Catatanku

Entries categorized as ‘Romantika kehidupan’

Membantu Orang Miskin dengan Cara Mudah

26 Maret 2007 · & Komentar

Orang-orang miskin dengan pendapatan sangat rendah bertebaran di sekitar kita. Mereka umumnya bekerja di sektor informal seperti mang-mang beca, pedagang asongan, pedagang makanan dengan gerobak dorong, pikulan, atau dijunjung di atas kepala, atau berdagang kaki lima seadanya di pinggir jalan, pedagang jamu gendong, dan lain-lain. Barang yang mereka jajakan tidak seberapa. Pendapatan mereka setiap hari tidak banyak, tetapi uang yang diperoleh dicukup-cukupkan untuk biaya makan sehari-hari. Syukur-syukur kalau ada sisa untuk kebutuhan anak istri di rumah atau di kampung. Mereka adalah orang-orang yang hanya punya sedikit modal. Boro-boro  memperoleh pinjaman modal dari bank karena bank pasti tidak akan mempercayai mereka sebab orang kecil semacam itu tidak punya sesuatu yang bisa dijaminkan ke bank.

Contoh orang miskin adalah mang-mang beca yang mangkal dekat perumahan saya di Antapani. Beca yang mereka bawa bukan milik mereka, tapi milik induk semang. Sehari disewa Rp 2.000. Jika seorang mang baca dapat memperoleh uang dari menarik becanya rata-rata Rp 10.000 per hari (faktanya bisa kurang dari Rp 10.000), maka hanya Rp 8.000 yang mereka bawa pulang (bandingkan dengan penghasilan mahasiswa saya yang jadi asisten pelatihan komputer, per jam mereka dibayar Rp 20.000 hingga Rp 50.000). Biar sedikit yang mereka kumpulkan, tapi setelah seminggu dua minggu uang yang dikumpulkan sedikit-sedikit itu dikirim ke kampung buat anak istri yang menunggu di rumah. Terbayang bagi si mang beca itu betapa berseri-seri wajah anak dan istrinya menerima uang cucuran keringatnya dari menarik beca di Bandung.  Mang-mang beca itu tidak perlu kos di Bandung, mereka tidur di dalam beca berselimutkan malam. Jika mandi di WC umum atau di masjid, jika makan cukuplah di warung pinggir jalan ngutang dulu. Ada ribuan mang-mang beca di Bandung yang seperti itu. Mereka datang dari kantong-kantong minus seperti Garut, Cirebon, Ciamis, Tasikmalaya bahkan dari Jawa Tengah juga ada.

Pedagang makanan keliling atau yang mangkal penghasilannya tidak jauh beda dengan mang beca. Suatu kali saya memperhatikan seorang pedagang kacang rebus. Dari tadi dia duduk saja bermenung, tidak ada orang yang membeli kacangnya. Lalu saya dekati dia   dan saya belilah kacangnya sebungkus. Hanya Rp 1000 rupiah saja. Betapa senangnya dia melayani saja. Mukanya kelihatan berseri-seri dan berulang kali dia mengucupkan matur nuhun (artinya terima kasih), “sejak tadi sepi”, katanya,  “penglarisan“, tambahnya lagi. Uang seribu rupiah tadi sangatlah berarti baginya.

Di kompleks perumahan saya sering lalu lalang ibu-ibu yang berjualan makanan dan masakan seperti awug, donat, bala-bala, comro, pais ikan teri (semacam pepes), surabi, dan kue basahan lainnya.  Dari kejauhan sudah terdengar suaranya, “donaaaat… , donatnya neng“.  Atau “paiiiissss….”. Suara mereka kadang terdengar memilukan, sedari tadi berkeliling-keliling tetapi dagangan masih banyak yang belum laku. Seorang ibu penjual kue yang melewati rumah saya lalu saya panggil. Saya belilah beberapa dagangannya meskipun saya tahu rasanya biasa-biasa saja (average).  Saya tanya mulai jam berapa dia memasak untuk membuat kue, dia bilang sejak jam 2 dinihari. Oalah, jam segitu orang-orang masih lelap tidur, tapi si ibu tadi sudah berhadapan dengan tungku untuk memasak.

Dulu waktu saya mahasiswa dan tinggal di asrama ITB, setiap pagi selalu datang ke asrama seorang ibu pedagang nasi kuning dan nasi uduk yang dibungkus. Harganya Rp 500 per bungkus. Selain itu dia juga menjual gorengan. Bagi anak asrama, nasi murah seharga itu sangat membantu untuk sekadar sarapan. Ketika saya tanya ke si ibu itu mengapa dia menjual begitu murah, mengapa tidak Rp 700 atau Rp 1000 saja per bungkus, sebab lebih sedikit pun pun orang tidak keberatan untuk membelinya. Lagian tentu dia bisa menambah  keuntungan sedikit lebih banyak. Dia menjawab polos begini, “biarlah kecil den, yang penting tetep”.  Maksudnya tetep, biarpun yang dia peroleh setiap hari hanya sedikit, tetapi penghasilannya selalu konstan setiap hari. Tetep yang kedua berarti pelanggannya selalu jumlahnya tetap setiap hari, tidak berkurang kalau harga dinaikkan. Penghasilan segitu sudah cukuplah baginya. Memang sederhana cara berpikir si ibu tadi.

