Catatanku

Entries categorized as ‘Renunganku’

Suasana yang Hilang Setelah Ramadhan

25 September 2009 · 1 Komentar

Ada perasaan ganjil setelah Ramadhan dan Idul Fitri usai. Perasaan kehilangan. Siapapun tidak ingin suasana kondusif yang sudah dibangun dalam waktu lama, tiba-tiba harus ditinggalkan. Ketika rasa cinta mulai terbentuk, kita harus berpisah dengan yang kita cintai itu, siapa yang tidak sedih. Itulah bulan Ramadhan.

Tiba-tiba saja saya merasa ada kehilangan. Selama sebulan penuh kami melaksanakan ibadah puasa. Pagi dinihari kami sudah bangun untuk menyiapkan dan makan sahur, lalu menunggu waktu shalat subuh, kemudian tadarus Al-quran.

Sore hari, suasana jalanan macet karena semua orang beradu cepat agar sampai ke rumah untuk berbuka puasa. Sepanjang jalan menuju pulang, banyak pedagang dadakan yang menjual makanan untuk buka puasa. Mereka semua berusaha meraup rezeki berkah bulan puasa.

Malam hari, seusai shalat Isya, masjid dipenuhi orang untuk sholat tarawih. Kadang-kadang suara petasan yang memekakkan telinga terdengar dari luar masjid, seolah ikut menemani orang yang sedang shalat tarawih.

Televisi selama sebulan itu terlihat shaleh. Kata-kata penuh hikmah terlontar dari layar kaca sepanjang hari, siang dan malam. Jangan tanya soal artis dan presenter mereka, semua terlihat alim dalam balutan busana muslimah.

Ketika suara takbir menggema di malam hari, ada kesedihan yang merasuk. Oh, bulan Ramadhan segera berakhir. Mungkin sebagian orang merasa senang karena mereka tidak perlu capek lagi menahan lapar dan haus sepanjang hari. Oh, kalau begitu puasa seolah menjadi siksaan bagi sebagian orang. Seharusnya kita merasakan sebaliknya, merasa sedih ditinggalkan bulan Ramadhan dan rindu untuk bertemu lagi. Mengapa? Karena belum tentu umur kita panjang, belum tentu tahun depan kita ketemu lagi dengan bulan Ramadhan, dan belum tentu kita merasakan kembali suasana bulan Ramadhan yang syahdu. Semoga kita diberi umur panjang agar dapat bertemtu lagi dengan bulan Ramadhan tahun depan.

Saya jadi teringat lagu yang dinyanyikan oleh Bimbo, yang berjudul Setiap Habis Ramadhan (syair lagu: Taufik Ismail):

Setiap habis Rama­dhan
hamba rindu lagi Ramadhan
saat-saat padat beribadah
tak terhingga nilai mahalnya

Setiap habis Ramadhan
hamba cemas kalau tak sampai
umur hamba di tahun depan
berilah hamba kesempatan

Setiap habis Ramadhan
rindu hamba tak pernah menghilang
mohon tambah umur setahun lagi
berilah hamba kesempatan

