Catatanku

Entries categorized as ‘Pengalamanku’

dr. Nurrokhim

29 Juli 2009 · & Komentar

Di kompleks pemukiman Antapani tempat saya tinggal, ada seorang dokter spesialis anak yang sangat “laris” dikunjungi pasien. Namanya dr. Nurrokhim. Pak dokter membuka dua kali praktek, yaitu pagi mulai jam 06.00 hingga siang dan sore mulai pukul 17.00 hingga malam. Wah, untuk mendapat giliran diperiksa, pasien memang harus menunggu cukup lama karena yang mendaftar sampai ratusan orang setiap hari. Pada musim-musim dimana anak mudah sakit seperti musim hujan, musim pancaraoba, dan musim kemarau (waah.. semua musim nih), pak dokter bisa berpraktek hingga larut malam karena pasien yang mendaftar banyak sekali.

Seperti malam kemaren, saya membawa anak yang nomor tiga ke dr. Nurrokhim karena sakit panas dan pilek. Waktu mendaftar via telepon, saya kebagian nomor 138, namun karena saya datang lebih cepat, saya bisa mendapat nomor 68. Petugas mengatakan agar saya datang membawa anak pada pukul 9 malam. Pukul 9 malam ternyata pasien yang dilayani baru nomor 50-an, jadi saya harus sabar menunggu lagi. Akhirnya pada pukul 10 malam barulah anak saya mendapat giliran. Hingga ketika saya pulang pasien yang menunggu masih sangat banyak dan yang sudah mendaftar sudah 160 orang (itu baru praktek malam saja, belum termasuk praktek pagi). Kata petugas di bagian pendaftaran, malam sebelumnya pak dokter melayani pasien hingga pukul 01.00 dinihari.

Hah? Pukul 1 malam? Baru kali ini saya mendengar ada dokter yang masih praktek hingga dinihari itu. Heran, padahal di Antapani ada beberapa orang dokter spesialis anak, namun hanya dr. Nurrokhim yang pasiennya bejibun begitu, sementara dokter spesialis anak lainnya pasiennya hanya 1 atau 2 orang, malah ada yang kosong melompong.

Mengapa dr. Nurrokhim begitu laris? Salah satu sebabnya karena dia sudah berpengalaman mengobati penyakit anak selama puluhan tahun, usianya mungkin sudah 60-an. Dia perintis dokter spesialis anak di Antapani. Saya sudah langganan dengan dokter ini sejak anak yang pertama. Karena pengalamannya, maka orangtua merasa nyaman membawa anaknya berobat kesitu. Begitu beken dokter ini, hingga pasiennya datang tidak hanya dari daerah Antapani dan sekitarnya, tetapi juga dari tempat yang jauh di Bandung Timur sepeti Ujungberung, Kiaracondong, bahkan Rancaekek yang sangat jauh itu.

Selain faktor pengalaman, faktor larisnya dokter ini juga karena racikan obatnya yang manjur. Tempat praktek dokter adalah rumahnya sendiri yang juga menyediakan apotek. Jadi, pasien tidak perlu membeli obat di tempat lain, cukup di situ saja. Untuk penyakit standard seperti anak saya itu (panas, pilek, batuk), tarif dokter sudah termasuk obat racikan, yaitu Rp 70.000. Kalau tidak pakai obat ya Rp 50.000. Nah, resep obat yang ditulis dokter Nurrokhim saya akui memang tokcer. Saya sudah pernah mencoba ke dokter spesialis anak yang lain, sebab waktu itu antrian di tempat dr. Nurrokhim sudah sangat panjang. Saya membawa anak ke dokter lain yang sepi pasien itu. Namun, setelah beberapa hari anak saya tidak sembuh juga, akhirnya saya bawa ke dr. Nurrokhim meski lama menunggu, dia kasih obat dan alhamdulillah lekas sembuhnya. Mungkin selain obat, faktor sugesti yaitu rasa percaya pada “tangan dingin” dokter juga mempercepat kesembuhan, padahal saya kira resep obat setiap dokter kurang lebih sama saja ya.

Jadi, saya menyimpulkan karena faktor pengalaman dan resep obatnya yang tokcer, ditunjang oleh faktor sugesti, maka orangtua rela menunggu lama untuk mendapat giliran anaknya diperiksa dr. Nurrokhim. Anak-anak yang masih bayi dan balita sampai keleleran menunggu hingga larut malam. Susah benar para orangtua itu pindah ke lain hati, maunya dengan dr. Nurrokhim saja. Sudah kadung cocok, barangkali. Meskipun sudah pindah rumah ke tempat jauh, kalau anak sakit tetap dibawa ke dr. Nurrokhim. Sekali ke sana ya ke sana terus.

Saya berhitung-hitung, berapa ya pemasukan dokter itu setiap hari. Jika pasiennya sehari ada minimal 150 orang (pagi dan sore), dan tarif dokter (diluar obat) katakanlah Rp 50.000, maka sehari saja Pak dokter mengantongi Rp 7,5 juta. Pak dokter praktek setiap hari, termasuk pada hari libur dan tanggal merah, karena tempat praktek merangkap rumahnya sendiri sehingga dia bebas praktek kapanpun dia mau. Dikali 30 hari, maka sebulan dia memperoleh 22 juta 225 juta lebih, atau paling sedikit Rp 200 juta per bulan. Luar biasa. Membayangkan penghasilan yang besar itu — tentu tidak semua dokter bernasib mujur seperti dr. Nurrokhim itu –, pantas saja banyak siswa SMA berlomba masuk Fakultas Kedokteran meskipun biayanya sangat mahal. Untuk masuk Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran saja misalnya, lewat jalur mandiri (SMUP) perlu uang pangkal minimal Rp 130 juta, masih lebih mahal daripada jalur USM ITB yang minimal 55 juta.

Dengan biaya kuliah kedokteran yang mahal itu, maka seolah-olah menjadi wajar para dokter memasang tarif mahal dalam prakteknya. Bagi sebagian orang yang mampu tentu tidak menjadi masalah tarif dokter berapapun mahalnya, tetapi bagaimana dengan orang-orang yang bernasib susah? Biaya kesehatan semakin lama makin tidak terjangkau bagi rakyat miskin. Akhirnya dukun cilik seperti Ponari menjadi tumpuan harapan (eh, apa kabar Ponari ya, masihkah ribuan orang datang minta celupan “batu ajaib” kepadanya?).