Penghasilan orang-orang kecil tadi tidak ada apa-apanya dibandingkan penghasilan kita sebagai orang terpelajar. Seorang profesional IT misalnya dapat memperoleh uang Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per jam dari konsultasi IT yang dia berikan. Seorang rekan saya dosen sesama ITB bahkan mematok tarif dlam US $  setiap kali konsultasi IT di kantornya. Di Jakarta  tarif pelatihan materi IT sampai puluhan juta per orang hanya untuk 2 hari. Hitung sendiri berapa penghasilan pengajarnya. Penghasilan ini belum termasuk dari proyek-proyek IT yang dikerjakan oleh kaum profesional tadi. Sangat kontras memang perbedaan penghasilan tukang beca dengan profesional IT.  Profesional IT semakin bekerja keras semakin banyak penghasilannya, semakin kayalah dia. Sementara tukang beca, meskipun ia sudah bekerja keras seharian mencari nafkah, penghasilannya tetap segitu-gitu saja. Ia tetap saja miskin seumur hidupnya. Inilah yang dinamakan dengan kemiskinan struktural. Wajarlah kalau kaum profesional IT muslim yang kaya wajib menyisihkan hartanya untuk diberkan kepada orang miskin, sebab di dalam harta yang dia peroleh itu terdapat hak bagi si miskin (yang kalah dalam semua hal untuk memperoleh rizki). 

Untuk membantu orang kecil (baca: miskin) tadi, kita tidak perlu menggunakan teori yang rumit-rumit. Pemerintah saja dengan segala konsep yang utopia tidak sanggup mengatasi kemiskinan. Kita bisa membantu mereka dengan cara kita sendiri, caranya mudah saja, yaitu belilah dagangan mereka meskipun hanya sedikit, atau meskipun kita tidak terlalu membutuhkannya. Uang Rp 500 atau Rp 1000 yang kita belanjakan sangat berarti bagi mereka. Jika banyak orang berpikir seperti kita, maka dagangan mereka dapat terjual habis, keuntungan yang mereka peroleh sangat penting untuk kelangsungan dagangan mereka (dan itu juga kelangsungan hidup mereka).  Buang saja rasa malu atau gengsi ketika membeli jualan mereka, karena kita membeli secara halal. Atau, sekali-sekali naiklah beca si mang ketika menuju suatu tempat. Perhatikanlah betapa senangnya wajah orang-orang kecil tadi karena kita mau membeli jualan mereka atau menggunakan jasa mereka. Seperti kata AA Gym, gunakan prinsip 3M, yaitu “Mulai dari hal yang kecil, Mulai dari diri sendiri, dan Mulailah hari ini juga”.

Kategori: Renunganku · Romantika kehidupan

Sopir Angkot Juga Manusia

21 Maret 2007 · & Komentar

Naik angkot (angkutan kota) di Bandung sangat tidak nyaman. Slogan “penumpang adalah raja” jangan harap ada di dalam kamus sopir angkot di Bandung. Jika lagi banyak penumpang, penumpang ditumpuk di dalam angkot bak ikan sarden (istilah “tujuh-lima” populer di kalangan supir angkot, artinya 7 penumpang di sisi kanan dan 5 penumpang di sisi kiri. Ditambah 2 orang penumpang duduk berdesakan di depan di samping pak sopir, dan dua orang di bangku serep dekat pintu, maka total ada 16 penumpang di dalam mobil angkot sejenis mobil carry itu; jika ditambah sopir jadi 17. Ck..ck..ck, makanya mobil angkot cepat rusak dan butut). Tapi, jika lagi musim sepi penumpang, sopir angkot ngetem berlama-lama sehingga penumpang yang ada di dalam angkot kesal terlalu lama menunggu. Alasannya klasik: kejar setoran. Selalu saja alsaannya begitu: kejar setoran. Maklum angkot bukan milik pak sopir tetapi milik induk semang. Setiap hari sopir angkot harus menyerahkan setoran yang jumlahnya ditentukan di awal (misalnya Rp 150.000/hari). Sisa pendapatan adalah jatah sopir angkot. Kalau kurang dari jumlah setoran, sopir angkot harus menanggung kekurangannya. Memang malang nasib sopir angkot di Bandung, tapi kelakuannya sering bikin kita kesal.

Dahulu sejak masih mahasiswa hingga 2 tahun lalu saya adalah angkoters, alias penumpang setia angkot karena alasan ingin hemat dan  praktis serta tidak direpotkan dengan bawa kendaraan sendiri. Di angkot kita seakan melihat panggung kehidupan sepanjang perjalanan. Bermacam karakter orang kita temui di dalam angkot.  Sambil duduk melamun kita secara tidak sengaja mendengarkan keluh kesah penumpang tentang kehidupan yang makin sulit, mendengarkan gosip rumah tangga orang lain, mendengar cerita lucu anak-anak sekolah, dan lain-lain. Tetapi saat ini naik angkot di Bandung sudah tidak mangkus lagi. Selain mahal diongkos karena beberapa kali harus ganti angkot, juga waktu kita habis di jalan karena kemacetan Bandung yang parah dan seringnya angkot ngetem menunggu hingga penuh penumpang. 

Soal kesabaran mencari penumpang, maka sopir-sopir angkot di Bandung perlu diacungi jempol. Asal tahu saja angkot di kota Bandung jumlahnya ribuan (beda dengan Yogyakarta atau Surabaya. Di Yogya tidak ada angkot, yang ada hanya bis kota ukuran mini, itupun jumlahnya sedikit. Di Surabaya agak sulit mencari angkot karena beroperasi pada daerah terbatas. Baik di Yogya maupun di Surabaya, jika tidak punya kendaraan sendiri ya repot juga. Makanya sepeda motor sangat ramai di jalanan kota Yogya). 

