Catatanku

Entries categorized as ‘Seputar Bandung’

Makin Banyak Toko Buku Diskon, Makin Baik

14 September 2009 · & Komentar

Dulu (saya kira masih sampai saat ini), kalau orang Bandung ingin membeli buku dengan harga murah, cukup pergi ke Pasar Palasari. Pasar Palasari adalah bursa buku dengan harga miring, karena semua buku dijual dengan potongan harga 25%. Bukan buku bekas yang dijual di sana, tetapi memang buku baru dari penerbit resmi. Pedagang buku biasanya memperoleh diskon dari penerbit sebesar 30%, nah pedagang menjual buku ke pembeli dengan potongan harga 25%, jadi masih ada margin keuntungan 5% dari setiap buku. Meskipun kecil, tetapi kalau buku terjual dalam jumlah banyak tentu memberi keuntungan lumayan besar juga. Ini berbeda dengan toko besar seperti Gramedia yang menjual buku tanpa potongan harga sama sekali. Karena itu, ada guyonan dikalangan konsumen buku seperti ini: kalau lihat-lihat buku di Gramedia, tapi membelinya di Palasari :-) .

Namun saat ini pasar buku Palasari mendapat saingan berat. Di kota Bandung sejak 3 tahun lalu hadir toko buku diskon Toga Mas di Jalan Supratman. Toko buku ini memadukan konsep toko buku Gramedia dan Palasari. Kalau di Palasari toko-toko buku umumnya berupa deretan kios, sehingga kita tidak bisa memilih sendiri buku secara swalayan, tetapi di Toga Mas buku-buku ditaruh di dalam rak-rak atau di atas meja sehingga pembeli bisa memilih sendiri buku yang diinginkannya. Ini sama seperti konsep toko buku di Gramedia. Semua buku dijual dengan harga miring, dengan diskon antara 15% hingga 25%, mirip dengan konsep pasar buku Palasari. Selain itu, kita juga mendapat layanan menyampul buku dengan sampul plastik secara gratis.

DSC00697

Toko buku Toga Mas ini kabarnya milik Pak Tung Desem Waringin, seorang penulis berbagai buku dan motivator manajemen yang terkenal. Suasana di toko buku ini lumayan tenang dan adem, apalagi bangunan toko adalah rumah peninggalan Belanda yang terkesan kuno. Ada juga komputer yang membantu mencarikan buku yang kita inginkan. Saya sering membeli buku di sini, baik untuk anak maupun untuk diri sendiri. Kadang-kadang setiap hari Sabtu saya mampir ke sana untuk sekadar membaca-baca aneka majalah (tentu sambil berdiri, he..he, kebiasaan zaman mahasiswa). Meskipun tidak berniat membeli, namun majalah boleh dibaca oleh pengunjung. Kalau di Gramedia mana bisa seperti itu ya, sebab setiap majalah dibungkus dengan plastik.

Tanggal 9 September 2009 (sengaja pada tanggal “ajaib”, 9-9-09), ada satu toko buku diskon lagi yang baru dibuka, namanya Rumah Buku. Lokasinya di Jalan Supratman juga, tidak jauh dari Toga Mas (hmm… mau bersaing rupanya, kok jaraknya berdekatan). Toko buku Rumah Buku ini memberi diskon lebih besar lagi, yaitu 35%.Wah, siapa yang tidak tertarik dengan diskon besar seperti itu.

DSC00699

Pulang dari kantor, saya mengunjungi toko buku baru ini. Pegawainya ramah-ramah, namun kalau saya perhatikan koleksi bukunya masih sedikit, belum selengkap di Toga Mas.

DSC00698

Ups…diskon 35% itu ternyata hanya selama promosi saja, sebab sesudah masa promosi saya tidak yakin diskonnya setinggi itu lagi, paling-paling tidak jauh beda dengan diskon di Togas Mas.