Yang jelas sakit sehat itu memang mahal harganya, maka bersyukurlah kepada Allah SWT jika kita masih dikarunia kesehatan. Bukan dokter yang menyembuhkan penyakit, Allah lah yang menyembuhkan melalui perantara tangan dokter seperti dr. Nurrokhim itu.

Kategori: Pengalamanku

Bayar di Polsek, Tidak Perlu Sidang Pengadilan

9 September 2008 · & Komentar

Masih soal tilang menilang, terkait tulisan saya minggu lalu. Jadi, ceritanya begini, SIM saya ditahan dan harus menjalani sidang pengadilan tanggal 19 September nanti. Saya sih sudah siap menjalani sidang pengadilan daripada membayar uang damai ke polisi (yang menurut saya perbuatan yang tidak baik, sama hukumnya dengan uang suap). Tetapi saya kepikiran lagi, tanggal 19 September itu hari terakhir sidang Tugas Akhir mahasiswa saya. Kasihan mereka ini yang menunggu giliran untuk bisa wisuda Oktober 2008. Tapi, saya juga tidak mau mengorbankan prinsip demi sidang TA lalu mencari jalan pintas dengan polisi itu.

Membaca pengalaman suami Fina bahwa pembayaran denda bisa di Polsek saja tanpa perlu menjalani sidang pengadilan, tadi pagi saya datang ke Polsek Bandung Tengah di Jalan Ahmad Yani. Setelah tanya sama petugas, pembayaran denda bisa dilakukan di bagian Ditlantas. Saya ke sana, eh tidak sampai 10 menit SIM saya sudah dapat diambil kembali dengan membayar denda Rp20.000. Wah, alhamdulillah, saya tidak perlu mengikuti sidang pengadilan lagi. Dan yang penting, mahasiswa yang antri sidang TA bisa dilayani hari Jumat nanti. Tenyata di kantor itu buaanyakk sekali SIM yang ditahan yang dilengkapi dengan berita acaranya.

Saya pikir, ini cara yang lebih baik daripada harus menyuap polisi di jalan. Kalau anda terkena masalah yang sama di jalan raya dimana SIM anda ditahan oleh Pak Polisi, minta surat tilang saja. Ikuti sidang pengadilan atau anda bisa membayar denda di kantor Polsek saja. Membayar uang damai di jalan sama sekali tidak mendidik mental polisi, sama saja menyuruh polisi itu melakukan korupsi kecil-kecilan.

Hanya saja saya masih ada sedikit ganjalan dalam hati (mudah-mudahan tidak benar), pembayaran denda tadi tidak disertai kwitansi sebagai bukti pembayaran. Kok pusing amat ya saya ini? Apakah kalau pembayaran denda di pengadilan juga disertai dengan kwitansi pembayaran? Ada yang punya pengalaman sidang di pengadilan?

Saya pikir ini manfaatnya mempunyai blog, orang bisa berbagi pengalaman sehingga berguna bagi orang lain yang membacanya.

Kategori: Pengalamanku

Kena Tilang (Lagi)

4 September 2008 · & Komentar

Dua hari yang lalu saya lagi apes. Apa pasal? Dalam perjalanan dari rumah ke kampus, motor saya ditilang polisi di pertigaan Jalan Supratman dan Jalan Cisokan. Saya berkendaraan sambil melamun waktu itu sih, sehingga ketika ada lampu stopan di pertigaan itu saya tidak sadar lampunya lagi merah. Karena tidak memperhatikan, langsung saya terobos saja. Tidak tahunya di dekat situ ada 3 orang polisi lagi duduk-duduk. Melihat motor saya melenggang menerobos lampu merah, saya dihentikan oleh salah seorang polisi. Saya sadar memang salah. Pak Polisi itu menyuruh saya turun dan seperti biasa meminta saya memperlihatkan STNK dan SIM.

Salah seorang polisi mengkode saya menuju sudut. Saya sudah mengerti “maksudnya apa”, he..he, tapi saya acuhkan saja. Sambil menulis surat tilang, polisi tadi menanayakan apakah saya siap disidang di Jalan Riau pada Hari Jumat tanggal 19 September jam 9 pagi? Pertanyaan standard. Saya jawab: siap. Mantap. Polisi itu agak kaget dengan jawaban saya itu dan sepertinya dia ragu-ragu mau bertanya lagi, seolah-olah dia akan menawarkan jalan lain. Mungkin dia berharap saya menempuh jalan damai gitu ya (wah kok saya sudah su’uddhon gitu), tetapi saya sudah bulat tekad tidak mau lagi mengakhiri perkara di jalan. Saya ingat pengalaman saya dulu waktu ditilang dimana oknum polisi menawarkan jalan damai dengan membayar uang perkara di jalan saja. Sekarang saya tidak mau lagi cara begitu, takut dosa, apalagi ini bulan Ramadhan. Saya berdosa, polisi itu juga berdosa. Memberi “uang damai” kepada polisi itu sama saja dengan bentuk sogokan, sama saja dengan menyuruh polisi itu berbuat korupsi, memakan uang haram. Uang damai tidak akan masuk ke kas negara, tapi saya yakin akan masuk ke kantong pribadi polisi itu (karena nggak ada kwitansinya).

He..he, saya bertekad akan menjalani sendiri sidang pengadilan tanggal 19 September nanti. Padahal tanggal segitu akan padat dengan sidang Tugas Akhir mahasiswa saya. Tenggat sidang TA untuk wisuda Oktober 2008 di Indormatika ITB adalah tanggal 19 September itu, seperti biasa perilaku mahasiswa yang deadliner selalu menumpuk sidang pada hari-hari terakhir masa tenggat. Hoho..saya memilih disidang di pengadilan saja deh daripada menyidang mahasiswa tanggal 19 September itu.

Saya ingin merasakan pengalaman seperti apa pengadilan pelanggaran lalu lintas itu. Seumur-umur saya belum pernah berurusan dengan pengadilan, bahkan melihat suasana sidang di pengadilan saja belum pernah. Berarti, ini pengalaman pertama saya nanti akan disidang. Karena saya memilih untuk menjalani sidang pengadilan, maka SIM saya ditahan untuk sementara, dan dapat diambil lagi kalau sudah menjalani sidang. Kata karyawan saya di kantor, sidangnya biasa-biasa saja, tidak lama, nanti kita diminta membayar denda. Yah, tidak apa-apalah, uang denda akan masuk ke kas negara, bukan?