Reff:
Alangkah nikmat ibadah bulan Ramadhan
sekeluarga, sekampung, senegara
kaum muslimin dan muslimat se dunia
seluruhnya kumpul di persatukan
dalam memohon ridho-Nya.

~~~~~~~~

Taqaballahu minna wa minkum, shiyaamana wa shiyaamakum

Kategori: Renunganku

Dulu Menangkap Koruptor, Sekarang Giliran Ditangkap

2 Mei 2009 · & Komentar

Negara Indonesia memang penuh dengan aneka kejutan yang membuat kita terkejut-kejut. Siapa yang tidak terkejut mendengar Ketua KPK, Antasari Azhar (AA), ditangkap polisi semalam karena diduga menjadi otak pembunuhan seorang pengusaha bernama Nasrudin. Dan yang mengejutkan, masalah pembunuhan itu tidak ada sangkut pautnya dengan perkara korupsi yang merupakan core bussiness KPK, tetapi soal… wanita! Duh, wanita memang bisa membuat dua lelaki berperkara yang akhirnya berujung pada pembunuhan. Pepatah lama yang mengatakan bahwa harta, tahta, dan wanita adalah jerat bagi kaum lelaki ternyata masih berlaku. Menurut berita yang saya baca di sebuah harian, AA disangka punya affair dengan istri ketiga Nasrudin (hah? punya 3 istri?). Nasrudin yang tidak terima istrinya diganggu lalu mengancam akan membeberkan aib AA. Nasrudin memeras AA agar aibnya tidak disebarluaskan. Ujungnya sudah bisa diduga, AA marah lalu merancang menghabisi Nasrudin. Begitulah kisah yang bertebara di media cetak hari ini. Benar tidaknya biar nanti pengadilan yang akan mengungkapkannya.

KPK, Komisi Pemberantasan Korupsi, siapa orang Indonesia yang tidak tahu lembaga ini. KPK yang pada mulanya nobody , di tangan AA menjelma menjadi superbody. KPK seolah-olah mempunyai kewenangan yang tidak terbatas untuk mengusut perkara korupsi. Para pejabat dan poitisi takut dibuatnya, mendengar namanya saja mereka sudah keder. Mereka gemetaran ketika kantornya ‘diobrak-abrik’ oleh petugas KPK dalam rangka mencari bukti-bukti korupsi, seakan-akan petugas KPK itu sedang menguber ‘tikus-tikus’. Petugas KPK terkadang lebih galak dari polisi. Sudah banyak politikus dan pejabat yang ditangkap oleh KPK karena terlibat perkara suap, manipulasi, dan korupsi yang merugikan uang negara. Kisah perburuan para tersangka koruptor seperti film-film detektif dan menjadi berita utama di media massa. Masih ingat dengan drama penangkapan Al Amin? Jaksa Urip? Arthalyta? Lalu mantan dirut BI yang merupakan besan SBY, Aulia Pohan? Masih banyak lagi koruptor di negeri ini berhasil diburu dan ditangkap oleh KPK. KPK mendapat pujian dan sanjungan yang luar biasa karena berhasil membongkar korupsi kelas kakap. Rakyat Indonesia angkat topi kepada KPK. Rakyat sepertinya menaruh harapan yang besar kepada KPK dalam memberantas korupsi yang sudah mendarah daging di negeri ini.

Semenjak banyak koruptor ditangkap oleh KPK, nama AA langsung melejit. Popularitasnya melebihi Pak Presiden. Dia seolah-olah menjadi pesohor (selebiriti) baru. AA pernah digadang-gadang menjadi calon wapres oleh sebuah parpol. Melihat wajah AA di TV publik langsung ingat KPK. Ya, AA dan KPK bagai dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Tapi, ya begitulah. Ketika seseorang berada di atas angin, ketika sanjungan yang datang kepadanya tiada henti-hentinya, maka ujian pun datang. Sebagian orang yang ‘mabuk kepayang’ oleh sejuta sanjungan dan pujian terkadang lupa diri. Terlena. Dia lupa kakinya sedang berdiri dimana, entah masih di bumi atau di awan. Dia tekadang lupa mengontrol perilakunya, tindak tanduknya. Dia seakan tidak bisa membedakan lagi apakah tindakannya itu berakibat baik atau buruk bagi diri dan lingkungannya. Ketika rasa angkuh itu memuncak, ketika dia masih dibuai lena, saat itulah Tuhan mencabut kejayaannya dan tiba-tiba dia menjadi orang yang hina, 180 derajat berubah total dari sebelumnya orang yang mulia. Itulah ‘teguran’ Tuhan kepadanya.

Barangkali itu pula yang menimpa Soekarno, Soeharto dan keluarganya, serta orang-orang terkenal lainnya di negeri ini, sebutlah para artis (Johny Indo, Roy Marten, dll), politisi, bahkan ulama (Kiai Nur Iskandar SQ, AA Gym, dll), dan sekarang giliran AA. Seperti yang disebutkan di dalam Al-Quran (saya lupa surat dan ayatnya, ada yang tahu?), bahwa Allah SWT mempergilirkan kejayaan seseorang atau sekelompok kaum (atau bangsa). Ada saatnya kaum itu sedang berada di atas, lalu Allah membalikkannya sehingga berada di bawah. Sejarah mencatat entah beberapa banyak bangsa yang dulu pernah berjaya di bumi ini, tetapi sekarang menjadi bangsa yang berada di halaman belakang sejarah itu. Menjadi mulia atau menjadi hina semua adalah akibat perbuatan sendiri. Dalam bahasa yang sederhana, pergiliran kejayaan itu diibaratkan seperti roda pedati yang berputar, kadang di atas dan kadang di bawah.

Kembali ke masalah yang menimpa AA, apabila benar terbukti dia berada di balik pembunuhan Nasrudin, maka nasibnya benar-benar terpuruk. Karirnya akan tamat, kejayaannya bakal siran, dan namanya akan dilupakan orang.

Sudah banyak peristiwa-peristiwa terpuruknya orang-orang terkenal di bumi ini karena terlena oleh sanjungan dan pujian yang berlebihan saat ia mencapai kejayaan. Tetapi, tidak banyak orang yang belajar dari sejarah bahwa sesungguhnya semua itu fatamorgana saja. Semu. Fana. Tidak banyak orang yang belajar bahwa sesungguhnya segala puja puji dan sanjungan hanyalah milik Allah SWT semata, kita tidak layak berbangga hati menerimanya. Sebagaimana yang setiap hari kita baca di dalam shalat, alhamdulillaahirabi ‘allamiin, segala puji hanya bagi Allah Tuhan semesta alam. Mudah-mudahan kita selalu diberikan kerendahan hati, karena yang mulia di sisi manusia dan Allah SWT adalah orang yang selalu rendah hati.

Kategori: Indonesiaku · Renunganku

Toko Suami

5 Desember 2008 · & Komentar

Cerita metafor di bawah ini saya dapatkan dari Pak Suheimi di sebuah milis yang saya ikuti. Isinya cukup menarik dan mudah-mudahan dapat memberi pelajaran buat hidup kita.

~~~~~~~~~~~~~~~

Sebuah toko yang menjual suami baru saja dibuka di sebuah pusat kota dimana wanita dapat memilih suami…

Diantara instruksi-instruksi yang ada di pintu masuk terdapat instruksi yang menunjukkan bagaimana aturan main untuk masuk toko tersebut:

Kamu hanya dapat mengunjungi toko ini SATU KALI

Toko ini terdiri dari 6 lantai dimana setiap lantai akan menunjukkan sebuah calon kelompok suami. Semakin tinggi lantainya semakin tinggi pula nilai pria di dalamnya. Bagaimanapun ini adalah semacam jebakan. Anda dapat memilih pria di lantai tertentu atau lebih memilih ke lantai berikutnya tetapi dengan syarat tidak boleh turun ke lantai sebelumnya kecuali untuk keluar dari toko.