Tak apalah, bagi saya dan bagi kalangan pelajar, mahasiswa, maupun umum di Bandung, makin banyak toko buku diskon makin baik. Saat ini harga buku makin mahal saja, makin tidak terjangkau oleh kalangan bawah. Dengan banyaknya kehadiran toko buku diskon, kita dapat memperoleh buku dengan harga lebih murah daripada di toko buku besar sepeti di Gramedia atau Gunung Agung (ups.. maaf ya penyebutan langsung kedua toko buku ini). Buku sangat penting untuk mencerdaskan bangsa. Jadi, bagi para pengusaha yang kelebihan uang, buatlah toko buku diskon di berbagai kota di Indonesia agar masyarakat dapat membeli buku dengan harga terjangkau, seperti yang dilakukan oleh Pak Tung Desem Waringin itu.

Kategori: Seputar Bandung

Brrr…Bandung Dingin Sekali

31 Juli 2009 · & Komentar

Kalau anda ke Bandung bulan-bulan ini, jangan lupa bawa jaket atau baju hangat. Suhu udara… brrr… dingin sekali pada pagi, siang, dan sore hari. Padahal, sekarang bukan musim hujan, tetapi musim kemarau. Awal musim kemarau suhunya memang selalu begini padahal matahari bersinar terik. Begitu dingin sehingga besi saja kalau dipegang terasa seperti es.

Suhu dingin ditambah lagi dengan angin yang membawa udara dingin. Anginnya sih kering, tetapi ketika terkena kulit terasa begitu menggigit hingga menusuk tulang. Kalau malam anginnya terasa lebih dingin lagi. Awal musim kemarau adalah musimnya banyak orang Bandung sakit, perhatikan tuh dokter umum dan dokter spesialis anak penuh dengan pasien.

Tapi, suhu dingin ini tidak akan lama. Menjelang akhir Agustus nanti suhu udara akan mulai panas dan gerah. Itulah awal puncak kemarau. Gerahnya sedemikian rupa sehingga kalau malam terasa panas, tidur sampai perlu kipas angin. Bulan Ramadhan tahun ini bertepatan dengan musim kemarau panjang.

Liburan panjang akan berakhir, sekarang siap-siap melayani mahasiswa yang akan perwalian semester baru, siap-siap pula menerima mahasiswa 2008 yang telah memilih Prodi IF. Ritme perkuliahan akan dimulai di awal bulan Ramadhan ini.

Kategori: Seputar Bandung

Siapa Bilang Orang Sunda nggak Bisa Ngomong “F”?

30 Juli 2009 · & Komentar

Waktu nyari-nyari gambar via mbah Google, ketemu gambar lucu ini:

sunda

Aya-aya wae nya…, benar-benar pitnah!!! (eh, kok malah ketularan, hi..hi..hi).

Kategori: Gado-gado · Seputar Bandung

Nasi Timbel Merah Ceu Eti

25 Februari 2009 · & Komentar

Bagi penggemar nasi timbel, Nasi Timbel Istiqamah di Jalan Taman Citarum Bandung mungkin tidak asing lagi. Berada di pinggir jalan di depan masjid, setiap jam makan siang warung tenda ini ramai dengan orang-orang yang datang untuk makan. Kalau hari Sabtu dan Minggu apalagi, para wisatawan dari Jakarta ramai-ramai makan di sini bersama keluarganya. Bagi orang Jakarta, ke Bandung itu ya untuk makan dan belanja-belanja.

Tapi sekarang Nasi Timbel Istiqamah sudah pindah ke Jalan Citarum, di samping Rumah Makan Raja Melayu. Bukan berbentuk warung tenda lagi, tetapi sudah berupa pondok permanen, yang tempat parkirnya sudah diatur oleh juru parkir. Tidak asik lagi makan di sana, tidak seperti dulu makan di pinggir jalan di bawah naungan pohon dan deru kendaraan terasa lebih asik dan nikmat. Lagipula terlalu ramai, apalagi Hari Sabtu, padahal saya kurang suka tempat makan yang terlalu ramai.

