Travel Bandung – Jatinangor, Jeli Melihat Peluang Bisnis

Kemarin ketika naik angkot saya melihat sebuah stiker promosi travel Bandung – Jatinangor. Saya baru tahu ada travel yang melayani Bandung – Jatinangor. Wah, benar-benar jeli pengusaha travel ini melihat peluang bisnis. Tidak terpikirkan oleh orang sebelumnya untuk membuat angkutan travel jarak pendek seperti itu. Selama ini yang banyak kan travel Bandung – Jakarta, atau dari Bandung ke kota-kota Jabodetabek lainnya (Depok, Bekasi, Tangerang, Bogor). Berkah jalan tol Cipularang membuat bisnis travel di Bandung sangat semarak. Sudah banyak pemain di bisnis travel Bandung – Jakarta.

Nah, travel dari Bandung ke Jatinangor memang ide yang cukup brilian. Jarak Bandung ke Jatinangor hanya sekitar 30-an kilometer dari Bandung Utara (CMIIW). Tapi jarak yang pendek itu harus ditempuh satu jam lebih karena kemacetan yang parah menuju Jatinangor. Selama ini kalau mau pergi ke Jatinangor mahasiswa naik bis Damri dari Jalan Dipati Ukur. Alternatf lainnya adalah naik angkot berkali-kali, sambung bersambung, yang tentu saja memakan ongkos yang mahal.

Di Jatinangor banyak terdapat perguruan tinggi, yaitu Unpad, Ikopin, dan IPDN. ITB juga masuk ke Jatinangor dengan membuka kampus di sana (ex kampus Unwim dulu). Meskipun kampusnya di Jatinangor, masih banyak mahasiswa Unpad yang tinggal atau kos di Bandung tetapi bolak-balik setiap hari ke Jatinagor. Dosen-dosennya juga banyak yang tinggal di Bandung. Jika ITB sudah mulai menerima mahasiswa baru di kampus Jatinangor (mulai tahun ini kalau tidak salah), maka semakin tinggi mobilitas orang-orang ke Jatinangor.

Peluang ini ditangkap oleh orang yang jeli. Mereka mengisi kekosongan yang belum diambil oleh pengusaha travel. Travel ke arah timur memang ada, yaitu ke Garut dan Tasikmalaya, tetapi yang khusus ke Jatinangor (masih di timur Bandung) tidak ada. Pangsa pasar ke Jatinangor ternyata cukup besar, yaitu para mahasiswa, dosen, dan pelaju yang bekerja di Bandung tetapi berumah di kawasan Jatinangor dan sekitarnya. Apalagi dari dan ke Jatinangor tidak ada angkutan massal seperti kereta komuter.

Nah, pengusaha yang jeli ini membuka rute Bandung – Jatinangor via tol Padaleunyi. Dari Bandung penumpang naik di Balubur (Baltos) atau dari Pasteur, jadwalnya ada setiap satu jam sekali. Saya baca di stiker iklan itu tarifnya hanya Rp10.000, jauh lebih murah daripada naik angkot berkali-kali. Bahkan bila membawa mobil sendiri jatuhnya tetap lebih mahal jika dihitung biaya bensin dan tarif tol.

Saya salut kepada pengusaha travel yang jeli itu. Hal ini semakin menegaskan kebenaran konsep diferensiasi yang mengatakan bahwa kalau anda ingin sukses dalam berusaha, anda harus membuat sesuatu yang berbeda dari sebelumnya, jangan mengekor pada apa yang telah dibuat orang lain, buatlah sesuatu yang baru. Bukan tidak mungkin kalau tol Seroja selesai dibangun melewati kawasan Soreang bakal muncul travel jurusan Bandung ke kawasan Bandung Selatan (Soreang, Baleendah, Majalaya) yang terkenal macet parah itu.

Sejenak di Masjid Al-Irsyad Kota Baru Parahyangan

Hari Jumat pekan lalu saya bersama teman pergi ke Puncak, Bogor, untuk suatu acara reuni SMA. Dari Bandung kawasan Puncak hanya bisa ditempuh lewat jalur lama, yaitu Padalarang terus Cianjur. Terus terang saya sudah lama tidak melewati jalur ini karena biasanya saya melalui jalan tol Cipularang (nama resminya tol Purbaleunyi) kalau hendak pergi ke Jakarta atau ke Bandara Soeta.

Karena hari sudah masuk waktu shalat Ashar, maka kami berhenti dulu untuk shalat Ashar di mesjid. Pilihan kami jatuh ke masjid Al-Irsyad di Kota Baru Parahyangan. Kota Baru ini letaknya di Padalarang (setelah mulut tol Padaleunyi). Kota Baru Parahyangan adalah kompleks perumahan yang sangat luas dan eksklusif. Harga rumah di sana kabarnya di atas 1 M. Meskipun saya sudah lama tinggal di Bandung namun saya belum pernah ke kompleks perumahan ini. Jadi, ini pertama kali saya ke sana.

Di dalam kompleks kota baru yang luas ini terdapat sebuah masjid besar yang bernama Masjid Al-Irsyad. Di sampingnya terdapat sekolah Islam internasional yang bernama sama. Dari jauh tidak kelihatan seperti masjid, karena bentuknya kubus seperti Ka’bah. Tidak ada kubah seperti masjid pada umumnya. Satu-satunya pertanda ia sebuah masjid adalah sebuah menara yang tinggi yang terletak di sebelahnya.