Tertarik dengan promo itu seorang wanita pun pergi ke toko “suami” tersebut untuk mencari suami…

Di lantai 1 terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 1: Pria di lantai ini memiliki pekerjaan dan taat kepada Tuhan.

Wanita itu tersenyum kemudian dia naik ke lantai selanjutnya.

Di lantai 2 terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 2: Pria di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, dan sayang kepada anak kecil.

Kembali wanita itu naik ke lantai selanjutnya.

Di lantai 3 terdapat tulisan seperti ini:
Lantai 3 : Pria di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, sayang kepada anak kecil, dan tampan.

” Wow.. keren”, pikir wanita itu penuh kekaguman.

Tetapi ia masih penasaran dan ingin terus naik ke lantai berikutnya.

Lalu sampailah wanita itu di lantai 4 dan terdapat tulisan
Lantai 4 : Pria di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, sayang kepada anak kecil, tampan, dan suka membantu pekerjaan rumah.

”Ya ampun… Aku hampir tak percaya”, serunya dengan mata berbinar-binar.

Tetapi tetap saja dia melanjutkan ke lantai 5 dan terdapat tulisan seperti ini:

Lantai 5: Pria di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, sayang kepada anak kecil, tampan, suka membantu pekerjaan rumah dan romantis.

Dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia melangkah kembali ke lantai 6 dan terdapat tulisan seperti ini:

Lantai 6 : Anda adalah pengunjung yang ke 4.363.012. Tidak ada pria di lantai ini. Lantai ini hanya semata-mata bukti untuk wanita yang tidak pernah puas.

