Catatanku

Entries categorized as ‘Pengalamanku’

Cara Memeriksa Ujian yang Baik

29 Desember 2009 · & Komentar

Tulisan ini masih berkaitan dengan tulisan sebelum ini. Memeriksa ujian itu susah-susah gampang. Yang paling menyenangkan adalah memeriksa ujian pilihan berganda, sebab sangat cepat memeriksanya, namun perlu waktu yang lama untuk membuat soalnya. Tapi, mana ada sih di ITB soal ujian dalam bentuk pilihan ganda? Sama sekali tidak mengasah kemampuan analisis mahasiswa. Kebanyakan soal ujian dibuat dalam bentuk esai dan jawaban untuk soal itu bersifat terbuka. Jawaban akhir mungkin salah, tapi kalau prosesnya (jalannya) benar maka tetap ada nilai, tidak nol sama sekali. Namun, memeriksa ujian tipe ini cukup melelahkan, karena dosen harus memeriksa dengan runtut jalan pikiran mahasiswa. Membuat soalnya juga cukup sulit sebab harus mengkombinasikan soal yang mudah dan soal yang sukar serta perkiraan waktu mengerjakannya.

Nah, pertanyaannya, apakah berkas ujian diperiksa per mahasiswa atau per soal? Jika per mahasiswa maka seluruh jawaban soal mulai dari nomor 1 sampai nomor terakhir diperiksa tuntas sebelum memeriksa lembar jawaban mahasiswa berikutnya. Kalau per soal, maka jawaban soal nomor yang sama diperiksa untuk setiap berkas ujian mahasiswa. Dengan cara yang terakhir ini, maka periksa jawaban nomor 1 pada berkas ujian mahasiswa kesatu, lalu ulangi (looping) memeriksa soal nomor 1 pada berkas ujian mahasiswa kedua, ketiga, keempat, begitu seterusnya. Setelah soal nomor 1 untuk seluruh berkas jawaban diperiksa, maka mulai memeriksa jawaban nomor 2 dari berkas ujian kesatu, kedua, dan seterusnya.

Cara memerika mana yang baik? Dosen senior yang banyak saya teladani dalam hal cara pengajaran maupun kesederhanaannya, yaitu Pak Harsono yang merupakan founder IF ITB — sekarang sudah pensiun — mengatakan cara yang baik adalah cara yang kedua itu, yaitu memeriksa per soal untuk seluruh berkas jawaban. Cara ini menjamin konsistensi dalam penilaian sehingga nilai jawaban dapat diberikan seragam dan fair.

Jika cara kesatu digunakan, yaitu memeriksa tuntas setiap berkas jawaban, maka ada kemungkinan nilai yang diberikan untuk jawaban yang mirip-mirip pada dua orang mahasiswa atau lebih bisa berbeda. Katakanlah ketika memeriksa jawaban nomor 1 untuk berkas seorang mahasiswa ternyata ada kesalahan lalu diberi nilai 8, terus karena keasikan menilai dan ketika menginjak pada berkas ke berapa ternyata ada jawaban mahasiswa lain yang jalannya agak mirip tetapi juga salah lalu diberi nilai 5 (dosen lupa tadi pada mahasiswa sebelumnya diberi nilai berapa ya?). Meskipun perbedaan nilai itu kecil, tetapi pengaruhnya sangat berarti khususnya pada kasus nilai-nilai di “perbatasan”. Hal-hal kecil membentuk kesempurnaan, tetapi kesempurnaan bukanlah hal yang kecil, kata filusuf Michaelangelo. Biasanya mahasiswa melakukan komplain perbedaan nilai ini ketika berkas ujian dibagikan (yang namanya mahasiswa kan suka membanding-bandingkan nilainya dengan nilai temannya).

Saya sendiri masih campur aduk menggunakan cara memeriksa ujian, kadang-kadang pakai cara pertama, kadang-kadang pakai cara kedua, tergantung yang lebih merasa nyaman yang mana. Maka, kalau kalian dulu pernah melakukan komplain perbedaan nilai yang kecil itu padahal jalannya sama dengan punya temannya, berarti saya memeriksa ujian pakai cara pertama yang lupa-lupa ingat itu (kayak judul lagu saja).

Kategori: Pengalamanku

Tidak Bisa Memeriksa Berkas Ujian di Rumah

28 Desember 2009 · & Komentar

Setiap akhir semester, pekerjaan yang menyita waktu dan pikiran adalah memeriksa berkas ujian mahasiswa dan menghitung nilai akhir. Semester ini saya mengajar 2 mata kuliah dengan rata-rata setiap kuliah diikuti lebih dari 100 orang, total mahasiswa untuk kedua kuliah itu kira-kira 225 orang. Jadi, pada UAS ini saya mendapat pekerjaan memeriksa 225 lembar jawaban ujian mahasiswa. Kebayang nggak sih betapa repotnya memeriksa berkas ujian sebanyak itu, apalagi ujiannya dalam bentuk esai alias menjawab secara terbuka (bukan pilihan ganda). Setiap ujian rata-rata jumlah soalnya 6 hingga 8 buah. Wuih….

Ini rutinitas setiap tengah semester dan akhir semester. Memeriksa berkas jawaban sebanyak itu harus dilakoni dengan senang hati karena mahasiswa menunggu-nunggu nilainya sementara ITB menuntut setoran nilai “segera”. Memeriksa berkas jawaban itu sebenarnya menjemukan, sebab kita harus mengulang-ulang pekerjaan yang sama secara terus menerus. Untuk setiap berkas jawaban kita harus memeriksa jawaban setiap soal, memberi komentar kalau ada kesalahan, lalu memberi nilai. Hal yang sama diulang lagi pada berkas jawaban berikutnya. Begitu seterusnya hingga semua berkas telah selesai diperiksa.