Setelah berurusan dengan polisi tadi, saya segera melanjutkan perjalanan ke kampus, tanpa SIM di tangan, hanya berbekal surat tilang saja. Dada ini rasanya plong, karena sudah “memenangkan” pertarungan batin, antara membayar uang damai atau mengikuti aturan sesuai prosedur yang seharusnya. Saya pilih yang terakhir.

Kategori: Pengalamanku

Laskar Pelangi dan Saya

7 Juni 2008 · & Komentar

Membaca buku (atau novel realistik) laris Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, yang sebentar lagi akan digarap film layar lebarnya, saya merasa ada beberapa kemiripan dengan kisah hidup saya, meski tidak sama persis. Andrea Hirata dan 9 orang temannya bersekolah di SD Muhammadiyah di Pulau Belitung (ditulis “Belitong” di dalam novel itu). Dikisahkan di dalam novel itu bahwa SD Muhammadiyah selalu kekurangan murid dan hampir saja ditutup jika murid kelas 1 yang diterima kurang dari 10. Lalu ada Bu Muslimah, guru mereka yang inspiratif, dan Pak Arfan, kepala sekolah, yang membawa pengaruh besar bagi kehidupan Andrea Hirata sendiri dan teman-temannya.

Saya juga bersekolah di SD Muhammadiyah, tetapi bukan di Belitung, melainkan di Padang. Bangunan SD ini semi permanen, ruang-uang kelasnya disekat dengan triplek. Satu-satunya banguna permanen adalah ruang guru yang berfungsi sebagai kantor sekolah. Waktu itu SD ini muridnya tidak banyak, bahkan setiap tahun selalu terjadi penurunan jumlah murid baru sebelum akhirnya ditutup ketika saya masih di SMP. Kemunculan beberapa SD negeri (kami menyebutnya SD Inpres, Instruksi Presiden) menyebabkan peminat ke SD Muhammadiyah menciut drastis. SD Muhammadiyah mungkin dianggap SD pinggiran saat itu.

Kepala sekolah kami bernama Bakri KS, ia seorang yang sangat disiplin kepada murid-muridnya. Dia adalah guru yang kami segani dan punya karisma sendiri. Dia memang tegas, tetapi Jika ia membaca kitab suci Al-Quran pada acara Maulid Nabi, terdengalah alunan yang merdu suaranya membacakan ayat-ayat suci. Tidak heran jika beliau menjadi utusan Sumatera Barat dalam ajang MTQ tingkat nasional di Banjarmasin.

Lalu siapa Bu Mus di lingkungan SD saya saat itu? Tidak persis sama seperti Bu Mus sih, tetapi ada kemiripan sifat. Namanya Bu Herdanelli. Saya masih ingat namanya, senyumnya yang tulus, tutur katanya yang lemah lembut, dan nasehat-nasehatnya yang menyejukkan. Bu Herdanelli masih muda, dia sudah menikah tetapi belum dikarunia anak. Beliau begitu perhatian dan sayang kepada murid-murid yang jumlahnya hanya belasan itu (semula murid kelas 1 pada angkatan saya jumlahnya cukup banyak, tetapi satu per satu pindah ke SD Inpres yang gratis SPP nya).  Kalau kami tidak mengerti pelajaran sekolah, kami sering datang ke rumahnya untuk diajarkan lagi. Tidak hanya siang hari, bahkan juga selepas Maghrib. Terkadang kami merasa telah mengganggu ketenangan beliau dengan suaminya, tetapi dengan senyum tulus Bu Herdanelli tidak pernah marah kepada kami. Bu Herdanelli pandai bercerita. Kadang-kadang kami dibawanya ke bawah pohon, di sana beliau bercerita berbagai hal yang memikat. 

Seperti halnya Andrea Hirata, ibu saya memasukkan saya sekolah di SD Muhammadiyah karena ingin mendapat bekal agama yang cukup, yang kurang diperoleh jika bersekolah di SD Inpres. Kakak-kakak saya disekolahkan SD Adabiyah, sekolah ini juga sekolah berbasis agama yang memberi porsi pendidikan agama lebih. Di SD Muhammadiyah ini saya bersekolah pagi, tetapi sorenya kembali lagi ke sekolah itu untuk pendidikan TPA (Taman Pendidikan AlQuran). Saya bersyukur disekolahkan di sana karena bekal pendidikan agama yang saya peroleh sangat berguna hingga sekarang ini.

SD Muhammadiyah tempat saya bersekolah sudah tidak ada lagi. Tidak ada kabar dimana Pak Bakri KS dan Bu Herdanelli yang kami cintai. Mungkin mereka sudah tau renta, atau jangan-jangan sudah almarhum. Hanya doa yang dapat saya panjatkan kepaad Allah SWT semoga amal saleh guru-guru SD saya itu diberi pahala di sisi-Nya. Amiin ya rabbal alamin.   

Kategori: Pengalamanku

“Terpenjara” Di dalam Bis Primajasa (Bandung – Bandara Soeta 19 Jam euy!)

9 Mei 2008 · & Komentar

Kemaren, 8 Mei 2008, jalan tol bandara menuju Bandara Soekarno-Hatta (Soeta) terputus karena banjir akbat pasang air laut menggenangi ruas tol bandara. Akibatnya jalan menuju bandara macet total. Perlu berjam-jam menuju bandara. Puluhan ribu orang di atas kendaraan terjebak di jalan tol.

Membaca berita di atas, saya jadi teringat pengalaman yang sama yang saya alami pada tanggal 1 Februari 2008 yang lalu. Saya “terpenjara” di atas bis Primajasa selama 19 jam karena terjebak macet total di jalan tol kota Jakarta. Ceritanya begini. Tanggal 1 Februari 2008 saya akan terbang ke Manado, Sulawesi Utara, guna melayani bimbingan Tugas Akhir mahasiswa di sana. Jadwal pesawat saya (Lion Air) adalah pukul 20.15 malam. Saya berangkat ke Bandara dengan bis Primajasa dari BSM Bandung pukul 13.30. Dengan asumsi ke Bandara Soeta pada siang hari memakan waktu 4 jam, saya perkirakan sampai di Bandara 17.30 atau kalau di Jakarta terkena kemacetan paling lambat tiba pukul 18.00 lah.