Terima kasih telah berbelanja di toko “Suami”. Hati-hati ketika keluar toko dan semoga hari yang indah buat anda.

~~~~~~~~~~~~~~
Moral dari cerita ini:
Cerita di atas memang tentang seorang wanita, tetapi itu hanya sebuah metafora saja, bukan? Siapapun dapat mengalami kasus yang serupa, tidak melulu soal mencari pasangan hidup. Begitulah, kebanyakan manusia dalam hidup ini tidak pernah merasa puas, selalu ingin lebih, ingin lebih, sampai akhirnya tiba pada suatu masa dimana dia akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.

Kategori: Renunganku

Filosofi Buah

24 November 2008 · & Komentar

Tulisan di bawah ini dikutip dari sebuah milis. Isinya mengandung pesan yang baik, karena itu saya muat di dalam blog ini.

1. Jadilah jagung, jangan jambu monyet.
Jagung membungkus bijinya yang banyak, sedangkan jambu monyet memamerkan bijinya yang cuma satu-satunya.
Artinya : Jangan suka pamer

2. Jadilah pohon pisang.
Pohon pisang kalau berbuah hanya sekali, lalu mati.
Artinya : Kesetiaan dalam pernikahan.

3 . Jadilah durian, jangan kedondong
Walaupun luarnya penuh kulit yang tajam, tetapi dalamnya lembut dan manis. hmmmm, beda dengan kedondong, luarnya mulus, rasanya agak asam dan di dalamnya ada biji yang berduri.
Artinya : Don’t judge a book by the cover.. jangan menilai orang dari luarnya saja.

4. Jadilah bengkoang.
Walaupun hidup dalam kompos sampah, tetapi umbinya isinya putih bersih.
Artinya : Jagalah hati jangan kau nodai.

5. Jadilah tandan petai (Sunda: pete), bukan tandan rambutan
Tandan petai membagi makanan sama rata ke biji petainya, semua seimbang, tidak seperti rambutan.. ada yang kecil ada yang besar.
Artinya : Selalu adil dalam bersikap.

6. Jadilah cabe.
Makin tua makin pedas.
Artinya : Makin tua makin bijaksana.

7. Jadilah buah manggis
Bisa ditebak isinya dari pantat buahnya.
Artinya : Jangan Munafik

8. Jadilah buah nangka
Selain buahnya, nangka memberi getah kepada penjual atau yg memakannya.
Artinya : Berikan kesan kepada semua orang (tentunya yg baik).

Kategori: Renunganku

Insinyur vs Kuli Angkat

8 November 2008 · & Komentar

Ada seorang insinyur yang bekerja di perusahaan eksplorasi minyak lepas pantai. Sehari-hari dia bekerja di tengah laut karena memang penambangan minyak dilakukan di dasar laut. Di perusahaan minyak itu ada aturan kerja yang berlaku untuk semua karyawan: tiga bulan di laut dan dua minggu di darat, artinya bekerja terus menerus selama tiga bulan di laut, lalu mendapat jatah libur dua minggu di darat. Begitu seterusnya. Gaji yang diperolehnya sangat besar. Dia sudah punya istri dan dua orang anak. Dengan gajinya yang besar dia dapat membangun rumah dan memenuhi kebutuhan anak istrinya di darat.

Tetapi dia merasa kurang bahagia.

Ketika ditanya kenapa, dia menjawab bahwa dia merasa kesepian di tengah lautan, apalagi kalau malam sudah menjelang. Memang gajinya besar, tapi dirinya jauh dari keluarga. Perasaan rindu kepada keluarga terpaksa ditahannya selama berbulan-bulan sebelum dia mendapat jatah libur dua minggu.

Nun di tempat lain yang jauh, ada seorang kuli angkat pelabuhan. Hidupnya sederhana saja. Setiap hari kerjanya mengangkat barang dari kapal ke gudang pelabuhan atau sebaliknya dengan menggunakan bahunya yang kekar. Jam kerjanya dari pagi sampai sore. Upah yang dia dapatkan tidak besar, kadang tidak cukup dan kadang dicukup-cukupkan untuk menafkahi keluarganya yang terdiri dari seorang istri dan lima orang anak. Memiliki rumah sendiri baginya masih sebatas mimpi, karena itu dia masih mengontrak sebuah rumah sempit di dekat pelabuhan.

Tetapi dia merasa cukup bahagia.

Ketika ditanya kenapa, dia menjawab bahwa meskipun hidupnya pas-pasan, tetapi setiap hari dia dapat berkumpul dengan anak dan istrinya. Malam hari seusai shalat dan makan malam, anak istrinya bergantian memijati badannya yang pegal-pegal. Anak-anaknya bercerita tentang pengalaman tadi siang, istrinya bercerita tentang kedatangan tukang kredit peralatan dapur. Baginya sudah cukup perhatian keluarganya sebelum dia mulai bekerja lagi esok pagi.

Cerita di atas memang terasa kontras, mungkin anda lebih setuju dengan model hidup yang mana, model hidup Pak Insinyur di tengah lautan itu atau model hidup Bapak kuli angkat pelabuhan itu? Tiap orang mungkin punya jawaban dan kriteria yang berbeda-beda dalam mengukur rasa bahagia itu.

Bagi kebanyakan orang Indonesia, berkumpul dengan keluarga setelah bekerja seharian adalah kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan uang. Kesedihan akan muncul jika dirinya berada di seberang jarak yang jauh dari keluarga. Pria Indonesia setelah menikah adalah tipe rumahan. Jika pulang bekerja, maka dia langsung pulang ke rumah, tidak mampir-mampir dulu ke tempat lain. Sore hari jalanan macet oleh para pekerja yang ingin segera sampai ke rumah untuk berkumpul dengan anak dan istrinya. Di Jepang dan di banyak negara maju yang terjadi sebaliknya. Setelah pulang dari kantor, kebanyakan pekerja menghabiskan waktunya dengan pergi ke kafe atau klab malam, minum-minum, lalu pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Rasanya hidup itu terasa hampa.

