Arsip Kategori: Romantika kehidupan

Mang Tata Pengasah Gunting dan Pisau

Rumah saya hampir setiap hari didatangi orang-orang kecil yang mencari nafkah. Ada tukang sabit rumput, pedagang lauk impun, pedagang tahu, pedagang stroberi, ibu penjual ubi cilembu, pengamen, tukang rongsok, dan lain-lain. Selagi ada uang di rumah, saya beli dagangan mereka … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 10 Komentar

Tenda Jahit Pak Ajun (Andai Dulu Jadi Kuliah di Arsitektur ITB)

Pak Ajun namanya. Profesinya adalah sebagai tukang jahit di pinggir jalan, tepatnya di Jalan Kuningan Raya, Antapani, Bandung. Dengan modal sebuah mesin jahit tua, dia menunggu pelanggan yang datang untuk mempermak pakaian. Ada pelanggan yang datang untuk memotong panjang celana, … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 12 Komentar

Foto Wisuda Anak Petani Miskin dan Ayahnya

Perhatikan foto yang amazing dan mengharukan di bawah ini, yang saya dapat dari akun fesbuk ini. Saya kutip dari laman fesbuk tersebut: A poor farmer supported his son finished college. On the graduation day, the son said his father is … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 12 Komentar

Foto Ayah dan Putranya dalam Enam Dekade

Saya selalu tertarik membicarakan hubungan emosional antara ayah dan anak. Saya sendiri mempunyai tiga anak dengan hubungan batin yang dalam sejak mereka lahir hingga sekarang. Maka, ketika melihat foto tentang hubungan seorang ayah dan anaknya dari kecil hingga sang ayahanda … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 7 Komentar

Bagaikan Kisah di Negeri Dongeng, Pernikahan Putri Herlina dan Reza

Sungguh pernikahan dua anak manusia ini bagaikan kisah di negeri dongeng. Putri Herlina, seorang gadis yang terlahir cacat karena tidak mempunyai kedua tangan (maaf, buntung), dipersunting oleh Reza Hilyard Somantri , putra mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Maman Husein … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 32 Komentar

Setumpuk Amplop dari Bapak Penjual Amplop

Pak Darta, Bapak penjual amplop itu, masih tetap duduk sendirian menunggui dagangannya berupa amplop-amplop di depan Masjid Salman ITB. Setiap kali saya sholat Jumat ke Masjid Salman ITB, saya selalu melewati Pak Darta. Cerita saya tentang Bapak penjual amplop ternyata … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 8 Komentar

Bapak Pemotong Rumput Datang Lagi

Ketika saya akan mengantarkan anak ke sekolah, seorang mamang pemotong rumput tiba-tiba nongol dan menawarkan jasanya untuk memotong rumput halaman rumah saya. “Potong, Pak?”, tanyanya. Saya melihat sekilas ke halaman, sebenarnya rumput di halaman belum terlalu panjang, kira-kira masih sebulan … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 3 Komentar

Bajigur dan Kacang Rebus Aki Jupri

Hampir setiap hari di depan rumah saya lewat pedagang bajigur yang sudah aki-aki (bahasa Sunda, artinya kakek-kakek). Sambil mendorong gerobak kecilnya dia meneriakkan dagangannya, bajiguuurrr….bandreeekkk… kacang rebuuuus…. Terdorong karena rasa iba saya pun memanggilnya, sekalian ingin membeli dagangannya itu. Pak … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 3 Komentar

Tak Apalah Mahal Sedikit

Setiap kali pulang dari kantor ke rumah, saya selalu melewati kedai buah-buahan yang dimiliki oleh orangtua teman anak saya (dulu waktu di TK). Sebut saja namanya Mas Hamim, dia mengontrak sebuah rumah pinggir jalan sekaligus tempat usahanya berjualan buah-buahan. Kadang-kadang … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 1 Komentar

Bapak Penyabit Rumput

Laki-laki asal Majalengka ini selalu datang ke rumah saya setiap beberapa bulan sekali. Dia hafal benar kapan rumput di halaman rumah saya sudah memanjang. “Pak, rumputnya mau dipotong?”, tanyanya dengan wajah mengharap. Sejenak saya memperhatikan rumput yang sudah panjang, lalu … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 2 Komentar