Nah, karena jumlah angkot yang berlebih, maka persaingan sengit merebut penumpang pun pemandangan rutin di Bandung. Sopir angkot di Bandung begitu lihai mencari penumpang. Mereka masa bodo saja melanggar peraturan lalu lintas, misalnya berhenti mendadak di tengah jalan untuk menaikkan/menurunkan penumpang (bukannya menepi dulu). Alasannya, kalau menepi dulu, bisa-bisa calon penumpang direbut angkot lain. Kalau ngetem di persimpangan jalan itu sudah biasa. Ngetem tidak hanya  5 menit, tetapi bisa 15 menit hingga setengah jam. Kalau di kompleks perumahan, mata sopir angkot begitu awas memperhatikan gang-gang. Jika ada orang berjalan di kejauhan di suatu gang, sopir angkot begitu sabar menunggu hingga orang tersebut mendekat. Iya kalau orang itu mau naik angkot, kalau ternyata tidak, maka penantian itu sia-sia dan penumpang di dalam angkot kesal karena sopir ngetem terlalu lama. Kalau sopirnya ditegur oleh penumpang karena ngetem terlalu lama, tidak jarang sopir angkotnya marah-marah. Naik saja taksi kalau mau cepat, begitu jawab sopir angkot suatu kali. Kalau sudah marah-marah, maka sopir akan membawa angkotnya ugal-ugalan sehingga nyaris kecelakaan. Penumpang di dalam menjerit-jerit ketakutan.

Di jalan raya sopir angkot memang raja jalanan. Berbagai peraturan lalu lintas dilabrak oleh mereka, seperti lampu merah diserobot, berhenti tidak pada tempatnya, parkir pada tempat terlarang, menyalip kendaraan secara tiba-tiba, dsb. Polisi pun tampak membiarkan perilaku sopir angkot ini. Kita mungkin menganggap kelakuan semacam itu karena tingkat pendidikan sopir angkot yang rendah. Tetapi, kalau kita pikir-pikir, mereka bertindak melanggar itu karena angkot itu sendiri.  Coba sekali-sekali beri kesempatan sopir angkot mengendarai mobil pribadi, dijamin mereka takut melanggar aturan lalu lintas. Namun tetap saja ada pengecualian, masih ada sopir angkot yang patuh dan sopan berkendaraan, umumnya pada sopir yang sudah agak tua.

Sejak dua tahun lalu saya berhenti naik angkot karena naik angkot tidak mangkus. Saya beralih naik motor saja. Seperti yang saya katakan tadi, naik angkot selain mahal diongkos, juga habis waktu di jalan. Butuh waktu 1 jam kurang untuk mencapai kampus ITB dari rumah saya di Antapani dengan angkot. Sehari bisa menghabiskan 8 ribu hingga 10.000 rupiah untuk ongkos angkot. Tetapi sejak bawa motor sendiri, pengeluaran buat transportasi berkurang drastis. Bensin 10.000 rupiah cukup untuk 6 hari, bandingkan jika naik angkot saya membutuhkan 50.000 rupiah untuk 6 hari. Satu banding lima. Waktu di jalan juga lebih hemat karena hanya perlu 30 menit ke kampus. Apalagi motor dikenal anti macet, sedangkan angkot kalau terkena macet tidak bisa bergerak lagi.

Ternyata banyak orang berpikiran sama dengan saya. Angkot mulai ditinggalkan penumpang. Banyak orang sekarang ini beralih ke sepeda motor untuk beraktivitas. Uang muka dan cicilan yang ringan untuk membeli motor adalah salah satu pemicunya. Bahkan ada dealer motor yang berani melepas motor kredit tanpa uang muka sama sekali. Booming motor di Bandung baru terasa dua tahun terakhir ini. Apalagi motor-motor zaman sekarang hemat bensin, hal ini cocok di tengah kenaikan BBM dan harga barang-barang.  

Booming sepeda motor di Bandung tentu saja bukan berita gembira bagi sopir angkot. Angkot menjadi paceklik penumpang. Dampaknya setoran sopir angkot sering tidak tercapai. Sopir sering nombok setoran, sementara anak istri harus diberi makan dan uang sekolah anak-anak belum dibayar. Cari pekerjaan lain susah, ketrampilan tidak punya kecuali jadi sopir. Meranalah nasib sopir angkot saat ini. Mereka sering berkeluh kesah kepada penumpang tentang nasib dan pendapatan yang menurun tajam. Penumpang hanya mendengar saja, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.  Lha, kehidupan penumpang angkot juga sama-sama susah.

Yah, sopir angkot juga manusia. Mereka butuh makan seperti kita. Tetapi kehidupan begitu kerasnya dan tidak pandang bulu. Nasib sopir angkot akan terus terpinggirkan jika masalah ini tidak dibenahi. Bila pelayanan angkot dapat ditingkatkan (apa bisa?) sehingga penumpang merasa nyaman dan kemacetan kota Bandung bisa diatasi, saya yakin orang akan kembali melirik angkot. Tapi kapan? Wallahu alam.

Kategori: Romantika kehidupan

Keluarga Pengamen Jalanan

2 Maret 2007 · & Komentar

Di perempatan Jalan Jakarta dan Kiaracondong  Bandung setiap pengendara pasti selalu melihat pemandangan yang mengenaskan. Sebuah keluarga besar yang terdiri dari ibu, anak, dan cucu berpanas-panasan atau berhujan-hujanan mencari uang dengan mengamen, mengemis, atau melap mobil yang berhenti dengan kemoceng (di Padang kami menamainya bulu ayam). Si ibu menggendong cucunya kesana kemari sambil mengemis uang dari pengendara yang berhenti ketika lampu merah, sementara anak gadisnya yang berjumlah tiga orang mengamen dengan alat musik seadanya: gitar butut, kincring-kincring, dan botol aqua.  Diperempatan itu tidak hanya mereka yang mengamen, tetapi juga beberapa lelaki remaja khas anak jalanan. Mereka berbaur dalam kehidupan jalanan yang bebas dan keras.