Sepeninggal Nasi Timbel Istiqamah, bermunculan warung nasi timbel lain di seputar Masjid Istiqamah dengan rasa yang tidak jauh berbeda, salah satunya Nasi Timbel Ceu Eti. Ceu itu panggilan buat wanita Sunda.

Siang ini saya makan nasi timbel merah Ceu Eti yang jualan di depan Masjid Istiqamah, Jalan Taman Citarum, Bandung. Warungnya tidak terlalu padat, jadi bisa makan lebih santai.

ceueti

Nasi timbel merah… waah saya suka sekali itu. Nasi timbel merah dibuat dari beras merah. Entah siapa yang memulai pertama kali membuat nasi timbel beras merah di tatar Pasundan ini. Yang jelas nasi timbel merah itu menyehatkan karena mengandung vitamin B. Cocok juga buat orang yang diet. Kalau beras merahnya kualitas nomor 1 nasi timbelnya akan terasa pulen seperti nasi putih.

Seperti Nasi Timbel Istiqamah, Nasi Timbel Ceu Eti menyajikan masakan Sunda yang serba pepes: pepes ayam, pepes jamur, pepes tahu, pepes ikan, dan lain-lain. Ada pula yang serba goreng yaitu tahu goreng, tempe goreng, ikan goreng, ayam goreng, ikan asin, dan lain-lain. Masakan Sunda ya begitu itu, sederhana dan tidak bersantan-santan serta tidak berbumbu aneka rupa seperti masakan Padang. Justru karena tidak bersantan itu masakan Sunda tampak lebih sehat karena tidak mengandung banyak lemak. Makan nasi timbel merah dengan lauk semacam itu ditemani sambal terasi, sayur lalap, dan air teh hangat di siang hari jelas terasa nikmat, apalagi nasi merahnya disajikan hangat. Oh ya, selain nasi merah juga ada nasi timbel putih.

Nah, ini yang saya makan di sana: nasi merah, ayam goreng, pepes tahu, ikan asing, sayur lalap, dan sambal terasi. Harganya? Hanya Rp 9.500 untuk semua itu. Murah juga ya.

nasitimbel

Kategori: Makanan enak · Seputar Bandung

Jalan Dago Bersih dari Papan Iklan. Semuanya? Tidak

29 Desember 2008 · & Komentar

Jalan Dago (nama resminya Jl. Ir. H. Djuanda) adalah salah utama di kota Bandung. Jalan ini sangat bersejarah, karena sudah ada sejak kota Bandung dibangun dulu. Di sepanjang jalan ini berderet-deret rumah gaya Belanda. Tapi itu dulu, sekarang Jalan Dago sudah tidak nyaman lagi, sudah menjadi kawasan bisnis. Padat, macet, khususnya di akhir pekan. Rumah-rumah klasik itu sudah berganti dengan factory outlet, bank, mal, restoran, toko, dan lain-lain. Hanya tersisa beberapa buah rumah yang masih dihuni, tapi saya yakin suatu saat pemiliknya akan “menyerah” juga dan merelakan rumahnya berganti menjadi tempat bisnis. Harga tanah di Jalan Dago mungkin sudah gila-gilaan kali ya.

Karena Jalan Dago adalah jalan utama, maka puluhan papan iklan (billoard) bertebaran di sepanjang jalan. Kehadiran papan iklan itu merusak estetika Jalan Dago. Sepanjang jalan kita disuguhkan pemandangan reklame yang besar-besar. Sungguh tidak nyaman.

Sukurlah Pemkot mulai “sadar”. Melalui Perda nomor sekian, Jalan Dago dan beberapa jalan lainnya dibebaskan dari papan iklan. Beberapa hari ini kalau anda jeli memperhatikan, puluhan reklame dicopot dari papannnya, seperti tampak pada foto di bawah:

dago1

Billboard kosong itu tidak akan berdiri terus di situ, tiangnya mulai dicabut satu per satu sehingga tidak ada lagi papan ilan berdiri di sepanjang jalan ini.