Memasuki Jakarta, perjalanan mulai tersendat. Ribuan kendaraan nyaris tidak bergerak. Berjalan sedikit, berhenti lagi. Saya sudah mulai panik nih, jangan-jangan saya ditinggal pesawat. Memasuki malam, saya masih berada di jalan tol Cawang. Jarak 1 kilometer saja ditempuh dalam waktu 1 jam lebih. Rupanya banjir di Jakarta membuat kemacetan total di mana-mana. Dari televisi di atas bis saya baru tahu ternyata kemacetan parah tersebut disebabkan oleh terputusnya ruas tol pada KM 26 di jalan tol bandara. Karena jalan tol Cawang terus menyambung hingga ke Bandara, akibatnya kendaraan yang menuju ke arah barat Jakarta tidak bisa bergerak. Hingga tengah malam saya masih berada di jalan tol dalam kota (mungkin di daerah Tebet barangkali). Saya sudah tidak memikirkan naik pesawat lagi karena pasti sudah tidak mungkin. Paling-paling saya berharap pesawat delay, tapi kalau sudah 5 jam lebih begini dari jadwal seharusnya apa masih mungkin delay? Hingga waktu subuh dinihari saya masih berada di kawasan Tomang.

Saya mau pulang saja ke Bandung tetapi tidak bisa sebab kendaraan tidak bisa mundur. Kalau pun saya turun di jalan tol, belum tentu ada kendaraan yang menuju Bandung atau ke terminal bis/kereta api. Akhirnya saya dan penumpang bis pasrah saja di dalam bis, tidak bisa berbuat apa-apa. Bis tidak bisa bergerak, benar-benar macet total. Penumpang di atas bis mulai didera rasa lapar. Mau makan tidak ada yang menjual makanan di dalam tol. Dari atas bis saya melihat masih puluhan kilometer kendaraan yang tidak bergerak di depan kami, sementara puluhan kilomter kendaran lain menungu di belakang.

Untuk urusan “ke belakang”, untung saja di atas bis ada toilet. Kebayang penumpang di dalam mobil atau bis tanpa toilet, bagaimana mereka itu mau melaksanakan urusan ke belakang di tengah kemacetan total di jalan tol itu. Kasihan lagi kalau ada bayi atau balita di dalam kendaraan, tentu mereka sudah stres. Semalaman para penumpang terjebak di jalan tol dalam kota dalam keadaan lapar, lelah, dan tanpa kepastian kapan penderitaan di jalan akan berakhir.

Pagi hari sampailah kami di jalan tol bandara. Dari jauh terlihat jalan tol tergenang banjir setinggi 1 meter. Kendaraan menuju Bandara dialihkan melewati kawasan Cengakareng. Di Cengkareng kemacetan juga luar biasa sebab bis kami memasuki jalan-jalan kampung yang sempit. Jam 9 pagi bis berhasil memasuki belakang bandara dan tiba di Bandara Soeta pukul 9.15. Total waktu dari Bandung ke Bandara Soeta adalah 19 jam lebih.

Tiba di Bandara saya tidak pikir panjang lagi, langsung balik ke Bandung dengan bis Primajasa yang lain. Rencana ke Manado saya urungkan. Perjalanan pulang ke Bandung juga tidak kalah macetnya karena bis tidak bisa melewati tol bandara. Kendaraan dialihkan ke kota Tengerang yang juga tidak kalah macetnya.

Menurut saya, jalan tol bandara itu sudah salah dari awal. Sudah tahu melewati rawa-rawa dekat laut, mengapa Pemerintah tidak membuat jalan layang saja di atas rawa itu sehingga tidak bakal terganggu oleh banjir. Jika jalan tol bandara sering putus karena bajir, apa Pemerintah tidak malu dengan program Visit Indonesia Year 2008?

Kategori: Pengalamanku

Sehat Itu Mahal

12 Maret 2008 · & Komentar

Sewaktu makan seusai rapat siang di kantor, saya tertegun melihat rekan senior saya membawa makanan khusus dari rumah. Makanannya adalah kentang rebus, wortel yang dikukus, dan beberapa jenis sayuran yang semuanya serba dikukus/rebus. Makannya juga tidak pakai nasi. Setelah saya bertanya, ternyata rekan saya itu menderita penyakit tertentu yang mengharuskannya menjalani diet makanan. Saya lupa nama penyakitnya, tapi gak jauh-jauh dari masalah kolesterol, asam urat, dan sebagainya.

Saya cukup kasihan dengan rekan saya itu. Alangkah malangnya dia. Bagaimana tidak, dia sebenarnya sangat berkecukupan, uangnya banyak, tetapi dia tidak dapat menikmati hasil jerih payahnya, sekadar untuk makan saja. Makan harus diatur secara ketat jumlah kalorinya, itupun juga harus makanan yang serba direbus atau dikukus. Tidak boleh mengandung minyak. Tidak boleh pakai garam. Apa ya rasa makanan seperti itu? Hambar dan tidak membangkitkan selera. Gimana lagi, kalau mau tetap sehat tentu harus kontrol makanan dengan ketat. Semua makanan yang enak-enak harus disingkirkan dari ingatan.

Beberapa waktu yang lalu rekan saya yang lain terpaksa masuk rumah sakit karena serangan stroke. Stroke dan jantung adalah dua penyakit yang paling mematikan. Keduanya saling berhubungan dan banyak menimpa orang-orang sibuk di zaman modern ini. Rekan saya ini pernah bercerita bahwa sejak beberapa tahun terakhir dia harus mengontrol makanan. Kolesterolnya sudah tinggi, maklum sejak muda doyan makan makanan yang mengandong kolesterol tinggi seperti daging, sate kambing, jeroan, durian, dan lain-lain. Tapi yang namanya manusia kan sering lupa, makanan enak bisa membuat orang tergoda dan pantangan makanan itu diabaikan. Akhirnya, ya masuk rumah sakit sebab kolesterol yang menumpuk di pembuluh darah yang menuju otak mengakibatkan serangan stroke.

Sehat itu ternyata mahal harganya (kata orang sakit).

Dari semua peristiwa itu terkandung ibrah yaitu pelajaran berharga. Kebanyakan penyakit zaman sekarang berawal dari pola makanan. Pola makanan yang tidak sehat dan berlebihan bisa menimbulkan penyakit. Hidup sehat dapat diperoleh jika kita menyesuaikan pola makan yang sehat sejak masih muda. Saya pribadi tidak terlalu suka makan daging, hanya sekali-sekali saja. Saya lebih senang mengkonsumsi ikan. Ikan bagi sebagain orang dianggap makanan yang tidak elit, tetapi ketahuilah ikan itu tidak mengandung kolesterol, jadi sangat sehat untuk dikonsumsi. Ketika saya berkunjung ke daerah, ikanlah yang saya pilih sebagai teman nasi, bukan daging. Entah kenapa sejak beberapa tahun terakhir ini kalau saya melihat makanan dari daging sapi maka yang terbayang adalah daging itu masih hidup. Jadi nek gitu melihatnya.