Oh ya, setahu saya cucu yang digendong ibu itu adalah anak dari anak gadisnya yang paling besar. Dua tahun yang lalu saya melihat anak gadis ini terlihat hamil, tidak jelas siapa ayah si jabang bayi. Kehidupan para orang jalanan ini memang terlihat bebas. Mereka tidur di emper-emper toko beralaskan koran dan berselimutkan kain lusuh. Karena banyak pengamen jalanan hidup seperti ini, maka tidak heran jika seks bebas pun bukan barang yang aneh di kalangan mereka. Mungkin saja si anak gadis ibu tadi hamil karena pergaulan bebas tersebut.

Anak-anak perempuan yang mengamen di jalan cenderung mengalami pelecehan seksual dari remaja lelaki sesama pengamen. Hidup mereka yang bebas memungkinkan mereka tidak terikat norma dan mau melakukan apa saja. Sejak kecil anak-anak perempuan dan anak laki-laki sudah dididik orangtuanya mengamen dan mengemis di jalan. Tanpa malu-malu keluarga pengamen ini berbaring dan duduk-duduk di pinggir jalan seakan tidak peduli dengan lalu lalang orang yang melihat kehidupan mereka. Anak-anak mereka yang masih bocah berlari-lari ke sana kemari tanpa takut ditabrak mobil, sebagian yang lain asik memakan remah-remah nasi bungkus. Tampang mereka dekil, kulit hitam terbakar matahari, rambut menjadi gimbal. Di perempatan Jalan Dago dan jalan Riau kita akan menemukan pemandangan keluarga pengamen dan pengemis semacam ini.

Tidak ada solusi yang ampuh untuk mengatasi masalah sosial ini. Mereka hadir di jalanan karena kita memberi peluang kepada mereka untuk meneruskan “profesinya”. Dengan tetap memberi mereka recehan uang, mereka akan terus bergerilya di jalanan karena merasa sangat mudah mencari uang tanpa perlu kerja keras. Seharusnya tugas negaralah untuk mengentaskan mereka dari kepapaan hidup, karena di dalam UUD 1945 disebutkan bahwa “anak yatim dan orang-orang terlantar dipelihara oleh negara”. Tetapi tampaknya Pemerintah Kota (wakil negara) membiarkan kaum jalanan ini tetap beraksi. Razia yang dilakukan terhadap mereka tidak efektif sebab setelah dilepaskan mereka akan kembali lagi ke jalan.

Kita yang sering terenyuh dengan pengemis dan pengamen jalanan sering dibuat serba salah. Jika tidak diberi uang, ada perasaan seakan diri kita kikir, tetapi jika diberi uang mereka semakin ketagihan dan akan terus berada di jalanan. Seorang pembaca di koran pernah mengusulkan bahwa kepada anak-anak yang mengamen kita jangan memberi mereka uang, tetapi berilah biskuit atau penganan agar mereka tidak kekurangan gizi. Alasannya adalah pengamen anak-anak ini kemungkinan besar menggunakan uang hasil mengamen untuk membeli kebutuhan yang bersifat merusak tubuh mereka seperti rokok, minuman atau makanan berwarna, bahkan mungkin saja untuk ngelem atau untuk narkoba. Jadi, siapkan di mobil anda permen, biskuit, atau roti ketimbang uang receh. Itu jika anda tetap berniat memberi.

Kategori: Romantika kehidupan

Eksploitasi Anak-anak Penjual Cobek

12 Februari 2007 · & Komentar

Masih ingat dengan tulisan saya tentang kisah Asep kecil penjual batu ulekan (cobek)? Kalau lupa atau belum baca, silakan baca kembali ini. Makin lama makin sering saya temukan anak-anak ini berlalu lalang di pusat-pusat kota Bandung menyandang pikulan berkilo-kilogram batu cobek. Saya mencium ada yang tidak beres dengan pemandangan ini.  Kenapa anak-anak? Kenapa bukan orang dewasa yang menjajakannya?

Akhirnya saya menemukan jawabannya. Melalui diskusi dengan seorang teman di dalam perjalanan, saya berkesimpulan anak-anak itu dieksploitasi oleh perajin batu cobek untuk menimbulkan rasa kasihan bagi orang-orang yang melihatnya. Ternyata ini taktik dagang. Bayangkan, seorang bocah berusia antara 6 sampai 10 tahun menyandang pikulan yang sangat berat, berjalan tertatih-tatih menawarkan batu cobek kepada setiap orang yang lewat. Hati siapa yang tidak akan tersentuh dan iba melihat anak-anak ini. Rasa kasihan dapat membuat orang merogoh kantong untuk membeli batu cobek yang di rumah tentu sudah ada.  Sebagaimana halnya rasa iba kepada pengemis atau orang-orang dhuafa menyentuh orang untuk bersedekah.

Bagaimana mengatasi kasus eksploitasi semacam ini? Sangat sulit. Hukum tidak bisa menjangkaunya karena apa yang dilakukan oleh orang dewasa dan anak-anak itu tidak melanggar hukum (Saya tidak tahu apakah Undang-undang Perlindungan Anak mencakup kasus semacam ini atau bukan.) Siapapun, termasuk anak-anak, boleh berdagang, bukan? Lagipula, ini bagaikan lingkaran setan yang tidak berujung.  Orang dewasa pembuat batu cobek membutuhkan tenaga kerja untuk pemasaran, sedangkan anak-anak yang menjadi tenaga kerja butuh uang untuk membantu orangtuanya.

Bagaimana solusiya ya? Ada yang tahu?