Apakah Jalan Dago benar-benar bersih dari papan iklan? Ho..ho, tidak, ternyata tidak semua papan iklan dicabut. Megatron (papan iklan elektronik yang menayangkan video iklan) sepertinya tidak tersentuh Perda itu, seperti megatron di depan Bank BCA (seberang jalan layang Pasupati) ini:

dago2

Apakah ada diskriminasi dalam kasus ini? Wallahu alam. Megatron dan billboard sebenarnya sama saja, bedanya yang satu fisik dan yang satu lagi elektronik.

Apakah Perda yang mengatur tata ruang itu “berani” menyentuh megatron di jalan Dago? Kita tunggu saja.

Kategori: Seputar Bandung

Inoel Sudah Ditemukan, tetapi Misteri Penculikan Masih Gelap

1 Desember 2008 · & Komentar

Alhamdulillah, Mizan alias Inoel, mahasiswa Planologi ITB yang hilang, berhasil ditemukan. Seperti diberitakan sebelumnya (baca tulisan yang lalu), Inoel menghilang sejak Kamis (20/11). Menurut berita di koran-koran, Inoel ditemukan di salah satu masjid di Kampung Cikurubuk, Desa Pasirbatang, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (29/11) dini hari. Saat itu Inoel ditemukan oleh warga sedang berbaring di masjid. Saat ini, Inoel sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Sartika Asih, Jln. Mohamad Toha, Bandung

Ini foto Inoel di rumah sakit yang didampingi oleh ibunya (sumber: koran PR):

3011_kondisi_inoel

Berbagai pertanyaan mungkin menggelayut di benak banyak orang. Apa benar Inoel diculik? Kalau iya, siapa yang menculik Inoel? Apa yang menyebabkan Inoel diculik? Inoel sendiri mengaku dia memang diculik tetapi tidak tahu siapa penculiknya, sebab ketika diculik dia dibius sehingga tidak sempat mengenal wajah dan suara penculiknya. Inoel juga mengaku mengalami kekerasan fisik tetap tidak menimbulkan bekas sebab yang dipukul adalah perutnya.

Wah, kasus ini berkembang sangat menarik. Berbagai spekulasi merebak seputar hilangnya Inoel. Saya tidak mau ikut-ikutan berspekulasi sebab bisa menambah masalah baru. Kasihan orangtua dan keluarga Inoel yang tertimpa musibah ini. Kita serahkan saja kepada polisi yang mempunyai kewenangan untuk menuntaskan kasus ini. Tugas polisilah untuk mengungkapkan motif hilangnya Inoel.

Berdasarkan pengalaman orang yang mengalami kasus culik, penculikan meninggalkan trauma yang mendalam yang tidak bisa sembuh dalam waktu singkat. Saya rasa Inoel akan mengalami trauma tersebut sesudah dia dibolehkan pulang. Fisiknya mungkin akan sehat, tetapi piskisnya akan terganggu. Karena itu, dukungan teman dan keluarganya akan sangat membantu untuk menyembuhkan luka psikisnya.

Semoga cepat sembuh fisik dan mental, Inoel. UAS segera di depan mata.

Kategori: Seputar Bandung · Seputar ITB

Malang Nian Nasib Orang Bandung Selatan

27 November 2008 · & Komentar

Tentu tidak semua orang di Bandung selatan bernasib malang, tetapi setidaknya bagi sebagian warga di daerah ini yang selalu “tabah” dan “bersabar” menerima kiriman banjir setiap saat.

