Kemarin ketika naik angkot saya melihat sebuah stiker promosi travel Bandung – Jatinangor. Saya baru tahu ada travel yang melayani Bandung – Jatinangor. Wah, benar-benar jeli pengusaha travel ini melihat peluang bisnis. Tidak terpikirkan oleh orang sebelumnya untuk membuat angkutan travel jarak pendek seperti itu. Selama ini yang banyak kan travel Bandung – Jakarta, atau dari Bandung ke kota-kota Jabodetabek lainnya (Depok, Bekasi, Tangerang, Bogor). Berkah jalan tol Cipularang membuat bisnis travel di Bandung sangat semarak. Sudah banyak pemain di bisnis travel Bandung – Jakarta.
Nah, travel dari Bandung ke Jatinangor memang ide yang cukup brilian. Jarak Bandung ke Jatinangor hanya sekitar 30-an kilometer dari Bandung Utara (CMIIW). Tapi jarak yang pendek itu harus ditempuh satu jam lebih karena kemacetan yang parah menuju Jatinangor. Selama ini kalau mau pergi ke Jatinangor mahasiswa naik bis Damri dari Jalan Dipati Ukur. Alternatf lainnya adalah naik angkot berkali-kali, sambung bersambung, yang tentu saja memakan ongkos yang mahal.
Di Jatinangor banyak terdapat perguruan tinggi, yaitu Unpad, Ikopin, dan IPDN. ITB juga masuk ke Jatinangor dengan membuka kampus di sana (ex kampus Unwim dulu). Meskipun kampusnya di Jatinangor, masih banyak mahasiswa Unpad yang tinggal atau kos di Bandung tetapi bolak-balik setiap hari ke Jatinagor. Dosen-dosennya juga banyak yang tinggal di Bandung. Jika ITB sudah mulai menerima mahasiswa baru di kampus Jatinangor (mulai tahun ini kalau tidak salah), maka semakin tinggi mobilitas orang-orang ke Jatinangor.
Peluang ini ditangkap oleh orang yang jeli. Mereka mengisi kekosongan yang belum diambil oleh pengusaha travel. Travel ke arah timur memang ada, yaitu ke Garut dan Tasikmalaya, tetapi yang khusus ke Jatinangor (masih di timur Bandung) tidak ada. Pangsa pasar ke Jatinangor ternyata cukup besar, yaitu para mahasiswa, dosen, dan pelaju yang bekerja di Bandung tetapi berumah di kawasan Jatinangor dan sekitarnya. Apalagi dari dan ke Jatinangor tidak ada angkutan massal seperti kereta komuter.
Nah, pengusaha yang jeli ini membuka rute Bandung – Jatinangor via tol Padaleunyi. Dari Bandung penumpang naik di Balubur (Baltos) atau dari Pasteur, jadwalnya ada setiap satu jam sekali. Saya baca di stiker iklan itu tarifnya hanya Rp10.000, jauh lebih murah daripada naik angkot berkali-kali. Bahkan bila membawa mobil sendiri jatuhnya tetap lebih mahal jika dihitung biaya bensin dan tarif tol.
Saya salut kepada pengusaha travel yang jeli itu. Hal ini semakin menegaskan kebenaran konsep diferensiasi yang mengatakan bahwa kalau anda ingin sukses dalam berusaha, anda harus membuat sesuatu yang berbeda dari sebelumnya, jangan mengekor pada apa yang telah dibuat orang lain, buatlah sesuatu yang baru. Bukan tidak mungkin kalau tol Seroja selesai dibangun melewati kawasan Soreang bakal muncul travel jurusan Bandung ke kawasan Bandung Selatan (Soreang, Baleendah, Majalaya) yang terkenal macet parah itu.




















