Yang harus kita ingat-ingat adalah ada hak untuk diri sendiri dan ada hak untuk anak dan istri. Hak untuk diri sendiri sudah kita peroleh dengan bekerja bebas di luar rumah, pergi ke mana-mana seharian, makan-makan dengan teman sekantor, dan lain-lain. Maka, setelah pulang ke rumah waktu kita adalah hak untuk anak dan istri (bagi laki-laki) atau suami (bagi perenpuan). Saya bisa mengerti kenapa ada orang yang tidak suka pada akhir pekan dia diganggu dengan urusan kerja atau urusan lain yang menyita waktunya, karena dia ingin menunaikan haknya untuk keluarganya. Zaman sekarang orang-orang sangat sibuk, sehingga waktu berkumpul dengan keluarga sangat kurang. Waktu akhir pekan yang sedikit itu mereka manfaatkan untuk berkumpul dengan keluarganya.

Orang Indonesia memang tipe yang setia dengan keluarganya. Bersyukurlah kita masih hidup dalam lingkungan yang seperti ini.

Kategori: Renunganku

Kapan dan Kapan

11 Oktober 2008 · & Komentar

Pada zaman saya masih mahasiswa dulu, ketika saya sudah duduk di tingkat akhir ada saja orang yang bertanya sambil lalu:

“Kapan sidang?” (maksudnya tentu kapan sidang Tuags Akhir alias TA alias skripsi)

Pertanyaan yang sejenis juga muncul ketika saya mudik ke kampung kala lebaran. Tetangga, guru, atau teman-teman di Padang juga sering bertanya begini:

“Kapan wisuda?”

Heran saya ini, apakah mereka menghitung tahun kuliah saya sehingga tahu saja kalau saya sudah tingkat empat? :-)

Setelah wisuda, maka pertanyaan selanjutnya pun muncul:

“Kapan kerja?”

Setelah saya mendapat pekerjaan (PNS, sebuah profesi yang tidak diminati lulusan ITB), maka pertanyaan menggoda berikutnya adalah:

“Kapan married?” (entah kenapa banyak orang zaman kini yang lebih senang menggunakan istilah married ketimbang nikah atau kawin). Gengsi kali ya kalau menggunakan kata nikah atau kawin.

Bagi yang belum menikah atau belum dapat jodoh mungkin akan pusing dengan pertanyaan “sensitif” seperti ini. Okelah, setelah berhasil menikah, maka pertanyaan berikutnya datang bertubi-tubi:

“Kapan punya anak?”

Oalahhhhhh, pertanyaan apa lagi yang bakal muncul setelah punya anak?

Dalam hidup kita ini, kita akan sering menghadapi pertanyaan kapan, kapan, dan kapan itu? Kapan sidang? Kapan wisuda? Kapan kerja? Kapan nikah? Kapan punya anak? dan mungkin masih banyak lagi pertanyaan kapan berikutnya: kapan? kapan? (seperti bunyi iklan sebuah rokok saja). Teman saya yang belum berhasil punya anak mungkin sudah kebal (atau sebal) dengan pertanyaan yang terakhir itu. Dalam hati mungkin ia menjawab begini: kalau saya tahu kapan tentu sudah lama saya jawab. Emangnya saya Tuhan bisa tahu kapan punya anak? He..he..

Jawaban asal bunyi terhadap semua pertanyaan kapan itu sebenarnya mudah saja:

“Kapan-kapan!”

atau yang lebih diplomatis:

ASAP (as soon as possible)

Nah, mati kutu itu orang yang bertanya soal kapan dan kapan.

Umumnya kita mahfum bahwa kebanyakan pertanyaan soal kapan dan kapan itu adalah pertanyaan iseng belaka, sekadar basa-basi atau sekadar ramah tamah saja dari orang-orang yang bertemu dengan kita. Seakan-akan tidak ada pertanyaan lain yang lebih penting selain soal kapan itu. Di Barat sana, bertanya soal kapan di atas apalagi yang menyangkut urusan pribadi (kapan nikah, kapan punya anak, dll) dianggap tidak sopan. Itu hak privasi, orang lain tidak etis bertanya tentang kapan dan kapan.

Namun kalau kita menyelami lebih jauh dan berpikir positif, seharusnya kita bersyukur dengan pertanyaan soal kapan dan kapan itu. (Pertanyaan) itu pertanda bahwa orang-orang di sekitar kita masih memperhatikan diri kita. Kita masih dianggap ada dan masih dianggap merupakan bagian dari kehidupan mereka. Ini adalah wujud tanda perhatian dan kasih sayang dari sesama manusia. Bersyukurlah masih banyak orang yang memperhatikan kita. Bersyukur kita masih hidup dalam budaya Timur yang ramah, beda dengan masyarakat Barat sana yang individualis. Jadi, menghadapi pertanyaan kapan dan kapan itu, kita tidak perlu merasa jengah atau terganggu. Nikmati saja semua pertanyaan itu dan jawab kembali dengan ramah.

Meski saya sudah bisa menjawab lima pertanyaan kapan di atas, sekarang ini pertanyaan soal kapan kembali muncul terkait studi S3 saya. Seperti kemaren dan tadi siang, seorang rekan senior bertanya:

“Kapan sidang?” (he..he , saya tahu ini basa basi saja)

Saya jawab sambil tersenyum: “maunya saya sih besok, Pak”.

Nah lho

Kategori: Renunganku

Hidup Bertetangga itu Harus

9 Oktober 2008 · & Komentar

Dulu waktu saya masih kecil dan tinggal di Padang, ibu saya suka mengantarkan makanan ke tetangga. Jika ada oleh-oleh dari kampung atau memasak cukup banyak, saya yang sering disuruh ibu mengantarkan makanan tersebut ke tetangga. Dulu saya tidak mengerti mengapa ibu sering menyuruh saya mengantar makanan ke tetangga sebelah rumah. Pokoknya antar saja.

Setelah saya menikah, punya keluarga, dan rumah sendiri, kebiasaan orangtua tersebut saya teruskan. Setiap kali pulang dari kunjungan ke daerah, biasanya saya dibekali oleh tuan rumah seabreg oleh-oleh. Banyak dan tidak akan habis dimakan sendiri. Biasanya saya suruh si bibi di rumah mengantarkan sebagian oleh-oleh ini ke tetangga. Begitu juga kalau istri dapat pembagian ikan dari kantor atau tanaman pisang dan singkong di kebun depan rumah berbuah, kami selalu mengirim sebagian rizki tersebut ke tetangga. Berbagi rizki, begitulah lebih tepatnya.