Bandung selatan adalah daerah pinggiran di selatan kota Bandung yang secara administratif masuk ke dalam Kabupaten Bandung. Kawasan Bandung selatan meliputi daerah seperti Baleendah, Majalaya, dan Dayeuhkolot. Bandung selatan identik dengan pabrik. Di kawasan ini terdapat puluhan pabrik tekstil yang menghidupi puluhan ribu buruh dan keluarganya. Di kawasan inilah mengalir sebuah sungai yang legendaris di Jawa Barat yaitu sungai Citarum. Sungai Citarum menampung anak-anak sungai yang berhulu di kawasan utara, khususnya dari kota Bandung. Sungai Citarum bagaikan tempat pembuangan limbah raksasa. Ia menampung limbah dan kotoran orang kota Bandung. Selain itu, hampir semua pabrik, termasuk pabrik tekstil, membuang limbahnya ke sungai ini. Air sungai Citarum sangat kotor, hitam, dan berbau. Saya pernah melewati kawasan Baleendah, saya melihat air sungai di sini selalu berbusa, itulah busa yang ditimbulkan oleh limbah pabrik.

Kawasan Bandung selatan adalah sebuah cekungan yang posisinya terletak lebih rendah dari kota Bandung. Sifat air sejatinya adalah selalu mencari daratan yang lebih rendah. Jadi, setiap kali hujan, maka air dari kota Bandung dengan cepat mengalir tanpa beban menuju kawasan ini, memenuhi sungai Citarum yang semakin dangkal, kotor, dan penuh limbah. Sungai Citaraum tidak mampu lagi menerima kririman air dari utara, lalu ia meluapkan airnya dan menggenangi tanah dan pemukimna warga. Akhirnya, orang-orang di Bandung selatan jua yang mendapat malangnya. Mereka harus tetap tabah menghadapi banjir yang sering datang tanpa diundang. Ketinggian banjir mencapai 1 meter hingga 2 meter.

Seperti banjir yang melanda kampung Cieunteung di Baleendah Rabu kemaren. Ini adalah banjir kesembilan yang melanda kampung ini dalam musim hujan ini. Hujan deras yang turun pada siang mengakibatkan banjir di kawasan tersebut bertambah ketinggiannya mencapai lebih dari 1,5 meter. Orang-orang di kampung ini harus siap sedia bersampan ria menyeberangi banjir yang airnya bercampur dengan limbah pabrik yang beracun. (Sumber foto: Koran Pikiran Rakyat).

2611_banjir_cieunteung

Banjir menggenangi kawasan Bandung selatan tiap sebentar. Hujan sedikit saja sudah banjir. Akibat banjir, pabrik tekstil berhenti beroperasi karena mesinnya terendam banjir. Para buruh terpaksa tidak menerima uang makan dan gaji. Mereka dirumahkan. Tetapi mereka juga tidak bisa diam di rumah, karena setelah banjir berlalu warga disibukkan dengan membersihkan endapan lumpur yang bercampur limbah pabrik yang berwarna hitam. Tinggi endapan lumpur bisa mencapai 20 cm.

lumpur-sisa-banjir-di-majalaya

Lumpur dibersihkan untuk kemudian datang lagi beberapa hari kemudian. Benar-benar meletihkan. Hidup dari itu ke itu saja: menerima kedatangan banjir, membersihkan lumpur, dan sakit.

Karena sudah biasa menerima kiriman bajir setiap saat, maka orang-orang di Bandung selatan biasanya membangun rumah 2 tingkat. Tingkat atas digunakan untuk mengungsi bila banjir datang. Mereka sudah menjadi terbiasa dengan banjir. Mau pindah, kemana mau pindah. Di sanalah tempat mereka lahir dan dibesarkan, jadi berat juga hati kalau mau pindah. Kalaupun mau pindah bagaimana caranya, harga tanah mahal, uang tidak punya. Lagipula, siapakah yang mau membeli rumah dan tanah mereka di kawasan banjir? Pasti tidak ada orang yang mau seberapapun murahnya. Akhirnya, banjir diterima sebagai rutinitas tahunan di musim hujan. Bersabar dan terus bersabar entah sampai kapan kawasan ini bisa terbebas banjir. Pemerintah sepertinya tidak peduli kepada mereka. Mungkin kawasan Bandung selatan dijadikan kawasan wisata banjir saja seperti foto satire di bawah ini:
pascabanjir-majalaya