Kategori: Romantika kehidupan

Hidup dan Masalah

30 Januari 2007 · & Komentar

Lama tidak menulis catatan, hari ini saya mulai lagi menarikan jari-jari di atas papan-ketik komputer. Biasalah, hari-hari kemaren cukup banyak masalah yang menyita waktu dan pikiran. Mulai masalah anak, masalah pekerjaan, sampai masalah studi S3 yang saya jalani. Masalah datang silih berganti. Selesai satu masalah, muncul lagi masalah baru. Hidup itu merupakan seni menyeleaikan masalah.

Yah, orang hidup pasti ada masalah. Kalau tidak ada masalah, bukan hidup namanya, tetapi mati. Dulu saya pernah membayangkan alangkah bahagianya rekan senior saya sesama dosen di sini. Dia sudah menyelesaikan S3 dan anak-anaknya sudah besar. Tentu sekarang dia bahagia dan bisa jalan-jalan kemanapun dia suka. Eh, ternyata dia bilang bahwa semakin besar anak maka ada saja masalah baru yang muncul. Oh… ternyata saya salah sangka.

Ya, memang kebahagiaan itu tidak diukur dari ada atau tidak masalah dalam hidup kita, tetapi seberapa mampu kita bisa tetap tenang dalam menyelesaikannya. Setiap masalah pasti ada penyelesaiannya. Tidak usah khawatir, bukankah Allah SWT dalam surat Alam Nasyrah mengatakan bahwa “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan”.

Begitulah, kita tidak perlu khawatir dalam hidup ini, karena Allah akan menolong hamba-Nya yang meminta pertolongan kepada-Nya. Yang penting tetap berusaha dan berdoa agar setiap masalah yang kita hadapi dapat kita selesaikan dengan baik.

Kategori: Romantika kehidupan

Mal Cicadas dan Pedagang yang Tergusur

23 Desember 2006 · & Komentar

Di daerah Cicadas, Bandung, tepatnya di jalan Kiaracondong, sedang dibangun mal baru yang bernama Bandung Trade Mall (BTM). Lokasi BTM menempati bekas Pasar Cicadas. Pasar Cicadas dulunya cukup besar dan menampung ratusan pedagang tradisionil, kebanyakan berjualan kebutuhan dapur. Terus terang saja, seperti pasar tradisonil lainnya, Pasar Cicadas kumuh dan kotor. Jika hari hujan maka pasar menjadi becek dan tidak nyaman untuk berbelanja. Melihat kondisi pasar yang kumuh, reot, dan mengganggu keindahan kota, maka Pemkot Bandung menggusur pasar itu dan menawarkannya kepada pengusaha besar untuk membangun pasar modern, yaitu BTM.

Mudah ditebak, penggusuran pedagang dari pasar tersebut menimbulkan gelombang protes karena nasib mereka pasti akan terancam dan kehilangan mata pencaharian. Tetapi Pemkot tampaknya tetap bergeming pada pendiriannya. Bayangan memperoleh pajak besar dari pengusaha mal dan uang siluman lainnya menyebabkan Pemkot tidak mendengar jeritan pedagang pasar lama. Dengan iming-iming bahwa pedagang pasar lama diprioritaskan menempati mal, maka pembangunan mal tetap berjalan terus. Sebagai tempat penampungan sementara, maka para pedagang pasar lama dipindahkan ke bekas pasar Super Bazaar yang sudah bangkrut.

Di tempat penampungan sementara nasib para pedagang itu tidak lebih baik dari tempat lama. Tempat yang tidak strategis dan sepi pembeli membuat para pedagang tersebut frustasi. Akhirnya, mereka pun kembali menggelar dagangan di sepanjang jalan mulai dari Matahari Dept. Store hingga di depan BTM yang sedang dibangun. Jalan yang sudah sempit itu semakin sempit karena para pedagang memakan setengah badan jalan. Kemacetan setiap pagi pun tidak terhindarkan. Sepenggal jalan Kiaracondong itu menjadi semrawut dan kotor. Pembeli, pedagang kakilima, dan mang-mang becak bercampur baur meramaikan badan jalan di tengah hiruk pikuk klakson kendaraan yang meminta jalan. Entah sampai kapan kondisi ini berlangsung.

Sudah sering terjadi bahwa pembangunan pasar-pasar modern seperti mal dan plaza akan menyengsarakan pedagang kecil. Mereka terus dipinggirkan dan nasib mereka semakin tidak menentu. Yang diuntungkan tentu saja pengusaha besar dan Pemerintah Kota. Tidak semua warga kota membutuhkan kehadiran mal. Pasar-pasar tradisionil tetap diperlukan karena sebagian besar masyarakat kita berada pada strata ekonomi menengah ke bawah yang mempunyai daya beli rendah. Seharusnya Pemkot justru meremajakan pasar tradisionil tersebut dan membangun pasar yang lebih layak. Mal dan plaza sudah terlalu banyak di Bandung jadi tidak perlu ditambah lagi. Pasar tradisionil tetap punya kekhasan yang tidak dipunyai pasar modern. Di pasar tradisionil kita masih bisa melakukan tawar menawar dan hubungan antar orang yang lebih manusiawi.

Janji bahwa pedagang lama diprioritaskan menempati mal baru tidak seluruhnya benar. Harga kios baru yang super mahal tentu mencekik leher pedagang lama. Tidak semua mereka mampu membeli kios baru. Bahkan yang menyedihkan, para pedagang lama ini yang kebanyakan menjual barang-barang basah ditempatkan di lantai basement yang pengap, gelap, dan tidak strategis. Contoh ini sudah terjadi di Pasar Baru Bandunng, pedagang basahan ditempatkan di lantai basement yang untuk mencapainya tidak semudah lantai-lantai lainnya. Pintu masuknya pun hanya beberapa. Lokasi yang tidak strategis menyebabkan pengunjung sepi, sangat kontras dengan lantai-lantai di atasnya yang mempunyai elevator dan penyejuk udara serta ramai dengan pengunjung.Begitulah yang terus terjadi di negeri ini. Pembangunan yang tidak berpihak pada rakyat kecil menyebabkan rakyat kecil terus terpinggirkan. Hidup mereka semakin susah saja. Mereka hanya menjadi penonton di tengah pembangunan yang terus berlangung. Yang kaya semakin kaya, seangka yang miskin tetap saja miskin.