Tips sehat lainnya adalah rajinlah makan buah-buahan dan berolahraga. Tentang ini sudah saya bahas di dalam tulisan Jika Ingin Tetap Sehat , silakan baca lagi.

Agama sudah mengajarkan kita agar jangan hidup berlebih-lebihan, termasuk soal makan. Yang berlebih-lebihan itu adalah penyakit. Makan daging tentu boleh, asal tidak berlebihan. Makan ikan juga begitu, jangan berlebihan. Perut kita sudah dirancang sedemikian rupa oleh Allah SWT untuk menampung makanan secukupnya. Bisakah kita menerapkan teladan Rasulullah tentang makan sebagai berikut: “makan sebelum lapar, berhenti sebelum kenyang”?

Beruntunglah orang yang diberi kesehatan oleh Allah SWT. Menurut saya kesehatan  adalah nikmat Allah yang paling besar. Hanya kalau tubuh sehatlah kita bisa berkarya, belajar, dan melakukan aktivitas.  Oleh karean itu, patutlah kita menysukuri nikmat sehat itu.

Kategori: Pengalamanku

Terkenang Masa Kejatuhan Pak Harto

28 Januari 2008 · & Komentar

Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, akhirya Pak Harto dipanggil oleh Allah SWT pada hari Ahad 27 Januari 2008. Setelah bertahan 24 hari lamanya dengan kondisi kesehatan yang bolak-balik antara membaik-memburuk-membaik-memburuk-….

 Soeharto

Perhatian masyarakat yang begitu besar dan antusias mengikuti jalannya prosesi pemakaman menunjukkan bahwa Pak Harto tetaplah seorang pemimpin besar yang pernah memimpin bangsa ini selama 32 tahun. Terlepas dari kesalahan yang telah dia lakukan selama 32 tahun itu, Pak Harto mempunyai jasa yang  besar bagi bangsa ini. Maka, sebagai seorang muslim, pertama kali mendengar kabar wafatnya pak Harto, saya langsung mengucapkan inna lillah wa inna ilaihi raajiun.

Pemerintah menetapkan masa berkabung nasional selama sepekan dengan anjuran pengibaran bendera setengah tiang. Peluang ini dimanfaatkan secara jeli oleh pedagang bendera dengan menjual bendera merah putih di pinggir jalan. Padahal ini bukan bulan Agustus bo!. Mungkin mereka berharap ada orang yang kehilangan bendera setelah 17 Agustus kemaren dan berniat membeli lagi untuk dikibarkan setengah tiang selama sepekan. Di bawah ini foto penjual bendera putih di depan Gedung Dwi Warna di jalan Diponegoro Bandung yang saya potret ketika dalam perjalanan ke kampus pagi tadi. Baru kali ini saya lihat pedagang bendera menjual lagi dagangan mereka selain dari bulan Agustus.

penjual bendera merah putih di depan egdung Dwi Warna

Saya masih ingat pengalaman tidak terlupakan pada bulan Mei tahun 1998, yaitu hari-hari terakhir kejatuhan Pak Harto. Indonesia mulai terasa gonjang-ganjing sejak bulan Agustus 1997 pada saat nilai rupiah jatuh terhadap dollar, yang mulanya 1 US$ = Rp 3500, lalu karena krisis moneter di Asia menjalar ke Indonesia, nilai rupiah terjun bebas menjadi 1 US$ = Rp 8.000, sampai pernah mencapai Rp 11.000. Itulah awal keruntuhan rezim Pak Harto. Sampai-sampai ada anekdot yang berkembang, jika ingin menumbangkan rezim pemerintah di sebuah negara, jatuhkan dulu nilai mata uangnya.

Sejak rupiah jatuh loyo, harga-harga barang langsung melejit naik. Susu Dancow 400 gr yang biasa saya beli biasanya hanya Rp 7000, naik menjadi Rp 12.000 (sekarang udah Rp 22.000 ya). Susu bayi apalagi, naiknya membuat susah banyak orangtua yang punya balita. Harga barang yang paling melejit adalah minyak goreng, sebab minyak goreng termasuk sembako yang dibutuhkan rakyat. Harganya gila-gilaan, sampai-sampai dulu penjualan minyak goreng di supermarket dan pasar swalayan dibatasi hanya boleh satu bungkus satu orang. Mengatasi krisis ini, kreativitas masyarakat pun muncul. Lewat milis-milis orang-orang memberikan cara membuat minyak goreng sendiri dari bekas parutan kepala, atau kiat mengganti susu dengan air tajin (air rebusan nasi) yang ditambah gula. Benar-benar susah hidup pada tahun 1997 dan 1998 itu. Mahanya harga sembako kala itu membuat sekelompok mahasiswa ITB mengadakan aksi pasar murah sembako di lapangan basket. Satu paket sembako yang berisi 3 kg beras, minyak goreng 1 kantong, gula pasir, dan lain-lain dijual hanya Rp 10.000. Berduyun-duyun warga di seputaran Tamansari, Bonbin, Taman Hewan, Pelesiran datang ke ITB membeli paket sembako murah itu. Aksi pasar sembako murah ini diliput media massa secara luas. Sejak itu, aksi pasar murah sembako merebak dimana-mana di seluruh Indonesia.   

Pak Harto saat itu benar-benar bingung melihat situasi ekonomi negeri yang porak poranda seperti ini. Padahal, pada era Soehartolah Indonesia mencapai kejayaan dengan swasembada pangan (terutama beras). Pak Harto yang selalu dikelilingi oleh para konglomerat yang menguasai 90% ekonomi negeri ini akhirnya tidak dapat mengelak lagi kalau pondasi ekonomi Indonesia sebenarnya keropos. Gedung-gedung megah bank swasta yang menjulang di Jakarta bukanlah indikator ekonomi Indonesia bagus. Ekonomi Indonesia hanya luarnya saja yang bagus, tapi di dalamnya ternyata rapuh. Kena  serangan moneter regional saja, nilai rupiah langsung loyo.

Puncaknya adalah ketika terjadi insiden penembakan mahasiswa Universitas Trisakti pada tahun 12 Mei 1998. Peristiwa ini tidak dapat diterima oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Terjadilah kerusuhan massal di Jakarta dan kota-kota lainnya di Jawa (terutama Solo dan Yogya). Rakyat marah. Entah siapa yang mengkomando, ribuan massa menjarah dan membakar toko-toko, mal, pasar, gedung perkantoran, dan membakar mobil-mobil yang parkir. Rumah-rumah di kompleks elit menjadi sasaran pembakaran dan penjarahan. Benar-benar chaos Jakarta saat itu. Orang-orang asing lari menyelamatkan diri ke bandara, orang non-pribumi menjadi sasaran kemarahan warga.