Dulunya, Bandung selatan adalah daerah yang sangat indah, setidaknya tercermin dari sebuah lagu yang syairnya dibuat oleh Ismail Marzuki. Judulnya: Bandung Selatan di Waktu Malam:

Bandung selatan di waktu malam
berselimut sutera mega putih
laksana putri lenggang permata
……….

Sekarang, Bandung selatan menjadi kawasan yang menyedihkan….

(Sumber foto: koran Pikiran Rakyat - Bandung)

Kategori: Seputar Bandung

Bahasa Gaul Sampai ke dalam Kelas

11 November 2008 · & Komentar

Mengamati mahasiswa dan anak muda zaman sekarang berkomunikasi membuat kita senyum-senyum sekaligus miris. Saat ini hampir jarang kita mendengar mahasiswa berbicara dengan kata “saya” dan “kamu”, mereka lebih sering menggunakan “lu” dan “gue”, atau dalam beberapa variasi seperti “elo”, “lo”, “gua”, atau “gw”. Mungkin penggunaan kata “saya” dan “kamu” dirasakan mereka terlalu formal ‘kali ya atau terlalu kaku. Oh iya, penggunaan kata “lo” dan “gua” bercampur baur dengan dialek betawi. Misalnya seperti di bawah ini:

Eh, gue mau pinjem catetan kuliah probstat lo dong?”
“Boleh, nih, entar lo balikin nanti malem ya, gua belon bikin tugasnya nih?”
“Tugas apaan? Kok gue enggak tahu?”
Makenye lo jangan sering bolos dong

He..he..he, itulah bahasa gaul anak muda di Bandung masa kini, khususnya di kalangan mahasiswa (utamanya lagi di ITB). Yang mengucapkannya bukan hanya mahasiswa dari Jakarta dan sekitarnya, tetapi mahasiswa yang berasal dari daerah-daerah bukan Jakarta juga enjoy saja berbicara dengan teman-temannya menggunakan bahasa gaul ini. Jakarta minded. Jadi jangan heran kalau kita mendengar logat medok Jawa dalam ucapan seperti di atas, atau dialek Sunda yang khas, atau logat Minang/Melayu yang kental dalam mengucapkannya. Kadang-kadang salah lagi dalam pengucapannya. Itulah yang membuat saya tersenyum geli mendengarnya. Misalnya begini:

Gua nggak bisaan euy ujiannya” (Sunda banget ya)

Di Bandung yang pengaruh Jakarta begitu kental karena dekatnya jarak kedua kota ini, penggunaan bahasa gaul sudah menjadi hal yang biasa, tidak hanya di kalangan mahasiswa tetapi juga siswa-siswi SMA/SMP. Coba sekali jalan-jalan ke Jl. Belitung dekat SMA 3 dan 5, dengarkan bagaimana siswa-siswa SMA itu bercanda dan bercakap-cakap. Anda akan menemukan fenomena yang sama seperti di kampus-kampus lain di Bandung.

Sepanjang bahasa gaul itu untuk memperlancar komunikasi dan membuat lebih akrab tentu sah-sah saja digunakan. Bahasa memang bertujuan untuk berkomunikasi, bukan?

Namun yang membuat miris adalah ketika bahasa gaul itu masuk ke area formal seperti kelas kuliah, seminar, diskusi, dan bahasa tulis. Ketika saya memimpin sebuah diskusi di dalam kelas, seorang mahasiswi tidak sadar menggunakan kata seperti: “Kalau kata gue sih … “, atau ucapan seperti: “pendapat lo gak salah..”. Nah, bingung ‘kan kita kenapa bahasa mahasiswa kita jadi kacau begini ya?