Masjid yang tanpa kubah ini mengingatkan saya pada Masjid Salman ITB, Masjid Istiqamah di Jalan Taman Citarum, Masjid Unisba di Jalan Tamansari, dan beberapa masjid lain di Bandung. Mungkin arsiteknya sama yaitu Pak Ahmad Nukman (CMIIW).

Papan nama Masjid Al-Irsyad:

Menara masjid yang tampak dari kejauhan sebagai pertanda itu sebuah masjid:

Ini foto masjid yang lebih jelas dari kejauhan yang saya ambil dari situs ini:

Ruangan di dalam masjid sangat lapang. Interiornya sangat bagus. Masjid ini tidak perlu lagi AC sebab dindingnya mempunyai banyak lubang udara sehingga udara bebas keluar masuk. Siang hari juga tidak perlu lampu sebab sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah lubang. Lubang-lubang angin itu jika diperhatikan dengan seksama membentuk tulisan kaligrafi kalimat syahadat.

Yang menarik adalah mihrabnya (tempat di bagian depan, tempat imam memimpin shalat). Di depan mihrab tidak ada dinding, namun pemandangan lepas ke luar sehingga cahaya matahari bisa masuk. Rasanya seperti shalat di alam terbuka saja. Kalau sore hari menjelang sunset tentu menjadi pemandangan yang bersahaja. Terasa sangat berkesan bila melakukan shalat maghrib di sana dengan diterangi cahaya matahari senja yang berwarna jingga masuk dari lorong di depan mihrab. Benar-benar desain masjid ini bersahabat dengan alam.

Di depan barisan shaf pertama terdapat sebuah kolam air dengan ikan yang berenang ke sana-sini. Oh iya, pemandangan di depan mihrab jika dilihat dari jauh membentuk lorong cahaya. Lorong cahaya ini seolah-olah menggambarkan perjalanan kita menuju suatu titik, yaitu Allah SWT.

Ini sebuah foto lain di dalam masjid:

Lorong masuk dari samping (dari tempat wudhu):

Ini beberapa gambar yang lebih jelas (saya ambil dari sini karena ponsel kamera saya terbatas dalam pengaturanb cahaya):

Kalau ingin membaca lebih jauh tentang arsitektur Masjid Al-Irsyad, silakan kunjungi situs ini.

Kapan-kapan saya ingin shalat lagi di masjid Al-Irsyad Kota Baru Parahyangan. Sungguh berkesan shalat di masjid ini.

Mudahnya Membeli Miras di Bandung

Saat ini lagi ramai “perselisihan” antara Kemendagri dan beberapa Pemerintah Daerah. Kemendagi berencana mengevaluasi dan membatalkan Perda (Peraturan Daerah) yang mengatur peredaran minuman keras (miras), karena sebagian pasal atau seluruhnya dianggap bertentangan dengan Peraturan Pemerintah yang lebih tinggi. Kontan saja ancaman Kemendagri tersebut memancing unjuk rasa dan penolakan di daerah tingkat 2 yang disebut bermasalah tersebut. Kaum agamawan dan kelompok masyarakat bereaksi keras menentang tindakan Kemendagri tersebut (baca kontranya di sini).

Daerah-daerah yang “bermasalah” dengan Perda tersebut diantaranya Kota Bandung, Kota Tangerang, Kota Indramayu, Bali, Pamekasan, Maros (Sulsel), Penajam, Sorong, dan Balikpapan. Yang menarik adalah daerah yang memiliki Perda miras tidak seluruhnya daerah yang mayoritas Islam. Ada Bali dan Sorong yang mayoritas non-muslim, padahal dalam ajaran agama selain Islam meminum miras itu tidak haram atau dibolehkan (CMIIW). Yang mengherankan adalah Bali juga memiliki Perda miras padahal kita tahu Bali adalah daerah tujuan wisata dunia, dan semua orang mahfum bahwa minuman keras itu identik dengan dunia hiburan dan pariwisata. Keberadaan Perda miras di Bali dan Sorong seakan membantah tudingan politisi beberapa tahun lalu yang selalu curiga dengan Perda syariah dan mengatakan Perda miras tersebut sebagai salah satu bentuk Perda syariah. Nyatanya Bali dan Sorong sendiri memiliki Perda yang mengatur peredaran miras.

Baiklah, saya tidak akan membahas pro kontra tentang perdebatan Perda miras tersebut. Biarkan perbedaan pendapat itu muncul sebagai sebuah proses demokrasi. Sebagai seorang muslim keyakinan saya tidak akan pernah berubah bahwa meminum minuman keras itu hukumnya haram, berapapun kadar alkohol di dalamnya. Oleh karena itu Perda miras tersebut saya dukung sepenuhnya. Keberadaan miras di tengah mayoritas orang yang tidak mengkonsumsinya tentu hal yang mengherankan. Oleh karena itu Perda miras tersebut mengatur agar miras hanya dapat diperjualbelikan di tempat-tempat tertentu saja seperti kafe dan hotel berbintang. Jadi bagi mereka yang tidak menganggap miras haram, mereka masih tetap dapat membelinya di tempat-tempat itu. Perda tersebut sudah mengakomodasi kelompok orang yang memang hobi minum miras dan kelompok mayoritas yang menolak miras.

