Catatanku

Entries categorized as ‘Romantika kehidupan’

Kisah Bibi Penjual Ubi Cilembu

18 April 2009 · 12 Tanggapan

Ada banyak perempuan perkasa di dunia ini. Perempuan yang setiap hari berkerja membanting tulang untuk menghidupi anak-anaknya setelah ditinggal mati (atau pergi) oleh suaminya. Panas dan hujan bukanlah penghalang rintang bagi mereka untuk mencari sesuap nasi. Demi perut dan masa depan anak-anaknya, mereka rela mengarungi kerasnya kehidupan untuk mencari rezeki yang halal.

~~~~~~~~~~

Siang itu ketika akan berangkat ke kampus, tiba-tiba pembantu di rumah memanggil saya. “Pak, aya bibi penjual uwi cilembu. Minta dibeli ubinya, ceunah, buat meser nasi”, teriak pembantu saya dari bawah. (meser, bahasa Sunda, artinya beli; aya = ada, uwi = ubi, ceunah = katanya)).

Ubi Cilembu, siapapun sudah tahu rasanya enak dan legit. Ubi ini sudah terkenal di seluruh Iindonesia bahkan sudah diekspor ke beberapa negara antara lain ke Jepang. Ubi Cilembu berasal dari daerah Cilembu, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Saya sudah sering lihat ibu ini. Dia sering lewat di depan rumah menjajakan ubi Cilembu dalam kantong-kantong keresek. Satu kantong isinya 2 kilo dan harganya Rp 10.000. Kantong-kantong ubi itu dibawa dalam gendongan di punggungnya, sebagian lagi dijinjing. Berat juga beban yang harus dipikulnya. Seorang anak laki-lakinya mendampinginya berjalan dengan menenteng beberapa keresek ubi. Dari Sumedang mereka naik mobil elf (baca: elep) pagi-pagi. Di stasiun Cicaheum Bandung bibi dan anaknya turun. Mereka mulai berjalan kaki dari satu satu perumahan ke perumahan lain menjajakan ubinya. Sore hari mereka kembali ke Sumedang. Setiap hari diperlukan ongkos sepuluh ribu pulang pergi Sumedang – Bandung. Begitulah setiap hari yang dilakukannya.

Setiap lewat rumah bibi ini menawarkan ubinya kepada saya. Kadang-kadang saya beli, tetapi seringnya tidak. Maklum di rumah saya tidak mempunyai oven, padahal ubi cilembu lebih enak jika dipanggang di dalam oven. Saya beli ubi si bibi karena rasa iba saja, iba melihat beban yang disandangnya.

Tetapi kali ini lain. Dia menawarkan ubi karena butuh uang untuk beli nasi siang itu. Tampaknya jualan ibu ini belum laku sementara hari sudah siang, tentu anak-anaknya sudah lapar. Dua orang anaknya, satu laki-laki dan satu perempuan seusia anak SD mengikutinya. Entah kenapa dia berhenti dan masuk ke halaman rumah saya, mungkin karena dulu saya pernah beli ubi dia. Saya temui ibu penjual ubi tadi. Tampak keletihan di wajahnya karena lelah berjalan kaki. Wajahnya terlihat menghiba. “Buat beli nasi, den”, katanya. Sebelum menawarkan ubi tadi dia minta minum ke pembantu saya.

Rasa kasihan membuat hati saya trenyuh. Buat meser nasi? Oh, alangkah pilunya ucapan bibi ini. Jadi, si bibi belum punya uang untuk beli nasi anak-anaknya siang itu. “Ya, Bi, ubinya saya beli”, kata saya. Saya pergi ke kamar sebentar untuk mengambil uang. Ketika saya temui lagi mereka, rasa keingintahuan saya muncul. Saya tanyakan ke mana suaminya, mengapa anak-anaknya tidak sekolah, berapa penghasilannya, dan sebagaibnya. Dengan suara lirih, bibi bercerita. Suaminya tahun lalu meninggal dunia karena sakit. Kini dia harus menghidupi sendiri 3 orang anaknya. Anaknya yang ketiga masih bayi, baru dua bulan usianya. Supaya ada yang mengasuh bayi, sementara dia berjualan ubi, anaknya yang perempuan dia minta berhenti sekolah. Hanya anak lelaki saja yang tetap sekolah (diskriminasi anak laki dan perempuan soal sekolah masih ada hingga saat ini). Di rumah di Sumedang mereka tinggal bersama nenek (ibu si bibi). Bibi inilah tulang punggung keluarga itu.

Sehari-hari penghasilan berjualan ubi dengan cara berkeliling itu hanyalah 30 ribu hingga 35 ribu rupiah sebelum dikurangi ongkos transpor dan beli makanan. Tidak banyak. Kalau dia tidak berjualan ubi dalam satu hari, tidak ada uang untuk membeli beras. Uang yang didapat dari berjualan ubi adalah untuk hari ini. Besok entah dapat entah tidak. Untuk berjualan secara menetap (di pondok-pondok pinggir jalan raya Sumedang), dia tidak punya modal. Hanya berkeliling inilah yang bisa dilakukannya setiap hari dari Sumedang ke Bandung. Begitu perjuangannya menyambung hidup.

Lintuah hati saya mendengar kisah hidup si bibi ini. Biar perempuan itu dianggap makhluk lemah, tetapi si bibi penjual ubi ini adalah perempuan perkasa. Periuk nasi anak-anaknya yang masih kecil dan nenek yang sudah tua sangat tergantung pada dirinya. Apa jadinya seandainya dia sakit atau tiada (moga-moga saja si bibi panjang umur), entah bagimana nasib anak-anaknya yang kecil itu. Kehidupan ini memang keras buat si bibi dan keluarganya. Dunia ini sepertinya tidak adil buat mereka.

Saya membeli 2 keresek ubi dan menyerahkan uang Rp 50 ribu. Saya minta si bibi mengambil sisa kembaliannya. Sebelum bibi itu pergi, saya minta pembantu mengambil daun pisang di depan rumah, lalu membungkuskan nasi dan lauk buat si bibi dan anak-anaknya. “Bibi tidak perlu lagi beli nasi”, kata saya. Beberapa buah mie instan, kopi, beras, dan makanan yang ada di rumah saya suruh kasihkan ke si bibi. Biarlah, buat mereka di rumah nanti. Dua orang anaknya itu saya beri uang jajan sekadarnya. Kasihan anak-anak itu.

Si Bibi begitu malu menerima pemberian saya. Dia menangis terharu dan tidak tahu mau ngomong apa. Tangis yang tulus dan tidak dibuat-buat. “Tidak apa, Bi, anggap saja ini rizki bibi melalui tangan saya”.