Melelahkan? Ya, jelas. Karena itu memeriksa berkas ujian sangat sulit saya selesaikan dalam waktu satu hari. Baru beberapa berkas yang saya periksa, eh sudah terasa jenuh, ya sudah saya refreshing dulu, baca-baca berita dulu di Internet, ngobrol dulu dengan rekan kolega, atau keluar mencari “angin segar”. Balik lagi ke meja kerja, kerjakan lagi beberapa berkas. Kadang-kadang ketika memeriksa lembar jawaban itu ada interupsi, misalnya ada mahasiswa yang datang untuk konsultasi macam-macam, menerima kunjungan, tamu, dan lain-lain. Kira-kira butuh beberapa hari baru selesai tuh memeriksa semua lembar jawaban mahasiswa itu.

Kalau sudah begitu, maka di dalam pikiran ini terlintas rencana memeriksa berkas ujian di rumah. Di rumah ‘kan bisa lebih tenang. Saya bawa pulang tuh tumpukan berkas ujian yang tingginya mungkin 20 cm. Selesai? Ternyata tidak. Di rumah berkas ujian itu tidak bisa diapa-apakan. Anak-anak juga menuntut perhatian pulang ketika ayahnya pulang dari kantor. Okelah, malam saja dikerjakan setelah anak-anak tidur. Bisa? Tidak juga, saya udah ngantuk berat. Berhari-hari berkas ujian itu tergelatak di rumah tanpa diapa-apakan. Akhirnya berkas ujian itu saya bawa lagi ke kampus. Dikerjakan di kantor saja, tidak apalah perlu beberapa hari. Benar juga kata teman saya, kalau sudah tiba di rumah maka waktu di rumah itu adalah hak untuk anak dan istri, sementara hak kita sendiri adalah waktu di kantor. Jangan ambil hak anak itu, meskipun hanya beberapa jam saja.

Makanya, saya heran ada orang yang sepulang dari kantor bukannya istirahat bersama keluarga, tetapi malah meneruskan pekerjaan kantornya yang terbengkalai. Memang dia bisa menyelesaikan pekerjaan kantornya di rumah, tetapi kasihan deh keluarganya, hak mereka telah terampas oleh keegoisan (salah satu) orangtuanya.

Kembali ke masalah memeriksa lembar ujian tadi. Ada yang bilang kepada saya, kenapa nggak diserahkan ke asisten saja untuk memeriksa berkas ujian itu? No, kata saya. UTS dan UAS adalah previledge dosen. Asisten di Prodi kami adalah mahasiswa tingkat atas atau mahasiswa pasca sarjana. Mereka kan juga punya kesibukan kuliah dan kesibukan pribadi, kasihan mereka jika diserahi beban berlebih. Mereka cukup membantu dalam asistensi tugas kuliah dan kuis saja, tetapi untuk UTS dan UAS itu adalah urusan kami, dosen penanggung jawab mata kuliah. Lagipula, ada perbedaan cara menilai oleh asisten maupun oleh dosen. Asisten belum berpengalaman dalam memberikan nilai, tidak seperti dosen yang punya pengalaman panjang dalam memberikan ujian, maka waktu yang panjang itu telah memberikan nilai-nilai kearifan dalam memeriksa jawaban dan memberi nilai. Sebenarnya ada beberapa alasan lagi kenapa ujian tidak diserahkan kepada asisten. Namun, alasan yang paling atas dari semua itu adalah soal tanggung jawab moral.

Memang ada segelintir dosen yang super sibuk — entah karena banyak proyek atau banyak jabatan di luar — sehingga tidak punya waktu untuk membuat soal ujian apalagi memeriksa lembar jawaban. Dia mendelegasikan tugasnya itu kepada asistennya. Asisten yang membuat soal dan asisten pula yang memeriksa dan memberikan nilai. Malah sang asisten seringkali terlihat menggantikan dosen mengajar karena kesibukan tadi. Sang dosen sibuk itu tinggal menerima hasil bersih saja (termasuk menerima honor mengajar, he..he). Menurut saya ini sikap yang sangat tidak benar, dosen semacam itu sebaiknya dibebastugaskan saja sementara waktu untuk mengampu kuliah sampai dia punya waktu dan dedikasi untuk melaksanakan kewajiban kuliah yang diampunya itu.

Kategori: Pengalamanku

Hari Bapak

23 Desember 2009 · & Komentar

Kalau tanggal 22 Desember kemarin Hari Ibu, maka apakah ada Hari Bapak atau Hari Ayah? Setiap hari sepertinya Hari Bapak atau Hari Ayah, karena bagi keluarga-keluarga di Dunia Timur peran bapak dalam keluarga begitu dihormati. Dialah tulang punggung keluarga, yang setiap hari membanting badan untuk mencari nafkah untuk menghidupi anak dan istrinya. Karena perannya yang vital itu, wajarlah jika si bapak mendapat pelayanan istimewa di rumah, baik dari istri mapun dari anaknya. Pulang dari kerja sudah disiapkan air hangat untuk mandi, kalau makan didahulukan, kalau pergi atau pulang diciumi tangannya. Tradisi seperti itu masih ada hingga sekarang. Itulah bakti istri kepada suaminya, bakti anak kepada orangtua.