Yang menyedihkan adalah di kota saya sendiri, di Bandung, minuman keras itu bebas beredar dan mudah didapat. Perda miras yang sudah dibuat oleh DPRD Kota Bandung dan telah diberlakukan itu tidak mempunyai taring. Perda tersebut berbunyi bahwa segala minuman beralkohol berapapun kadarnya hanya dapat dijual di kafe dan hotel berbintang. Namun kenyataannya lain, kita mudah menemukan penjualan bir dan minuman keras level berat di supermarket, minimarket, bahkan di warung-warung pinggir jalan. Pelaku yang menjualnya tidak pernah dihukum karena melanggar Perda tersebut.

Di Bandung banyak bertebaran minimarket seperti Yomart, Indomart, Circle K, dan Alfamart, selain supermarket besar seperti Yogya, Griya, Carefour, Hypermart, dan Superindo. Di rak-rak minuman botol-botol minuman keras bercampur dengan botol minuman ringan. Pembelinya umumnya anak muda. Suatu kali pada hari Sabtu menjelang malam minggu, ketika saya sedang berbelanja di supermarket dekat rumah, beberapa remaja tanggung terlihat celingak-celinguk mencari B*r Bin*an*. Mereka memborong beberapa botol bir untuk kumpul-kumpul malam mingguan. Udara malam Bandung yang dingin memang cocok untuk minum minuman yang menghangatkan badan, tetapi yang dipilih oleh remaja-remaja tadi adalah minuman beralkohol.

Untuk apa miras tersebut mereka beli? Tentu saja untuk mabuk-mabukan sambil nongkrong di jalan. Kadang-kadang miras tersebut dioplos dengan minuman suplemen untuk mendapatkan efek mabuk yang lebih hebat. Bagi anak muda yang tidak mampu membeli miars yang mahal, mereka tahu tempat-tempat menjual miras murahan yang diproduksi secara gelap. Miras murahan tersebut dioplos dengan berbagai ramuan “aneh” seperti obat nyamuk dan serbuk suplemen, lalu diminum ramai-ramai sampai mabuk hingga esok pagi. Tidak jarang banyak pemuda yang mati karena minuman oplosannya menimbulkan efek racun. Sudah banyak kasus kamatian akibat pesta miras, tetapi tetap saja tidak menimbulkan efek jera bagi orang lain yang tidak belajar dari kasus yang sama. Akibatnya setiap tahun selalu saja muncul berita di media massa tentang kematian akibat pesta miras.

Kita sepakat bahwa miras dapat menimbulkan penyimpangan sosial. Perilaku manusia dibawah keadaan tidak sadar karena pengaruh alkohol (mabuk misalnya) dapat berbuat tindakan yang destruktif atau amoral, seperti perkelahian, memperkosa, bahkan membunuh. Para anggota geng motor di Bandung yang sering melakukan aksi perusakan brutal atau bahkan melukai orang hingga terbunuh biasanya beraksi setelah menenggak miras. Itu belum termasuk kasus-kasus perkosaan yang sering dilakukan dalam keadaan mabuk, dan perkelahian antar kampung karena dipicu aksi sepele dalam pengaruh tidak sadar. Sudah sering kasus-kasus semacam ini terjadi, namun akar penyebabnya yaitu miras, tidak pernah berhasil diselesaikan hingga kini.

Ada Dinosaurus T-Rex di Museum Geologi Bandung

Setiap hari saya melewati Museum Geologi Bandung yang terletak di Jalan Diponegoro. Dari rumah saya di Antapani menuju kampus ITB di Jalan Ganesha saya selalu melewati Jalan Diponegoro. Museum Geologi hampir tidak pernah sepi pengunjung. Setiap hari ada saja bis-bis dari kota-kota di Pulau Jawa yang membawa anak sekolah berkunjung ke Museum Geologi. Mereka datang sebagai rombongan study tour yang dikoordinir guru-gurunya.

Museum Geologi mungkin termasuk salah satu museum di Indonesia yang ramai pengunjungnya, tidak seperti kebanyakan museum lain yang yang sepi setiap hari. Museum Geologi buka dari Senin sampai Sabtu, bahkan hari Minggu pun buka jika ada permintaan kunjungan study tour dari luar kota. Untuk masuk ke museum ini tidak dipungut bayaran, tapi ada buku tamu yang perlu diisi di front office.

Sebagai urang Bandung tetapi tidak pernah mengunjungi Museum Geologi, akhirnya saya tergerak untuk melihat isi perut museum ini. Bersama anak bungsu saya yang masih TK, saya mengajaknya mengunjungi Museum Geologi sepulang sekolah.

Museum Geologi Bandung itu bangunan peninggalan Belanda. Kokoh dan elegan. Gedungnya membujur dari barat ke timur, cukup panjang juga bangunannya.