~~~~~~~~~~~

Ada rasa senang di hati setelah bisa menolong orang lain meskipun hanya sedikit. Bagi saya apalah artinya pemberian saya buat si bibi itu, tapi bagi dia dan keluarganya semua itu sangat berarti, minimal untuk beberapa hari. Meskipun pemberian yang tidak seberapa itu tidak bisa membuat si bibi lepas dari kemiskinan, setidaknya dia merasa bahwa dia tidak sendiri di dunia ini.

Kategori: Romantika kehidupan

Hidup Bertetangga itu Harus

9 Oktober 2008 · 7 Tanggapan

Dulu waktu saya masih kecil dan tinggal di Padang, ibu saya suka mengantarkan makanan ke tetangga. Jika ada oleh-oleh dari kampung atau memasak cukup banyak, saya yang sering disuruh ibu mengantarkan makanan tersebut ke tetangga. Dulu saya tidak mengerti mengapa ibu sering menyuruh saya mengantar makanan ke tetangga sebelah rumah. Pokoknya antar saja.

Setelah saya menikah, punya keluarga, dan rumah sendiri, kebiasaan orangtua tersebut saya teruskan. Setiap kali pulang dari kunjungan ke daerah, biasanya saya dibekali oleh tuan rumah seabreg oleh-oleh. Banyak dan tidak akan habis dimakan sendiri. Biasanya saya suruh si bibi di rumah mengantarkan sebagian oleh-oleh ini ke tetangga. Begitu juga kalau istri dapat pembagian ikan dari kantor atau tanaman pisang dan singkong di kebun depan rumah berbuah, kami selalu mengirim sebagian rizki tersebut ke tetangga. Berbagi rizki, begitulah lebih tepatnya.

Karena sering membagikan makanan, tetangga saya juga sering melakukan hal yang sama. Mereka juga sering mengirim makanan ke rumah. Piring yang digunakan untuk mengantar makanan ke rumah tetangga selalu kembali lagi dalam keadan terisi. Padahal kami tidak meminta dibalas lagi dengan makanan. Saya pikir mungkin kultur orang timur memang begitu, saling berbalas. Waktu lebaran kemaren, saya menyuruh istri saya mengantarkan ketupat dan sayurnya ke tetangga yang orang Bali. Mereka tidak merayakan lebaran karena mereka beragama Hindu, tetapi kami ingin mereka juga ikut merasakan kebahagian orang Islam yang merayakan lebaran dengan makan ketupat. Sore harinya, tetangga saya yang orang Bali ini mengembalikan piring kami yang mereka isi dengan buah anggur sambil mengucapkan selamat Idul Fitri. Wah, saya sungkan sendiri menerima kembalian ini.

Saya melihat kebiasaan saling memberi ini banyak sekali manfaatnya. Hubungan kami dengan tetangga sangat baik. Karena saling memberi, kami jadi saling mengenal dan makin dekat, padahal sebagian tetangga saya adalah orang-orang yang sibuk dan jarang di rumah. Inti dari saling memberi itu sebenarnya adalah berbagi perhatian. Bukan makanannya yang penting, tetapi perhatian itu. Di kota Bandung yang kosmopolitan seperti sekarang ini, hubungan antar tetangga di kompleks-kompleks perumahan sudah mulai pudar. Rasa perhatian antar tetangga mungkin menjadi barang yang mahal. Kesibukan masing-masing orang membuat antar tetangga jarang berinteraksi. Bahkan, di beberapa kompleks perumahan yang rumahnya besar-besar dengan pagar rumah yang tinggi seperti penjara, antar satu tetangga dengan tetangga lain mungkin tidak saling kenal. Hidup nafsi-nafsi kata orang dimana setiap orang hanya memikirkan urusan diri sendiri, tidak mau tahu urusan tetangga sebelah rumah. Mungkin kalau ada perampokan atau kejadian tragis di rumah sebelah tidak bakal ada orang yang tahu karena kurangnya komunikasi dengan tetangga. Kering benar suasana kehidupan di kompleks seperti itu.