Kategori: Romantika kehidupan

Mereka Ladang Amal Kita

15 September 2006 · Tinggalkan sebuah Komentar

Setiap kali berhenti di lampu merah, saya selalu melihat pemandangan yang mengiris hati. Pengemis dan pengamen berebut memanfaatkan waktu lampu merah menyala untuk mengharapkan belas kasihan dari pengguna jalan. Sereceh dua receh uang pecahan mereka kumpulkan dari pagi sampai sore, bahkan sampai malam.

Kepada pengamen yang umumnya masih bocah itu saya kurang respek dan jarang memberi mereka uang. Mereka dimanfaatkan oleh orangtua mereka untuk mengemis dengan cara mengamen atau melap kaca mobil. Saya dapat melihat orangtua mereka menunggu di sudut jalan mengamati anak-anaknya mengamen, lalu menerima setoran. Jika anaknya hanya berhasil mengumpulkan sedikit uang, maka tidak jarang orangtua memarahi anak-anaknya itu. Sungguh tidak mendidik, kecil-kecil sudah diajari mengemis. Pemandangan yang hampir sama selalu saya lihat setiap menjelang shalat Jumat di Masjid Salman dimana jalan menuju masjid dipenuhi anak-anak dan orangtua mereka yang mengharapkan sedekah dari jamaah masjid.

Tetapi kepada pengemis yang suka berkeliaran di lampu merah, saya suka memberi mereka sedekah. Namun sebelumnya saya lihat dulu apakah mereka pura-pura mengemis padahal tubuh mereka kuat dan sehat. Menghadapi pengemis jenis ini sungguh dilematis, jika tidak diberi uang ada perasaan bersalah di dalam diri ini seolah-olah saya ini pelit, tetapi jika diberi uang berarti saya ikut menyuburkan sifat malas mereka. Kepada pengemis yang memang cacat fisik saya tidak berpikir panjang lagi, segera saya keluarkan sedikit uang buat mereka. Sungguh tidak tega saya melihat bapak-bapak yang lumpuh atau buta duduk di perempatan jalan mengharap belas kasihan.

Orang miskin, anak terlantar, gelandangan, dan pengemis sangat banyak di negeri ini. Mereka orang- orang yang terpinggirkan oleh kehidupan yang kejam. Seharusnya negara mengurusi mereka, karena salah satu pasal di dala UUD 1945 menyebutkan bahwa fakir miskin, anak terlantar, dan anak yatim dipelihara oleh negara. Kenyataannya sungguh beda. Negara ini tidak mampu memuliakan mereka (alasannya klasik: dana). Jika negara tidak mampu, maka tugas kitalah untuk membantu kalangan papa ini. Sesungguhnya kita harus berterima kasih dengan kehadiran mereka, karena mereka adalah ladang tempat kita beramal. Dari harta yang kita peroleh, maka di dalamnya terkandung hak untuk orang miskin. Jika hak itu tidak dikeluarkan, maka harta yang kita miliki tidak membawa berkah. Itulah makanya kita harus memperbanyak bersedekah. Tujuannya untuk membersihkan harta kita dari yang bukan hak kita, sekaligus membersihkan harta dari hal yang batil, karena mungkin saja tanpa kita sadari harta tersebut dperoleh dengan cara yang tidak halal. Mudah-mudahan hidup saya dan kita semua diberkahi leh Allah SWT.

Kategori: Agama · Romantika kehidupan

Mahasiswa Datang dan Pergi, yang Tertinggal Hanya Memori

13 Juli 2006 · Tinggalkan sebuah Komentar

Minggu lalu saya kedatangan lagi mantan mahasiswa yang membuat saya menaruh rasa kasihan dengan masalah yang menerpanya saat ini. Entah karena stres, entah karena “guna-guna” wanita sewaktu kerja di Kalimantan, ia akhirnya jadi begini: terganggu kejiwaannnya. Omongan dan tulisannya ngelantur, kacau, dan tidak runtun. Dulu saya adalah dosen Pembimbing Tugas Akhir mahasiswa ini, mungkin karena itu pula setiap kali dia datang ke ITB, dia selalu menemui saya. Kadang dia tampak sehat, tapi tidak jarang pula terlihat “kacau”. Sungguh saya sangat kasihan kepadanya, dulunya dia tidak begitu. Dulu dia adalah mahasiswa yang rajin, cukup cerdas, dan banyak bergaul. Tapi sekarang…. sepertinya dia sudah “hilang”. Saya tidak tahu bagaimana mengembalikan lagi jiwanya yang “hilang” itu. Apakah ada “orang pintar” yang bisa membantu menyembuhkannya? Semoga Allah SWT mengembalikan jiwanya yang “hilang” dengan mencabut pengaruh bisikan jahat yang menyebabkan dia kehilangan kesehatan ruhani.

Banyak yang saya alami dari mahasiswa-mahasiswa yang pernah saya didik di kampus ini. Setelah mereka lulus saya banyakmendengar kabar yang membahagiakan tentang kesuksesan yang mereka raih. Tapi beberapa orang memiliki kisah tragis dan memilukan seperti salah satu mahasiswa yang saya ceritakan di atas. Biarpun mereka sama-sama kuliah di ITB, tapi peruntungan nasib mereka setelah lulus dari ITB tidak sama. Jalan hidup memang sudah digariskan oleh Allah SWT. Hanya Dia-lah yang tahu kemana anak manusia melangkahkan kaki di dunia yang fana ini dan dimana manusia melabuhkan pelayaran hidupnya.