Aksi demo dan orasi menentang Pemerintah dan ABRI merebak dimana-mana. Kampus menjadi posko aksi penetangan Soeharto.  Mahasiswa turun ke jalan. Aksi mahasiswa mendapat dukungan para rektor dan dosen, rakyat, dan para politisi. Di ITB didirikan panggung di depan pintu gerbang, setiap hari ada aksi demo dan orasi mahasiswa yang mengecam Pak Harto.  Seluruh mahasiswa di Bandung bersatu padu di Jalan Ganesha. Aksi teatrikal, kecaman, protes, dan lain-lain dilakukan secar bebas di Jalan Ganesha (padahal dulu keguatan semacam ini dianggap subversiv). Para dosen ITB ikut memberikan dukungan moril kepada mahasiswa. Beberapa kuliah terpaksa diliburkan karena mahaisswa turun ke jalan.

Nah, suatu siang, akan ada aksi besar-besaran turun ke jalan besar-besaran menuju Gedung Sate untuk menuntut Pak Harto mundur. Ribuan mahasiswa sudah membentuk barisan panjang berpegangan tangan di kiri dan kanan sebagai pagar betis untuk melindungi kawan-kawannya yang turun ke jalan. Saya termasuk di dalam rombongan itu. Mahasiswa saya dari angkatan 1996 kaget, lho Pak Rin ikut turun ke jalan juga, tanya mahasiswa. Iya dong, kata saya, solider dengan mahasiswa. Nah, kami semua berjalan beriringan dari jalan Ganesha menuju Gedung Sate. Pada mulanya aksi turun ke jalan ini dihadang oleh para tentara dan polisi di mulut jalan Ganesha. Terjadi aksi dorong-dorongan antara tentara dan mahasiswa. Namun karena jumlah mahasiswa jauh lebih banyak dan tentara tidak mau mengambil resiko dengan melakukan penembakan, akhirnya para tentara dan polisi membuka barikade dan membiarkan aksi mahasiswa itu berjalan. Kami berjalang beriringan melewati Jalan Dago, berbelok ke Jalan Diponegoro, dan akhirnya mencapai Gedung Sate. Di sana para mahasiswa melakuka orasi da bertemu para anggota DPRD. Saat itu aksi turun ke jalan menuju Gedung Sate dianggap heroik karena sering gagal akibat dihadang oleh polisi dan tentara. Kendornya pengamanan dari aparat ABRI dan Kepolisian merupakan pertanda bahwa militer sudah tidak memberikan dukungan lagi kepada Pak Harto.

Dua hari kemuduian, 20 Mei 1998, Pak Harto mengumumkan pengunduran dirinya di Istana Negara. Mahasiwa merayakannya dengan menduduki gedung DPR/MPR di Senayan, Jakarta.

Demo di MPR

Itulah kenang-kenangan yang saya rasakan pada tahun 1998 tentang Pak Harto. Sekarang beliau sudah dipanggil ilahi. Meskipun sebagian orang membencinya, untuk sekarang ini lupaka kebencian itu. Dia sudah tiada, maka yang perlu dikenang darinya adalah jasa baiknya. Sebagai orang beragama, kita tidak boleh membicarakan keburukan orang yang yang sudah meninggal. 

Kategori: Pengalamanku

Lebih Baik Sakit Hati daripada Sakit Gigi

29 Oktober 2007 · & Komentar

Jumat minggu lalu gigi geraham bawah dicabut. Sakit, benar-benar  sakit. Bertahun-tahun menjalani hidup, baru kali ini saya merasakan yang namanya sakit gigi. Mulanya gigi tersebut bolong setengah, akibatnya sisa makanan suka bersarang di sana. Lama-lama kelamaan sisa makanan yang ngumpet di sana menjadi sumber kuman dan akhirnya infeksi. Berobat ke dokter gigi di Poliklinik ITB kurang memuaskan, apalagi saya dapat dokter yang ketus (kok bisa dokter tidak ramah seperti itu berpraktek di Poliknik ITB).

Berminggu-minggu saya terpaksa menahan sakit setiap kali makan. Mau berobat gak bisa karena masih libur lebaran, dokter-dokter belum praktek. Akhirnya barulah minggu lalu saya menemui dokter gigi swasta di Medika Antapani, dekat komplek rumah. Dokternya masih muda, ganteng, da ramah. Saya menjadi tenang. Sambil memeriksa gigi saya, ia memutar musik di ruangan prakteknya. Ketegangan pun menjadi cair karena suasana itu, apalagi saya tidak tahan gigi saya dipreteli dengan alat-alat seperti tang dan pengait. Pada kunjungan pertama, dokter itu hanya memberikan obat semprot anti infeksi dan sejumlah resp obat antibiotik yang harus diminum serta meminta datang lagi dua hari kemudian dengan keputusan: gigi harus dicabut.

Menjelang hari ‘H’ saya mulai berkeringat dingin. Rasa gemetar menjalari tubuh. Bukan apa-apa, kalau gigi dicabut berarti saya harus dibius lokal. Untuk pembiusan kan harus disuntik di daerah gusi sekitar gigi yang sakit. Membayangkan jarum suntik saya sudah takut duluan. Terakhir kali saya disuntik adalah ketika dikhitan waktu kecil. Sekarang yang mau disuntik adalah gusi.

Akhirnya tibalah hari H itu. Saya datang dengan hati campur aduk dan takut. Tetapi dokter itu tetap tersenyum ramah. Mula-mula disentuhnya gigi saya yang sakit tadi dengan alat semacam obeng, ampun sakitnya. Lalu dia berkata ke asistennya untuk menyiapkan anestesi. Itu pertanda saya akan segera dioperasi. Dokter itu mengatakan karena tingkat kesulitan mencabut geraham bawah saya cukup tinggi, maka dia mengatakan akan dilakukan operasi kecil, jadi bukan mencabut gigi biasa.  Jarum suntiknya diarahkan ke gusi bawah gigi. Saya menahan sakit yang sangat, saya pegang kursi erat-erat untuk menahan sakit. Suntikannya tidak hanya sekali, tetapi 3 kali! Ampun. Tetapi ajaib, setelah disuntik bagian gusi saya itu terasa baal (apa ya bahasa Indonesianya, oh ya kebal).  Saya tidak merasa apa-apa meskipun peralatan semacam tang, pengait dan alat-alat lainya bergantian mencongkel gigi saya. Akhirnya setelah 1/2 jam operasi kecil selesai. Tidak selesai disitu, saya harus menggigit semacam obat yang berfungsi menahan sakit dan mencegah aliran darah yang terus menerus keluar dari gusi.  Biaya operasinya cukup mahal juga, Rp 250 ribu, belum termasuk obat-obat.