Maka, salah satu cara untuk membuat hubungan antar tetangga di kompleks perumahan makin dekat dan saling mengenal adalah dengan saling mengantarkan makanan itu. Makanan adalah salah satu perekat hubungan antar manusia. Berbagi makanan yang intinya adalah berbagi perhatian dipercaya dapat meluruhkan hubungan beku antar manusia. Coba kalau anda dalam perjalanan dengan kendaraan umum seperti kereta api, bis, atau pesawat, anda mungkin merasa asing dengan orang yang duduk di sebelah. Saling berdiam diri. Ketika anda makan dan menawarkannya ke orang sebelah, kebekuan anda dengan orang tersebut mulai cair. Mulailah terjadi percakapan dan tiba-tiba saja menjadi akrab. Memang, makanan diciptakan Tuhan tidak hanya berfungsi privat tetapi juga berfungsi sosial.

Sekarang barulah saya mengerti mengapa ibu saya dulu sering menyuruh saya mengantarkan makanan ke tetangga. Ternyata inilah hikmahnya.

Kategori: Renunganku · Romantika kehidupan

Kisah Pak Samin yang Terlalu Banyak Pertimbangan

11 Juni 2008 · 6 Tanggapan

Ini lagi-lagi cerita tentang Pak Samin. Pada hari pekan, Pak Samin diundang hajatan kenduri dari 2 kampung berbeda. Hajatan pertama datang dari Kampung Hulu, sedangkan hajatan kedua datang dari  Kampung Hilir. Kedua kampung itu terletak di pinggir sungai. Malangnya, kedua hajatan itu diadakan pada waktu yang sama, yaitu selepas Lohor (istilah orang zaman dulu untuk waktu shalat Dhuhur). Pak Samin bingung bukan kepalang untuk memutuskan menghadiri kenduri yang mana. Jika kedua-duanya dihadiri jelas sulit sebab jarak kedua kampung itu berjauhan. Untuk mencapai setiap kampung itu satu-satunya sarana trasnportasi adalah perahu dayung.

Sejak pagi Pak Samin berpikir keras untuk menentukan kenduri yang mana yang akan ia datangi. Hulu.. hilir… hulu … hilir. Harii Pak Samin sengaja tidak memasak karena membayangkan acara makan besar di kenduri itu tadi. Menurut perhitungan Pak Samin, kedua kampung itu mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Orang-orang di Kampung Hulu terkenal dengan masakannya yang enak-enak, maka pasti masakan di kenduri itu juga enak. Tetapi, orang-orang di Kampung Hulu terkenal agak pelit sehingga makanan yang disajikan tidak banyak. Nasinya sedikit, lauk dan gulai sayurnya meskipun enak tetap saja sedikit. Pak Samin membayangkan tentu tidak bisa puas makan kenyang di sana.

Sebaliknya, orang-orang di Kampung Hilir terkenal royal kalau menghidangkan makanan. Mereka tidak pelit dalam melayani tamu, tetapi sayangnya masakan orang di Kampung Hilir kurang enak, agak hambar, mungkin karena kurang bumbu. 

Hingga waktu Lohor tiba, Pak Samin belum berhasil memutuskan mau mendatangi kenduri yang mana. Matahri sudah lama tergelincir, tetapi Pak samin masih tetap berpikir keras. Ketika bayang-bayang matahari sudah agak condong ke barat, barulah Pak Samin tersadar kalau ia merasa sudah hampir terlambat. Dengan cepat Pak Samin mendayung perahunya ke arah Kampung Hulu melawan arus sungai. Terbayang di kepalanya masakan enak-enak di Kampung Hulu. Biarlah makanannya sedikit tetapi enak, demikian pikiran Pak Samin. Sesampai di Kampung Hulu Pak Samin terkejut setengah mati, ternyata orang-orang baru saja meninggalkan tempat kenduri pertanda acara kenduri sudah selesai. Tentu tidak enak mendatangi tempat kenduri yang baru bubar, apalagi makanannya pasti sudah habis.

Tanpa berpikir panjang Pak Samin mendayung perahunya ke arah Kampung Hilir. Rasa lapar tidak dipedulikannya lagi, ia terus mendayung dan mendayung. Biarlah masakan di Kampung Hilir kurang enak, tetapi makanannya berlimpah, demikian pikiran Pak Samin. Sesampai di Kampung Hilir, Pak Samin langsung terkulai lemas, ternyata acara kenduri sudah lama usai. Orang-orang sudah pulang sejak tadi.