Karena sering membagikan makanan, tetangga saya juga sering melakukan hal yang sama. Mereka juga sering mengirim makanan ke rumah. Piring yang digunakan untuk mengantar makanan ke rumah tetangga selalu kembali lagi dalam keadan terisi. Padahal kami tidak meminta dibalas lagi dengan makanan. Saya pikir mungkin kultur orang timur memang begitu, saling berbalas. Waktu lebaran kemaren, saya menyuruh istri saya mengantarkan ketupat dan sayurnya ke tetangga yang orang Bali. Mereka tidak merayakan lebaran karena mereka beragama Hindu, tetapi kami ingin mereka juga ikut merasakan kebahagian orang Islam yang merayakan lebaran dengan makan ketupat. Sore harinya, tetangga saya yang orang Bali ini mengembalikan piring kami yang mereka isi dengan buah anggur sambil mengucapkan selamat Idul Fitri. Wah, saya sungkan sendiri menerima kembalian ini.

Saya melihat kebiasaan saling memberi ini banyak sekali manfaatnya. Hubungan kami dengan tetangga sangat baik. Karena saling memberi, kami jadi saling mengenal dan makin dekat, padahal sebagian tetangga saya adalah orang-orang yang sibuk dan jarang di rumah. Inti dari saling memberi itu sebenarnya adalah berbagi perhatian. Bukan makanannya yang penting, tetapi perhatian itu. Di kota Bandung yang kosmopolitan seperti sekarang ini, hubungan antar tetangga di kompleks-kompleks perumahan sudah mulai pudar. Rasa perhatian antar tetangga mungkin menjadi barang yang mahal. Kesibukan masing-masing orang membuat antar tetangga jarang berinteraksi. Bahkan, di beberapa kompleks perumahan yang rumahnya besar-besar dengan pagar rumah yang tinggi seperti penjara, antar satu tetangga dengan tetangga lain mungkin tidak saling kenal. Hidup nafsi-nafsi kata orang dimana setiap orang hanya memikirkan urusan diri sendiri, tidak mau tahu urusan tetangga sebelah rumah. Mungkin kalau ada perampokan atau kejadian tragis di rumah sebelah tidak bakal ada orang yang tahu karena kurangnya komunikasi dengan tetangga. Kering benar suasana kehidupan di kompleks seperti itu.

Maka, salah satu cara untuk membuat hubungan antar tetangga di kompleks perumahan makin dekat dan saling mengenal adalah dengan saling mengantarkan makanan itu. Makanan adalah salah satu perekat hubungan antar manusia. Berbagi makanan yang intinya adalah berbagi perhatian dipercaya dapat meluruhkan hubungan beku antar manusia. Coba kalau anda dalam perjalanan dengan kendaraan umum seperti kereta api, bis, atau pesawat, anda mungkin merasa asing dengan orang yang duduk di sebelah. Saling berdiam diri. Ketika anda makan dan menawarkannya ke orang sebelah, kebekuan anda dengan orang tersebut mulai cair. Mulailah terjadi percakapan dan tiba-tiba saja menjadi akrab. Memang, makanan diciptakan Tuhan tidak hanya berfungsi privat tetapi juga berfungsi sosial.

Sekarang barulah saya mengerti mengapa ibu saya dulu sering menyuruh saya mengantarkan makanan ke tetangga. Ternyata inilah hikmahnya.

Kategori: Renunganku · Romantika kehidupan

Agama Ritual

6 September 2008 · & Komentar

Tertarik dengan komentar Dwinanto pada tulisan saya sebelum ini yang menyatakan bahwa esensi dan makna ibadah puasa telah bergeser menjadi sekedar ritual semata. Benarkah? Menurut saya, pada sebagian ummat Islam tampaknya iya. Tidak hanya puasa, tetapi juga ibadah lain seperti haji, shalat, dan sebagainya. Sebagian orang menjalani ibadah itu sebagai aspek rutinitas semata, bahasa inteleknya sebagai “ibadah ritual”. Puasa sih puasa, shalat ya shalat, pergi haji sih pergi haji, tetapi dampak ibadah itu dalam kehidupan sehari-hari tidak terlihat. Meskipun seorang pemuda shalat, tetapi ia tetap berciuman dan berpelukan dengan wanita yang bukan muhrimnya. Meskipun seorang wanita berpuasa, tetapi soal bergosip dan menggunjingkan orang tetap saja jalan. Meskipun seorang mahasiswa taat beribadah, tetapi ia tetap nyontek dalam ujian atau membuat tugas.

Inilah Indonesia, negeri yang sering dikatakan sebagai masyarakatnya mengaku paling relijius. Indikasi negara paling relijius dapat dilihat dari kehidupan beragama di Indonesia yang semarak. Mesjid, gereja, pura, dan wihara selalu penuh umat yang beribadah. Jemaah haji ke Mekkah selalu meningkat setiap tahun. Acara Ramadhan ramai di televisi. MTQ diadakan secara periodik dan berlangsung semarak . Jumlah rumah ibadah tidak terhitung lagi banyaknya. Pengajian dan kebaktian banyak di berbagai tempat. Majelis Ta’lim tidak terhitung jumlahnya. Masih banyak lagi indikator kehidupan beragama yang menunjukkan bahwa Indonesa adalah negeri yang masyarakatnya mengaku paling relijius. Tetapi ironisnya, negeri yang disebut paling relijius itu justru menjadi negara paling korup sedunia. Praktek korupsi, pungli, dan manipulasi, sudah mendarah daging mulai dari pejabat, politisi, sampai ke rakyat biasa. Al Amin, contohnya, anggota DPR yang terlibat kasus pemerasan dan korupsi uang pada kasus alih fungsi hutan Pulau Bintan, apa sih yang kurang pada dirinya. Namanya islami sekali, ia berasal dari partai berbasis agama yang kuat, saya haqqul yakin pengetahuan agamanya sangat dalam dan ibadahnya juga tidak kurang, tetapi perilakunya jauh sekali dari makna semua ibadah yang dia kerjakan: dia korupsi uang negara dan main perempuan. Jaksa Urip contoh lainnya, pastilah dia seoarng jemaat yang rajin ke gereja, tetapi dia mau saja disuap oleh seorang perempuan agar kasus BLBI ditutup. Itulah yang sering disiniskan orang: ibadah jalan terus, korupsi jalan terus. Ada ambivalensi di sini. Itu baru tentang perilaku korupsi, msih banyak kebobrokan lainnya banyaknya tempat prostitusi. industri pornografi juga marak, minuman keras mudah diperoleh, dan sebagainya.