Museum Geologi tampak depan

Museum Geologi dari ujung kiri

Koleksi apa yang menjadi daya tarik utama Museum Geologi? Jawabannya adalah replika fosil kerangka dinosaurus T-Rex. Bagi anak-anak, hewan dinosaurus memang menimbulkan rasa kagum. Sejak kemunculan film Jurrassic Park satu dekade lalu, pamor hewan ini melejit. Demam dino dimanfaatkan penerbit buku dengan menerbitkan banyak buku yang menceritakan hewan purba yang sudah punah itu. Wow… ternyata T-Rex itu sangat besar ya, persis seperti di dalam film Jurrasic Park. Bandingkan dengan besar anak saya yang berdiri di depannya. Benar-benar menyeramkan rupa hewan ini, apalagi jika masih hidup pada zaman sekarang.

Kerangka T-Rex (Tyranosaurus)

Menurut pengamatan saya kerangka dinosaurus di Museum Geologi ini bukan asli, tetapi tiruan saja, karena fosil dinosuarus tidak pernah ditemukan di Indonesia. Agak aneh juga obyek ini ditempatkan di Museum Geologi sebab museum ini hanya menceritakan sejarah geologi di Indonesia. Namun tak apalah sebagai daya tarik bagi pengunjung khususnya anak-anak.

T-Rex tampak dari arah belakang

Selain rangka T-Rex, di museum ini ada fosil gajah purba dan kerbau purba. Nah, kalau ini baru fosil asli sebab terlihat rangka hewan tidak lengkap (seperti umumnya fosil yang ditemukan oleh peneliti) dan bahannya bukan plastik seperti rangka T-Rex di atas.

Fosil gajah purba

Fosil kerbau purba

Memasuki ruang berikutnya, kita bisa melihat fosil tengkorak manusia purba di Pulau Jawa. Ada banyak fosil tengkorak yang dipajang di dalam etalase.

Fosil tengkorak manusia purba

Fosil tengkorak manusia purba yang ditemukan di Sangiran (Jawa Tengah)

Fosil tengkorak manusia purba yang ditemukan di lembah Bengawan Solo

Rahang gigi manusia purba. Besar ya?

Fosil primata besar di Pulau Jawa

Di ruang lainnya kita melihat fosil hewan yang hidup di lautan, seperti kerang-kerangan dan lain-lain.

Fosil kerang

Berjalan lagi ke arah barat kita melhat sejarah gunung api dan pembentukan pulau di Indonesia. Di ruangan ini dipamerkan foto-foto dan lansekap gunung api.

Ruang pamer sejarah gunung api

Hanya segitu koleksi Museum Geologi. Jadi dapat disimpulkan di sayap kiri bangunan museum berisi sejarah pembentukan daratan dan pulau, seangkan di sayap kanan berisi koleksi manusia purba dan hewan purba. Di lantai dua tidak ada koleksi yang bisa dilihat (ketika saya datang masih direnovasi). Sebaiknya ada ruang audio visual yang menampilkan film sejarah geologi agar lebih menarik bagi pengunjung. Oh iya hampir lupa, di halaman museum kita dapat melihat koleksi batu-batu besar dan alat-alat pengeboran minyak. Harus diakui koleksi museum tidak terlalu banyak, tapi lumayanlah untuk menambah pengetahuan sejarah geologi Indonesia, khususnya bagi siswa sekolah.

Sepenggal Potret Kehidupan di dalam KRD Cicalengka – Padalarang

Naik kereta api adalah kesenangan anak-anak. Hari Minggu kemarin anak saya minta jalan-jalan naik kereta api. Di kawasan Bandung Raya ada kereta api komuter yang bolak-balik dari Padalarang ke Cicalengka. Jarak Padalarang ke Cicalengka cukup jauh, barangkali sekitar 30 km lebih. Kereta api sangat berjasa bagi para pelaju yang rumahnya di pinggiran Bandung tetapi bekerja di kota Bandung. Tarifnya sangat murah, hanya Rp1000 per orang. Hampir tidak bisa dipercaya harga karcis kereta api semurah itu baik untuk jarak jauh maupun jarak dekat. Kalau mau yang sedikit lebih nyaman bisa naik kereta api patas yang harga karcisya Rp4000 atau KA Baraya Geulis yang Rp8000. Namun harga karcis kereta api itu masih tetap jauh lebih murah dibandingkan naik angkot yang mungkin menghabiskan ongkos Rp15.000 lebih plus kemacetan yang menjadi-jadi pada hampir semua jalan di dalam kota dan pinggiran kota Bandung.

Harga karcis yang sangat murah itu sebanding dengan pelayanan kereta yang seadanya dan terkesan seperti kurang diperhatikan oleh PT KAI. Gerbong kereta sangat kotor, jorok, bau, dan penuh sampah. Para pedagang kaki lima, pengamen dan pengemis bebas masuk ke dalam kereta. Tetapi, justru disitulah seninya naik kereta api ekonomi, kereta api kelas rakyat. Kalau anda ingin melihat potret kehidupan bangsa ini, maka sesekali naikilah kereta api ekonomi. Sepanjang perjalanan banyak cerita kehidupan yang mengalir begitu cepat, bagaikan mosaik-mosaik yang direkatkan ke dalam sebuah bingkai.