Akhirnya Pak Samin mendayung kembali perahunya pulang ke rumah. Ia pulang dengan tangan hampa, di hulu tidak jadi makan, di hilir juga tidak.     

~~~~~~~~~~~~~~~~

Begitulah kalau orang terlalu banyak pertimbangan. Terlalu banyak menimbang-nimbang akhirnya tidak memperoleh apa-apa. Kasihan benar orang seperti itu.

 

Kategori: Romantika kehidupan

Kisah Pak Samin dan Keledainya

29 Mei 2008 · 4 Tanggapan

Ini masih kisah tentang Pak Samin. Pada suatu hari, Pak Samin dan anaknya hendak berangkat ke kota. Dahulu belum ada kendaraan bermotor seperti sekarang, kebanyakan orang menempuh perjalanan dengan berjalan kaki atau menunggangi kuda/keledai.

Pak Samin dan anaknya pergi ke kota dengan menggunakan seekor keledai. Berhubung keledai adalah hewan yang kecil maka keledai tidak sanggup membawa dua orang sekaligus. Jadi, yang naik keledai adalah anak Pak Samin, sedangkan Pak Pak Samin berjalan mengiringi dari samping.

Ketika mereka melewati sebuah kampung, penduduk kampung itu berkata kepada keduanya:
“Dasar anak tidak tahu diuntung, dia enak-enak naik keledai sementara bapaknya dibiarkan kepayahan berjalan”.

Pak Samin dan anaknya saling memandang. Anak Pak Samin pun mengerti, lalu dia turun dan sekarang gantian Pak Samin yang menunggangi keledai. Mereka kemudian meneruskan perjalanan.

Ketika mereka memasuki kampung berikutnya, penduduk kampung itu berkata:
“Dasar bapak tidak tahu diri, dia enak-enak naik keledai sedangkan anaknya dibiarkan berjalan”.

Pak Samin dan anaknya jadi bingung lagi. Akhirnya mereka memutuskan dua-duanya naik ke atas keledai. Merekapun melanjutkan perjalanan lagi.

Tetapi, baru saja memasuki sebuah kampung, penduduk kampung itu mencibir mereka sambil berkata: “Dasar orang tidak berperikebinatangan. Masa keledai kecil dinaiki dua orang, bisa mati keledai kalian nanti”.

Pak Samin dan anaknya lagi-lagi kebingungan. Mereka memutuskan turun dari keledai, lalu keduanya berjalan disamping keledai meneruskan perjalanan. Kota sudah tidak terlalu jauh, tapi masih harus melewati satu perkampungan lagi.

Ketika mereka memasuki kampung terakhir, lagi-lagi mereka ditertawakan orang kampung. Kata orang-orang di kampung itu: “Lihat orang-orang bodoh itu. Untuk apa mereka membawa keledai tapi tidak digunakan”.

Pak Samin dan anaknya sudah mulai putus asa. Begini salah, begitu salah. Mereka hanya mempunyai satu cara lagi supaya orang kampung tidak menyalahkan mereka lagi. Apa itu? Keduanya mengangkat keledai ke atas kepala masing-masing sementara kedua tangan memegang masing-masing kaki keledai (menjunjung keledai di atas kepala).

Apa yang terjadi? Baru saja memasuki kota, orang-orang tertawa terpingkal-pingkal melihat pemandangan yang tidak lazim: keledai menunggangi manusia. “Lihat ada orang gila, ada orang gila”, kata mereka sambil menunjuk Pak Samin dan anaknya yang sedang berjalan menggendong keledai di atas kepala. Orang-orang tertawa hingga tidak bisa menahan sakit perut.

Pak Samin dan anaknya benar-benar putus asa jadinya. Mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi, akhirnya mereka menurunkan keledai dari atas kepala dan membiarkan keledai itu pergi, tetapi orang-orang di kota masih tetap tetap tertawa tidak habis-habisnya melihat pemandangan yang makin menggelikan.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Begitulah kalau orang tidak mempunyai pendirian, mudah benar berubah-ubah karena pandangan orang lain. Istilah zaman sekarang: mencla-mencle, tidak percaya diri, atau kurang pede. Hidup menjadi mudah terombang-ambing atau mudah disetir oleh orang lain. Jika seseorang mempunyai prinsip hidup yang kuat, maka dia tidak akan mudah terguncang meskipun diterpa banyak godaan.

Kategori: Romantika kehidupan

Kisah Pak Samin yang Malang

27 Mei 2008 · 2 Tanggapan

Cerita di bawah ini saya baca di buku cerita anak-anak waktu saya masih kecil dulu. Saya sangat suka cerita ini, karena sarat dengan pesan moral. Cerita berkisah tentang Pak Samin, seorang warga desa yang polos dan lugu. Di belakang rumah pak Samin terdapat sebatang durian yang sudah tumbuh besar. Selama ini pohon durian itu belum pernah berbuah, tetapi tahun ini pohon durian itu sudah mulai berbunga. Hal itu  pertanda tidak lama lagi pohon itu akan berbuah.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, akhirnya buah durian di pohon semakin lama semakin besar. Sampailah pada suatu malam terdengar bunyi “dum.. dum…dum”. Oh, itu bunyi buah durian yang sudah matang jatuh ke tanah. Durian memang tidak dipetik, tetapi ditunggu jatuh ke tanah pertanda ia sudah matang dan siap dimakan.