Tiba di rumah saya menahan sakit lagi karena efek obat biusnya sudah mulai hilang. Malam itu saya tidur menahan sakit. Jika boleh memilih, saya lebih baik sakit hati ketimbang sakit gigi (bertolak belakang dengan lagu dangdut yang mengatakan lebih baik sakit gigi daripada sakit hati). Sakit hati paling-paling satu hari sudah saya lupakan, ngapain dipikirkan karena merusak jiwa saja, tetapi sakit gigi bisa berhari-hari dan berminggu-minggu tetapi mengakibatkan susah makan dan tidak nyaman (padahal saya kan hobi makan, tapi anehnya biar banyak makan badan ini tetap langsing-langsing saja).

Begitulah pembaca, jangan sampai pernah sakit gigi. Gigi yang kita anggap sepele ternyata kalau sakit membuat penderitaan panjang. Saraf gigi kan berkaitan kemana-mana, ya ke mata, ke hidung, ke telinga, dan lain-lain. Kalau tidak dipedulikan, bisa fatal akibatnya.

Kategori: Pengalamanku

Etika Puasa Rumah Makan Padang di Bandung

27 September 2007 · & Komentar

Berpuasa Ramadhan di Bandung tidak sulit-sulit amat, boleh dibilang agak “beruntung” dibanding dengan di kota lain. Suhu kota Bandung yang masih sejuk tidak membuat haus di siang hari. Coba kalau berpuasa di Surabaya, Jakarta, Padang, atau di kota-kota panas lainnya, sungguh besar godaannya. Di pasar-pasar banyak kita temukan penjual minuman yang menggoda dahaga. Di Padang ada air tebu dingin yang tetap dijual secara “menantang” di Pasar Raya. Setiap orang yang lewat bisa tergoda membayangkan nikmatnya air tebu itu di siang hari begini.

Meskipun berpuasa di Bandung tidak terlalu terasa haus, tetapi rasa lapar tetap ada. Bila melihat sekeliling lingkungan tempat kerja, hati kita terasa miris. Meskipun ini bulan puasa, tetapi sebagian warung-warung dan rumah makan tetap saja buka, baik yang ditutupi kain maupun yang terang-terangan. Memang tidak ada larangan berjualan makanan pada siang hari di bulan puasa, karena negara kita bukan negara Islam. Selain itu, tidak semua orang berpuasa, saudara-saudara kita yang beragama lain tentu perlu makan dan minum di siang hari. Pilihannya adalah makan di warung atau di rumah makan yang tetap buka. Tapi, di sinilah masalahnya. Agama mengajarkan kita bertoleransi dan menenggang rasa. Meskipun tidak ada larangan membuka rumah makan di siang hari, tetapi etika harus dikedepankan. Bermu’amalah itu pada prinsipnya adalah menjalankan etika.

Saya sering memperhatikan rumah makan Padang yang banyak terdapat di setiap sudut di kota Bandung. Sebagai orang Minang di Bandung, saya seringkali tidak habis pikir dengan perilaku orang Minang pemilik rumah makan Padang itu. Sebagian dari mereka tetap terang-terangan berjualan di siang hari, melayani pembeli makan dan minum di situ. Seolah tiada hari untuk  mengais rezeki, tidak peduli ini bulan puasa atau bukan. Misalnya di warung nasi padang MK di depan kampus Unpad di Jl. Dipati Ukur. Pemilik rumah makan tetap saja melayani orang-orang makan di sana meskipun waktu buka masih jauh. Terang-terangan lagi tanpa ditutup kain pembatas. Ada banyak rumah makan kecil dan besar yang berperilaku seperti itu. Boleh dibilang pemilik rumah makan itu sudah tanggal keminangannya, yang tersisa hanya ”kabau” (kerbau) saja. Mengapa begitu? Orang Minang sejatinya teguh memegang nilai-nilai agama (Islam). Sudah diwariskan secara turun-temurun bahwa filosofi orang Minangkabau adalah adat yang bersendikan kepada syariat agama, dan syariat itu sendinya adalah Kitab Allah (Alquran). Lalu, jika orang Minang sudah tidak mempedulikan lagi ajaran agamanya, maka perilakunya diibaratkan seperti kerbau (“kabau” dalam bahasa Minang). Minangnya hilang, yang tersisa adalah kabau. Di Sumatera Barat, julukan “kabau” diberikan kepada orang-orang yang tidak taat agama. Kerbau adalah hewan yang hanya memikirkan makan dan makan saja, hanya hidup hari ini saja yang diingat, tetapi hidup sesudah mati tidak terpikirkan.

Lalu, bagaimana sebaiknya etika berjualan makanan itu ditegakkan? Dalam hal ini, saya menaruh salut kepada beberapa rumah makan Padang yang tetap berbisnis selama bulan puasa tetapi mengedepankan kesopanan berpuasa. Beberapa rumah makan hanya buka dari jam 16.00 (sore) hingga sahur (dinihari). Sehari sebelum bulan puasa, mereka memasang pengumuman di depan pintu rumah makannya, bunyinya begini: SELAMA BULAN PUASA, RUMAH MAKAN BUKA DARI JAM 16.00 HINGGA WAKTU SAHUR. Jadi, mereka tidak berjualan dari pagi hingga sore hari. Mereka tidak ingin terganggu puasanya, dan juga tidak ingin mengganggu puasa orang lain.  Pembeli makanan yang datang sebelum waktu buka puasa tiba tetap dilayani namun mereka  dilarang makan di tempat, dengan kata lain makanan hanya boleh dibungkus dan dibawa pulang.  Beberapa rumah makan Padang menambahkan tulisan di pengumumannya itu sebagai berikut:

SEBELUM WAKTU BUKA PUASA, TIDAK MELAYANI MAKAN DI TEMPAT, HANYA BISA DIBUNGKUS.  