Saya mengajak anak-anak naik kereta api ekonomi ini. Biarlah nanti mereka melihat seperti apa potret kehidupan di sana. Kami naik KRD ekonomi dari stasiun Kiaracondong, stasiun ini paling dekat dengan rumah saya. Stasiun Kiaracondong adalah stasiun kelas 2 yang dikhususkan untuk kereta api ekonomi.

Jam sepuluh pagi KRD ekonomi datang dari arah Cicalengka. Gerbong kereta sangat padat dengan penumpang. Penumpang berjejalan di dalam gerbong, sebagian besar hanya bisa berdiri. Banyak penunpang yang naik dan banyak pula penumpang yang turun. Saya pun bersama anak-anak hanya bisa berdiri.

Meskipun padat, tetapi di dalam kereta selalu ada tempat bagi pedagang asongan, pengamen, dan pengemis untuk mencari rezeki. Naik kereta ekonomi berarti harus berlapang dada dengan mereka. Di sela-sela penumpang yang berdesakan mereka menarik-narik dagangannya yang diletakkan di atas gerobak beroda. Para pedagang itu sangat kreatif dengan menggunakan roda, sehingga barang dagangan tidak perlu dipikul.

Kegigihan para pedagang asongan dalam menjajakan dagangannya patut diacungi jempol. Pernah ketika saya naik KRD sebelum ini, seorang pedagang salak mula-mula menawarkan 20 biji salak Manonjaya (Tasikmalaya) seharga sepuluh ribu. Tidak ada penumpang yang tertarik membelinya. Tetapi dia tidak putus asa. Ketika dia kembali lag, dia menawarkan salaknya lagi, kali ini 30 biji dengan harga tetap sepuluh ribu. Penumpang tetap tidak bergeming. Setelah bolak balik ke gerbong lain, dia datang lagi, kali ini dia menawarkan empat puluh biji salak seharga sepuluh ribu. Aha, akhirnya ada penumpang pun tertarik membelinya. Ha..ha..ha, kalau saja penumpang itu mau bersabar sedikit menunggu pedagang salak itu kembali lagi, mungkin jumlahnya bisa bertambah lima puluh biji salak dengan harga yang sama. Saya pun tersenyum geli membayangkan ulah pedagang salak ini.

Kereta terus melaju, tetapi jalannya tidak bisa cepat. Pada setiap stasiun antara kereta berhenti menaikkan dan menurunkan penumpang. Pengamen dan pedaganga asongan tak henti-hentinya lalu lalang. Tiba-tiba datanglah seorang anak muda yang berjalan dengan cara merangkak. Badan dan pakainnya kotor sekali. Dia membawa sebuah sapu. Sapu itu terus disorong-sorongkannya ke lantai gerbong untuk mendorong sampah yang berserakan. Sekali-sekali dia berhenti lalu melakukan gerakan dengan tangan seperti orang minta minum dan makan. Tahulah saya maksudnya, ternyata dia mengemis meminta uang buat minum atau makan. Kasihan sekali. Beberapa penumpang memberikan uang ala kadarnya.

Stasiun Bandung, Ciroyom, Andir, Cimindi, Cimahi, Gadobangkong telah dilewati. Melewati stasiun Ciroyom kita akan menemui bau yang menusuk hidung. Bau busuk dari pasar ikan di Ciroyom memenuhi gerbong kereta yang terbuka. Akhirnya kereta sampai di stasiun Padalarang. Ini adalah stasiun terakhir tempat perhentian. Saya dan anak-anak segera turun. Tidak bisa berlama-lama kami di staisun ini, sebab kereta akan berangkat lagi ke Cicalengka. Saya segera membeli karcis yang harganya tetap seribu rupiah.

Baru turun lima menit ternyata kereta sudah dipenuhi penumpang. Ini suatu tanda bahwa antusiasme masyarakat urban untuk naik kereta api sangat tinggi, karena kereta api rakyat semacam ini tarifnya sangat murah dan bebas dari kemacetan.

Seperti dalam perjalanan pergi, dalam perjalanan pulang ini penumpang disuguhi kembali potret yang sama, yaitu lalu lalang pedagang asongan, pengamen dan pengemis. Kali ini penumpang tidak sepadat dari Kiaracondong sehingga para pengamen lebih leluasa dalam mencari makan.

Pada pedagang buah pun ikut meramaikan kereta dengan buah mangganya.

Hujan deras ikut menemani selama perjalanan. Kereta terus melaku menyinggahi stasiun-stasiun kecil. Penumpang naik dan turun. Hidup itu seperti perjalanan kereta api, ada yang datang dan ada yang pergi. Kita berangkat dari suatu tempat dan akhirnya harus berhenti untuk turun. Selama dalam perjalanan kita menemukan banyak manusia dengan aneka ragam tingkah polah dan nasibnya. Perguliran nasib hanya Allah yang tahu.

Mushala di Mal BIP Sekarang Sudah “Rancak”

Saya jarang pergi jalan-jalan ke mal. Kurang suka aja sih, apalagi saya merasa agak kurang nyaman berada di tengah suasana crowded orang-orang seperti di mal. Sekali-sekali saja saya pergi ke mal, misalnya untuk nonton film bagus.