Pagi-pagi Pak Samin bangun dan melihat ke pohon duriannya. Beberapa buah durian yang sudah ranum berjatuhan semalam. Ada kira-kira sekeranjang buah durian yang berhasil dikumpulkan Pak Samin. Pak Samin berniat menjual buah durian itu di pasar kota kecamatan nanti siang. Kebetulan hari ini jatuh pada hari pasar (dahulu pasar di kota-kota kecil hanya berlangsung sekali dalam sepekan, sedangkan pada hari-hari lainnya pasar lengang). Untuk mencapai ke sana Pak Samin harus berjalan membawa durian itu dengan bantuan sebuah gerobak dorong. Pasar cukup jauh juga jaraknya, kira-kira 4 jam perjalanan. Selepas adzan Dhuhur Pak Samin segera meninggalkan rumahnya menuju pasar di kota kecamatan.

Sepanjang jalan banyak orang tergiur meilihat buah durian Pak Samin yang ranum. Beberapa orang mencoba menawar untuk membelinya.

“Amboi, harum benar durian bapak ini. Dari jauh sudah tercium baunya. Berapa harganya, Pak?”, tanya penduduk yang ia temui di jalan. 

“Maaf, Pak, durian ini ini mau saya jual di pasar”, jawab Pak Samin. Pikir Pak Samin, kalau dijual di pasar tentu harganya lebih tinggi daripada di jual ke orang kampung. Sudah terbayang di kepala Pak Samin uang banyak yang akan ia peroleh dari penjualan di pasar. Orang-orang di kota kecamatan lebih kaya daripada penduduk di kampung, tentu mereka mau membeli durian ranum itu dengan harga yang mahal.

Begitulah, sepanjang jalan menuju kota kecamatan banyak orang yang menawar durian Pak Samin, tetapi Pak Samin selalu menolaknya. Jika dihitung-hitung ada 10 orang lebih yang menawar durian itu, bahkan ada yang mau membeli dengan harga sedikit lebih mahal, tetapi Pak Samin tetap tidak bergeming.

Dia terus berjalan, terus dan terus, akhirnya sampailah ia di pasar di kota kecamatan. Tetapi apa yang dia temui di pasar? Ternyata pasar sudah sepi, maklum pasar di kota kecamatan hanya berlangsung beberapa jam saja.  Selepas Dhuhur para pedagang sudah berkemas-kemas dan pada pukul 3 siang boleh dikatakan pasar sudah tutup. Tidak ada seorang pun dipasar, baik pedagang maupun pembeli. 

Hari sudah sore, tinggallah Pas Samin sendiri di tengah pasar yang sudah sunyi. Sambil mengelap keringat yang bercucuran, Pak Samin menyesali sikap pongahnya tadi. Bayangan mendapat uang banyak segera terbang, yang tersisa hanya penyesalan. Andaikata dia datang lebih pagi tentu pasar masih buka. Andaikata tadi di jalan dia mau menerima tawaran pembeli, tentu duriannya sudah terjual habis dan dia tidak perlu kepayahan berjalan ke kota kecamatan.  Ibarat kata peribahasa, harapkan guntur di langit, air di tempayan ditumpahkan. Berharap mendapat rezeki banyak, rezeki sedikit diabaikan.

Pak Samin berjalan kembali membawa pulang dagangannya yang masih utuh. Dia berharap bertemu kembali dengan orang-orang yang tadi menawar duriannya di jalan. Tetapi hari sudah berangsur gelap, sebentar lagi malam segera menyelimuti bumi. Orang-orang sudah berada di rumahnya masing-masing, tidak ada seorangpun yang ditemui Pak Samin dan tidak ada lagi yang menawar buah duriannya. Pak Samin pulang ke rumah dengan tangan hampa dan rasa sesal yang tidak putus-putusnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Begitulah dalam hidup ini, kita sering mengabaikan banyak kesempatan. Kesempatan tidak datang dua kali dan tidak datang setiap hari. Di dalam amal shaleh juga begitu, betapa sering kita menyepelekan pahala sedikit karena berharap pahala yang banyak. Menebarkan senyum kepada orang di jalan, memberi sedikit uang kepada pengemis, menyisihkan sedikit receh untuk kotak sumbangan, dan sebagainya sering kita abaikan karena menganggap pahalanya kecil, sementara pahala besar tidak pula berhasil kita raih. Alangkah malangnya orang seperti itu. Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang demikian.

 

Kategori: Romantika kehidupan

Odong-Odong, Mainan “Mobile” ala Bandung

26 Februari 2008 · 4 Tanggapan