Banyak orang terlihat alim dan saleh ketika berada di dekat kitab suci atau tempat ibadah. Mereka terlihat soleh ketika mengerjakan ibadah, tetapi kenapa orang-orang itu bersikap berbeda ketika sudah keluar dari “area suci”? Kemana perginya bacaan yang dia baca ketika shalat? Shalat seolah-oleh menjadi gerakan yang tidak punya jiwa atau ruh sama sekali. Puasa hanya sekadar menahan haus dan lapar. Esensi dari ibadah itu tidak berbekas pada perilaku dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Kok bisa ya?

Inilah apa yang dinamakan dengan beragama sekadar tataran ritual saja. Ritual berarti kewajiban yang jika sudah diselesaikan maka ya sudah, pokoknya sudah dikerjakan. Seharusnya esensi ajaran agama itu tercermin dalam tindak tanduk dan perilaku kehidupan penganut agama dalam sehari-hari. Seorang muslim yang mengerjakan shalat misalnya, maka bacaan di dalam shalat seperti agar selalu berada di jalan yang lurus dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang muslim yang membaca ayat Alquran yang berbunyi la taqrabu zinna maka dia implementasikan dengan tidak berduaan dengan dengan perempuan yang bukan muhrimnya.

Ritual memang bagian dari ajaran agama. Ritual itu penting dan malah harus. Kita tidak bisa menafikan ritualitas dalam malaksanakan agama. Tetapi ada aspek yang tidak kalah penting yaitu aktualitas. Aktualitas dalam beragama berarti mengejawantahkan nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Saya ingat buku karangan Jalaluddin Rahmat berjudul Islam Aktual. Di dalam bukunya dia menyoroti apa yang saya ungkapkan di atas. Seorang muslim seharusnya mengaktualsiasikan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah dalam Islam tidak hanya untuk dikerjakan, tetapi juga harus diimplementasikan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Kesalehan tidak hanya berupa kesalehan ritual (hubungan mansusia dengan Tuhannya), tetapi juga kesalahan sosial (hubungan manusia sesama manusia dan makhluk hidup lainnya).

Mudah-mudahan renungan yang sederhana ini dapat mengingatkan saya dan pembaca untuk lebih menghayati ajaran agama di tengah kehidupan dunia yang fana ini.

Kategori: Renunganku

Kenapa Harus Berpuasa?

5 September 2008 · & Komentar

Bagi sebagian kalangan non-muslim, mungkin mereka tidak pernah habis pikir mengapa orang-orang Islam mau berpuasa dari makan dan minum selama lebih kurang 13 jam lebih dalam seharii (terhitung dari subuh hingga maghrib). Tidak cukup satu hari saja, tetapi dilaksanakan 1 bulan lamanya, dan hal itu terus diulang setiap tahun sepanjang hayat. Puasa itu sebenarnya berat, godaaanya sangat besar. Dengan perut kosong sepanjang hari dan rasa dahaga yang tidak tertahankan, orang yang berpuasa tetap harus bekerja mencari nafkah hidup dan beraktivitas sebagaimana biasa. Malam harinya disambung dengan ibadah shalat tarawih yang bilangan rakaatnya cukup banyak. Mengapa orang Islam mau berpayah-payah berlapar-lapar puasa? Gerangan apa yang menyebabkan mereka mentaati perintah agama ini?

Pertanyaan di atas tidak dapat dijawab secara logika, kecuali hanya dengan iman. Iman artinya percaya. Maka, kalau kalau sudah menyangkut masalah keimanan, banyak hal dalam agama dikembalikan kepada iman masing-masing: percaya atau tidak percaya. Tentang puasa ini, Allah SWT tidak memerintahkan kewajiban berpuasa kepada orang-orang Islam, tetapi kepada orang-orang beriman. Ini artinya kewajiban puasa hanya ditujukan kepada orang yang percaya saja (seperti yang dinyatakan dalam Rukun Iman yang enam itu). Dalam surat Al-Baqarah ayat 183, Tuhan mengatakan yang artinya:

Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu untuk berpuasa

Bunyi ayat di atas BUKAN:

Hai orang-orang Islam, diwajibkan atas kamu untuk berpuasa

Jelaslah kewajiban berpuasa itu hanya ditujukan kepada orang yang beriman saja. Siapapun manusia, tidak peduli agamanya apa, asalkan ia beriman, kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, kitab suci-Nya, Rasul-Nya, hari kiamat, dan takdir, maka ia wajib berpuasa. Dengan ayat ini maklumlah kita kenapa banyak orang yang mengaku Islam tetapi malah tidak berpuasa. Kita saksikan pada siang hari di mal, restoran, warung makan, dsb, ada sebagian orang yang beragama Islam tetapi tetap saja mereka makan dan minum baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, padahal mereka tidak ada halangan untuk itu (tidak sakit, tidak berstatus musafir, tidak dalam keadaan haid bagi wanita, dsb). Mereka pasti tahu ada kewajiban berpuasa, tetapi sayang mereka belum mengimaninya saja. Kalau mereka beriman tentu mereka akan melaksanakan puasa.