Meskipun di zaman modern ini istri juga bekerja, namun hukumnya tidak wajib. Istri bekerja mungkin untuk meringankan beban suami atau bekerja untuk mengisi waktu karena tidak biasa diam di rumah. Meskipun istri juga bekerja, namun kepala keluarga tetaplah si bapak. Bagi penggiat kesetaraan gender, mereka mungkin tidak suka dengan perlakuan pengistimewaan laki-laki semacam itu. Entahlah.

Meskipun tugas utama bapak adalah “berjuang” di luar rumah, namun jangan dikira pengasuhan anak hanya tugas domestik ibu semata. Banyak bapak di zaman modern sekarang mempunyai kepedulian yang tinggi untuk ikut turun tangan pengasuhan anak. Di jalan-jalan atau di tempat umum kita sering melihat bapak yang menyuapi anaknya makan atau menggendong anak dengan kain gendongan di dada. Tidak perlu merasa malu atau sungkan, sebab itu anak mereka sendiri. Tidak pula merasa takut menjadi “feminin” karena mengerjakan pekerjaaan yang dulu dianggap sebagai pekerjaan perempuan. Kasih bapak kepada anaknya tidak kalah besar dengan kasih ibu.

Masa-masa ketika anak masih bayi hingga berumur 3 tahun adalah masa yang indah. Menimang-nimang, mengajak bermain, menidurkan sambil berdendang, menyuapi makan, memandikan, dan masih banyak lagi. Itulah kenangan masa kecil anak yang tidak pernah hilang dalam memori ayah dan bunda.

Tadi, ketika mencari video di YouTube, saya menemukan cuplikan film lama dari Malaysia. Ada adegan aktor P. Ramlee yang menidurkan anak dengan lagu yang berjudul Anakku Sazali. Sungguh menyentuh sekali adegan itu. Klik videonya di YouTube ini. Entah kenapa hari-hari ini saya begitu suka dengan lagu-lagu pengantar tidur :-) .

Berikut syair lengkapnya:

Anakku Sazali dengarlah
lagu yang ayahnda karangi
sifatkan laguku hai anak
sebagai sahabatmu nanti

Anakku Sazali juwita
laguku jadikan pelita
penerang di gelap gulita
pemandu ke puncak bahagia

Andaikan kami t’lah kembali
menyambut panggilan ilahi
laguku biarlah ganti
di jiwamu hidup abadi
penerang imanmu sejati
pemandumu wahai Sazali.

Selamat Hari Bapak, selamat mengasuh anak bagi bapak-bapak dan calon bapak.

Kategori: Pengalamanku

Terkenang Lagu “Timang-Timang” Said Effendi

22 Desember 2009 · & Komentar

Hari ini, 22 Desember 2009, adalah Hari Ibu. Setiap tanggal 22 Desember, kita selalu mengenang setiap perempuan yang telah melahirkan anak-anak, itulah ibu kita dan istri kita. Apa jadinya dunia ini tanpa anak-anak, karena anak-anaklah yang menghiasi dunia dengan derai gelak tawa mereka.

Anak saya yang paling bungsu, Fajar, 3 tahun, setiap hendak mau tidur selalu minta dinyanyikan lagu Timang-Timang. Sejak anak-anak masih bayi, saya memang selalu mendendangkan lagu itu sebagai pengantar tidur. Entah kenapa, setiap mendengarkan lagu Timang-Timang itu, atau setiap kali menyanyikannya mata saya selalu basah. Tak kuasa menahan air mata. Lagu Melayu lama karya Said Effendi itu lirik dan iramanya betul-betul sangat menyentuh. Mata saya jadi basah karena dua hal. Pertama, terkenang dengan pengasuhan ayah-bunda ketika saya masih kecil. Kata ibu saya, ayah saya suka berdendang ketika menidurkan anaknya. Kedua, sekarang setelah mempunyai anak sendiri, gantian saya yang menidurkan anak dengan menyanikan lagu itu hingga sang anak tertidur lelap.

Kemaren saya cari-cari lagu ini di Internet, ketemu videonya di YouTube. Jika pembaca belum pernah mendengar lagu ini, klik video di bawah ini atau langsung klik pranala di YouTube ini. Lagu Timang-Timang ini dinyanyikan oleh Koes Hendratmo. Lagu Timang-timang memang lebih pas dinyanyikan oleh suara pria dengan jenis suara agak berat diiringi dengan gesekan biola. Sebenarnya Koes Hendratmo belum begitu bagus menyanyikannya, tapi yaa.. lumayanlah :-) .

Berikut lirik lagu Timang-Timang itu:

Timang-timang anakku sayang
Buah hati ayahnda seorang
Jangan nangis dan jangan merajuk sayang
Tenanglah tenang dalam buaian

Betapakah hati tak kan riang
Bila kau bergurau dan tertawa
S’mogalah jauh dari marabahaya
Riang gembira sepanjang masa

Ref:
Setiap waktu ku berdoa
K’pada Tuhan yang Maha Kuasa
Jika kau sudah dewasa
Hidupmu bahagia selamanya

Timang-timang anakku sayang
Kasih hati permata ibunda
Tidurlah tidur pejamkan mata sayang
Esok hari bermain kembali

Seorang mahasiswa saya yang sekarang sudah menjadi ayah berbagi pengalaman. Pernah pada suatu acara renungan pelatihan yang diikutinya, diputar lagu Timang-Timang ini. Biasanya dia susah menangis, tapi ketika diputar lagu ini, baru beberapa detik saja langsung nangis, dan tidak berhenti sampai lagu selesai. Cengeng ya, katanya. Ah tidak, kata saya, memang lagunya sangat menyentuh kalbu, jadi wajar saja jika begitu terharu.

