Di kompleks pemukiman Antapani tempat saya tinggal, ada seorang dokter spesialis anak yang sangat “laris” dikunjungi pasien. Namanya dr. Nurrokhim. Pak dokter membuka dua kali praktek, yaitu pagi mulai jam 06.00 hingga siang dan sore mulai pukul 17.00 hingga malam. Wah, untuk mendapat giliran diperiksa, pasien memang harus menunggu cukup lama karena yang mendaftar sampai ratusan orang setiap hari. Pada musim-musim dimana anak mudah sakit seperti musim hujan, musim pancaraoba, dan musim kemarau (waah.. semua musim nih), pak dokter bisa berpraktek hingga larut malam karena pasien yang mendaftar banyak sekali.
Seperti malam kemaren, saya membawa anak yang nomor tiga ke dr. Nurrokhim karena sakit panas dan pilek. Waktu mendaftar via telepon, saya kebagian nomor 138, namun karena saya datang lebih cepat, saya bisa mendapat nomor 68. Petugas mengatakan agar saya datang membawa anak pada pukul 9 malam. Pukul 9 malam ternyata pasien yang dilayani baru nomor 50-an, jadi saya harus sabar menunggu lagi. Akhirnya pada pukul 10 malam barulah anak saya mendapat giliran. Hingga ketika saya pulang pasien yang menunggu masih sangat banyak dan yang sudah mendaftar sudah 160 orang (itu baru praktek malam saja, belum termasuk praktek pagi). Kata petugas di bagian pendaftaran, malam sebelumnya pak dokter melayani pasien hingga pukul 01.00 dinihari.
Hah? Pukul 1 malam? Baru kali ini saya mendengar ada dokter yang masih praktek hingga dinihari itu. Heran, padahal di Antapani ada beberapa orang dokter spesialis anak, namun hanya dr. Nurrokhim yang pasiennya bejibun begitu, sementara dokter spesialis anak lainnya pasiennya hanya 1 atau 2 orang, malah ada yang kosong melompong.
Mengapa dr. Nurrokhim begitu laris? Salah satu sebabnya karena dia sudah berpengalaman mengobati penyakit anak selama puluhan tahun, usianya mungkin sudah 60-an. Dia perintis dokter spesialis anak di Antapani. Saya sudah langganan dengan dokter ini sejak anak yang pertama. Karena pengalamannya, maka orangtua merasa nyaman membawa anaknya berobat kesitu. Begitu beken dokter ini, hingga pasiennya datang tidak hanya dari daerah Antapani dan sekitarnya, tetapi juga dari tempat yang jauh di Bandung Timur sepeti Ujungberung, Kiaracondong, bahkan Rancaekek yang sangat jauh itu.
Selain faktor pengalaman, faktor larisnya dokter ini juga karena racikan obatnya yang manjur. Tempat praktek dokter adalah rumahnya sendiri yang juga menyediakan apotek. Jadi, pasien tidak perlu membeli obat di tempat lain, cukup di situ saja. Untuk penyakit standard seperti anak saya itu (panas, pilek, batuk), tarif dokter sudah termasuk obat racikan, yaitu Rp 70.000. Kalau tidak pakai obat ya Rp 50.000. Nah, resep obat yang ditulis dokter Nurrokhim saya akui memang tokcer. Saya sudah pernah mencoba ke dokter spesialis anak yang lain, sebab waktu itu antrian di tempat dr. Nurrokhim sudah sangat panjang. Saya membawa anak ke dokter lain yang sepi pasien itu. Namun, setelah beberapa hari anak saya tidak sembuh juga, akhirnya saya bawa ke dr. Nurrokhim meski lama menunggu, dia kasih obat dan alhamdulillah lekas sembuhnya. Mungkin selain obat, faktor sugesti yaitu rasa percaya pada “tangan dingin” dokter juga mempercepat kesembuhan, padahal saya kira resep obat setiap dokter kurang lebih sama saja ya.
Jadi, saya menyimpulkan karena faktor pengalaman dan resep obatnya yang tokcer, ditunjang oleh faktor sugesti, maka orangtua rela menunggu lama untuk mendapat giliran anaknya diperiksa dr. Nurrokhim. Anak-anak yang masih bayi dan balita sampai keleleran menunggu hingga larut malam. Susah benar para orangtua itu pindah ke lain hati, maunya dengan dr. Nurrokhim saja. Sudah kadung cocok, barangkali. Meskipun sudah pindah rumah ke tempat jauh, kalau anak sakit tetap dibawa ke dr. Nurrokhim. Sekali ke sana ya ke sana terus.
Saya berhitung-hitung, berapa ya pemasukan dokter itu setiap hari. Jika pasiennya sehari ada minimal 150 orang (pagi dan sore), dan tarif dokter (diluar obat) katakanlah Rp 50.000, maka sehari saja Pak dokter mengantongi Rp 7,5 juta. Pak dokter praktek setiap hari, termasuk pada hari libur dan tanggal merah, karena tempat praktek merangkap rumahnya sendiri sehingga dia bebas praktek kapanpun dia mau. Dikali 30 hari, maka sebulan dia memperoleh 22 juta 225 juta lebih, atau paling sedikit Rp 200 juta per bulan. Luar biasa. Membayangkan penghasilan yang besar itu — tentu tidak semua dokter bernasib mujur seperti dr. Nurrokhim itu –, pantas saja banyak siswa SMA berlomba masuk Fakultas Kedokteran meskipun biayanya sangat mahal. Untuk masuk Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran saja misalnya, lewat jalur mandiri (SMUP) perlu uang pangkal minimal Rp 130 juta, masih lebih mahal daripada jalur USM ITB yang minimal 55 juta.
Dengan biaya kuliah kedokteran yang mahal itu, maka seolah-olah menjadi wajar para dokter memasang tarif mahal dalam prakteknya. Bagi sebagian orang yang mampu tentu tidak menjadi masalah tarif dokter berapapun mahalnya, tetapi bagaimana dengan orang-orang yang bernasib susah? Biaya kesehatan semakin lama makin tidak terjangkau bagi rakyat miskin. Akhirnya dukun cilik seperti Ponari menjadi tumpuan harapan (eh, apa kabar Ponari ya, masihkah ribuan orang datang minta celupan “batu ajaib” kepadanya?).
Yang jelas sakit sehat itu memang mahal harganya, maka bersyukurlah kepada Allah SWT jika kita masih dikarunia kesehatan. Bukan dokter yang menyembuhkan penyakit, Allah lah yang menyembuhkan melalui perantara tangan dokter seperti dr. Nurrokhim itu.