Mahasiswa saya datang dan pergi setiap tahun, silih berganti. Menghadapi mereka merupakan pekerjaan yang menantang. Mereka adalah anak-anak muda yang akan menjadi dewasa. Saya sangat beruntung memiliki mahasiswa yang cerdas. Tidak susah mengajar dan mendidik mereka menjadi orang yang bisa mengerti. Tidak susah juga mendidik mereka menajdi orang yang baik.

Bekerja di kampus adalah berurusan dengan banyak pribadi. Yang dihadapi adalah makhluk hidup yang masing-masing punyak sifat berbeda. Maka tidak heran banyak kejadian dan peristiwa yang terekam dalam memori saya tentang para mahasiswa saya, baik kejadian yang menyenangkan, kejadian yang membuat prihatin, maupun kejadian ekstrim yang sangat menentukan “hidup-matinya” status kemahasiswaannya di ITB. Dan setelah kejadian tersebut berakhir, yang tersisa di dalam diri ini adalah rasa lega karena saya dan mereka telah melalui masa-masa yang sangat sulit.

Itulah sekelumit romantika kehidupan saya menjadi seorang pendidik di ITB. Biarlah semua cerita kehidupan di kampus menjadi memori pribadi yang mungkin suatu saat nanti terkenang kembali bila saya bertemu mereka setelah mereka memasuki kehidupan dunia nyata. Bagi saya cukuplah mereka menjadi orang-orang yang baik, orang-orang yang berguna bagi lingkungannya, tidak harus menjadi orang terkenal dan kaya.

Kategori: Romantika kehidupan · Seputar ITB

Mencari Kehidupan di tengah Kegelapan

21 Juni 2006 · & Komentar

Paling sedikit satu kali dalam sebulan saya selalu mendatangi panti pijat tuna netra “Wiyata Guna” di jalan Pajajaran, Bandung. Ini adalah panti pijat yang berada di bawah Departemen Sosial. Pokoknya kalau badan saya sudah terasa egal-pegal, saya pergi ke sana untuk dipijat oleh pemijat tuna netra. Setelah dipijat badan terasa segar dan lebih bersemangat. Apalagi saya jarang melakukan olahraga, sehingga untuk memperlancar peredaran darah saya pergi ke panti ini.

Saya merasa lebih nyaman kalau dipijat oleh tuna netra, disamping bisa membantu mereka dengan penghasilan dari memijat, juga secara islami saya merasa cocok karena mereka tidak bisa melihat aurat kita kala dipijat (aurat laki-laki adalah dari pusar hingga mata lutut). Pria dipijat oleh pemijat pria, sementara wanita dipijat oleh pemijat wanita juga. Jadi, kita terhindar dari hal-hal maksiat. Pemijat tuna netra ini adalah lulusan sekolah pijat yang dibina oleh Depsos. Teknik pijatannya bagus dan terampil, mereka tahu simpul-simpul saraf yang mesti dipijat, seberapa tekanan tangan yang diperlukan, dan sebagainya, tentu saja mereka tahu hal semacam ini karena mereka juga belajar anatomi manusia.

Bagi kalangan tuna netra, masa depan mungkin terlihat begitu suram. Tapi kalau mereka punya keahlian, mereka mampu untuk bertahan hidup. Banyak orang tuna netra yang berprofesi sebagai pemijat. Di Wiyata Guna ini contohnya. Sambil dipijat, saya sering menanyakan kehidupan mereka. Sungguh saya kagum dengan semangat hidup mereka. Dengan tertatih-tatih, mereka berjuang mencari nafkah dengan cara halal, pantang bagi mereka untuk mengemis. Satu jam pijat di sana tarifnya Rp 18.000, 60% adalah hak mereka, sementara 40% disetor ke panti. Jika sehari mereka memijat 2 sampai 3 orang, maka setidaknya sebulan mereka punya penghasilan mencapai satu juta lebih. Kadang-kadang mereka juga menerima panggilan pijat di rumah atau di hotel yang tarifnya tentu lebih besar. Tidak jarang di rumah kontrakan mereka juga melayani jasa pijat. Ya, kebanyakan pemijat di Wiayata Guna hidup mengontrak kamar atau rumah di sekitar jalan Pajajaran. Bahkan mereka juga membawa istri dan anak-anak mereka dari kampung asal. Istri mereka umumnya tuna netra juga, tetapi anak-anak mereka normal.

Kebanyakan mereka buta karena mendapat sakit panas waktu kecil. Jadi, sebelumnya mereka sudah pernah melihat isi dunia ini, tapi karena demam tinggi dan tidak punya uang untuk berobat, maka matalah yang terkena efeknya. Kaum tuna netra ini punya indera keenam yang lebih tajam daripada manusia normal. Mereka bisa berjalan jauh karena dituntun oleh perasaan mereka. Ada pemijat yang berasal dari Jambi. Ia bercerita pernah naik pesawat dari Jakarta ke Jambi untuk melihat anaknya. Bayangkan jalan yang harus ia tempuh, mulai dari rumah kontrakan, lalu ke terminal bus, kemudian ke bandara. Berikutnya naik pesawat, kemudian naik bus ke daerah pedalaman Jambi, lalu kembali lagi ke Bandung. Tentu saja banyak orang yang bersimpati kepada kaum tuna netra ini dengan cara membantu mereka menunjukkan arah jika berjalan jauh.