Bagi para ayah bunda yang mempunyai anak yang masih kecil-kecil atau bagi calon ayah dan ibu, selamat menikmati lagu yang menyentuh ini. Selamat Hari Ibu.

Kategori: Pengalamanku

dr. Nurrokhim

29 Juli 2009 · & Komentar

Di kompleks pemukiman Antapani tempat saya tinggal, ada seorang dokter spesialis anak yang sangat “laris” dikunjungi pasien. Namanya dr. Nurrokhim. Pak dokter membuka dua kali praktek, yaitu pagi mulai jam 06.00 hingga siang dan sore mulai pukul 17.00 hingga malam. Wah, untuk mendapat giliran diperiksa, pasien memang harus menunggu cukup lama karena yang mendaftar sampai ratusan orang setiap hari. Pada musim-musim dimana anak mudah sakit seperti musim hujan, musim pancaraoba, dan musim kemarau (waah.. semua musim nih), pak dokter bisa berpraktek hingga larut malam karena pasien yang mendaftar banyak sekali.

Seperti malam kemaren, saya membawa anak yang nomor tiga ke dr. Nurrokhim karena sakit panas dan pilek. Waktu mendaftar via telepon, saya kebagian nomor 138, namun karena saya datang lebih cepat, saya bisa mendapat nomor 68. Petugas mengatakan agar saya datang membawa anak pada pukul 9 malam. Pukul 9 malam ternyata pasien yang dilayani baru nomor 50-an, jadi saya harus sabar menunggu lagi. Akhirnya pada pukul 10 malam barulah anak saya mendapat giliran. Hingga ketika saya pulang pasien yang menunggu masih sangat banyak dan yang sudah mendaftar sudah 160 orang (itu baru praktek malam saja, belum termasuk praktek pagi). Kata petugas di bagian pendaftaran, malam sebelumnya pak dokter melayani pasien hingga pukul 01.00 dinihari.

Hah? Pukul 1 malam? Baru kali ini saya mendengar ada dokter yang masih praktek hingga dinihari itu. Heran, padahal di Antapani ada beberapa orang dokter spesialis anak, namun hanya dr. Nurrokhim yang pasiennya bejibun begitu, sementara dokter spesialis anak lainnya pasiennya hanya 1 atau 2 orang, malah ada yang kosong melompong.

Mengapa dr. Nurrokhim begitu laris? Salah satu sebabnya karena dia sudah berpengalaman mengobati penyakit anak selama puluhan tahun, usianya mungkin sudah 60-an. Dia perintis dokter spesialis anak di Antapani. Saya sudah langganan dengan dokter ini sejak anak yang pertama. Karena pengalamannya, maka orangtua merasa nyaman membawa anaknya berobat kesitu. Begitu beken dokter ini, hingga pasiennya datang tidak hanya dari daerah Antapani dan sekitarnya, tetapi juga dari tempat yang jauh di Bandung Timur sepeti Ujungberung, Kiaracondong, bahkan Rancaekek yang sangat jauh itu.

Selain faktor pengalaman, faktor larisnya dokter ini juga karena racikan obatnya yang manjur. Tempat praktek dokter adalah rumahnya sendiri yang juga menyediakan apotek. Jadi, pasien tidak perlu membeli obat di tempat lain, cukup di situ saja. Untuk penyakit standard seperti anak saya itu (panas, pilek, batuk), tarif dokter sudah termasuk obat racikan, yaitu Rp 70.000. Kalau tidak pakai obat ya Rp 50.000. Nah, resep obat yang ditulis dokter Nurrokhim saya akui memang tokcer. Saya sudah pernah mencoba ke dokter spesialis anak yang lain, sebab waktu itu antrian di tempat dr. Nurrokhim sudah sangat panjang. Saya membawa anak ke dokter lain yang sepi pasien itu. Namun, setelah beberapa hari anak saya tidak sembuh juga, akhirnya saya bawa ke dr. Nurrokhim meski lama menunggu, dia kasih obat dan alhamdulillah lekas sembuhnya. Mungkin selain obat, faktor sugesti yaitu rasa percaya pada “tangan dingin” dokter juga mempercepat kesembuhan, padahal saya kira resep obat setiap dokter kurang lebih sama saja ya.

Jadi, saya menyimpulkan karena faktor pengalaman dan resep obatnya yang tokcer, ditunjang oleh faktor sugesti, maka orangtua rela menunggu lama untuk mendapat giliran anaknya diperiksa dr. Nurrokhim. Anak-anak yang masih bayi dan balita sampai keleleran menunggu hingga larut malam. Susah benar para orangtua itu pindah ke lain hati, maunya dengan dr. Nurrokhim saja. Sudah kadung cocok, barangkali. Meskipun sudah pindah rumah ke tempat jauh, kalau anak sakit tetap dibawa ke dr. Nurrokhim. Sekali ke sana ya ke sana terus.