Puasa

Rumah makan Padang mana yang  santun seperti itu? Ada beberapa yang saya perhatikan, misalnya RM Tiga Putri, RM Sari Bundo, dan RM Kapau Jaya. Menurut saya, pemiliknya insya Allah termasuk orang-orang yang sholeh dan memperhatikan betul ajaran agama. Meskipun sebagian dari mereka tetap berjualan di siang hari, tetapi mereka tahu etika juga. Kalau ada orang yang membeli nasi di rumah makannya, mereka tidak melarang asalkan tidak dimakan di tempat. Silakan makan di tempat lain.  Begitulah cara mencari rezeki yang berkah. Rezeki tidak akan kemana-mana. Rezeki sudah dijanjikan Tuhan, lalu kenapa manusia tetap saja ingkar?          

Kategori: Cerita Ranah Minang · Pengalamanku · Seputar Bandung

Sebutir Jambu (mungkin) Penghalang Surga

7 September 2007 · & Komentar

Beberapa hari yang lalu selepas pulang dari kantor saya mampir di jongko pedagang buah di daerah Cicadas (Jl. Ahmad Yani). Maksud hati ingin membeli buah jeruk medan, kebetulan persediaan jeruk medan di rumah untuk anak-anak sudah habis. Di jongko itu tidak hanya ada buah jeruk, tetapi juga mangga dan jambu. Hm, kalau sudah lihat jambu saya selalu tergoda untuk membelinya, apalagi warna jambunya merah-merah, pasti manis nih kata saya dalam hati.

Kebetulan si ibu penjual buah juga melayani pembeli lain selain saya, jadi saya tunggulah sebentar. Sambil melihat ke arah buah jambu itu saya bilang ke si ibu tadi, “bu, saya coba satu ya jambunya”. Saya ingin mencicipi apakah jambu itu benar-benar manis, jadi saya minta izin dulu. Suara saya antara terdengar entah tidak oleh si ibu yang sibuk melayani pembeli lain, namun sebutir jambu yang saya ambil tadi saya makan. Hm, ternyata kurang manis sehingga saya memutuskan tidak jadi membelinya. Saya hanya membeli buah jeruk medan satu kilo saja. Setelah jeruk selesai saya bayar, sayapun meninggalkan pedagang tadi.

Dalam perjalanan pulang saya segera tersadar, apakah si ibu tadi menjawab permohonan saya yang mencoba sebutir jambunya. Saya jadi ragu apakah jambu yang saya coba tadi sudah mendapat izin dari dia. Jangan-jangan belum, kalau belum berarti saya memakan barang orang lain tanpa izin yang bersangkutan. Oh, hati saya jadi tidak tenang karenanya. Mau balik lagi ke si ibu tadi sudah tidak mungkin karena jalan yang saya lalui adalah jalan satu arah. Sepanjang perjalanan menuju rumah hal itu saja yang terpikir oleh saya. Saya merasa berdosa telah mengambil kepunyaan orang lain tanpa izin biarpun hanya sebutir jambu yang harganya tidak seberapa.

Semalaman saya tidak bisa tenang memikirkan kejadian tadi sore. Dalam hidup ini saya selalu berhati-hati mendapatkan rezeki. Saya takut kepada Allah SWT bila merasa mengambil hak orang lain. Sekecil apapun hak orang lain yang terambil oleh kita, hukumnya tetap haram. Makanan yang diperoleh secara haram bila masuk ke dalam tubuh kita maka selamanya ia akan menjadi darah dan daging yang melekat di tubuh. Kemana-mana bagian tubuh yang haram itu kita bawa serta, pantas saja doa yang kita ucapkan tidak terkabul karena rezeki yang kita makan tidak membawa berkah.

Saya jadi teringat kisah seorang Arab bernama Ibrahim bin Adham yang merasa berdosa karena telah mengambil sebutir kurma dari seorang pedagang tanpa izin. Begini kisahnya:

Usai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram. Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya.Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa. 4 Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali. Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.

“Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT,” kata malaikat yang satu.

“Tetapi sekarang tidak lagi. Doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat Mesjidil Haram,” jawab malaikat yang satu lagi.

Ibrahim bin Adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya.

“Astaghfirullahal adzhim”, Ibrahim beristighfar. Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya. Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda.

“4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. Kemana ia sekarang ?” tanya Ibrahim.

“Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda itu.

“Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?”.

Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat. “Nah, begitulah” kata Ibrahim setelah bercerita, “Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur kumakan tanpa izinnya?”.

“Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatasnamakan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.”

“Dimana alamat saudara-saudaramu? biar saya temui mereka satu persatu.”

Setelah menerima alamat, Ibrahim bin Adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim.

4 bulan kemudian, Ibrahim bin Adham sudah berada dibawah kubah Sakhra.

Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap-cakap.

“Itulah Ibrahim bin Adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain.”

“O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.”

Saya tersadar dengan kisah di atas. Jangan-jangan saya bernasib sama dengan Ibrahim bin Adham, jangan-jangan karena sebutir jambu itu surga menjauh dari saya. Oh, tidak. Saya berniat menemui si ibu pedagang itu lagi untuk meminta keikhlasannya karena sebutir jambunya saya makan. Saya merasa dia belum mengiyakan keinginan saya waktu itu yang mencoba sebutir jambunya. Dua hari kemudian barulah saya sempat melewati jalan itu lagi, dan alhamdulillah saya bertemu dengan si ibu penjual buah itu. Supaya tidak kikuk, maka saya membeli dulu buah lengkeng yang juga dijual si ibu tadi. Sambil menimang-nimang buah lengkeng, saya tanya ke si ibu itu kok tidak ada lagi buah jambu. Ia jawab, hari minggu baru ada. Lalu saya ceritakan bahwa dua hari yang lalu waktu membeli jeruknya saya melihat buah jambu di antara dagangannya. Saya ceritakan kalau saya mencoba satu butir jambunya tetapi tidak jadi membelinya. “Oh, nggak apa-apa”, jawab si ibu tadi sambil tersenyum.

Lega hati saya karena si ibu sudah mengikhlaskan sebutir jambu yang saya makan dua hari lalu. Rasa berdosa pun hilang, hati saya jadi lapang. Segera saya pulang dengan hati senang. Ini menjadi pelajaran bagi saya agar berhati-hati dalam membeli sesuatu, jangan mencoba kalau tidak mendapat izin dari si penjualnya. Salah-salah kita memakan barang haram. Barang haram tidak membawa keberkahan hidup sampai kita mati.  Semoga Allah SWT mengampuni kekhilafan ini.

Kategori: Pengalamanku