Kesusahan hidup tidak membuat sebagian orang lantas putus asa. Ada banyak jalan mencari rezeki. Yang penting halal. Bagi bapak yang kreatif ini, ia membuat mainan yang biasa ditemui di mal-mal atau arena permainan anak-anak. Biasanya untuk bisa duduk dan berayun-ayun pada main ayun-ayunan ini, orangtua perlu membeli koin, lalu masukkan koin itu ke lubang mainan, maka….. mainan yang berbentuk mobil-mobilan, binatang, atau pesawat, akan berayun-ayun turun-naik diiringi lagu anak-anak.

Nah, bapak yang kreatif ini membuat mainan yang mobile. Pembantu rumah saya menyebutnya odong-odong. Ia cukup membeli beberapa mobil-mobilan, memodifikasinya, dan memasangnya di atas beca khusus. Efek turun naik diperoleh dengan mengayuh pedal yang terhubung ke rantai. Rantai ini menggerakkan katrol yang dapat naik turun. Karena mainan ayun-ayunan ini berada di dalam kereta, maka ia pun bersifat mobile, dapat dibawa ke mana-mana seiring perjalanan nasib pemiliknya. Dengan menyusuri gang-gang dan jalan-jalan pemukiman, Bapak ini mendorong becanya dan berharap anak-anak tertarik menaikinya. Kebetulan Bapak ini melewati jalan di kompleks kami. Ini fotonya (yang paling belakang itu anak saya nomor 3):

Mainan mobile1

Tarif menaiki mainan ini adalah Rp1000 per lagu. Maksudnya, si Bapak akan terus mengayuh pedal selama satu lagu. Anak-anak tentu saja menyambutnya dengan suka cita. Kalau di mal mungkin tarifnya lebih mahal.

Bagi ibu-ibu yang anaknya susah makan, maka odong-odong adalah cara jitu membujuk anak agar mau makan (lihat foto di bawah).

Mianan mobile2

Kategori: Romantika kehidupan

Mang Toto

22 Januari 2008 · 3 Tanggapan

Mang Toto, demikian panggilan lelaki kurus berperawakan kecil itu. Penampilannya sangat sederhana. Sehari-harinya dia adalah buruh serabutan yang kerjanya  menerima upahan dari orang yang membutuhkan jasanya. Mulai dari bersih-bersih halaman rumah, selokan, kebun, membuang brangkal bangunan, mencangkul tanaman, hingga naik ke atas genting untuk membersihkan talang air. Dengan modal sebuah cangkul dan pikulan keranjang, dia berjalan berkeliling rumah di kawasan Antapani, khususnya di RW saya, RW 05. Tidak sedikit keluarga di dekat rumah saya yang membutuhkan jasanya. Maklum dia mau disuruh apa saja. Asalnya dari daerah Majalengka, sebuah kabupaten tergolong minus di Jawa Barat. Di Bandung dia hidup dengan menumpang di rumah gubuk milik penjual tanaman hias.

Orang yang kerjanya seperti Mang Toto cukup banyak di Bandung, umumnya datang dari Majalengka. Mereka sering terlihat duduk-duduk bergerombol di pinggir jalan – seperti di Jalan Malabar, Jalan Soekarno-Hatta – berharap ada orang yang datang membutuhkan tenaga mereka. Jika ada proyek bangunan atau proyek gali jalan untuk memasang kabel telepon dan listrik (paling sering nih di Bandung gali lubang tutup lubang untuk menanam kabel), mereka sering ketiban rezeki. Tenaga mereka dibutuhkan untuk pekerjaan kasar yang membutuhkan kekuatan fisik, utamnya menggali tanah dan mengangkut beban yang berat-berat dengan pikulan keranjang tadi. Mereka datang ke Bandung jika di Majalengka tidak ada pekerjaan lagi. Di Majalengka mereka berprofesi sebagai tenaga upahan untuk mengolah sawah. Sawahnya milik orang lain, tetapi yang menggarap dan mengolah tanah adalah mereka.

Kembali ke Mang Toto tadi. Warga di kompleks rumah saya sangat membutuhkan jasa Mang Toto. Orang-orang menyukainya karena dia tipe pekerja keras dan tidak banyak cakap. Kalau sudah disuruh melakukan kerja apa saja, maka dia dengan giat mengerjakannya. Tanpa disuruh secara detil pun dia sudah tahu apa yang dia kerjakan. Kerjanya seperti robot, tidak banyak bicara, dan yang paling penting orangnya jujur. Orangnya lugu, tipikal khas orang pedesaan, tetapi sifat itulah yang membuat dia kelihatan jujur. Kalau tidak ada yang memintanya bekerja, dia melakukan apa saja di tanah lapang dekat rumah, misalnya membersihkan selokan, membabat ilalang, dan sebagainya.

Dua minggu ini saya tidak melihat Mang Toto, padahal saya sedang membutuhkan tenaganya untuk menanam rumput di halaman belakang. Saya kurang sreg menyuruh buruh serabutan lain, sudah terlanjur suka sama Mang Toto. Tiba-tiba kemaren dia datang, nah langsung saja saya minta dia menanam rumput di halaman belakang. “Kemana saja, Mang Toto”, tanya saya. “Ieu, aya hajatan di lembur, bantuin“, jawabnya singkat (lembur = kampung).

mang Toto 