Saya berhitung-hitung, berapa ya pemasukan dokter itu setiap hari. Jika pasiennya sehari ada minimal 150 orang (pagi dan sore), dan tarif dokter (diluar obat) katakanlah Rp 50.000, maka sehari saja Pak dokter mengantongi Rp 7,5 juta. Pak dokter praktek setiap hari, termasuk pada hari libur dan tanggal merah, karena tempat praktek merangkap rumahnya sendiri sehingga dia bebas praktek kapanpun dia mau. Dikali 30 hari, maka sebulan dia memperoleh 22 juta 225 juta lebih, atau paling sedikit Rp 200 juta per bulan. Luar biasa. Membayangkan penghasilan yang besar itu — tentu tidak semua dokter bernasib mujur seperti dr. Nurrokhim itu –, pantas saja banyak siswa SMA berlomba masuk Fakultas Kedokteran meskipun biayanya sangat mahal. Untuk masuk Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran saja misalnya, lewat jalur mandiri (SMUP) perlu uang pangkal minimal Rp 130 juta, masih lebih mahal daripada jalur USM ITB yang minimal 55 juta.

Dengan biaya kuliah kedokteran yang mahal itu, maka seolah-olah menjadi wajar para dokter memasang tarif mahal dalam prakteknya. Bagi sebagian orang yang mampu tentu tidak menjadi masalah tarif dokter berapapun mahalnya, tetapi bagaimana dengan orang-orang yang bernasib susah? Biaya kesehatan semakin lama makin tidak terjangkau bagi rakyat miskin. Akhirnya dukun cilik seperti Ponari menjadi tumpuan harapan (eh, apa kabar Ponari ya, masihkah ribuan orang datang minta celupan “batu ajaib” kepadanya?).

Yang jelas sakit sehat itu memang mahal harganya, maka bersyukurlah kepada Allah SWT jika kita masih dikarunia kesehatan. Bukan dokter yang menyembuhkan penyakit, Allah lah yang menyembuhkan melalui perantara tangan dokter seperti dr. Nurrokhim itu.

Kategori: Pengalamanku

Bayar di Polsek, Tidak Perlu Sidang Pengadilan

9 September 2008 · & Komentar

Masih soal tilang menilang, terkait tulisan saya minggu lalu. Jadi, ceritanya begini, SIM saya ditahan dan harus menjalani sidang pengadilan tanggal 19 September nanti. Saya sih sudah siap menjalani sidang pengadilan daripada membayar uang damai ke polisi (yang menurut saya perbuatan yang tidak baik, sama hukumnya dengan uang suap). Tetapi saya kepikiran lagi, tanggal 19 September itu hari terakhir sidang Tugas Akhir mahasiswa saya. Kasihan mereka ini yang menunggu giliran untuk bisa wisuda Oktober 2008. Tapi, saya juga tidak mau mengorbankan prinsip demi sidang TA lalu mencari jalan pintas dengan polisi itu.

Membaca pengalaman suami Fina bahwa pembayaran denda bisa di Polsek saja tanpa perlu menjalani sidang pengadilan, tadi pagi saya datang ke Polsek Bandung Tengah di Jalan Ahmad Yani. Setelah tanya sama petugas, pembayaran denda bisa dilakukan di bagian Ditlantas. Saya ke sana, eh tidak sampai 10 menit SIM saya sudah dapat diambil kembali dengan membayar denda Rp20.000. Wah, alhamdulillah, saya tidak perlu mengikuti sidang pengadilan lagi. Dan yang penting, mahasiswa yang antri sidang TA bisa dilayani hari Jumat nanti. Tenyata di kantor itu buaanyakk sekali SIM yang ditahan yang dilengkapi dengan berita acaranya.

Saya pikir, ini cara yang lebih baik daripada harus menyuap polisi di jalan. Kalau anda terkena masalah yang sama di jalan raya dimana SIM anda ditahan oleh Pak Polisi, minta surat tilang saja. Ikuti sidang pengadilan atau anda bisa membayar denda di kantor Polsek saja. Membayar uang damai di jalan sama sekali tidak mendidik mental polisi, sama saja menyuruh polisi itu melakukan korupsi kecil-kecilan.

Hanya saja saya masih ada sedikit ganjalan dalam hati (mudah-mudahan tidak benar), pembayaran denda tadi tidak disertai kwitansi sebagai bukti pembayaran. Kok pusing amat ya saya ini? Apakah kalau pembayaran denda di pengadilan juga disertai dengan kwitansi pembayaran? Ada yang punya pengalaman sidang di pengadilan?

Saya pikir ini manfaatnya mempunyai blog, orang bisa berbagi pengalaman sehingga berguna bagi orang lain yang membacanya.

Kategori: Pengalamanku

Kena Tilang (Lagi)

4 September 2008 · & Komentar

Dua hari yang lalu saya lagi apes. Apa pasal? Dalam perjalanan dari rumah ke kampus, motor saya ditilang polisi di pertigaan Jalan Supratman dan Jalan Cisokan. Saya berkendaraan sambil melamun waktu itu sih, sehingga ketika ada lampu stopan di pertigaan itu saya tidak sadar lampunya lagi merah. Karena tidak memperhatikan, langsung saya terobos saja. Tidak tahunya di dekat situ ada 3 orang polisi lagi duduk-duduk. Melihat motor saya melenggang menerobos lampu merah, saya dihentikan oleh salah seorang polisi. Saya sadar memang salah. Pak Polisi itu menyuruh saya turun dan seperti biasa meminta saya memperlihatkan STNK dan SIM.