Banyak penjelasan di dalam fiqih tentang hakikat puasa. Sebagian ulama menulis bahwa puasa melatih kepekaan terhadap sesama, yaitu ikut merasakan penderitaan orang-orang miskin yang menahan lapar karena tidak mampu membeli makanan. Puasa bertujuan menjaga rendah hati selalu, dan sebagainya. Semua pendapat tersebut benar, tetapi saya mempunyai jawaban berbeda. Karena puasa hanya diserukan kepada orang-orang beriman, maka dengan kewajiban puasa Allah SWT ingin melihat apakah kita memang mentaati perintah itu? Allah SWT ingin menguji seberapa taat kita kepada-Nya. Dengan kata lain, apakah memang betul kita beriman. Kalau memang beriman, maka iman itu perlu pembuktian, yaitu dibuktikan dengan mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kalau tidak mau, berarti hamba-Nya itu tidak beriman. Jadi, pertanyaan di akhir paragraf pertama mengapa orang Islam mau berpayah-payah untuk berlapar-lapar puasa terjawab sudah, yaitu sebagai bukti keimanan mereka kepada Allah SWT. Kalau mau, bisa saja mereka menolak berpuasa, tetapi karena masih punya imanlah mereka taat melaksanakannya. Karena iman itu pula maka ibadah yang berat itu terasa ringan.

Dalam konteks yang lebih luas, faktor keimanan pula yang menjadi alasan mengapa orang Islam bersedia menunaikan shalat lima waktu, membayar zakat, berhaji, menyebembelih hewan kurban, dsb. Semuanya karena ketaatan kepada perintah Allah SWT, sebagai bukti bahwa hamba-Nya memang beriman.

Akhirnya, di ujung ayat 183 Surat Al-Baqarah tadi dikatakan:

…mudah-mudahan kamu menjadi orang yang betakwa.

Jadi, puncak dari keimanan itu adalah untuk menjadi orang yang takwa kepada Allah SWT. Tiada tujuan hidup yang lebih mulia selain menjadi orang yang bertakwa kepada Allah SWT.

Mudah-mudahan renungan kecil ini dapat mengingatkan saya dan siapapun yang membacanya untuk selalu ingat tujuan hidup di dunia ini, yaitu menjadi orang yang beriman dan bertakwa.

Kategori: Renunganku

(Sebagian) Alumni ITB Sudah Biasa Praktek Suap?

12 April 2008 · & Komentar

Berita suap menyuap di kalangan pejabat dan politisi akhir-akhir ini memenuhi pemberitaan di media massa.  Ingat  jaksa Urip  yang ditangkap KPK karena kepergok menerima uang puluhan milyar di rumah Artalyta terkait kasus BLBI?  Lalu yang terakhir politisi DPR Al Amin yang tertangkap KPK di sebuah hotel di Jakarta karena menerima suap dari pejabat Kabupaten Bintan terkait  kasus konversi lahan hutan.

Saya jadi teringat dialog saya dengan seorang teman lama via Yahoo Messenger terkait permintaannya meminta bantuan saya untuk “meloloskan” anak temannya menjadi mahasiswa di ITB (baca tulisan sebelum ini). Teman saya ini alumnus ITB juga, dia mempunyai perusahaan di Jakarta. Terkait soal  budaya praktek suap, dia bercerita  kalau dirinya sudah biasa melakukan praktek sogokan untuk melicinkan usaha bisnisnya.  Maksudnya, menyogok pejabat atau klien agar tender bisnisnya menang, mulus, lancar, dan sebagainya.

“Gimana lagi, katanya.  Kalau bisnis perusahaan saya tidak lancar, bagaimana dengan nasib karyawan saya? Mau dikasih makan apa keluarganya?”, kata teman saya itu membela diri. Hmm..sebuah alasan klasik untuk membenarkan sebuah tindakan.

“Banyak alumni ITB yang begitu (maksudnya terlibat praktek siap. Red), sudah biasa melakukan sogokan dalam berbisnis”, kata teman saya melanjutkan, seolah-olah dia tidak merasa sendirian dan menjadi sebuah anggota komunal alumni ITB yang terlibat praktek suap.

Saya tidak punya data berapa banyak alumni ITB yang terlibat praktek suap.  Kalau pun banyak, banyak itu berapa persen? Teman saya menegatakan “banyak” tentu dari pengalaman dia berbisnis dan bertemu dengan sesama alumni ITB yang ternyata juga setali tiga uang dalam berbisnis: melakukan suap untuk melancarkan urusan. Saya pikir tentu tidak semua alumni ITB melakukan tindakan tercela itu, masih banyak yang bersih dan tidak tergoda melakukan hal yang dilarang agama itu. Di dalam ajaran Islam dikatakan, baik yang menyuap maupun yang disuap, keduanya mendapat dosa yang besar. Nau’udzubilahi min zalik.

Sebagian orang berkata, suap menyuap dalam berbisnis itu biasa dan sudah menjadi hal yang lumrah. Suap tidak hanya dengan uang, tetapi juga dengan umpan wanita cantik. Mengerikan! Kalau tidak begitu, kata mereka, bisnis akan sulit bertahan.  Hmmm… benarkah?  Saya tidak sepakat. Berbisnis dengan cara yang tidak dilarang norma agama dan aturan hukum saya yakin  bisa berhasil. Semuanya tergantung iman kita saja.  Menurut saya, biarlah mendapat hasil yang sedikit tetapi halal, ketimbang mendapat hasil yang banyak tetapi diperoleh dengan praktek kotor. Mau pilih mana? Kita tidak selamanya hidup di dunia ini, bukan?  Ada kehidupan abadi yang menanti dimana kita akan diadili oleh Allah SWT atas semua perbuatan yang kita lakukan.  Kalau dengan aturan hukum di dunia kita bisa lolos dari jeratan,  maka kita tidak mungkin bisa lolos dari hukum Allah di akhirat.

Teman saya ini sebenarnya sadar bahwa apa yang dilakukannya itu salah. Dia merasa dirinya menjadi bagian dari alumni ITB yang melakukan praktek suap.

“Saya menyesal mengapa dulu kuliah di ITB, akhirnya saya terbiasa melakukan praktek suap”, katanya.

“Itu kesimpualn yang salah”, kata saya. Tidak ada jaminan kalau dulu kuliah bukan di ITB maka ia tidak terlibat praktek suap. Bukan institusi pendidikan yang menyebabkan alumninya menjadi orang yang baik atau orang yang buruk. Kuliah dimanapun sama saja, kalau diri kita enggan mendalami agama selama dan sesudah menjadi mahasiswa, maka boleh jadi kita menajdi orang yang permisif dalam hidup ini. Permisif dalam arti paham serba membolehkan, ini boleh, itu boleh, dan membuat alasan pembenaran untuk membenarkan tindakan pembolehan itu. Memang begitulah akal ini, kalau jalan pikiran akal tidak diimbangi dengan tuntunan agama, maka akal akan cenderung liar dan tidak terkendali.

Kategori: Renunganku