Mang Toto memang orang yang polos. Pernah saya meminta dia bekerja pada Hari Jumat, dan ketika itu waktu shalat Jumat hampir masuk. Saya tanya ke Mang Toto, apakah dia akan sahalat, dia menjawab begini:  ”Aduh, enggak euy, harus ganti dulu pakai sarung, repot”. Padahal kalau dia mau, saya bisa pinjamkan sarung. Tetapi, itu hanya  alasan Mang Toto saja untuk menghindar dari kewajiban shalat. Kebanyakan buruh-buruh yang datang dari desa memang malas atau tidak mengerjakan kewajiban agama. Kalau ada yang shalat, itu luar biasa menurut saya. Kehidupan yang susah dan dasar agama yang kurang kuat sejak kecil membuat kebanyakan tenaga migran ini lalai dari kewajiban menjalankan agama.

Kategori: Romantika kehidupan

Suatu Siang di depan Pabrik Jalan Kiaracondong

27 Juni 2007 · 7 Tanggapan

Hari minggu ketika pulang dari sebuah tempat, motor saya tersendat di depan sebuah pabrik di bawah jembatan layang Kiaracondong. Rupanya para buruh baru pulang dari pabrik. Mereka bergerombol di depan pintu gerbang. Ada yang menunggu angkot, ada yang mengerumuni penjaja makanan seperti bakso, gorengan, dan mie ayam. Siang itu memang bertepatan dengan waktu makan siang. Para tukang ojek ramai menawarkan ojek kepada buruh yang umumnya perempuan itu, termasuk angkot-angkot yang berhenti di depan pabrik menunggu muatan. Pantesan saja macet, pikir saya.

Saya heran kenapa hari minggu para buruh masih masuk kerja. Biasanya buruh pabrik bekerja dari Senin sampai Sabtu. Hari minggu biasanya para buruh itu diliburkan. Pengusaha macam apa ya yang masih mempekerjakan buruhnya di hari libur? Apakah tidak ada kesempatan buat mereka untuk istirahat barang sehari?

Di Jalan Kiaracondong banyak terdapat pabrik, umumnya usaha garmen. Di kawasan inilah para buruh hidup berhimpitan di gang-gang sempit. Sebagian buruh itu berasal dari Jawa Tengah. Hal itu dimungkinkan karena di kawasan Kiaracondong terdapat stasiun kereta api kelas dua. Di stasiun inilah kereta api ekonomi setiap hari menjalani rute dari Bandung ke kota-kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tidak heran arus urbanisasi dari Jawa tengah begitu deras memasuki Bandung karena adanya kereta api ini. Kaum migran ini bekerja di sektor informal seperti menjadi buruh pabrik, penjual jamu, pedagang sayur keliling, penarik beca, kuli, dan lain-lain. Mereka kos dan mengontrak kamar di dekat stasiun Kiaracondong. Jika anda pergi ke kawasan ini, jangan kaget jika banyak orang di gang-gang perumahan berbicara dalam Bahasa Jawa.

Pembantu di rumah saya dulunya berasal dari Kebumen. Dia tinggal di dekat stasiun ramai-ramai dengan teman-temannya. Begitu juga mbak jamu gendong yang setiap hari keliling perumahan di Antapani, juga berasal dari Jawa.

Kiaracondong adalah kawasan pemukiman yang sangat padat tetapi kumuh. Ada stasiun kereta api kelas dua, ada pasar tradisionil, ada pabrik. Lengkap sudah potret kemiskinan dan kehidupan orang kecil di kawasan ini. Jika anda ingin melihat kerasnya perjuangan hidup, datanglah ke kawasan ini. Sekali-kali kita perlu melihat “ke bawah” agar kita disadarkan bahwa masih banyak orang yang lebih susah daripada kita.

Kategori: Romantika kehidupan · Seputar Bandung

Asah Gunting, Asah Pisau

4 Juni 2007 · 7 Tanggapan

“Aasah guntiiiing, aasah pisoooo”
Demikian terikan lelaki yang lewat di depan rumah saya dengan irama yang khas. Dia, penjual jasa untuk mengasah gunting atau pisau, menjajakan jasanya dengan cara berkeliling keluar masuk kampung dan kompleks perumahan. Modalnya hanyalah sebuah batu gerinda yang berbentuk roda yang diputar dengan sebuah engkol. Dengan memutar engkol, roda gerinda tadi berputar lalu mata pisau atau gunting diarahkan ke gerinda yang berputar tadi. Percikan bunga api menyembur dari pertemuan batu gerinda tadi dengan logam. Hasilnya, pisau dan gunting menjadi tajam kembali.

Saya mengamati lelaki tadi. Wajahnya yang penuh cucuran keringat membuat saya kagum dengan perjuangannya. Daripada menganggur atau mencuri, lebih baik bekerja keras menjajakan jasa apa saja, yang penting halal, mungkin demikian kira-kira prinsip orang ini. Tangannya terus memegang pisau dan memutar batu gerinda. Setelah lima menit, pekerjaanya selesai.

Saya tanya berapa ongkosnya, hanya 1000 perak untuk sebuah pisau. Murah sekali. Kalau dipikir-pikir, berapa ya penghasilannya sehari. Belum tentu setiap hari ada orang yang minta diasahkan pisau atau gunting. Pisau atau gunting kan bukan barang habis sekali pakai, paling-paling dalam sebulan barulah kita perlu mengasah pisau yang telah tumpul.