Salah seorang polisi mengkode saya menuju sudut. Saya sudah mengerti “maksudnya apa”, he..he, tapi saya acuhkan saja. Sambil menulis surat tilang, polisi tadi menanayakan apakah saya siap disidang di Jalan Riau pada Hari Jumat tanggal 19 September jam 9 pagi? Pertanyaan standard. Saya jawab: siap. Mantap. Polisi itu agak kaget dengan jawaban saya itu dan sepertinya dia ragu-ragu mau bertanya lagi, seolah-olah dia akan menawarkan jalan lain. Mungkin dia berharap saya menempuh jalan damai gitu ya (wah kok saya sudah su’uddhon gitu), tetapi saya sudah bulat tekad tidak mau lagi mengakhiri perkara di jalan. Saya ingat pengalaman saya dulu waktu ditilang dimana oknum polisi menawarkan jalan damai dengan membayar uang perkara di jalan saja. Sekarang saya tidak mau lagi cara begitu, takut dosa, apalagi ini bulan Ramadhan. Saya berdosa, polisi itu juga berdosa. Memberi “uang damai” kepada polisi itu sama saja dengan bentuk sogokan, sama saja dengan menyuruh polisi itu berbuat korupsi, memakan uang haram. Uang damai tidak akan masuk ke kas negara, tapi saya yakin akan masuk ke kantong pribadi polisi itu (karena nggak ada kwitansinya).

He..he, saya bertekad akan menjalani sendiri sidang pengadilan tanggal 19 September nanti. Padahal tanggal segitu akan padat dengan sidang Tugas Akhir mahasiswa saya. Tenggat sidang TA untuk wisuda Oktober 2008 di Indormatika ITB adalah tanggal 19 September itu, seperti biasa perilaku mahasiswa yang deadliner selalu menumpuk sidang pada hari-hari terakhir masa tenggat. Hoho..saya memilih disidang di pengadilan saja deh daripada menyidang mahasiswa tanggal 19 September itu.

Saya ingin merasakan pengalaman seperti apa pengadilan pelanggaran lalu lintas itu. Seumur-umur saya belum pernah berurusan dengan pengadilan, bahkan melihat suasana sidang di pengadilan saja belum pernah. Berarti, ini pengalaman pertama saya nanti akan disidang. Karena saya memilih untuk menjalani sidang pengadilan, maka SIM saya ditahan untuk sementara, dan dapat diambil lagi kalau sudah menjalani sidang. Kata karyawan saya di kantor, sidangnya biasa-biasa saja, tidak lama, nanti kita diminta membayar denda. Yah, tidak apa-apalah, uang denda akan masuk ke kas negara, bukan?

Setelah berurusan dengan polisi tadi, saya segera melanjutkan perjalanan ke kampus, tanpa SIM di tangan, hanya berbekal surat tilang saja. Dada ini rasanya plong, karena sudah “memenangkan” pertarungan batin, antara membayar uang damai atau mengikuti aturan sesuai prosedur yang seharusnya. Saya pilih yang terakhir.

Kategori: Pengalamanku

Laskar Pelangi dan Saya

7 Juni 2008 · & Komentar

Membaca buku (atau novel realistik) laris Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, yang sebentar lagi akan digarap film layar lebarnya, saya merasa ada beberapa kemiripan dengan kisah hidup saya, meski tidak sama persis. Andrea Hirata dan 9 orang temannya bersekolah di SD Muhammadiyah di Pulau Belitung (ditulis “Belitong” di dalam novel itu). Dikisahkan di dalam novel itu bahwa SD Muhammadiyah selalu kekurangan murid dan hampir saja ditutup jika murid kelas 1 yang diterima kurang dari 10. Lalu ada Bu Muslimah, guru mereka yang inspiratif, dan Pak Arfan, kepala sekolah, yang membawa pengaruh besar bagi kehidupan Andrea Hirata sendiri dan teman-temannya.

Saya juga bersekolah di SD Muhammadiyah, tetapi bukan di Belitung, melainkan di Padang. Bangunan SD ini semi permanen, ruang-uang kelasnya disekat dengan triplek. Satu-satunya banguna permanen adalah ruang guru yang berfungsi sebagai kantor sekolah. Waktu itu SD ini muridnya tidak banyak, bahkan setiap tahun selalu terjadi penurunan jumlah murid baru sebelum akhirnya ditutup ketika saya masih di SMP. Kemunculan beberapa SD negeri (kami menyebutnya SD Inpres, Instruksi Presiden) menyebabkan peminat ke SD Muhammadiyah menciut drastis. SD Muhammadiyah mungkin dianggap SD pinggiran saat itu.

Kepala sekolah kami bernama Bakri KS, ia seorang yang sangat disiplin kepada murid-muridnya. Dia adalah guru yang kami segani dan punya karisma sendiri. Dia memang tegas, tetapi Jika ia membaca kitab suci Al-Quran pada acara Maulid Nabi, terdengalah alunan yang merdu suaranya membacakan ayat-ayat suci. Tidak heran jika beliau menjadi utusan Sumatera Barat dalam ajang MTQ tingkat nasional di Banjarmasin.

Lalu siapa Bu Mus di lingkungan SD saya saat itu? Tidak persis sama seperti Bu Mus sih, tetapi ada kemiripan sifat. Namanya Bu Herdanelli. Saya masih ingat namanya, senyumnya yang tulus, tutur katanya yang lemah lembut, dan nasehat-nasehatnya yang menyejukkan. Bu Herdanelli masih muda, dia sudah menikah tetapi belum dikarunia anak. Beliau begitu perhatian dan sayang kepada murid-murid yang jumlahnya hanya belasan itu (semula murid kelas 1 pada angkatan saya jumlahnya cukup banyak, tetapi satu per satu pindah ke SD Inpres yang gratis SPP nya).  Kalau kami tidak mengerti pelajaran sekolah, kami sering datang ke rumahnya untuk diajarkan lagi. Tidak hanya siang hari, bahkan juga selepas Maghrib. Terkadang kami merasa telah mengganggu ketenangan beliau dengan suaminya, tetapi dengan senyum tulus Bu Herdanelli tidak pernah marah kepada kami. Bu Herdanelli pandai bercerita. Kadang-kadang kami dibawanya ke bawah pohon, di sana beliau bercerita berbagai hal yang memikat. 