Beberapa hari yang lalu saya pergi ke mal BIP (Bandung Indah Plaza) di jalan Merdeka, Bandung. Tahu nggak, BIP ini dulu singkatannya adalah PBI (Plaza Bandung Indah), tetapi orang Bandung lebih senang menyebutnya BIP saja sehingga kepanjangannya juga menyesuaikan. BIP adalah mal pertama di Bandung, seingat saya mal ini berdiri pada awal tahun 1990, saat-saat saya masih Tugas Akhir di IF-ITB.

Nah, saya surprise ke BIP kemarin. Ketika mau shalat Ashar, saya bertanya kepada Satpam di mana mushala BIP sekarang. Saya mendengar dari teman bahwa mushala BIP sekarang sudah bagus dan nyaman, makanya saya penasaran untuk mencobanya. Dulu mushala BIP terletak di lantai basement bersebelahan dengan tempat parkir. Ruangan mushalanya sempit dan pengap, tidak nyamanlah buat shalat di sana. Mal yang besar dan megah ini ternyata punya mushala yang tidak layak. Kebanyakan mal di Bandung seperti itu, menyediakan mushala ala kadarnya. Dulu saya pernah menulis tentang mushala di mal ini dengan judul tulisan Mencari Masjid di Mal. Tulisan tersebut berisi keluhan saya tentang kondisi mushala di mal yang sangat memprihatinkan.

Tetapi sekarang lain, mushala di BIP rancak bana (bagus sekali). Luas, nyaman, sirkulasi udara baik, dan terletak di tempat yang layak dan “terhormat”, yaitu lantai paling atas mal, satu lantai dengan bioskop Empire. Agaknya keluhan orang-orang terhadap mushala di BIP ditanggapi oleh manajemen gedung sehingga mereka membuatkan mushala yang representatif. Yang menarik, ruang shalat untuk pria dan wanita dipisahkan dengan tabir sehingga hijab tetap terjamin.

Di bawah ini beberapa foto mushala di BIP:
1. Ruang shalat untuk pria

2. Ruang shalat untuk wanita di balik tabir merah

3. Lorong dari tempat wudlu:

4. Pintu gerbang mushala dengan ornamen Timur Tengah

Memang saya agak telat mengetahui mushala baru di mal BIP, tapi tak apalah. Alhamdulillah, mushala yang nyaman dan bagus di BIP itu patut disyukuri. Nanti kalau kapan-kapan ke BIP lagi saya tidak perlu khawatir kalau pas datang waktu shalat.

Kantor Pos Besar Bandung yang Hampir Terlupakan

Sudah lama saya tidak berurusan dengan per-posan. Maklum sejak ada internet dan perkembangan teknologi informasi yang demikian dahsyat, bisnis kantor pos memang tergerus hampir habis. Kirim surat sekarang cukup via e-mail atau SMS, lebih cepat dan lebih murah ketimbang dengan surat pos. Kirim uang tidak perlu lagi pakai wesel pos, sudah tergantikan dengan transfer via ATM atau internet banking. Kirim paket juga banyak alternatif melalui jasa perusahaan kurir semacam Tiki, DHL, dan lain-lain.

Meskipun sebagian besar bisnis pos terkikis, namun kantor pos tidak pernah mati. PT Pos Indonesia masih tetap bisa bertahan karena konsumennya masih ada, terutama di desa-desa. Untuk selalu bisa bertahan, PT Pos Indonesia melakukan diversifikasi usaha dan kerjasama dengan berbagai lembaga agar bisnisnya tidak merugi. Semisal menyewakan sebagian ruang kantor posnya untuk bank, factory outlet, toko, dan sebagainya. Juga kerjasama dengan instansi Pemda seperti pengiriman berkas lamaran menjadi PNS yang setiap tahun selalu dilakukan secara serentak, mengambil uang pensiun melalui kantor pos, dan sebagainya.

Setidaknya kalau kita main ke kantor pos, kita melihat bahwa kantor pos tidak selalu sepi. Ada saja masyarakat yang mengirim surat dan paket barang melalui pos. Keunggulan PT Pos adalah mereka sudah memiliki infrastruktur yang sudah mapan hingga ke pelosok-pelosok daerah Indonesia yang luas ini. Para TKI yang berada di luar negeri masih tetap suka mengirim uang kepada keluarganya di desa-desa lewat pos, karena bank atau internet banking belum akrab bagi masyarakat kampung. Saya pun juga begitu, untuk mengirim surat atau paket barang ke daerah yang jauh dan agak pelosok saya masih suka melalui kantor pos. Kantor pos tiada matinya.

Kemarin saya pergi ke Kantor Pos Besar Bandung di Jalan Asia Afrika guna mengirim paket barang ke Kabupaten Karang Asem, Bali. Jika pakai Tiki waktu pengirimannya bisa lebih lama, tetapi kalau pakai pos bisa lebih cepat. Sekalian saya ingin jalan-jalan mengunjungi kantor pos besar yang terletak di alun-alun kota Bandung ini, saudah lama saya tidak pernah ke sini.

Kantor Pos Besar Bandung ini selesai dibangun pada tahun 1928 berdasarkan rancangan arsitek J. Van Gendt dengan gaya arsitektur Modern Fungsional (Art Deco Geometric). Di bawah ini foto kantor pos besar tempo doeloe, jalan Asia Afrika masih lengang saat itu.