Allah SWT memang Maha Adil. Meski mereka diberi kekurangan, tapi Allah juga tidak membiarkan ummat-Nya hidup menderita. Asal bekerja halal dan mau bekerja keras, maka setiap orang, siapapun ia, dapat hidup dengan layak. Jika kita yang berpenglihatan normal saja masih suka berkeluh kesah dalam mencari kehidupan, mereka kaum tuna netra tetap tabah menjalani hidup dengan keterbatasan yang mereka miliki.

Kategori: Romantika kehidupan

Mencerna Nasib Buruh

4 Mei 2006 · & Komentar

Kemaren ketika melintas di jalan Diponegoro Bandung, motor saya dan kendaraan lain tertahan di depan Museum Geologi. Kendaraan tidak dapat bergerak karena ratusan buruh menggelar aksi duduk-duduk di jalan sembari mendengarkan orasi dari para pemimpinnya. Ya, aksi demo buruh menuntut pencabutan revisi UU Ketenagakerjaan (UU Naker) masih terus berlanjut sejak tanggal 1 Mei yang lalu. Di seluruh kota di Indonesia kaum buruh berunjuk rasa untuk masalah yang sama: keadilan.

Mula-mula saya ngedumel di dalam hati karena aksi unjuk rasa itu telah mengganggu pengguna jalan. Tapi, ketika saya memandang wajah-wajah kaum buruh yang tampak kelelahan setelah berjalan jauh dari pabriknya di Bandung Selatan menuju Gedung Sate, sayapun mulai merasakan simpati bercampur rasa kasihan. Ya, di wajah kaum buruh itu terlukis kerasnya hidup yang mereka lalui untuk mencari nafkah keluarga. Di wajah mereka tergambar rona penderitaan karena tenaganya diforsir siang malam hanya untuk mendapatkan upah tidak seberapa. Di balik perjuangan mereka mengubah nasib, anak-anak mereka menunggu di rumah rizki yang dibawa oleh bapak atau ibunya.

Anda tahu kan, di Bandung terdapat ratusan pabrik, umumnya pabrik tekstil, garmen, industri makanan dan obat-obatan. Pabrik-pabrik itu berlokasi di daerah pinggiran seperti Banjaran, Cimahi, Ujungberung, Rancaekek, dan Mohammad Toha. Pabrik-pabrik itu mempekerjakan ribuan buruh, baik pria dan wanita. Buruh-buruh itu tinggal di sekitar pabrik, hidup di bedeng-bedeng, atau mengontrak rumah kumuh. Upah mereka rata-rata sedikit di atas UMR, jauh dari biaya hidup yang layak. Dengan upah tidak seberapa besar itu, mereka harus berjuang untuk menghidupi keluarga. Sering terdengar para buruh ini diperlakukan semena-mena oleh perusahaan, misalnya dipecat tanpa pesangon, diitimidasi karena dianggap melawan, gaji yang belum dibayarkan, atau hak-hak sosial mereka yang tidak dipenuhi (tunjangan kesehatan, jamsostek, cuti haid/melahirkan, dsb). Bagi para buruh itu, menjadi anggota di dalam serikat pekerja merupakan kebutuhan, karena di sanalah mereka bertemu teman-teman senasib membicarakan kesejahteraan mereka. Tidak heran jika organisasi seperti SPSI dan SBSI menjadi populer di mata mereka. Melalu serikat pekerja ini mereka membangun kekuatan untuk melawan ketidakadilan. Namun sulit dipungkiri jika serikat pekerja ini juga rawan terhadap infiltrasi paham-paham sosialis yang kekiri-kirian. Karenanya, perjuangan buruh yang murni bisa tercemar karena ulah para penyusup yang ingin mengail di air keruh.

Sebenarnya, menurut UU Ketenagakerjaan, yang termasuk buruh itu tidak hanya karyawan pabrik, tetapi juga karyawan perusahaan swasta lain yang berkantor di gedung-gedung ber-AC, karyawan supermarket, karyawan bandara, karyawan kontraktor, dan sebagainya. Namun karyawan swasta semacam ini tidak ikut-ikutan dalam aksi unjuk rasa kemaren, karena dibandingkan dengan buruh pabrik, kesejahteraan mereka lebih baik. Penghasilan mereka jauh di atas UMR, selain itu pekerjaan mereka dianggap “lebih intelek” ketimbang buruh pabrik. Buruh pabrik dikesankan sebagai orang kecil yang berpenghasilan kecil serta terkesan “massal”.

Saya sebenarnya tidak terlalu paham mengenai Revisi UU Naker yang dihebohkan kaum buruh ini. Saya hanya tahu dari koran kalau Revisi UU Naker ini dianggap oleh kaum buruh merugikan mereka namun menguntungkan pengusaha dan Pemerintah. Tentu ada alasan kuat mengapa kaum buruh ini berunjuk rasa untuk bersatu padu menolak revisi UU tersebut. Kalau tidak, mengapa mereka mau bersusah payah berjalan kaki meninggalkan pabrik dan keluarganya untuk berpanas-panasan di jalan-jalan. Belum lagi resiko digebuk dan dikejar-kejar oleh polisi.

Oleh karena itulah, untuk kaum buruh yang memperjuangkan nasibnya, saya ikut bersimpati dan memberikan dukungan moril. Semoga penantian anak-anak anda yang menunggu bapak-ibunya pulang membawa perbaikan nasib tidaklah sia-sia. Ketahuilah bahwa Allah SWT sangat suka pada orang-orang yang bekerja keras mencari nafkah halal. Setiap tetesan keringatmu adalah tetesan ibadah. Setiap perjuanganmu mencari nafkah di jalan Allah adalah fisabilillah. Jika engkau mati ketika mencari nafkah, insya Allah matimu adalah mati syahid.

Kategori: Romantika kehidupan · Seputar Bandung