Seperti halnya Andrea Hirata, ibu saya memasukkan saya sekolah di SD Muhammadiyah karena ingin mendapat bekal agama yang cukup, yang kurang diperoleh jika bersekolah di SD Inpres. Kakak-kakak saya disekolahkan SD Adabiyah, sekolah ini juga sekolah berbasis agama yang memberi porsi pendidikan agama lebih. Di SD Muhammadiyah ini saya bersekolah pagi, tetapi sorenya kembali lagi ke sekolah itu untuk pendidikan TPA (Taman Pendidikan AlQuran). Saya bersyukur disekolahkan di sana karena bekal pendidikan agama yang saya peroleh sangat berguna hingga sekarang ini.

SD Muhammadiyah tempat saya bersekolah sudah tidak ada lagi. Tidak ada kabar dimana Pak Bakri KS dan Bu Herdanelli yang kami cintai. Mungkin mereka sudah tau renta, atau jangan-jangan sudah almarhum. Hanya doa yang dapat saya panjatkan kepaad Allah SWT semoga amal saleh guru-guru SD saya itu diberi pahala di sisi-Nya. Amiin ya rabbal alamin.   

Kategori: Pengalamanku

“Terpenjara” Di dalam Bis Primajasa (Bandung – Bandara Soeta 19 Jam euy!)

9 Mei 2008 · & Komentar

Kemaren, 8 Mei 2008, jalan tol bandara menuju Bandara Soekarno-Hatta (Soeta) terputus karena banjir akbat pasang air laut menggenangi ruas tol bandara. Akibatnya jalan menuju bandara macet total. Perlu berjam-jam menuju bandara. Puluhan ribu orang di atas kendaraan terjebak di jalan tol.

Membaca berita di atas, saya jadi teringat pengalaman yang sama yang saya alami pada tanggal 1 Februari 2008 yang lalu. Saya “terpenjara” di atas bis Primajasa selama 19 jam karena terjebak macet total di jalan tol kota Jakarta. Ceritanya begini. Tanggal 1 Februari 2008 saya akan terbang ke Manado, Sulawesi Utara, guna melayani bimbingan Tugas Akhir mahasiswa di sana. Jadwal pesawat saya (Lion Air) adalah pukul 20.15 malam. Saya berangkat ke Bandara dengan bis Primajasa dari BSM Bandung pukul 13.30. Dengan asumsi ke Bandara Soeta pada siang hari memakan waktu 4 jam, saya perkirakan sampai di Bandara 17.30 atau kalau di Jakarta terkena kemacetan paling lambat tiba pukul 18.00 lah.

Memasuki Jakarta, perjalanan mulai tersendat. Ribuan kendaraan nyaris tidak bergerak. Berjalan sedikit, berhenti lagi. Saya sudah mulai panik nih, jangan-jangan saya ditinggal pesawat. Memasuki malam, saya masih berada di jalan tol Cawang. Jarak 1 kilometer saja ditempuh dalam waktu 1 jam lebih. Rupanya banjir di Jakarta membuat kemacetan total di mana-mana. Dari televisi di atas bis saya baru tahu ternyata kemacetan parah tersebut disebabkan oleh terputusnya ruas tol pada KM 26 di jalan tol bandara. Karena jalan tol Cawang terus menyambung hingga ke Bandara, akibatnya kendaraan yang menuju ke arah barat Jakarta tidak bisa bergerak. Hingga tengah malam saya masih berada di jalan tol dalam kota (mungkin di daerah Tebet barangkali). Saya sudah tidak memikirkan naik pesawat lagi karena pasti sudah tidak mungkin. Paling-paling saya berharap pesawat delay, tapi kalau sudah 5 jam lebih begini dari jadwal seharusnya apa masih mungkin delay? Hingga waktu subuh dinihari saya masih berada di kawasan Tomang.

Saya mau pulang saja ke Bandung tetapi tidak bisa sebab kendaraan tidak bisa mundur. Kalau pun saya turun di jalan tol, belum tentu ada kendaraan yang menuju Bandung atau ke terminal bis/kereta api. Akhirnya saya dan penumpang bis pasrah saja di dalam bis, tidak bisa berbuat apa-apa. Bis tidak bisa bergerak, benar-benar macet total. Penumpang di atas bis mulai didera rasa lapar. Mau makan tidak ada yang menjual makanan di dalam tol. Dari atas bis saya melihat masih puluhan kilometer kendaraan yang tidak bergerak di depan kami, sementara puluhan kilomter kendaran lain menungu di belakang.

Untuk urusan “ke belakang”, untung saja di atas bis ada toilet. Kebayang penumpang di dalam mobil atau bis tanpa toilet, bagaimana mereka itu mau melaksanakan urusan ke belakang di tengah kemacetan total di jalan tol itu. Kasihan lagi kalau ada bayi atau balita di dalam kendaraan, tentu mereka sudah stres. Semalaman para penumpang terjebak di jalan tol dalam kota dalam keadaan lapar, lelah, dan tanpa kepastian kapan penderitaan di jalan akan berakhir.