Saya sangat mengagumi gaya art deco kantor pos besar Bandung ini. Kota Bandung kaya dengan bangunan berarsitektur art deco. Berikut ini beberapa jepretan kamera ponsel saya mengenai arsitektur bangunan kantor pos:

1. Tampak samping kiri depan

2. Tampak samping kanan depan

3. Pintu masuk

4. Sisi kantor pos dari Jalan Banceuy

5. Kantor pos dipotret dari atas jembatan penyeberangan Jalan Asia Afrika

6. Jembatan penyeberangan di depan kantor pos ini sebenarnya merusak pemandangan. Wajah kantor pos tidak bisa dilihat secara utuh dari depan, terhalang jembatan dan billboard elektronis besar di atasnya.

7. Di sekeliling kantor pos banyak terdapat bangunan bersejarah, misalnnya gedung tua yang menjadi kantor Bank Mandiri di samping kanan.

atau gedung tua bernama SWARHA di seberang jalan. Semuanya gaya art deco. Gedung SWARHA ini tampak tidak terurus.

7. Suasana di dalam kantor pos, masih asli seperti dulu.

Sisi lain di dalam kantor pos:

Salam buat keluarga pos Indonesia, semoga PT Pos Indonesia selalu tetap jaya dan selalu bertahan di tengah arus teknologi informasi yang sangat cepat perubahannya. Kunci agar selalu bertahan adalah menyesuaikan diri secara sinergis dengan perkembangan teknologi informasi.

Bandung Lautan Durian

Berton-ton truk berisi durian dari Sumatera masuk kota Bandung hari-hari ini. Hampir di mana-mana di pinggir jalan kita temukan pedagang durian dengan mobil bak terbuka dikerubungi pembeli. Mereka biasanya berjualan mulai dari sore hingga malam hari, yaitu saat-saat pas makan durian.

Seperti pedagang durian yang saya temui di pinggir jalan Supratman ini. Kata pedagangnya durian yang dibawanya berasal dari Bengkulu. Harganya bervariasi, mulai dari 5000, 10000 hingga 20.000 rupiah per biji bergantung pada ukurannya. Selain durian Sumatera, banyak juga durian lokal dari Parung, Garut, dan Tasikmalaya ikut bersaing. Namun menurut saya nih tetap durian asal Sumatera yang maknyus.

Karena setiap hari melintasi pedagang durian ini kala pulang dari ITB, saya pun tertarik membeli buah durian yang harganya Rp20.000. Pedagang mencoba memilihkan durian yang bagus. Diambilnya sebuah durian, dibuka sedikit dan saya dipersialakn mencicipi buahnya. Jika deal, durian bisa dibawa pulang atau dimakan di pingir jalan itu, tetapi jika rasa buahnya hambar atau tidak enak, pedagang memilihkan yang lain lagi. Begitu seterusnya sampai pembeli menemukan durian yang enak.

Jika dipikir-pikir, dengan cara pembelian durian yang iteratif seperti itu apakah pedagang tidak rugi? Sebab, dari seluruh durian yang dibawanya, mungkin hanya 2/3 saja yang bagus, sisanya yang sebagai tester tidak terjual. Ah…. mungkin pedagang durian ini sudah berhitung-hitung untung dan ruginya, makanya buah durian tidak dijual dengan harga murah untuk mengimbangi kerugian dari buah tester yang tidak laku.

Kata teman saya, kalau memilih durian dari mobil bak terbuka itu harus hati-hati. Mungkin saja buah durian di dalam mobilnya sudah dicampur dengan durian lokal. Bagian atas durian Sumatera, bagian bawahnya durian asal Parung. Namanya juga pedagang, tidak semuanya jujur, sebagian ada juga yang nakal.

Ikutan Beli Keripik “Ma Icih”, “Keripik Setan” Gaul dari Bandung

Di Bandung sekarang ada camilan yang lagi heboh. Namanya keripik “Ma Icih”. Keripik ini sangat pedas sehingga dinamakan juga “pikset” alias keripik setan. Selintas keripik pedas Ma Icih ini tidak ada bedanya dengan keripik singkong pedas lain yang banyak dijual di warung atau toko camilan. Keripik ini menjadi heboh karena ia dipromosikan melalui laman jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook, sehingga ia dinamakan juga keripik gaul. Pengusaha keripik ini seorang anak muda yang usianya baru 24 tahun, bernama Reza Nurhilman, jadi wajarlah ia menyasar selera anak muda.

Menariknya, keripik ini tidak djual di warung atau di toko-toko, tetapi penjualnya berpindah secara nomaden. Dengan menggunakan mobil pribadi, penjual keripik Ma Icih — yang disebut distributor — menjajakan dagangannya di tempat-tempat strategis seperti di depan mal, depan toko factory-outlet, depan kampus, dan sebagainya. Sebelum berjualan mereka akan mengumumkan keberadaanya melalui pesan di fesbuk atau twitter. Jadi, pemburu keripik Ma Icih perlu mencari tahu melalui jejaring sosial di mana dan kapan distributor keripik membuka gerainya (kalau di twitter infonya ada di @infomaicih), sedangkan situs web resminya bisa diklik di sini.