Dalam seminar Tugas Akhir yang dihadiri oleh dosen dan mahasiswa, si mahasiswa TA tanpa sadar menanggapi pertanyaan dari temannya dengan bahasa gaul seperti “menurut gua…dst”. Seisi kelas tersenyum geli mendengarnya. Lupa ya mas ini di dalam kelas seminar? Yang paling sering adalah pengucapan kata-kata informal seperti “ukuran datanya lumayan gede“, atau “waktu eksekusinya lama banget“. Kata-kata slank yang mengandung akhiran “in” tidak terhitung terlontar dari mulut si mahasiswa TA, seperti “dimasukin”, “ditambahin”, “digabungin”, “dihilangin”, dan sebagainya. Tambah parah saja, bukan?

Itulah pentingnya belajar berbahasa yang benar, bukan sekadar belajar Bahasa Indonesia, tetapi belajar menggunakannya secara baik dan benar serta tahu tempat dan situasinya.

Kategori: Seputar Bandung · Seputar ITB

Banjir Spanduk Caleg

30 Oktober 2008 · & Komentar

Pemilu 2009 masih lama, tetapi masa kampanye sudah dimulai sejak bulan September yang lalu. Pada Pemilu kali ini kita tidak lagi mencoblos gambar Parpol, tetapi mencontreng (V) calon anggota legislatif (caleg) di parpol yang kita pilih. Ini berarti Pemilu 2009 ada kemajuan dibandingkan dengan Pemilu sebelumnya.

Konsekwensi dari sistem Pemilu seperti ini adalah para caleg melakukan kampanye untuk memperkenalkan dirinya (sosialisasi) kepada masyarakat. Media kampanye yang dipilih adalah poster atau spanduk. Spanduk yang menampilkan foto caleg dalam ukuran besar terpajang di tempat-tempat strategis (seperti foto di bawah ini, dipotret di depan Lapangan Gasibu, klik foto untuk melihat lebih besar).

Semakin tebal isi kantong si caleg, semakin besar ukuran spanduknya dan banyak jumlahnya di berbagai sudut kota. Caleg yang kantongnya pas-pasan cukup puas membuat spanduk yang berukuran mini, bahkan yang menggelikan juga ada yang hanya seukuran kertas A4 yang ditempel di tembok-tembok, mirip seperti iklan pemilihan Ketua RW. Pemilu kali ini juga makin menegaskan bahwa yang bisa menjadi caleg hanyalah orang-orang kaya saja. Untuk menjadi caleg di parpol saja mereka tentu telah menyetor “uang mahar” yang besar agar dapat nomor “jadi” (beberapa partai masih menerapkan jatah kursi DPR/DPRD berdasarkan nomor urut caleg, sebagian lagi berdasarkan suara terbanyak yang diraup sang caleg). Setelah terdaftar menjadi caleg di Parpol, mereka harus mengeluarkan uang lagi untuk kampanye parpol dan kampanye dirinya. Betul-betul menguras kekayaan pribadi caleg (tak apalah, nanti juga bakal tergantikan dengan gaji dan tunjangan caleg yang jumlahnya tidak terhitung, mulai dari yang resmi hingga yang tidak resmi :-) )

Kembali ke spanduk tadi. Semakin mendekat hari H tentu pemasangan spanduk caleg akan semakin banyak. Bisa kita bayangkan kota Bandung akan menjadi lautan spanduk. Jumlah caleg dari berbagai Daerah Pemilihan Bandung dan Cimahi saja ada ratusan. Itu baru caleg DPR RI, belum lagi caleg DPRD Tk I dan DPRD Tk II (kota Bandung). Setiap caleg mungkin membuat lebih dari satu spanduk sehingga diperkirakan jumlah spansuk mencapai ribuan. Pemasangan ribuan spanduk caleg dapat merusak estetika kota. Hidup kita selama setahun ke depan akan dipenuhi oleh gambar orang-orang yang sebagian besar tidak kita kenal. Mereka mengumbar janji-janji yang manis-manis untuk merayu orang memilih mereka pada Pemilu 2009 nanti.