Pagi hari sampailah kami di jalan tol bandara. Dari jauh terlihat jalan tol tergenang banjir setinggi 1 meter. Kendaraan menuju Bandara dialihkan melewati kawasan Cengakareng. Di Cengkareng kemacetan juga luar biasa sebab bis kami memasuki jalan-jalan kampung yang sempit. Jam 9 pagi bis berhasil memasuki belakang bandara dan tiba di Bandara Soeta pukul 9.15. Total waktu dari Bandung ke Bandara Soeta adalah 19 jam lebih.

Tiba di Bandara saya tidak pikir panjang lagi, langsung balik ke Bandung dengan bis Primajasa yang lain. Rencana ke Manado saya urungkan. Perjalanan pulang ke Bandung juga tidak kalah macetnya karena bis tidak bisa melewati tol bandara. Kendaraan dialihkan ke kota Tengerang yang juga tidak kalah macetnya.

Menurut saya, jalan tol bandara itu sudah salah dari awal. Sudah tahu melewati rawa-rawa dekat laut, mengapa Pemerintah tidak membuat jalan layang saja di atas rawa itu sehingga tidak bakal terganggu oleh banjir. Jika jalan tol bandara sering putus karena bajir, apa Pemerintah tidak malu dengan program Visit Indonesia Year 2008?

Kategori: Pengalamanku

Sehat Itu Mahal

12 Maret 2008 · & Komentar

Sewaktu makan seusai rapat siang di kantor, saya tertegun melihat rekan senior saya membawa makanan khusus dari rumah. Makanannya adalah kentang rebus, wortel yang dikukus, dan beberapa jenis sayuran yang semuanya serba dikukus/rebus. Makannya juga tidak pakai nasi. Setelah saya bertanya, ternyata rekan saya itu menderita penyakit tertentu yang mengharuskannya menjalani diet makanan. Saya lupa nama penyakitnya, tapi gak jauh-jauh dari masalah kolesterol, asam urat, dan sebagainya.

Saya cukup kasihan dengan rekan saya itu. Alangkah malangnya dia. Bagaimana tidak, dia sebenarnya sangat berkecukupan, uangnya banyak, tetapi dia tidak dapat menikmati hasil jerih payahnya, sekadar untuk makan saja. Makan harus diatur secara ketat jumlah kalorinya, itupun juga harus makanan yang serba direbus atau dikukus. Tidak boleh mengandung minyak. Tidak boleh pakai garam. Apa ya rasa makanan seperti itu? Hambar dan tidak membangkitkan selera. Gimana lagi, kalau mau tetap sehat tentu harus kontrol makanan dengan ketat. Semua makanan yang enak-enak harus disingkirkan dari ingatan.

Beberapa waktu yang lalu rekan saya yang lain terpaksa masuk rumah sakit karena serangan stroke. Stroke dan jantung adalah dua penyakit yang paling mematikan. Keduanya saling berhubungan dan banyak menimpa orang-orang sibuk di zaman modern ini. Rekan saya ini pernah bercerita bahwa sejak beberapa tahun terakhir dia harus mengontrol makanan. Kolesterolnya sudah tinggi, maklum sejak muda doyan makan makanan yang mengandong kolesterol tinggi seperti daging, sate kambing, jeroan, durian, dan lain-lain. Tapi yang namanya manusia kan sering lupa, makanan enak bisa membuat orang tergoda dan pantangan makanan itu diabaikan. Akhirnya, ya masuk rumah sakit sebab kolesterol yang menumpuk di pembuluh darah yang menuju otak mengakibatkan serangan stroke.

Sehat itu ternyata mahal harganya (kata orang sakit).

Dari semua peristiwa itu terkandung ibrah yaitu pelajaran berharga. Kebanyakan penyakit zaman sekarang berawal dari pola makanan. Pola makanan yang tidak sehat dan berlebihan bisa menimbulkan penyakit. Hidup sehat dapat diperoleh jika kita menyesuaikan pola makan yang sehat sejak masih muda. Saya pribadi tidak terlalu suka makan daging, hanya sekali-sekali saja. Saya lebih senang mengkonsumsi ikan. Ikan bagi sebagain orang dianggap makanan yang tidak elit, tetapi ketahuilah ikan itu tidak mengandung kolesterol, jadi sangat sehat untuk dikonsumsi. Ketika saya berkunjung ke daerah, ikanlah yang saya pilih sebagai teman nasi, bukan daging. Entah kenapa sejak beberapa tahun terakhir ini kalau saya melihat makanan dari daging sapi maka yang terbayang adalah daging itu masih hidup. Jadi nek gitu melihatnya.

Tips sehat lainnya adalah rajinlah makan buah-buahan dan berolahraga. Tentang ini sudah saya bahas di dalam tulisan Jika Ingin Tetap Sehat , silakan baca lagi.

Agama sudah mengajarkan kita agar jangan hidup berlebih-lebihan, termasuk soal makan. Yang berlebih-lebihan itu adalah penyakit. Makan daging tentu boleh, asal tidak berlebihan. Makan ikan juga begitu, jangan berlebihan. Perut kita sudah dirancang sedemikian rupa oleh Allah SWT untuk menampung makanan secukupnya. Bisakah kita menerapkan teladan Rasulullah tentang makan sebagai berikut: “makan sebelum lapar, berhenti sebelum kenyang”?

Beruntunglah orang yang diberi kesehatan oleh Allah SWT. Menurut saya kesehatan  adalah nikmat Allah yang paling besar. Hanya kalau tubuh sehatlah kita bisa berkarya, belajar, dan melakukan aktivitas.  Oleh karean itu, patutlah kita menysukuri nikmat sehat itu.

Kategori: Pengalamanku