Seperti keripik pada foto di atas, saya beli ketika melewati jalan Supratman, di depan sebuah FO. Ketika saya melewati jalan ini, ada distributor keripik Ma icih sedang berjualan.

Pedagangnya adalah seorang perempuan cantik. Kalau melihat dandanan dan mobil yang dia gunakan, maka saya tidak yakin penjual keripik ini menjual keripik untuk mencari keuntungan jangka panjang. Tidak butuh-butuh uang amat sih dari berjualan keripik ini, kata saya. Lha wong udah kaya gitu. Tapi mungkin dia berjualan keripik Ma Icih ini karena ikut-ikutan trend gaul saja.

Dalam sekejap keripiknya habis diborong pembeli, yang sebagian besar adalah wisatawan dari Jakarta. Mereka membeli keripik ini mungkin karena penasaran saja. Apalagi tingkat kepedasan keripik Ma Icih ada beberapa level, mulai dari level terendah (2) hingga level tertinggi (10). Yang paling pedas sehingga membuat mulut huah..huah.. seperti kebakaran tentu saja yang level 10. Saya pikir ini strategi pemasaran yang cerdik dengan membuat level yang bertingkat-tingkat. Pembeli yang sudah mencoba keripik Ma Icih level 2 tentu penasaran untuk mencoba level 3, 4, 5, dan seterusnya. Alhasil mereka akan “memburu” keripik Ma Icih level lainnya untuk memenuhi rasa penasarannya. Itulah salah satu trik yang membuat keripik ini begitu beken dan heboh.

Keripik yang saya beli di atas harganya Rp12.000/bungkus. Lumayan mahal, mungkin karena sedang naik daun. Selain keripik model di atas ada lagi jenis camilan Ma Icih lainnya seperti gurilem dan lain-lain. Namun saya yakin ini keripik kontemporer, nggak bakal panjang umurnya. Nanti juga akan menjadi hal biasa dan akhirnya tidak populer lagi, sama seperti nasib jajanan lain di Bandung yang populer dalam waktu temporer saja, misalnya singkong keju, gehu pedas hot jeletot, dan sebagainya. Namun jika pengusaha keripik MaIcih pandai berimprovisasi dan berkreasi, nasib keripiknya bisa bertahan agak lama.

Sawah Terakhir di Antapani

Kemarin ketika melewati jalan keluar kompleks perumahan Antapani (Jalan Purwakarta Raya), saya melihat sawah terakhir yang tersisa di Antapani itu sudah ditutupi pagar seng. Ini pertanda tanah sawah itu sudah dijual ke developer dan akan dijadikan kompleks perumahan mewah.

Foto di bawah ini adalah gambar sawah yang sekarang ditutupi pagar seng:

Ada perasaan sedih melihat kawasan sawah ini akan tinggal kenangan. Padahal kawasan sawah ini menjadi “pemandangan desa” yang masih tersisa di kawasan Antapani, Bandung. Alam desa selalu diidentikkan dengan pemandangan sawah, air sungai yang mengalir, dan lansekap gunung dari kejauhan. Karena sawah ini terletak di pinggir jalan utama keluar masuk kompleks, maka bagi penduduk Antapani keberadaan sawah ini adalah hiburan cuci mata ketika pergi dan pulang beraktivitas. Warga dapat melihat para petani menggarap sawah untuk ditanami padi, memanen padi yang menguning, atau melihat kawanan bebek yang diangon dari daerah Subang mencari dedak padi di sawah.

Saya sering membawa anak-anak menyusuri sawah ini ketika sedang menguning. Mengajak anak berjalan di pematang sawah seperti zaman kecil saya di kampung kelahiran, melihat para petani memanen, melihat padi sebagai asal muasal beras, dan lain-lain.

Antapani adalah kawasan kompleks perumahan terrbesar di kota Bandung. Antapani yang sudah menjadi kecamatan sendiri terletak di Bandung Timur. Di sini terdapat kompleks perumahan mulai dari Perumnas hingga puluhan perumahan real estat. Harga tanah di sini sudah mahal karena Antapani dekat dengan pusat kota. Fasilitas di kawasan ini sudah sangat lengkap, mulai dari pasar, supermarket, sekolah, perguruan tinggi, poliklinik, pom bensin, ruko, dan lain-lain. Dulunya kawasan ini adalah sawah yang luas sebelum berganti dengan perumahan. Manusia memang butuh tempat tinggal dan pertambahan penduduk kota Bandung mengakibatkan sawah-sawah itu beralih fungsi menjadi pemukiman. Namun masih ada satu kawasan sawah yang tersisa, itulah sawah yang terletak di mulut kompleks perumahan.

Sawah yang terlihat pada foto-foto di atas mungkin tidak lama lagi akan diuruk dan dijadikan kompleks perumahan baru. Saya yakin harga bangunan rumah di sana harganya pasti sangat mahal, minimal di atas 500 juta. Lokasinya sangat strategis di pintu keluar kompleks, pantas saja membuat penegmbang tergiur untuk membeli tanah sawah itu. Akhirnya tidak ada lagi sawah di Antapani, dan hilanglah pemandangan desa yang tersisa itu.