Saya berpikir, apakah Pemerintah Kota tidak membuat beberapa tempat pemasangan media kampanye Pemilu 2009 yang dapat memuat foto-foto ratusan caleg itu, jadi kalau kita ingin tahu wajah sang caleg cukup datang ketempat itu untuk melihatnya dan membaca janji-janji manisnya. Tapi saya pesimis, mungkin Pemkot tidak sampai berpikiran begitu ya, sebab gemerincing uang dari pemasangan iklan luar ruang akan lenyap jika spanduk kampanye caleg disederhanakan seperti itu.

Ada pendapat?

Kategori: Seputar Bandung

MQTV Bangkrut, Tayangan Tilawah Hilang

23 Oktober 2008 · & Komentar

Malang benar nasib stasiun MQTV di Bandung. Sejak pudarnya pamor Aa Gym (yang langsung atau tidak langsung disebabkan oleh pernikahan kedua Aa Gym), satu per satu bisnis milik Pesantren Daarut Tauhid (yang identik dengan milik Aa Gym juga) bangkrut, salah satunya MQTV.

MQTV ini unik, karena ia satu-satunya stasiun TV dakwah yang seluruh acaranya ditujukan untuk mengajak orang berbuat kebaikan (amar ma’ruf nahi munkar). Yang saya paling suka dari stasiun TV ini adalah acara tilawah Alquran, yaitu pemutaran VCD murottal Al-Quran. Menjelang dan sesudah shalat Maghrib dan satu jam sebelum tutup siaran, ada pembacaan murottal dari qari yang bersuara enak. Setiap ayat yang dibaca oleh qari selalu ada teks arab dan terjemahannya, dan sebagai latar belakang adalah video yang berhubungan dengan kandungan ayat. Ketika ayat yang sedang dibaca bercerita tentang hari kiamat, maka tayangan video memperlihatkan tentang bencana alam dahsyat, gunung meletus, dan sebagainya.

Saya di rumah jarang menonton TV, karena sebagian besar acara TV di Indonesia tidak bermanfaat, tidak mendidik, hedonis, penuh kepalsuan, dan konyol. Menjelang tidur, saya biasanya menghidupkan TV untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-quran dari MQTV. Di keheningan malam melihat tayangan murottal ini sungguh menenteramkan hati. Saya jadi terhanyut mendengarkalan lantunan ayat suci dan tayangan video yang menarik itu.

Tetapi sekarang siap-siap saja publik Bandung tidak dapat menikmati MQTV lagi. Krisis keuangan pada staisun TV ini memaksa mereka mem-PHK karyawan dan mungkin saja mereka tutup siaran. MQTV memang paceklik iklan yang merupakan ‘nyawa’ dari sebuah media massa. Tanpa iklan hampir tidak mungkin stasiun TV bisa bertahan. Sebenarnya kalau mau jujur, kemasan sebagian besar acara MQTV memang kurang menarik, monoton, kaku, dan tidak punya nilai jual. Jangankan bersaing dengan stasiun TV nasional, dengan stasiun TV lokal lain pun mereka kalah. Dulu MQTV dibangun dengan semangat yang tinggi, memanfaatkan nama besar Aa Gym yang tengah naik daun. Ketika pamor Aa Gym redup, redup pula nafas stasiun TV ini.

Menurut saya, Aa Gym boleh redup, dia kan manusia biasa, fana. Tiada yang abadi di dunia ini, termasuk kejayaan dan popularitas. Meski Aa Gym redup, tetapi dakwah harus tetap jalan. Saya berharap stasiun TV ini tetap eksis untuk menyiarkan program acara yang mengajak orang berbuat amal shaleh, di tengah kepungan siaran TV lain yang menayangkan hedon.

Kategori: Seputar Bandung