Feed on
Tulisan
Komentar

Arsip untuk ‘Romantika kehidupan’ Kategori

Ini lagi-lagi cerita tentang Pak Samin. Pada hari pekan, Pak Samin diundang hajatan kenduri dari 2 kampung berbeda. Hajatan pertama datang dari Kampung Hulu, sedangkan hajatan kedua datang dari  Kampung Hilir. Kedua kampung itu terletak di pinggir sungai. Malangnya, kedua hajatan itu diadakan pada waktu yang sama, yaitu selepas Lohor (istilah orang zaman dulu untuk waktu [...]

Read Full Post »

Ini masih kisah tentang Pak Samin. Pada suatu hari, Pak Samin dan anaknya hendak berangkat ke kota. Dahulu belum ada kendaraan bermotor seperti sekarang, kebanyakan orang menempuh perjalanan dengan berjalan kaki atau menunggangi kuda/keledai.
Pak Samin dan anaknya pergi ke kota dengan menggunakan seekor keledai. Berhubung keledai adalah hewan yang kecil maka keledai tidak sanggup membawa [...]

Read Full Post »

Cerita di bawah ini saya baca di buku cerita anak-anak waktu saya masih kecil dulu. Saya sangat suka cerita ini, karena sarat dengan pesan moral. Cerita berkisah tentang Pak Samin, seorang warga desa yang polos dan lugu. Di belakang rumah pak Samin terdapat sebatang durian yang sudah tumbuh besar. Selama ini pohon durian itu belum pernah berbuah, [...]

Read Full Post »

Kesusahan hidup tidak membuat sebagian orang lantas putus asa. Ada banyak jalan mencari rezeki. Yang penting halal. Bagi bapak yang kreatif ini, ia membuat mainan yang biasa ditemui di mal-mal atau arena permainan anak-anak. Biasanya untuk bisa duduk dan berayun-ayun pada main ayun-ayunan ini, orangtua perlu membeli koin, lalu masukkan koin itu ke lubang mainan, [...]

Read Full Post »

Mang Toto

Mang Toto, demikian panggilan lelaki kurus berperawakan kecil itu. Penampilannya sangat sederhana. Sehari-harinya dia adalah buruh serabutan yang kerjanya  menerima upahan dari orang yang membutuhkan jasanya. Mulai dari bersih-bersih halaman rumah, selokan, kebun, membuang brangkal bangunan, mencangkul tanaman, hingga naik ke atas genting untuk membersihkan talang air. Dengan modal sebuah cangkul dan pikulan keranjang, dia berjalan berkeliling rumah [...]

Read Full Post »

Hari minggu ketika pulang dari sebuah tempat, motor saya tersendat di depan sebuah pabrik di bawah jembatan layang Kiaracondong. Rupanya para buruh baru pulang dari pabrik. Mereka bergerombol di depan pintu gerbang. Ada yang menunggu angkot, ada yang mengerumuni penjaja makanan seperti bakso, gorengan, dan mie ayam. Siang itu memang bertepatan dengan waktu makan siang. [...]

Read Full Post »

“Aasah guntiiiing, aasah pisoooo”
Demikian terikan lelaki yang lewat di depan rumah saya dengan irama yang khas. Dia, penjual jasa untuk mengasah gunting atau pisau, menjajakan jasanya dengan cara berkeliling keluar masuk kampung dan kompleks perumahan. Modalnya hanyalah sebuah batu gerinda yang berbentuk roda yang diputar dengan sebuah engkol. Dengan memutar engkol, roda gerinda tadi berputar [...]

Read Full Post »

Cobalah sekali-kali melintas di sepenggal Jalan Diponegoro, dekat Gedung Sate Bandung, persisnya si depan Taman Lansia. Seperti tadi pagi saya melewati jalan itu suasananya cukup ramai. Setiap awal tanggal muda, yaitu tanggal 1 dan 2, puluhan pedagang kaki lima memadati trotoar di bahu jalan. Pasar kaget, begitu orang-orang menyebutnya. Mereka menggelar dagangan seperti pakaian, kacamata, alat-alat teknik, [...]

Read Full Post »

Orang-orang miskin dengan pendapatan sangat rendah bertebaran di sekitar kita. Mereka umumnya bekerja di sektor informal seperti mang-mang beca, pedagang asongan, pedagang makanan dengan gerobak dorong, pikulan, atau dijunjung di atas kepala, atau berdagang kaki lima seadanya di pinggir jalan, pedagang jamu gendong, dan lain-lain. Barang yang mereka jajakan tidak seberapa. Pendapatan mereka setiap hari tidak [...]

Read Full Post »

Naik angkot (angkutan kota) di Bandung sangat tidak nyaman. Slogan “penumpang adalah raja” jangan harap ada di dalam kamus sopir angkot di Bandung. Jika lagi banyak penumpang, penumpang ditumpuk di dalam angkot bak ikan sarden (istilah “tujuh-lima” populer di kalangan supir angkot, artinya 7 penumpang di sisi kanan dan 5 penumpang di sisi kiri. Ditambah 2 orang [...]

Read Full Post »

Tulisan sebelumnya