Biasanya penjaja jasa seperti ini berasal dari satu kampung di Jawa Barat atau jawa Tengah. Satu orang yang sukses, maka warga kampung lainnya ikut pula mengadu nasib dengan menjajakan barang atau jasa yang sama. Mereka tinggal di Bandung secara berkelompok dengan mengontrak kamar atau rumah ramai-ramai. Rasa senasib dan satu daerah membuat mereka guyub, akrab, dan solidaritas yang tinggi. Di Bandung, kalau ada yang berjualan mi tek-tek atau nasi goreng, maka dipastikan orang itu dari Brebes. Kalau yang jualan sapu, ember, dan alat rumah tangga, maka dipastikan mereka dari Tasik. Yang jualan kupat tahu umumnya dari Singaparna, pedagang sayur keliling dari Talaga, Garut, dan sebagainya.

Mereka inilah pekerja sektor informal yang mempunyai semangat juang yang tinggi mengadu nasib di kota besar seperti Bandung ini. Hasil kerja mereka itu riil, sebab mereka langsung mendapat uang atau upah dari barang atau jasa yang ditawarkannya. Tidak seperti kita pekerja kantoran, baru terima gaji di awal bulan berikutnya. Mereka berhemat-hemat hidup di Bandung, kontrak kamar ramai-ramai (satu kamar diisi 4 sampai 6 orang), makan cukup di warung murah. Tujuannya tidak lain agar uang yang dikirim ke kampung bisa lebih banyak, buat anak dan istri yang mereka tinggalkan. Peluh dan cucur keringat adalah bukti keuletan mereka. Dari sudut pandang agama, apa yang mereka lakukan itu adalah sebuah jihad. Ya, jihad kan tidak harus berarti berperang melawan musuh, bekerja keras mencari nafkah pun adalah sebuah jihad.

Kategori: Romantika kehidupan

Berharap Sedikit Rezeki dari Tanggal Muda

2 April 2007 · 3 Tanggapan

Cobalah sekali-kali melintas di sepenggal Jalan Diponegoro, dekat Gedung Sate Bandung, persisnya si depan Taman Lansia. Seperti tadi pagi saya melewati jalan itu suasananya cukup ramai. Setiap awal tanggal muda, yaitu tanggal 1 dan 2, puluhan pedagang kaki lima memadati trotoar di bahu jalan. Pasar kaget, begitu orang-orang menyebutnya. Mereka menggelar dagangan seperti pakaian, kacamata, alat-alat teknik, barang pecah belah, kalender, buku, dan lain-lain. Pembelinya adalah pegawai kantoran di kawasan Gasibu yang baru terima gaji.  Para pedagang itu berharap para pegawai tersebut membeli jualan mereka, mumpung masih bulan muda.

Kawasan Gasibu (Jl Surapati, Jl. Diponegoro, dsk) memang kawasan perkantoran instansi Pemerintah, seperti Pemda Jabar, PT Pos, PT Telkom, Bank Mandiri, dll. Ada ribuan karyawan berkantor di gedung-gedung di kawasan itu. Bagi pedagang, ribuan karyawan di satu lokasi yang berdekatan berarti peluang bisnis. Mereka tahu saja jadwal  pembayaran gaji PNS yaitu tanggal 1. Sejak pagi mereka sudah menggelar dagangan di sepanjang trotoar. Harapan mereka, para pegawai itu sudilah mampir melihat-lihat jualan mereka, siapa tahu ada yang nyantol di hati dan membelinya. Para pedagang kecil itu berharap ikut  mendapat cipratan rezeki dari dompet pegawai. Maklum, di awal bulan dompet pegawai pasti tebal-tebal berisi gaji. Bagi para pegawai di lingkungan Gedung Sate, maraknya para pedagang yang berjualan juga sebagai sarana mendapatkan barang kebutuhan berharga murah. Kloplah antara pedagang dan pegawai, sama-sama membutuhkan.

Pemandangan seperti ini tidak hanya terdapat di Jalan Diponegoro. Di Bank BTPN yang menyalurkan gaji pensiunan PNS dan TNI pun juga ramai dikerubuti pedagang kaki lima. Para aki-aki dan nini-nini yang hendak mengambil jatah pensiun bulanan adalah pangsa pasar para pedagang. Wajah para pensiunan berseri-seri setelah menerima gaji pensiun. Kehidupan saat ini makin susah, maka gaji pensiun yang tidak seberapa itu sangat berarti bagi mereka, minimal ada yang bisa diberikan buat cucu.

Itulah sepenggal cerita kehidupan yang saya temui di pagi ini. Pemandangan rutin setiap awal bulan. Tampak wajah-wajah berbinar para pegawai dan pensiunan yang baru menerima gaji. Hati senang, terbayang anak cucu yang menanti di rumah.  Begitu juga wajah-wajah para pedagang kaki lima yang berharap mendapat cipratan rezeki dari pegawai dan pensiunan yang bahagia menikmati bulan muda (sebelum akhirnya meninggalkan utang di bulan tua). 

Kategori: Romantika kehidupan