hal yang kecil, kata filusuf Michaelangelo. Biasanya mahasiswa melakukan komplain perbedaan nilai ini ketika berkas ujian dibagikan (yang namanya mahasiswa kan suka membanding-bandingkan nilainya dengan nilai temannya).
Saya sendiri masih campur aduk menggunakan cara memeriksa ujian, kadang-kadang pakai cara pertama, kadang-kadang pakai cara kedua, tergantung yang lebih merasa nyaman yang mana. Maka, kalau kalian dulu pernah melakukan komplain perbedaan nilai yang kecil itu padahal jalannya sama dengan punya temannya, berarti saya memeriksa ujian pakai cara pertama yang lupa-lupa ingat itu (kayak judul lagu saja).